You are on page 1of 3

PENULISAN DAN PRESENTASI ILMIAH

H.H403
R. Moh. Hiu Dilangit Ramadhan Sasongkojati
1606896312 | Ilmu Politik
6 September, 2016

Studi-studi tentang perilaku bullying yang bermunculan sebelum ini memiliki kecenderungan untuk berfokus pada pelaku dan/atau korban. Paul Poteat (Boston College) | Nathalie Noret (York St. Poteat. rasa cemas dan risiko penyalahgunaan obat- obatan menjadi lebih tinggi bagi mereka yang memiliki kesulitan untuk berbaur secara sosial. meskipun tidak bertindak sebagai pelaku maupun sebagai korban. Dalam sebuah studi kekerasan terhadap anak-anak yang berada di dalam minoritas seksual (lesbian. Sampel studi berupa 2. N. V. Noret. and Kaukiainen (1996) mengidentifikasi peran sekunder diluar pelaku dan korban bullying yang memperhitungkan tingkah laku saksi mata. . dan mereka yang ikut campur dan membela korban (defenders). mereka yang menjauh dan hanya melihat dari kejauhan (outsiders). and Hershberger (2002) menyatakan bahwa mereka yang menjadi pengamat tindakan kekerasan terhadap temannya yang juga berada di dalam minoritas seksual memiliki kecenderungan untuk ikut merasakan dampak emosional dan psikologis yang identik dengan korban. and Ashurst. I. Sebagai tambahan. Sebuah riset oleh Salmivalli. transgender. Bjorkqvist. Pilkington. seperti bergabung dalam tindakan bullying itu (assistants). Metode survey berupa pemberian kuesioner yang mencakup kasus bullying di sekolah. Lagerspetz. dan risiko gangguan kejiwaan. School Psychology Quarterly. Osterman. penyalahgunaan obat-obatan. John University) | Nigel Ashurst (Kent and Medway NHS and Social Care Partnership Trust) Studi ini mengeksplorasi dampak bullying terhadap kesehatan jiwa siswa yang menjadi saksi kejadian. Hasilnya adalah dengan mengamati kejadian bullying di sekolah. seorang siswa sebagai saksi memiliki risiko gangguan kejiwaan yang lebih tinggi dari korban atau pelaku bullying. gay. Terdapat beberapa faktor tambahan yang menyarankan tindakan mengamati kejahatan terhadap rekan sejawatnya dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.002 siswa berusia 12 sampai 16 tahun di 14 sekolah di Inggris. Observing Bullying at School: The Mental Health Implications of Witness Status. D’Augelli. dll).. N.. Rivers. mereka yang mendukung para pelaku (reinforcers). OBSERVING BULLYING AT SCHOOL: THE MENTAL HEALTH IMPLICATIONS OF WITNESS STATUS Ian Rivers (Brunel University) | V. 2009.

Dari jumlah tersebut.205 kasus terjadi di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Hampir semua subjek penelitian pada penelitian ini mengatakan bahwa menangani pelaku bullying harus dengan sikap yang tegas tetapi bijaksana. efek bullying bagi kedua belah pihak baik bagi korban maupun pelaku akan mengganggu proses pembelajaran (Biro Kemahasiswaan Universitas A - Bandung. Sebagai faktor internal adalah: (a) karakteristik kepribadian. pemukulan. Bentuk-bentuk bullying yang pernah terjadi di asrama Universitas A yaitu. pemalakan. 2008). (c) sikap keluarga yang memanjakan anak sehingga tidak membentuk kepribadian yang matang. Faktor eksternal yang menyebabkan kekerasan adalah: (a) lingkungan. dan (b) budaya (Hoover. Sejak dilakukan penelitian tentang bullying di Eropa pada tahun 1970. Penggunaan istilah bullying selalu dihubungkan dengan tindak kekerasan. Bila dibiarkan berlangsung terus menerus. Sehingga perilaku bullying dilakukan karena ingin melampiaskan balas dendam. Para pelaku pada umumnya melakukan bullying karena memilki pengalaman menjadi korban pada masa lampau. (b) kekerasan yang dialami sebagai pengalaman masa lalu. 1998). Menurut Yahaya dan Ahmad (2005) terhadap survei tahun 2004 yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Jepang menyebutkan bahwa terdapat 24. meniru serta pengalaman masa lalu. seperti yang tertuang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) bahwa bullying memiliki persamaan arti dengan kekerasan.. Faktor penyebab terjadinya bullying oleh mahasiwa di Universitas A. . Faktor penyebab terjadinya bullying yaitu faktor internal dan eksternal. et al.898 kasus bullying di sekolah. terlebih yang terjadi di lingkungan institusi pendidikan menjadi keprihatinan berbagai kalangan. Menangani korban bullying harus dengan cara menumbuhkan dan membangkitkan kepercayaan dirinya (Smith. 18. et al.. 2008). ucapan-ucapan kotor dan melecehkan. 2012. M. 2005). Kekerasan dimaksud adalah sebagai usaha untuk menyakiti yang dilakukan oleh sebuah kelompok atau seseorang (Sejiwa. 1 Simbolon. Tindakan hukuman yang diberikan kepada pelaku berbentuk ’skorsing’ selama dua semester. berupa intimidasi. hingga kini kasus ini sangat menarik perhatian dunia pendidikan maupun masyarakat luas. PERILAKU BULLYING PADA MAHASISWA BERASRAMA Mangadar Simbolon Tindakan bullying terhadap sesama. Perilaku Bullying Pada Mahasiswa Berasrama. Jurnal Psikologi Universitas Advent Indonesia. yaitu faktor senioritas.