You are on page 1of 3

Pemeriksaan HCV

Pemeriksaan Antibodi spesifik yaitu Anti HCV bisa dilakukan dengan cara RIA
(Radio Immuno Assay) atau EIA (= ELISA/Enzyme Linked Immuno Assay). Cara
tersebut dengan an-tigen utama C 100-3 yang disin-tesis melalui rekayasa DNA
ter-hadap kultur ragi. Antigen yang telah dilapiskan pada fase pa-dat, kemudian
direaksikan de-ngan antibodi yang terdapat da-lam serum. Pengukuran dilaku-
kan dengan antigen kedua yang telah dilabel. Antibodi terhadap HCV yang
dinilai adalah Im-munoglobulin anti HCV.
a. Tes anti HCV ELISA generasi pertama hanya memakai satu antigen saja yaitu
C 100-3. Tes ini kurang sensitif (sensitivitasnya adalah 80%-90%
dibandingkan dengan generasi kedua). Hasil positif palsu untuk tes generasi
pertama dapat terjadi pada penderita dengan hipergam-maglobulinemia
dan adanya faktor rheumatoid. ELISA generasi kedua selain antigen C 100-3,
digunakan pula dua antigen tambahan yaitu protein C-22 dan C-33 dari inti
(core) dan NS-3 protein. Tes anti HCV generasi kedua ini lebih sensitif dan
lebih spesifik dalam mende-teksi antibodi infeksi hepati-tis virus C
(sensitivitas men-dekati 99%). ELISA generasi ketiga telah dilakukan pada
tahun 1994 dengan penambahan NS-5, terbukti anti HCV generasi ketiga
lebih sensitif diban-dingkan dengan generasi sebelumnya. Tes ini mema-kai
serum atau plasma yang telah diencerkan, kemudian diinkubasi dengan
bead yang telah dilapisi dengan antigen HCV. Bila terdapat antibodi didalam
serum, maka immu-noglobulin penderita akan terikat dengan bead tadi dan
dapat dideteksi.
b. Recombinant Immunoblot Assay (RIBA). Suatu tes terhadap protein virus C
hepatitis yaitu de-ngan cara Recombinant Im-munoblot Assay (RIBA) yang
prinsipnya adalah suatu immunoelektroforesis untuk mendeteksi antibodi
virus C hepatitis. RIBA berupa strip Nitrocellulose yang mengandung pita-
pita (bands) yang dila-pisi antigen-antigen spesifik dan kemudian
direaksikan dengan serum pasien.
 RIBA 1.

Sebenarnya Anti HCV baru positif sekitar 15 minggu setelah infeksi terjadi. Sebelum dilakukan uji saring.  RIBA 3. RIBA 1 dilaporkan lebih sensitif dan lebih spesifik dari ELISA 1. Lebih tepat bila tes RIBA disebut sebagai “Supplemental Test”. RIBA bukan merupakan “True Confirmation Test” karena menggunakan antigen yang sama seperti yang digunakan pada tes ELISA. suatu enzim untuk mempertinggi efisiensi cloning. SOD. RIBA 3 dilaporkan lebih sensitif dari RIBA 2 karena penambahan sinthetic peptides. Penambahan antigen rekombinan C-33c dan C-22 pada RIBA 2 ternyata mempertinggi sensitifitas. RIBA 2 menggunakan antigen rekombinan C 100-3. Kurang lebih 70-85% hepatitis C akut akan berkembang menjadi hepatitis C kronik. RIBA 2 lebih sensitif (sensitifitas 98%) dan lebih spesifik dari RIBA 1. Anti HCV pada umumnya akan menghilang dengan sembuhnya penyakit. 5-1-1 dan superoxide dismutase (SOD). 5-1-1. sehingga mengakibatkan Hepatitis C akut jarang terdiagnosis dan diagnosis hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan HCV RNA dengan metode PCR pada per- mulaan penyakit. RIBA 3 menggunakan 2 macam antigen yaitu antigen Sinthetic peptides C 100-3 dan C-22 dan anti-gen rekombinan C-33c dan NS-5. Tes penyaring untuk hepatitis C perlu dilakukan pada: .  RIBA 2. Perjalanan penyakit Hepatitis C yang cenderung menjadi sirosis hati dan Karsino-ma hepatoseluler membuat uji saring darah donor sangat berguna karena dapat menurunkan kejadian hepatitis C sebanyak 50 – 80%. dan pada keadaan ini Anti-HCV ti-dak akan menghilang. terutama C 100-3. Anti HCV terdapat pada 80 –90% penderita hepatitis pasca transfusi. RIBA 1 menggunakan antigen rekombinan C 100-3. Walaupun RIBA lebih spesifik dari ELISA. C-33c dan C-22.

d. 1999. Penderita haemofilia. Penderita yang pernah mendapat transfusi darah atau produk darah sebelum adanya ELISA generasi kedua. Pernah atau masih menggu-nakan obat-obat intravena. Anak dari ibu penderita hepatitis C. e. Tes ini kurang sensitif pada pasien hemodialisis dan immuno-kompromais. .a. g. Pasien yang telah di hemo-dialisis. Menurut Consensus Statement EASL. b. f. Hasil tes dapat dipercaya pa-da kebanyakan pasien immunokompeten yang mereplikasi hepatitis C virus. Tes ELISA merupakan tes yang terbaik untuk penya-ring karena mudah dilaku- kan dan tidak terlalu mahal. Donor transplantasi organ maupun jaringan. Pada uji saring bank darah positif palsu bisa terjadi pada 25% donor dan perlu dilakukan supplemental test seperti RIBA. c. Apabila perlu maka dilanjutkan dengan HCV RNA kualitatif untuk konfirmasi Anti HCV yang positif tersebut.