You are on page 1of 7

LAPORAN ANALISIS KETERAMPILAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Huyel
Tanggal
NIM : P1605278
TEMPAT Tindakan Perawatan trakeostomy
1 keperawatan yang Trakeostomi adalah tindakan
dilakukan membuat lubang pada dinding
Nama Pasien : depan/anterior trakea untuk
Tn.K bernapas
Diagnosa Medis : Penurunan Kesadaran
Tanggal tindakan
: 5 Sept 2015
2 Diagnosa Resiko Infeksi b/d adanya
keperawatan prosedur invasif
3 Fungsi 1) Mengurangi dead
Trakeostomy space/ruang rugi 10-50 % di
saluran napas bagian atas
seperti daerah rongga mulut,
sekitar lidah dan faring.
Dengan adanya stoma maka
seluruh oksigen yang
dihirupnya akan masuk ke
dalam paru, tidak ada yang
tertinggal di ruang rugi
tersebut. Hal ini berguna
pada pasien dengan
kerusakan paru, yang
kapasitas vitalnya berkurang.
2) Mengurangi tekanan aliran
udara pernapasan.
3) Proteksi terhadap aspirasi.
4) Pasien bisa menelan tanpa
adanya reflek apneu.
5) Mempermudah
membersihkan trakea melalui

apabila tidak mempunyai fasilitas untuk bronkoskopi. 7) Mengurangi kekuatan batuk. 8) Untuk mengambil benda asing dari subglotik. Komplikasi segera Trakeostomy (Immediate) : 1) Apneu karena hilangnya stimulasi hypoxia dari respirasi 2) Perdarahan 3) Kerusakan organ sekitar tracheo : Oesophagus N. penghisapan sekret dari bronkus pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sekret secara fisiologik. mandibula. misalnya pada pasien dalam keadaan koma. . maksilaris 8) Cedera kepala berat 9) Trauma tembus cranium & thorak 10) Persiapan operasi tractus respiratorius bagian atas 11) Orotracheal intubasi susah pada waktu Anasthesi umum 5 Komplikasi A. 6) Menyediakan saluran untuk pengobatan/humidifikasi cabang tracheobronchial. 4 Indikasi 1) Edema trakea karena trauma Trakeostomy atau respon alergi 2) Obstruksi laring STD III & IV 3) Ventilasi mekanik 4) Ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas 5) Luka bakar jalan napas 6) Perdarahan jalan napas atas 7) Fraktur laring.

sehingga perlu dilakukan pengisapan. . Laryngeus recurent. cupula plenra 4) Pneuomothorax dan pneumomediabtinum 5) Kerusakan cartilagocricoid (pada high traceostomi) B. Komplikasi lambat (Late) : 1) Fistula tracheocutaneus yang persisten 2) Stenosis larynx atau trachea 3) Granulasi trachea 4) Tracheo malacia 5) Decanulasi yang susah 6) Fistula tracheo- oessophageal 7) Kesulitan dengan sikatrik tracheostomy 6 Perawatan pasca 1) Pengeluaran discharge traceostomy dengan jalan membatukkan pada penderita dengan trakeostomi tidak seefektif pada orang normal. Komplikasi pertengahan (Intermediate) : 1) Tracheitis dan tracheobronchitis 2) Erosi tracheal dan perdarahan 3) Hypercarnia 4) Atelektasis 5) Salah letak canule 6) Obstruksi canule 7) Subcutaneus emphysema 8) Aspirasi dan absces paru C. karena penderita tidak dapat menutup glotis untuk menghimpun tekanan yang tinggi.

begitu pula antara pengisapan harus diberi periode istirahat agar udara paru tidak terlalu banyak terisap. sedang Feldman dan Crawley (1971) memakai kateter . 2) Lore (1973) menganjurkan memakai pengisap terkecil yang dapat melakukan pengisapan dengan adekuat. selanjutnya tergantung pada banyaknya discharge dan keadaan penderita. dengan demikian residual volume tidak banyak berkurang. kanul dalamnya dikeluarkan terlebih dahulu. Setelah ujung pengisap sampai di bronkus. Pada saat pengisap dimasukkan ke dalam trakea. Pengisapan discharge dilakukan dengan kateter pengisap yang steril dan disposable. Beberapa jam pertama pasca bedah. Kanul dalam ini harus sering diangkat dan dibersihkan. dilakukan pengisapan discharge tiap 15 menit. Jika kanul trakea mempunyai kanul dalam. jangan diberi tekanan negatif. dilakukan pengisapan perlahan-lahan sambil memutar kanul pengisap.

3) Sebelum melakukan pengisapan. Kasa tersebut diikatkan pada . pengisap steril dan non traumatik yang penampangnya kurang dari separuh penampang trakea. Untuk itu menggantikannya perlu dilakukan humidifikasi buatan. b) Dengan melewatkan udara inspirasi melalui reservoir c) Dengan menambahkan tetesan-tetesan air yang halus pada udara d) Secara sederhana humidifikasi dapat dikerjakan dengan menaruh lembaran kasa yang telah dibasahi di depan mulut kanul. 4) Dengan adanya trakeostomi. Bila didapatkan sekret yang kental. teteskan larutan garam fisiologis terlebih dahulu. sebaiknya penderita diberi oksigen selama 2-3 menit. fungsi humidifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh saluran napas bagian atas menghilang. Cara-cara untuk humidifikasi udara inspirasi di antaranya ialah: a) Condensor humidifier.

leher dan harus diganti sesering mungkin. setelah itu balon dikempiskan kemudian kanul diangkat dan stoma dibersihkan dengan cepat. Kesalahan memasang kanul dapat berakibat kanul terletak di dalam mediastinum. kanul ini diganti setiap 7 hari atau lebih cepat. Setelah penggantian kanul dilakukan auskultasi paru untuk menyakini bahwa kedua paru sama mengembang. trakea dan daerah faring diisap terlebih dahulu. 5) Bila kanul terbuat dari polivinil klorida atau dari silikon. 6) Sebelum mengangkat kanul. 7) Bila digunakan kanul memakai balon (cuff). laringoskop dan PET (pipa endo trakeal). karena lumennya akan mengecil oleh timbunan krusta dan discharge. siapkan alat-alat untuk resusitasi. Kanul baru dipasang dengan mengarahkan ujungnya ke arah posterior lebih dahulu kemudian ke arah kaudal. . Bila diduga akan terjadi kesulitan pada pemasangan kanul kembali.

b) Nekrosis cincin-cincin tulang rawan trakea. dan jumlah udara yang dimasukkan dicatat. sebaiknya dipilih balon yang bervolume besar dan bertekanan rendah. tetapi luka terinfeksi perlu dikultur dan uji kepekaan dan diberikan antibiotika yang sesuai. 8) Luka operasi pada stoma bila bersih cukup ditutup dengan kasa steril. c) Herniasi balon pada ujung kanul akan menyumbat jalan napas. Balon diisi dengan udara secukupnya agar menempel rapat pada dinding trakea. d) Akan timbul gangguan saat menelan. Akhirnya penderita diajari untuk merawat diri sendiri. . Jika balon terlalu banyak diisi udara akan terjadi hal-hal sebagai berikut: a) Iskemia dan nekrosis mukosa trakea.