You are on page 1of 8

PENATALAKSANAAN CAIRAN PERIOPERATIF

PADA KASUS TRAUMA

Iddo Posangi

Bagian Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado


Email: iddoposangi@gmail.com

Abstract: Trauma can be defined as a physical harm or damage to the structure or function of
the body, caused by an acute exchange of mechanical, chemical, thermal, radioactive, or
biological energy that exceeds the bodys tolerance. The commonly used resuscitation fluids
are Ringers Lactate solution, normal saline, colloids, hypertonic saline, and blood products
(packed red blood cells, fresh frozen plasma, or platelets). Fluid resuscitation strategy consists
of early resuscitation and late resuscitation. The management of perioperative fluid therapy in
traumatized cases requires a comprehensive understanding regarding the pathophysiology of
shock, the consequences of fluid therapy in ongoing bleeding, and the ability to apply the
evidence-based studies on each individual with different clinical status.
Key words: trauma, fluid resuscitation, shock

Abstrak: Trauma dapat didefinisikansebagai cedera atau kerusakan fisik dari struktur atau
fungsi tubuh yang disebabkan oleh perubahan energi akut(mekanis, kimiawi, radioaktif,
biologik) yang melampaui toleransi tubuh. Cairan resusitasi yang umunya digunakan pada
kasus trauma ialah larutan Ringer laktat, NaCl fisiologis, koloid, NaCl hipertonik dan produk
darah (packed red blood cells, plasma beku atau trombosit). Strategi resusitasi cairan terdiri
dari resusitasi fase awal dan fase akhir. Penatalaksanaan terapi cairan perioperatif pada kasus
trauma memerlukam pemahaman yang menyeluruh mengenai patofisiologi syok, efek terapi
cairan pada saat perdarahan aktif, dan kemampuan untuk menerapkan bukti ilmiah pada
masing-masing individu dengan keadaan klinis yang berbeda.
Kata kunci: trauma, resusitasi cairan, syok

Trauma adalah cedera atau kerusakan fisik meningkat seiring dengan meningkatnya
dari struktur atau fungsi tubuh yang dise- jumlah produk industrialisasi mobil. Untuk
babkan oleh perubahan energi (mekanis, itu WHO mencetuskan kampanye global
kimiawi, radioaktif, dan biologik) yang tentang pencegahan dan kesadaran guna
mendadak yang melampaui toleransi tu- menurunkan angka trauma akibat kecelaka-
buh.1 Trauma merupakan masalah kesehat- an. Pada anak, kecelakaan lalu lintas meru-
an masyarakat di seluruh dunia dan meru- pakan penyebab utama trauma dan kema-
pakan penyebab morbiditas dan mortalitas tian sedangkan kasus tenggelam sebesar
pada usia muda, terlebih khusus pada nega- 10-27% yang kemudian menjadi 4% pada
ra industri. Menurut WHO terdapat 5,8 juta usia di atas15 tahun. Pada pasien berusia di
kasus fatal akibat trauma pada tahun 2000 atas 80 tahun, jatuh merupakan penyebab
sehingga trauma tergolong sebagai penye- utama terjadinya kematian pada kasus
bab kematian terbanyak ke-7 di dunia. Di trauma.2
Amerika Serikat trauma merupakan penye- Trauma dikategorikan berdasarkan tiga
bab kematian terbanyak.2 Trauma yang gambaran utama: 1) mekanisme cedera, 2)
menyebabkan kematian dan kecacatan ini kekuatan biomedik yang menyebabkan

5
6 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 1, Maret 2012, hlm. 5-12

cedera, 3) cedera yang disengaja atau tidak. sebagai cairan Hartmann). Ringer Laktat
Mekanisme trauma meliputi antara lain (RL) merupakan cairan resusitasi utama
trauma mekanik, listrik, radiasi, dan ledak- yang digunakan di pusat trauma di Amerika
an. Untuk setiap mekanisme tersebut terda- dan Kanada.Komposisi RL dibuat menye-
pat agen yang menyebabkan cedera. Cedera rupai plasma, dan laktat ditambahkan se-
mekanik dapat terjadi karena trauma tum- bagai buffer. Metabolisme intrahepatik
pul atau trauma tembus. Contoh trauma akan mengubah laktat menjadi bikarbonat
tumpul antara lain kecelakaan lalu lintas, melalui proses glukoneogenesis dengan ter-
baik tabrakan antar mobil maupun tabrakan jadi peningkatan glukosa plasma sebanyak
mobil dengam pejalan kaki. Trauma tem- 50-100 mg/dL pada setiap liter. Pada resu-
bus dapat disebabkan oleh pisau, luka tem- sitasi cairan yang dikarenakan perdarahan,
bak, benda tajam maupun serpihan ledakan kebanyakan pasien trauma akan mengalami
bom. Trauma panas dapat disebabkan oleh asidosis laktat. RL merupakan pilihan per-
api, uap maupun zat kimiawi. Trauma list- tama untuk resusitasi sedangkan normal
rik dapat disebabkan oleh arus langsung saline (NS) merupakan pilihan kedua. Wa-
maupun sambaran petir. Trauma ledakan laupun NS merupakan pengganti volumee
dapat berhubungan dengan ledakan Indus- yang memuaskan pada pasien trauma na-
tri, bom, maupun kegiatan teroris. Trauma mun NS berpotensi menyebabkan asidosis
radiasi dapat disebabkan kesalahan pada hiperkloremik.3
penelitian, nuklir, maupun kegiatan teroris.2 Penelitian tentang perdarahan dan re-
susitasi pada tikus oleh Healey et al, me-
nunjukkan bahwa NS dan RL mempunyai
PILIHAN CAIRAN RESUSITASI efek yang sama pada perdarahan 36%
Cairan kristaloid isotonik merupakan estimated blood volumee (EBV), namun
cairan awal yang digunakan pada keba- pada keadaan perdarahan dua kali EBV ter-
nyakan pasien trauma. Keuntungan cairan jadi peningkatan angka asidosis secara ber-
ini yaitu murah, siap tersedia, tidak alergik, makna dengan angka mortalitas meningkat
tidak infeksius, dan efektif untuk mengem- 50% pada kelompok NS dibandingkan
balikan cairan tubuh. Cairan kristaloid rela- kelompok RL. Hasil ini hampir sama de-
tif mudah penyimpanannya, mudah ber- ngan penelitian Coran et al, yang mem-
campur dengan obat-obatan intravena dan bandingkan RL dan NS pada anjing. Sejak
dapat cepat dihangatkan. Kekurangan cair- saat itu diketahui bahwa penggunaan NS
an kristaloid yaitu rendahnya kemampuan dengan jumlah yang banyak dapat me-
mengantarkan oksigen, rendahnya kemam- nyebabkan asidosis hiperkloremik. RL me-
puan koagulasi, dan keterbatasan half-life ngandung 28 mmol/L laktat dalam cam-
di intravaskuler.3 puran L-laktat dan D-laktat 50:50. L-laktat
dimetabolisme di hepar dan ginjal menjadi
piruvat kemudian menjadi HCO3- + CO2 +
Ringer Laktat
H2O, atau HCO3- + glukosa, untuk cadang-
Sydney Ringer (1882) menghasilkan an buffer. D-laktat tidak dapat dimetabolis-
cairan garam fisiologik seimbang yang me sehingga diperkirakan menjadi pe-
ditelitinya pada jantung katak. Seorang nyebab terjadinya asidosis. Beberapa penu-
dokter spesialis anak, Alexis Hartmann lis menyarankan untuk menghindari peng-
(1930-an) mendapat kesulitan mengobati gunaan RL pada kasus dengan peningkatan
penderita kolera yang asidosis karena pada laktat. Telah dibuktikan bahwa penggunaan
saat melakukan sterilisasi larutan garam de- cairan RL untuk resusitasi berpotensi me-
ngan bikarbonat yang diramunya meng- nyebabkan terjadinya aktivasi leukosit poli-
alami kehilangan CO2. Kemudian Hartmann morfonuklear sehingga dapat mencederai
mencampur Na-laktat (Na-C3H5O3) ke da- paru-paru.Walaupun resusitasi mengguna-
lam larutan Ringer, maka lahirlah cairan kan RL memperbaiki parameter hemodina-
Ringer laktat (di Inggris masih disebut mik setelah syok hemoragik, namun RL
Posangi, Penatalaksanaan Cairan Perioperatif pada Kasus Trauma 7

dapat memengaruhi sistem imun dengan vaskuler lebih sedikit. Para pemberi kris-
cara mengubah fungsi leukosit. Harus di- taloid pada umumnya menganjurkan hu-
ingat bahwa RL bukan cairan isotonik na- kum 3:1 karena hanya sepertiga cairan kris-
mun sedikit hipotonik (273 mOsmol/l), taloid yang bertahan di dalam intravas-
sehingga ahli bedah saraf lebih menyukai kuler.5 Suatu meta-analisis membandingkan
NS daripada RL.4 kristaloid dan koloid pada tahun 1989
menyimpulkan bahwa pasien trauma se-
NaCl fisiologis baiknya diresusitasi dengan menggunakan
NaCl fisiologis merupakan cairan kris- cairan kristaloid sedangkan pasien pembe-
taloid sedikit hipertonik dengan komposisi dahan elektif nontrauma dan nonseptik di-
natrium dan klorida yang lebih tinggi dari resusitasi dengan koloid. Meta-analisis
plasma. Cairan ini tidak mengandung kal- lanjutan oleh Choi et al, menunjukkan bah-
sium sehingga digunakan untuk dilusi wa tidak terdapat perbedaan bermakna
produk transfusi darah, supaya tidak timbul dalam halterjadinya edema paru, mortalitas,
kemungkinan terjadinya gangguan dengan lama inap pasien antara resusitasi meng-
antikoagulan sitrat. Resusitasi mengguna- gunakan cairan kristaloid dengan koloid
kan cairan ini dalam jumlah yang banyak pada populasi umum, namunangka mor-
akan menimbulkan asidosis metabolik hi- talitas lebih rendah pada pasien dengan
perkloremik. Cairan ini lebih jarang digu- pemberian kristaloid. Secara Cochrane Re-
nakan pada resusitasi syok perdarahan. view dalam Randomized Controlled Trials
Penelitian terhadap hewan menunjukkan (RCT) tidak membuktikan bahwa resusitasi
bahwa angka mortalitas lebih tinggi pada menggunakan koloid menurunkan risiko
penggunaan NS jika dibandingkan dengan kematian dibandingkan dengan resusitasi
RL.3 menggunakan kristaloid pada pasien trau-
ma atau luka bakar. Kesimpulan sementara
Koloid yaitu bahwa pro dan kontra terhadap cairan
kristaloid dan koloid sampai saat ini masih
Cairan koloid sejak lama telah dikenal terus berlangsung dan penelitian tentang
untuk mengisi volume plasma dengan ce- kristaloid dan koloid masih harus dilan-
pat. Seperti halnya kristaloid, koloid siap jutkan.3,6
tersedia, mudah disimpan dan digunakan.
Koloid bekerja meningkatkan volume intra-
vaskuler dengan cara menarik cairan bebas Hypertonic saline
kembali ke intravaskuler. Jika akses intra- Cairan hypertonic saline (HS), tanpa
vena terbatas, resusitasi koloid akan me- atau dengan tambahan polimer dextran (HS
ngembalikan volume intravaskuler lebih atau HSD) telah banyak diteliti pada re-
cepat daripada kristaloid. Sama seperti kris- susitasi syok perdarahan. Campuran 6%
taloid, koloid tidak memfasilitasi transpor dekstran 70 dengan HS 7,5% telah disetujui
oksigen maupun pembekuan darah, sehing- di beberapa negara Eropa sebagai cairan
ga efek dilusinya serupa dengan kristaloid. resusitasi untuk jumlah kecil (4 ml/kg,
Jenis koloid yang sering digunakan yaitu biasanya 20 ml/kg). Berbagai studi yang di-
albumin, gelatin, starch, dekstran, dan plas- lakukan pada hewan dengan perdarahan
ma.4 letal menunjukkan peningkatan angka ha-
rapan hidup jika menggunakan HSD diban-
Kristaloid versus koloid dingkan dengan HS. Studi tentang peng-
Sampai saat ini belum terdapat bukti gunaan HSD pada pasien trauma umumnya
yang menunjukkan cairan mana lebih baik bersifat suportif. Keuntungan dari peng-
untuk penggantian volume cairan intravas- gunaan HS pada pasien trauma multipel
kuler. Cairan koloid akan bertahan lebih la- dengan traumatic brain injury (TBI) me-
ma di intravaskuler sehingga jumlah yang nunjukkan perbaikan status neurologik. HS
diperlukan untuk mengisi volume intra- dan HSD terbukti dapat menurunkan
8 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 1, Maret 2012, hlm. 5-12

aktivitas netrofil sesudah resusitasi. Menu- menetap walaupun telah dilakukan resu-
rut Coimbra et al, resusitasi menggunakan sitasi cairan dengan volume yang adekuat.
HS dapat menurunkan kemungkinan ter- Kadar ion kalsium sebaiknya diperiksa dan
jadinya sepsis pada syok hemoragik.6 kalsium intravena sebaiknya diberikan jika
diperlukan. American Society of Anes-
Produk darah thesiologists (ASA) merekomendasikan
transfusi PRBC pada kadar hemoglobin
Ketersediaan produk darah merupakan
kurang dari 6 g/dL dan tidak merekomen-
hal yang penting. Berkurangnya kemam-
dasikan transfusi di atas 10 g/dL. Pem-
puan mengangkut oksigen akan memper-
berian transfusi pada kadar hemoglobin 6-
sulit manajemen syok hemoragik sehingga
10 g/dL didasarkan pada pendekatan in-
menyebabkan iskemia jaringan walaupun
dividual, dengan mempertimbangkan ada-
dengan cardiac output yang tinggi. Perlu
nya iskemi organ, kecepatan dan jumlah
diingat bahwa hemodilusi harus dihindari
perdarahan, status volume intravaskuler,
pada awal terjadinya syok hemoragik, baik
dan risiko jika terjadi oksigenasi yang tidak
untuk cadangan hematokrit maupun untuk
adekuat. Sebagai contoh: pada pasien de-
hemostasis.
ngan cadangan kardiopulmoner yang ren-
dah dan konsumsi oksigen tinggi.6
Packed red blood cells (PRBC)
PRBC golongan darah O Rh(-) tanpa Plasma
crossmatch harus selalu tersedia di pusat
trauma manapun sebab dapat langsung di- Terapi plasma diindikasikan pada pa-
berikan. PRBC jenis ini harus segera di- sien yang telah menjalani transfusi PRBC
berikan pada pasien dengan syok akibat pada fase akut sebanyak enam kantong.6
perdarahan yang sedang berlangsung. Se- Plasma seharusnya diberikan lebih awal pa-
lanjutnya darah yang telah menjalani proses da pasien dengan traumabermakna dan
crossmatch harus segera diberikan. Satu adanya perdarahan aktif. Cryoprecipitate
kantong PRBC rata-rata akan meningkat- atau preparat faktor koagulasi lainnya
kan hematokrit sebanyak 3% atau hemo- jarang diperlukan kecuali ditemukan ada-
globin sebesar 1 g/dL pada pasien dengan nya defisiensi kongenital. Bukti terakhir
berat badan 70 kg tanpaperdarahan.Risiko dari perang di Iraq menyebutkan bahwa
pemberian PRBC yaitu reaksi transfusi, whole blood lebih superior daripada terapi
transmisi infeksi dan hipotermi. PRBC komponen darah. Jika whole blood tidak
disimpan pada suhu 40C sehingga akan tersedia, fresh frozen plasma (FFP): PRBC
menurunkan suhu pasien dengan cepat jika dengan rasio 1:1 atau 1:2 terbukti dapat
tidak dimasukkan melalui penghangat atau meningkatkan volumee intravaskuler dan
dicampur dengan kristaloid isotonik. Men- memperbaiki faktor koagulasi yang hilang
campur darah dengan kristaloid juga akan akibat transfusi kristaloid yang masif.6
mengurangi viskositas PRBC sehingga bisa
lebih mudah masuk intravena. Transfusi Platelet
cepat PRBC berisiko terjadi intoksikasi Jumlah platelet tetap adekuat selama
sitrat pada resepien. PRBC dikemas dengan proses perdarahan pasien trauma jika di-
sitrat untuk berikatan dengan kalsium bebas bandingkan dengan hematokrit atau para-
sehingga menghambat kaskade pembekuan meter koagulasi lainnya, namun transfusi
darah. Transfusi PRBC dalam jumlah ba- platelet diindikasikan jika terjadi perda-
nyak dengan cepat menyebabkan tubuh rahan akut lebih dari 1,5 kali volumee
tidak mampu untuk menyediakan kalsium darah pasien. Transfusi platelet diberikan
bebas, sehingga terjadi penurunan kalsium pada pasien dengan perdarahan masif dan
bebas dalam darah. Hipokalsemia yang ti- pada pasien yang secara klinis mengalami
dak diketahui penyebabnya merupakan koagulopati dengan kadar platelet yang
penyebab lazim terjadinya hipotensi rendah (50.000). Platelet tidak boleh diberi-
Posangi, Penatalaksanaan Cairan Perioperatif pada Kasus Trauma 9

kan melalui filter karena dapat mengurangi iskemia akibat vasokonstriksi dan hipo-
kuantitas yang sampai ke jaringan.6 perfusi yang lama.7
Risiko yang dapat terjadi sehubungan
STRATEGI RESUSITASI CAIRAN dengan penggantian cairan volumee yang
agresif pada resusitasi awal: peningkatan
Terapi cairan merupakan kunci dari tekanan darah, penurunan viskositas darah,
resusitasi. Pada pasien trauma umumnya penurunan hematokrit, penurunan konsen-
terjadi perubahan berupa berkurangnya trasi faktor-faktor pembekuan, kebutuhan
aliran darah sirkulasi akibat perdarahan transfusi lebih besar, gangguan keseim-
internal maupun eksternal. Pemahaman bangan elektrolit, supresi imun langsung,
bahwa saat terjadi perdarahan butuh peng- reperfusipremature, dan peningkatan risiko
gantian cairan sudah jelas: tubuh kehilang- hipotermia.7
an cairan sehingga cairan tersebut harus Teknik hipotensi pada pembedahan
diganti.6,7 Dikenal duafase resusitasi: (1)
merupakan teknik yang sudah lazim digu-
resusitasi fase awal, saat perdarahan masih
nakan pada operasi elektif seperti operasi
berlangsung; (2) resusitasi fase akhir, saat
penggantian sendi, fusi spinal, diseksi leher
perdarahan telah dikontrol. Pemberian cair-
radikal, pembedahan rekonstruksi wajah
an intra vena diperkirakan akan meningkat-
dan sebagainya. Penggunaan teknik ini pa-
kan curah jantung dan tekanan darah pada
da penanganan kasus dengan perdarahan
pasien hipovolemik yang mengalami trau-
masih merupakan perdebatan. Perbedaan
ma. Kurikulum ATLS (Advanced Trauma
Life Support) menyarankan pemberian klinis antara pasien yang menjalani pem-
cairan infus isotonik kristaloid sampai 2 bedahan elektif dan pembedahan pasien
liter pada pasien hipotensi dengan tujuan darurat akibat trauma dengan teknik hipo-
menormalkan tekanan darah. Keefektifan tensi dapat dilihat pada Tabel 2.
teknik ini dipertanyakan, mengingat bahwa Tahun 1965, Shaftan et al, memban-
pemberian cairan agresif dianalogikan de- dingkan jumlah darah yang hilang akibat
ngan menumpahkan air ke dalam ember trauma arteri pada anjing. Hasilnya menun-
yang bocor, di mana semakin besar tekanan jukkan bahwa jumlah darah yang hilang le-
yang ada pada ember, semakin banyak air bih sedikit pada hewan yang dibuat hipo-
yang hilang. Selain hal itu, penggunaan tensi dibandingkan dengan hewan yang
cairan yang tidak mengandung eritrosit, mendapat infus agresif.7 Pembatasan cairan
trombosit, maupun faktor koagulasi akan intravaskuler dan tekanan darah pada he-
menyebabkan hemodilusi, bahkan lebih wan yang mengalami perdarahan lebih
dari keadaan hemodilusi yang disebabkan menguntungkan. Burriset al menggunakan
oleh perdarahan itu sendiri. Resusitasi yang teknik resusitasi dengan cairan kombinasi
kurang mengakibatkan perdarahan yang HS dan dekstran menyimpulkan bahwa
lebih sedikit, namun lebih berisiko terjadi angka ketahanan hidup paling baik pada

Tabel 2. Perbedaan klinis antara pembedahan pasien elektif dan pembedahan pasien darurat akibat
trauma dengan teknik hipotensi.7
Aspek Elektif Trauma
Volumee intravaskuler Euvolemik Hipovolemik
Suhu Normal Cenderung hipotermi
Kapiler Dilatasi Konstriksi
Stadium anestesi Dalam Biasanya dangkal
Status mental Normal Mungkin terganggu
Trauma penyerta Tidak ada Mungkin bermakna
Penyakit medik lain Diketahui dan ditangani Tidak diketahui
10 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 1, Maret 2012, hlm. 5-12

kelompok yang diresusitasi dengan tekanan operasi pada kedua kelompok ini tidak
darah arterial rerata yang lebih rendah dari berbeda, sehingga peneliti menjadikan
normal. bukti bahwa kelompok yang resusitasinya
Konsensus panel tahun 1994 menya- ditunda mengalami hemostasis spontan.
takan bahwa hewan mamalia mampu ber- Angka ketahanan hidup dan angka kepu-
tahan hidup pada tekanan darah arterial langan dari rumah sakit pada kelompok
rerata serendah 40 mmHg selama 2 jam pasien yang ditunda resusitasinya secara
tanpa mengalami efek yang dapat mengan- bermakna lebih baik dari kelompok re-
cam nyawa. Simpulan dari konsensus ter- susitasi standar (70% versus 62% dengan
sebut yaitu angka hemostasis spontan dan P=0,04).8
ketahanan hidup lebih tinggi terjadi pada Pada tahun 2002 dilakukan studi
kelompok yang pemberian cairan resustasi- prospektif kedua mengenai resusitasi pada
nya lebih sedikit saat perdarahan aktif; pasien trauma.9 Pasien perdarahan dengan
targetnya yaitu mencapai perfusi sedikit di tekanan darah sistolik kurang dari 90 mm
atas ambang batas terjadinya iskemia.8 Hg dibagi dalam dua kelompok, kelompok
Penelitian prospektif pertama meng- pertama dilakukan resusitasi hingga
gunakan teknik resusitasi hipotensi pada tekanan darah sistolik mencapai 100 mm
trauma torso ditunjukkan di bawah ini. Pa- Hg (grup normal) dan kelompok kedua
sien dibagi dalam dua kelompok, kelompok dilakukan resusitasi hingga tekanan darah
pertama yaitu pasien yang mendapatkan sistolik mencapai 70 mm Hg (grup studi).
resusitasi standar (infus 2 L kristaloid) dan Hasil dari penelitian ini dapat dilihat pada
kelompok kedua yaitu pasien yang re- Tabel 3.
susitasinya ditunda (tidak diberikan cairan Temuan pada penelitian ini serupa de-
infus sampai pasien masuk kamar operasi). ngan temuan penelitian sebelumnya yang
Studi yang berlangsung selama 37 bulan ini menyimpulkan bahwa hipotensi menyebab-
mencakup 598 pasien. Waktu transpor dan kan terjadinya auto resusitasi dan ber-
penanganan rata-rata dari tempat kejadian hentinya perdarahan. Tekanan darah akan
sampai ke unit gawat darurat yaitu 30 me- kembali naik tanpa pemberian cairan infus
nit, dan 50 menit sampai ke kamar operasi. jika hemostasis telah tercapai. Dalam 24
Kelompok yang resusitasinya ditunda rata- jam pertama, laktat dan base deficit pada
rata mendapatkan cairan infus sejumlah kedua kelompok kembali normal, dan di-
800 ml sedangkan kelompok yang men- butuhkan jumlah cairan infus dan produk
dapatkan resusitasi standar rata-rata men- darah yang relatif sama, sehingga disim-
dapatkan cairan infus kristaloid sejumlah pulkan bahwa target akhir resusitasi yang
2500 ml dan transfusi darah sejumlah 130 dicapai kedua kelompok ialah ekuivalen.
cc. Tekanan darah saat tiba di kamar Pada penelitian ini disimpulkan bahwa

Tabel 3. Hasil Penelitian Dutton et al (2002). Perbandingan Perbedaan Perlakuan Resusitasi Pada
Pasien Trauma dengan Pencapaian Tekanan Sistolik100 mm Hg dan 70 mm Hg.9
Konvensional Hipotensi Total
Jumlah Pasien 55 55 110
Lelaki 46 41 87
Trauma tumpul 22 31 53
Trauma tembus 33 24 57
Skor trauma 19,65 23,62 (P= 0.11)
Prediksi bertahan 0,94 0,90 (P= 0.19)
Tekanan darah sistolik saat studi
Bertahan hidup sampai pulang 114 100 (P < 0.001)
4 4
Posangi, Penatalaksanaan Cairan Perioperatif pada Kasus Trauma 11

pemberian cairan infus pada pasien dengan pasien trauma memerlukan pemahaman
perdarahan aktif harus dititrasi untuk men- yang menyeluruh mengenai patofisiologi
capai target fisiologik yang spesifik, di satu syok, efek terapi cairan pada saat per-
sisi mempertimbangkan risiko terjadinya darahan aktif, dan kemampuan untuk me-
peningkatan perdarahan, namun di sisi lain nerapkan bukti ilmiah pada masing-masing
menghindari terjadinya hipoperfusi. Target individu dengan keadaan klinis yang ber-
untuk resusitasi di fase awal:7 pertahankan beda. Tatalaksana cairan merupakan seni
tekanan darah sistolik antara 80-100 mm mengenai kapan harus menyesuaikan terapi
Hg, pertahankan hematokrit antara 25%- cairan, membatasi cairan, memberikan cair-
30%, pertahankan trombosit lebih dari an secara agresif dan menggunakan inotro-
50.000 / mm3, pertahankan suhu tubuh sen- pik, serta bagaimana menilai trauma pasien
tral di atas 350 C, pertahankan fungsi pulse dan responnya terhadap terapi. Jenis, jum-
oximeter, mencegah kenaikan serum laktat, lah dan waktu pemberian cairan bervariasi
mencegah terjadinya asidosis yang lebih sesuai keadaan klinis pasien.
memburuk, memberikan anestesi dan anal-
gesi.7
DAFTAR PUSTAKA
Penelitian klinis mengenai teknik re-
susitasi hipotensi dihindari pada populasi 1. Barbieri P, Gomez DH, Mahoney PF,
yang diperkirakan lebih berisiko untuk tim- Pratesi P, Grande CM. Mechanisms
bul komplikasi akibat iskemia, yaitu pasien and demographics in trauma. In: Smith
CE, editor. Trauma anesthesia.
dengan penyakit jantung koroner, usia
Cambridge: Cambridge University
lanjut, dan pasien dengan trauma otak dan Press, 2008; p.1-8.
medula spinalis. Pasien usia lanjut yang 2. Potenza B, Nolan J, Mechanisms and
mengalami trauma hasil akhirnya lebih epidemiology of trauma. In: Wilson
buruk jika dibandingkan pasien usia muda, WC, Grande CM, Hoyt DB, editors.
hal ini dikarenakan cadangan fisiologis Trauma emergency resuscitation
mereka yang sudah berkurang. Jadi, teknik perioperative anesthesia surgical
hipotensi resusitasi kasus trauma pada management Vol. 1. New York:
pasien trauma otak dan pasien usia lanjut Informa Healthcare, 2007; p.25-42.
sebaiknya dihindari.7,9 3. Dutton RP, Howard RS. Fluid resuscitation
Resusitasi di fase akhir dimulai ketika strategy. In: Wilson WC, Grande CM,
Hoyt DB, editors. Trauma emergency
perdarahan sudah bisa dikontrol melalui
resuscitation perioperative anesthesia
pembedahan, angiografi, maupun hemo- surgical management Vol. 1. New
stasis spontan. Capaian target pada fase ini York: Informa Healthcare, 2007; p.215-
yaitu mengembalikan perfusi normal semua 34.
sistem organ sambil tetap mempertahankan 4. Joy MA, Marciniak D, Petelenz-Rubin K,
fungsi vital. Target untuk resusitasi di fase Establishing vascular access in the trau-
akhir yaitu mempertahankan tekanan darah ma patient. In: Smith CE, editor. Trau-
sistolik di atas 100 mm Hg, hematokrit di ma anesthesia. Cambridge: Cambrigde
atas ambang batas transfusi individual, University Press, 2008; p.69-80.
status koagulasi yang normal, keseimbang- 5. Morgan GE Jr, Mikhail MS, Murray MJ.
an elektrolit, suhu tubuh yang normal dan Clinical anesthesiology (Fourth
Edition). New York: McGraw-Hill
produksi urin yang normal, serta memak-
Companies Inc, 2006.
simalkan curah jantung dengan pengukuran 6. Novikov M, Smith CE. Fluid and blood
invasif maupun non-invasif, memperbaiki therapy in trauma. In: Smith CE, editor.
asidosis sistemikdan mempertahankan se- Trauma anesthesia. Cambridge:
rum laktat normal.9 Cambrigde University Press, 2008;
p.101-20.
7. Jackson K, Nolan J. The role of
SIMPULAN hypotensive resuscitation in the
Penatalaksaan cairan perioperatif pada management of trauma. JICS. 2009
12 Jurnal Biomedik, Volume 4, Nomor 1, Maret 2012, hlm. 5-12

Apr;2(10):109-14. New York: Informa Healthcare, 2007;


8. Hawkinberry DW, Minokadeh A. Initial p.235-46.
circulation assessment and shock 9. Dutton RP, Mackenzie CF, Scalea TM.
prevention. In: Wilson WC, Grande Hypotensive resuscitation during active
CM, Hoyt DB, editors. Trauma emer- hemorrhage: Impact on in-hospital
gency resuscitation perioperative anes- mortality. J Trauma. 2002 Jun;52:1141-
thesia surgical management Vol. 1. 1146.