You are on page 1of 2

Pasien, An.

R, 14 tahun datang ke ruang operasi untuk menjalani operasi tonsilektomi


pada tanggal 12 Januari 2017 dengan diagnosis pre operatif tonsilitis kronis. Persiapan operasi
dilakukan pada tanggal 12 Januari 2017. Dari anamnesis terdapat keluhan nyeri tenggorokan
yang kambuh-kambuhan dirasakan sejak 3 bulan terakhir dan bertambah berat sejak 3 hari yang
lalu. Karena sering kambuh, dokter menganjurkan untuk dilakukan operasi tonsilektomi.
Pemeriksaan fisik dari tanda vital didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg; nadi 82x/menit;
respirasi 18x/menit; suhu 36,8OC. Dari pemeriksaan laboratorium hematologi yang dilakukan
tanggal 11 Januari 2017 dengan hasil: Hb 10,8 g/dl, Ht 21,1%, RBC 4,61 m/uL, WBC 7,1 K/uL,
CT 4, BT 2. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang disimpulkan
bahwa pasien masuk dalam ASA I. ;
Pemberian maintenance cairan sesuai dengan berat badan pasien yaitu 2cc/kgBB/jam,
sehingga kebutuhan per jam dari penderita adalah 90 cc/jam. Sebelum dilakukan operasi pasien
dipuasakan selama 6-8 jam. Tujuan puasa untuk mencegah terjadinya aspirasi isi lambung
karena regurgitasi atau muntah pada saat dilakukannya tindakan anestesi akibat efek samping
dari obat- obat anastesi yang diberikan sehingga refleks laring mengalami penurunan selama
anestesia. Penggantian puasa juga harus dihitung dalam terapi cairan ini yaitu 6 x maintenance.
Sehingga kebutuhan cairan yang harus dipenuhi selama 6 jam ini adalah 540 cc/6jam.
Operasi Tonsilektomi dilakukan pada tanggal 12 Januari 2017. Pasien dikirim dari
bangsal Shafa Bedah. Pasien masuk keruang OK 1 pada pukul 08.30 dilakukan pemasangan
NIBP dan O2 dengan hasil TD 122/76 mmHg; Nadi 79x/menit, dan SpO2 99%. Dilakukan injeksi
Ondansentron 4 mg, ketorolac 30 mg dan milos 25 mg. Penggunaan premedikasi pada pasien ini
betujuan untuk menimbulkan rasa nyaman pada pasien dengan pemberian analgesia dan
mempermudah induksi dengan menghilangkan rasa khawatir. Karena dilakukan operasi
tonsilektomi, maka dokter anestesi memilih untuk dilakukan intubasi nasal agar tidak
mengganggu operator sepanjang operasi dilakukan dan supaya pasien tetap dianestesi dan dapat
bernafas dengan adekuat.
Pasien disungkupkan dengan sungkup muka yang telah terpasang pada mesin anestesi
yang menghantarkan gas (isoflurane) dengan ukuran 2 vol% dengan oksigen dari mesin ke jalan
napas pasien sambil melakukan bagging selama kurang lebih 2 menit untuk menekan
pengembangan paru dan juga menunggu kerja dari pelemas otot sehingga mempermudah
dilakukannya pemasangan endotrakheal tube. Penggunaan isofluran disini dipilih karena
isofluran mempunyai efek induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibanding dengan gas lain,
dan baunya pun lebih harum dan tidak merangsang jalan napas sehingga digemari untuk induksi
anestesi dibanding gas lain (halotan). Efek terhadap kardiovaskular pun relatif stabil dan jarang
menyebabkan aritmia.
Setelah pasien di intubasi dengan mengunakan endotrakheal tube, maka dialirkan
isofluran 2 vol%, oksigen sekitar 50 ml/menit sebagai anestesi rumatan. Ventilasi dilakukan
dengan bagging dengan laju napas 20 x/ menit. Sesaat setelah operasi selesai gas anestesi
diturunkan untuk menghilangkan efek anestesi perlahan-lahan dan untuk membangunkan pasien.
Juga diharapkan agar pasien dapat melakukan nafas spontan menjelang operasi hampir selesai.
Operasi selesai tepat jam 08:30 WIB. Lalu mesin anestesi diubah ke manual supaya
pasien dapat melakukan nafas spontan. Gas iso dihentikan karena pasien sudah nafas spontan dan
adekuat. Kemudian dilakukan ekstubasi endotracheal secara cepat untuk menghindari penurunan
saturasi lebih lanjut.
Total cairan yang diberikan pada pasien ini sejumlah 750 cc Ringer Laktat. Perdarahan
pada operasi ini kurang lebih 25 cc.
Pada pukul 09:30 WIB, pembedahan selesai dilakukan, dengan pemantauan akhir TD
120/78mmHg; Nadi 85x/menit, dan SpO2 99%. Pembedahan dilakukan selama kurang dari 1 jam
dengan perdarahan 25 cc. Pasien kemudian dibawa ke ruang pemulihan (Recovery Room).
Selama di ruang pemulihan, jalan nafas dalam keadaan baik, pernafasan spontan dan adekuat
serta kesadaran compos mentis. Tekanan darah selama 15 menit pertama pasca operasi stabil
yaitu 118/70 mmHg.