You are on page 1of 8

Zulfa Fitri Ikatrinasari, Syamsul Maarif, Endang Gumbira Sa’id

,
Tajuddin Bantacut, Aris Munandar
.
MODEL PEMILIHAN KELEMBAGAAN AGROPOLITAN BERBASIS AGROINDUSTRI DENGAN
ANALYTICAL NETWORK PROCESS

AGROINDUSTRY BASED AGROPOLITAN INSTITUTIONAL DESIGN WITH
ANALYTICAL NETWORK PROCESS
Zulfa Fitri Ikatrinasari1, Syamsul Maarif2, Endang Gumbira Sa’id2,
Tajuddin Bantacut2, Aris Munandar3
1
Program Pascasarjana Magister Teknik Industri, Universitas Mercu Buana
Gedung Tedja Buana Lt.4, Jl. Menteng Raya No. 29, Jakarta Pusat 10340
Email: zulfafitri@gmail.com
2
Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
3
Departemen Arsitektur Landcape, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

ABSTRACT

Agroindustry based agropolitan institution is required to ensure the sufficiency of supply of raw material
and delivery of agroindustry products both quality and quantity. The agropolitan institutions could be adopted
from one of of those have been existing. Through the institutional development, local resources value can be
optimized according to their potential advantages. The purpose of this research was to establish institutional
analysis model in agroindustry based agropolitan. Analytical Network Process (ANP) was used for designing
and analyzing the appropriateness of agropolitan institution model. The model was verified and applied at
Kabupaten Probolinggo. It was concluded that vertical integrated institution is the most appropriate model for
agroindustry based agropolitan.

Keywords: agropolitan, agroindustry, analytical network process, institutional design.

PENDAHULUAN hubungan interaksi antar individu-individu.
Masyarakat membuat pengaturan perilaku kepada
Agropolitan atau kota pertanian merupakan individual bertujuan agar individual tidak meng-
salah satu konsep pengembangan pertanian dengan ancam/merusak keberlanjutan kehidupan masyarakat
basis pengembangan wilayah yang dapat meng- keseluruhan. Contoh dari kelembagaan adalah
optimalkan pemanfaatan sumberdaya potensial dan kelembagaan pertukaran dari barang dan jasa melalui
peningkatan dayasaing pada suatu daerah (Harun, ekonomi pasar (market economy) atau kelembagaan
2004; Nainggolan, 2004; Rustiadi dan Hadi, 2004). non pasar yang banyak terdapat di wilayah pedesaan
Otonomi lokal merupakan syarat bagi pengembang- seperti bagi hasil atau sewa atau hak pakai, di mana
an agropolitan sehingga setiap kawasan memiliki pembagian hasil diatur menurut kesepakatan
wewenang terhadap sumber-sumber ekonomi. bersama.
Selain itu, keuntungan yang diperoleh dari kegiatan Kelembagaan formal seperti hukum (undang-
setempat harus ditanam kembali untuk menaikkan undang, peraturan pemerintah) ataupun kelembagaan
daya-hasil dan menciptakan suatu keadaan yang non formal seperti banyak di pedesaan (munaseuh,
mendorong pertumbuhan ekonomi selanjutnya lembaga adat, nagari, pesirah, penyakapan lahan,
(Friedmann dan Douglass, 1976). ijon, dll) akan berperan dalam mengatur dan
Agropolitan berbasis agroindustri adalah mengkoordinasikan kegiatan individual atau
suatu kawasan di mana pertanian berkontribusi besar kelompok petani ke arah kerjasama pada suatu
terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Namun kebanyakan kelem-
masyarakatnya dan pada pusat agropolitannya bagaan masyarakat komunal di wilayah pedesaan
dikelola suatu agroindustri yang dapat meningkatkan yang sebenarnya mampu mengelola sumberdaya
nilai tambah hasil pertanian sehingga dapat alam kearah pengelolaaan berlanjut telah banyak
menjamin keberlangsungan agropolitan. Kelem- tidak berfungsi. Hal ini disebabkan banyaknya
bagaan di suatu agropolitan berbasis agroindustri aturan perilaku atau program-program yang sifatnya
sangat diperlukan untuk menjamin keberlangsungan top-down dan banyak aturan tersebut diambil begitu
jumlah dan kualitas pasokan bahan baku dan saja dari negara lain yang tidak dapat diwujudkan di
pemasaran produk agroindustri. negara berkembang.
Kelembagaan atau institusi dapat diartikan Berdasarkan hal di atas maka sangat penting
sebagai “aturan main” (rules of the game). Institusi ditelaah aspek kelembagaan dalam kawasan agro-
juga sering diartikan sebagai “organisasi” yang politan yang disesuaikan dengan kelembagaan
melaksanakan rules of the game, atau sebagai player tradisional yang telah berkembang sebelumnya,
of the game atau “aturan main yang telah mengalami sehingga melalui kelembagaan pemberdayaan
keseimbangan” (equilibrium rules of the game). masyarakat dapat dikembangkan sesuai dengan
Kelembagaan pada dasarnya merupakan perangkat potensi yang dimilikinya. Selain itu dengan
formal dan non formal yang mengatur perilaku kelembagaan yang sesuai diharapkan dapat
(behavioural rules) dan dapat memfasilitasi mengelola keberlangsungan kawasan agropolitan
terjadinya koordinasi atau mengatur hubungan-

J. Tek. Ind. Pert. Vol. 19(3), 130-137 130

Hal ini disebabkan Process) banyak diabaikan dibandingkan dengan karena metoda ANP (Analytic Network Process) pendekatan AHP (Analytical Hierarchy Process) mengakomodasikan hubungan timbal balik yang yang berstruktur linear dan tidak mengakomodasikan berguna pada sektor publik yang memerlukan adanya feed-back. Matrices (PCJM) antar elemen yang sejenis. Tek. sesuai kompleksitas yang tinggi (Saaty. pengusaha industri variasi interaksi yang tinggi terhadap setiap pertanian. tetapi nampak seperti sebuah jaringan kawasan agropolitan berbasis agroindustri adalah siklus pada masing-masing klaster dari setiap elemen pemilihan pola kelembagaan yang sesuai. 130-137 . umpan balik terdiri dari interaksi dan ketergantungan politan. 2001.Model Pemilihan Kelembagaan Agropolitan Berbasis. Jawa Timur. kapabilitas kelem. antara elemen pada level yang lebih rendah. Hal ini karena metoda ANP memungkinkan banyak pihak (masyarakat.. menyatakan Kerangka Pemikiran bahwa jaringan umpan balik adalah struktur untuk Pengembangan kawasan agropolitan berbasis memecahkan masalah yang tidak dapat disusun agroindustri yang melibatkan seluruh stake-holder dengan menggunakan struktur hirarki. Sebagai metode bangkan model pemilihan kelembagaan di kawasan pengembangan dari metode AHP.. berbasis agroindustri sehingga nilai tambah dapat kepentingan yang dapat saling bertentangan dan dinikmati oleh semua stakeholder yang terlibat. ANP masih agropolitan berbasis agroindustri yang kemudian menggunakan cara Pairwise Comparison Judgement model tersebut divalidasi di Kabupaten Probolinggo. interaksi dan ketergantungan diantaranya. dari jalur kepentingan dan tidak pernah dijadikan bagaan dan dapat meningkatkan akses masyarakat tujuan dari jalur kepentingan lain. Bentuk ini tidak dapat disebut sebagai level.. 2004) 131 J.. Chen et al. pemerintah. terdapat interaksi/ketergantungan yang bervariasi. Titik sumber menunjukkan asal kualitas sumberdaya manusia. serta dapat berbentuk looping pada klaster itu Kelembagaan merupakan hal yang penting untuk sendiri. Kompleksitas ini menyangkut berbagai tujuan dan Source Component (Komponen sumber) Source Component / Feed Back Loop (Komponen Sumber / Lingkaran timbal balik) Intermediate Component / Transient State (Komponen Antara / Wilayah Antara ) Sink Component /Absorbing State (Komponen Tumpahan / Wilayah Penyerapan ) Sink Component (Komponen Tumpahan) Gambar 1. Untuk itu dalam pengembangan model Analytical Network Process pemilihan kelembagaan digunakan Metoda ANP Pendekatan ANP (Analytical Network (Analytic Network Process). ditentukan agar sistem berkelanjutan. beragam kepentingan. intertaksi dan ketergantungan. Permasalahan pemilihan kelembagaan yang Model pemilihan kelembagaan agropolitan berbasis sesuai pada suatu kawasan agropolitan berbasis agroindustri dikembangkan dengan pendekatan agroindustri bersifat kompleks karena melibatkan ANP. Saaty (1996) dan Saaty (2001). 19(3). Untuk itu dalam perencanaan dan pengem. Perbandingan berpasang-an ANP dilakukan antar elemen dalam komponen/ kluster untuk setiap METODE PENELITIAN interaksi dalam network. Ind. Jaringan akan menjamin keberlangsungan kawasan agro.. tumpahan adalah titik yang menjadi tujuan dari jalur Pemilihan pola kelembagaan agropolitan kepentingan dan tidak pernah menjadi asal untuk merupakan proses yang berorientasi jangka panjang kepentingan lain. 2008). diterapkan pada pengambilan keputusan yang rumit. petani. Pert. Hal ini dikarenakan AHP relatif pengambilan keputusan dalam jumlah informasi. Struktur bangannya diperlukan keterlibatan lintas sektoral.. umpan balik tidak mempunyai bentuk linier dari atas Termasuk dalam pengembangan dan perencanaan ke bawah. Vol. Hal ini Umpan balik juga mempunyai sumber (source) dan disebabkan karena kelembagaan dapat meningkatkan tumpahan (sink). Azis. kompleks serta memerlukan berbagai variasi Penelitian ini bertujuan untuk mengem. lebih sederhana dan mudah untuk diterapkan. dll) dengan komponen dalam model. serta memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. interaksi yang banyak dan memiliki tingkat sedangkan ANP lebih dalam dan luas. sedangkan titik perdesaan terhadap sumberdaya. Struktur jaringan umpan balik pada ANP (Saaty.. pedagang. 2004..

yaitu pada setiap titik pada model (Saaty. Hanya mengetahui kan dengan lima alternatif pola kelembagaan seperti data dan supermatriks akan menghasilkan prioritas yang telah dikembangkan oleh Anwar (2004). Pengumpulan dan pengolahan data 1. Tajuddin Bantacut. titik sebagai supermatrix yang terdiri dari beberapa sub siklus. dan bagian akhir adalah titik tumpahan itu sendiri (sink node). ketersediaan program Diklat. wawancara dan pengisian kuesioner. atau sebuah jalur yang menuju pada titik matriks. biaya informasi. aliansi strategis. biaya negosiasi dan biaya penegakkan aturan). Tek. 130-137 132 . Vol. tumpahan (sink node). Untuk  Biaya Kelembagaan (biaya transaksi. Survei lapangan ditujukan untuk mem- masalah tanpa terfokus pada awal dan kelanjutan peroleh data primer dengan cara observasi. Pert. Hal ini merupakan cara yang sederhana karena tidak membutuhkan pemikir. sistem kontrak. Model pemilihan kelembagaan dikembang- an per bagian pada pengguna. Kriteria itu sendiri dapat tergantung pada alternatif dan faktor lain. Supermatriks ANP akan secara otomatis menghasilkan bobot yang tepat bagi kriteria dan DESAIN MODEL PEMILIHAN alternatif jika data yang digunakan adalah vektor KELEMBAGAAN prioritas pada supermatriks. titik antara (intermediate diperlukan matriks berukuran besar yang disebut node) yang berasal dari titik asal (source node). Zulfa Fitri Ikatrinasari. Menurut sistem pasar. Adanya jaringan (network) dalam suatu ANP dilakukan dengan metoda studi pustaka dan survei dimungkinkan dapat merepresentasikan beberapa lapangan. koperasi & integrasi vertikal)  Bobot masing-masing kriteria  Skor relatif setiap alternatif kelembagaan Penentuan prioritas pola kerjasama & kelembagaan dengan ANP Urutan prioritas pemilihan kelembagaan Gambar 2. alternatif lainnya. Ind. peningkatan peluang pasar. kemudahan distribusi)  Pengetahuan & Teknologi (kemudahan akses. Materi diklat)  Pemodalan (kemudahan prosedur peminjaman. Endang Gumbira Sa’id. kemudahan peneraoan & kemutakhiran) Penentuan prioritas kriteria pemilihan pola kerjasama dan kelembagaan dengan ANP  Alternatif kelembagaan (sistem pasar. Aris Munandar . Azis (2004) dengan umpan balik. Karaktersitik setiap hanya dapat tergantung pada kriteria tetapi juga pola kelembagaan dapat dijelaskan seperti pada dapat tergantung antara satu alternatif dengan Gambar 3. keringanan bunga)  Ekologi (Pengendalian ekologi & sumberdaya alam)  Sarana Prasarana (ketersediaan Sapras)  Hukum & Politik (perlindungan hak-hak & penegakkan kewajiban)  Pemasaran & Distribusi (kemudahan akses pasar. sistem kontrak. Struktur ANP Pengumpulan dan Pengolahan Data terdiri atas ketergantungan antar elemen dari Diagram alir tahapan pengumpulan dan komponen dalam (inner dependence) dan dari pengolahan data pada pemilihan kelembagaan ketergantungan antar elemen dari komponen luar agropolitan berbasis agroindustri dapat dilihat pada (outer dependence) seperti ditampilkan pada Gambar Gambar 2. aliansi strategis. akhir seperti pada AHP. alternatif bukan koperasi dan integrasi vertikal. Syamsul Maarif. Diagram alir tahapan pengumpulan dan pengolahan data J. 2004). 19(3). Sebuah jaringan yang utuh terdiri dari titik merepresentasikan feedback pada ANP maka sumber (source node).  Pendidikan & Pelatihan (kemudahan mengikuti Diklat.

penerima keputusan (“price taker”). berada di bawah dan bersama melalui perusahaan yang mereka kendalikan “kurang berkuasa”.. yakni: 1) dua atau lebih perusahaan peluang berusaha. 2) perusahaan mitra sama-sama memperoleh kelembagaan pasar umumnya mengikuti pola manfaat dari aliansi dan secara bersama-sama hubungan ekonomi “rasional” dan tergantung sekali mengendalikan kinerja dari pekerjaan yang ditentu- pada dinamika dan peluang pasar. Karakteristik beberapa pola kelembagaan (Anwar. sehingga sistem pasar ini memiliki produk dan sebagainya. sosial dan budaya biasanya tidak memiliki modal. Pola masing. Aliansi strategik adalah kebutuhan terhadap kegiatan ekonomi. Pert. hubungan kerjasama lebih panjang.. Integrasi vertikal.. kebutuhan akan ekolosistem dan sumberdaya. pembagian keuntungan dan informasi panjang dan lebih memperhatikan pembagian terbuka. yang aspirasi-aspirasi ekonomi.Model Pemilihan Kelembagaan Agropolitan Berbasis. Interaksi antar kan. dan 3) perusahaan mitra secara berkelanjutan pelaku ekonomi tercermin dalam proses transaksi mendukung satu atau beberapa area strategis yang dan penentuan harga produk pertanian yang merupakan kunci seperti teknologi.. serta dengan tetap mempertahankan independensi masing. keuntungan dibandingkan sistem pasar. kepentingan bersama. keorganisasian biasanya dilakukan secara sepihak Pengendalian dan koordinasi dilakukan melalui oleh penguasa modal dan petani sepenuhnya sebagai struktur dan terdesentralisasi. Vol. 133 J. sistem pengendalian atau koordinasi eksternal Koperasi. Karakteristik koordinasinya adalah Karakteristik koordinasinya tidak hanya mengandal.. Pemilik modal umumnya secara demokratis. Ind. 19(3). 130-137 . Sistem kontrak. satu suara). kegiatan bentuk kerjasama jangka panjang yang memiliki tiga sosial (pengurangan kesenjangan lapangan kerja. bersatu untuk mencapai tujuan yang disepakati kebutuhan akan kegiatan hukum dan politik. Pemilik otonom dari orang-orang yang bersatu secara modal umumnya sebagai “penguasa” dan berada di sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan puncak organisasi. hubungan kerjasama jangka kan keuntungan pribadi. Sistem pengendalian atau integrasi vertikal juga dikoordinasikan oleh koordinasi yang berperan dalam sistem kontrak pengendalian internal melalui struktur yang adalah melalui spesifikasi dan ikatan legal. pengembangan dipasarkan. Pengambilan keputusan dalam tingkatan lain juga diatur secara demokratis. terdesentralisasi. Aliansi strategik. dan ketergantungannya stabil. Koperasi adalah perkumpulan melalui harga dan pembakuan kualitas. Pilihan-pilihan strategis ke arah koordinasi vertikal Karakteristik Karakteristik koordinasi dari Sistem Aliansi Integrasi koordinasi Sistem Pasar Koperasi Kontrak Strategis Vertikal Invisible Hand Mutual Self Interest Interest Hubungan Short-run Hubungan Bounded Long Term Rationality Mengarah pd sikap Pembagian oppourtunism Keuntungan complexity Pembagian Keterbatasan Informasi Distribusi yang Informasi Terbuka Flexibility Stability Inter- Independence dependence Pengendalian Pengendalian Saling Pengendalian Pengendalian eksternal eksternal mengontrol internal via internal via melalui harga & melalui pihak satu struktur struktur pembakuan spesifikasi & terhadap terdesentrali terdesentrali kualitas ikatan legal yang lain sasi sasi Sistem pengendalian / koordinasi yang berperan Gambar 3. Dalam koperasi primer anggota- membutuhkan fungsi petani sebagai pemasok bahan anggota mempunyai hak-hak suara yang sama (satu mentah pertanian yang bernilai tambah ekonomi anggota. dan koperasi pada tingkatan- relative rendah.. Tek. karakteristik. 2004) Sistem pasar (spot market). dan pemerataan pendapatan). sedangkan posisi petani.. terhadap pengembangan dan adopsi teknologi. Seperti pada koperasi. informasi Menurut Pranadji (2003). Kebutuhan lebih terbuka dan ketergantungan lebih tinggi masyarakat terhadap kelembagaan adalah kebutuhan dibandingkan sistem pasar.

130-137 134 . ekologi. meningkatkan peluang pasar yang akan diperoleh masing memiliki kesempatan dan pembatas yang atau tidak. Endang Gumbira Sa’id. Pert. kemudahan distribusi yang akan diciptakan dengan kan anggotanya mengeluarkan biaya transaksi kelembagaan tersebut maka akan semakin tinggi seminimal mungkin akan menguntungkan bagi penilaian yang diberikan. batas yuridiksi dan memberikan kontribusi dan informasi terhadap representasi dapat dipenuhi oleh kelembagaan maka produksi komoditi tersebut. Melalui proses negosiasi. semakin baik pula keuntungan yang diperoleh bagi anggota kelembagaan. Semakin J. Kriteria Pengetahuan dan Teknologi Penguasaan teknologi produksi. hasil pertanian seringkali tidak mampu memenuhi Kriteria Biaya Kelembagaan permintaan pasar yang menuntut kestabilan mutu. Kriteria ini akan memberikan penilaian untuk melakukan transaksi di antara partisipan yang apakah kelembagaan yang dipilih mampu terlibat. secara umum. Petani dan pengusaha industri pengolahan pengetahuan dan teknologi. Dalam setiap transaksi partisipan masing. Semakin tinggi usaha yang diperlu. Transaksi melalui sistem jumlah pesanan yang besar. HASIL DAN PEMBAHASAN Kriteria Modal Model pemilihan kelembagaan agropolitan Salah satu kebutuhan setiap elemen yang berbasis agroindustri diimplementasikan dengan berada dalam kawasan agropolitan dalam mengem- menggunakan perangkat lunak pendukung Super bangkan usahanya adalah modal usaha. Kondisi ini akan mendatangkan masalah mereka ditentukan. Tahap pertama penggunaan model ini tersebut mengakses sumber permodalan. Peranan dan sumberdaya alamnya. dan masyarakat langsungan kawasan agropolitan. pelatihan. delivery cepat dan tepat pasar dicirikan oleh adanya persetujuan bersama waktu. lingkungan pada kawasan agropolitan maka semakin bangan kawasan agropolitan. Tek. Semakin tinggi memiliki kemampuan menjamin biaya negosiasi kelembagaan dapat menjamin keberlangsungan yang rendah sangat menguntungkan bagi pengem. kebutuhan hukum & politiknya. Kriteria Hukum dan Politik Biaya informasi. Semakin tinggi peluang pemasaran dan mungkin berbeda. dan pelatihan bagi para anggotanya. Proses nego. pendidikan dan diberikan. Kriteria Ekologi siasi akan membutuhkan biaya tinggi jika anggota Pengembangan kawasan agropolitan diharap- kelembagaan tidak memiliki jaminan kesetaraan kan tidak berdampak buruk bagi pengendalian terhadap anggota yang lain. semakin tinggi pula nilai kriteria pemenuhan Biaya negosiasi. Tajuddin Bantacut. Ind. Vol. kelembagaan adalah memudahkan penegakkan aturan dan koordinasi di antara anggotanya dengan Kriteria Pendidikan dan Pelatihan cara membantu memenuhi harapan-harapan mereka Kelembagaan dalam kawasan agropolitan melalui kerjasama secara wajar dalam hubungannya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pendidikan satu sama lain. kepemili- free rider yaitu kelompok individu yang menikmati kan hak-hak istimewa dan tanggung jawabnya. Zulfa Fitri Ikatrinasari. Jika pemenuhan kan dalam penegakkan aturan di suatu organisasi kebutuhan pendidikan dan pelatihan dapat diberikan maka akan meningkatkan biaya penegakkan aturan oleh suatu kelembagaan semakin tinggi maka kelembagaan. kedua belah pihak dapat setuju atau tidak untuk mentransfer apa yang mereka miliki. Kemampuan dalam kawasan agropolitan sehingga akan mampu kelembagaan yang dapat menjamin tersedianya bersaing. Kelembagaan yang ekologi dan sumberdaya alam. sesuatu yang dihasilkan oleh orang lain tanpa Semakin tinggi hak kepemilikan. Kelembagaan yang memungkin. daya inovasi Kriteria Sarana dan Prasarana dan skala usaha industri pengolahan pertanian dalam Infrastruktur termasuk pelayanan sistem kawasan pedesaan sebagian besar masih terbatas. dilindungi hak-haknya. Berdasarkan hal di atas maka ditetapkan kriteria mudah kelembagaan tersebut mengakses sumber pemilihan kelembagaan agropolitan terdiri dari permodalan akan semakin tinggi penilaian yang kriteria biaya kelembagaan. Kriteria ini Decision 16.. Syamsul Maarif. pemodalan. sarana prasarana. Aris Munandar . pemasaran dan distribusi. 19(3). Biaya informasi akan tinggi Kelembagaan sebagai aturan main dapat jika pemilik informasi mencegah pihak lain diartikan sebagai himpunan aturan mengenai tata memanfaatkan sumber daya dan informasi yang hubungan di antara orang-orang. pengusaha. tinggi pemenuhan kebutuhan pengendalian ekologi Biaya penegakkan aturan. Kriteria Pemasaran hukum dan politik. di mana hak-hak dimiliki. Biaya transaksi. pengembangan kawasan agropolitan. transportasi dan fasilitas umum mempunyai dimensi Kelembagaan pada kawasan agropolitan diharapkan teknologi yang kuat dan penting dalam mendukung dapat meningkatkan produktivitas setiap elemen kegiatan di kawasan agropolitan. yaitu sebuah aplikasi yang digunakan akan memberikan penilaian kelembagaan yang untuk penerapan metoda Analytic Network Process dipilih berkaitan dengan kemampuan kelembagaan (ANP). Kriteria ini akan memberikan penilaian sarana prasarana yang dibutuhkan dapat memberikan tinggi jika ketersediaan pengetahuan dan informasi arti yang positif bagi pengembangan dan keber- mudah diakses petani.

ketersediaan program pendidikan dan pelatihan. (6) Hukum dan politik dengan dan politik memiliki hubungan timbal balik. Vol.. dengan menggunakan Super Decision 16. (3) Pemodalan dengan penekanan pada an kelembagaan agropolitan berbasis agroindustri prosedur perolehan pinjaman dan bunga pinjaman. Kabupaten Probolinggo kelembagaan di kawasan agropolitan di Kabupaten mayoritas penduduknya bermata pencaharian di Probolinggo dengan prioritas tertinggi adalah sektor pertanian. Ind. maka diperoleh bahwa pola pada suatu daerah. dukungan dari berbagai aspek: (1) Pemasaran Tahapan akhir pada model ini adalah sintesis dengan penekanan pada peningkatan peluang pasar. juga mempengaruhi kriteria ekologi. hukum. dan (8) Ketersediaan politik selain mempengaruhi alternatif kelembagaan sarana dan prasarana. Integrasi Vertikal Petani jagung relatif kurang mandiri dibandingkan memiliki nilai prioritas tertinggi di antara petani padi sehingga masih memerlukan kelembaga- kelembagaan lainnya.. adalah penentuan kriteria dan alternatif. Jaringan ANP dalam model pemilihan kelembagaan Agropolitan berbasis agroindustri 135 J.. pemodalan. kemudian berturut-turut an yang kuat dan stabil seperti integrasi vertikal.. prioritas tertinggi hingga yang terendah adalah Gambar 4. Tek. Berdasarkan hasil perhitungan politan Kabupaten Probolinggo adalah petani jagung.. Jaringan model pemilih. (5) Gambar jaringan ANP di atas diantaranya Pengetahuan dan teknologi dengan penekanan pada menunjukkan bahwa di antara sub kriteria hukum kemutahiran.. Sasaran petani kawasan agro- integrasi vertikal. 130-137 . (7) Pengendalian itu ditunjukkan pula bahwa kriteria hukum dan ekologi dan sumberdaya alam. Pert. Pemilihan jenis kelembagaan sangat di- sarana prasarana dan biaya. 19(3). dapat (4) pendidikan dan pelatihan dengan penekanan pada dilihat pada Gambar 4. Tahap ketiga yaitu memasukkan Untuk mendukung keberhasilan implementasi penilaian pendapat untuk menentukan bobot kriteria bentuk kelembagaan yang terpilih maka perlu dan bobot alternatif bagi masing-masing hirarki. pengaruhi oleh potensi sumberdaya manusia dan Dengan menggunakan aplikasi pendukung potensi kelembagaan yang saat ini telah berkembang Superdecisions 1. integrasi vertikal.0. yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tahap sistem kontrak. Selain penekanan pada perlindungan hak.. koperasi dan yang kedua adalah menentukan interaksi antara alternatif terakhir adalah aliansi strategis..6. dan kriteria.Model Pemilihan Kelembagaan Agropolitan Berbasis. keseluruhan model dengan menghitung nilai bobot (2) Biaya dengan penekanan pada biaya penegakan untuk keseluruhan hirarki.

Approach to Regional Planning and Development: The Asian Experience (4-13 Saran November1975). J.M. The Seminar on yang paling diprioritaskan bagi kawasan agropolitan Industrialization Strategies and Growth Pole berbasis agroindustri di Kabupaten Probolinggo. Los Angeles. Penajaman Analisis Kelembaga- Symposium on Analytic Hierarchy Process an dalam Perspektif Penelitian Sosiologi III. 2004. A. 2008.054 0.068 0. Douglass. Aris Munandar . dan P3PT.R. Institut Teknologi Bandung.069 1. Development.011 0.497 1 Biaya Transaksi 0.368 2 Penegakkan Kewajiban 0.598 IPTEK 0. Vol. komponen kriteria dan alternatif yang memiliki Friedmann J. Indonesia Pranadji T. Jakarta. Wilayah Pedesaan. Kelompok Kerja Berimbang. M.. Tabel 1. Japan.241 EKOLOGI PENGETAHUAN & TEKNOLOGI Pengendalian Ekologi & 1 Kemudahan Akses Sumberdaya Alam 0. Jakarta. Bogor.025 0.021 0.A.034 0.108 Distribusi 0.019 0.071 0. Bogor. Bandung. Towards a New Strategy for Berdasarkan validasi model dapat diketahui Regional Planning in Asia.C. 1976.038 0. Knowledge-Driven ANP Kesimpulan Approach to Vendor Evaluation for Model pemilihan kelembagaan agropolitan Sustainable Construction. 2004. Pengembangan Kawasan Agropolitan.199 DIKLAT 1 Kemudahan 2 Biaya Informasi 0.345 Dapat Diterapkan 0. Masalah Kompleksitas Institusi/ dan Wilayah Secara Berimbang.038 0.037 0.022 0. Syamsul Maarif.055 0.184 2 Kemudahan HUKUM & POLITIK Penerapan IPTEK 0.089 0. Ind. With Feedback Influence. direkomendaskan dapat berupa perusahaan daerah di Harun U. 130-137 136 . P4W-IPB dan P3PT.162 PEMODALAN 1 Kemudahan 5 Integrasi Vertikal 0.465 3 Kemudahan 3 Aliansi Strategis 0.292 Prosedur Peminjaman 0.503 2 Keringanan Bunga BIAYA Pinjaman 0. Zulfa Fitri Ikatrinasari. United Nations Centre for Saran dalam penelitian ini adalah bahwa Regional Development.181 2 Peningkatan 2 Sistem Kontrak 0.060 0. Perencanaan Pengembangan bawah koordinasi Bupati Kabupaten Probolinggo.062 3 Kemutakhiran 1 Perlidungan Hak-hak 0.467 3 Materi Diklat 4 Biaya Penegakkan Aturan 0.000 IPTEK 0. Makalah DAFTAR PUSTAKA Workshop Pengembangan Agropolitan Sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan Anwar A. Prosiding Workshop Nainggolan K. Pertanian dan Pedesaan.402 SARANA PRASARANA Ketersediaan Sapras 0. Ross. Azis I.029 0. Hasil perhitungan model pemilihan kelembagaan agropolitan berbasis agroindustri Normalized Normalized Keterangan Limiting Keterangan Limiting By Cluster By Cluster ALTERNATIF PEMASARAN 1 Kemudahan Akses 1 Sistem Pasar 0. P4W-IPB Kelembagaan di Kawasan Agropolitan. secara teknis kelembagaan integrasi vertikal yang Terjemahan Oleh LPEM FE-UI. University of bahwa integrasi vertikal merupakan kelembagaan California.047 0.203 Pasar 0.029 0. A New Approach of Impact Study Departemen Pertanian. S. 19(3). Tajuddin Bantacut.145 Program Diklat 0. Perkembangan Kawasan Pengembangan Agropolitan sebagai Strategi Agropolitan Ditinjau dari Sudut Pandang Pembangunan Perdesaan dan Wilayah Secara Pakar dan Praktisi. H.386 KESIMPULAN DAN SARAN Chen Z.041 0.236 Peluang Pasar 0.311 Mengikuti Diklat 0.034 0.016 0.023 0. 2003. Li.Khalfan.J. Tek. 2004. Pert. Endang Gumbira Sa’id.W. Nagoya. 2004.068 0.292 2 Ketersediaan 3 Biaya Negosiasi 0. dan M. Kawasan Agropolitan dalam Sistem Perkota- an Regional di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE) 21(1): 12 – 25. 928-941. Construction berbasis agroindustri menggunakan metoda ANP Engineering and Management 134 (12) : karena bersifat kompleks dan terdiri dari komponen. Kong. Agropolitan beragam variasi interaksi.353 4 Koperasi 0.

19(3). Why Brazilai’s Criticisms of AHP Pittsburgh. Ind..L. Bandung.Model Pemilihan Kelembagaan Agropolitan Berbasis. Institut Teknologi Bandung.. and Feedback.. Vol. 2nd Ed. Hadi 2004.. politan Sebagai Strategi Pembangunan Saaty T.. 2004. Rustiadi E. Decision Making For Leaders: The Agropolitan Sebagai Strategi Pembangunan Analytical Hierarchy Process for Decision Perdesaan dan Pembangunan Berimbang.L. are Incorrect. Makalah Workshop Pengembangan Agro. 2001. RWS Publications.W. The Analytic Network P4W-IPB dan P3PT. dan S.. 137 J. Tek. Process. 130-137 . Pert. Pittsburgh.. Bogor. Pengembangan Saaty T. Saaty R. Indonesia Symposium on Analytic Hierarchy Process III. Decision Making With Dependence Perdesaan dan Wilayah Secara Berimbang. 1996. in Complex World. RWS Publication.