You are on page 1of 12

Hukum Syara’ Berjabat

tangan/Salaman dengan non mahram

Pembahasan hukum berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram
memerlukan kajian yang kritis dan mendalam sebelum menyimpulkan, karena
terdapat cukup banyak dalil-dalil syara yang digunakan untuk membahas
permasalahan ini. Akibatnya para ulama yang membahas masalah ini berbeda
pendapat tentang hukumnya. Ada yang mengharamkannya dan ada pula yang
mengatakan bahwa hukumnya mubah (boleh).

1. Dalil-Dalil, Serta Argumentasi Yang Digunakan Oleh Masing-Masing
Pendapat

Dalil-dalil yang dikemukakan oleh pendapat yang mengharamkannya adalah sebagai
berikut:

Pertama, beberapa riwayat dari ‘Aisyah r.a. yaitu:

Telah berkata ‘Aisyah:

“Tidak pernah sekali-kali Rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang
tidak halal baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Telah berkata ‘Aisyah:

“Tidak! Demi Allah, tidak pernah sekali-kali tangan Rasulullah Saw menyentuh
tangan wanita (asing), hanya ia ambil bai’at mereka dengan perkataan.” [HR.
Bukhari dan Muslim].

Menurut mereka Hadits-hadits di atas dan serupa dengannya merupakan dalil yang
nyata bahwa Rasulullah Saw tidak berjabat tangan dengan wanita
bukanmahram (asing). Karena itu maka hukum berjabat tangan antara lawan jenis
yang bukan mahram adalah haram.

Kedua, hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-
hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:

“Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik
dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. ath-
Thabrani].

Atau hadits yang berbunyi:

” Ketiga. Kata qa ba dha dalam hadits ini memiliki arti menggenggam/melepaskan tangan. Munawwir. dan melarang kami melakukan ‘nihayah’ (histeris menangis mayat). hal. Selain itu dari segi mafhum (tersirat) juga dipahami bahwa para wanita yang lain pada saat itu tidak menarik (menggenggam) tangannya. Berjabat Tangan Dengan Perempuan. Nidzhâm Ijtima’i fi al-Islâm. Bukhari]. atau melepaskan (tanganya dari memegang sesuatu) (A.” Beliau kemudian bersabda: . misalnya.a. yang berkata: “Kami telah membai’at Rasulullah Saw. ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung’.a. hal.a. diriwayatkan oleh Abu Bakar r. karena itulah seorang wanita dari kami menggenggam (melepaskan) tangannya (dari berjabat tangan) lalu wanita itu berkata: ‘Seseorang (perempuan) telah membuatku bahagia dan aku ingin (terlebih dahulu) membalas jasanya’ dan ternyata Rasulullah Saw tidak berkata apa-apa. 34).W. “Suatu ketika datanglah anak perempuan saudaraku seibu dari Ayah Abdullah bin Thufail dengan berhias. at- Tirmidzi dan an-Nasa’i]. Malik. Dan tidak bisa dipahami/diterima dari segi bahasa kalau diartikan ‘penerimaan yang terlambat’.” [HR.” Seperti yang dikemukakan golongan yang mengharamkan jabat tangan (Muhammad Ismail. Hadits ini menunjukkan bahwasanya kaum wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan. Bahwa ‘Aisyah r. Seperti disebutkan di dalam kamus yang berarti menggenggam sesuatu. tapi tiba-tiba Rasulullah Saw masuk seraya membuang mukanya.“Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram. Sebab kata ‘genggam tangan’ dalam hadits tersebut tidak memiliki arti selain ‘berjabat tangan’. 1167). 71-72). Kamus al- Munawwir. Maka aku katakan kepada beliau ‘Wahai Rasul. Sedangkan pendapat yang membolehkan dasarnya adalah riwayat yang menunjukkan bahwa tangan Rasulullah Saw bersentuhan (memegang) tangan wanita. Pertama. Hadits ini jelas-jelas secara manthuq (tersurat) artinya ‘menarik kembali tangannya’ menunjukkan bahwa para wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan. diriwayatkan dari ‘Ummu ‘Athiyyah r. dari Ibnu Juraij yang menceritakan. Jadi hadits ini menunjukkan secara jelas —baik dari segi manthuq (tersurat) maupun mafhum (tersirat)— bahwa Rasulullah Saw telah berjabat tangan dengan wanita pada saat bai’at (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Penjelasan ini juga sekaligus membantah yang mengatakan: “Yang dimaksud dengan genggaman tangan dalam hadits tersebut adalah ‘penerimaan yang terlambat’.” [HR. 57-58. juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw yakni: “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. berkata. Kata qa ba dha juga sering ditemukan dalam hadits-hadits lain yang artinya menggenggam dengan tangan. artinya tetap melakukan bai’at dengan tangan terhadap Rasulullah Saw. Lalu wanita itu pergi kemudian kembali lagi. hal. Ia mengunjungiku. lalu Beliau membacakan kepadaku ‘Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu’. sebab tangan salah seorang wanita itu digenggamnya/dilepaskannya setelah ia mengulurkannya hendak berbai’at.

Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabarani bahwa Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan para wanita sebagai pengganti dari Rasulullah Saw. juz 8.” [HR. Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ummu ‘Athiyyah r. Wanita yang ditunjuk oleh ayat itu bersifat umum. Dengan kata lain. yang berkata: “Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw.a. Walhasil berdasarkan mafhum isyarah dalam ayat tersebut di atas. Imam al-Qurthubi di dalam al-Jâmi’ al-Ahkâm al-Qurân. menyentuh tangan wanita —tanpa diiringi dengan syahwat— bukanlah sesuatu yang diharamkan. Abu Dawud]. baik mahram maupun bukan.’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab: ‘Ini tangan seorang wanita. ini yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram.]. an-Nisâ’ [4]: 43). bersentuhan tangan dengan wanita bisa menyebabkan batalnya wudlu. mestinya kau robah warna kukumu (dengan pacar)’. Diantara tangan Rasulullah Saw dan tangan wanita- wanita itu ada sebuah kain. dalil lain yang membuktikan bahwa hukum mushafahah adalah mubah adalah dari firman Allah SWT: “…atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. Kemudian Rasulullah Saw mengambil sumpah wanita- . ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang laki-laki atau tangan seorang wanita. Oleh karena itu. namun bukan perbuatan yang diharamkan. alias mubah. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram. ‘Kalau engkau seorang wanita. Kedua. ayat tersebut sebatas menjelaskan batalnya wudlu karena menyentuh wanita. 137 menuturkan sebuah riwayat bahwa ‘Umar ra telah berjabat tangan dengan para wanita dalam bai’at. Namun demikian kebolehan tersebut dengan syarat tidak disertai syahwat.” [HR. hal. Adanya riwayat-riwayat lain yang membolehkan mushafahah adalah sebagai berikut. Keempat. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata. juga mengetengahkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw mengambil bai’at dari kalangan wanita. Sebab. mencakup seluruh wanita. Ayat ini merupakan perintah bagi seorang laki-laki untuk mengambil air wudlu kembali jika ia menyentuh wanita.a. kita bisa menyimpulkan bahwa hukum mushafahah adalah mubah. juz 18. ath-Thabari dari ‘Aisyah r.a. sebagai pengganti dari Rasulullah Saw. diriwayatkan dari ‘Aisyah r. Ketiga.’ Nabi bersabda.“Apabila seorang wanita telah sampai usia baligh maka tidak boleh ia menampakkan anggota badanya kecuali wajahnya dan selain ini —digenggamnya pergelangan tangannya sendiri— dan dibiarkannya genggaman antara telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya. 71. hal. Imam ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabîr. bukan pengharaman menyentuh wanita.

a. Untuk mentarjihnya kita perlu memperhatikan kaidah tarjih dalam ilmu hadits yang telah dijelaskan para ulama bahwa: . 58). ada taqrir dari Rasulullah Saw terhadap perbuatan Umar bin Khaththab. Taisir Musthalah Hadits. 3. yaitu menghentikan kajian dalam menggali hukumnya. Pendapat Yang Rajih (Kuat) Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya mubah. Taqrir dari Rasulullah Saw merupakan hujjah yang sangat kuat atas bolehnya melakukan mushafahah. Dituturkan pula bahwa setelah Rasulullah Saw selesai membaiat kaum laki-laki Rasulullah Saw duduk di shofa bersama dengan Umar bin Khaththab yang tempatnya lebih rendah. Tawaqquf. yakni dengan cara meneliti dan membandingkan mana dalil yang lebih kuat. Dalam hal ini harus dilakukan secara cermat dan teliti serta harus memperhatikan kaidah-kaidah tarjih yang telah digariskan oleh para ulama. tentunya Rasulullah Saw tidak akan mewakilkan kepada Umar bin Khaththab. 3. 2. menurut ilmu hadits dan ushul fiqh harus ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: 1. Dalam mensikapi hadits- hadits yang dzahirnya seola-olah bertentangan. Sebab. dan beliau Saw pasti akan melarangnya. Lalu.wanita tersebut. maka kita harus mengkaji terlebih dahulu pendapat manakah yang lebih kuat dalam hal ini. Apabila langkah ini tidak bisa dilakukan baru menempuh. sedangkan Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan wanita-wanita itu. 4. Kalau langkah ini sulit dilakukan karena sama-sama kuat atau masih kabur baru menempuh langkah terakhir. Tarjih. Mahmud Thahan. Hadits yang sering digunakan oleh golongan yang berpendapat haramnya berjabat tangan dengan bukan mahram adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r. Namun terus berusaha sampai Allah SWT membukakan persoalan tersebut untuk diketahui (Dr. Rasulullah Saw membai’at para wanita itu dengan bertabirkan sebuah kain. hal. Thariqatul jam’i. ditempuh. 2. Untuk itu kita perlu mengkaji manakah dalil yang lebih kuat dari nash-nash yang seolah-olah bertentangan yang digunakan oleh kedua pendapat di atas. Nasikh dan Mansukh. Penjelasannya adalah sebagai berikut: 1. Riwayat-riwayat ini merupakan dalil kebolehan mushafahah. Sikap Kita Dalam Menghadapi Perbedaan Tersebut Dalam menghadpi perbedaan tersebut dan pendapat mana yang harus kita ikuti untuk kita amalkan. Kalau kita perhatikan hadit-hadits yang digunakan oleh kedua pendapat adalah hadits-hadits shahih yang harus diterima kebenarannya.a. Seandainya mushafahah dengan wanita asing (ajnabiyyah) adalah perbuatan haram. apabila tidak bisa dilakukan. Sedangkan golongan yang mengatakan mubah adalah berdasarkan riwayat ‘Ummu ‘Athiyyah r. yakni menggabungkan dan mengkompromikan dalil-dalil yang ada.

tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Perlu diketahui bahwa kehidupan Rasulullah sehari- hari tidak selamanya didampingi ‘Aisyah r. Misalnya hadits shahih yang berbunyi: “Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi. Jadi secara tidak langsung ‘Aisyah r. Hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Atau hadits yang berbunyi: “Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.a. Tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Rasulullah Saw mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram. itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.a.) Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah SWT: . menceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Sehingga kalau ‘Aisyah r. bahkan kehidupan Rasulullah Saw bersama ‘Aisyah r. yakni bisa berarti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’. Sebab apa yang dikatakan ‘Aisyah hanya menjelaskan tentang ketiadaan perbuatan Rasul —dalam hal ini berjabat tangan— yang diketahui ‘Aisyah. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.“Rawi yang mengetahui secara langsung kedudukannya lebih kuat dari pada Rawi yang mengetahui tidak secara langsung.a. Bahwa selama beliau (‘Aisyah r.” Menurut golongan yang membolehkan berjabat tangan.a. beliau tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram.a. 3. 2. dan tidak menunjukkan larangan berjabat tangan dengan bukan mahram. ath- Thabarani].a.a. tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan wanita bukan mahram. lebih sedikit dibandingkan dengan kehidupan Rasulullah Saw di luar rumah (berdakwah tanpa disertai ‘Aisyah r. Sebab pada keadaan lain ada yang melihat dan mengetahui (‘Ummu ‘Athiyyah r. sebab beliau melihat dan mengetahui secara langsung perbuatan Rasulullah Saw yang berjabat tangan dengan wanita bukan mahram pada saat berbai’at.a. menjelaskan bahwa kata massa yang artinya ‘menyentuh’ dalam hadits tersebut adalah lafadzmusytarak (memiliki makna ganda) yakni bisa berarti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’.).. Memang benar ‘Aisyah r.” [HR. sendiri berjabat tangan dengan Rasulullah Saw seperti apa yang tersirat dari hadits yang diriwayatkannya.” Dari hadits-hadits diatas. lebih kuat.a. Selain itu pengertian ‘menyentuh’ juga sering digunakan kata lamasa yang juga memiliki makna ganda. maka hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ummu ‘Athiyyah r. Bahkan ‘Ummu ‘Athiyyah r.a.) bergaul dengan Rasulullah Saw.a. isinya merupakan pendapat beliau yang menggambarkan bobot keilmuan beliau. lebih rajih (kuat) untuk dijadikan dalil dan dapat diambil serta menentukan bolehnya berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Oleh krena itu hadits riwayat ‘Ummu ‘Athiyyah r. Ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menjelaskan menyentuh dengan tangan sering menggunakan kata lamasa.a. tidak bisa langsung disimpulkan haram berjabat tangan dengan bukan mahram.

maka terjadilah jual-beli. 150). Kata massa merupakan lafadz musytarak.” (Qs. kalimatnya berbentuk umum untuk seluruh kaum wanita. lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri…” (Qs. hal.” [HR. (Lihat A. hal. Hassan. Juga dalam riwayat: . al-Mâ’idah [5]: 6).” [HR. arti lamasa adalah al jassu bil yadi (menyentuh dengan tangan). Diriwayatkan: Telah berkata Ibnu ‘Abbas: “Tatkala Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi Saw (mengaku berzina). juz II. 249. 58). ‘Maka sesudah itu beliau memerintahkan agar dia itu dirajam’. an-Nisâ’ [4]: 43). 53 – 55). Didalam hadits-hadits pun terdapat kata lamasa yang artinya menyentuh dengan tangan.’ Berkata (Ibnu ‘Abbas).“…atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. ‘Tidak! Ya Rasulullah. apabila engkau menyentuh kainku dan aku menyentuh kainmu. Jual beli secara mulamasah yaitu: Jika seorang pembeli berkata. al-Wâqi’ah [56]: 78). karangan Fairuz Abadi. Sedangkan dalam ayat ketiga memperjelas bahwa yang dimaksud menyentuh adalah memegang dengan tangan. sehingga dalam sebuah ayat dan beberapa riwayat berarti ‘menyentuh dengan tangan’. Di dalam Kamus al-Muhith. 4. hal.a. al-Ismailiy]. Dalam kedua ayat pertama. (Lihat kitab hadits Lu’lu wal Marjan. Bukhari dan Muslim]. yaitu bersentuhan dengan wanita membatalkan wudhu dan hal ini menunjukkan bahwa hukumnya terbatas pada batalnya wudhu karena menyentuh wanita (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Arti kata lamasa menurut bahasa Arab sendiri adalah ‘menyentuh dengan tangan’. “Dan kalau kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas. juz II. hal. bahwasanya Rasulullah Saw melarang jual-beli dengan cara mulamasah dan munabadzah. al-An’âm [6]: 7). Yakni di dalam firman Allah SWT: “Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Juga diriwayatkan: “Dari Abu Hurairah r. Juga firman Allah SWT: “… atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. Soal-Jawab. Nidzhâm Ijtima’i fi al-Islâm. bersabdalah Rasulullah Saw: ‘Barangkali engkau hanya mencium atau menyentuh atau melihat saja?’ Jawab dia.

Sebab jika di artikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ maka pengertian ini bertentangan dengan hadits shahih yang diriwayatkan ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. al-Baqarah [2]: 237).’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab. yang berkata: “Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw.” (Qs.“Dan dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm dari ayahnya. Rasulullah Saw bersabda: “Apabila kemaluan menyentuh kemaluan (bersetubuh). Abu Dawud]. Misalnya firman Allah SWT: “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata. Dan masih banyak ayat lain yang menggunakan kata massa untuk makna ‘bersetubuh’ bukan arti menyentuh secara bahasa.’ Nabi bersabda.” [HR.” [HR. al- Atsram dan ad-Daraquthni]. . Muslim]. 5. al-Baqarah [2]: 236).” [HR. ini lebih tepat jika diartikan dengan ‘bersetubuh’. Kata-kata massa dengan arti ‘bersetubuh’ lebih banyak ditemukan dalam ayat-ayat al-Qur’an. yang (di dalamnya): ‘Tidak boleh menyentuh al-Qur’an melainkan orang yang suci’. padahal…” (Qs. hadits-hadits yang diggunakan sebagai dalil oleh golongan yang mengharamkan ‘menyentuh wanita’ menggunakan kata massa yang lebih tepat diartikan ‘bersetubuh’ bukan ‘menyentuh dengan tangan’. maka wajiblah mandi. Juga firmanNya: “Maryam berkata: ‘Bagaimana aku bisa mempunyai anak laki-laki sedangkan tidak pernah seorang manusiapun yang menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina’. Juga di dalam beberapa hadits menunjukkan bahwa kata massa memiliki arti ‘bersetubuh’. dari datuknya. ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang laki-laki atau tangan seorang wanita. Tetapi.a. dimana tangan Rasulullah Saw yang mulia telah menyentuh (berjabat tangan) dengan wanita yang bukan mahram. “…kemudian kamu ceraikan mereka sebelum sentuh (setubuh) mereka…” (Qs. Walaupun kata massa dapat diartikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ tetapi dalam hadits-hadits yang digunakan oleh golongan yang mengharamkan jabat tangan dengan wanita bukan mahram. “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu sentuh (setubuh) mereka. ‘Kalau engkau seorang wanita. Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa. Maryam [19]: 20). ‘Ini tangan seorang wanita. bahwa Nabi Saw pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman. al- Ahzab [33]: 49). jika kamu menceraikan isteri- isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka…” (Qs. Juga riwayat lain yang menjelaskan dimana Rasulullah Saw pernah memegang tangan wanita seperti diriwayatkan dari ‘Aisyah r. mestinya kau robah warna kukumu (dengan pacar)’.

Pendapat ini adalah lemah. “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. meskipun Rasulullah Saw tidak . dalam benjana pada saat membai’at wanita. perkataan Rasulullah Saw. pernah juga Rasulullah Saw berjabat tangan dengan alas kain. juga antara pria dan wanita di pasar walaupun kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya bersentuhannya pria dan wanita yang bukan mahram. Rasulullah Saw selalu menjauhi dan tidak pernah menyimpan dirham dan dinar di rumahnya. Hadits di atas serta hadits-hadits lain yang serupa sering dijadikan dalil untuk mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Juga tidak mungkin Rasulullah Saw memerintahkan Umar bin Khaththab r.” Tidak bisa dijadikan dalil untuk mengharamkan berjabat tangan (mushafahah). Akan tetapi. melakukan jabat tangan (menyentuh) dengan wanita yang bukan mahram. Kalau memang berjabat tangan (menyentuh) dengan wanita diharamkan. perbuatan-perbuatan semacam ini bukanlah perbuatan yang dilarang bagi kaum muslim.” [HR.Selain itu Rasulullah Saw pernah berjabat tangan di dalam air. 6. sebab hal tersebut adalah perbuatan yang haram. karena ada sebuah kaidah ushul fiqh yang mengatakan: Inna ‘adam fi’l al-rasûl lisyain laisa dalîl syar’iyan (Sebenarnya perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah Saw bukanlah dalil syara’).a. Dan bahkan Daulah tidak pernah memisahkan antara jama’ah haji pria dan wanita. Malik. hadits itu harus dipahami bahwa Rasulullah Saw ada kalanya menjauhi dan tidak pernah mengerjakan sama sekali perbuatan-perbuatan yang berhukum mubah. Jadi dapat kita simpulkan bahwa dimaksud dengan kata ‘menyentuh’ pada hadits- hadits yang digunakan oleh pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita bukan mahram adalah ‘bersetubuh’ bukan menyentuh secara bahasa (berjabat tangan). Padahal. at- Tirmidzi dan an-Nasa’i]. tentunya Rasulullah Saw tidak akan melaksanakannya baik secara langsung maupun dengan perantara apapun. Artinya. Sedangkan yang bisa dijadikan dalil syara’ adalah perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah menyuruh Umar bin Khaththab r. Juga kalau memang berjabat tangan (bersentuhan) anatar lawan jenis yang bukan mahram itu diharamkan.a untuk mewakili beliau dalam bai’at dan bai’at ini dilakukan dengan berjabat tangan. tentunya Daulah Khilafah Islamiyyah (negara Khilafah) tidak akan membiarkan kondisi-kondisi atau keadaan yang sangat memungkinkan terjadi persentuhan. Misalnya. Bahkan Daulah akan memberikan sanksi/hukuman bagi yang melakukannya. Ternyata tidak ada satu riwayatpun yang menyatakan bahwa Daulah pernah melakukannya. Oleh karena itu. Rasulullah Saw juga menjauhi untuk memakan daging biawak. Akan tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Pendapat yang mengharamkan berjabat tangan antara pria dan wanita bukan mahram juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.

Hal ini telah dijelaskan oleh Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim. menurut Abu Zur’ah ar-Razi. nama lengkapnya adalah Ayyub bin Tamimah Kisâniy. Menurut an-Nasâ’i ia adalah tsiqat (terpercaya). 636). hal. ia adalah tsiqat. Al-Hafidz sendiri adalah seorang muhadits yang sangat termasyhur dan kitabnya Fâth al-Bârî. 636. Adapun kritik yang dikemukakan oleh Ibnu al-‘Arabi terhadap keshahihan riwayat-riwayat ‘Umar bin Khaththab bisa ditangkis dari kenyataan bahwa hadits- hadits yang bertutur tentang mushafahahnya ‘Umar bin Khaththab dicantumkan di dalam kitab Fâth al-Bârî karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. apa yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah Saw tidak mesti dipahami bahwa perbuatan itu berhukum haram. Meskipun Rasulullah Saw tidak pernah melakukan mushafahah. 8. Ibnu Hajarmengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah adalah merupakan hujjah (bantahan) terhadap apa-apa yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah mengenai Rasulullah memanjangkan tangannya untuk berjabat tangan dengan para wanita. Ibnu Hibban mencantumkannya di dalam al-Tsiqat. 1. Perawi hadits tersebut adalah Musaddad. Perawi berikutnya adalah Abdu al-Wârits. Walhasil. Akan tetapi. yang berarti dha’if. riwayat-riwayat yang menuturkan mushafahahnya Umar bin Khaththab dengan kaum wanita bisa digunakan hujjah secara pasti. hal. 30) dan juga al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (Fâth al-Bârî. Demikian juga dengan kasus mushafahah. Sebagaimana bahwa menyimpan dirham dan dinar bukanlah perkara terlarang. akan tetapi beliau Saw tidak melarang umatnya untuk melakukan perbuatan tersebut. seorang tabi’in kecil (al-shughra min at-tâbi’în). Menurut an-Nasâ’i danYahya bin Mu’în. dan beliau tidak berkomentar terhadap riwayat ini. ia adalah tsiqat (terpercaya). Menurut Yahya bin Mu’în. Imam Ahmad dan Imam Malik menjadikan hadits mursal sebagai hujjah. Sedangkan Ayyub. meskipun Rasulullah Saw tidak pernah mengerjakannya. diakui sebagai kitab syarah terbaik dan karya ilmiah yang dijadikan rujukan para ‘ulama fiqh dan hadits. 8. yang menurut Imam Ibnu Hanbal ia adalah shaduq (orang yang sangat terpercaya). Hadits Ummu ‘Athiyyah adalah hadits marfu’ (sambung) hingga Nabi Saw. ia adalah tsiqat tsiqat (lebih dari sekedar terpercaya). namanya kunyahnya adalah Ummu Hudzail. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Hajar telah mengakui keshahihan riwayat ini. Imam Abu Hanifah. Atas dasar itu. jld. Menurut Abu Hatim ar-Razi ia adalah shaduq. hal. Menurut Yahya bin Mu’în ia . jld. Seorang tabi’in tengah (al-wasthiy min at-tâbi’în). bukan berarti mushafahah itu dilarang bagi kaum muslim. Ulama-ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam Syafi’i dan beberapa ulama lainnya. juz 8. Kelompok yang mengharamkan berjabat tangan mengatakan bahwa riwayat Ummu ‘Athiyah ini adalah mursal. Perawi selanjutnya adalah Hafshah binti Sîrîn. 7.pernah mengerjakan perbuatan tersebut. Memang sebagian ulama memasukkan hadits mursal ke dalam hadits yang mardud (tertolak).

atau “Seorang shahabat mengerjakan di hadapan Rasulullah Saw begini…” Sebagian ‘ulama menjadikan hadits mursal sebagai hujjah. hal. Kita semua telah memahami. Sebab. perawi yang dibuang (majhul) adalah shahabat.Imam Syafi’i tidak menolak secara muthlak hadits mursal. akan tetapi selama orang tersebut diketahui dan dikenal sebagai seorang shahabat maka haditsnya bisa diterima dipakai sebagai hujjah. Misalnya. maupun perkataan shahabat kecil yang menuturkan apa yang dikatakan atau dikerjakan oleh Rasulullah Saw tanpa menerangkan dari shahabat mana berita tersebut didapatkannya. hadits mursal adalah perkataan seorang tabi’iy (baik tabi’iy besar maupun kecil). seorang tabi’iy atau shahabat kecil berkata. bahwa hadits mursal tetap bisa digunakan sebagai hujjah. atau “Rasulullah Saw mengerjakan demikian”. Padahal. maka ketsiqahannya tidak diketahui alias majhul. Ulama yang berpendapat bahwa hadits mursal bisa dijadikan sebagai hujjah adalah Imam Abu Hanifah. maka hadits Ummu ‘Athiyyah layak digunakan sebagai hujjah. Imam Syafi’i berpendapat. bila diteliti secara mendalam.1. Sebab. (4) hadits mursal yang dikuatkan oleh hadits mursal yang lain (Manhaj Dzawi an-Nadzar. Ini adalah alasan mereka yang menolak hadits mursal sebagai hujjah. bahwa hadits mursal bisa dijadikan sebagai hujjah asalkan memenuhi syarat: (1) hadits mursal dari Ibnu al- Musayyab. Ini menunjukkan. sesungguhnya tidak ada di dalam hadits mursal. (2) Hadits mursal yang dikuatkan oleh hadits musnad. Oleh karena itu. dan tidak perlu lagi diteliti ketsiqahannya. status hadits yang perawinya tidak diketahui. Tidak ada hujjah bagi perawi yang majhul. Nudzat an-Nadzar. alias tidak majhul. selama diketahui bahwa ia adalah shahabat. ketidakjelasan jati diri shahabat tidak menafikan keadilan dan ketsiqahannya. baik dha’if maupun shahih.adalah tsiqat hujjah (terpercaya yang menjadi hujjah). 48- 53. Akan tetapi. riwayat yang bisa digunakan hujjah adalah riwayat yang perawinya tsiqah dan yakin. Benar. pada umumnya ia tidak meriwayatkan hadits kecuali dari Abu Hurairah ra. Kami menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa hadits mursal bisa digunakan sebagai hujjah. “Rasulullah Saw bersabda demikian…”. Sebab. Sesungguhnya. Sebab. Berhujjah Dengan Hadits Mursal Hadits mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’iy namun tidak menyebutkan shahabatnya. (3) Hadits mursal yang dikuatkan oleh qiyas. Dihilangkannya seorang shahabat dari rangkaian sanad tidaklah menurunkan derajat hadits tersebut. ‘illat yang digunakan untuk menolak hadits mursal. . Sedangkan. maka alasan-alasan yang dikemukakan oleh orang yang menolak berhujjah dengan hadits mursal adalah lemah. Jika kita mengikuti pendapat Imam Syafi’i ini. Sedangkan Imam Syafi’i dan ulama-ulama yang lain menolak berhujjah dengan hadits mursal. Imam Malik dan Imam Ahmad. Meskipun jatidiri shahabat tersebut tidak diketahui. hal. perawi yang dihilangkan adalah para shahabat yang seluruh ulama telah sepakat bahwa seluruh shahabat adalah adil. Ia adalah salah seorang murid dan perawi dari Ummu ‘Athiyyah (shahabiyyah). sebab banyak hadits-hadits shahih yang senada dengan hadits Ummu ‘Athiyyah. 27). Sebab. 8. Ummu ‘Athiyyah adalah seorang shahabat wanita. bahwa seluruh shahabat adalah adil. seluruh shahabat adalah adil. Dengan kata lain.

Tidak boleh hanya karena . bukanlah karena mereka senang berjabat tangan dengan bukan mahram. Kalau tidak khawatir timbul fitnah maka tidak apa-apa berjabat tangan dengan bukan mahram. maka mubahlah hukumnya bagi mereka.” [HR. dewasa ataupun orang yang sudah tua sekalipun. as-Sihab]. al-Jami’ li Ahkâm al-Qur’an. Sebab Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya orang yang mengharamkan sesuatu yang halal sama dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang haram. bahwa hadits mursal memang absah digunakan sebagai hujjah. Karena hukumnya mubah maka dibolehkan bagi kaum muslimin untuk berjabat tangan dengan bukan mahram baik secara langsung ataupun dengan pembatas. Terutama sekali kalau yang berjabat tangan adalah pria dan wanita muda yang sebaya. hadits itu tetap bisa digunakan sebagai hujjah. Sebab kalau itu tidak berguna dan dapat menimbulkan fitnah lebih baik dihindarkan. mengenai kemursalan hadits Ummu ‘Athiyyah. Golongan yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Perlu diingat bahwa sesuatu yang mubah tidak harus selalu dilakukan. sebab sangat mungkin menimbulkan syahwat atau menimbulkan fitnah. Allah SWT akan meminta pertanggung-jawaban atas perbuatannya berdasarkan pendapat yang terkuat yang telah ia ikuti. banyak riwayat yang menyatakan. juga dibolehkan untuk tidak berjabat tangan. 4.Seandainya kita mengikuti komentar al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi. Sebab mereka semua adalah bukan mahram. Tetapi karena mereka tidak berani untuk mengharamkan sesuatu yang secara jelas Allah SWT telah membolehkannya lewat perbuatan RasulNya. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram. maka haramlah hukumnya bagi mereka untuk berjabat tangan dan atau menyentuh dengan tangannya siapapun yang bukan mahramnya. Bagi mereka yang mengikuti pendapat yang mengharamkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan. maka haruslah kita berhati-hati pada saat berjabat tangan. bahwa Rasulullah Saw dan ‘Umar bin Khaththab pernah berjabat tangan dengan wanita (Imam al-Qurthubi. Sebab. Sebab termasuk dosa besar kalau ada orang yang berani mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah SWT atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Qs. remaja. pendapat terkuat menyatakan. baik bukan mahramnya tersebut anak kecil. al- Mumtahanah [60]: 12). Khatimah Dari tarjih kedua pendapat diatas menunjukkan bahwa pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram adalah lemah jika dibandingkan dengan pendapat yang membolehkannya. yang haram untuk berjabat tangan dan bersentuhan dengannya. Selain itu. Misalnya dengan orang-orang yang sudah tua atau dengan anak-anak kecil. Sedangkan bagi mereka yang mengikuti pendapat yang membolehkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan. Walaupun berbeda pendapat kaum muslimin tetap bersaudara. Pendapat yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mensyaratkan harus tanpa syahwat. Karena itu para ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mengingatkan karena antara syahwat dan tidak itu sangat samar.

[Ramadhan] . sesama muslim saling menfitnah dan menjelek-jelekan orang yang berbeda dengan mereka. Yang jelas kita wajib mengikuti pendapat yang terkuat tanpa dicampuri adanya perasaan suka atau tidak suku.perbedaan pendapat yang masih dibolehkan tersebut. Wallahu a’lam bi ash-showab.