You are on page 1of 18

KEPERAWATAN JIWA

“ASUHAN KEPERAWATAN JIWA : KRISIS”

Dosen Pembimbing :
Hayati, S. Kep., M.Kep

Disusun Oleh :
Kelompok 3

1. Awalia Rahmah

2. Devie Amalia Trisna

3. Gokmauli Ratna Sari

4. Harseno Regi

5. Meylia Widya Putri

6. Putri Adijaya Sakti

7. Rizka Diah Fadriani

Tingkat/Kelas : II/B
AKADEMI KEPERAWATAN JAYAKARTA

DINAS KESEHATAN PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan ridhonya
makalah ini bisa diselesaikan dengan tepat waktu yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Jiwa : Krisis”. Meskipun banyak hambatan yang kami alami dalam
proses pengerjaannya, tapi kami berhasil menyelesaikan Makalah ini tepat pada
waktunya.

Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing pada
tugas kali ini Hayati, S. Kep., M. Kep yang telah membantu dan membimbing
kami dalam mengerjakan makalah ini dan juga selaku sebagai dosen koordinator
mata kuliah Keperawatan Jiwa. Agar hasilnya sesuai dengan harapan, dan
tentunya hal-hal yang kami berikan kepada teman-teman dari hasil makalah ini.
Karena itu kami berharap semoga makalah ini dapat menjadi sesuatu yang
berguna bagi kami bersama.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagipembaca pada umumnya.

Jakarta, Februari 2017

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
Latar Belakang................................................................................................1

i
Rumusan Masalah...........................................................................................1
Tujuan Penulisan.............................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3
Definisi Krisis.................................................................................................3
Gambaran Umum Individu yang Mengalami Krisis......................................3
Jenis Krisis......................................................................................................4
Fase Krisis......................................................................................................5
Peran Perawat dalam Keperawatan Jiwa Krisis..............................................6
Tinjauan Proses Keperewatan Jiwa : Krisis....................................................7
BAB III PENUTUP..............................................................................................14
Kesimpulan...................................................................................................14
Saran.............................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA

ii
i
i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Krisis merupakan suatu keadaan dilakukannya intervensi jangka
pendek yang terfokus pada upaya memobilisasi kekuatan-kekuatan dan
sumber-sumber klien untuk mengatasi suatu situasi krisis dan memperbaiki
tingkat penanggulangan, kepercayaan, dan pemecahan masalah. Sedangkan
suatu krisis timbul karena peristiwa atau masalah yang sangat menekan dan
memberikan traumatik bagi klien.
Krisis adalah gangguan internal yang diakibatkan oleh suatu
keadaan yang dapat menimbulkan stress, dan dirasakan sebagai ancaman
bagi individu. Krisis terjadi jika seseorang mengalami hambatan dalam
mencapai tujuan hidup yang penting, dan tidak dapat diatasi dengan
penggunaan metode pemecahan masalah (koping) yang biasa digunakan.
Intervensi krisis merefleksikan sebuah kecenderungan yang
kontemporer terhadap teori-teori singkat, terfokus dan terstruktur berkaitan
dengan permasalahan mendesak dan praktis, yang akan dikritisi untuk
menghindari permasalahan individu jangka panjang dan isu-isu sosial yang
menimbulkan eksklusi sosial.

1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.2.1. Apa definisi dan proses dari Krisis?
1.2.2. Apa saja gambaran umum individu yang mengalami Krisis?
1.2.3. Apa saja jenis Krisis?
1.2.4. Apa saja fase Krisis?
1.2.5. Apa saja peran perawat terkait Krisis?
1.2.6. Apa saja tinjuauan proses keperawatan jiwa : Krisis?

1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut.
1.3.1. Agar mahasiswa mengetahui tentang definisi dari Krisis.
1.3.2. Agar mahasiswa mengetahui tentang gambaran umum individu yang
mengalami Krisis.
1.3.3. Agar mahasiswa mengetahu tentang jenis Krisis.
1.3.4. Agar mahasiswa mengetahui fase Krisis.

1
1.3.5. Agar mahasiswa mengetahui peran perawat terkait Krisis.
1.3.6. Agar mahasiswa mengatahui tinjuauan proses keperawatan jiwa :
Krisis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Krisis
Krisis adalah reaksi berlebihan terhadap situasi yang mengancam saat
kemampuan menyelesaikan masalah yang dimiliki klien dan respons
kopingnya tidak adekuat untuk mempertahankan keseimbangan psikologis.

2
Krisis adalah suatu kondisi dimana individu tak mampu mengatasi
masalah dengan cara (mekanisme koping) yang biasa dipakai. Krisis dapat
terjadi akibat ketidakseimbangan psikologis, yang merupakan hasil dari
peristiwa menegangkan atau mengancam integritas diri. Hal ini merupakan
bagian dari kehidupan yang dapat terjadi dengan bentuk dan penyebab yang
bermacam-macam, dan dapat disebabkan karena factor eksternal maupun
internal. (Asuhan Keperawatan Jiwa, Sujono Riyadi & Teguh Purwanto,
2009).
Krisis adalah gangguan internal yang diakibatkan oleh peristiwa
menegangkan atau ancaman yang dirasakan pada diri individu. Mekanisme
yang biasa digunakan individu sudah tidak efektif lagi untuk mengatasi
ancaman dan individu tersebut mengalami suatu keadan tidak seimbang
disertai peningkatan ansietas (Iyus Yosep, 2013).

2.2. Gambaran Umum Individu yang Mengalami Krisis
Adapun gambaran umum individu yang mengalami Krisis adalah sebagai
berikut :
a. Gejala Fisik :
1) Keluhan somatik (mis., sakit kepala, gastrointestinal, rasa sakit).
2) Gangguan nafsu makan (mis., peningkatan atau penurunan berat
badan yang signifikan).
3) Gangguan tidur (mis., insomnia, mimpi buruk).
4) Gelisah; sering menangis; iritabilitas.
b. Gejala Kognitif :
1) Konfusi sulit berkonsentrasi.
2) Pikiran yang kejar mengejar.
3) Ketidakmampuan mengambil keputusan.

c. Gejala Perilaku :
1) Disorganisasi.
2) Impulsif ledakan kemarahan.
3) Sulit menjalankan tanggung jawab peran yang biasa.
4) Menarik diri dari interaksi sosial

d. Gejala Emosional :

1) Ansietas; marah, merasa bersalah

2) Sedih; depresi

3) Paranoid; curiga

3
4) Putus asa; tidak berdaya

2.3. Jenis Krisis
Adapun jenis Krisis adalah sebagai berikut :
a. Krisis Maturasi
Perkembangan kepribadian merupakan suatu rentang dimana
setiap tahap mempuyai tugas dan masalah yang harus diselesaikan
untuk menuju kematangan pribadi individu. Keberhasilan seseorang
dalam menyelesaikan masalah pada tiap tahap dipengaruhi
kemampuan individu mengatasi stres yang terjadi dalam
kehidupannya.
Krisis maturasi terjadi dalam satu periode transisi masa
perkembangan yang dapat mengganggu perkembangan psikologis,
seperti pada masa pubertas, masa perkawinan , menjadi orang tua ,
menopause, dan usia lanjut. Krisis maturasi memerlukan perubahan
peran yang dipengaruhi oleh peran yang memadai, sumber – sumber
interpersonal, dan tingkat penerimaan orang lain terhadap peran baru.
b. Krisis Situasi
Krisis situasi terjadi apabila keseimbangan psikologis
terganggu akibat dari suatu kejadian yang spesifik, seperti : kehilangan
pekerjaan, kehamilan yang tidak diinginkan atau kehamilan di luar
nikah, penyakit akut, kehilangan orang yang dicintai, serta kegagalan
disekolah.
c. Krisis Malapetaka
Krisis ini disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak
diharapkan serta menyebabkan kehilanganganda dan sejumlah
perubahan dilingkungan seperti: gunung meletus, kebakaran, dan
banjir. Krisis ini tidak dialami oleh setiap orang seperti halnya pada
krisis maturasi.

Menurut Ann Isaacs, 2004 jenis Krisis adapun sebagai berikut :

a. Krisis perkembangan terjadi sebagai respons terhadap transisi dari
satu tahap maturasi ke tahap lain dalam siklus kehidupan (misalnya.,
beranjak dari manja ke dewasa).

4
b. Krisis situasional terjadi sebagai respons terhadap kejadian yang tiba-
tiba dan tidak terduga dalam kehidupan seseorang. Kejadian tersebut
biasanya berkaitan dengan pengalaman kehilangan (misalnya.,
kematian orang yang dicintai).

c. Krisis adventisius terjadi sebagai respons terhadap trauma berat atau
bencana alam. Krisis ini dapat memengaruhi individu, masyarakat,
bahkan negara.

2.4. Fase Krisis
Krisis terjadi melalui empat fase, yaitu sebagai berikut:
a. Fase I : Ansietas meningkat sehngga muncul stimulus individu untuk
menggunakan koping yang biasa dipakai.
b. Fase II : Ansietas lebih meningkat karena koping yang digunakan gagal
c. Fase III : Individu berusaha mencari koping baru, memerlukan bantuan
orang lain.
d. Fase IV : Terjadi ansietas/panik yang menunjukkan adanya disorganisasi
psikologis.

2.5. Peran Perawat dalam Keperawatan Jiwa Krisis
Perawat memberikan layanan langsung pada orang-orang yang
mengalami krisis dan bertindak sebagai anggota tim intervensi krisis. Perawat
di lingkungan rumah sakit akut dan kronik membantu individu dan keluarga
berespons terhadap krisis penyakit yang serius, hospitalisasi, dan kematian.
Perawat di lingkungan masyarakat (mis., kantor, klinik rumah,
sekolah, kantor) memberikan bantuan pada individu dan keluarga yang
mengalami krisis situasional dan perkembangan. Perawat yang bekerja
dengan sekelompok klien tertentu harus mengantisipasi situasi dimana krisis
dapat terjadi.
a. Keperawatan ibu dan anak. Perawat harus mengantisipasi krisis seperti
kelahiran bayi prematur atau lahir mati, keguguran dan lahir abnormal.
b. Keperawatan pediatrik. Perawat harus mengantisipasi krisis seperti awitan
penyakit serius, penyakit kronis atau melemahkan, cedera traumatik, atau
anak menjelang ajal.
c. Keperawatan medikal-bedah. Perawat harus mengantisipasi krisis seperti
diagnosis penyakit serius, penyakit yang melemahkan, hospitalisasi

5
karena penyakit akut atau kronis, kehilangan bagian atau fungsi tubuh,
kematian dan menjelang ajal.
d. Keperawatan gerontologi. Perawat harus mengantisipasi krisis seperti
kehilangan kumulatif, penyakit yang melemahkan, ketergantungan, dan
penempatan di rumah perawatan.
e. Keperawatan darurat. Perawat harus mengantisispasi krisis seperti trauma
fisik, penyakit akut, krisis perkosaan, dan kematian.
f. Keperawatan psikiatri. Perawat harus mengantisipasi krisis seperti
hospitalisasi akibat penyakit jiwa, stressor kehidupan karena sakit jiwa
yang serius, dan bunuh diri.
g. Perawat bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lain untuk membantu
individu mengatasi situasi krisis.

2.6. Tinjauan Proses Keperawatan Jiwa : Krisis
2.6.1. Pengkajian Krisis
Dalam menangani masalah, harus mengingat waktu krisis dan
penyelesaiannya. Waktu tersebut sangat singkat (paling lama 6 minggu), maka
pengkajiannya harus dilaksanakan secara spesifik dan ditekankan pada
masalah yang actual. Beberapa aspek yang harus dikaji adalah :
a. Peristiwa Pencetus, termasuk kebutuhan yang terancam oleh kejadian dan
gejala yang timbul, misalnya :
1) Kehilangan orang yang dicintai, baik karena perpisahan maupun karena
kematian.
2) Kehilangan bio-psiko-sosial, seperti kehilangan salah satu bagian tubuh
karena operasi, penyakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan peran
social, dan lain-lain.
3) Kehilangan milik pribadi, misalnya kehilangan harta benda,
kewarganegaraan, rumah digusur.
4) Ancaman kehilangan, misalnya ada anggota keluarga yang sakit,
perselisihan yang hebat dengan pasangan hidup.
5) Perubahan-perubahan seperti pergantian pekerjaan, pindah rumah, garis
kerja yang berbeda.
6) Ancaman-ancaman lain yang dapat diidentifikasi, termasuk semua
ancaman terhadap pemenuhan kebutuhan.
b. Mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kejadian. Persepsi terhadap
kejadian yang menimbulkan krisis, termasuk pokok-pokok pikiran dan

6
ingatan yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Persepsi tersebut
meliputi :
1) Apa makna / arti kejadian bagi individu
2) Pengaruh kejadian terhadap masa depan.
3) Apakah individu memandang kejadian tersebut secara realistic.
c. Mengidentifikasi sikap dan kekuatan dari system pendukung meliputi
keluarga, sahabat dan orang-orang penting yang mungkin dapat membantu
pasien, seperti :
1) Dengan siapa pasien tinggal ?
2) Apakah punya teman tempat mengeluh / curhat ?
3) Apakah pasien dapat menceritakan masalah yang dihadapi bersama
keluarga?
4) Apakah ada orang / lembaga yang dapat member bantuan ?
5) Apakah punya keterampilan untuk mengganti fungsi orang yang hilang,
dan sebagainya ?
d. Mengidentifikasikan kekuatan dan mekanisme koping sebelumnya :
1) Apa yang biasa dilakukan saat mengatasi masalah ?
2) Cara apa yang pernah berhasil dan tidak berhasil serta apa saja yang
menyebabkan kegagalan tersebut ?
3) Apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah sekarang ?
4) Apakah pasien suka menyendiri atau meninggalkan lingkungan agar
dapat berpikir dengan jernih ?
5) Apakah pasien suka mengikuti latihan olahraga untuk mengurangi
ketegangan ?
6) Apakah pasien mencetuskan perasaannya dengan menangis ?
e. Data yang dikumpulkan berkaitan dengan koping individu tak efektif ialah
sebagai berikut :
1) Mengungkapkan tentang kesulitan dengan stress kehidupan.
2) Perasaan tidak berdaya, kebingungan, putus asa.
3) Perasaan diasingkan oleh lingkungan.
4) Mengungkapkan ketidakmampuan mengatasi masalah atau meminta
bantuan.
5) Mengungkapkan ketidakpastian terhadap pilihan – pilihan.
6) Mengungkapkan kurangnya dukungan dari orang yang berarti.
7) Ketidakmampuan memenuhi peran yang diharapkan.
8) Perasaan khawatir, ansietas.
9) Perubahan dalam partisipasi social.
10) Tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.
11) Tampak pasif, ekspresi wajah tegang.
12) Perhatian menurun.

2.6.2. Masalah Keperawatan Krisis
Adapun masalah keperawatan jiwa Krisis adalah sebagai berikut :

7
a) Gangguan penyesuaian.
b) Ansietas.
c) Koping keluarga inefektif.
d) Koping indivisu inefektif.
e) Perubahan proses keluarga.
f) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan.
g) Perubahan pemeliharaan kesehatan.
h) Deficit pengetahuan.
i) Resiko terhadap perubahan kedekatan orangtua/bayi/anak.
j) Perubahan peran asuh orangtua.
k) Respons pasca trauma.
l) Sindroma trauma perkosaan.
m)Gannguan harga diri: harga diri rendah.
n) Isolasi social.
o) Distress spiritual

2.6.3. Intervensi Krisis
a. Bantuan
Bantuan untuk individu yang mengalami krisi meliputi konseling
melalui telepon, hotlines, dan konseling krisis singkat (1 sampai 6
sesi).
Bantuan untuk kelompok atau komunitas yang mengalami krisis.
1) Tim bantuan krisis
Tim interdisipliner inimemberikan layanan bagi kelompok atau
komunitas yang mengalami kejadian krisis tertentu.
2) Tim bantuan bencana
Tim ini memiliki rencana yang terorganisir untuk membantu
segmen-segmen besar populasi yang terkena bencana alam.

3) Konseling stres akibat krisis
Bantuan ini ditujukan untuk kelompok profesional, seperti
petugas rumah sakit, polisis dan pemadam kebakaran, yang
terlibat dalam situasi krisis.

b. Peran perawat
Perawat memberikan layanan langsung pada orang-orang yang
mengalami krisis da bertindak sebagai anggota tim intervensi krisis
(ANA, 1994).Perawat di lingkungan rumah sakit akut dan kronik
membantu individu dan keluarga berespons terhadap krisis
penyakit yang serius, hospitalisasi, dan kematian.Perawat di
lingkunagn masyarakat (mis., kantor, klinik rumah, sekolah,

8
kantor) memnerikan bantuan pada individu dan keluarga yang
mengalami krisis situasional dan perkembangan.
Perawat yang bekerja dengan sekelompok klien tertentu harus
mengantisipasi situasi dimana krisis dapat terjadi.
1) Keperawatan ibu dan anak. Perawat harus mengantisipasi
krisis seperti kelahiran bayi prematur atau lahir mati,
keguguran dan lahir abnormal.
2) Keperawatanpediatrik. Perawat harus mengantisipasi krisis
seperti awitan penyakit serius, penyakit kronis atau
melemahkan, cedera traumatik, atau anak menjelang ajal.
3) Keperawatanmedikal-bedah. Perawat harus mengantisipasi
krisis seperti diagnosis penyakit serius, penyakit yang
melemahkan, hospitalisasi karena penyakit akut atau kronis,
kehilangan bagian atau fungsi tubuh, kematian dan menjelang
ajal.
4) Keperawatangerontologi. Perawat harus mengantisipasi krisis
seperti kehilangan kumulatif, penyakit yang melemahkan,
ketergantungan, dan penempatan di rumah perawatan.
5) Keperawatan darurat. Perawat harus mengantisispasi krisis
seperti trauma fisik, penyakit akut, krisis perkosaan, dan
kematian.
6) Keperawatan psikiatri. Perawat harus mengantisipasi krisis
seperti hospitalisasi akibat penyakit jiwa, stressor kehidupan
karena sakit jiwa yang serius, dan bunuh diri.
Perawat bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lain untuk
membantu individu mengatasi situasi krisis.

2.6.4. Teknik Intervensi Krisis
Beberapa teknik intervensi krisis yang dapat dilakukan oleh
perawat adalah:
a. Ventilasi (mengungkapkan perasaan)
Ventilasi perasaan yang dilakukan secara verbal saat
klien menceritakan kembali tentang hal yang membangkitkan
emosi.
Mengizinkan klien untuk menangis dengan melihat
segi positif dari pelepasan emosi. Mengajukan pertanyaan
terbuka untuk mendorong klien mengungkapkan

9
perasaannya, misal: Ceritakan kepada saya perasaan anda
sejak anda kehilangan pekerjaan
b. Klarifikasi
Membantu klien mengungkapkan perasaanya akan
memperjelas hubungan dengan kejadian yang terjadi dalam
hidupnya. Misalnya : Saya perhatikan bahwa setelah anda
berdebat dengan suami, anda menjadi sakit dan tidak dapat
turun dari tempat tidur, apakah memang demikian,
c. Saran
Suatu proses untuk mempengaruhi orang lain agar mau
menerima idi-ide atau keyakinan/ kepercayaan bahwa
perawat dapat membantu mereka untuk memecahkan
masalahnya. Misalnya : Banyak orang lain menenemukan,
bicara dengan orang lain sangat menolong mengatasi
masalahnya, dan saya pikir andapun bisa.
d. Manipulasi
Memanfaatkan emosi, keinginan serta nilai-nilai klien
untuk proses terapi. Misalnya : Tampaknya anda berhasil
dalam pernikahan anda, dan saya piker anda dapat
menghatasi masalah ini serta mempunyai hubungan yang
lebih erat lagi
e. Menguatkan perilaku
Memberikan klien respons yang positif terhadp
perilaku adaptif. Misalnya : Itu adalah pertama kalinya anda
sanggup membela diri di hadapan atasan anda dan hal
tersebut terjadi dengan baik. Saya sangat senang anda dapat
melakukannya.
f. Dukungan terhadap mekanisme pertahanan klien
Mendukung penggunaan mekanisme pertahanan yang
adaptif yang memberinya kepuasan serta tidak mendukung
mekanisme pertahanannya yang maladaptive. Misalnya : Bila
anda merasa sangat merah/kesal dengan mengendarai sepeda
biasanya dapat mengurangi rasa marah sehingga bila kembali
ke rumah anda dapat menyelesaikan masalah dengan istri
anda dengan tenang

10
2.6.5. Implementasi Krisis
Adapun Impelemtasi Krisis adalah sebagai berikut :
a. Bentuk hubungan dengan mendengarkan secara aktif dan
menggunakan respon empati.
b. Anjurkan klien untuk mendiskusikan situasi krisis dengan
jelas, dan bantu kien mengutarakan pikiran dan perasaannya.
c. Dukung kelebihan klien dan penggunaan tindakan koping.
d. Gunakan pendekatan pemecahan masalah.
e. Lakukan intervensi untuk mencegah rencana menyakiti diri
sendiri atau bunuh diri :
1) Kenali tanda-tanda bahaya akan adanya kekerasan terhadap
diri sendiri. (mis ; klien secara langsung mengatakan akan
melakukan bunuh diri, menyatakan secara tidak langsung
bahwa ia merasa kalau orang lain akan lebih baik jika ia
tidak ada, atau adanya tanda-tanda depresi).
2) Lakukan pengkajian tentang kemungkinan bunuh diri.
3) singkirkan semua benda yang membahayakan dari tempat
atau sekitar klien.
4) Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan jiwa untuk
menentukan apakah hospitalisasi perlu dilakukan atau tidak.

2.6.6. Evaluasi Krisis
Ann Isaacs, 2004 menyatakan Evaluasi Krisis adapun sebagai
berikut :
a. Perawat menggunakan kriteria hasil yang spesifik dalam
menentukan efektifitas implementasi keperawatan.
b. Keselamatan klien, keluarga, dan masyarakat dapat
dipertahankan sebagai hasil dari intervensi yang adekuat
terhadap ekspresi perilaku yang tidak terkendali.
c. Klien mengidentifikasi hubungan antara stresor dengan
gejalayang dialami selama krisis.
d. Klien mengevaluasi solusi yang mungkin dilakukan untuk
mengatasi krisis.
e. Klien memilih berbagai pilihan solusi.
f. Klien kembali ke keadaan sebelum krisis atau
memperbaikisituasi atau perilaku.

11
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Krisis merupakan suatu keadaan dilakukannya intervensi jangka
pendek yang terfokus pada upaya memobilisasi kekuatan-kekuatan dan
sumber-sumber klien untuk mengatasi suatu situasi krisis dan memperbaiki
tingkat penanggulangan, kepercayaan, dan pemecahan masalah.
Peran perawat dalam keperawatan jiwa krisis adapun perawat
memberikan layanan langsung pada orang-orang yang mengalami krisis dan
bertindak sebagai anggota tim intervensi krisis. Perawat di lingkungan
rumah sakit akut dan kronik membantu individu dan keluarga berespons
terhadap krisis penyakit yang serius, hospitalisasi, dan kematian.
Perawat di lingkungan masyarakat (mis., kantor, klinik rumah,
sekolah, kantor) memberikan bantuan pada individu dan keluarga yang
mengalami krisis situasional dan perkembangan. Perawat yang bekerja
dengan sekelompok klien tertentu harus mengantisipasi situasi dimana krisis
dapat terjadi.

3.2. Saran
Makalah ini disusun sebagai tambahanreferensi bagi mahasiswa
bidang kesehatan dan tenaga kesehatan lainya, mitra terkait dan siapa saja
yang berminat. Kekurangan yang ada dalam makalah selalu disempurnakan
melalui tekat dan semangat para pemakai yang merupakan modal utama
dalam menyempurnakan makalah pada penyusunan mendatang.

12
DAFTAR PUSTAKA

Isaacs, Ann. 2004. Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik
Edisi 3. Jakarta: EGC.

Neil. 2000. Psikologi Kesehatan. Jakarta : EGC
Willy F. Maramis. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga
University Perss

13