You are on page 1of 8

2.

1 Pengertian
Strabismus atau mata juling adalah suatu kondisi dimana kedua matatampak tidak
searah atau memandang pada dua titik yang berbeda.
Dalam keadaan normal, kedua mata kita bekerja sama dalam memandang suatu
obyek. Otak akan memadukan kedua gambar yang dilihat oleh kedua mata tersebut menjadi
satu gambaran tiga dimensi yang memberikan persepsi jarak, ukuran dan kedalaman (depth
perception).
Ada beberapa jenis strabismus yang bisa kita amati langsung dengan meminta pasien
memandang lurus ke depan.

Ketika satu mata memandanglurus ke depan maka mata

sebelahnya dapat saja memandang ke dalam (esotropia),


Ketika satu mata memandang lurus ke depan maka mata sebelahnya dapat saja memandangke
luar (exotropia),
Ketika satu mata memandang lurus ke depan maka mata sebelahnya dapat saja memandangke
bawah (hipotropia), atau
Ketika satu mata memandang lurus ke depan maka mata sebelahnya dapat saja memandangke
atas (hipertropia).
Ini terjadi sekitar 2% pada anak-anak baik laki-lakimaupun perempuan.
Ketika kedua mata memandang tidak searah maka akan ada duagambar yang dikirim
ke otak. Pada orang dewasa hal ini menyebabkantimbulnya penglihatan ganda. Pada anak
kecil, otak belajar untuk tidakmenghiraukan gambaran dari mata yang tidak searah dan
hanyamelihat dengan menggunakan mata yang normal. Anak kemudiankehilangan persepsi
jarak, ukuran dan kedalaman.
Bayi dengan strabismus yang berusia enam bulan atau lebih harusdibawa ke dokter
spesialis mata anak-anak/pediatrik untuk menghindari resiko terjadinya ambliopia
(menurunnya fungsi penglihatan pada satu atau kedua mata).
Keadaan ini bisa menetap (selalu tampak) atau dapat pula hilang timbul. Mata yang
tampak juling dapat terlihat lurus dan yang tadinya tampak lurus dapat terlihat juling. Juling
dapat mengenai pria dan wanita.

2.2 Jenis-jenis Strabimus


A. Esotropia
Esotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata dimna salah satu
sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu penglihatan lainnya menyimpang
pada bidang horizontal ke arah medial.
Bentuk-bentuk esotropia:
Esotropia konkomitan, yaitu bila sudut penyimpangan sama besarnya pada semua arah
pandangan.
Esotropia nonkomitan, yaitu bila besarnya sudut penyimpangan berbeda-beda pada arah
pandangan yang berbeda-beda pula.
Penyebab eotropia:
Faktor refleks dekat
Hipertoni rektus medius kongenital
Hipotoni rektus lateral akuisita
Penurunan fungsi penglihatan satu mata pada bayi dan anak.

B. Exotropia (Eksotropia)
Eksotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata dimana salah
satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu penglihatan yang lainnya
menyimpang pada bidang horizontal ke arah lateral.
Bentuk-bentuk eksotropia:
Eksotropia konkomitan: yaitu bila sudut penyimpangan sama besarnya pada semua arah
pandangan
Eksotropia nonkomitan: yaitu bila besarnya sudut penyimpangan berbeda-beda pada arah
pandangan yang berbeda-beda.
Untuk selanjutnya yang dimaksud dengan eksotropia adalah hanya yang konkomitan.
Penyebab-penyebab eksotropia:
Herediter, unsur herediter sangat besar, yaitu trait autosomal dominant
Optis, tak ada hubungan dengan kelainan terhadap kehilangn penglihatan binokuler
Inervasi, tetapi tidak terdapat abnormalitas yang berarti dalam bidang sensorimotor
Anatomi, kelainan untuk rongga orbita misalnya pada penyakit Crouzon.
C. Hipotropia
Hipotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata dimana salah satu
sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu penglihatan yang lainnya
menyimpang pada bidang vertikal ke arah inferior (bawah).

D. Hipertropia
Hipertropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata dimana salah satu
sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu penglihatan yang lainnya
menyimpang pada bidang vertikal ke arah superior (atas).

2.3 Etiologi
Strabismus dapat disebabkan oleh ketidak-seimbangan tarikan ototyang
mengendalikan pergerakan mata, kelumpuhan otot, gangguan persyarafan atau kelainan
refraksi yang tidak dikoreksi. Anak-anak yang dilahirkan dari keluarga yang mempunyai
riwayatstrabismus dalam keluarganya beresiko tinggi menderita strabismus juga.
Seorang dokter spesialis mata anak/pediatrik dapat menentukan sifat strabismus
tersebut dan dapat merekomendasikan penanganan yang terbaik.

2.4 Tanda
Sebuah tanda nyata adanya strabismus adalah sebelah mata tidak lurusatau tidak
terlihat memandang ke arah yang sama seperti mata sebelahnya. Kadang-kadang anak-anak
akan memicingkan/menutupsebelah matanya saat terkena sinar matahari yang terang atau
memiringkankepala mereka agar dapat menggunakan kedua matanya sekaligus.Anak-anak
yang menderita strabismus sejak lahir atau segera sesudahnya,tidak banyak mengeluhkan
adanya pandangan ganda. Tetapi anak-anakyang mengeluhkan adanya pandangan ganda
harus diperiksadokter spesialis mata anak dengan seksama. Semua anak seharusnya diperiksa
oleh dokter spesialis mata anak sejak dini terutama bila dalamkeluarganya ada yang
menderita strabismus atau ambliopia.
Bayi dan anak kecil seringkali terlihat juling. Hal ini dapat disebabkan oleh bentuk
hidung yang lebar dan rata dengan lipatan kulit kelopak mata yang lebar sehingga membuat
mata seakan terlihat tidak searah.Gejala strabismus semu ini akan hilang pada aat anak
semakin besar.
Seorang dokter spesialis mata anak dapat menjelaskan perbedaanstrabismus semu dan
strabismus yang sebenarnya.

2.5 Patofisiologi
Gangguan tersebut dapat dibedakan dalam gangguan yang bersifat organik dan
bersifat fungsional.
Gangguan organik adalah timbulnya kelainan susunan jaringan yang mengakibatkan
gangguan penglihatan, sedangkan gangguan fungsional penglihatan adalah gangguan dalam
penglihatan yang tidak disebabkan karena kelainaan organik.
Gangguan fungsional yang timbul dalam masa perkembangan disebut sebagai
Developmental Arrest dapat timbul karena hal-hal di bawah ini :
A. Anisometropia
Apabila seseorang berbeda derajat hipermetropinya sebanyak dua dioptri atau lebih,
maka secara sadar atau tidak ia akan memakai mata dengan derajat hipermetropia yang lebih
ringan untuk penglihatan jauh maupun dekat, karena jumlah enersi untuk akomodasi yang
diperlukan untuk melihat jelas adalah lebih ringan. Denga jumlah akomodasi ini mata dengan
hipermetropi yang lebih berat tidak pernah melihat dengan jelas, baik untuk penglihatan
dekat maupun jauh. Bila keadaan ini terjadi secara dini dalam masa perkembangan
penglihatan dan di biarkan sampai anak berumu lebih dari lima tahun maka kemajuan melihat
dari mata dengan hipermetropia yang lebih tidaklah sebaik di banding mata lainnya.
Kelemahan penglihatan yang tidak di dasarkan pada adanya kelainan organik disebut
ambilopia.
Perbedaan kekuatan miopia antara mata satu dan lainnya pada umumnya tidak
mengakibatkan timbulnya ambliopia yang mencolok, disebabkan oleh kerena mata dengan
miopia yang lebih berat sifatnya masih dapat melihat berbeda-beda secara jelas untuk dekat
tanpa akomodasi, lagi pula kelainan miopia umumnya bersifat progresif dan umumnya belum
terdapat secara menyolok pada usia sangat muda.
B. Aniseikonia
Apabila kita melihat ke suatu benda yang berjarak antara satu dan dua meter
dihadapan kita, kemudian menutup satu mata berganti, maka kita akan mengetahui bahwa
terdapat perbedaan bentuk, tempat maupun besarnya benda yang kita perhatikan. Perbedaan
penglihatan antara mata kanan dan kiri tersebut dikenal dengan nama penglihataan diantara
dua mata kita. Disparitas yang ringan memang diperlukan untuk kemampuan penglihatan
stereoskopik.
Disparitas penglihatan yang terlalu besar, seperti contohnya seorang dengan afaki
monokular yang dikoreksi dengan kaca mata, mengakibatkan kesulitan bagi sistem saraf
pusat untuk menyatukan (memfusikan) menjadi satu bayangan tunggal dan benda-benda yang
dilihat akan tampak ganda. Disparitas penglihatan yang menimbulkan gangguan berupa
penglihatan ganda atau diplopia disebut aniseikonia. Seseorang yang menderita diplopi sudah
barang tentu akan menjadi binggung seperti seorang yang baru belajar menggunakan
mikroskop monokular, secara sadar ataupun tidak akan menutup salah satu matanya agar
penglihatan menjadi tunggal kembali. Lama kelamaan orang tersebut akan belajar mengelimi
nasi bayangan salah satu matanya dan disebut sebagai image supression dan dalam buku ini
akan disebut sebagai supresi. Supresi dapat dilakukan secara sadar pada ke dua mata berganti
ganti menjadi dan disebut Alternating Suppression, tapi dapat pula terjadi secara terus
menerus pada mata yang sama dan memilih menggunakan mata lainnya untuk penglihatan.
Dalam hal ini maka mata yang dipakai untuk penglihataan sehari-hari disebut sebagai mata
yang dominan sedang mata yang mengalami supresi sebagai mata malas (lazy eye). Mata
malas dalam keadaan sehari-hari tidak dipakai melihat, maka pada umumnya mata ini
mengalami kemunduran-kemunduran fungsional dan menjadi ambliopia bahkan kadang-
kadang mengalami deviasi sumbu penglihatan dan menjadi juling.
Penglihatan ganda atau diplopia dapat pula disebabkan karena kelainan orbita atau
menderita kelumpuhan otot pergerakan mata.
Dalam hal ini penglihatan ganda terjadi karena arah penglihatan mata yang satu
berbeda dari mata yang lainnya.

C. Gangguan Faal Otot Penggerak Bola Mata


Kedua bola mata digerakkan oleh otot-otot mata luar sedemikian rupa sehingga
bayangan benda yang menjadi perhatian akan selalu jatuh tepat di kedua fovea sentralis. Otot
penggerak kedua bola mata, yang berjumlah dua belas akan selalu bergerak secara teratur;
gerakan otot yang satu akan mendapatkan keseimbangan gerak dari otot-otot lainnya.
Keseimbangan yang ideal seluruh otot penggerak bola mata ini menyebabkan kita dapat
selalu melihat secara binokular.
Apabila terdapat satu atau lebih otot penggerak bola mata yang tidak dapat
mengimbangi gerak otot-otot lainnya,maka terjadilah gangguan keseimbangan gerak antara
kedua mata, sehingga sumbu penglihatan menyilang pada tempat diluar letak benda yang
menjadi perhatiannya dan disebut juling (crossed Eyes). Gangguan keseimbangan gerak
bola mata (muscle imbalance) bisa disebabkan oleh hal-hal berikut :
Pertama apabila aktivitas dan tonus satu atau lebih otot penggerak menjadi berlebihan; dalam
hal ini otot bersangkutan akan menarik bola mata dari kedudukan normal. Apabila otot yang
hiperaktiv adalah otot yang berfungsi untuk kovergensi terjadilah juling yang konvergen
(esotropia).
Kedua, adalah kebalikan dari pertama, apabila satu atau lebih dari otot penggerak bola mata
aktivitas atau tonusnya menjadi melemah atau paretik. Bila hal ini terjadi pada otot yang
dipakai untuk konvergensi, maka terjadilah juling divergen (ekstropia).
Dapatlah dimengerti bahwa ada dua keadaan tersebut di atas, besarnya sudut deviasi
adalah berubah-ubah tergantung pada arah penglihatan penderitaan. Keadaan juling seperti itu
disebut sebagai gangguan keseimbangan gerak yang inkomitat. Sebagai contoh adalah suatu
kelumpuhan otot rektus lateral mata kanan, maka besar sudut deviasi adalah kecil bila
penderita melihat kearah kiri dan membesar bila arah pandang ke kanan.
Gangguan keseimbangan gerak bola mata dapat pula terjadi karena suatu kelainan
yang bersifat sentral berupa kelainan stimulus pada otot.
Stimulus sentral untuk konvergensi bisa berlebihan sehingga akan didapatkan seorang
penderita kedudukan bola matanya normal pada penglihatan jauh (divergensi) tetapi menjadi
juling konvergen pada waktu melihat dekat (konvergensi); demikian kita kenali :
Convergence excess bila kedudukan bola mata penderita normal melihat jauh dan juling ke
dalam esotopia pada waktu melihat dekat.
Divergence excess (aksi lebih konvergensi) bila kontraksi otot penggerak bola mata penderita
normal pada penglihatan dekat, tetapi juling keluar (divergent squint) bila melihat jauh.
Convergence insuffiency bila kedudukan bola mata normal pada pennglihatan jauh tapi juling
keluar pada waktu melihat dekat.
Divergence insuffiency bila penderita mempunyai kedudukan bola mata yang normal untuk
dekat tetapi juling ke dalam bila melihat jauh.

D. Gerak Bola Mata


Gangguan yang mendadak pada salah satu otot luar bola mata biasanya akan
menimbulkan keluhan diplopia. Diplopia ini bisa pada semua posisi bola mata akan tetapi
dapat juga hanya pada posisi tertentu sehingga penderita selalu berusaha melihat sedemikian
rupa dimana tidak terdapat diplopia. Sebaliknya tidak terdapatnya diplopia bukan berarti
tidak adanya gangguan pergerakan bola mata. Sehingga pemeriksaan pergerakan bola mata
haruslah dilakukan pada semua penderita baik dengan diplopia atau tanpa keluhan diplopia.
Kedudukan bola mata
Kedudukan bola mata yang normal adalah sejajar (ortoforia) dan dapat diperiksa dengan
berbagai cara seperti cover test, uji Hirschberg dan lain-lain. Pada keadaan dimana
kedudukan bola mata tidak sejajar (heteroforia seperti pada eksoforia, esoforia atau
hiperforia), maka haruslah diselidiki apakah ini disebabkan suatu parese, dorongan atau
hambatan mekanik atau strabismus non paretik.
Pergerakan dua mata (versi)
Pergerakan dua mata diperiksa dengan cara meminta penderita mengikuti gerakan suatu
obyek yang dipegang oleh pemeriksa yang digerakkan ke arah yanng diinginkan biasanya
pemeriksaan dilakukan pada 6 arah utama.
Pada keadaan strabismus (heteroforia) maka pemeriksaan dilakukan pada masing-masing
mata.
Pergerakan satu mata (Duksi)
Pada pemeriksaan ini satu mata penderita ditutup dan mata lainnya diminta untuk mengikuti
gerakan obyek yag dipegang pemeriksaan seperti pada pemeriksaan versi.

E. Foria dan Tropia


Kelainan kedudukan bola mata dibagi dalam kedudukan yang bersifat laten dan yang
manifes. Kelainan kedudukan laten disebut sebagai Foria sedang manifes disebut sebagai
Tropia, sedang keadaan normal disebut sebagai ortoforia.
Tergantung arah deviasinya kelainan kedudukan bola mata disebut esoforia/tropia
apabila deviasi axis penglihatan berdeviasi ke arah superior maka disebut sebagai
hipertrofia/tropia dan bila ke arahinverior maka disebut sebagai hipovoria/tropia. Bila
salah satu mata terletak lebih tinggi dari lainnya disebut sebagai hipertropia dan dinyatakan
mata mana yang terletak lebih tinggi.

2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terhadap penderita dengan juling bertujuan untuk mengembalikan
penglihatan binokular yang normal, hingga penatalaksanaan terhadap juling ditujukan pada
pemenuhan persyaratan untuk mencapai penglihatan binokular tersebut diatas; dengan kata
lain secara bertahap memperbaiki visus kedua matanya, kemudian memperbaiki posisi kedua
mata hingga mencapai kedudukan ortoforia dan berakhir melatih penderita menyatukan
kedua bayangan dari kedua matanya.
Usaha memperbaiki visus dimulai pada umur yang sedini mungkin, semenjak saat
terlihat bahwa anak mempunyai keinginan memilih untuk menggunakan hanya satu matanya,
dengan cara menutup mata yang baik atau memberikan tetes mata atropin.
Apabila pada keadaan tersebut diatas mata yang baik ditutup atau diberi obat tetes
atropi, maka anak akan terpaksa memakai mata yang malas dan pada anak yang berumur di
bawah enam tahun, akan diperbaiki kemampuan penglihatannya. Penutupan mata atau
penetesan atropi dihentikan bila tercapai penglihatan binokular tunggal.
Perbaikan kedudukan bola mata dilakuan pada umur dimana pemeriksaan mengenai
otot-otot mtanya sudah dapat dilakukan dengan lebih teliti, karena pemeriksaan tersebut
memerlikan kerjasama yang baik antara si anak dengan dokternya.
Perbaikan kedudukan bola mata dilakukan dengan melemahkan otot yang bekerja
terlalu kuat dan memperkuat otot yang lebih lemah. Perbaikan kedudukan bola mata ini
dilakukan sebaiknya pada umur sekitar 4-5 tahun agar juling yang masih belum terkoreksi
oleh pembedahan masih bisa diperbaiki dengan pemberian latihan-latihan menggunakan
kedua matanya secara bersamaan.
Kaca Mata
Jika strabismus disebabkan oleh kelainan refraksi, menggunakan kaca mata untuk
menormalkan penglihatan dapat memperbaiki posisi mata.
Penutup Mata
Jika anak menderita strabismus dengan ambliopia, dokter akan merekomendasikan
untuk melatih mata yang lemah dengan cara menutup mata yang normal dengan plester mata
khusus (eye patch). Penggunaan plester mata harus dilakukan sedini mungkin dan mengikuti
petunjuk dokter. Sesudah berusia 8 tahun biasanya dianggap terlambat karena penglihatan
yang terbaik berkembang sebelum usia 8 tahun. Anak akan memerlukan kunjungan ke dokter
spesialis mata secara berkala untuk mengetahui apakah penglihatan binokuler-nya sudah
terbentuk seutuhnya. Penutup mata tidak meluruskan mata secara kosmetik.
Operasi
Operasi otot yang mengontrol pergerakan mata sering dilakukan agar mata kelihatan
lurus. Kadang-kadang sebelum tindakan operasi, anak diberi kaca mata atau penutup mata
untuk mendapatkan penglihatan yang terbaik. Anak akan memerlukan kunjungan ke dokter
spesialis mata sesudah operasi untuk mengetahui perkembangan dan melanjutkan perawatan.
Kadangkala untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna diperlukan lebih dari satu kali
tindakan operasi.