You are on page 1of 19

[JAP.

2014;2(1): RTIKEL PENELITIAN

Jurnal Anestesi Perioperatif
A
63–

Ketamin Kumur untuk Mengurangi Sore Throat
Pascaintubasi
M. Dwi Satriyanto,1 Husi Husaeni,2 A. Himendra
Wargahadibrata2
1
EKA Hospital Pekanbaru, 2Departemen Anestesiologi dan
Terapi Intensif
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan
Sadikin Bandung

Abstra
k

Tindakan intubasi merupakan salah satu penyebab trauma mukosa jalan napas tersering
yang mengakibatkan nyeri tenggorok pascaintubasi atau post operative sore throat
(POST), telah dilaporkan insidensi ini sekitar 6–50% setelah tindakan anestesi umum
endotrakeal. Salah satu cara pencegahan POST adalah dengan menggunakan ketamin
kumur sebelum induksi, karena ketamin mempunyai kemampuan sebagai antinosisepsi
dan antiinflamasi. Limapuluh pasien dengan ASA I-II, yang telah dilakukan tindakan
operasi elektif kasus ginekologi dengan anestesi umum endotrakeal, yang dilakukan
penelitian secara prospektif dengan melakukan uji klinis rancangan acak lengkap
terkontrol buta ganda (double blind randomized controlled trial) di Central Operating
Theatre (COT) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada April–Juli 2009. Pasien secara
ancak dibagi menjadi dua kelompok dengan 25 subjek tiap kelompok, kelompok I,
diberikan ketamin 0,5 mg/kgBB dalam NaCl 0,9% 30 mL; kelompok II, NaCl 0,9%
sebanyak
30 mL. Pasien diminta untuk berkumur dengan cairan ini selama 30 detik, 5 menit
sebelum induksi. POST dinilai pada jam T0, T2, T4, dan T24 setelah operasi dengan 4
skala (0–3). Kejadian POST lebih sering terjadi pada kelompok II dibandingkan dengan
kelompok I pada T0, T2 dan T4 dan kelompok II secara signifkan lebih berat menderita
POST dibandingkan dengan kelompok I (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah ketamin
kumur mengurangi kejadian dan derajat POST.

Kata kunci: Intubasi, ketamin kumur, post operative sore
throat (POST)

Ketamine Gargle to Reducing Post Operative Sore
Throat (POST) Following Intubation

Abstra
ct

Tracheal intubation is a foremost cause of trauma to the airway mucosa, resulting in post
operative sore throat (POST) with reported incidences of 6–50%. We compared the
effectiveness of ketamine gargles compared to placebo in preventing POST after
endotracheal general anesthesia. One of the POST preventions by using ketamine gargle
before induction, because ketamine has anti-nociceptive and anti-inflamatory properties
Fifty, ASA I–II, patients undergoing elective surgery for gynecologic under general
anaesthesia endotracheal were enrolled in a double blind randomized controlled trial
study at Central Operating Theatre (COT) Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during
April–June 2009. Patients were randomly allocated into two groups of 25 subjects each:
Group I, receiving ketamine 0.5 mg/kgBW in saline 30 mL; Group II, receiving saline 30
mL. Patients were asked to gargle this mixture for 30 seconds, 5 minutes before induction
of anaesthesia. POST was graded at 0, 2, 4, and 24 h after operation on a four-point scale
(0–3). POST occurred more frequently in Group II, when compared with Group I, at 0, 2,
and 4 h and signifcantly more patients suffered POST in Group II compared with Group I

0761-698 9999. The conclusions of this study revealed that ketamine gargles reduces the incidence and degree of POST. SpAn-KNA. Email dwi. Soekarno Hatta Km.5.satriyanto@gmail. Telp.(p<0. dr. M.com 63 ..05). 6.Kes. post operative sore throat (POST) Korespondensi: M. Pekanbaru 28294. ketamine gargle. Key words: Intubation. Mobile 081220622878. Jl. EKA Hospital Pekanbaru. Dwi Satriyanto.

laring. Kehilangan mukosa saluran napas atas serta laring pada keadaan lanjut akan mengakibatkan reaksi granulasi jaringan yang berlebihan serta menimbulkan granuloma. pemberian pelicin jeli yang larut dalam air/water-soluble pada balon pipa endotrakeal. insidensi POST lebih sering terjadi pada wanita (17%) dibandingkan dengan pria (9%).1–5 Kejadian POST sebagai akibat pemasangan pipa endotrakeal dari tahun ke tahun terus meningkat hingga mencapai 50%. memasukkan pipa endotrakeal dengan hati-hati. mengurangi tingginya tekanan balon pipa Nyeri tenggorok pascaoperasi/post endotrakeal. pipa endotrakeal kurang dari 30 Komplikasi POST terjadi karena iritasi mmHg selama anetesi umum akibat serta inflamasi lokal akibat trauma penambahan volume balon pipa saat laringoskopi dan pemasangan endotrakeal pipa endotrakeal di daerah faring. namun dapat memberikan kontribusi terhadap angka morbiditas pascaoperasi dan tingkat kepuasan pasien.1 Beberapa tindakan nonfarmakologi yang dapat dilakukan adalah menggunakan ukuran pipa endotrakeal yang lebih kecil. dan juga merupakan salah satu kejadian efek samping yang sering dikeluhkan pasien pada periode pascaoperasi. pada keadaan ini keluhan ataupun gejala klinis akan berlangsung lebih lama. JAP.64 Jurnal Anestesi Perioperatif Pendahulu pengisapan di daerah orofaring an dengan hati-hati. Tindakan yang juga dapat dilakukan khususnya pada pasien yang dilakukan adalah dengan mengurangi dan juga intubasi dengan endotracheal tube mempertahankan tekanan pada balon (ETT) atau pipa endotrakeal. Volume 2 Nomor 1. April 2014 . melakukan tindakan intubasi setelah pasien benar-benar relaks. serta trakea. Untuk menurunkan angka kejadian POST ini telah dilakukan beberapa jenis penelitian. serta melakukan operative sore throat (POST) ekstubasi setelah balon pipa merupakan suatu keadaan yang masih endotrakeal benar-benar sudah sering dikeluhkan pada pasien yang kempis.2–4 Kejadian POST merupakan komplikasi anestesi kategori ringan. baik nonfarmakologi maupun farmakologi dengan hasil yang berbeda-beda.1–6 telah menjalani anestesia umum.

inflamasi juga bekerja dengan cara menekan endotoksin sehingga menghambat ekspresi/ aktivasi nuclear factor-kappa B (NFκB).7. penggunaan sistem Anesthesiologist (ASA) I–II.9–13 Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pemberian antagonis reseptor NMDA selain berperanan sebagai antinosisepsi juga dapat bersifat sebagai antiinflamasi. Reseptor NMDA tidak hanya terdapat di susunan saraf pusat tetapi juga di saraf tepi. dan kumur-kumur menggunakan jenis antagonis reseptor N-methyl D-aspartate (NMDA) seperti ketamin. Ketamin sebagai anti. yaitu status bahan pada balon pipa endotrakeal fsik American Society of (soft-seal cufTM).3. Subjek dan Metode Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan memakai uji klinis rancangan acak lengkap terkontrol buta ganda (double blind randomized controlled trial).14–17 Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas penggunaan ketamin kumur dalam mengurangi post operative sore throat setelah operasi ginekologis dengan tindakan anestesi umum dengan intubasi endotrakeal. berusia 17– tube brantTM atau meninggalkan 60 tahun. April 2014 . pasien dengan kriteria syringe untuk pengisian udara awal Malampati I tanpa kesulitan intubasi. Ketamin Kumur Mengurangi Sore Throat 65 akibat dari penggunaan gas nitrous untuk operasi kasus ginekologis di Pascaintubasi oxide (N O).8 Tindakan farmakologi yang dapat dilakukan adalah memberikan inhalasi beklometason. steroid topikal. Hasan Sadikin mukosa trakea. tindakan berguna untuk Central Operating Theatre (COT) mencegah gangguan perfusi kapiler Rumah Sakit Dr. Pemilihan sampel dilakukan pada pasien yang dilakukan tindakan operasi elektif JAP. dengan demikian tidak terjadi transkripsi produksi mediator inflamasi sitokin dan menghambat pembentukan lipopolisakarida (LPS).1. Volume 2 Nomor 1. kumur- kumur dengan azulen sulfonat atau non-steroid anti-inflammatory drug (NSAID) seperti aspirin dan benzidamin hidroklorida. balon pipa endotrakeal di pilot balon.6 Tindakan ini juga Bandung pada April– Juli 2009 dan 2 dapat dilakukan dengan penggantian memenuhi kriteria inklusi.

anestesi operasi lebih dari dipertahankan dengan oksigen 50% di 120 menit.9% sampai 30 mL. kemudian dilakukan train of four (TOF).9%). 5 menit kemudian menderita nyeri tenggorok pada dilakukan tindakan anestesi sesuai preoperatif. pernapasan mmHg. alergi obat.Kriteria eksklusi. Saat di kamar operasi. Setelah mendapat persetujuan Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Kriteria pengeluaran. Hasan Sadikin Bandung. yaitu kelompok I (ketamin) dan kelompok II (NaCl 0.9% 30 mL.0 for windows. Kelompok II diberikan Nacl 0. sedangkan untuk membandingkan perbedaan proporsi keluhan antara 2 (dua) kelompok digunakan uji chi- kuadrat. dilakukan randomisasi menggunakan tabel bilangan random. dikontrol memakai volume tidal Analisis statistika untuk membandingkan perbedaan median skala nyeri dua kelompok mempergunakan Uji Mann Whitney. yaitu pasien yang selama 30 detik. Pasien berkumur dengan cairan yang telah disiapkan . hipotensi. Setelah TOF nol dilakukan digunakan dalam penelitian. lalu dipasang alat pemantauan dan juga dicatat data-data awal pasien. pasien dibaringkan terlentang. Pasien dipasang kateter intravena dengan jarum 18G dan diberi cairan kristaloid sebagai pengganti puasa. kortikosteroid.obatan yang standar. Selama tindakan pembedahan yaitu pasien yang dilakukan tindakan berlangsung tidak dipasang intubasi lebih dari satu kali. durasi oropharingeal airway. lalu sampel dibagi menjadi 2 (dua) kelompok.5 mg/ kgBB ditambahkan NaCl 0.5 mm. Kemaknaan hasil ditentukan berdasarkan nilai p<0.05. Kelompok I mendapatkan ketamin 0. dan tekanan dalam N2O dan ditambah anestesi balon pipa endotrakeal lebih dari 25 volatil (isofluran). dan tindakan intubasi menggunakan pipa sedang menjalani pengobatan endotrakeal PVC steril dengan dengan obat non steroidal anti diameter internal pipa endotrakeal 7– inflammatory drug (NSAID) dan juga 7. dan penandatangan formulir persetujuan (informed consent) oleh pasien. kemudian data disajikan dalam rata-rata (mean) dan dianalisis menggunakan program statistical product and servise solution (SPSS) 11.

apabila masih terdapat sisa efek pelumpuh otot/vekuronium.9%) masing- pascaoperatif tramadol 2 mg/kgBB intravena. diberikan analgetik (NaCl 0. Durasi operasi dan lama serta pemasangan endotrakeal. laju nadi. skala 2=nyeri tenggorok sedang (keluhan nyeri tenggorok oleh pasien). Pada akhir pembedahan. Pemantauan standar yang Hasi dilakukan ialah elektrokardiograf l (EKG). Penilaian derajat POST dilakukan berdasarkan skala POST. 2 jam pascaoperasi (T2). maka dilakukan reversed dengan neostigmin 0. dan juga 24 jam pascaoperasi (T24). 4 jam pascaoperasi (T4).6–8 mL/kgBB dengan frekuensi 12–14 kali/ menit. Saat di ruang pemulihan. pulse oximetry. apabila sudah dipastikan bersih serta pasien sudah bernapas spontan dengan volume tidal yang cukup dengan frekuensi teratur. kelompok II selesai. dan juga Penelitian ini dilakukan terhadap lima pemantauan tekanan balon pipa puluh orang pasien dengan status fsik endotrakeal setiap lima menit yang ASA I–II yang menjalani operasi dilakukan penyesuaian tekanan balon ginekologis dengan anestesi umum 15–25 mmHg. dan juga skala 3=nyeri tenggorok berat (nyeri tenggorok disertai dengan suara serak atau perubahan suara). tekanan darah noninfasif. setelah pasien mencapai nilai Aldrete score 9– 10. Pembersihan orofaring secara gentle dilakukan pada saat sebelum ekstubasi dan daerah yang akan dibersihkan harus dapat terlihat secara langsung untuk menghindari trauma terhadap jaringan tanpa mempergunakan laringoskop. dibagi dalam dua kelompok. skala 1=nyeri tenggorok ringan (keluhan nyeri tenggorok ini hanya bila pasien ditanyakan). Pasien pasien terintubasi juga dicatat. yaitu skala 0=tidak ada nyeri tenggorok.02 mg/kgBB. yaitu Tiga puluh menit sebelum operasi kelompok I (ketamin).04 mg/kgBB dan juga atropin 0. ekstubasi dilakukan ketika pasien masih tersedasi. kemudian pasien ditanyakan tentang keluhan nyeri pada tenggorokan/POST (T0). diikuti dengan rumatan analgetik drip memakai tramadol 200 mg/24 jam.8 .

05). T2 sebesar 52% serta skor 2 sebesar Post operative sore throat (POST) 4%.4 menit. sehingga kedua skor POST 1 pada T0 sebesar 20% dan kelompok ini dapat dikatakan homogen skor 2 sebesar 4%.9% SB t (n=25) Nilai p Usia (tahun) 41 10. Status fsik ASA pada kedua kelompok juga tidak didapatkan Pembahas perbedaan yang bermakna.8 menit dan 0. dan juga disfagia). demikian juga durasi tindakan Tabel 1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian Dua Kelompok Perlakuan Karateristik Ketamin SB NaCl (n=25) 0.9%.05). Pada kelompok ketamin pascaoperasi yang masih sering terjadi didapatkan skor POST 1 sebesar 4% pada pasien yang telah menjalani dan tidak didapatkan skor 2. Pada kelompok NaCl 0. dan terasa kering). secara statistika tidaklah bermakna tinggi badan.05.774 .9 42 10. didapatkan perbedaan yang bermakna dan laju jantung awal antara kedua (p>0. an Insidensi POST kelompok NaCl 09% pada T0 sampai T4 lebih banyak bila Karakteristik umum pada kelompok dibandingkan dengan kelompok penelitian tidak terdapat perbedaan ketamin. T2. body mass (p>0.9%. tetapi perbedaan tersebut perbandingan pada variabel usia.05). yaitu 119. index (BMI). diastol awal. batuk. sore throat ini dapat terjadi laringitis Perbandingan keluhan serta derajat (inflamasi pada laring).4. dan juga T4 parau. Skor POST 1 pada dan layak untuk dibandingkan. berat badan. suara perlakuan pada T0. Tabel 4.289 0. yang bermakna (p<0. secara statistik didapatkan perbedaan faringitis (inflamasi pada faring. Untuk perlakuan secara statistika tidak tekanan darah sistol awal.8 menit dan bahwa 92. Pada tidak didapatkan keluhan. serta laju napas awal pada Tekanan darah sistol dan juga kedua kelompok perlakuan secara diastol pada kedua kelompok statistik tidak berbeda (p>0. kelompok ketamin lebih lama bila Pada penelitian ini didapatkan hasil dibandingkan dengan kelompok NaCl secara klinis pada kelompok NaCl 0.masing 25 operasi pada kelompok ketamin lebih sampel. yaitu suatu POST pasien pada kedua kelompok keadaan tenggorok terasa nyeri. Tekanan kelompok secara statistika balon pipa endotrakeal pada kedua menunjukkan perbedaan bermakna kelompok perlakuan menunjukkan (p<0. bermakna (p>0. Skor anestesia umum. Tabel 6). khususnya pada POST 1 pada T2 sebesar 12% dan tidak pasien yang dilakukan intubasi dengan didapatkan skor 2.9% lebih banyak 116. sedangkan pada T4 pemasangan pipa endotrakeal.6 0. panjang dibandingkan dengan Berdasarkan uji-t didapatkan hasil kelompok NaCl 0.05). batas normal. Tabel 5). Skor POST 1 pada T4 sebesar adalah salah satu keluhan 16%. Tabel 3).05. serta Lama pasien terintubasi pada 2.6 menit). namun perbedaan tersebut perbedaan yang tidak bermakna menurut penilaian klinis berada dalam secara statistika (p>0.05. tetapi pada T24 ditandai dengan rasa nyeri di daerah tidak terdapat perbedaan antara faring khususnya pada saat menelan kedua kelompok perlakuan (p>0.5 tonsilitis.9% (94.05).

5 5.002 Laju napas 17.250 0.5 0.8 0.0 81.3 5. Nilai p dihitung berdasarkan uji-t.001) .7 3.948 0.7 92. TB (cm) 156.7 9.393 BMI (kg/m2) 23.3 5.2 0 1 Keterangan: data ditampilkan dalam nilai rata-rata dan SD.072 0.6 0.7 5.001 sistol Tekanan darah 78. sangat bermakna (p<0.943 BB (kg) 58 8.05). bermakna (p<0.6 3.333 Tekanan darah 124.6 7.8 6.6 0.712 0.5 156.0 1.978 0.0 1.3 0.9 55.7 7.5 17.0 131.7 4 22.861 0.005 diastol Laju nadi 88.7 0.

718 X (SD) 119.001 1 3 13 2 0 1 4 0 25 21 0. Selain itu. T2. dan T4.1) Median 130 .8 (27.361 0. Pada T4 Nilai p dihitung berdasarkan uji chi-kuadrat. Sebuah penelitian memperlihatkan Berdasarkan hasil tersebut. juga gejala endotoksemia dengan cara dapat bersifat sebagai antiinflamasi mengurangi aktivitas NFκβ serta dengan cara menekan efendotoksin produksi TNF α serta nitrat oksida yang sehingga terjadi penghambatan pada mempunyai implikasi pada endotoksin sebagai ekspresi/aktivasi nuclear-kappa β zat yang merangsang kerusakan pada jaringan. Ketamin selain flamasi. Nilai p a Ketamin (menit (n=25) (n=25) NaCl 0.9% W ) Terintubasi 0. T2=2 jam postoperasi.05). sehingga tidak terjadi Berdasarkan hasil-hasil Tabel 3 Perbandingan Lama Pasien Terintubasi dan Lama Operasi pada Kedua Kelompok Perlakuan Lam Kelompok ZM.039 1 0 4 24 0 25 25 1.18 tidak ada perbedaan bermakna.4 (29. sangat bermakna (p<0.001) yang mengalami POST dibandingkan transkripsi pada produksi mediator dengan kelompok ketamin pada T0. kecuali pada T24 lipopolisakarida (LPS).3) 116.000 Keterangan: data ditampilkan dalam jumlah sampel (persentasi (%) dari total sampel). terlihat bahwa ketamin ternyata memiliki bahwa ketamin ternyata cukup kemampuan untuk melindungi paru- efektif menurunkan insidensi POST paru dari cedera melalui melalui beberapa mekanisme kerja mekanismekerjaketaminsebagaiantiin yang dimilikinya. T0 = dicatat keluhan pasien saat pasien mencapai skor Aldrete 9–10. T24 nilai p dihitung berdasarkan Uji Mann-Whitney. dengan perbedaan yang menghambat pembentukan bermakna (p<0. Ketamin Kumur untuk Mengurangi Sore Throat Pascaintubasi 67 Tabel 2 Perbandingan Skor POST pada Kedua Kelompok Perlakuan Wakt Kelompok u Nilai p (T) Skor Ketamin (n=25) NaCl 0. Bermakna (p<0. T4=4 jam postoperasi. T24=24 jam postoperasi.05). inflamasi sitokin.042 1 1 5 2 0 1 2 0 22 11 0. dan juga T2. ketamin sebagai antinosisepsi melalui mempunyai kemampuan mengurangi penghambatan reseptor NMDA.9% (n=25) 0 0 24 19 0.17. Pada T0. (NFκβ).

8 (26.68 Jurnal Anestesi Perioperatif 125 Rentang 60–150 50–150 Operasi 0.6 (27.332 0.5) 92. bermakna (p<0.7) Median 110 100 Rentang 45–120 25–120 Keterangan: nilai p dihitung berdasarkan Uji Mann-Whitney (ZM-W).740 X (SD) 94.05) .

( 0.93 8 8 Keterangan: Data ditampilkan dalam nilai rata-rata dan SD.52 7.7 0.35 1 7 20 113.55 3 6 85 117.43 4 65 117.05).4 113.4 0.8 0.67 4.4 107. 115.8 0.25 8. 112.84 14.9 112.40 7.53 6.44 12.12 10.0 0.83 11.9 0.5 105. 110.6 0.9% ( Rata-rata SB Rata-rata SB 0 117.76 1 110 115.9 0. 112.71 5 0 90 115.22 10.68 6.82 8 45 117. 115.40 8.72 9.59 8.0 114.Tabel 4 Perbandingan Rata-rata dan Simpang Baku Tekanan Darah Sistol Kedua Kelompok Perlakuan Ketaminn=25) NaCl n=25) Menit Nilai ke. 115. 119.44 7.44 6 5 7 100 114.97 6 10 108.16 8.23 2 120 113.68 8.01) penelitian tersebut kemudian disimpulkan bahwa Pada penelitian lain disimpulkan ketamin mempunyai efek antiinflamasi serta bahwa pemberian ketamin secara lokal antihiperesponsif.59 10.74 30 111.92 5.5 0.3 0.60 7.9 0.25 10.82 8.09 8.40 13.35 8.08 15.47 0 115 116.2 0.47 7 1 70 119.11 4.9 112.5 113.7 114.4 0. 116.87 1 9 80 117.8 115.9 0.75 9.68 8.5 0.26 8 95 114.86 8 4 75 119.5 112.8 0.40 9.51 6 60 115.23 8.1 8 0. Nilai p dihitung berdasarkan uji-t.37 6 15 108.34 3 50 116.5 0.65 10.7 0.56 9.84 11.86 7.42 6.54 1 105 115.04 8.11 8 40 111. 106. Bermakna (p<0.21 6. sangat bermakna (p<0.20 10. 0 = saat setelah dilakukan intubasi.3 107.28 9. 115.44 3 5 25 114.0 0. 17–19 menghambat cascade respons .3 111. 118.10 4 35 111.96 8.2 0.33 11.2 0.69 0 7 5 108. 6.0 0.96 6.1 114.88 10.50 7.76 7.88 8.80 6 2 55 115.96 9.6 108.1 0. 120 = saat setelah dilakukan ekstubasi dan dicatat setiap lima menit.37 6.8 0.

inflamasi. hal ini dilakukan .

72.726 3 25 74.2 0.423 70 77. 70.16 7.4 0.869 9 115 72.8 0.7 0.50 13.145 90 76.6 0.414 60 75.60 12.01) pada model pasien asma in vivo.3 0.5 mg/mL atau .12 11.00 9.33 11.469 85 75.601 30 72.96 9. 74.05 10.28 8. 73.11 12.543 3 80 78.52 9.7 0.6 0.9 0. 69.06 10.20 9.Tabel 5 Perbandingan Rata-rata dan Simpang Baku Tekanan Darah Diastol Kedua Kelompok Perlakuan Ketaminn=25) NaCl (n=25) Meni Nilai p t ( 0. 64.7 0.8 76.3 0.96 6.40 10.937 110 76.92 6. 120 = saat setelah dilakukan ekstubasi dan dicatat setiap lima menit.8 75. Bermakna (p<0. Nilai p dihitung berdasarkan uji-t.206 5 20 72. 75.350 50 75. 75.13 7.40 12.946 105 75.24 7.84 9.5 77.50 13.81 10.3 0.513 120 74.8 0.82 9.3 0.5 0.28 8.7 0.50 6.241 5 45 80. 74.95 8.39 10. sangat bermakna (p<0.8 72.44 10.3 73.900 1 55 75.7 72.24 8. 25 mg/mL.72 9.516 15 67.67 7.92 10.05).198 95 77.8 66.92 9.92 10.457 3 65 77.77 11.1 0.53 5.44 10.193 5 72.375 1 75 75.60 9. 74.80 7.7 74.972 4 Keterangan: data ditampilkan dalam nilai rata-rata dan SD. 73.24 12.31 8.00 8.67 5.9 0.137 9 35 73. Penghambatan ini ditandai dengan cara dengan pemberian ketamin inhalasi 12.43 7. 76.8 76.0 74.20 10.44 9. SB SB Rata-rata Rata-rata 0 76.20 11.7 0.6 0.6 0.1 0.413 5 40 76.2 0.9 69.9% ke.2 0.448 4 10 68.2 0.88 8.4 73.4 75.67 7.76 10.400 2 100 76. 0 = saat setelah dilakukan intubasi.

yaitu zat yang memprovokasi hipersensitif jalan napas. Pengaruh pemberian inhalasi ketamin pada .penekanan ovalbumin (OVA).

1. 1. 1.9 0. 1.00 5 5 0 90 23. 1. 1.9 23.8 23.4 21. 2.83 7 5 3 85 23.951 2 2 115 22.0 0.8 0. 1.9% ( Rata-rata SB Rata-rata SB 0 20. 1.73 7 4 4 80 23. 1.5 22.6 2.0 0. 2. 2. 0 = saat setelah dilakukan intubasi.5 0. 2.94 4 4 3 70 23.5 0. dan penemuan ini secara .2 0. 2.3 23. 2.7 0.7 6 0.7 0.01) inflamasi pada jalan napas serta OVA.9 23. 2.88 8 8 7 10 21. 1.4 0.0 0.54 4 7 0 45 23.0 0.2 0.8 1.0 23. 1. 2.680 3 3 105 23.3 23. interleukin 4 (IL-4) serta nitrat oksida secara signifkan menurunkan (NO).6 23.9 23.5 21.05). 1.1 0.0 23.0 23. 2.Tabel 6 Perbandingan Rata-rata dan Simpang Baku Tekanan Balon Pipa Endotrakeal pada Kedua Kelompok Perlakuan Ketamin =25) NaCl n=25) Menit Nilai p ke. 1. Bermakna (p<0. 1. 2.64 4 1 2 50 23. 1. 1. 1. 1.1 0. 120 = saat setelah dilakukan ekstubasi dan dicatat setiap lima menit. sangat bermakna (p<0.56 9 5 6 55 23.5 8 23.8 23.93 1 2 0 35 23. 1.6 22. 2.8 0.3 23. 2.9 23. 1. 2. 1.5 22.925 2 2 100 23. 2. 1.78 8 8 3 5 20.86 3 4 7 25 23.0 20.9 0. 1.725 7 5 95 23. 2.0 20.90 7 6 2 75 23.0 0. 1.5 23.61 6 8 9 20 22. Elemen BALF akan bekerja infltrasi sel inflamasi jalan napas ke merangsang regulasi dari iNOS. 1. 1.8 0.0 23.668 8 4 120 23.795 3 1 110 23.3 23.5 0.63 30 0 23. 1.8 23. 2. ( n 0. 1.4 0.4 0. 1.51 4 7 8 40 23. 2. 1.51 1 3 7 15 21.80 9 7 9 65 23. 1. bronchoalveolar lavage fluid (BALF).44 7 3 0 60 23. 1.7 0. Nilai p dihitung berdasarkan uji-t.853 2 0 Keterangan: data ditampilkan dalam nilai rata-rata dan SD.

serta cardiac output sehingga tekanan darah dapat tetap 12 stabil. 30. ketamin mempunyai efek antiinflamasi serta 18 antihiperesponsif. Pada penelitian ini tekanan pada dinyatakan juga bahwa pada balon pipa pemberian oral.0 24.0 16.0 22. Peningkatan tekanan balon ETT bisa 2 disebabkan .0 20. Pada penelitian ini tidak terdapat perubahan hemodinamik (tekanan darah) pada kelompok ketamin dan NaCl.0 26.0 105 120 5 100 110 115 0 95 10 75 90 15 40 60 65 85 20 25 35 45 55 70 80 30 50 Gambar Grafik Fluktuasi Tekanan Balon Pipa Endotrakeal pada Kedua Kelompok Perlakuan bersama-sama menyatakan bahwa karena inhibisi N O ke dalam balon nebulisasi memakai ketamin akan ETT. Penurunan tekanan darah dan tekanan balon ETT memberikan pengaruh pada kejadian POST. Metode ini dilakukan dan dipertahankan merupakan terapi terbaru pada 20–30 mmHg. hal ini untuk mencegah 1 pengobatan asma karena alergi.0 28. Selain iskemia mukosa. Tekanan balon melebihi 30 mmHg dapat menyebabkan aliran darah mukosa jalan napas terganggu sehingga terjadi iskemik.0 Ketamin NaCl 14.0 18. tekanan darah. pemberian dengan cara inhalasi. seperti peningkatan denyut jantung. sedangkan pada penggunaan ketamin yang mempunyai efek analgetik dapat menimbulkan respons kardiovaskular. Penggunaan propofol dengan dosis induksi dapat memengaruhi stabilitas hemodinamik (tekanan darah). oleh karena itu pemantauan mengurangi respons inflamasi dan tekanan dan penyesuaian tekanan juga airway hyperresponsiveness balon pipa endotrakeal ini harus sering (AHR) pada suatu OVA.

Madjid AS. 2006. Farida R.22:307– 11 3. 2007. Complaints of sore throat after tracheal intubation: a prospective evaluation. penyunting. Mikhail MS. Daftar Pustaka 1. Morgan EG. 2005. New York: McGraw-Hill.endotrakeal pada kedua kelompok perlakuan secara statistika tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (p>0. .05). 4. tekanan balon pipa endotrakeal masih berada dalam range normal (20–30 mmHg). Biro P. JCPSP.17(8):509–14. Post operative sore throat. efektif mengurangi kejadian POST pascaintubasi. dapat disimpulkan bahwa pemberian ketamin kumur dosis 0. Perbandingan keefektifan penggunaan ® obat kumur listerin dan benzidamine hydrochloride 0. Clinical anesthesiology. Kamal RS. Monem A. Eur J Anaesth. Edisi ke-4.5 mg/kgBB sebelum dilakukan tindakan intubasi anestesi umum pada pembedahan ginekologis. 2008. Simpul an Berdasarkan pada pengujian hasil penelitian serta pembahasan. Anestesia Crit Care. Seifert B. Arlina RM. Pasch T. Murray MJ. 2.075% sebelum intubasi untuk mengurangi insiden nyeri tenggorok intubasi.

2007. 2005. randomized. Abbasi S.89:665–9. Zhou QH. 8. Zhu MM. Ogata J. Intern Immunopharmacol.100(4):490–3. J Ayub Med Coll Abbottabad. Xu J. Shao D. Liu J. Ozgen S.101:1001–3. dkk. Dhiraaj S. Goswami D. 2007. Xu YM.4:1–16. Canbay O.induced sepsis. NF-κB and TLRs in rat intestine during CLP. Gupta D. 9. Ketamine gargle for attenuating postoperative sore throat. Zhu MH. Rong HB. single 38. Zhu J. Celiker V. Inoue Y. Effects of nebulized ketamine on allergen- induced airway hyperresponsiveness and inflammation in actively sensitized brown-norway rats. 1999. Postoperative sore throat after elective surgical procedures. Kawasaki C. Kaswiyan U. Zhang Z. Shigematsu A. 2007. Celebi N. 11. Br J Anaesth. blind study. An evaluation of the efficacy of aspirin and benzydamine hydrochloride gargle for attenuating postoperative sore throat: a . 5. Ishaq M. 10. 2007. 26(2):125– prospective. 2008. Ogata M.7:1076– 82. Ahmed A. Shing PK. J Inflammation. Ketamine suppresses proinflammatory cytokine production in human whole blood in vitro. Nath SS. Aypar U. 6. Bandung: Universitas Padjadjaran.19(2):12–4. Sahin A. Kawasaki T. 7. Perbandingan rentang waktu kenaikan tekanan balon pipa endotrakhea pada pasien yang mendapatkan anestesi umum inhalasi akibat difusi N2O antara konsentrasi 50% dengan 70% [Tesis]. Effects of ketamine on levels of cytokines. Trisnadi S. Yu M. Agarwal A. Nawawi M. Qian YN. Ghafoor H. Anesth Analg. Anesth Analg.

NFκB and TLRs in rat intestine during CLP. 2007. Hill GE. CAN J Anesth. 17. Anderson JL. Control comparison between bethamethasone gel and lidocaine jelly applied over tracheal tube to reduce postoperative sore throat. Liu J. Krishna HM. 16. Revista Mexicana de Anestesiologia. Zhang Z. [Disertasi]. Lavand'homme PM. Ambreesha M. surgery via descending inhibitory Hamdy H. Systemic ketamine inhibits hypersensitivity after .16:1– 4.31(1):97–100. 2007.induce reduction of cardiac intracellular CAMP accumulation. De Kock MF. induced sepsis. K.inflammatory mediators in equine models. Effects of ketamine on levels of cytokines. 2007. Netherlands: Universiteit Utrecht. Anesth Analg. Obata H. 19. The Clinical role of NMDA receptor antagonist for the treatment of postoperative pain. Koizuka S. Shao D. Saito S. Ketamine inhibits the proinflammatory cytokine. Br J Anaesth. Acta Anaesthesiol Scand. 1998. Goto F. Topical tenoxicam froam 2005. 18. Lyden ER. 15. 13.52(5):498–505. Zhu J.7:1076– 82.44:733–6. Sumathi PA. Intern Immunopharmacol. Lankveld. Siam A. 2000. 2007. opiates and other interventions. Effects of ketamine on pro. Guererro EB. 2008. Xu J.12. Rashed I. Best Practice & Research Clin Anaesthesiol. Shenoy T. 14. Elhakim M.21(1):85– 98. D. pathways in rats. pharyngeal pack reduce postoperative sore throat. Sasaki M.87:1015– 9. P. Systemic inflammation: role of ketamine. Yu M. cough and hoarseness of voice.