You are on page 1of 18

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
PERITONITIS GENERALISATA & ABSES HEPAR

Nama Mahasiswa : Subhan
NIM : 010030170 B
Ruang : Bedah G Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo.
Pengkajian diambil tanggal : 19 September 2002. Jam 9.30 BBWI

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. I No. Register : 10 19 84 89
Umur/tgl lahir : 23 tahun.
Jenis Kelamin : perempuan
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Status Perkawinan :-
Pekerjaan : mahasiswa
Pendidikan : STIESIA (Sekolah Ilmu Ekonomi Indonesia)
Bahasa yang digunakan : jawa/Indonesia
Alamat : Donorejo I/ no 9. Surabaya
Kiriman dari : GBPT
Tanggal MRS : 7 September 2002.jam 09.00
Cara Masuk : Lewat IRD RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Diagnosa Medis : Peritonitis Generalisata & abses Hepar post
laparatomi.
Alasan Dirawat : Adanya keluhan rasa nyeri pada perut kanan bawah
yang
menjalar kepinggang dan punggung
lancar dan setiap mau kencing, disertai dengan
mau BAB
Keluhan Utama : nyeri perut bawah bagian kanan.
Upaya yang telah dilakukan : Berobat ke tukang pijat, dokter praktek, dan RS
Tebak arum

2. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)

a) Riwayat Penyakit Dahulu
Klien sebelumnya tidak pernah mengali penyakit seperti yang dialaminya
sekarang ini, klien hanya mengalmi penyakit pernah mengalmi penyakit
seperti influensa dan batuk-batuk saja pad asaat diberi obat sembuh.

b) Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 29 agustus 2002, klien mengeluh nyeri pada bagian perut bagian
bawah dengan keluhan nyeri tajam, dan menjalar ke punggung dan pinggang
bagian belakang untuk mengatasi masalahnuya klien minta dipijat dibagian
yang sakit, karena tidak terpengaruh klien minta dipijat dibagian yang sakit,
karena tidak terpengaruh, klien dibawa kedokter praktek pada tanggal 30
agustus 2002 selama 2 hari mengalami terapi dokter praktek, tapi tidak
mengurangi keluhan, utuk itu klien dibawa ke rumah sakit tambak rejo dan
mengalami perawatan selama 5 hari dan atas keputusan pihak rumah sakit
klien dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya.dan langsung dilakukan
Laparotomi.

1

whizziing (-) bentuk dada simetris. tidak terlihat pucat /anemi pada sekitar bibir.tidak ada GENOGRAM : Keterangan : : Laki-laki : Perempuan : Tinggal serumah : klien yang sakit : klien meninggal d) Keadaan Kesehatan Lingkungan Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih. batuk-batuk disertai dengan dahak. Hanya Bapak dari klien mempunyai riwayat DM dan penyakit lainnya seperti. tidak terdengar suara nafas tambahan ronkhi. klien tampak sakit. (-) 2 . BB : 45 kg. penampilan klien cukup rapi. Irama teratur. hipertensi . OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK Pada awal pengkajian 19 September 2002. tidak terlihat gerakan cuping hidung. Frekuensi 20 x/menit. Pernafasan normal vesikuler.dengan ukuran rumah 7x10 m2 3.dan asma. c) Riwayat Kesehatan Keluarga Anggota keluarga yang lain tidak ada yang menderita penyakit seperti yang diderita klien saat ini. Respirasi : 20 x/menit c) Body Systems (1) Pernafasan (B 1 : Breathing) Inspeksi : suara stridor inspirasi dan ekspirasi (-). lemah dan teratur Tekanan darah : 140/90 mmHg. mulut dan dasar kuku. TB 160 cm b) Tanda-tanda vital Suhu : 37. 0C Nadi : 80 X/menit. post operasi hari ke XII a) Keadaan Umum : Kesadaran compos mentis.

fremitus raba sama pada kiri dan kanan dinding dada . penuh mampu orientasi waktu. warna urine kuning. Perkusi : adanya suara sonor pada kedua paru. orang. perfusi hangat. kembung tidak ada suara pekak pada daerah hepar. (3) Persyarafan (B 3 : Brain) Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan pada saat sesudah disentuh (4) Verbal : Orientasi baik. Abdomen normal tidak ada kelainan.tidak ada.gangguan perkemihan tidak ada. ginjal tidak teraba.4 : Bladder) Inspeksi :Jumlah urine 400 ml/ 8 jam. siapa dirinya. tidak adanya kelainan kongenital pada vagina Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar inguinalis. . tidak kembung. keluhan nyeri.S3 S4 tidak ada. penis dan testis tidak ada. tidak ada nyeri tekan perkusi : suara tympani (+) pada abdomen. gangguan pencernaan tidak ada. jamur. denyut jantung pada ictus cordis. 0C. Pulsasi jantung tidak tampak. Perkusi . Palpasi : fremitus dada simeteris kanan dan kiri. Pada palpasi tidak teraba pula pada daerah dada benjolan/masssa frekuensi Nadi 80 X/menit lemah dan teratur. tidak ada nyeri pada perkusi daerah ginjal (5) Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel) Inspeksi : mulut dan tenggorokan tampak baik. irama reguler. Auskultasi terdengar adanya suara vesikuler dikedua lapisan paru. Suhu 37.tumor dan nyeri tekan. Tonos otot pada ekstrimitas baik dengan nilai (5) kekuatan sama dibandingkan sisi lain kanan dan kiri Ekstrimitas : Tidak ada kelainan 3 . Palpasi : pergerakkan asimetris kiri dan kanan. tekanan darah 90/60 mmHg. lesi dan keganasan. tanda-tanda radang pada ginjal. tanggal. anoreksia. suara redup pada batas paru dan hepar. (5) Motorik : mampu menurut perintah. berada dimana. Auskultasi Cor S1 S2 tunggal. menunjukkan jari dan angka yang ditunjukkan pemeriksa (6) Compos Mentis : Pasien sadar baik. klien buang air besar 1 X/hari. suara amporik tidak ada (2) Dada / Cardiovascular (B 2 : Bleeding) Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan kiri. Keadaan nervus I –XII tidak ada kelainan (4) Perkemihan-Eliminasi Uri (B. Perkusi terdengar suara pekak. Pemeriksaan genetalia eksternal tidak ada infeksi. pada abdomen terdapat adanya luka post laparatomi dan luka drain. mengangkat tangan. ekstra sistole/murmur tidak ada. hari. tidak terdapat obstipasi maupun diare. bebas. auskultasi : Peristaltik normal (6) Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone) Kemampuan pergerakan sendi range of mation baik. ulkus. palpasi : hepar tidak teraba. tempat.

warna feses kuning dan berbau khas. klien minum perhari sebanyak 1. klien mengatakan kalau sudah bangun sulit untuk bisa tidur lagi dan biasanya sering bangun terlalu awal. (5) Pola Aktivitas dan latihan Saat sehat : Untuk aktivitas sehari-hari klien mengatakan lebih banyak dilakukan ditempa kampus sebagai seorangt mahaiswa .5 liter air dan terbiasa minum susu. (3) Pola Eliminasi Saat sehat : klien BAB dengan jumlah normal sedikit-sedikit. Aktivitas di RS lebih banyak istirahat di Tempat Tidur dan aktivitas terbatas di Tempat Tidur dan jalan-jalan membeli resep dan periksa (6) Pola Hubungan dan Peran Saat sehat dan sakit : Hubungan klien dengan orang lain dan keluarga baik. apabila ada waktu senggang klien menggunakan waktu untuk jalan-jalan bersama orang tuannya Saat sakit : . (4) Pola tidur. Saat sakit :. tetapi kadang-kadang. BB 58 kg postur tubuh sedang dengan tinggi badan 160 cm Saat sakit : klien makan teratur (porsi makan tidak dihabiskan) dengan alasan makanannya tidak enak. Pasien terbiasa tidur dengan suasana tenang. pasien BAK dengan Jumlah urine 400 ml / 8 jam. selama sakit klien tidak bisa menjalankan peran sepertinya biasanya.dan Istirahat Saat sehat : Klien mempunyai kebiasaan sehari-hari klien lebih banyak istirahat selama 8 jam mulai jam 21. Saat sakit : klien mengatakan pada awal masuk klien tidak dapat tidur nyenyak sama sekali karena ribut dan banyak nyamuk. Pola aktivitas sehari-hari (1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan Saat sehat : klien mempunyai kebiasaan olah raga setiap pagi hari sehari. Klien buang air besar 1 X/hari. 4 . Pada saat sakit : klien tidak pernah berolah raga sejak ia mengalami sakit. klien juga sering mengikuti senam tiap hari lamanya 1 jam dan diselingi dengan jalan-jalan. minum 5-6 gelas sehari Adanya.00 pagi. tidak ada kesulitan menelan. Atas : Tidak ada kelainan Bawah : ada pembengakakan akibat asam urat Tulang Belakang : Tidak ada kelainan Warna kulit : Tidak ada kelainan Akral : Hangat Turgor : Baik Tidak terdapat kontraktur maupun dikubitus. klien tidak pernah diet khusus . BAK jumlah 400 ml/8 jam dengan keluhan tidak ada. BB 45 kg dengan tinggi badan 160 cm dan tidak ada diet khusus. klien termasuk orang yang kooperatif dengan sesamanya. (2) Pola Nutrisi dan Metabolisme Saat sehat : klien makan teratur 3 x sehari. warna urine kuning muda dengan kejernihan : Jenih. tidak dan beraktivitas seperti biasanya selama sakit. Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.00 – 05. sebagai kepala keluarga.

klien tampak berlapang dada dengan menerima keadaannya berbesar hati.klien mengatakan lebih baik memikirkan bagaimana sekarang bisa sehat. mencium dan meraba cukup baik..reflek (+) Saat sakit : proses melihat. menstruasi normal. Tampak tidak ada kontak mata yang jarang dilakukan. Masalah emosi masa mudanya merupakan masalah yang sering menjadi stressor menyebabkan strees pada klien. dan cuci rambut 1 X/minggu. isi pikiran dapat dimengerti namun daya ingatnya baik. Selain itu klien mengalami cemas karena Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit. pemeriksaan diagnostik dan tujuan tindakan yang diprogramkan. (9) Pola Seksual dan Reproduksi Pasien belum menikah. Personal Higiene Kebiasaan di rumah klien mandi 2 X/hari. merasa terasing dan sedikit stress akibat apa yang harus dialami Aspek Sosial / Interaksi Hubungan dengan keluarga. mendengar. tapi klien termasuk orang yang terbuka baik dengan keluarganya (11) Pola Tata Nilai dan Kepercayaan Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta bekas luka post laparatomi yang dialaminya ini tidak menghambat klien dalam melaksanakan ibadah walaupun tetap merubah pola ibadah yang biasanya klien lakukan seperti biasanya. gosok gigi 2 X/hari. Ketergantungan Karena penyakitnya yang dideritanya sehingga klien mempunyai ketergantungan mentaati hal-hal yang berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat mencetus parahnya penyakit. 5 . Aspek Psikologis Klien terkesan cemas akan penyakitnya. berfikir lancar. klien mengerti akan pertayaan yang diberikan (8) Pola Persepsi Dan Konsep Diri Saat sehat : selama sehat klien mengatakan sering ditegur melakukan kebiasaan jelek seperti makan tidak sabaran dan susah menunggu dengan sabar Klien mengatakan juga sangat senang ngobrol dan berkumpul dengan keluaraga maupun teman-temannya Saat sakit : selama perawatan. menyebabkan klien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem). teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab.(7) Pola Sensori dan Kognitif Saat sehat Klien mampu melihat dan mendengar serta meraba dengan baik. (10) Pola mekanisme/Penanggulangan Stress dan koping Dalam menghadapi sakit yang dideritanya sekarang ini klien mengatakan apa yang sudah terjadi biarlah terjadi dan berlalu toh engga bisa berubah lagi. klien tidak mengalami disorientasi.

5 – 5 gr /dl Mikrobiologi tanggal 7 september 2002 RSUD r.tampak ontras mengisi uretra pars prostatica dan membranaca Kemudian kontar dimasukkan melaluiout dengan kanul tampakkontra mengisi uretra pars cavernoso dan pars bulbosa sedikit.6 L : 12. Fhoto thorak PA Cor : besardan bentuk normal Pulmo : tidak tampak infiltrat tidak tampak ada kelainan. kemudian penderita disuruh kencing.000 – 400. Soetomo Bahan yang diambil Urine/darah/liquer 6 . Hasil pemeriksaan Laboratorium : Tanggal 6 september 2002 Pemeriksaan Hasil Hasil normal darah HB 11.000 /mm3 PCV .9 LED/BBS (1 jam) 50 L : < 7 mm P : < 15 mm Diff Eosinofil .6 – 17 % P : 11. ajaran agama dijalankan setiap saat. cor. paru dan tulang kesan normal. tampak penyempitan. 33.000/mm 3 Albumin 2.5 – 16.9 3. Aspek Spiritual Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama Islam. Kesimpulan : tampak strikture urethra pars bulbomembranaca sepanjang 0. 1–2% Basofil .4 cm tanggal 4-8-02 TS . 0–1% Staff 4 3–5% Segmen 74 50 – 65 % Lymposit 17 25 – 40 % Monocyte 5 2–6% Trombocyte 204 150. kkedua sinus phrenicocostalis tajam Tulang tak tampak osteolitik osteoblastik Kesan : fhoto thorak tidak ada kelainan.4 cm Tak tampak adanya ekstravasasi kontras. Saat ini klien tidak merasa terganggu pemenuhan kebutuhan spiritualnya DIAGNOSTIC TEST / PEMERIKSAAN PENUNJANG tanggal 10 september 2002 kes :USG Uffer Abdomen : idak ada kelainan Ts Yth Bipola voiding uretrocystografhy Kontras urografi yang tidak diencerkan dimasukkan melalui kateter cystostomy kedalam buli-buli. Klien sangat aktif menjalankan ibadah dan aktif mengikuti kegiatan agama yang diselenggarakan oleh mesjid di sekitar rumah tempat tinggalnya maupun oleh masyarakat setempat. pada pars bulbomembranaca sepanjang 0.700 4000 – 10. 9 % Leukocyte 12.

6 (L : 40 -47 P : 38 – 42 ) % MCH + 92.8 – 4.4 – 17.31 (3.4 – 15.9 dl MCHC 30.7 P : 11.5 .4) g/d Darah lengkap WBC 14.95) juta /UL HGB 9.7 s/dl 7 .3) x 10 eg/L RBC (L : 4. cap/tinja Pus (nanah dari cairan abdomen) Kultur biasakan Mikroba aerob dan anaerob Tanggal 17 september >100.4 (L : 13.3 (L : 4.33 – 5.000 kuman/m Positif >/= 100.3 – 10.3 – 11.000 2002 Albumin 2.3 P : 4.1) g/dl HCT 30.

serotonin. sering ngompol  BAK keluarnya sedikit stressor dan disertai mau  mengejan BAB penyempitan lumen 1 Data objektif urethra Gangguan 2-09-2002 Klien tampak sakit. o Klien tampak sering respn neuroendokrin sering bertanya  tentang proses maladaptif pembedahan yang  akan dilakukan cemas padanya. o Klien tampak gelisah 3 Post operasi Pembedahan Nyeri akut tanggal Data Subjektif :  3-09-02 Klien mengeluh adanya trauma/rusaknya jaringan jam 19. frekwensi kencing sering. sedikit-sedikit  dan ada keinginan gangguan eliminasi BAK mengejan  Ngompol dicelana Gangguan rasa nyaman akibat urine netes 2 Data Subjektif: Pembedahan/mastektomy Ansietas 3-09-2002 Klien mengatakan  merasa takut akan stressor dilakukan pembedahan. norefinefrin.  infeksi 3-09-02 rusaknya jaringan Data Objektif :  8 . kesakitan dan memegang daerah ion hidrogen. ion kalium yang sakit dan subtance  Nosiseptor  nyeri 4 Data Subjektif : Resiko infeksi Resiko terjadinya tanggal .00 nyeri daerah operasi  keluarnya stimuli kimia Data Objektif :  Klien tampak prostalagnin. menyeringai. ANALISA DAN SINTESA DATA NO/TGL D A T A/ ETIOLOGI MASALAH Pre Operatif Data subjektif Klien mengatakan sulit Striktur urethra kecing.  “klien mengatakan stimulus respon mudah-mudahan saja perilaku/mekanisme tidak terjadi apa-apa pertahananan Data Objektif : diri/perilaku koping.  eliminasi urine tidak nyaman dan tidak retensi urine puas. bradikinin.

Adanya luka bekas respon radang operasi  pontensial terinfeksi kuman 9 .

DIAGNOSA KEPERAWATAN Pre operasi 1. Perubahan eliminasi urine: frekuensi. urgensi. nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi sehubungan dengan obtruksi mekanik: striktur urethra 2. resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi 10 . retensi. gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan terputusnya continuitas jaringan ditandai dengan klien tampak kesakitan bila menggerakan lengan dan wajah tampakmenyeringai 4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pra dan pascaoperasi dan takut akan kecacatan Post operasi 3. inkontinensi. resistancy.

Residu pasca berkemih kurang dari 50 ml. Diagnosa Perencanaan No Keperawatan Kriteria hasil Intervensi Rasional 25 . tidak teraba distensi kandung kemih . RENCANA TINDAKAN Tujuan : Jangka pendek : 2 x 30 klien dapat mempertahankan pola BAK Jangka panjang : setelah di rawat selama 1 hari klien memiliki Klien dapat berkemih dalam jumlah normal.

relaksasi didaerah prostat sehingga gangguan aliran air seni dan gejala-gejala berkurang. Jika kemih dapat dirasakan volume residu urine di area supra pubik. antagonis Alfa . jumlah normal. lebih besar dari 100 5. inkontinensi. berkemih dalam dari pola eliminasi . 26 . nokturia kemih dirasakan . kreatinin. sehingga klien urgensi. peningkatan resiko ISK. 2. obstruksi 6. Tujuan : Jangka pendek : setelah 2 X 30 menit klien mau terbuka dan berkomunikasi dengan perawat serta mengungkapkan ketakutannya. ukur pertumbuhan bakteri. dalam 3. Kolaborasi dengan 6. Dorong klien untuk kooperatif dalam resistancy.dan kecemasannya. tidak teraba berkemih tiap 2 – 4 tindakan keperawatan. fungsi ginjal residu urine pasca 4. distensi kandung jam dan bila 2. potensial merusak fungsi ginjal dan menimbulkan uremia. Meminimalkan retensi retensi. Jangka panjang : setelah di rawat selama 1 hari klien memiliki koping mekanisme positif dan dapat menerima keadannya tanpa rasa takut yang berlebihan. Peningkatan aliran sehubungan o Klien dapat toleransi jantung bila cairan. distensi yang atau perasaan o Residu pasca 3. Observasi aliran dan dan kandung kemih dari eliminasi o Hasil laboratorium kekuatan urine. urine. statis karena dapat BUN. Jelaskan pada klien 1. beresiko infeksi 7.1 Perubahan Kriteria hasil : 1. normal. 7. Perkusi / palpasi perfusi ginjal dan striktur urethra kultur hasilnya area supra pubik membersihkan ginjal Tujuan: Pola negatif 5. Observasi aliran dan cc maka jadwalkan kekuatan urine untuk program kateterisasi mengevaluasi adanya intermiten. Meningkatkan eliminasi urine: o Klien dapat tentang perubahan pengetahuan klien frekuensi. Statis urinarias dokter untuk potensial untuk pemberian obat: pertumbuhan bakteri. adrenergik (prazosin) Pembesaran prostat dapat menyebabkan dilatasi saluran kemih atas (ureter dan ginjal). Mengurangi obstruksi pada buli-buli. monitor Mengukur residu urine laboratorium: untuk mencegah urine urinalisa dan kultur. Anjurkan klien berlebihan pada tidak puas berkemih kurang minum sampai 3000 kandung kemih setelah miksi dari 50 ml ml sehari. dengan obtruksi berkemih volunter diindikasikan mempertahankan mekanik: o Urinalisa dan 4. Distensi kandung normal berkemih.

skala nyeri berkisar antara 1. Diagnosa Perencanaan No Keperawatan Kriteria hasil Intervensi Rasional 2 Ansietas o Klien mau 1. 5. mengerti keadaan yang sedang dialami 7. Sebagai inforcement yang dialami. distraksi pada daerah kontralateral.4 3 Gangguan rasa Mendemonstrasikan nyaman nyeri bebas nyeri dengan 1. distraksi dalam o Klien b. ciptakan hubungan 1. Untuk mendapatkan berhubungan lebih banyak dukungan dengan sumber dalam upaya koping yang ada. dan dukungan psikologis. Bantu individu menurunkan beban mengepresikan psikologis klien perasaannya. Lakukan latihan nafas 2 Napas dalam dan batuk 27 . Yakinkan bahwa mengurangi beban mengungkapkan keadaan ini tidak klien. melakukan aktivitas perawatan pasien continuitas o luka kering. Katarsis dapat o Gaya bicara lancar c. Jaga lingkungan tetap stresor negatif yang pascaoperasi o Kegelisahan klien tenang. membentuk koping e. Bantu klien kondisi psikologis kecacatan o Klien mampu menurunkan klien. Untuk meminimalkan 1 Rasa nyaman berhubungan kriteria nyeri scrotum/penis : merupakan prioritas dengan o ekspresi wajah anjurkan untuk dalam pemberian terputusnya rileks. Sebagai suatu upaya ketakutannya dirasakan saat ini. Tujuan : Jangka pendek : Setelah di rawat selama 30 menit klien mampu mendemontrasikan model /cara mereduksi nyeri melalui nafas dalam. 2. Jangka panjang: Setelah 2 hari nyeri terkontrol. dapat memperparah dan takut akan berkurang a. terbatas pada daerah demgam post operasi jaringan ada o menyatakan nyeri yang sakit Kontrol rasa nyeri stimuli pada berkurang butuh narkotik dosis nosiseptor tinggi.dan banyak orang lain bahwa klien tidak prosedur dan yang telah berhasil sendiri proses mengatasi kondisi penyakitnya seperti ini. Lakukan pendekatan pengetahuan o Ekspresi wajah secara empati 2. penerimaan hanya dirasakan terhadap kondisi oleh individu 4. mengungkapkan keluhan yang 3. Dorong keluarga yang adaptif. Bantu individu 6. Memberi penguatan klien. memberikan bacaan . . d. Untuk mengurangi tentang pra dan rileks 2. Membentuk rasa saling berhubungan menatap muka saling percaya dan percaya dengan kurang bila bicara.

tinggi kalori dan 3 diet TKTP membantu protein untuk merangsang 4 observasi tanda.luka kering dan menjaga kebersihan 2 Menjaga kebersihan dengan adanya bersih luka operasi dan terhindarnya luka operasi . dalam dan distraksi kuat meregangkan nyeri dengan aktivitas membran pleura dan yang disukai klien menimbulkan nyeri dada pleuritik. . 3 berikan diet cukup kontaminasi . berakibat penurunan kualitas maupun kuantitas nyeri akibat penekanan pada viseral paru. Antitusif mengurangi batuk sehingga menurunkan tekanan 4. resiko . Tujuan : Jangka pendek : tanda ifeksi sekunder tidak terjadi. infeksi sekunder tidak terjadi 4.Beri analgesik dan batuk di otak evaluasi keefektifannya dan obat antibiotik 3 Dengan relaksasi akan mampu mengalihkan rangsangan nyeri serta menghambat respon nyeri pada sistem “ Paint gate kontrol “ di thorakal 7-8 dan daerah spinothalamik sehingga rangsangan nyeri menjadi berkurang. luka kering dan bersih. Anti batuk menekan pusat 3. 4 Untuk memblokir sistem penghataran reseptor H1 sehingga rasa nyeri berkurang.suhu tubuh normal.Kaji vital sign dan skala intra thorakal yang nyeri. pertumbuhan jaringan tanda radang 4 mendeteksi sedini 5 kolaborasi denan tim mungkin terjadinya dokter dlam infeksi 28 . Jangka panjang : Setelah 4 hari tindakan keperawatan . 5 Peningkatan nyeri sering disertai dengan peningkatan vital sign. tanda infeksi 1 rawat luka dengan 1 Menghinari terjadinya terjadinya sekunder tidak tehnik aseptik kontaminasi (infeksi infeksi terjadi 2 anjurkan kien untuk sekunder) berhubungan .

29 .Agar klien dan keluarga siap. 6 Mendeteksi sedini mungkin keadaan penyembuhan luka. mencegah pertumbuha kuman. untuk penyembuhan luka. mengingat tumor paru bukan merupakan penyakit tunggal. . pemberian antibiotik 5 fungsi interdependent 6 kaji keadaan perawat.

menjelaskan pada klien Data Subjektif : 3-09-02 tentang perubahan dari pola Klien mengatakan frekwensi BAK sudah jam 16. 7. PELAKSANAAN DAN EVALUASI Dx Hari/tgl Implementasi Evaluasi . mengobservasi aliran dan kekuatan urine. BUN. klien mulai tampak tenang 3. mendorong klien untuk sebelumnya berkemih tiap 2 – 4 jam dan Data Objektif : bila dirasakan .00 a. dalam P : Intervensi terus dilakukan toleransi jantung bila diindikasikan 4. Dengan menyakinkan 25 . menganjurkan klien minum A : Tujuan tercapai sebagian sampai 3000 ml sehari.00 wib eliminasi . memperkusi / palpasi area supra pubik 5. 6. berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat: antagonis Alfa .adrenergik (prazosin) 2 Selasa. ke p 1 selasa. 1. Jika volume residu urine lebih besar dari 100 cc maka jadwalkan program kateterisasi intermiten. 1. TINDAKAN KEPERAWATAN DAN EVALUASI (SOAP) I. kreatinin. membantu klien menurunkan penyakitnya dan klien mengatakan yang keluhan yang dirasakan saat sudah lalu biarlah berlalu ini. ukur residu urine pasca berkemih. memonitor laboratorium: urinalisa dan kultur. 1 menciptakan hubungan saling Data Subjektif : percaya dan melakukan 3–09 –2002 Klien mulai mengerti tentang keadaan pendekatan secara empati 07. mulai membaik tidakada keluahan seperti 2.

00 gajarkan klien untuk 15.30 S : pasien mengatakan nyeri berkurang. P : Intervensi terus dilakukan d. Kaji vital sign dan skala nyeri. mel A : masalah belum teratasi akukan latihan nafas dalam P : rencana intervensi dipertahankan dan distraksi nyeri dengan aktivitas yang disukai klien 3. tanda-tanda operasi peradangan tidak ada 2 memberikan diet cukup tinggi kalori dan protein A : masalah belum teratasi 3 mengobservasi tanda-tanda 19.00 menjaga kebersihan luka O : luka masih tampak basah. 3–09 –2002 1. men Jam 20. tenang.00 aseptik 4-09–2002 S: - 3. Memberikan penjelasan tenang penyakit klien dan resiko-resiko yang akan terjadi 3 selasa. membantu individu mengepresikan perasaannya. besar c. apa yang telah dijelaskan sebagian b. 4 rabu 1 merawat luka dengan tehnik Jam 20. cefotaxim 3 x 1gr kaltrofen 3 x 1 amp 4. me mberi analgesik dan evaluasi keefektifannya dan obat seperti memberikan obat . membantu individu A : Tujuan tercapai sebagian berhubungan dengan sumber koping yang ada.00 2. meminimalkan nyeri dada pad scrotumnya : skala 2 menganjurkan untuk tidak O : rileks.. bahwa keadaan ini tidak Data Objektif : hanya dirasakan oleh individu 2. terlalu beraktivitas 19.00 P : rencana intervensi dipertahankan radang 4 berkolaborasi denan tim dokter dlam pemberian antibiotik 5 mengkaji keadaan penyembuhan luka 26 . klien mulai menyadari sepenuhnya banyak orang lain yang telah berhasil mengatasi kondisi tentang penyakitnya dapat mengulangi seperti ini. menganjurkan kien untuk 16.

00 wib Data Objektif :  klien tampak bersemangat mendengarkan penjelasan  kegelisahan klien tampak mulai berkurang . luka mulai mengering. Penulis.30 wib Klien mengatakan keluhan nyeri akibat insisi bedah mulai Ansietas berkurang Data Objekktif : Tampak klien sudah mampu untuk mengangkat kaki kiri dan kanan Rabu. klien tampak mulai tenang  klien dapat mengulangi apa yang telah dijelaskan sebagian besar A : masalah teratasi P : intervensi dihentikan selasa. Subhan 010030170 B 30 . 3 september 2002 Data Subjektif : Jam 16.00 wib Klien mengatakan setelah dijelaskan panjang lebar klien Ansietas mengatakan mulai mengerti.00 wib Klien mengatakan BAK sudah lancar dan tapi masih Ansietas mengeluh nyeri akibat bekas insisi operasi Data Objektif :  Klien tak tampak tenang A : masalah teratasi P : intervensi teruskan rabu 4 Agustus 2002 Data Subjektif : Jam 10. 4 Agustus 2002 Data Subjektif : Jam 09. dan siap dioperasi jam 08.3 Agustus 2002 Data Subjektif : Jam 07.30 wib - Ansietas Data Objektif : Tanda-tanda infeksi pada luka bekas operasi tidak ada. TANGGAL CATATAN PERKEMBANGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN Selasa.