You are on page 1of 9

SOCIAL RESPONSIBILITY ACCOUNTING

KEDUDUKAN SOSIAL PERUSAHAAN
Konsep tanggung jawab sosial (social responsibility) perusahaan pertama kali dikemukakan
oleh Howard R. Bowen pada tahun 1953, yang berpendapat bahwa para pelaku bisnis memiliki
kewajiban untuk mengupayakan suatu kebijakan serta membuat keptusan atau melaksanakan
berbagai tindakan yang sesuai dengan tujuan dan nilia-nilai masyarakat. Dan konsep ini telah
memberikan teori dasar bagi pengembangan konsep tanggung jawab sosial (social
responsibility).
Apa yang ditekankan oleh Bowen adalah kewajiban atau tanggung jawab sosial dari
perusahaan berpedoman pada keselarasan dangan tujuan (objectivies) dan nilai-nilai (values)
dari suatu masyarakat. Kedua hal tersebut, yakni keselarasan dengan tujuan dan nilai-nilai
masyarakat merupakan dua proksi dasar tanggung jawab sosial.
Proksi pertama, perusahaan bisa mewujud dalam suatu masyarakat karena adanya dunkungan
dari masyarakat. Oleh sebab itu, perilaku perusahaan dan cara yang digunakan perusahaan
saat menjalankan bisnis harus berada dalam bingkai pedoman yang ditetapkan oleh
masyarakat. Dalam hal in, seperti halnya pemerintah, perusahaan memiliki kontrak sosial
(social contract) yang berisi sejumlah kewajiban dan hak.
Hal ini sejalan dengan teori legitimacy menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya
untukmemastikan bahwa mereka beroperasi dalam bingkai dan norma yang ada
dalammasyarakat atau lingkungan di mana perusahaan berada, di mana mereka berusaha
untuk memastikan bahwa aktifitas mereka (perusahaan) diterima oleh pihak luar sebagai ”sah”
(Deegan: 2004). Bingkai dan norma ini bukan sesuatu yang pasti namun berubah-ubah
sepanjang waktu, maka diharapkan perusahaan responsive terhadap perubahan yang terjadi.
Teori Legitimacy ini berdasar pada pernyataan bahwa terdapat sebuah ”kontrak sosial” antara
perusahaan dengan lingkungan di mana perusahaan tersebut beroperasi. Kontrak sosial adalah
sebuah cara untuk menjelaskan banyaknya ekspektasi yang dimiliki masyarakat mengenai
bagaimana seharsunya perusahaan menjalankan operasinya (Deegan, 2004).
Proksi kedua yang mendasari tanggung jawab sosial adalah bahwa pelaku bisnis bertindak
sebagai agen moral (moral agent) dalam suatu masyarakat. Pengambilan keputusan yang
dilakukan oleh pimpinan dengan posisi puncak diperusahaan senantiasa melibatkan

para ahli dan organisasi akuntansi memberikan definisi berbeda tentang konsep laba yaitu sebagai berikut : Laba merupakan suatu pos dasar dan penting dari ikhtisar keuangan yang merniliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Laba pada umumnya dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan. determinan pada kebijakan pembayaran dividen. Kalau beban melebihi penghasilan. dan unsur prediksi. maka jumlah residualnya merupakan kerugian bersih. pedoman investasi. Kenaikan kemakmuran yang dimiliki atau dikuasai suatu entitas 2. tergantung dari siapa yang menilai dan bagaimana tujuan penilaiannya tersebut. dapat disimpulkan bahwa laba secara konseptual memiliki karakteristik umum sebagai berikut : 1. (Belkaoui : 1993) Laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi. (Ikatan Akuntan Indonesia : 2007) Dari berbagai definisi laba di atas. biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi. Sofyan Syafri H : 2004) Laba adalah pengambilan atas investasi kepada pemilik.pertimbangan nilai atau paling tidak menggambarkan nilai-nilai yang dimiliki oleh manajemen puncak. Skousen : 2009) Laba merupakan jumlah residual yang tertinggal setelah semua beban (termasuk penyesuaian pemeliharaan modal. kalau ada) dikurangkan pada penghasilan. dan pengambilan keputusan. KONSEP MODAL DAN LABA Laba merupakan suatu konsep akuntansi yang memiliki berbagai sudut pandang. Oleh karena itu. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi awalnya. (Stice. Perubahan terjadi dalam suatu periode sehingga harus diidentifikasi kondisi kemakmuran awal dan kemakmuran akhir . (Commite On Terminology.

atau apapun yang dapat dinilai dengan uang. Pengukur prestasi atau kinerja management 3. modal pemegang saham. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil (fairness). investasi. yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu. Dasar pembagian kompensasi dan bonus 7. Dasar penghitungan deviden 6. Etika bisnis mengatur tentang kebiasaan dan perilaku bisnis yang jujur dan berintegritas sedangkan lingkungan merupakan . perusahaan. sumber daya ekonomik. didistribusi. Dasar penentuan besarnya pengenaan pajak 5. 3. Dasar peramalan kondisi perusahaan di masa yang akan datang ETIKA BISNIS DAN LINGKUNGANNYA Secara sederhana yang dimaksut dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis. Indikator efisiensi penggunaan modal atau biaya 2. kekayaan. Kemakmuran dapat berupa aset bersih perusahaan. sesuai dengan hukum yang berlaku (legal) tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat. asalkan kemakmuran awal dipertahankan 4. atau ditarik oleh entitas yang menguasai kemakmuran. Perolehan laba perlu diketahui karena merupakan informasi penting dalam suatu laporan keuangan. industri dan juga masyarakat. Perubahan dapat dinikmati. Alat motivasi bagi management dalam pengelolaan perusahaan 4. Pedoman dalam menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan 8. Laba yang secara umum dihitung berdasarkan selisih lebih pendapatan dan biaya diharapkan dapat digunakan sebagai berikut : 1.

baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis.salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu. dengan kata lain bisnis merupakan kegiatan pengelolaan sumber-sumber ekonomi yang disediakan oleh lingkungan. Lingkungan disini dibagi menjadi Lingkungan intern dan ekstern. dan konsumen. Secara umum lingkungan bisnis dapat kita kelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal. sosial politik. Hubungan etika bisnis dan lingkungan intern merupakan bentuk pengendalian tindakan atau perilaku bisnis terhadap lingkungan disekitar bisnis. Di lain pihak lingkungan bisnis merupakan seluruh karakter dan faktor yang dapat mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak terhadap bisnis. Di samping itu bisnis tidak terlepas dengan adanya faktor-faktor lingkungan yang mendukung maupun yang menghambat atas tujuan yang ingin dicapai bisnis. pelaku bisnislah yang harus mengikuti ”kemauan” lingkungan ekstern tersebut. Lingkungan intern meliputi tenaga kerja. agar kegiatan bisnis bisa ”selamat” dari pengaruh lingkungan tersebut. Oleh karena itu interaksi antara bisnis dan lingkungannya atau sebaliknya menjadi tema pencermatan yang cukup penting dan sangat urgen bagi kegiatan bisnis terhadap masyarakat.dan sosial budaya. Lingkungan Eksternal adalah semua faktor atau pihak-pihak atau variable dinamis yang berada di luar bisnis atau perusahaan. dan merupakan sub system masyarakat yang sudah tentu dituntut untuk berperilaku harmoni . Lingkungan intern ini dimungkinkan untuk dikendalikan oleh para pelaku bisnis. Sehingga eksistensi bisnis layak diterima atau memberikan pengaruh tertentu yang positif atau negatif terhadap lingkungannya. Bisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dan berkepentingan dengan lingkungan. Etika bisnis berkaitan dengan lingkungan karena bisnis berada dilingkungan. Lingkungan makro yaitu demografi. sehingga dapat diarahkan sesuai dengan keinginan perusahaan sedangkan lingkungan ekstern yaitu lingkungan yang berada diluar kegiatan bisnis yang tidak mungkin dapat dikendalikan begitu saja oleh para pelaku bisnis esuai dengan keinginan perusahaan. Lingkungan extern yang mempengaruhi etika dalam bisnis yaitu lingkungan mikro dan lingkungan makro. Etika bisnis dipengaruhi oleh lingkungan dan lingkungan juga dipengaruhi oleh etika bisnis. publik. Jika perusahaan didirikan di suatu daerah atau Negara di dalam suatu system masyarakat. lingkungan mikro yaitu pemerintah. peralatan dan lain-lain. maka praktis perusahaan ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat ini. Sebaliknya bisnis dapat secara langsung maupun tidak dapat mempengaruhi atau menciptakan pengaruh terhadap lingkungannya. pesaing.

Unsur Budaya atau Kultur di masyarakat 3. TRIPLE BOTTOM LINE . Unsur Pendidikan. Unsur Geografik 8. Dan dalam banyak hal lingkunga eksternal ini merupakan variable strategis dan memiliki dimensi jangka panjang dan secara strategis sering menentukan peluang maupun tantangan yang akan dihadapi bisnis. Unsur Ekonomi Umum 6. Unsur-unsur tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa unsur : 1.lebih sering bisnis mengikuti dan menyesuaikan terhadap perubahan atau dinamika dari variable eksternal ini. variable atau atribut-atribut yang melekat pada variable atau faktor tersebut yang berada di lingkungan bisnis dan cukup langsung mempengaruhi bisnis. Unsur Hukum yang berlaku di masyarakat 2. Variabel atau faktor-faktor lingkungan eksternal ini relatife sulit dapat dikendalikan oleh bisnis. Sistem Manajemen. Alat-alat. Unsur Sosial atau Masyarakat 7. Modal. Lingkungan Internal merupakan sejumlah faktor. Dalam interaksinya mereka secara terorganisasi cepat dapat dikendalikan oleh manajemen perusahaan dan secara langsung dapat dipengaruhi. Unsur Agama atau Kepercayaan 4. sarana dan prasarana yang tersedia di dalam perusahaan.dengan semua unsur di dalam masyarakat. Unsur Politik Pemerintahan 5. Faktor/pihak yang bersifat Dinamis tersebut jelas akan ada pengaruhnya baik bersifat langsung mapun tidak langsung terhadap bisnis. karena perusahaan memiliki Bargaining Power yang cukup kuat untuk mempengaruhi variable-variabel ini sesuai dengan sasaran dan tujuan perusahaan. antara lain yaitu Tenaga Kerja. Tingkat pengendaliannya relative lebih mudah dilakukan.

dan dengan berkembangnya konsep CSR tersebut maka banyak teori yang muncul yang diungkapkan mengenai CSR ini. namun tidak sedikit pendapat yang meragukannya. yaitu berupa: finansial. perusahaan juga mesti memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkonstribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet). Dalam gagasan tersebut. Selain mengejar keuntungan (profit). haruslah memperhatikan “3P”. Konsep CSR tampaknya dapat memberikan suatu perubahan yang baru dalam dunia bisnis. Selain mengejar profit. 2007). Banyak orang berpendapat bahwa sebuah perusahaan yang kini telah meninggalkan konsep one line reporting dan mulai menggunakan tripple line reposrting harus diwaspadai dengan ketat karena CSR pada saat itu merupakan suatu trend yang mungkin saja diikuti perusahaan hanya untuk meningkatkan daya saingnya. Melalui buku tersebut. CSR dipandang hanyalah dalih perusahaan untuk menunjukkan . Perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak hanya pada single bottle lines yaitu. Salah satu yang terkenal adalah teori triple bottom line dimana teori ini memberi pandangan bahwa jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya. maka perusahaan tersebut harus memperhatikan “3P”. tetapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines. sosial dan lingkungan. yaitu aspek ekonomi yang direfleksikan dalam kondisi financial-nya saja. nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet) (Yusuf wibisono. Kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan (sustainable development). Inti dari CSR adalah dijalankan beyond compliance to law (melampui kepatuhan terhadap hukum). Keberlanjutan perusahaan akan terjamin apabila korporasi juga turut memperhatikan demensi sosial dan lingkungan hidup. namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya.Dewasa ini konsep CSR semakin berkembang. perusahaan tidak lagi diharapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line. Elkington memberi pandangan bahwa perusahaan yang ingin berkelanjutan.

citra baik ke publik sehingga beberapa tindakan kotor dalam perusahaan dapat tertutupi oleh kegiatan CSR. karena inilah bentuk tanggung jawab ekonomi yang paling esensial terhadap pemegang saham. karena dukungan masyarakat sangat diperlukan bagi keberadaan. perusahaan memang seharusnya tetap giat menyelenggarakan kegiatan CSR sebagai langkah pastinya dalam bertanggungjawab atas keuntungan yang ia dapatkan dari lingkungan sosialnya. 2007). Planet (Lingkungan) . 2007). menghemat waktu proses dan pelayanan. mengurangi aktivitas yang tidak efisien. Pelaksanaan CSR yang baik dan tulus dari perusahaan akan tentunya dapat menciptakan suatu perkembangan yang terus-menerus bagi perusahaan dan tentunya tidak merugikan pihak sosial di sekitar perusahaan tersebut.Peningkatan produktivitas bisa diperoleh dengan memperbaiki manajemen kerja mulai penyederhanaan proses. dan perkembangan perusahaan. Tidak heran bila fokus utama dari seluruh kegiatan dalam perusahaan adalah mengejar profit dan mendongkrak harga saham setinggi-tingginya. Aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efiisensi biaya. terlepas dari upaya pencitraan melalui CSR. People (Masyarakat Pemangku Kepentingan) People atau masyarakat merupakan stakeholders yang sangat penting bagi perusahaan. Sedangkan efisiensi biaya dapat tercapai jika perusahaan menggunakan material sehemat mungkin dan memangkas biaya serendah mungkin (Yusuf wibisono. Maka dari itu perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. kelangsungan hidup. Karena itu perusahaan perlu untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat menyentuh kebutuhan masyarakat (Yusuf wibisono. Namun. Profit (Keuntungan) Profit atau keuntungan menjadi tujuan utama dan terpenting dalam setiap kegiatan usaha. Dan perlu juga disadari bahwa operasi perusahaan berpotensi memberi dampak kepada masyarakat.

Hal ini disebabkan karena tidak ada keuntungan langsung yang bisa diambil didalamnya. Karena semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup selalu berkaitan dengan lingkungan misalnya air yang diminum. menggambarkan akuntansi sosial sebagai suatu pernyataan tujuan.Planet atau Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang dalam kehidupan manusia. Padahal dengan melestarikan lingkungan. Karena keuntungan merupakan inti dari dunia bisnis dan itu merupakan hal yang wajar. semuanya berasal dari lingkungan. Sementara itu Belkoui dalam Harahap (1993) membuat suatu terminologi Socio Economic Accounting (SEA) yang berarti proses pengukuran. terutama dari sisi kesehatan. pengaturan dan pengungkapan dampak pertukaran antara perusahaan dengan lingkungannya. Lee D Parker (1986) dalam Arief Suadi (1988) menggunakan istilah Sosial Responsibility Accounting. 2007). SOCIETAL ACCOUNTING Istilah Akuntansi Sosial (Social Accounting) sebenarnya bukan merupakan istilah baku dalam akuntansi. struktur pelaporan dan komunikasi informasi kepada pihak–pihak yang berkepentingan. Maka. Namun sebagaian besar dari manusia masih kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. . yang merupakan cabang dari ilmu akuntansi. sehingga secara kongkrit informasi tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. serangkaian konsep sosial dan metode pengukurannya. udara yang dihirup dan seluruh peralatan yang digunakan. kenyamanan. Hadibroto (1988). manusia justru akan memperoleh keuntungan yang lebih. Para pakar akuntansi membuat istilah masing-masing untuk menggambarkan transaksi antara perusahaan dengan lingkungannnya. Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi (1988) mempergunakan istilah Social Accounting dan mendefinisikannya sebagai proses pemilihan variabel-variabel yang menentukan tingkat prestasi sosial perusahaan baik secara internal maupun eksternal. Hendriksen (1994). Bambang Sudibyo (1988) dan para pakar akuntansi di Indonesia menggunakan istilah Akuntansi pertanggung jawaban sosial (APS) sebagai akuntansi yang memerlukan laporan mengenai terlaksananya pertanggungjawaban sosial perusahaan. Pernyataan Hendriksen (1994) tersebut memberikan gambaran tentang hubungan mendasar antara konsep akuntansi sosial dengan informasi yang dihasilkan. di samping ketersediaan sumber daya yang lebih terjamin kelangsungannya (Yusuf wibisono. manusia sebagai pelaku industri hanya mementingkan bagaimana menghasilkan uang sebanyak-banyaknya tanpa melakukan upaya apapun untuk melestarikan lingkungan.

dan (4) sistem informasi internal dan eksternal atas penilaian terhadap sumber-sumber daya perusahaan dan dampaknya secara sosial ekonomi. yaitu Akuntansi sosial berkaitan erat dengan masalah : (1) Penilaian dampak sosial dari kegiatan entitas bisnis. . pada dasarnya definisi yang diberikan oleh para pakar akuntansi mengenai akuntansi sosial memiliki karakteristik yang sama. sebagaimana yang dikemukakan oleh Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi (1988). (2) mengukur kegiatan tersebut (3) melaporkan tanggungjawab sosial perusahaan.Berdasarkan beberapa uraian diatas.