You are on page 1of 81

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Sdr.

N
DENGAN MASALAH UTAMA HALUSINASI PENDENGARAN
DIRUANG DEWA RUCI RSJD Dr.AMINO GONDOHUTOMO

Disusun Oleh :
Siti Listiyowati

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG
2015

1
LEMBAR PENGESAHAN

TUGAS SEMINAR
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Sdr. N
DENGAN PERUBAHAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI PENDENGARAN
RUANG DEWA RUCI DI RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

Semarang, Februari 2015

Mengetahui,

CI Ruang Dewa Ruci Pembimbing Akademik
……………….. ..……………………

DAFTAR ISI
2
Halaman Judul...............................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................1
A. Latar Belakang..................................................................................................1
B. Tujuan...............................................................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORI.........................................................................................4
A. Proses Terjadinya Masalah..................................................................................
1. Pengertian...................................................................................................4
2. Tanda Gejala..............................................................................................4
3. Penyebab dan Akibat..................................................................................5
4. Pohon Masalah...........................................................................................5
5. Daftar Masalah Keperawatan.....................................................................6
6. Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji...................................8
7. Diagnosa Keperawatan..............................................................................8
8. Rencana Tindakan Keperawatan..............................................................11

BAB III TINJAUAN KASUS....................................................................................27
A. Pengkajian.......................................................................................................27
B. Analisa Data....................................................................................................35
C. Daftar Masalah Keperawatan..............................................................................
D. Pohon Masalah....................................................................................................
E. Diagnosa Keperawatan.......................................................................................
F. Tindakan Keperawatan.......................................................................................
G. Implementasi dan Evaluasi.................................................................................

BAB IV PEMBAHASAN...............................................................................................

BAB V PENUTUP......................................................................................................47
A. Kesimpulan.....................................................................................................47
B. Saran...............................................................................................................47
LAMPIRAN SP (STRATEGI PELAKSANAAN).........................................................
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................46

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan jiwa
bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal yang di
butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta
mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagai mana adanya.
Serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain (Menkes, 2005).
Menurut Sekretaris Jendral Dapertemen Kesehatan (Sekjen Depkes), H. Syafii
Ahmad, kesehatan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara
termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi
memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyarakat. Di sisi lain,
tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyusuaikan dengan
berbagai perubahan, serta mengelola konflik dan stres tersebut (Diktorat Bina Pelayanan
Keperawatan dan Pelayanan Medik Dapertemen Kesehatan, 2007).
Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak
permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.
Pada study terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara
berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat pengobatan apapun
pada tahun utama (Hardian, 2008). Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan dengan masalah kesehatan lain yang ada
dimasyarakat.
Dari 150 juta populasi orang dewasa Indonesia, berdasarkan data Departemen
Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional.
Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat
kurangnya layanan untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang semakin berat
mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya kian
meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta penduduk Indonesia mengalami
gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008).
Dari hasil catatan medik terhadap kunjungan pasien di ruang rawat inap Rumah
Sakit Jiwa Amino Gondohutomo semarang ditemukan rata-rata per-bulan selama tahun
2003 pasien yang mengalami Schizophrenia Tak Terinci, dengan gejala halusinasi.

1
Menurut Proff. Dr. Azrul Azwar MPH, DirJen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, World
Health Organization (WHO) memperkirakan tidak kurang dari 450 juta penderita
gangguan jiwa ditemukan didunia, bahkan berdasarkan data dari Studi World Bank di
beberapa negara menunjukkan 8,1 % dari kesehatan global masyarakat (Global Burden
Disease) disebabkan oleh masalah gangguan jiwa yang menunjukkan dampak lebih besar
dari TBC (7,2%), kanker (5,8%), jantung (4,4%) dan malaria (2,6%)
(www.kbi.gemari.or.id : 11 Januari 2001, diambil tanggal 6 februari 2017) Gangguan-
ganguan tersebut menunjukkan seperti klien berbicara sendiri, mata melihat kekanan-
kekiri, jalan mondar-mandir, seiring tersenyum, sendiri dan sering mendengar suara-suara.
Sedangkan halusinasi adalah merupakan ganguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa
ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang di alami suatu persepsi melaui panca
indra yaitu persepsi palsu (Maramis, 2005).
Berdasarkan data hasil catatan Rekam Medik kelompok tertarik untuk menulis
makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Halusinasi “

B. Tujuan
Adapun tujuanya adalah sebagai berikut :
1. Tujuan umum :
Mendapatkan gambaran untuk menerapakan asuhan keperawatan pada pasien ganguan
jiwa sesuai dengan masalah utama gangguan persepsi sensori halusinasi.
2. Tujuan khusus :
a. Mahasiswa dapat mengkaji, mengenal masalah utama dari gangguan jiwa halusinasi.
b. Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala yang terpenting dari gangguan jiwa
dengan masalah utama halusinasi.
c. Mahasiswa dapat memahami penanganan dari gangguan jiwa masalah utama
halusinasi.
d. Mahasiswa dapat menerapkan asuhan keperawatan dari gangguan jiwa maslah utama
halusinasi.
e. Mahasiswa dapat mengevaluasi, mendokumentasikan sebagai tolak ukur guna
menerapkan asuhan keperawatan gangguan masalah utama halusinasi berikutnya.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien merasa
melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu
rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2005).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart,
2007).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin,
barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya rangsang
apapun (Maramis, 2005).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari
suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien berespon
terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007).

2. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala seseorang yang mengalami halusinasi adalah :
a. Tahap 1 (comforting)
1) Tertawa tidak sesuai dengan situasi
2) Menggerakkan bibir tanpa bicara

3
3) Bicara lambat
4) Diam dan pikiranya dipenuhi pikiran yang menyenangkan
b. Tahap 2 (condemning)
1) Cemas
2) Konsentrasi menurun
3) Ketidakmampuan membedakan realita
c. Tahap 3 (controlling)
1) Pasien cenderung mengikuti halusinasi
2) Kesulitan berhubungan dgn orla
3) Perhatian dan konsentrasi menurut
4) Afek labil
5) Kecemasan berat ( berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk)
d. Tahap 4 (consquering)
1) Pasien mengikuti halusinasi
2) Pasien tidak mampu mengendalikan diri
3) Tidak mampu mengikuti perintah nyata
4) Beresiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

3. Penyebab dan Akibat
a. Penyebab
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
Faktor predisposisi
1) Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon
neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh
penelitian-penelitian yang berikut:
a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih
luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan
limbik berhubungan dengan perilaku psikotik
b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan
dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan
terjadinya skizofrenia.
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya
atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan
skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian
depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak
tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan

4
kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam
rentang hidup klien.
3) Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:
kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan
kehidupan yang terisolasi disertai stress.
Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya
hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan
tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat
mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang
diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan
untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku
3) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

b. Akibat
Akibat dari perubahan sensoori persepsi halusinasi adalah resiko mencederai diri
sendiri,orang lain dan lingkungan (keliat, B.A, 2006). Menurut Townsend, M.C suatu
keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat beresiko melakukan
tindakan kekerasan pada diri sendiri dan orang lain dapat menunjukkan perilaku :
Data Subyektif :
1) Mengungkapkan, mendengar atau melihat objek yang mengancam
2) Mengungkapkan perasaan takut, cemas dan khawatir
Data Obyektif :
1) Wajah tegang, marah
2) Mondar-mandir
3) Mata melotot, rahang mengatup
4) Tangan mengepal
5) Keluar keringat banyak
6) Mata merah

5
4. Pohon Masalah
Resiko Mencederai Diri, orang lain dan lingkungan

Perubahan sensori persepsi : Halusinasi

Isolasi Sosial : Menarik Diri

5. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan sensori persepsi : Halusinasi Pendengaran
b. Isolasi sosial : Menarik diri
c. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

6. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
a. Masalah keperawatan
1) Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
2) Perubahan sensori perseptual : halusinasi
3) Isolasi sosial : menarik diri
b. Data yang perlu dikaji
1) Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Data Subyektif :
 Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
 Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah.
 Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Objektif :
 Mata merah, wajah agak merah.
 Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri/orang lain.
 Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
 Merusak dan melempar barang-barang.

2) Perubahan sensori perseptual : halusinasi

6
Data Subjektif :
 Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak
berhubungan dengan stimulus nyata
 Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus
yang nyata
 Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
 Klien merasa makan sesuatu
 Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
 Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan
didengar
 Klien ingin memukul/melempar barang-barang
Data Objektif :
 Klien berbicara dan tertawa sendiri
 Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
 Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk
mendengarkan sesuatu
 Disorientasi

3) Isolasi sosial : menarik diri
Data Subyektif :
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data Obyektif :
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup, Apatis, Ekspresi
sedih, Komunikasi verbal kurang, Aktivitas menurun, Posisi janin pada saat
tidur, Menolak berhubungan, Kurang memperhatikan kebersihan

7. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan sensori persepsi : halusinasi
b. Isolasi sosial : menarik diri

7
8. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa I : perubahan sensori persepsi halusinasi
Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk
kelancaran hubungan interaksi seanjutnya
Tindakan :
1) Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik dengan cara :
a) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b) Perkenalkan diri dengan sopan
c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d) Jelaskan tujuan pertemuan
e) Jujur dan menepati janji
f) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g) Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
b. Klien dapat mengenal halusinasinya
Tindakan :
1) Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
2) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya: bicara dan
tertawa tanpa stimulus memandang ke kiri/ke kanan/ kedepan seolah-
olah ada teman bicara
3) Bantu klien mengenal halusinasinya
a) Tanyakan apakah ada suara yang
didengar
b) Apa yang dikatakan halusinasinya
c) Katakan perawat percaya klien
mendengar suara itu , namun perawat
sendiri tidak mendengarnya.
d) Katakan bahwa klien lain juga ada
yang seperti itu
e) Katakan bahwa perawat akan
membantu klien
4) Diskusikan dengan klien :

8
a) Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi
b) Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang,
sore, malam)
5) Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi
(marah, takut, sedih, senang) beri kesempatan klien mengungkapkan
perasaannya
c. Klien dapat mengontrol halusinasinya
Tindakan :
1) Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi
( tidur, marah, menyibukkan diri dll)
2) Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat ber pujian
3) Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi:
a) Katakan “ saya tidak mau dengar”
b) Menemui orang lain
c) Membuat jadwal kegiatan sehari-hari
d) Meminta keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika klien tampak
bicara sendiri
4) Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasinya secara bertahap
5) Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih
6) Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil
7) Anjurkan klien mengikuti TAK, orientasi, realita, stimulasi persepsi
d. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol
halusinasinya
Tindakan :
1) Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi
2) Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat kunjungan
rumah):
a) Gejala halusinasi yang dialami klien
b) Cara yang dapat dilakukan klien dan keuarga untuk memutus halusinasi
c) Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah, diberi
kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama
d) Beri informasi waktu follow up atau kenapa perlu mendapat bantuan :
halusinasi tidak terkontrol, dan resiko mencederai diri atau orang lain
e. Klien memanfaatkan obat dengan baik

9
Tindakan :
1) Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat
minum obat
2) Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya
3) Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping
minum obat yang dirasakan
4) Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi
5) Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.

Diagnosa II : isolasi sosial menarik diri
Tujuan umum : klien tidak terjadi perubahan sensori persepsi: halusinasi
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1) Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, memperkenalkan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kesepakatan dengan jelas tentang topik, tempat dan waktu.
2) Beri perhatian dan penghaargaan: temani klien walau tidak menjawab.
3) Dengarkan dengan empati: beri kesempatan bicara, jangan terburu-buru,
tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien.
b. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan :
1) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
2) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik
diri atau mau bergaul
3) Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta
penyebab yang muncul
4) Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
c. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan
orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang
lain.
Tindakan :
1) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain

10
a) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan
berhubungan dengan prang lain
b) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
c) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain
2) Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain
a) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan orang lain
b) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
c) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain
d. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan :
1) Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
2) Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :
 K–P
 K – P – P lain
 K – P – P lain – K lain
 K – Kel/Klp/Masy
3) Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
4) Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
5) Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu
6) Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
7) Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
e. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah
berhubungan dengan orang lain
Tindakan :
1). Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain
2). Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan orang lain
3). Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat
berhubungan dengan orang lain
f. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga

11
Tindakan :
1) Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
 Salam, perkenalan diri
 Jelaskan tujuan
 Buat kontrak
 Eksplorasi perasaan klien
2) Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
 Perilaku menarik diri
 Penyebab perilaku menarik diri
 Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
 Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
3) Dorong anggota keluarga untukmemberikan
dukungan kepada klien untuk berkomunikasi
dengan orang lain
4) Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan
bergantian menjenguk klien minimal satu kali
seminggu
5) Beri reinforcement positif atas hal-hal yang telah
dicapai oleh keluarga.

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

12
PADA Sdr. N DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI
HALUSINASI PENDENGARANDI RUANG DEWA RUCI
RSDJ Dr.AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

A. PENGKAJIAN
I. IDENTITAS KLIEN
a. Identitas Klien
Nama : Sdr. N
Umur : 19 tahun.
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : MTS
Pekerjaan : Kerja Bangunan
Alamat : sumberejo RT 5/3 Gunung Wungkal
Pati
Status Perkawinan : Belum menikah
TMRS : 31 Januari 2017
Tanggal Pengkajian : 3 februari 2017
No RM : 00116680
Diagnosa Medis : Halusinasi Pendengaran

b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. L
Umur : 26 tahun
Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Sumberejo RT 5/3 Gunung Wungkal
Pati
Hubungan dengan Pasien : Saudara Kandung
II. ALASAN MASUK
Pasien berbicara sendiri, tertawa sendiri, sulit tidur, badan
gemetar kaku seperti orang kedinginan.

III. FAKTOR PREDISPOSISI
Pasien mengatakan sebelum masuk RS pasien sering mengeluh
sakit kepala, sakit perut dan dada. ± 1 bulan yang lalu pasien mulai
tertawa sendiri, jika bicara tidak nyambung, malam sulit tidur,

13
mondar-mandir, mau makan dan mandi jika disuruh kemudian
keluarga membawa pasien ke RSJ.
1. Sebelumnya pasien pernah berobat jalan di RSU Soewondo Pati 2x
dengan obat Nopres 20 mg, Risperidon 2mg tetapi belum membaik
2. Pasien mengatakan bahwa di dalam keluarga (ayah dan kakak)
sebelumnya ada yang pernah mengalami gangguan jiwa/hal yang
sama dengan pasien.
3. Pasien mengatakan ± 2 bulan yang lalu jatuh dari pohon, semenjak
itu pasien sering merasa sakit kepala.

IV. PEMERIKSAAAN FISIK
a. Tanda-tanda Vital :
1. Tekanan Darah : 110/60 mmHg
2. Nadi : 80 x/menit.
3. Suhu : 36,5 oC.
4. RR : 20 x/menit.
b. Ukur
1. Tinggi Badan : 163 cm
2. Berat Badan : 51 kg.
c. Pemeriksaan Head to toe :
1. Kepala Mesocephal, rambut tidak terdapat
2. Mata
uban,sedikit kotor.
Simetris, reflek cahaya baik, sklera
3. Hidung
4. Mulut anikterik, konjungtiva tidak anemis.
5. Telinga Tidak terdapat polip, tidak ada penumpukan
sekret
6. Leher
Tidak ada stomatitis, terdapat caries gigi,
bau mulut.
7. Dada Simetris, lubang telinga ada, tidak keluar
(thorax) cairan dari telinga, pendengaran baik, tdk
menggunakan alat bantu pendengaran.
Tidak ada pembengkakan pada pada kelenjar
tiroid.

I : simestris antara kanan dan kiri gerakan
sama.
Pa :tidak terdapat nyeri tekan, taktil fremitus
8. Jantung
ka:ki getaran sama

14
Pe : Sonor
Au : Bunyi nafas vesikuler, wheezing dan
ronkhi tidak terdengar RR: 20x/menit.

I : Simetris
Pa : Ictus kordis teraba pada ICS 4,5
Pe : Pekak
9. Abdom Au: Bunyi jantung reguler (lup,dup).
en
I : simetris,tidak ada bekas luka,tidak
asistes.
Au: Terdengar bising usus 12x/menit.
Pa : Tidak terdapat nyeri tekan,tidak ada
pembesaran limfa.
10. Gen
Pe : Timpani
etalia
Jenis kelamin laki-laki, tidak terpasang
11. Ekst
kateter.
ermitas
a. Atas
b. Bawah Tidak terdapat oedema,turgor kulit baik.
Terdapat oedema, turgor kulit baik, tidak
terdapat varises.

d. Keluhan Fisik : Pasien mengatakan pegal-pegal pada badan

V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

15
Keterangan :

: Laki-laki : Pasien

: Perempuan : Keturunan

: Menikah : Tinggal serumah

: memiliki Riwayat yang sama dgn pasien

2. Konsep Diri
a. Gambaran diri
Pasien mengatakan menganggap tubuhnya biasa saja, pasien
menerima kondisinya apa adanya.
b. Identitas diri
Pasien seorang laki-laki umur 19 tahun, belum menikah,
berpendidikan terakhir MTS, beralamat di Sumberejo Pati.
c. Peran
Pasien adalah anak kedua dari dua bersaudara, bekerja
sebagai kerja bangunan.
d. Ideal diri
Pasien ingin sembuh dan segera berkumpul dengan
keluarganya.
e. Harga diri
Pasien mengatakan malu dengan kondisinya saat ini, pasien
jika sudah pulang pasien ingin kembali berkumpul dengan
keluarga dan bertemu dengan teman-temannya.
3. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti
Pasien mengatakan paling dekat dengan kakaknya karena
sering kerja bareng dan kadang main bareng.
b. Peran serta dalam kegiatan berkelompok/masyarakat
- Pasien mengatakan hubungan dengan tetangganya baik,
tetapi pasien tidak pernah mengikuti kegiatan di daerah
tempat tinggalnya.

16
- Selama di RSJ (di ruang Dewa Ruci) pasien berkumpul
dengan teman-temannya tetapi hanya diam dan tidak
pernah mengobrol.
c. Hambatan hubungan dengan orang lain
Pasien merasa malas bergaul dengan orang lain, pasien sering
menanggapi halusinasinya yang menyuruhnya untuk pergi.

I. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Tidak Rapi : Pasien berpenampilan menggunakan baju RSJ, cara
berpakaian pasien kurang rapi dalam penataannya,
pasien jarang ganti baju.
2. Pembicaraan
Lambat : Pasien menjawab seperlunya saja dengan nada berbicara
lambat.

3. Aktivitas Motorik
Lesu : pasien sering menyendiri dan diam, ADL di arahkan oleh
petugas.
4. Alam Perasaan
Khawatir : Pasien mengatakan khawatir jika mendengar suara-
suara itu datang lagi.
5. Afek
Ansietas : Pasien bisa bersedih dan tersenyum jika diberi stimulus.
6. Interaksi selama wawancara
Kooperatif : Pasien menjawab dan mengikuti pembicaraan selama
interaksi.
7. Persepsi
Pendengaran : Pasien mengatakan sering mendengar bisikan-
bisikan yang menyuruhnya pergi, respon pasien hanya mondar-
mandir ketika mendengar bisikan itu karena pasien tidak mau
menuruti bisikan itu, tetapi bisikan itu terus mengikuti.
8. Proses fikir
Sirkumtansial : pasien bicara seperlunya saja.
9. Isi pikir
Obsesi : bisikan selalu muncul meskipun pasien selalu berusaha
menghilangkannya.
10. Tingkat kesadaran
Pasien bisa menyebutkan waktu, tempat, orang secara benar.

17
11. Memori
Pasien mengatakan ingat semua kegiatan yang terjadi sebelum
sampai ke rumah sakit.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Pasien mampu berhitung dalam bentuk sederhana.
13. Kemampuan Penilaian
Pasien mengatakan menyadari bahwa suara itu hanya suara
palsu, namun pasien merasa terganggu dengan suara bisikan-
bisikan itu.
14. Daya Tilik
Menyingkari penyakit yang di derita : Pasien mengatakan bahwa
dirinya tidak sakit.

II. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG
1. Makan
Bantuan minimal : pasien dapat memenuhi kebutuhan
makannya dengan mandiri.
2. BAB/BAK
Pasien dapat melakukan BAB/BAK sendiri tanpa bantuan orang
lain.
3. Mandi
Pasien dapat memenuhi kebutuhan mandi dengan mandiri
tanpa bantuan orang lain.
4. Berpakaian/berhias
Pasien bisa berpakaian berhias dengan mandiri.
5. Istirahat/tidur
a. Pasien kadang tidur siang ± 1 jam 30 menit, kemudian tidur
malam dari jam 21.00 WIB - 04.00 WIB
b. Sebelum tidur pasien membersihkan badan dan tempat tidur,
setelah bangun tidur pasien bergegas menunaikan ibadah
sholat.
6. Penggunaan obat
Pasien bisa minum obat dengan mandiri
7. Pemeliharaan Kesehatan
Pasien dimotivasi untuk terus berlatih dengan latihan yang
sudah diberikan untuk menghilangkan halusinasinya.
8. Kegiatan di dalam rumah :
a. Pasien mampu mempersiapkan makan secara mandiri
b. Pasien mampu menjaga kerapian rumah secara mandiri

18
c. Pasien mampu mencuci pakaian secara mandiri
d. Pasien mampu bekerja kembali
9. Kegiatan di Luar Rumah :
Pasien mampu keluar rumah dan bersosialisasi dengan
masyarakat sekitar.

III. MEKANISME KOPING
Adaptif :
a. Mampu menyelesaikan masalah
b. Tehnik relaksasi
c. Aktivitas konstruktif
d. Olahraga
Maladaptif :
a. Reaksi lambat
b. Menghindar
c. Mencederai diri.

IV. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
1. Masalah dengan dukungan kelompok :
Awal pasien masuk rumah sakit, pasien sering menyendiri tapi sekarang pasien
sudah mulai melibatkan diri dalam aktivitas kelompok.
2. Masalah Berhubungan dengan
Lingkungan.
Awal pasien masuk, pasien harus diarahkan oleh perawat dalam berinteraksi
dengan lingkungan.
3. Masalah dengan pendidikan
Pasien lulusan MTS
4. Masalah dengan pekerjaan
Pasien bekerja sebagai kuli bangunan
5. Masalah dengan perumahan
Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan kakaknya. Di dalam keluarga pasien
mampu berinteraksi.
6. Masalah Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhannya, pasien dipenuhi oleh kakaknya yang bekerja
dan kadang bisa memenuhi kebutuhan sendiri.
7. Masalah Dengan Pelayanan Kesehatan
Pasien dan keluarga selalu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang telah
disediakan.
8. Masalah Lainnya :

19
Pasien merasa bosan selama di Rumah Sakit Jiwa dan pasien selalu minta
pulang.

V. PENGETAHUAN KURANG TENTANG
Pasien tidak mengetahui tentang penyakitnya, pasien tidak
mengetahui tanda dan gejala kekambuhan, obat yang diminum
dan cara menghindari kekambuhan. Pemahaman tentang sumber
koping adaptif kurang.

VI. ASPEK MEDIK
Diagnosa Medik :
Gangguan persepsi sensori : halusinasi
pendengaran
Terapi Medik :
a. Alprozola (2x0,25 mg)
b. Onzapin (1x10 mg)
c. Fluoxetin (1x20 mg)

B. ANALISA DATA
No Data Fokus Masalah

20
1 Ds :
pasien mengatakan sering mendengar
Halusinasi Pendengaran
bisikan-bisikan yang menyuruh dia pergi.
Do :
pasien terlihat jalan mondar-mandir dan
tampak khawatir jika bisikan itu muncul
kembali.
2 Ds :
Pasien mengatakan selama di rumah pasien
jarang berkomunikasi dengan tetangga.
Pasien mengatakan selama di rumah sakit
Menarik Diri
jarang berinteraksi dengan pasien lainnya.
Do :
Pasien tampak sering menyendiri
Pasien hanya mampu mengenal 2 teman
dalam 1 kamar.
3 Ds :
Pasien mengatakan jika mendengar suara
bisikan-bisikan itu, pasien mondar-mandir dan
Resiko menciderai diri
kadang marah-marah.
sendiri, orang lain dan
Do :
Pasien tampak marah lingkungan,
Pasien tampak khawatir
Kontak mata (-)
Pasien tampak bicara sendiri.
Pasien mondar-mandir

C. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
1. Gangguan sensori persepsi : halusinasi
pendengaran
2. Isolasi Sosial : Menarik Diri
3. Resiko Mencederai Diri Sendiri, Orang Lain
dan Lingkungan.

D. POHON MASALAH
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

21
Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran

Isolasi sosial : menarik diri

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
2. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
3. Isolasi sosial.

F. TINDAKAN KEPERAWATAN
Tgl Dx. TINDAKAN
jam Kep Tujuan Kriteria Hasil Tindakan Rasional
keperawatan
Perubaha TUM :
n sensori Klien tidak  Ekspresi  Bina Hubungan
persepsi : mencederai wajah hubungan saling
halusinasi diri, orang bersahabat, saling percaya percaya
pendenga lain dan menunjukk dengan merupakan

22
ran lingkungan an rasa menggunakan dasar untuk
senang, ada prinsip kelancaran
TUK 1 : kontak komunikasi hubungan
Klien dapat mata, terapetik: interaksi
membina berjabat a. Sapa selanjutnya.
hubungan tangan, klien
saling mau denga
percaya menyebutk n
an nama, ramah,
mau baik
menjawab verbal
salam, mau maupu
duduk n
berdam nonver
pingan/berh bal
adapan b. Perken
dengan alkan
perawat, diri
mau denga
mengutara n
kan sopan
masalah c. Tanya
yang kan
dihadapi. nama
lengka
p klien
dan
nama
panggi
lan
yang

23
disuka
i
d. Jelask
an
tujuan
pertem
uan
e. Jujur
dan
menep
ati
janji
f. Tunjuk
kan
sikap
empati
dan
meneri
ma
klien
apa
adanya
g. Beri
perhati
an
kepada
klien
dan
menila
i
kondis

24
i klien.
h. Ciptak
an
lingkun
gan
yang
tenang
TUK 2 :  Klien dapat  Adakan 
Klien dapat menyebutk kontak sering Konta
mengenali an waktu, dan singkat k
halusinasin isi dan secara se
ya frekuensi bertahap ri
timbulnya ng
halusinasi da
 Klien dapat n
mengungka si
p kan  Observasi ng
perasaan tingkah laku ka
terhadap klien terkait t
halusinasin dengan da
ya halusinasinya pa
t
m
e
 Bantu klien m

mengenal ut

halusinasinya us
ka
n
ha
lu

25
si
na
 Diskusikan si
dengan klien 
situasi yang Meng
menimbulkan en
halusinasi, al
waktu dan pe
frekuensi ril
terjadinya a
halusinasi ku
pa
da
sa
at
ha
lu
si
 Diskusikan na
dengan klien si
apa yang m
dirasakan jika e
terjadi m
halusinasi, ud
beri ah
kesempatan ka
mengungkapk n
an in
perasaannya te
rv
en

26
si

27
28

Meng
et
ah
ui
w
kt
,
isi
&
fr
ek
ue
ns
i
m
un
cu
ln
ya
ha
lu
si
na
si
m
e
m
pe
r
m

29
ud
ah
ti
nd
ak
an
ke
pe
ra
w
at
an
ya
ng
ak
an
di
la
ku
ka
n

Untuk
m
en
gi
de
n
tif
ik
as

30
i
pe
ng
ar
uh
ha
lu
si
na
si
pa
da
kl
ie
n
TUK 3 :  Klien dapat  Identifikasi 
Klien dapat mengungka bersama klien Upay
mengontrol p kan cara tindakan a
halusinasin perasaan yang un
ya terhadap dilakukan jika tu
halusinasin terjadi k
ya halusinasi m
 Klien dapat e
menyebutk m
an tindakan ut
yg biasa us
dilaku kan ka
untuk  Diskusikan n
mengendali manfaat cara si
kan yang kl
halusinasin digunakan us

31
ya klien ha
 Klien dapat lu
menyebutk si
an cara na
baru si
 Klien dapat se

memilih hi

cara  Diskusikan ng

mengatasi cara baru ga

seperti untuk ti

yang telah memutus/ da

didiskusika mengontrol k

n timbulnya be

 Klien dapat halusinasi rl

melaksanak - Ka an

an cara tak ju

yang telah an t

dipilih “sa

untuk ya

mengendali tid 

kan ak

halusinasi ma
u
me
nd
en
gar

(sa
at
hal

32
usi
nas
i
terj
adi
)
- Me
ne
mu
i
ora
ng
lai
n
unt
uk
ber
ca
ka
p-
ca
ka
p
ata
u
me
ng
ata
ka
n
hal

33
usi
nas
i
ya
ng
dia
la
mi
ny
a.
- Me
mb
uat
jad
wa
l
har
ian
ag
ar
hal
usi
nas
i
tid
ak
se
mp
at 
mu Mem
nc ot

34
ul iv
- Mi as
nu i
m da
ob pa
at t
sec m
ara en
ter in
atu gk
r. at
 Bantu klien ka
memilih dan n
berlatih cara kl
memutus ie
halusinasi n
secara un
bertahap tu
k
m
en
co
 Beri ba

kesempatan m

untuk e

melakukan m

cara yang ili

telah dipilih h
sa
la
h

35
sa
tu
ca
ra
m
en
ge
nd
ali
ka
n
ha
lu
si
na
si
da
n
m
en
in
gk
at
ka
n
ha
rg
a
di
ri
kl

36
ie
n


Mem
be
ri
ke
se
m
pa
ta
n
ke
pa
da
kl
ie
n
un
tu
k
m
en
co

37
ba
ca
ra
ya
ng
tel
ah
di
pi
li
h


Mem
be
ri
ke
se
m
pa
ta
n
ke
pa
da
kl
ie
n
un
tu
k

38
m
en
co
ba
ca
ra
ya
ng
tel
ah
di
pi
li
h
TUK 4 :  Klien dapat  Diskusikan Dgn
Klien dapat menyebutk dengan klien menyebut
mengguna an manfaat, tentang dosis, dosis,
kan obat dosis dan frekuensi dan frekuensi
dengan efek manfaat obat. dan manfaat
baik dan samping obat
benar. obat. diharapkan
 Klien dpt klien

mendemons melaksanaka

trasi kan n program

penggunaan terapi.

obat
dengan Dengan

benar.  Anjurkan mengetahui

 Klien dapat klien untuk prinsip

menyebutk minum obat penggunaan

an prinsip 5 secara teratur. obat, maka

39
benar  Diskusikan kemandi rian
pengguna akibat klien untuk
an obat. berhenti obat pengobatan
tanpa dapat
konsultasi. ditingkatkan
 Beri tahu secara

klien cara bertahap.

menggunakan
obat dengan 5
benar.

Isolasi TUM : Ekspresi wajah Bina hubungan saling Hubungan
sosial Klien bersahabat, percaya dengan saling
dapat menunjukkan rasa menggunakan prinsip percaya
berinterak senang, ada kontak komunikasi merupakan
si dengan mata, mau berjabat terapetutik landasan
orang lain tangan, mau a. Sapa utama untuk
sehingga menyebutkan klien hubungan
tidak nama, mau denga selanjutnya
terjadi menjawab salam, n
halusinasi mau duduk ramah
berdampingan baik
TUK : dengan perawat, verbal
1. Klie mau mengutarakan maupu
n masalah yang n non
dap dihadapi verbal
at b. Perken
me alkan
mbi diri
na denga
hub n

40
ung sopan
an c. Tanya
sali kan
ng nama
perc lengka
aya p klien
dan
nama
panggi
lan
yang
disuka
i
d. Jelask
an
tujuan
pertem
uan
e. Jujur
dan
menep
ati
janji
f. Tunjuk
kan
sikap
empati
dan
meneri
ma
klien

41
apa
adanya
g. Berika
n
perhati
an
kepada
klien
dan
perhati
an
kebutu
han
dasar
klien
2. Klie Klien dapat Kaji pengetahuan Memberi
n menyebutkan klien tentang perilaku kesempatan
dap penyebab menarik diri dan untuk
at menarik diri tanda-tandanya mengungkapk
men yang berasal an
yeb dari : Beri kesempatan perasannnya
utka  kepada klien untuk dapat
n mengungkapkan
Diri membantu
pen perasaan penyebab mengurangi
yeb menarik diri atau mau stress dan
ab bergaul penyebab
men perasaan
arik Diskusikan bersama menarik diri
diri klien tentang perilaku
menarik diri, tanda-
 tanda serta penyebab

42
Orayang muncul

Berikan pujian
terhadap kemampuan
klien mengungkapkan
perasaannya


ling

3. Klie Klien dapat Kaji pengetahuan Untuk
n menyebutkan klien tentang manfaat mengetahui
dap keuntungan dan keuntungan keuntungan
at berhubungan dari bergaul
men dngan orang lain. dengan
yeb Misalnya : orang lain
utka 
n banBeri kesempatan Untuk
keu kepada klien untuk mengetah
ntun mengungkapkan ui akibat
gan perasaan tentang yang
berh keuntungan dirasakan
ubu berhubungan dengan setelah
nga prang lain menarik
n diri

43
den Diskusikan bersama
gan klien tentang manfaat
oran  berhubungan dengan
g tidaorang lain
lain
dan Beri reinforcement
keru positif terhadap
gian kemampuan
tida mengungkapkan
k perasaan tentang
berh keuntungan
ubu berhubungan dengan
nga orang lain
n 
den Kaji pengetahuan
bisa
gan klien tentang
oran kerugian bila tidak
g berhubungan dengan
lain orang lain

Beri kesempatan
kepada klien untuk
mengungkapkan
perasaan dengan
orang lain

Diskusikan bersama
klien tentang
kerugian tidak
berhubungan dengan
orang lain

44
Beri reinforcement
positif terhadap
kemampuan
mengungkapkan
3.1 Klien dapat perasaan tentang
menyebutkan kerugian tidak
kerugian tidak berhubungan dengan
berhubungan orang lain
dengan orang
lain. Misalnya:

send
i
r
i

tida
k

p
u
n
y
a

t
e
m
a
n

45

sepi
,
d
l
l

4. Kli Klien dapat Kaji kemampuan Mengekploras
en mendemonstras klien membina i perasaan
da ikan hubungan hubungan dengan klien terhadap
pat sosial secara orang lain perilaku
me bertahap antara menarik diri
lak lain : yang biasa
sa  dilakukan
na K–
ka P Dorong dan bantu Untuk
n  kien untuk mengetahui
hu K– berhubungan denga bagaimana
bu P orang lain melalui perilaku
ng tahap : menarik diri
an –  dilakukan
sos K–P dan dengan
ial P  bantuan
K–P perawat bisa
l – P membedakan
a lai perilaku
i n konstruktrif
n  dan destruktif
 K–P
K– –P
P lai

46
n–
– K
lai
P n

l K–
a Ke
i l/K
n lp/
Ma

sy

K
Beri reinforcement
positif terhadap
l
keberhasilan yang
a
telah dicapai
i
Bantu klien untuk
n
mengevaluasi

manfaat berhubungan
K–
K
Diskusikan jadwal
e
harian yang
l
dilakukan bersama
/
klien dalam mengisi
K
waktu
l
p
Motivasi klien untuk
/
mengikuti kegiatan
M
ruangan
a
s
Beri reinforcement

47
y positif atas kegiatan
klien dalam kegiatan
ruangan
5. Klie Klien dapat Dorong klien untuk Dapat
n mengungkapkan mengungkapkan membantu
dap perasaannya setelah perasaannya bila klien dalam
at berhubungan dengan berhubungan dengan menemukan
men orang lain untuk : orang lain cara yang
gun  dapat
gka Diri Diskusikan dengan menyelesaik
pka se klien tentang an masalah
n n perasaan manfaat
pera di berhubungan dengan
saan ri orang lain
nya 
setel Oran Beri reinforcement
ah g positif atas
berh la kemampuan klien
ubu in mengungkapkan
nga perasaan manfaat
n berhubungan dengan
den orang lain
gan
oran
g
lain
6. Klie Keluarga Bina hubungan saling Memberikan
n dapat : percaya dengan penanganan
dap  keluarga bantuan terapi
at men  melalui
me j salam, pengumpulan
mbe e per data yang

48
rday l ke lengkap dan
aka a nal akurat kondisi
n s an fisik dan non
siste k dir fisik pasien
m a i serta keadaan
pen n  dan sikap
duk jelaska keluargannya
ung p n
atau e tuj
kelu r ua
arga a n
s 
a buat
n ko
n ntr
n ak
y 
a eksplo
 ras
men i
j per
e asa
l an
a kli
s en
k
a Diskusikan dengan
n anggota keluarga

tentang
c
a Perilaku menarik diri

49
r  Penyebab
a perilaku menarik
diri
m  Akibat yang
e terjadi jika
r perilaku menarik
a diri tidak
w ditanggapi
a  Cara keluarga
t menghadapi
k menghadapi
l klien menarik
i diri
e Dorong anggota
n keluarga untuk

memberikan
m
dukungan kepada
e
klien untuk
n
berkomunikasi
a
dengan orang lain
r
i
Anjurkan anggota
k
keluarga secara rutin
dan bergantian
d
menjenguk klien
i
minimal satu kali
r
seminggu
i

Beri reinforcement
men
positif atas hal-hal
d
yang telah dicapai

50
e oleh keluarga
m
o
n
s
t
r
a
s
i
k
a
n

c
a
r
a

p
e
r
a
w
a
t
a
n

k
l

51
i
e
n

m
e
n
a
r
i
k

d
i
r
i

berp
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i
d
a
l

52
a
m

p
e
r
a
w
a
t
a
n

k
l
i
e
n

m
e
n
a
r
i
k

d
i
r
i
Resiko TUM : - Ekspresi wajah Bina hubungan Hubungan

53
Menceder Pasien rileks saling percaya: saling percaya
- Mata tidak
ai diri terhindar salam terapeutik, merupakan
merah
sendiri, dari empati, sebut nama landasan
- Pasien tampak
oranglain mencederai perawat dan utama untuk
tenang
dan diri, orang- Pasien mau jelaskan tujuan hubungan
lingkunga lain dan berjabat tangan interaksi. selanjutnya
- Pasien bisa
n lingkungan
membina
Panggil klien
hubungan
TUK : dengan nama
saling percaya
1. Pasi panggilan yang
en disukai.
dap
at Bicara dengan
me sikap tenang, rileks
mbi dan tidak
na menantang.
hub
ung Beri kesempatan Dengan
an mengungkapkan mengetahui
sali perasaan. penyebab,
ng pasien bisa
perc Bantu klien mengontrol
aya. mengungkapkan rasa marah
perasaan jengkel / dengan
2. Pasi kesal. efektif
en
dap Dengarkan
at ungkapan rasa
men marah dan perasaan
gide bermusuhan klien
ntifi dengan sikap

54
kasi tenang.
pen
yeb Anjurkan pasien Mengetahui
ab mengungkapkan secara dini
peril yang dialami dan tanda-tanda
aku dirasakan saat perilaku
kek jengkel/kesal. kekerasan
eras
an Observasi tanda
perilaku
kekerasan.

Simpulkan bersama
pasien tanda-tanda
jengkel / kesal
yang dialami
pasien
Untuk
3. Pasi Anjurkan mengetahui
en mengungkapkan bahwa
dap perilaku kekerasan dengan
at yang biasa marah
men dilakukan. masalah
gide pasien tidak
ntifi Bantu bermain bisa teratasi
kasi peran sesuai
tand dengan perilaku
a-ta kekerasan
nda yang biasa
peril dilakukan.
aku

55
kek Tanyakan "apakah
eras dengan cara yang
an dilakukan
masalahnya
selesai?" Untuk
Bicarakan mengetahui
akibat/kerugian kerugian
dari cara yang dari perilaku
dilakukan. kekerasan

4. Pasi Bersama pasien
en menyimpulkan
dap akibat dari cara
at yang digunakan.
men
gide Tanyakan apakah
ntifi ingin mempelajari
kasi cara baru yang
peril sehat.
aku Untuk
kek Bantu memilih cara mengontrol
eras yang paling tepat. perilaku
an kekerasan
yan Bantu pasien
g mengidentifikasi
bias manfaat cara yang
a telah dipilih.
dila
kuk Bantu
an mensimulasikan
cara yang telah

56
dipilih.

Beri reinforcement
positif atas
keberhasilan yang
dicapai dalam
simulasi.

5. Pasi Anjurkan
en menggunakan cara
dap yang telah dipilih
at saat jengkel /
men marah
gide
ntifi
kasi
akib
at
peril
aku
kek
eras
an

57
6. Pasi
en
dap
at
men
gide
ntifi
kasi
cara
men
gont
rol
peril
aku
kek
eras
an

G. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Tgl Dx
kep IMPLEMENTASI EVALUASI TTD
Jam
Isolasi SP 1 : S:
sosial
1. Membina hubungan saling “Pagi…”
percaya dengan pasien “saya tinggal serumah
2. Mengidentifikasi penyebab
dengan ibu, ayah dan kakak
- Siapa
saya”
yang dekat dengan pasien
- Siapa “saya paling dekat dengan
yang tidak dekat dengan kakak saya” karena kakak
pasien saya tidak pernah minta
- Apa
uang, dan membantu dalam
sebabnya?

58
3. Menanyakan keuntungan dan pekerjaan saya”
kerugian berinteraksi “teman yang saya kenal
dengan orang lain disini Sdr K dan Sdr U,”
4. Latihan berkenalan
“keuntungannya adalah bisa
banyak teman”
“kerugiannya adalah tidak
punya teman dan tidak bisa
ngobrol”
“sudah itu saja”
“nama saya N, biasa
dipanggil A, alamat : pati,
hobi saya tidak tahu”
“saya belum kenal dengan
mbak, saya mau kenalan
dengan mbak”
O:
- Pasien
melakukan
latihan
berkenalan
- Pasien mau
berjabat
tangan
- Kontak mata
kurang
A : Sp 1 tercapai
- Pasien bisa
membina
hubungan
saling percaya
- Pasien
mampu

59
berkenalan
dengan orang
lain
P : Lanjutkan SP 2
SP 2 : S:
1. Mengevaluasi SP 1 “ selamat siang”
2. melatih berhubungan sosial
“masih ingat mbak” yaitu
dengan bertahap
melatih berkenalan dengan
3. Memasukkan ke dalam
orang lain”
jadwal kegiatan pasien
“ iya mbak saya mau”
“saya mau berkenalan setiap
saat”
O:
- Ada kontak
mata
- Pasien lebih
rileks
- Pasien mau
berjabat
tangan
A : SP 2 tercapai
- Pasien
mampu
berkenalan
secara
bertahap
P : lanjut SP 3
Perubahan S:
SP 1
sensori “ pagi “
1. Membina hubungan
persepsi: “ saya tidak apa-apa,”
saling percaya
halusinasi “iya saya sering mendengar
2. Menanyakan kabar
pendengara suara memanggil saya dan
pasien hari ini?
n 3. Memberi kesempatan menyuruh saya untuk pergi“

60
pasien untuk “biasanya ada malam hari
mengungkapkan mbak”
perasaannya “suara-suara muncul saat sepi
4. Mengobservasi tingkah

laku pasien terkait
“saya takut mbak kalau ada
halusinasi
suara-suara namun
pendengarannya.
terkadang saya senang “
5. Membantu
“saya mau diajari cara
klien menegenal
menghilangkan suara-suara
halusinasinya
6. Menanyakan kepada tersebut mbak”
pasien isi halusinasinya “pergi kamu, kamu tidak
seperti apa? nyata, kamu suara palsu”
7. Menanyakan kapan dan
O:
situasi yang seperti apa
- Pasien
yang mengakibatkan
berjabat
halusinasi muncul?
tangan
8. Menanyakan seberapa
- Kontak mata
sering halusinasi
kurang
muncul? - Terkadang
9. Mendiskusikan dengan
klien
pasien apa yang
tersenyum-
dirasakan jika halusinasi
senyum
muncul
sendiri
10. Mengajarkan dsn

mendemonstrasikan cara A: SP 1 tercapai
mengontrol halusinasi P: Lanjutkan SP 2
dengan cara menghardik
SP 2 :
1. Membina hubungan
saling percaya dengan
pasien S:
2. Menanyakan kembali
“ sore mbak”
apakah halusinasi

61
muncul lagi atau tidak. “Ada lagi mbak tadi malam
3. Menanyakan kepada
suara yang menyuruh saya
pasien cara
pergi, tidak tahu jam berapa,
yang biasanya
saya takut mbak ”
digunakan apabila ada
“saya biasanya diam saja
halusinasi
atau enggak saya mengikuti
4. Menanyakan
suara-suara”
keefektivitasan
“saya belum pernah
menghardik
5. Mengajarkan cara diajarkan mengusir suara-
mengontrol halusinasi suara”
yang kedua yaitu “suara-suara enggak hilang-
bercakap-cakap. hilang”
“Mas. Jika mas mulai
“iya mbak, nanti kalau suara
mendengar suara-suara,
itu muncul kembali saya
langsung saja cari teman atau
akan panggil teman saya atau
perawat untuk diajak
perawat untuk mengobrol
mengobrol. Contohnya
dengan saya mbak”
begini : tolong saya mulai
O:
mendengar suara-suara yang
- Pasien mau
menyuruh saya pergi. Ayo
menatap mata
ngobrol dengan saya.
perawat
- Pasien mau
berjabat
tangan
dengan
perawat
- Pasien
mampu
memperagaka
n menghardik
halusinasi

62
A : SP2 tercapai
SP3
- Klien mampu
1. Membina hubungan
membina
saling percaya dengan
hubungan
pasien
saling percaya
2. Menanyakan kepada - Klien dapat
klien keefektifan mengenal
bercakap-cakap saat halusinasinya
terjadi halusinasi
P : Lanjutkan SP3
3. Mendiskusikan kegiatan-
kegiatan yang biasanya
S:
dilakukan oleh pasien
“ sore”
saat diruangan
“iya mbak bisa hilang saat
4. Menyuruh klien
saya bercakap-cakap”
memperagakan salah
“setiap hari saya hanya
satu kegiatan yang
tiduran saja dan menonton
disukai
tv”
5. Mendiskusikan kegiatan
“saya ingin menulis agar
mulai bangun tidur
tidak bosan mbak”
sampai tidur lagi
“saya mau mbak kalau
6. Menganjurkan klien
disuruh merapikan sprei tiap
menyibukkan diri dengan
pagi”
banyak kegiatan
O:
- Tatapan mata
baik
- pasien
mampu
menuliskan
keluh
kesahnya
- Setiap hari
pasien tiduran

63
dan menonton
tv
A : SP 3 tercapai
- Klien mampu
menyebutkan
2 cara
menghilangka
n
halusinasinya
P : lanjutkan SP 4
Resiko SP 1 : S:
mencederai
1. Membina hubungan saling “ selamat sore mbak”
diri sendiri, percaya “ baik mbak”
orang lain - Membina hubungan saling “saya marah karena tidak
dan percaya: salam terapeutik, bisa mengendalikan suara-
lingkungan empati, sebut nama perawat suara yang muncul mbak”
dan jelaskan tujuan interaksi. “kalau marah tangan saya
- Memanggil klien dengan mengepal dan kadang
nama panggilan yang mengatupkan rahang
disukai. sambil tangan menutup
- Berbicara dengan sikap telinga” “nada suara saya
tenang, rileks dan tidak tidak tinggi mbak”
menantang “saya tidak pernah
2. Menanyakan penyebab perilaku memukul orang ataupun
kekerasan membanting barang
3. Menanyakan tanda-tanda mbak”
perilaku kekerasan “saya Cuma marah pada
4. Menanyakan perilaku kekerasan diri saya sendiri”
yang dilakukan “kalau saya marah-marah
5. Menanyakan akibat perilaku terus saya takut dijauhi
kekerasan teman-teman mbak, malah

64
6. Mengajarkan dan dikira kayak orang gila”
mendemonstrasikan cara “saya mau diajari itu mbak”
mengontrol perilaku kekerasan O:
- Ada kontak mata
- Pasien
mendemonstrasikan
latihan fisik 1 (nafas
dalam)
- Pasien kooperatif
A : SP 1 tercapai
P : pertahankan SP 1

65
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam Bab pembahasan ini akan dijelaskan sejauh mana keberhasilan tindakan
keperawatan secara teoritis yang telah diaplikasikan pada kasus Sdr. N, dimana proses
terjadinya menarik diri pada pasien hampir sama dengan teori yang ada yakni disebabkan
oleh harga diri yang rendah. Harga diri rendah disebabkan ketidakinginan pasien dalam
bersosialisasi dengan masyarakat hingga menyebabkan pasien mengisolasi diri dari
lingkungan, tidak mau bergaul sesamanya, tidak peduli dengan aktivitas, tidak
memperhatikan penampilan dan terjadi waham untuk mengkompensasikan perasaan rendah
dirinya.
Untuk diagnosa perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran sesuai dengan
teori, tindakan keperawatan yang paling utama dan pertama adalah membina hubungan saling
percaya, meskipun tidak ada respon dari pasien. Tindakan yang dilakukan perawat antara lain
: kontak sering dan singkat, memberi dukungan, mendengarkan ungkapan pasien. Kontak
sering dan singkat pada pasien dapat diterima oleh pasien dan tindakan tersebut berhasil
dengan baik. Kemudian dilaksanakan aplikasi teori yaitu mendiskusikan dengan pasien isi
halusinasi, frekuensi, waktu dan respon pasien terhadap halusinasinya dan melibatkan pasien
untuk beinteraksi dengan perawat dan pasien lain. Kemudian baru dilaksanakan tindakan
memotivasi pasien untuk menetapkan cara-cara mengontrol halusinasinya. Dengan kesabaran
dan konsistensi perawat, pasien dapat mengenal halusinasinya dan mampu mengontrol
halusinasinya. Sekarang pasien mengatakan sudah tidak pernah mengalami halusinasi lagi
serta tidak lupa memberikan pujian atas kemampuan pasien.
Untuk diagnosa resiko prilaku kekerasan telah dilaksanakan aplikasi tindakan
keperawatan sesuai teori. Menurut teori, langkah pertama dalam berinteraksi dengan pasien
perilaku kekerasan adalah membina hubungan saling percaya dan mengidentifikasi penyebab,
tanda-tanda perilaku kekerasan, kekerasan yang pernah dilakukan, akibat perilaku kekerasan
serta cara mengontrol perilaku kekerasan dengan latihan fisik 1 (nafas dalam). Setelah
diterapkan pada pasien, Sdr. N ternyata dapat berhasil baik.
Keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien Sdr. N ditunjang oleh beberapa faktor
pendukung antara lain kerjasama yang baik antar mahasiswa dan perawat ruangan dalam

66
memberikan asuhan keperawatan dan obat yang teratur diberikan. Sedangkan hambatan yang
ditemui adalah asuhan keperawatan yang diberikan tidak secara kontinyu (hanya setiap
mahasiswa praktek di ruangan) serta keluarga yang menyerahkan secara penuh perawatan
pada pihak rumah sakit karena merasa tidak mampu merawat pasien di rumah. Dengan
demikian perlu dilaksanakan pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan bagi perawat
ruangan serta pengalihan tugas yang mengacu pada catatan keperawatan pasien. Sedangkan
untuk keluarga tetap harus diberikan penyuluhan dan motivasi tentang peranan keluarga
dalam memberikan perawatan pada pasien.

67
68
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas mengenai halusinasi pendengaran dan pelaksanaan asuhan
keperawatan terhadap pasien, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Saat memberikan asuhan keperawatan pada
pasien dengan halusinasi ditemukan adanya
perilaku menarik diri sehingga perlu
dilakukan pendekatan secara terus menerus,
membina hubungan saling percaya yang
dapat menciptakan suasana terapeutik dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan yang
diberikan.
2. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan
pada pasien khususnya dengan halusinasi,
pasien sangat membutuhkan kehadiran
keluarga sebagai system pendukung yang
mengerti keadaaan dan permasalahan
dirinya. Disamping itu perawat / petugas
kesehatan juga membutuhkan kehadiran
keluarga dalam memberikan data yang
diperlukan dan membina kerjasama dalam
member perawatan pada pasien. Dalam hal
ini penulis dapat menyimpulkan bahwa
peran serta keluarga merupakan faktor
penting dalam proses penyembuhan pasien.

B. SARAN
1. Untuk mahasiswa
a. Mahasiswa harus lebih mennguasai materi
b. Mahasiswa dalam melaksanakan asuhan keperrawatan harus menggunakan
komunikasi terapeutik.

69
c. Mahasiswa atau perawat harus lebih mengoptimalkan waktu yang tersedia dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien.
d. Mahasiswa perawat ruangan sehingga dapat menerapkan asuhan keperawatan
secara komprehensif.
e. Mahasiswa harus lebih meningkatkan komunikasi dengan keluarga sehingga
dapat memperoleh data dan memberikan asuhan keperawatan secara optimal.

2. Untuk perawat.
a. Perawat diharapkan lebih sering meningkatkan pertemuan kepada pasien
meskipun singkat.
b. Perawat harus lebih mengoptimalkan waktu yang tersedia dalam
memberikan asuhan keperawatan terhada pasien.
c. Perawat diharapkan sering melaksanakan program terapi aktivitas
kelompok.

70
Lampiran

SP Halusinasi

SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol
halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama:
menghardik halusinasi

ORIENTASI:
”Selamat pagi mas, Saya Mahasiswa keperawatan STIKES Widya Husada yang akan
merawat mas Nama Saya XX, senang dipanggil X. Nama mas siapa? Mas Senang dipanggil
apa”
”Bagaimana perasaan mas hari ini? Apa keluhan mas saat ini”
”Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini mas dengar
tetapi tak tampak wujudnya? Di mana kita duduk? Di ruang tamu? Berapa lama?
Bagaimana kalau 30 menit”

KERJA:
”Apakah mas mendengar suara tanpa ada wujudnya?Apa yang dikatakan suara itu?”
” Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering
mendengar suara? Berapa kali sehari mas alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar?
Apakah pada waktu sendiri?”
” Apa yang mas rasakan pada saat mendengar suara itu?”
”Apa yang mas lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu suara-suara itu
hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul?
” Mas, ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan
menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketiga,
melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat minum obat dengan teratur.”
”Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.

71
”Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung mas bilang, pergi saya
tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu diulang-ulang
sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba mas peragakan! Nah begitu, … bagus! Coba lagi!
Ya bagus mas N sudah bisa”

TERMINASI:
”Bagaimana perasaan mas N setelah peragaan latihan tadi?” Kalau suara-suara itu muncul
lagi, silakan coba cara tersebut ! bagaimana kalu kita buat jadwal latihannya. Mau jam
berapa saja latihannya? (Saudara masukkan kegiatan latihan menghardik halusinasi dalam
jadwal kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan
latihan mengendalikan suara-suara dengan cara yang kedua? Jam berapa Mas N?
Bagaimana kalau dua jam lagi? Berapa lama kita akan berlatih?Dimana tempatnya”
”Baiklah, sampai jumpa.”

SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua:
bercakap-cakap dengan orang lain

Orientasi:
“Selamat pagi Mas, Bagaimana perasaan Mas hari ini? Apakah suara-suaranya masih
muncul ? Apakah sudah dipakai cara yang telah kita latih? Berkurangkan suara-suaranya
Bagus ! Sesuai janji kita tadi saya akan latih cara kedua untuk mengontrol halusinasi
dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Kita akan latihan selama 20 menit. Mau di
mana? Di sini saja?

Kerja:
“Cara kedua untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang lain adalah dengan bercakap-
cakap dengan orang lain. Jadi kalau bapak mulai mendengar suara-suara, langsung saja
cari teman untuk diajak ngobrol. Minta teman untuk ngobrol dengan bapak Contohnya
begini; … tolong, saya mulai dengar suara-suara. Ayo ngobrol dengan saya! Atau kalau ada
orang dirumah misalnya kakak,ibu, ayah katakan: bu, ayo ngobrol dengan saya, saya sedang

72
dengar suara-suara. Begitu mas Coba mas lakukan seperti saya tadi lakukan. Ya, begitu.
Bagus! Coba sekali lagi! Bagus! Nah, latih terus ya mas!”

Terminasi:
“Bagaimana perasaan mas setelah latihan ini? Jadi sudah ada berapa cara yang mas
pelajari untuk mencegah suara-suara itu? Bagus, cobalah kedua cara ini kalau mas
mengalami halusinasi lagi. Bagaimana kalau kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian
mas. Mau jam berapa latihan bercakap-cakap? Nah nanti lakukan secara teratur serta
sewaktu-waktu suara itu muncul! Besok pagi saya akan ke mari lagi. Bagaimana kalau kita
latih cara yang ketiga yaitu melakukan aktivitas terjadwal? Mau jam berapa? Bagaimana
kalau jam 10.00? Mau di mana/Di sini lagi? Sampai besok ya. Selamat pagi”

SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga:
melaksanakan aktivitas terjadwal
Orientasi:
“Selamat pagi mas Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apakah suara-suaranya masih
muncul ? Apakah sudah dipakai dua cara yang telah kita latih ? Bagaimana hasilnya ?
Bagus ! Sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk mencegah
halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau di mana kita bicara? Baik kita duduk di
ruang tamu. Berapa lama kita bicara? Bagaimana kalau 30 menit? Baiklah.”

Kerja:
“Apa saja yang biasa bapak lakukan? Pagi-pagi apa kegiatannya, terus jam berikutnya
(terus ajak sampai didapatkan kegiatannya sampai malam). Wah banyak sekali kegiatannya.
Mari kita latih dua kegiatan hari ini (latih kegiatan tersebut). Bagus sekali mas bisa lakukan.
Kegiatan ini dapat mas lakukan untuk mencegah suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain
akan kita latih lagi agar dari pagi sampai malam ada kegiatan.

73
Terminasi:
“Bagaimana perasaan mas setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga untuk mencegah
suara-suara? Bagus sekali! Coba sebutkan 3 cara yang telah kita latih untuk mencegah
suara-suara. Bagus sekali. Mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian mas Coba
lakukan sesuai jadwal ya! (Saudara dapat melatih aktivitas yang lain pada pertemuan berikut
sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari pagi sampai malam) Bagaimana kalau menjelang
makan siang nanti, kita membahas cara minum obat yang baik serta guna obat. Mau jam
berapa? Bagaimana kalau jam 12.00 pagi?Di ruang makan ya! Sampai jumpa.”

74
SP Isolasi Sosial

SP 1 Pasien: Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal penyebab isolasi
sosial, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan

ORIENTASI (PERKENALAN):
“Selamat pagi ”
“Saya XX, Saya senang dipanggil X, Saya mahasiswa STIKES Widya Husada yang akan
merawat mas”
“Siapa nama mas? Senang dipanggil siapa?”
“Apa keluhan mas hari ini?” Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan
teman-teman mas ? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu?
Mau berapa lama, mas? Bagaimana kalau 15 menit”

KERJA:
”Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan mas? Siapa yang jarang
bercakap-cakap dengan mas? Apa yang membuat mas jarang bercakap-cakap dengannya?”
”Siapa saja yang mas kenal di ruangan ini”
“Apa saja kegiatan yang biasa mas lakukan dengan teman yang mas kenal?”
“Apa yang menghambat mas dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang
lain?”
”Menurut mas apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada
teman bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah kalau
kerugiannya tidak mampunyai teman apa ya ibu ? Ya, apa lagi ? (sampai pasien
dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu
inginkah ya mas ? belajar bergaul dengan orang lain ?
« Bagus. Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain”
“Begini lho mas?, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan
nama panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya T, senang dipanggil
T. Asal saya dari Semarang, hobi memasak”

75
“Selanjutnya ibu menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini:
Nama mas siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?”
“Ayo mas dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan mas. Coba berkenalan dengan saya!”
“Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“Setelah mas berkenalan dengan orang tersebut mas bisa melanjutkan percakapan tentang
hal-hal yang menyenangkan mas bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang
keluarga, pekerjaan dan sebagainya.”

TERMINASI:
”Bagaimana perasaan mas setelah kita latihan berkenalan?”
” mas tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali”
”Selanjutnya mas dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada.
Sehingga mas lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. Mas mau praktekkan ke
pasien lain. Mau jam berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan
hariannya.”
”Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini untuk mengajak mas berkenalan dengan teman
saya, perawat R. Bagaimana, mas mau kan?”
”Baiklah, sampai jumpa.”

76
SP Perilaku Kekerasan

SP 1 : mengenal perilaku kekerasan dan latihan fisik 1 (Nafas Dalam)

ORIENTASI

“Selamat pagi..(sambil mengajak berjabat tangan). Perkenalkan nama saya XX. Saya biasa
dipanggil X. Saya Mahasiswa dari Stikes Widya Husada yang merawat Mas selama di sini. Kalo
Mas membutuhkan bantuan, Mas dapat menghubungi saya. Siapa nama Mas ? Biasa
dipanggil..?”
“Bagaimana perasaan Mas hari ini. Kenapa Mas dibawa ke rumah sakit ini ? Mas pernah kalo
marah-marah sampai memukul orang atau merusak barang ? Ooh..begitu ya Mas. Jadi Mas
kalo marah tidak suka merusak barang-barang di rumah ya.”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang marah-marah yang Mas lakukan ?”
“Mau berapa menit ?”
“Mau dimana kita berbincang-bincang ?”
KERJA
“Mas, coba sekarang ceritakan apa saja yang menyebabkan Mas marah. Terus apa pernah
merusak barang ? Apa yang menyebabkan Mas marah seperti itu ?”
“Kalo marah apa sih yang mas rasakan ? Apa tangannya jadi mengepal ? Apa rahangnya
mengatup ? Kalo nada suaranya, bagaimana ? apa menjadi lebih keras ? Apa kata-katanya juga
kotor ?
“Nah.. kalo sedang marah yang sering dilakukan apa mas ? Memukul pernah ? merusak
barang-barang rumah pernah ?
“Menurut mas,kalo marah-marah,menguntungkan apa merugikan ? Apa kerugiana mas?Marah-
marah seperti menurut agama yang dianut mas boleh tidak ? Bagus ! mas tahu kan ?
“Saya juga setuju mas, kalo marah-marah seperti itu merugikan kita sendiri. Mas..perasaan
marah itu wajar, tetapi kalau marahnya sampai dijauhi orang lain itu merugikan. Bagaimana
kalau saya ajarkan cara mengungkapkan marah secara sehat ? Mau ? Baiklah.
“Begini caranya, kalo mas marahnya sambil berdiri coba duduk kemudian duduk rileks
kemudian tarik nafas panjang, tahan sebentar kemudian keluarkan melalui mulut. Sekarang
coba mas lakukan ! Sekali lagi coba ! Bagus ! Lakukan beberapa kali sampai rasa marahnya
menurun ya mas ?

77
TERMINASI
“Bagaimana perasaan mas setelah kita berbincang-bincang ? mas ingat apa saja yang
menyebabkan mas marah-marah.? Tanda-tandanya kalau sedang marah bagaimana mas ?
Apa saja tadi yang biasa dilakukan kalau sedang marah ? Kerugianya kalau marah-marah
seperti itu apa mas?
“Coba mas lakukan lagi cara mengungkapkan marah yang sehat ? Bagus !
“Nah.. Mas kan sudah bisa mengungangkapkan marah secara sehat. Sekarang kita masukan
dalam jadual harian ya..? Mas mau latihan berapa kali sehari..? Bagimana kalo 2 kali saja
dulu. Baiklah berarti besok mas latihan jam 6 pagi dan jam 8 malam ya..? Nanti kalo jam-
jam itu mas latihan mas tinggal memberi tanda centang. Besok saya akan lihat ya..?”
“Kalo besok mas sudah latihan cara mengungkapkan marah yang sehat cara pertama, Saya
akan ajari cara mengungkapkan marah yang sehat cara yang ke dua yaitu memukul bantal
Bagaimana mas mau..?”
“Mau dimana kita bercakap-cakap Mas..?? Oh di teras..baiklah”
“Jam berapa kita besok akan bercakap-cakap..? Mau berapa menit Mas..?”
“Baiklah sekarang mas bisa nonton TV dulu. Jangan lupa besok latihan ya..??”

78