You are on page 1of 19

BAB 1

PENDAHULUAN

.1 Definisi Cerebral palsy adalah ensefalopatistatis yang mungkin didefinisikan sebagai kelainan postur dan gerakan non-progresif. partus menggunakan bantuan alat tertentu dan lahir dengan seksio sesar. Cerebral palsy ialah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak. atau tali pusat yang abnormal). sitomegalovirus. Konsep Dasar 2. 2009). e) Asfiksia dalam kandungan (misalnya: solusio plasenta. bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya (L. mengganggu pusat pernapasan dan peredaran darah sehingga terjadi anoksia. f) Keracunan kehamilan dapat menimbulkan serebral palsy. dan kecerdasan akibat dari cacat atau lesi otak yang sedang berkembang (Eaton.2 Etiologi 1) Pranatal : a) Malformasi kongenital. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. penglihatan. toksoplamosis. disproporsi sefalopelvik. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya anoksia. plasenta previa. sering disertai dengan epilepsy dan ketidaknormalan bicara. 2.Wong. Donna. mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat. g) Gangguan pertumbuhan otak. rubela. 2010). mengenai sel-sel motorik di dalam susunan saraf pusat. plasenta previa. 2) Natal : a) Anoksia/hipoksia. sifihis. Penyebab terbanyak ditemukan dalam masa perinatal ialah cidera otak. Perdarahan dan anoksia dapat terjadi bersama-sama. bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. partus lama. b) Perdarahan otak. anoksi maternal. Cerebral palsy ialah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak. c) Radiasi sinar X. infeksi plasenta. misalnya perdarahan yang mengelilingi batang otak. b) Infeksi dalam kandungan yang dapat menyebabkan kelainan janin (misalnya. atau infeksi virus lainnya). d) Toksemia gravidarum. dkk. Hal demikian terdapat pada keadaan presentasi bayi abnormal. sehingga sukar membedakannya. Marilyn.

factor pembekuan darah dan lain-lain masih belum sempurna. Kerusakan biasanya terletak di traktus kortikospinalis. infeksi intrauterin merupakan faktor penyebab cerebral palsy. asfiksia saat lahir. misalnya lengan dalam aduksi. Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita pendarahan otak lebih banyak dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu gabungan otot. Sedang faktor pasca natal mulai dari bulan pertama kehidupan sampai 2 tahun atau sampai 5 tahun kehidupan. 3) Postnatal : a) Trauma kapitis. atau sampai 16 tahun. Perdarahan di ruang subdural dapat menekan korteks serebri sehingga timbul kelumpuhan spastis. tromboplebitis. e) Ikterus Ikterus pada masa neonatus dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak yang kekal akibat masuknya bilirubin ke ganglia basal. kaki dalam flesi plantar dan telapak kaki berputar ke dalam. ensefalomielitis. c) Trauma lahir. Tungkai dalam sikap aduksi. Bentuk kelumpuhan . Perdarahan dapat terjadi di ruang subaraknoid dan menyebabkan penyumbatan CSS sehingga mangakibatkan hidrosefalus. misalnya perdarahan subdural d) Prematuritas. karena pembuluh darah. karena itu tampak sifat yang khas dengan kecenderungan terjadi kontraktur. c) Kern icterus. f) Meningitis purulenta Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau tidak tepat pengobatannya akan mengakibatkan gejala sisa berupa palsi serebral. 2. toksin. iskemi prenatal. fleksi pada sendi siku dan pergelangan tangan dalam pronasi serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari melintang di telapak tangan. b) Infeksi misalnya : meningitis bakterial. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun penderita dalam keadaan tidur. abses serebri. Tonic neck reflex dan refleks neonatal menghilang pada waktunya. Faktor prenatal dimulai saat masa gestasi sampai saat lahir. malformasi kongenital. enzim.3 Manifestasi Klinis 1) Spastisitas Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan reflek Babinski yang positif. Beberapa penelitian menyebutkan faktor prenatal dan perinatal lebih berperan dari pada faktor pascanatal. Studi oleh Nelson dkk menyebutkan bayi dengan berat lahir rendah. faktor genetik. sedangkan faktor perinatal yaitu segala faktor yang menyebabkan cerebral palsy mulai dari lahir sampai satu bulan kehidupan. fleksi pada sendi paha dan lutut.

c) Diplegia/Diparesis Kelumpuhan ke empat anggota gerak. tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa otot tonusnya berubah menjadi spastis. tetraplegia/tetraparesis adalah kelumpuhan ke empat anggota gerak.spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan yaitu monoplegia/ monoparesis. tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya. 4) Ataksia . yaitu: a) Monoplegia/Monoparesis Kelumpuhan ke empat anggota gerak. Bentuk kelumpuhan spastitis tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan. Kelumpuhan ke empat anggota gerak. tetapi tungkai lebih hebat dari pada lengan. d) Tetraplegia/Tetraparesis Kelumpuhan ke empat anggota gerak. Bila dibiarkan berbaring tampak fleksid dan sikapnya seperti kodok terlentang. tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya. lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai. 3) Koreo-atetosis Kelainan yang khas yaitu sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi dengan sendirinya (involuntary movement). Refleks neonatal menetap dan tampak adanya perubahan tonus otot. pada usia bulan pertama tampak fleksid (lemas) dan berbaring seperti kodok terlentang sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor neuron. Golongan spastitis ini meliputi /3 – ¾ penderita cerebral palsy. diplegia/ diparesis adalah kelumpuhan ke empat anggota gerak tetapi tungkai lebih hebat dari pada lengan. tetapi sesudah itu barulah muncul kelainan tersebut. b) Hemiplegia/Diparesis Kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama. 2) Tonus otot yang berubah Bayi pada golongan ini. tetapi yang khas ialah reflek neonatal dan tonic neck reflex menetap. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan ataksia. hemiplegia/hemiparesis adalah kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama. Refleks otot yang normal dan refleks babinski negatif. tetapi lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai. Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah hingga tinggi. kerusakan terletak di ganglia basal disebabkan oleh asfiksia berat atau ikterus kern pada masa neonatus. Kerusakan biasanya terletak di batang otak dan disebabkan oleh afiksia perinatal atau ikterus. Pada 6 bulan pertama tampak flaksid.

Mulai berjalan sangat lambat dan semua pergerakan canggung dan kaku. sehingga terjadi atrofi serebri yang menyeluruh. Bayi dalam golongan ini biasanya flaksid dan menunjukan perkembangan motorik yang lambat. 7) Gangguan mata Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan kelainan refraksi pada keadaan asfiksia yang berat dapat terjadi katarak. monoplegia. diparesis spastik dan ataksia. atau campuran. diplegia. Gerakan yang terjadi dengan sendirinya di bibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut sehingga anak sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur. Terdapat pada golongan koreo-atetosis. 9) Gerakan involunter Dapat berbentuk atetosis. rigiditas. Retardasi mental masih dapat diperbaiki bila korteks serebri tidak mengalami kerusakan menyeluruh dan masih ada anggota gerak yang dapat . Kelumpuhan ini mungkin bersifat flaksid. 8) Paralisis Dapat berbentuk hemiplegia. Gangguan berupa kelainan neurogen terutama persepsi nada tinggi. Kehilangan keseimbangan tampak bila mulai belajar duduk. tremor dengan tonus yang dapat bersifat flaksid. Ataksia adalah gangguan koordinasi. kuadriplegia. khoreoatetosis. Cerebral palsy yang disertai dengan retardasi mental pada umumnya disebabkan oleh anoksia serebri yang cukup lama. 11) Gangguan perkembangan mental Retardasi mental ditemukan kira-kira pada 1/3 dari anak dengan cerebral palsy terutama pada grup tetraparesis. spastik atau campuran. 5) Gangguan pendengaran Terdapat 5-10% anak dengan serebral palsi. Kerusakan terletak di serebelum. 6) Gangguan bicara Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retradasi mental. sehingga sulit menangkap kata-kata. triplegia. 10) Kejang Dapat bersifat umum atau fokal.

derajat dan lokalisasi kerusakan dalam susunan saraf pusat (SSP). atrofi. terjadi kerusakan baik pada neuron maupun neuroglia. menyebabkan kerusakan jaringan otak yang berada di bawahnya oleh karena nekrosis tekanan. Perdarahan ringan oleh trauma persalinan biasanya diabsorpsi tanpa kerusakan yang menetap. misalnya agenesis/hipogenesis bagian- bagian otak dan hidrosefalus. ditandai dengan warna kuning. Cerebral palsy digambarkan . penyembuhan yang lambat. sedangkan anoksia terutama mengenai sistem ekstrapiramidal. Semua jaringan SSP peka terhadap kekurangan oksigen. ganglia basalis ataukah di serebelum. 2. suatu trauma kepala dan perdarahan intrakranial pada umumnya akan melibatkan sistem piramidal. Pada hipoksia yang lebih berat. Menurut Perlstein dan Barnett.4 Patofisiologi Perubahan neuropatologik pada CP bergantung pada patogenesis. Kerusakan-kerusakan yang paling berat terjadi pada bagian SSP yang sangat peka terhadap hipoksia yaitu korteks serebri. Derajat kerusakan ada hubungannya acute neuronal necrosis tanpa kerusakan pada neuroglia.digerakkan secara volunter. kerusakan berupa nekrosis dan lisis neuron yang diikuti dengan proliferasi neuroglia dan pengerutan yang hebat. proliferasi neuroglia dan pembentukan jaringan parut yang diikuti dengan retraksi sekunder. Adanya malformasi hambatan pada vaskuler . Hematoma subdural yang biasanya unilateral tersering ditemukan pada bagian verteksi dekat sinus longitudinalis. akan terjadi gangguan perkembangan. Pada kelainan bawaan otak. hilangnya neuron dan degenerasi laminar akan menimbulkan narrowergyiri dan berat otak rendah. Manifestasi klinik kelainan ini bergantung pada hebatnya dan lokalisasi lesi yang terjadi. sedangkan batang otak dan medula spinalis mengalami kerusakan yang lebih ringan. mengakibatkan terjadinya daerah dengan perlunakan. atrofi dan pembentukan jaringan parut yang luas. menghasilkan ensefalo malaria yang akhirnya terjadi atrofi dan pembentukan jaringan parut. Perdarahan intraserebral jarang menghasilkan porencephalic cavity. Kerusakan yang paling berat terjadi pada neuron. apakah ia di korteks serebri. perkembangan mental akan dapat dipengaruhi secara positif. Dengan dikembangkannya gerakan-gerakan tangkas oleh anggota gerak. Kernikterus menyebabkan kerusakan pada masa nukleus yang dalam. Penyembuhan terjadi dengan fagositosis bagian yang nekrotik. kurang pada neuroglia dan jaringan penunjang (supporting tissue) dan paling minimal pada pembuluh darah otak. agak kurang pada ganglia basalis dan serebelum.

2. 9) Gangguan visual Bermata juling.sebagai kekacauan pergerakan dan postur tubuh yang disebabkan oleh cacat nonprogressive atau luka otak pada saat anak-anak. dan terutama oleh karena berbagai kesulitan pada pelatihan kamar kecil. gangguan emosional dan mungkin sebab gejala lateralisasi pada anak hemiplagia. berat/beban dari otak motoriknya IQ rendah. tetapi bukan pada anak spaskis. hilang pendengaran. toksin atau infeksi). terutama pada anak-anak prematur dan quadriplegia. 7) Kehilangan sensibilitas Anak-anak dengan hemiplegia akan kehilangan sensibilitas. Suatu presentasi serebral palsi dapat diakibatkan oleh suatu dasar kelainan (structural otak : awal sebelum dilahirkan. 11) Lateralisasi Dominan pada anak yang normal nya dan yang di/terpengaruh oleh gejala hemiplegia. atau luka- luka/kerugian setelah kelahiran dalam kaitan dengan ketidakcukupan vaskuler . dengan suatu ketegangan [menyangkut] IQ yang yang lebih rendah. 3) Pemeriksaan EKG dilakukan pada pasien kejang atau pada golongan hemiparesis baik yang disertai kejang maupun yang tidak.gerakkan pusat bicara 12) Inkontinensia RM. 13) Penyimpangan Perilaku Tidak suka bergaul. CSS normal. 8) Hilang pendengaran Atrtosis sering terjadi terpasang. 10) Kesukaran untuk bicara Penyebab: disartria. 5) Strain/ketegangan Lebih sering pada qudriplegia dan hemiplegia 6) Pinggul Keseleo/Kerusakan Sering terjadi pada quadriplegia dan paraplegia berat. 2.5 Komplikasi 1) Ataksi 2) Katarak 3) Hidrosepalus 4) Retardasi Mental IQ dibawah 50. 2) Fungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebabnya suatu proses degeneratif. . atasi kortikal. dengan mudah dipengaruhi dan mengacaukan ketidaksuburan/kemandulan.6 Pemeriksaan Diagnostik 1) Pemeriksaan mata dan pendengaran segera dilakukan setelah diagnosis sebral palsi ditegakkan. kemudian akan ada berbagai kesulitan untuk pindah. perinatal. Retardasi mental. Pada serebral palsi.

tendon atau tulang untuk reposisi kelainan tersebut. ahli bedah tulang/ortopedi. Prosedur operasi yang dilakukan disesuaikan dengan jenis operasinya. guru sekolah luar biasa. ahli saraf/neurolog. penderita CP perlu dididik sesuai dengan tingkat inteligensinya. orang tua penderita dan bila perlu ditambah dengan ahli mata. 3) Tindakan bedah Bila terdapat hipertonus otot atau hiperspastisitas. 2. hanya simtomatik. Untuk mencegah kontraktur perlu diperhatikan posisi penderita sewaktu istirahat atau tidur. di Sekolah Luar Biasa dan bila mungkin di sekolah biasa bersama-sama dengan anak yang normal. pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan untuk mengendalikan refluks gastroesofageal. 5) Penilaian psikologis perlu dikerjakan untuk tingkat pendidikan yang dibutuhkan. Fisioterapi ini harus segera dimulai secara intensif. menyamakan kekuatan otot yang antagonis. occupational therapist. Fisio terapi dilakukan sepanjang hidup penderita. 6) Pemeriksaan metobolik untuk menyingkirkan penyebablain dari reterdasi mental. Pembedahan stereotatik dianjurkan pada pasien dengan pergerakan koreotetosis yang berlebihan. ahli fisioterapi. makin banyak gejala penyertanya dan makin berat gejala motoriknya makin buruk prognosisnya. penderita CP perlu ditangani oleh suatu Team yang terdiri dari: dokter anak. 1) Medik Pengobatan kausal tidak ada. tendon. Pada beberapa kasus. 4) Foto rontgen kepala. Selain fisio terapi. 2) Fisioterapi Fisioterapi bertujuan untuk mengembangkan berbagai gerakan yang diperlukan untuk memperoleh keterampilan secara independent untuk aktivitas sehari-hari. otot atau pada tulang. perawat anak. ahli THT. Pemberian obat-obatan pada CP bertujuan untuk memperbaiki . menstabilkan sendi-sendi dan mengoreksi deformitas. pekerja sosial dan lain-lain. Tindakan operasi lebih sering dilakukan pada tipe spastik dari pada tipe lainnya. dianjurkan untuk dilakukan pembedahan otot. untuk membebaskan kontraktur persendian yang semakin memburuk akibat kekakuan otot. Juga lebih sering dilakukan pada anggota gerak bawah dibanding dengan anggota gerak atas. apakah operasi itu dilakukan pada saraf motorik. Operasi bertujuan untuk mengurangi spasme otot.7 Penatalaksanaan/Terapi Untuk memperoleh hasil yang maksimal perlu kerjasama yang baik. 4) Obat-obatan Pasien serebral palsi (CP) yang dengan gejala motorik ringan adalah baik. Bagi penderita yang berat dianjurkan untuk sementara tinggal di suatu pusat latihan. ahli jiwa/psikiater/psikolog.

Oleh karena gangguan tingkah laku dan adaptasi sosial sering menyertai CP. misalnya : valium.5 -. Pada keadaan tonus otot yang berlebihan. maka psiko terapi perlu diberikan. misalnya luminal.5 mg pada waktu tengah hari. Evaluasi terhadap tujuan perlu dibuat oleh masing-masing terapist. Di Sekolah Luar Biasa dapat dilakukan speech therapy dan occupational therapy yang disesuaikan dengan keadaan penderita. . dilantin dan sebagainya. tetapi pada CP tipe spastik dan atetosis obat ini kurang berhasil. seseorang penderita CP perlu mendapatkan terapi yang sesuai dengan kecacatannya. Demikian pula obat muskulorelaksan kurang berhasil menurunkan tonus otot pada CP tipe spastik dan atetosis. Dengan adanya kecacatan yang bersifat multifaset. librium atau mogadon dapat dicoba. Orang tua janganlah melindungi anak secara berlebihan dan untuk itu pekerja sosial dapat membantu di rumah dengan melihat seperlunya. 7) Tindakan keperawatan a) Mengobservasi dengan cermat bayi-bayi baru lahir yang beresiko (baca status bayi secara cermat mengenai riwayat kehamilan/kelahirannya). sebab dengan demikian ia dapat merelakan anaknya mendapat perawatan yang cocok serta ikut pula melakukan perawatan tadi di lingkungan hidupnya sendiri. pemberian obat anti kejang menunjukkan hasil yang baik dalam mengontrol kejang. Tujuan yang akan dicapai perlu juga disampaikan kepada orang tua/famili penderita. 6) Psiko terapi untuk anak dan keluarganya. 5) Reedukasi dan rehabilitasi. baik terhadap penderita maupun terhadap keluarganya. Mereka sebaiknya diperlakukan sebagai anak biasa yang pulang ke rumah dengan kendaraan bersanrm-sama sehingga tidak merasa diasingkan. obat golongan benzodiazepine. b) Jika telah diketahui bayi lahir dengan resiko terjadi gangguan pada otak walaupun selama di ruang perawatan tidak terjadi kelainan agar dipesankan kepada orangtua/ibunya jika melihat sikap bayi tidak normal. Pada penderita CP yang kejang. hidup dalam suasana normal. gangguan tingkah laku. Pada penderita dengan kejang diberikan maintenance anti kejang yang disesuaikan dengan karakteristik kejangnya. Pada penderita yang hiperaktif dapat diberikan dextroamphetamine 5-10 mg pada pagi hari dan 2. Jika dijumpai adanya kejang atau sikap bayi yang tidak biasa pada neonatus segera memberitahukan dokter agar dapat dilakukan penanganan semestinya. neuro-motorik dan untuk mengontrol serangan kejang. Pada keadaan choreoathetosis diberikan artane. Tofranil (imipramine) diberikan pada keadaan depresi.

Kaca mata. Obat pengendur otot (untuk mengurangi tremor dan kekakuan) : baclofen dan diazepam. natal dan post natal serta keadaan sekitar kelahiran. Terapi wicara bisa memperjelas pembicaraan anak dan membantu mengatasi masalah makan. merangkak asimetris abnormal.8 Asda B. namun meningkat sejalan dengan pertumbuhan. Pengkajian 1. Terapi okupasional. c. kesulitan dalam menggunakan popok. sariawan lidah yang menetap. Keluhan dan manifestasi klinik Observasi adanya manivestasi cerebral palsy. Asuhan Keperawatan A. keterlambatan pada semua pencapaian motorik. Pendidikan dan sekolah khusus. postur opistotonik (lengkung punggung berlebihan). untuk merekonstruksi terhadap deformitas yang terjadi. khususnya yang berhubungan dengan pencapaian perkembangan : a. Loraces (penyangga). Bedah ortopedik / bedah saraf. 8) Pengobatan yang dilakukan biasanya tergantung kepada gejala dan bisa berupa : Terapi fisik. kesulitan makan. Posture abnormal . Obat anti kejang. Perlambatan perkembangan motorik kasar Manifestasi umum. Perubahan tonus otot Peningkatan atau penurunan tahanan pada gerakan pasif. Riwayat kesehatan Riwayat kesehataan yang berhubungan dengan factor prenatal. buruk menghisap. merasa kaku saat memegang atau berpakaian. b. 3. d. Alat bantu dengar. Tampilan motorik abnormal Penggunaan tangan unilateral yang terlaalu dini. 2. gerakan involunter atau tidak terkoordinasi. Data Umum Mencakup identitas pasien dan penanggung jawab pasien No registrasi : Nama pasien : Usia : Nama ibu : Nama ayah : Riwayat kesehatan keluarga : 2. berdiri atau berjinjit. kaku atau tidak menekuk pada pinggul dan sendi lutut bila ditarik ke posisi duduk (tanda awal).

Anak berliur . Abnormalitas refleks Refleks infantile primitive menetap (reflek leher tonik ada pada usia berapa pun. f. Keterbelakangan mental 3. duduk. Resiko cidera berhubungan dengan kejang 2. Hiperefleksia. Gejala lain yang juga bisa ditemukan pada cerebral palsy adalah: 1. Kelainan penyerta (bisa ada. tangan mengepal. klonus pergelangan kaki dan reflek meregang muncul pada banyak kelompok otot pada gerakan pasif cepat. plantar. merangkak. Gangguan penglihatan 8. Pemeriksaan Fisik a. Gangguan pendengaran 9. menyilangkan atau mengekstensikan kaki dengan telapak kaki plantar fleksi pada posisi telentang. Gangguan bicara . Pernafasan yang tidak teratur 5. Gerakan terbatas 3. siku fleksi. Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya menggapai sesuatu. Gangguan menangkap suara tinggi . Diagnosa Keperawatan 1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal 3. lengan abduksi pada bahu. Muskuluskeletal: spastisitas. Mempertahankan agar pinggul lebih tinggi dari tubuh pada posisi telungkup. bisa juga tidak). Kecerdasan di bawah normal 2. Nutrisi: intake yang kurang B. Neurosensory: . berguling. Kerusakan perilaku dan hubungan interpersonal. Gangguan menghisap atau makan 4. Isolasi sosial berhubungan dengan gangguan kondisi kesehatan . Kontraktur persendian 10. Pembelajaran dan penalaran subnormal (retardasi mental pada kira-kira dua pertiga individu). tidak menetap diatas usia 6 bulan). Refleks Moro. ataksia b. dan menggenggam menetaap atau hiperaktif. berjalan) 6. Bibir dan lidah terjadi gerakan dengan sendirinya c. e. Gangguan berbicara (disartria) 7.

Klien tidak fungsi kognitif pasien dan riwayat dan atau perlengkapan. alkohol. bangunan selama…. C. Rencana Tindakan Keperawatan Diagnosa Rencana keperawatan Keperawatan/ Tujuan dan Intervensi Masalah Kolaborasi Kriteria Hasil Risiko Injury NOC : NIC : Environment Management Risk Kontrol (Manajemen lingkungan) Faktor-faktor risiko : Immune status  Sediakan lingkungan yang aman untuk Eksternal Safety Behavior pasien . mengalami injury dengan penyakit terdahulu pasien mode transpor atau cara kriterian hasil:  Menghindarkan lingkungan yang perpindahan. cara/metode nyaman dan bersih mikroorganisme) untukmencegah  Menempatkan saklar lampu ditempat . Kimia (obat-obatan:agen injury/cedera yang mudah dijangkau pasien. Manusia  Klien terbebas dari berbahaya (misalnya memindahkan atau penyedia pelayanan) cedera perabotan) . farmasi. Fisik (contoh : rancangan Setelah dilakukan  Identifikasi kebutuhan keamanan struktur dan arahan tindakan keperawatan pasien.  Klien mampu  Membatasi pengunjung nikotin. sesuai dengan kondisi fisik dan masyarakat. nutrien: vitamin. kafein. Mal nutrisi  Menggunakan fasilitas  Berikan penjelasan pada pasien dan . personal Internal  Mengontrol lingkungan dari kebisingan  Mampumemodifikasi . Biologikal ( contoh :  Klien mampu  Memasang side rail tempat tidur tingkat imunisasi dalam menjelaskan  Menyediakan tempat tidur yang masyarakat. Psikolgik (orientasi  Memindahkan barang-barang yang gaya hidup afektif) untukmencegah injury dapat membahayakan .  Memberikan penerangan yang cukup risiko dari jenis makanan.  Menganjurkan keluarga untuk lingkungan/perilaku polutan) menemani pasien. menjelaskan factor kosmetik. Bentuk darah abnormal. . kesehatan yang ada keluarga atau pengunjung adanya contoh :  Mampu mengenali perubahan status kesehatan dan leukositosis/leukopenia penyebab penyakit. bahan pengawet. racun.

Penurunan Hb. . Disfugsi gabungan . Trombositopeni . fungsi regulasi (contoh : tidak berfungsinya sensoris) . .. psikososial) . Fisik (contoh : kerusakan kulit/tidak utuh. Sickle cell . kesehatan . Perkembangan usia (fisiologik. Hipoksia jaringan . Disfungsi efektor . . Perubahan faktor perubahan status pembekuan. Thalassemia. berhubungan dengan mobilitas) Diagnosa Rencana keperawatan Keperawatan/ Tujuan dan Intervensi Masalah Kolaborasi Kriteria Hasil . Biokimia. Imun-autoimum tidak berfungsi.

Terapi pembatasan gerak dengan kriteria hasil: kesehatan lain tentang teknik . Keterbatasan ketahan kardiovaskuler tindakan keperawatan tongkat saat berjalan dan cegah selama…. Gangguan metabolisme  Monitoring vital sign sebelm/sesudah  Mobility sel latihan dan lihat respon pasien saat Level . Kurang pengetahuan  Klien ambulasi tentang kegunaan meningkat dalam  Kaji kemampuan pasien dalam pergerakan fisik aktivitas fisik mobilisasi . Gangguan mobilitas fisik NOC : NIC :  Joint Berhubungan dengan : Exercise therapy : ambulation Movement : Active . . kontrol dan atau masa . Kurang support performance dengan kebutuhan lingkungan Setelah dilakukan  Bantu klien untuk menggunakan . nyeri dalam meningkatkan kebutuhan ADLs ps. Tidak nyaman.gangguan terhadap cedera . Indeks massa tubuh  Mengerti  Latih pasien dalam pemenuhan diatas 75 tahun percentil tujuan dari kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai dengan usia peningkatan mobilitas sesuai kemampuan . Depresi mood atau mobilisasi (walker) cemas . Keterlembatan latihan  Self care perkembangan  Konsultasikan dengan terapi fisik . Penurunan kekuatan otot. Kerusakan persepsi  Memverb  Dampingi dan Bantu pasien saat sensori alisasikan perasaan mobilisasi dan bantu penuhi . neuromuskuler berpindah  Ajarkan pasien bagaimana . Kerusakan kekuatan dan  Berikan alat Bantu jika klien muskuloskeletal dan kemampuan memerlukan. Kehilangan integritas mobilitas fisik teratasi  Ajarkan pasien atau tenaga struktur tulang . Intoleransi  Memper merubah posisi dan berikan bantuan aktivitas/penurunan agakan penggunaan jika diperlukan kekuatan dan stamina alat Bantu untuk . Pengobatan : ADLs  Transfer tentang rencana ambulasi sesuai . Kerusakan kognitif .

Keengganan untuk memulai gerak . kesulitan memulai langkah pendek) . Malnutrisi selektif atau umum DO: . Keterbatasan motorik kasar dan halus . tidak digunakan. Gerakan sangat lambat dan tidak terkoordinasi Diagnosa Rencana keperawatan Keperawatan/ Tujuan dan Intervensi Masalah Kolaborasi Kriteria Hasil . Gaya hidup yang menetap. Perubahan gerakan (penurunan untuk berjalan. Gerakan disertai nafas pendek atau tremor .. Penurunan waktu reaksi . Keterbatasan ROM . Kesulitan merubah posisi . deconditioning . kecepatan. Ketidak stabilan posisi selama melakukan ADL .

Isolasi Sosial NOC : NIC :  Social Berhubungan dengan : Socialization enhacement interaction skills .isolasi sosial interpersonal menyelesaikan tugas teratasi dengan kriteria  Berikan umpan balik tentang perkembangan) hasil: peningkatan dalam perawatan dan . Perilaku yang tidak kesejahteraan  Kurangi stigma isolasi dengan sesuai dengan  Keseimb menghormati martabat pasien perkembangan angan perasaan  Gali kekuatan dan kelemahan . Sumber personal yang dan tujuan anggota dan bioskop tidak adekuat keluarga  Fasilitas pasien yang mempunyai . Gangguan penampilan oleh keluarga. Minat/ketertarikan yang  Iklim penampilan diri atau aktivitas lain imatur sosial keluarga :  Hadapkan pasien pada hambatan . Nilai sosial yang tidak menggunakan pendengaran diterima aktivitas yang  Fasilitasi pasien untuk berpartisipasi DO: menarik. teman dan komunitas level fisik  Dukung hubungan dengan orang  Sosial . Afek tumpul :mampu pasien dalam berinteraksi sosial . Ketidakmampuan lingkungan yang penilaian. Tidak adanya dukungan menyenangkan dan  Membantu pasien mengembangkan orang yang dianggap menenangkan untuki atau meningkatkan keterampilan penting meningkat sosial interpersonal . jika memungkinkan menjalani hubungan yang mendukung yang  Dukung pasien untuk mengubah memuaskan bercirikan hubungan lingkungan seperti pergi jalan-jalan . dalam diskusi dengan group kecil\ . Gangguan kondisi support lain yang mempunyai minat dan kesehatan  Post tujuan yang sama . Perubahan status mental  Fasilitasi dukungan kepada pasien  Stress . Bukti kecacatan (mis: menyesuaikan . Faktor yang berperan trauma syndrome  Dorong melakukan aktivitas sosial terhadap tidak adanya hubungan personal yang Setelah dilakukan dan komunitas memuaskan (mis : tindakan keperawatan  Berikan uji pembatasan terlambat dalam selama…. Perilaku sosial yang tidak  Partisipa penurunan sensori seperti diterima si waktu luang : penggunaan kacamata dan alat .

Ada didalam subkultural sebagai respon . Tindakan berulang respon terhadap . Afek sedih. Sakit. keadaan tertentu menarik diri  Tingkat persepsi positif tentang status kesehatan dan status hidup individu  Partisipa si dalam bermain. Dipenuhi dengan pikiran an kesepian sendiri mengendalikan . Tidak komunikatif. penggunaan aktivitas oleh anak usia 1-11 tahun untuk meningkatkan kesenangan. Menunjukkan keparahan respon permusuhan emosi sebagai . Tidak ada kontak mata  Keparah . ingin keadaan tertentu sendirian  Penyesu . fisik. tiindakan tidak terhadap keadaan berarti tertentu . hiburan dan perkembangan  Meningk atkan hubungan yang efektif dalam perilaku pribadi  Interaksi . Menunjukkan perilaku aian yang teapt yang tidak dapat diterima terhadap tekanan oleh kelompok kultural emosi sebagai yang dominan respon terhadap . mental) terhadap emosi .

sosial dengan orang. kelompok atau organisasi  Ketersed iaan dan peningkatan pemberian aktual bantun yang andal dari orang lain  Mengung kapkan penurunan perasaan atau pengalaman diasingkan .

Jakarta: EGC. Kusuma. dkk. Volume 2. dkk. Marilyn. Edisi Revisi Jilid 2. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik . 2009. Hardhi.Wong. Yogyakarta : MediAction Publishing. 2010. L. Penerbit buku Kedokteran EGC. . (terjemahan). Donna. Jakarta. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC. Buku Ajar Keperawatn Pediatrik. DAFTAR PUSTAKA Eaton.