You are on page 1of 37

Mini Project

Perbedaan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat yang
Pernah Menderita DBD Dengan yang Bukan Penderita DBD di Wilayah
Puskesmas Melati

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Prasyarat Kegiatan Program Internship Dokter Indonesia
di Puskesmas Melati Kuala Kapuas

Disusun Oleh :
dr. Wirman Halim
dr. Asti Yuniar Dwi Pamilih
dr. Riani Limbong

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA (PIDI)
2015

1

Perbedaan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat yang
Pernah Menderita DBD Dengan yang Bukan Penderita DBD di Wilayah
Puskesmas Melati

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Prasyarat Kegiatan Program Internship Dokter Indonesia
di Puskesmas Melati Kuala Kapuas
Telah dipresentasikan dan disahkan pada
Mei 2014

Disusun Oleh :
dr. Wirman Halim
dr. Asti Yuniar Dwi Pamilih
dr. Riani Limbong

Dokter Pendamping

dr. Satria Ramli

2

DAFTAR ISI

BAB I...................................................................................................................... 5
PENDAHULUAN....................................................................................................... 5
A. Latar Belakang.................................................................................................. 5
B. Perumusan Masalah........................................................................................... 7
C. Daftar Masalah................................................................................................. 8
D. Prioritas Masalah............................................................................................... 8
E. Tujuan Penelitian............................................................................................... 8
F. Manfaat Penelitian............................................................................................. 8
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................ 9
A. Definisi........................................................................................................... 9
B. Sumber Penularan.............................................................................................. 9
C. Gambaran Klinis............................................................................................. 10
D. Komplikasi.................................................................................................... 14
E. Pencegahan.................................................................................................... 14
F. Pengobatan.................................................................................................... 17
G. Pengetahuan................................................................................................... 17
H. Sikap............................................................................................................ 18
I. Perilaku........................................................................................................ 19
BAB III.................................................................................................................. 20
METODOLOGI PENELITIAN.................................................................................... 20
A. Design Penelitian............................................................................................. 20
B. Tempat dan Waktu........................................................................................... 20
C. Subyek Penelitian............................................................................................ 20
D. Kriteria......................................................................................................... 20
E. Variable Penelitian........................................................................................... 21
F. Definisi Operasional......................................................................................... 21
G. Instrumen Penelitian......................................................................................... 21
H. Prosedur Pengumpulan Data............................................................................... 22
J. Etika Penelitian............................................................................................... 22

3

........................................... Saran............................................ 30 B.................................................................................................................. 23 A.................................................................................................................................................... 23 HASIL DAN PEMBAHASAN................................ 23 B............................................................... Kesimpulan..................................................................BAB IV.......................... 33 4 ................................................................................................................ 27 BAB V............. 30 A............................................................ 30 KESIMPULAN DAN SARAN........... 31 LAMPIRAN................................................................................................................................................................... 30 DAFTAR PUSTAKA........... Pembahasan.......................................................................... Hasil Penelitian...............................

19 posyandu balita. 8 buah kendaraan operasional roda dua. sehingga Indonesia menduduki urutan tertinggi kasus DBD di negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).bidan 12. Kelurahan Selat Dalam.57 per 100. 2 Puskesmas Pembantu. seperti dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni dari 908 kasus di hampir 10 negara tahun 1955-1959 menjadi 1.777 kasus tahun 2010 dengan total kematian 1. dokter gigi 1. Jumlah penderita DBD pada tahun 2014 terbanyak di Kecamatan Selat tengah(23).016. Untuk memperluas jangkauan pelayanan.Lokasi Puskesmas Melati berada di tengah kota Kuala Kapuas. Tiga Kecamatan lain yang perlu mendapat perhatian dengan sudah adanya kasus pada tahun 2014 adalah Selat dalam (21).358 orang. maka terdapat 2 (dua) buah pustu yaitu Pustu Handel Ulis (Kelurahan Selat Hulu → Kelurahan Selat Utara).76 kilometer persegi. Untuk pelayanan kesehatan di puskesmas melati tahun 2014 dilaporkan dokter umum 3. 2 Poskesdes. selat hulu (4). Untuk sarana kesehatan berbasis masyarakat di Puskesmas Melati sudah terbentuk. BAB I PENDAHULUAN A. di wilayah Kecamatan Selat dan membawahi 4 kelurahan yaitu Kelurahan Selat Tengah. perawat gigi 2.Kelurahan Selat Hulu dan Selat Utara.000 penduduk. Sei atas Sebelah Selatan : Kelurahan selati hilir Sebelah Timur : Sungai kapuas Sebelah Barat : Kecamatan Kapuas barat Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Melati adalah yang terbanyak di antara 23 puskesmas se-kabupaten Kapuas.512 jiwa. kasus DBD meningkat sejak tahun 1968. Puskesmas induk terletak di kelurahan Selat Tengah.612 kasus di hampir 60 negara tahun 2000-2009. Data terakhir per November 2014 jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas adalah 40. rata-rata tingkat kejadian nasional 65. dari 58 kasus menjadi 155. Puskesmas melati adalah Puskesmas rawat jalan dengan luas wilayah kerja 44. Sarana pelayanan kesehatan di wilayah Puskesmas Melati terdiri atas 1 Puskesmas Induk. apoteker 1. Latar Belakang Perkembangan kasus DBD di tingkat global semakin meningkat. perawat 9. Di Indonesia. 2 poskesdes. Batas-batas wilayah Puskesmas Melati adalah : Sebelah Utara : Kec. 1 unit mobil puskesmas keliling dan 3 rumah dinas. dan 1 posyandu lansia 5 . yang termasuk di dalamnya penduduk miskin. selat utara(2).

bulan Juni 2014 sebanyak 9 orang. Bulan april tahun 2014 sebanyak 7 orang.. bulan november 2014 sebanyak 28 orang. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan cara pengendalian vektor sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit DBD. Bulan april tahun 2014 sebanyak 3 orang. Kampanye PSN sudah digalakkan pemerintah dalam hal ini Departemen 6 . Sampai saat ini masih belum ditemukan obat dan vaksin yang efektif untuk penyakit DBD. Bulan mei 2014 sebanyak 1 orang. bulan agustus 2014 sebanyak 0 orang. . bulan september 2014 sebanyak 0 orang. Untuk angka kejadian Demam Dengue (DD) Pada Bulan Januari 2014 sebanyak 0 orang. di kecamatan selat hulu sebanyak 4 orang dan di kecamatan selat utara sebanyak 2 orang. Bulan Februari 2014 sebanyak 6 orang. . Bulan Juli 2014 0 orang. Sedangkan Angka kejadian Demam dengue (DD) di kecamatan selat tengah sebanyak 5 orang. Angka Kejadian DBD dan DD di Kawasan Puskesmas Melati Tahun 2014 N0 Kasus Bulan Total 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 DBD 8 6 12 7 1 9 6 1 3 10 28 96 187 2 DD .. bulan Juni 2014 sebanyak 0 orang. Tabel 2. Bulan Maret 2014 sebanyak 2 orang. di kecamatan selat dalam sebanyak 22 orang. 2 3 . dan bulan desember 2014 sebanyak 96 orang. Bulan Maret 2014 sebanyak 12 orang. . Tabel 1. di kecamatan selat hulu sebanyak 1 orang dan di kecamatan selat utara sebanyak 6 orang. Bulan Juli 2014 6 orang. bulan oktober 2014 sebanyak 0 orang. bulan november 2014 sebanyak 0 orang. bulan agustus 2014 sebanyak 1 orang. bulan oktober 2014 sebanyak 10 orang. 17 22 Angka kejadian DBD di Puskesmas Melati Pada Bulan Januari 2014 sebanyak 8 orang. . dan bulan desember 2014 sebanyak 17 orang. di kecamatan selat dalam sebanyak 6 orang. bulan september 2014 sebanyak 3 orang. . Bulan Februari 2014 sebanyak orang. Bulan mei 2014 sebanyak 0 orang. Angka Kejadian DBD dan DD di Puskesmas Melati per Kecamatan Tahun 2014 NO KECAMATAN KASUS DBD DD 1 Selat tengah 23 5 2 Selat dalam 22 6 3 Selat hulu 4 1 4 Selat utara 2 6 Total 51 18 Angka kejadian DBD di kecamatan selat tengah sebanyak 23 orang.

Kegiatan tersebut sekarang berkembang menjadi 3M plus yaitu kegiatan 3M diperluas dengan mengganti air vas bunga. Perhatian terhadap faktor perilaku sama pentingnya dengan perhatian terhadap faktor lingkungan. pemakaian anti nyamuk siang hari dan kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai yang dapat diubah atau disesuaikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kasus DBD terhadap salah satu anggota keluarga B. serta perlunya maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah : Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan. memelihara ikan pemakan jentik. menaburkan bubuk larvasida. Beberapa Kejadian luar biasa (KLB) yang ditemukan. Selain kegiatan pemberantasan sarang nyamuk. penggunaan kelambu siang hari. memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk. Kegiatan 3M plus juga diperluas dengan upaya meningkatkan kebiasaan pada masyarakat untuk menggunakan kelambu pada saat tidur siang. sikap dan perilaku Masyarakat yang pernah menderita DBD dengan yang bukan penderita DBD di Wilayah Puskesmas Melati? C. tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali. upaya lain dalam pengendalian vektor untuk mencegah kejadian DBD dilakukan dengan menghindari terjadinya kontak dengan nyamuk dewasa. mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruangan yang memadai4. faktor perilaku senantiasa berperan penting. menutup tempat-tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk. Selain itu pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari yang dapat mengurangi kontak dengan nyamuk dewasa juga menjadi upaya mencegah kejadian DBD. menutup lubang lubang pada potongan bambu/pohon. demam berdarah dengue 7 . Pencegahan ini dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor kebiasaan keluarga diantaranya kebiasaan tidur siang. memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar. Daftar Masalah Berdasarkan data register pasien yang berobat ke Puskesmas Melati pada tahun 2014 dan tahun 2015 didapatkan kejadian luar biasa (KLB) yang harus dilakukan perbaikan. Dalam setiap persoalan kesehatan. termasuk dalam upaya penanggulangan DBD. Kesehatan dengan semboyan 3M. yakni menguras tempat penampungan air secara teratur. Perumusan Masalah Pemberantasan sarang nyamuk merupakan salah satu upaya penanggulangan vektor penyakit DBD dengan menghilangkan jentik sebagai sasaran utama. khususnya dalam hal upaya pencegahan penyakit. dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam ruangan rumah. memasang kawat kassa.

Demam Berdarah Dengue (DBD) termasuk salah satu kejadian luar biasa (KLB) yang berhasil ditemukan. daftar masalah di Puskesmas Melati. E. Bagi Peneliti lain Menambah pengetahuan dan pengalaman khusus dalam melakukan penelitian terhadap pengetahuan. D. Manfaat Penelitian 1. Prioritas Masalah Prioritas masalah yang didapatkan dari data yang sudah ada. sikap dan perilaku responden yang pernah menderita DBD dengan yang bukan penderita DBD di Wilayah Puskesmas Melati F. Bagi Instasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan Sebagai informasi dan bahan pertimbangan dalam pemecahan masalah pada program kesehatan bidang penyakit menular. khususnya masalah pencegahan DBD agar dapat sebagai monitoring dan evaluasi program pemberantasan penyakit menular (P2M) 2. merupakan salah satu Kejadian Luar biasa (KLB) yang terjadi pada akhir 2014 dan januari 2015. sikap dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan DBD 8 . Bagi Masyarakat Sebagai dasar pengetahuan dan pemikiran serta menjadi informasi dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD 3. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan.

namun merupakan vektor yang kurang berperan. fenomena hemoragi. dan vektor perantara. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Aedes albopictus. nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif). sering dengan hepatomegali dan pada kasus berat disertai tanda – tanda kegagalan sirkulasi. gelisah. 9 . muntah darah. kadang-kadang mimisan. Pasien ini dapat mengalami syok yang diakibatkan oleh kebocoran plasma. Definisi Penyakit DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovanan transmission). kesadaran menurun atau renjatan (shock). virus. yaitu manusia. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. atau ruam (purpura). Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. dan leukopenia sebagai gejalanya. lemah atau lesu. virus memerlukan masa tunas 46 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. nyeri tulang atau sendi dan otot. Sumber Penularan Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue. Sekali virus dapat masuk dan berkembangbiak di dalam tubuh nyamuk. berak darah.5 Syok ini disebut sindrom syock dengue (DSS) dan sering menyebabkan fatal. lebam (echymosis). DBD (Dengue Haemoragic Frever/DHF) ditandai dengan empat gejala klinis utama: demam tinggi. seringkali ditandai dengan sakit kepala. nyeri ulu hati. disertai tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechie). Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Di tubuh manusia. Aedes polynesiensis dan beberapa spesies yang lain dapat juga menularkan virus ini.10 Demam dengue (DF) adalah penyakit febris-virus akut. ruam. yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. B.

Gambaran Klinis Infeksi virus dengue dapat asimptomatis atau dapat menimbulkan demam undifferentiated. DD dapat disertai dengan komplikasi perdarahan. khususnya pada orang dewasa. dan menoragia. hematuria. Demam dengue Gambaran klinis dari DD sering tergantung pada usia pasien. DBD Kasus khas DBD ditandai oleh empat manifestasi klinis mayor : demam tinggi. angka fatalitas kasus DD adalah kurang dari 1%. nyeri di belakang mata.4. Perdarahan kulit (petekie) tidak umum terjadi. Jika disertai dengan rembesan plama yang dapat menimbulkan syok (sindrom syok dengue. Anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat mengalami baik sindrom demam atau penyakit klasik yang melemahkan dengan mendadak demam tinggi. Cina. dan ruam. seperti epitaksis. Biasanya perdarahan berat dapat menyebabkan kematian pada kasus ini. Perubahan patofisiologis utama yang menentukan keparahan penyakit pada DBD dan yang membedakannya dengan DD adalah rembesan plasma seperti dimanifestasikan oleh peningkatan hematokrit (hematokonsentrasi. Namun demikian. studi telah menunjukkan bahwa perdarahan gastrointestinal berat dapat terjadi pada orang dengan penyakit ulkus peptikum yang ada sebelumnya.C. Akan penting artinya untuk membedakan kasus DD dengan perdarahan tak lazim dari kasus-kasus DF dengan peningkatan permeabilitas vaskular. kadang-kadang dengan 2 puncak (punggung sadel).6 1.4. perdarahan gusi. Selama wabah infeksi DEN-1 di Taiwan. DSS). fenomena hemoragis. Biasanya ditemukan leukopenia dan mungkin tampak trombositopenia. penyakit virus lain yang ditularkan oleh Vektor epidemiologi serupa. DD harus dibedakan dari demam chikungunya. 10 . yang terakhir ditandai dengan hemokonsentrasi. adalah temuan laboratorium klinis khusus dari DBD. mual dan muntah. Bayi dan anak kecil dapat mengalami penyakit demam undifferentiated.6 2. sering dengan ruam maklopapuler. sakit kepala berat. Pada banyak area endemis. perdarahan gastrointestinal. Trombositopenai sedang sampai nyata dengan hemokonsentrasi secara bersamaan. nyeri otot dan tulang atau sendi. efusi serosa atau hipoproteinemia). Pemulihan mungkin berpengaruh dengan keletihan dan depresi lama.5. dan sering hepatomegali dan kegagalan sirkulasi. demam dengue (DD) atau DBD (DBD). Pada beberapa epidemik.5.

Epistaksis dan perdarahan gusi jarang terjadi.23. wajah dan platum lunak. Suhu biasanya tinggi (>390C) dan menetap selama 2-7 hari. Anak-anak dengan DBD umumnya menunjukkan peningkatan suhu tiba-tiba yang disertai kemerahan wajah dan gejala konstitusional non spesifik yang menyerupai DD. Pada kasus kurang berat. Setelah 2-7 hari demam. Keparahan penyakit dapat diubah dengan mendiagnosis awal dan mengganti kehilangan plasma. Tahap kritis dari perjalanan penyakit dicapai pada akhir fase demam. Splenomegali jarang ditemukan pada bayi. dan nyeri abdominal generalisata umum terjadi. tetapi ikretik tidak selalu terlihat. perubahan ini minimal dan tersembunyi.6 11 . Banyak pasien sembuh secara spontan. Trombositopenia dan hemokonsentrasi biasanya dapat terdeteksi sebelum demam menghilang. Pasien dapat berkeringat. dan nyeri faring sering ditemukan pada pemeriksaan. aksila.4. menunjukkan derajat ringan dari rembesan plasma22.5.6 Fenomena perdarahan paling umum adalah test tourniket positif. sakit kepala. namun. atau tulang dan sendi. ekstremitas dingin dan menunjukkan suatu perubahan pada frekuensi nadi dan tekanan darah. penurunan suhu cepat sering disertai dengan tanda gangguan sirkulasi yang beratnya bervariasi. Ketidaknyamanan epigastrik. Tampak pada kebanyakan kasus adalah petekie halus menyebar pada ekstremitas. tetapi rhinitis dan batuk jarang ditemukan. muntah. bila kehilangan plasma sangat banyak. Meskipun ukuran hepar tidak berpengaruh dengan keparahan penyakit. nyeri tekan pada margin kosta kanan.24. konfulsi virus debris dapat terjadi terutama pada bayi. Beberapa pasien mengeluh sakit tenggorok. Pada kasus yang lebih berat.4. Nyeri konjungtiva mungkin terjadi. terjadi syok dan dapat berkembang dengan cepat menjadi syok hebat dan kematian bila tidak diatasi dengan tepat. seperti anoreksia. yang biasanya terlihat selama fase demam awal. mudah memar dan perdarahan pada sisi fungsi vena.5. pembesaran hepar terjadi lebih sering pada kasus-kasus syok daripada kasus non-syok. perdarahan gastrointestinal ringan dapat terlihat selama periode demam. Kadang suhu mungkin setinggi 40-410C. atau setelah periode singkat terapi cairan dan elektrolit. gelisah. dan nyeri otot. Hepar biasanya dapat diraba pada awal fase demam dan bervariasi dalam ukuran hanya teraba sampai 2-4 cm dibawah margin kostal. Hepar nyeri tekan. limpa dapat tampak menonjol pada pemeriksaan rontgen.

Nyeri otot. Pasien dapat melewati tahap syok berat. Bahkan pada kasus syok berat. Efusi pleural dan asites dapat terdeteksi melalui pemeriksaan fisik atau radiografi. DSS biasanya ditandai dengan nadi cepat. dengan tekanan darah atau nadi menjadi tidak terbaca. kepala. Mata merah tanpa secret f. Namun. i. perdarahan hebat dari saluran gastrointestinal dan organ lain. seluruh tubuh. yang dilaporkan kadang. Dapat disertai perdarahan. perdarahan gusi. langsung tinggi. Pasien dengan hemoragi intrakranial dapat mengalami konvulsi dan koma. Leukopenia 12 . Esefalopati. d. Pasien yag syok dalam bahaya kematian bila pengobatan yang tepat tidak segera diberikan. yaitu : 1. dapat terjadi dalam pengaruhnya dengan gangguan metabolis dan elektrolit atau perdarahan intrakranial29. perut dll. pasien yang dapat bertahan akan membaik dalam 2-3 hari. Tanda prognosis yang baik adalah keluaran urine adekuat dan kembali mempunyai nafsu makan. dengan terjadinya asidosis metabolis.. Nyeri abdominal akut adalah keluhan sering segera sebelum syok. petekiae. dan prognosisnya buruk. jika tealah teratasi. muntah. Panas timbul akut. Pasien pada awal dapat mengalami letargi. Fase Febris a. Dengue Syock Syndrom (DSS) Kondisi Pasien yang berkembang kearah syok tiba-tba menyimpang setelah demam selama 2-7 hari. Pembesaran hati (hepatomegali) h. Durasi syok adalah pendek: secara khas pasien meninggal 12-24 jam. nadi menjadi cepat. 100/90 mm Hg atau hipotensi dengan kulit dingin dan lembab dan gelisah 25. berlangsung 2-7 hari b. meskipun efusi pleural dan asites masih tampak. retro orbital. sendi. Terjadi tanda khas dari kegagalan sirkulasi : kulit menjadi dingin. Pemulihan pada pasien dengan DSS teratasi adalah singkat dan tidak rumit.3. tes Rumple Leede positif. Mual. Penyimpangan ini terjadi pada waktu segera setelah penurunan suhu antara hari ketiga dan ketujuh sakit. Nyeri tengorok dengan pharyng merah e. dan kongesti. mis. Syok yang tidak teratasi dapat menimbulkan perjalanan penyakit terkomplikasi. kemudian menjadi gelisah dan dengan cepat memasuki tahap kritis dan syok. Pada demam berdarah dikenal beberapa fase. lemah dengan penyempitan tekanan nadi (<20 mmHg). kebanyakan pasien tetap sadar hampir pada tahap terminal. Flushing atau ruam eritro makulo papuler (seperti morbili) c. bintul-bintul. epistaxis. tanpa meperhatikan tingkat tekanan. atau sembuh dengan cepat setelah terapi pengantian volume yang tepat. sianosis sirkumoral sering terjadi. tidak nafsu makan dan kadang disertai diare g.

Dehidrasi b. kadang disertai convalescence rash. Gangguan sirkulasi / syok b. yaitu : 1. Kelompok ini adalah varian klinik undifferentiated fever dan dengue fever. syok bahkan profound syok dengan nadi tk teraba dan tekanan nadi tak terukur (kelompok klinik dengue syok syndrome). b. Persisten vomiting 3. Dikenal beberapa tanda / gejala sebagai “warning sign” mengarah ke varian infeksi virus dengue berat. ditandai dengan perbaikan keadaan umum berupa muncul nafsu makan. Kelompok penderita yang klinis memburuk. kadang disertai munculnya konvalesence rash pada kedua tangan dan kedua kaki. j. Periode recovery ini biasanya 13 . Kejang Demam 2. disebabkan terjadinya gangguan hemostatik yang ditandai dengan penurunan jumlah trombosit dan kebocoran plasma yang ditandai dengan peningkatan hematokrit (kelompok klinik dengue haemorhagic fever) sampai dengan terjadinya gangguan sirkulasi berupa presyok. Gangguan fungsi organ 3. Masalah yang seringkali timbul pada fase kritis ini adalah : a. Liver yang cepat membesar Masalah yang dapat timbul pada Fase ini adalah : a. Fase Recovery Fase Kritis berlangsung ≤ 48 jam. produksi urine yang cukup. keinginan bermain. penderita infeksi virus dengue akan terbagi menjadi 2 kelompok : a. Kelompok penderita yang klinis membaik dengan ditandai dengan keadaan umum yang lebih baik dari sebelumnya. Perdarahan massif c. yang segera disusul oleh fase recovery. Abdominal pain / tenderness 2. vital sign yang stabil. Fase Afebris / Kritis Pada saat temperature mulai turun (biasanya terjadi pada hari ke-3 s/d 6 sakit). nafsu makan mulai timbul. Lethargy / restlessness 5. Apabila syok tak tertangani akan jatuh ke dalam prolonged syok kemudian akan disusul terjadinya : 1) Gangguan fungsi multi organ 2) Asidosis metabolic 3) Disseminated Intravascular coagulation yang akan diakhiri dengan perdarahan perdarahan masif dan kematian. Mucosal bleeding 4.

Penurunan kesadaran. . 2002). . Komplikasi Komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya : . Shock atau renjatan. 1. Penatalaksanaan Lingkungan a. berlangsung 48-72 jam. . Masalah yang sering menyertai fase recovery ini adalah hipervolemia. (a) (b) (c) Gambar 1. Kelainan ginjal. Effuse pleura. . Penanggulangan DBD 14 . Perdarahan luas. . . penggunaan larvasida (kimia/abatisasi dan biologi/Bti) dan penggunakan insektisida kimia/Fogging/Pengasapan (untuk Aedes dewasa). Ensefalopati dengue. D. Pencegahan Cara yang paling efektif untuk mencegah penularan DBD adalah pengendalian vektor DBD yaitu dengan penatalaksanaan lingkungan yang dikenal dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (Gertak PSN). Perbaikan Suplai dan Penyimpanan Air Dilakukan dengan cara mengganti air dalam vas setiap hari. Hal ini berfungsi untuk mengurangi kontak vektor dengan manusia (WHO. membalik ember dan semua kontainer air. E. Edema paru. menghilangkan air dari lempeng pot bunga setiap hari.

vas bunga dan tempat penampungan air lainnya. misalnya gelas. Modifikasi Habitat Larva (3M) Modifikasi habitat larva biasa juga dikenal sebagai gerakan 3M yaitu Menutup. bak mandi. ban bekas karena dapat menyimpan air hujan.i) a. menggunakan ulang. Penanganan Sampah padat Upaya pengendalian vektor dengan melakukan penanganan sampah dengan aturan dasar ”mengurangi. b. 15 . Gambar 3. botol. Menguras dan Mengubur barang bekas yang bisa menampung air bersih. Bubuk Abate mempunyai toksisitas yang tinggi pada larva nyamuk tapi sangat rendah terhadap manusia. Penanggulangan Sampah Padat c. Aegypty. Gambar 2. Modifikasi Habitat Larva 2. Cx. Bubuk ABATE biasanya dijual dalam bentuk sand granuler yang dilapisi dengan 1% larutan insektisida yang toksik terhadap larva nyamuk.t. Abatisasi (Penaburan Bubuk Abate) Abatesasi adalah penaburan larvasida insektisida bubuk ABATE pada sarang-sarang nyamuk. dan daur ulang”. Penggunaan Larvasida Kimia (Abatisasi) dan Biologi (B. ABATE (Temephos) merupakan golongan organophosphat yang sekarang digunakan secara meluas terutama untuk pengendalian jentik Ae. quinquefasciatus.

Bahan-bahan tersebut antara lain. seperti bak mandi. untuk air 50 liter ke bawah diberikan 1/2 sendok makan ABATE. telah dikenal organisme yang digunakan sebagai pemangsa larva nyamuk (larvasida). penggunaan bubuk ABATE diberikan satu persen SG (sand granule) dengan takaran satu gram per 10 liter air. 2005). temephos. Beberapa diantaranya adalah ikan-ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah dan ikan cupang. jambangan bunga. Deon. Penggunakan insektisida kimia/Fogging/Pengasapan (untuk Aedes dewasa). 2001). seperti bak mandi dan tempat penampungan air lainnya. bubuk ABATE tidak cocok digunakan untuk sumur. Abatesasi perlu dilakukan hanya pada tempat-tempat air tergenang. Catatan penting yang harus diketahui adalah pengasapan hanya membasmi nyamuk dewasa saja. profoxur dan fenithrothion. Bubuk ABATE hanya efektif digunakan untuk wadah-wadah air yang lebih kecil volumenya. Penggunaan Agen Biologi (B. Dalam aplikasinya. malathion. Gambar 4. hendaknya dibiarkan dulu selama 24 jam sebelum air dimanfaatkan (Nuidja. banyak produk kimiawi yang digunakan untuk mengendalikan nyamuk. sedangkan untuk 50 hingga 100 liter air diberikan satu sendok makan. 3.t. fention. Hal itu menyebabkan banyak bermunculan fenomena resistensi terhadap bahan- bahan insektisida tersebut. 2005) Biasanya untuk bak air yang besar dan susah dikuras. Selama 40 tahun terakhir. b. efeknya hanya 16 . dan selokan kecil yang airnya tergenang.i) Saat ini. Bubuk ABATE (Temephos 1%) (Anonim. Upaya untuk menekan penularan DBD salah satunya adalah pengendalian secara kimiawi melalui pengasapan (fogging). tidak toksik terhadap manusia sekalipun terdapat dalam air minum (Canyon. permetthrin. Yang perlu diketahui pula. Apabila air tersebut digunakan sebagai keperluan air minum. Abatisasi diulang setiap 2-3 bulan dan keampuhan bubuk ABATE bisa efektif sampai dua bulan dalam bak yang tidak dikuras.

Tatalaksana didasarkan atas adanya perubahan fisiologi berupa perembesan plasma dan perdarahan (Depkes RI. Memahami (comprehension) Merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar objek yang diketahui. 2001). beri kompres air dingin atau air es dan berikan obat penurun panas (misalnya parasetamol) dengan dosis untuk anak. Pengetahuan atau kognitif sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). yakni pada kamar yang bebas nyamuk atau diberi kelambu (Hendarwanto. atau oralit. yakni: 1. Aplikasi (application ) 17 . teh. Tahu ( know) Merupakan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. menyimpulkan. Kedalaman pengetahuan yang diperoleh seeorang terhadap suatu rangsangan dapat diklasifikasikan berdasarkan enam tingkatan. 2001). termasuk ke dalam tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.anak sebanyak 10 . bertahan 2 hari dan insektisida yang digunakan harus diganti secara periodik untuk menghindari resistensi nyamuk Aedes (Ginanjar. 3. tahu merupakan tingkatan pengalaman yang paling rendah.banyaknya dengan air yang sudah dimasak seperti air susu. meramalkan. Oleh karena itu.20 mg/Kg berat badan dalam 1 hari dan untuk dewasa 3x1 tablet tiap hari. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan keluarga jika ada salah satu atau lebih anggota keluarganya diduga terkena DD atau DBD yakni memberi minum sebanyak . Setelah itu jangan lupa dibawa segera ke dokter atau petugas puskesmas pembantu atau bidan desa atau perawat atau ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat G. F. 2. Untuk menurunkan demam. Pengobatan DBD bersifat suportif. dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 2008). Pengetahuan Pengetahuan (knowledge ) merupakan hasil dari tahu dan pengalaman seseorang dalam melakukan penginderaan terhadap suatu rangsangan tertentu. menyebutkan contoh. Pengobatan Setiap pasien yang diduga menderita demam dengue (DD) atau DBD (DBD) sebaiknya dirawat di tempat terpisah dengan pasien penyakit lain. Orang telah paham akan objek atau materi harus mampu menjelaskan.

Bertanggung jawab (responsible ) Mempunyai tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala resiko. dan masuk ke dalam struktur organisasi tersebut. 2005). Analisis ( analysis) Kemampuan dalam menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponen- komponen. H. Evaluasi (evaluation) Kemampuan dalam melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek (Notoatmodjo. 2. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan masalah. 3. 18 . Merespon (responding ) Memberikan jawaban apabila ditanya. 5. Sikap Merupakan respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Orang lain berperilaku bertentangan dengan sikapnya. Kemampuan dalam menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Sikap terdiri dari berbagai tingkatan. dan bisa juga merubah sikapnya sesudah yang bersangkutan merubah tindakannya.bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Namun secara tidak mutlak dapat dikatakan bahwa perubahan sikap merupakan loncatan untuk terjadinya perubahan perilaku. Menerima (receiving ) Mau dan memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan. Sintesis ( synthesis ) Kemampuan dalam meletakkan atau menghubungkan bagian. 4. Manifestasi sikap tidak langsung dilihat akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang tertutup. mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pertanyaan respon terhadap suatu objek. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan dapat juga tidak. 6. antara lain : 1. 4.

Faktor keturunan adalah merupakan konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Ada 2 hal yang dapat mempengaruhi perilaku yaitu faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Perilaku sakit yakni segala tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang merasa sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Perilaku kesehatan yaitu hal . sistim pelayanan kesehatan dan makanan serta lingkungan. Perilaku Perilaku adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Perilaku peran sakit yakni segala t indakan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan.Menurut Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respon).hal yang berhubungan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Lingkungan adalah kondisi atau merupakan lahan untuk perkembangan perilaku tersebut. 2. Perilaku kesehatan adalah suatu proses seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit.I. Menurut Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health related behavior) sebagai berikut: 1. Jadi perilaku manusia adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. 19 . 3.

selat dalam. C. Bersedia menjadi responden dalam penelitian 20 . Penelitian ini mencoba untuk melihat gambaran mengenai perbedaan tingkat pengetahuan. Populasi terjangkau : di kecamatan Selat Tengah. Orang yang tinggal di daerah puskesmas melati di kecamatan selat hulu. Populasi a. Usia > 20 tahun c. Selat Dalam dan pasien yang berobat di puskesmas melati. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari . Kriteria 1. selat tengah. Design Penelitian Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan rancangan cross sectional. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Wilayah Puskesmas Melati Kabupaten Kuala Kapuas Provinsi Palangkaraya. Subyek Penelitian 1.Maret 2015. Populasi target : Semua penduduk di wilayah Puskesmas Melati b. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa pada kecamatan Selat Tengah dan Selat Dalam sebagai penyumbang kasus DBD dan dikawasan Puskesmas Melati Lainnya sebagai daerah bebas DBD . D. sikap dan perilaku Masyarakat yang pernah menderita DBD dengan yang bukan penderita DBD di Wilayah Puskesmas Melati B. dan selat utara b. Sampel Sampel yang didapatkan dalam penelitian ini adalah 30 responden. 2. Kriteria inklusi a.

Kuesioner 21 . c. Bukan penduduk asli daerah tersebut b. Variable Penelitian 1.100% nyamuk demam berdarah Kurang : apabila didapatkan <90% G. Instrumen Penelitian Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah : 1. Definisi Operasional Variabel Sub variabel Definisi Operasional Alat Hasil Ukur Skala ukur Perilaku a. Tidak bisa membaca dan menulis c. Variabel bebas (independent) : Perbedaan Tingkat pengetahuan sikap dan perilaku F. Definisi Operasional Tabel 3. Perilaku Perilaku Kuesioner Baik : apabila Numerik responden dan didapatkan >90% terhadap jentik observasi .2.100% nyamuk demam keluarga terhadap berdarah jentik nyamuk Kurang : apabila penyebab demam didapatkan <80% berdarah. Variabel Tergantung (dependent) : penderita DBD dan Penderita bukan DBD 2. Kriteria eksklusi a. Sikap Sikap yang dimaksud Kuesioner Baik : apabila Numerik responden dalam penelitian ini didapatkan >80% terhadap jentik penilaian atau pendapat . didapatkan <60% b. Pena 2. Tidak sehat secara mental E. Pengetahuan Pengetahuan adalah Kuesioner Baik : apabila Numerik keluarga responden sesuatu yang diketahui didapatkan >60% terhadap terhadap jentik keluarga tentang jentik – 100% pencegahan nyamuk demam nyamuk demam penyakit DBD berdarah berdarah dan hal-hal Kurang : apabila yang berhubungan.

Prosedur Pengumpulan Data Penelitian ini akan dilakukan dalam beberapa tahap. Pengolahan data penelitian b. Kuesioner pengetahuan sikap dan perilaku tentang jentik nyamuk menggunakan kuesioner yang pernah digunakan sebelumnya oleh peneliti lain tanpa melakukan modifikasi lagi. Selanjutnya memberikan penjelasan langsung kepada para subjek penelitian tentang maksud. Menetapkan permasalahan b. Melakukan pengumpulan data 3. Penyajian hasil penelitian I. meliputi : 1. yang mana semua data dan informasi yang diberikan akan dijaga kerahasiaanya dan tidak akan disebarluaskan baik melalui media elektronik maupun media cetak yang dapat diketahui masyarakat. Mendapatkan inform consent dari responden b. dan cara pengambilan data. 2. Penyusunan laporan penelitian c. Tahap Persiapan a. Kemudian memberikan kuesioner untuk diisi oleh responden sekaligus sebagai permintaan izin kepada responden. Etika Penelitian Sebelum melaksanakan kegiatan penelitian terlebih dahulu meminta izin kepada Kepala Desa masing-masing serta persetujuan dari para subjek penelitian. Permohonan ijin penelitian 2. Tahap pelaksanaan a. sehingga tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas lagi. Kurangnya pengetahuan dan kemampuan peneliti dalam hal penelitian sehingga penelitian ini mempunyai banyak kekurangan baik dari segi metode penelitian. sumber referensi maupun uji statistik yang digunakan. Tahap akhir a. Melakukan studi kepustakaan tentang hal yang berkaitan dengan penelitian d. tujuan. Kesulitan Penelitian 1. Memilih lahan penelitian c. H. 22 . J.

Maret 2015. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah setiap warga yang berada di rumah saat penelitian berlangsung. 41 – 50 tahun 5 1 d. kemudian dilakukan observasi ke sekeliling rumah . Jenis Kelamin a. tamat SD/sederajat 23 . dan selat utara. 51 – 60 tahun 3 1 e. Perempuan 5 9 2. Tabel 4. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada responden di daerah puskesmas melati di kecamatan selat hulu. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. >60 tahun 0 1 2. Laki – laki 10 6 b. selat dalam. Karakteristik Responden No Karakteristik Positif DBD Negatif DBD 1. Distribusi dari tingkat pendidikan responden adalah sebagai berikut : Tabel 5. Tingkat Pendidikan Negatif Positif DBD DBD Tidak tamat SD 0 0 Tamat SD 1 1 Tamat SMP 1 1 Tamat SMA 9 9 Tamat PT 4 4 Dari tabel tersebut diperoleh data tingkat pendidikan responden di wilayah Puskesmas Melati yang tidak tamat SD sebanyak 0 responden. selat tengah. Tingkat Pendidikan Responden Data mengenai tingkat pendidikan responden didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. 20 – 30 tahun 2 5 b. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari. Usia a. 31 – 40 tahun 5 7 c.

Tingkat pengetahuan responden dibagi menjadi 2 kelompok yaitu pengetahuan kurang dan baik dimana tingkat pengetahuan dikatakan kurang apabila score questioner < 60 % dan baik apabila > 60 %. Tabel 6. sebanyak 1 orang. tamat SMA/sederajat sebanyak 9 orang.33%) sementara hasil yang kurang sebanyak 10 orang (66.66%) dan responden yang negative DBD diperoleh hasil 24 . Hubungan Antara Pengetahuan dan Prevalensi DBD Data dari tingkat pengetahuan responden tentang DBD (DBD) didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. tamat SMP/sederajat sebanyak 1 orang. dan yang mencapai Perguruan Tinggi sebanyak 4 orang. Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap DBD Tingkat pengetahuan Positif DBD Negatif DBD Baik 5 8 Kurang 10 7 Tingkat Pengetahuan Responden Terhadap DBD 12 10 8 6 4 2 0 Baik Kurang baik Penderita DBD Bukan penderita DBD Tingkat pengetahuan antara responden yang positif DBD ( desa prevalensi DBD) di peroleh hasil yang baik sebanyak 5 orang (33. 3.

33%) sementara hasil yang kurang sebanyak 4 orang (26. 4.33%).33%) sementara hasil yang kurang sebanyak 7 orang (46. dimana sikap dikatakan kurang apabila diperoleh score questioner ≤ 80 % dan baik apabila diperoleh score ≥80%. yang baik sebanyak 8 orang (53.66%).67%) sementara hasil yang kurang sebanyak 2 orang (13. Tabel 7. Hubungan Antara Sikap dengan Prevalensi DBD Sikap dalam penelitian ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu baik dan kurang. Sikap Responden Terhadap DBD Sikap Positif DBD Negatif DBD Baik 11 13 Kurang 4 2 Sikap Responden Terhadap DBD 14 12 10 8 6 4 2 0 Baik Kurang baik Penderita DBD Bukan penderita DBD Sikap antara responden yang positif DBD ( desa prevalensi DBD) di peroleh hasil yang baik sebanyak 11 orang (73. 25 .66%) dan responden yang negative DBD diperoleh hasil yang baik sebanyak 13 orang (86.

33%) sementara hasil yang kurang sebanyak 13 orang (86. Hubungan Antara Perilaku dan Angka Kejadian DBD Data dari perilaku responden terhadap DBD (DBD) didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden.5. Tabel 8.67%).33%) sementara hasil yang kurang sebanyak 4 orang (26. Perilaku Responden Terhadap DBD Perilaku Positif DBD Negatif DBD Baik 2 11 Kurang 13 4 Perilaku Responden Terhadap DBD 12 10 8 6 4 2 0 Baik Kurang baik Penderita DBD Bukan penderita DBD Perilaku antara responden yang positif DBD ( desa prevalensi DBD) di peroleh hasil yang baik sebanyak 2 orang (13. Perilaku responden dibagi menjadi 2 kriteria yaitu kurang dan baik. dimana perilaku dikatakan baik apabila diperoleh score ≥90% dan kurang apabila hasilnya ≤90%.67%) dan responden yang negative DBD diperoleh hasil yang baik sebanyak 11 orang (73. 26 .

efektif dan sederhana. selat tengah. Sampel dipilih secara random dari lokasi kecamatan Selat Tengah dan Selat Dalam sebagai penyumbang kasus DBD dan dikawasan Puskesmas Melati Lainnya sebagai daerah bebas DBD. Keadaan ini erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah di Indonesia (Depkes RI. Pembahasan Pada penelitian ini. 27 . Kegiatan ini harus didukung oleh peran serta masyarakat secara terus menerus dan berkesinambungan mengingat nyamuk ini telah tersebar luas di seluruh tempat. dan tidak sehat secara mental. Dari masing-masing rumah diambil sample 1 orang anggota keluarga yang memenuhi kriteria inklusi yang dibuat dalam penelitian ini yaitu orang yang tinggal di daerah puskesmas melati di kecamatan selat hulu. selat dalam. Penyakit DBD (DBD) adalah salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan dampak sosial dan ekonomi serta berkaitan dengan perilaku manusia. peneliti ingin mengetahui ada tidaknya perbedaan antara Pengetahuan. Pada penelitian Kustini dan Betty (2007) memperlihatkan bahwa pendidikan kesehatan berpengaruh positif terhadap perilaku aktif pada ibu-ibu terhadap pencegahan DBD. dan selat utara. Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah orang-orang yang bukan merupakan penduduk asli daerah tersebut. dan perilaku masyarakat terhadap penyakit DBD dan pemberantasan nyamuk. 2004). sekolah dan tempat-tempat umum. baik di rumah-rumah. Penyuluhan DBD berkaitan erat dengan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan DBD.B. Masyarakat seharusnya memahami bahwa PSN-DBD adalah cara yang paling utama. Jika kriteria inklusi dan inklusi terpenuhi makan bisa menjadi responden dari penelitian. Penelitian Rumondang (2008) juga memperlihatkan bahwa metode ceramah dan film lebih berpengaruh terhadap peningkatan dan pengetahuan pada dokter kecil dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD dari pada metode ceramah dan leaflet. dan Perilaku tentang DBD Masyarakat yang pernah menderita DBD dengan yang bukan penderita DBD di Wilayah Puskesmas Melati. sikap. Penelitian dilakukan dengan cara memberikan kuisioner yang berisi daftar pertanyaan untuk dapat menilai pengetahuan. Upaya untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD yang paling penting adalah dengan mengendalikan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama. Sikap. tidak bisa membaca dan menulis. dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. dengan usia lebih dari 20 tahun.

Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan lainnya. Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Cara pencegahan yang disarankan kepada masyarakat adalah program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara fisik maupun kimia (DepKes RI. sedangkan untuk sikap responden Non DBD didapatkan hasil lebih baik daripada responden DBD. Dari penelitian yang dilakukan pada wilayah puskesmas Melati. serta lingkungan. maka partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian vektor Aedes aegypti sangat menentukan keberhasilannya. 2002). 28 . baik bersifat pasif (pengetahuan. Untuk tingkat Perilaku responden Non DBD Didapatkan Hasil lebih baik daripada responden DBD. Hal ini mungkin terjadi karena kesadaran dan tingkat pengetahuan masyarakat yang pernah terkena DBD masih kurang. (Notoatmodjo.Oleh karena nyamuk tersebut hidup di dalam dan sekitar rumah penduduk. maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau praktis). Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. Respon atau reaksi manusia. 2005). diketahui bahwa tingkat pengetahuan responden Non DBD lebih baik daripada responden DBD. sistem pelayanan kesehatan. karena kurangnya perawatan terhadap lingkungan sekitar. persepsi dan sikap). makanan.

serta PHBS untuk Dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit DBD. yang tercantum dalam tabel di bawah ini.Penyusunan Alternatif Jalan Keluar Sehingga dari hasil jawaban kuisioner tersebut didapatkan bahwa masalah yang ada di masyarakat disebabkan oleh beberapa hal. baik mengenai pencegahan DBD  Menaruh baju kotor di kardus atau kotak pakaian kotor yang di P Perilaku masyarakat tutup rapat-rapat atau bisa setempat yang mencucinya langsung agar tidak tergolong kurang menumpuk. mengenai pencegahan DBD  Mengadakan hari bersih desa setiap minggu pagi pada minggu ke-4 setap bulannya  Mengadakan lomba bersih RT secara rutin 6 bulan sekali meliputi pemantauan ABJ. Usulan alternatif jalan keluar untuk beberapa masalah tersebut antara lain: Tabel 9. penilaian PHBS dan kesehatan lingkungan. penempelan poster kecamatan masyarakat mengenai kesehatan serta pembagian brosur Selat Tengah pencegahan DBD mengenai penyakit DBD dan cara dan Selat pencegahannya. Alternatif Jalan Keluar Permasalahan di wilayah puskesmas Melati 2015 Masalah Penyebab (statitis Alternatif jalan keluar bermakna) Kejadian P Kurangnya Perlunya dilakukan edukasi berupa DBD di pengetahuan penyuluhan. S Sikap masyarakat  Pemasangan kawat kasa pada setempat tergolong ventilasi rumah secara bertahap. 29 .

b. Saran 1. Lebih sering berinteraksi dengan masyarakat untuk menindak lanjuti suatu penyakit yang dialami oleh komunitas masyarakat tertentu. penempelan poster. Perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga dan memantau kebersihan lingkungan terutama dengan melakukan PSN dengan cara menggalakkan gerakan 3M plus. c. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Tingkat pengetahuan responden negatif DBD lebih baik daripada responden positif DBD 2. Peneliti a. Perilaku responden positif DBD kurang baik B. 2. Perlu dilakukan penyuluhan. b. para kader dengan mengadakan pertemuan secara rutin untuk membahas rencana program dan pelaporan hasil. seperti ketua desa. serta PHBS. serta pembagian brosur mengenai penyakit DBD dan cara pencegahannya. Sikap responden negatif DBD lebih baik daripada responden positif DBD 3. dapat disimpulkan bahwa : 1. 30 . Puskesmas a. Melakukan interaksi yang proaktif kepada tokoh masyarak di desa yang berkaitan. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya. Lebih sering dan aktif dalam menganalisa permasalahan kesehatan terutama pada lingkungannya.

Menggerakkan Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah. 1988. Jakarta 1990.ISSN : 0852-8144. B. Depkes. 1998. 2 : 91 – 100. Jakarta . Direktorat Jenderal PPM & PLP. Direktorar Jenderal PLP & PPM. RI. 2. Healt Behaviour. Petunjuk Teknis Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah. Departemen Kesehatan RI. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas. 6. Green. B. Direktorat Jenderal. 3. 9. Semarang. N. Jakarta 1996. Jakarta.W. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Denge dan Demam Berdarah. Departmen Kesehatan RI. Jossey – Bass Publisher.. Departemen Kesehatan. Second Ed. DAFTAR PUSTAKA 1. Vol. Basuki. Survey Entomologi DBD. Health Promotion Planning. Pengantar Pendidikan (Penyuluhan) Kesehatan Masyarakat.S. 7. New York and London. 2007. Departemen Kesehatan RI. 31 . Depkes. San Fransisco and Oxford. 1990. Aplikasi Metode Kasus Kontrol. Modul Latihan Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN DBD). Analisis. Jakarta. 1995. Fakultas Kedokteran UI. 1992. Glanz. 10. Budioro. Jakarta. PPM & PLP. buku paket B. Health Behaviour and Health Education. 12. 4 No. 1991. 5. 2001. Emerging Research Perspective. M. Plenum Press. Direktorat Jenderal PPM dan PL Depkes RI. 4. Petunjuk Teknis Pemberantasan Penyakit MenularDBD.1996/1997. L. BP Undip. An Education and Environmental Approach. Departemen Kesehatan RI.. 1999. Sept. 8.W & Kreuter.et al. RI. Departemen Kesehatan RI. Duma. Jakarta. dkk. 11. D. K. May Field Publishing Co. Analisis Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian DBD di Kota Kendari 2007. Gochman..

. Rineka Cipta. Great Britain 1990. Machfoedz. World Health Organisation. S. Jakarta. Pengobatan. 2000. UI Press.ac. RI. Faktor – faktor yang Berhubungan dengan Keberadaan Jentik Aedes. WHO.367-512pdf. World Health Organisation. 23. Kesukaan Nyamuk Aedes aegypti pada berbagai Tempat Penampungan air Sesuai dengan Jenis Bahannya Sebagai Tempat Perindukan. Insect and Rodent Control Through Environmental Management. Pendidikan Kesehatan bagian dari Promosi Kesehatan. 22. 26. Jakarta. 2003. 17. Notoatmodjo. dan Pengendalian. Lameshow. Depkes.. Jakarta 2003. RI. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah. 1995. Manual on Environmental Management for Mosquito Control. 1999. 24. 16. 1992. Sumarmo.lemlit. World Healt Organisation. 15. Adequacy of Sample Size in Health Studies. Jakarta 1998. Jakarta. Jakarta. Ilmu Kesehatan Masyarakat. UN. S. 2005. 14. S.Rineka Cipta. Berita Epidemiologi ISSN 01236 0882. Genewa. S. Nelson and Pnat. 20. WHO dan Depkes. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. http://www. Jakarta. 1997.13. New York : Who Vector and Rodent Control Research Unix Vo. Sudigdo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Antony Row Ltd. 19. Terjemahan dari WHO Regional SEARO No. Dkk. Demam Berdarah (Dengue) pada Anak.id/file/%20baru%202007/buku%20%/hal. et. Penyakit Demam Dengue dan DBD. Pencegahan. 32 . 18. Sumadji. Suroso T. DW. Jakarta 1992.unila. 29 “Prevention Control of Dengue and Dengue Haemoragic Fever”. Notoatmodjo. Litbang. 2008 . 25. Diagnosis. 21. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. I. Binarupa Aksara. 3. Depkes. Jakarta.World Health Organisation. Sumekar. 1988. Fitramaya. New York. DBD.al. Observation on The Breeding Habitat of Aedes aegypti in Jakarta. 7 No.

33 .

.. Virus b.... g. Mendadak tinggi (awalnya sehat – sehat saja) 34 . Peternak c. Data Umum 1. Pekerjaan*) : a. 2.500.. Nyamuk k. Bapak / ibu diminta untuk mengisi data umum pada poin B dibawah ini dan cukup memberi lingkaran pada tanda (*) B. Umur : 3. 1. Alamat : 4. Jenis Kelamin *) : Pria / Wanita 5.000 b.000. Tidak tamat SD b. Pertanyaan harus dijawab dengan tenang dan jujur 3..000 e.. 1.000 d. Bapak / ibu diberikan sejumlah pertanyaan yang harus diisi 2.. PNS e. apakah penyebab DBD? a.. Petunjuk : Untuk setiap pertanyaan cukup dijawab dengan memberi tanda silang (X) pada jawaban yang menurut anda benar j... Buruh 6. bagaimana ciri demam pada DBD? a..... Petani g....500. Tamat SMA e. i. Pendidikan Terakhir *) : a. f. Menurut anda. Bakteri c.. Menurut anda.. Jawablah setiap pertanyaan dengan menggunakan ballpoint 4. Pedagang b. Pendapatan perbulan : a. Kuisioner Pengetahuan Masyarakat tentang DBD h.LAMPIRAN Kuisioner Penelitian A. Petunjuk 1..... Pegawai Swasta f.000-1. 500.. Tidak sekolah 7.. <500. Perguruan tinggi/akademi f.000.. Nama : 2. Tamat SD c.. >1. d.. Lain – Lain.000 c.000–1. Tamat SMP d.

Pembesaran hati q. Suhu naik sore hari dan disertai keringat malam l. ai. w. 5. Petunjuk: Untuk setiap pertanyaan cukup dijawab dengan memberi tanda silang (X) pada jawaban yang menurut anda benar x. r. 7. apa yang sebaiknya dilakukan di rumah jika ada salah seorang anggota keluarga diduga terkenan DBD? a. Apabila anda menemukan seseorang yang merasakan gejala aj. S T ad. aa. Benar b. Penanganan demam berdarah perlu dilakukan sedini mungkin af. Salah o. Menurut anda. ac. ah. Dibawah ini merupakan gejala DBD adalah (jawaban boleh lebih dari satu) a. u. Pemberian vaksin DBD b. Pertanyaan ab. a. Melakukan pencegahan dengan membunuh nyamuk penyebar DBD m. b. bagaimana cara untuk mencegah terkena DBD? a. ag. Jika seseorang didiagnosa DBD. Kuisioner Sikap Masyarakat terhadap DBD v. Suhunya tinggi terus menerus c. perlu disekitarnya dipasang kelambu untuk mencegah nyamuk menggigitpenderita DBD sehingga tidak menularkan ke orang lain. DBD (DBD) dan Demam Dengue (DD) adalah penyakit yang berbedakarena DBD mempunyai gejala yang lebih berat dan DD kemungkinan sembuh lebih besar dibanding DBD. 6. Benar b. Memberi jus jambu biji merah n. DBD sebaiknya segera memeriksakan diri ke Rumah Sakit / dokter 35 . Demam dan sakit kepala b. Perdarahan (mimisan/perdarahan gusi/BAB berdarah) d. Menurut anda. ak. Salah p. s. ae. Mengompres dan memberi obat penurun demam c. a. 4. 3. TS = Tidak Setuju z. Nyeri otot dan bintik – bintik merah c. Pilihan Jawaban : S = Setuju. y. Memberi antibioti dan jamu b. Mandi dengan air bersih c. t.

bs. Tidak cx. ci. Memelihara ikan pemakan jentik di rumah sebaiknya kita bl. cn. cc. cd. cp. bo. Perna S h cy. cg.Apabila sudah dilakukan pengasapan tidak perlu dilakukan an. bu. Kegiatan bersih bersih lingkungan harus digalakkan untuk bt. Bak mandi atau tempat penyimpanan air diupayakan selalu ar. penderita DBD bz. aq. Pertanyaan cw. lakukan bj. bebas dari jentik nyamuk at. lakukan bn. bc. Tempat penyimpanan air sebaiknya ditutup rapat-rapat av. be. Tempat penampungan air yang sulit untuk dikuras sebaiknya bd. bg. aw. cz. ba. Vas bunga yang diisi air dapat digunakan nyamuk untuk bp. cb. ca. Penggunaan kawat kasa pada ventilasi rumah sebaiknya kita bh. bi. cj. ce. bq. Penderita DBD sebaiknya tidak perlu diberi air minum banyak az. bb. berkembang biak br. ax. penanggulangan DBD bv. bk. Petunjuk : Berikan tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang menurut anda sesuai dengan kebiasaan yang anda lakukan dalam kehidupan sehari – hari. co. ao. bw. cq. au. cl. bm. cs. cm. cv.Pelaporan kasus DBD harus dilasanakan ketika dicurigai ada bx. cf. cu. ck. ch. ct. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ap. Apakah anda menutup rapat tempat db. penampungan air di rumah anda? 36 .al. dc. by. ditaburi dengan bubuk abate bf. Kuisioner Perilaku Masyarakat terhadap DBD cr. ay. am. as.

rumah anda dari genangan air? et. eg. dr. atau di kamar anda? df. ex. Apakah anda sudah melakukan gerakan 3M dv. fg. dj. ed. fm. yang berserakan? ej. Apakah anda memeriksa diri minimal jika fe. dh. 37 . el. dn. dt. fb. ff. Apakah anda selalu menjaga lingkungan anda fj. ev. eq. ds. Apakah anda membersihkan halaman luar eu. ei. Apakah anda mengoleskan lotion anti ep. Apakah anda menggantung pakaian di rumah dg. mandi sekurang – kurangnya setiap seminggu sekali? dz. untunk penanggulangan DBD? du. ada keluarga yang sakit? fd. dy. eb. dengan sikat? ey. fl. da. ew. dm. Apakah anda sudah menguras rutin bak ea. do. em. Apakah anda memakai kawat kassa di ef. dw. ventilasi rumah anda? ee. es. dx. de. dilingkungan anda sehingga dapat di genangi air? dk. agar tetap bersih? fi. di. fa. en. fk. Apakah anda menguras bak mandi anda ez. eh. fc. dd. ec. fh. Apakah rumah anda terbebas dari sampah ek. kesehatan di kampung anda? dp. nyamuk pada keluarga anda saat akan pergi keluar rumah? eo. er. Apakah anda membiarkan sampah dl. Apakah anda datang ketika ada penyuluhan dq.