You are on page 1of 211

ABORTUS HABITUALIS

Download file lengkap di halaman ini

Pendahuluan

Saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversi di masyarakat Indonesia,
Namun terlepas dari kontorversi tersebut, abortus merupakan masalah kesehatan
masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu.
Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah
perdarahan, infeksi dan eklampsia. Namun sebenarnya abortus juga merupakan
penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan
dan sepsis (Gunawan, 2000). Akan tetapi, kematian ibu yang disebabkan komplikasi
abortus sering tidak muncul dalam laporan kematian, tetapi dilaporkan sebagai
perdarahan atau sepsis. Hal itu terjadi karena hingga saat ini aborsi masih
merupakan masalah kontroversial di masyarakat.

Definisi

Abortus adalah suatu ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan. Istilah abortus digunakan untuk menunjukkan
pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Pernah
dilaporkan bayi dilahirkan dapat hidup diluar kandungan dengan berat badan 297
gram waktu lahir. Akan tetapi jarang bayi dilahirkan dengan berat badan di bawah
500 gram dapat terus hidup, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran
kehamilan sebelum janin mencapai 500 gram atau kurang dari 20 minggu.

Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudigah.
Abortus biasanya ditandai dengan terjadinya perdarahan pada ibu yang sedang
hamil. Dengan adanya USG, sekarang dapat diketahui bahwa abortus dapat
dibedakan menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah abortus karena kegagalan
perkembangan janin dimana gambaran USG menunjukkan kantong kehamilan yang
kosong, sedangkan jenis yang kedua adalah abortus karena kematian janin, di
mana janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyut jantung atau
pergerakan yang sesuai dengan usia kehamilan.

Menurut kejadiannya, abortus dapat dibagi menjadi abortus spontan dan abortus
provokatus.

• Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja
atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis, semata-mata
disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Abortus yang terjadi tanpa obat-obatan
atau secara otomatis mengosongkan uterus. Secara luas dikenal dengan istilah
keguguran.

• Abortus provokatus (induksi abortus) adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan
medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum
atau dilakukan oleh orang yang tdak berwenang

Seorang wanita dikatakan menderita abortus habitualis, apabila wanita tersebut
mengalami abortus 3 kali atau lebih secara berturut - turut atau terus menerus
tanpa tenggang waktu. Wanita yang mengalami peristiwa tersebut, umumnya tidak
mendapat kesulitan menjadi hamil, akan tetapi kehamilannya tidak akan bertahan
lama atau tidak akan berlangsung terus tetapi akan berhenti sebelum waktunya
dengan kata lain akan mengalami abortus (keguguran). Biasanya kejadian abortus
ini terjadi pada trimester pertama, tetapi kadang-kadang pada kehamilan lebih
tua.

Etiologi

Abortus habitualis diduga disebabkan oleh beberapa hal yang kemungkinan besar
sangat berpengaruh, diantaranya adalah :

Faktor Janin

• Kelainan pada zigot
Kelainan genetik pada suami istri (kromosom yang dibawa oleh kedua pasangan)
diduga menyebabkan keguguran.6,8,10 Kelainan telur menyebabkan kelainan
pertumbuhan yang sedemikian rupa sehingga janin tidak mungkin hidup terus,
misalnya karena faktor endogen seperti kelainan kromosom (trisomi dan
polyploidi).

• Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblas).

Endarteritis dapat terjadi dalam villikorealis dan menyebabkan oksigenasi plasenta
terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin.

Faktor Maternal

• Kelainan anatomi pada rahim

Kelainan anatomi pada uterus perlu dibedakan antara kelainan bawaan yang
diderita ibu ataupun kelainan yang didapat oleh karena adanya penyakit dalam
rahim. Misalnya terdapat mioma uteri yang menyebabkan tidak ada ruang yang
cukup untuk berkembangnya hasil konsepsi di dalam rahim sehingga terjadi
keguguran, terutama pada trimester kedua kehamilan. Abnormalitas uterus yang
mengakibatkan kelainan kavum uteri atau adanya halangan terhadap pertumbuhan
dan pembesaran uterus, misalnya fibroid, malformasi kongenital, prolaps atau
retroversio uteri. Kelainan uterus diantaranya : hipoplasia uterus, mioma
(terutama submukosa), serviks inkompeten. Serviks inkompeten ditandai oleh
pembukaan serviks tanpa nyeri pada trimester kedua, atau mungkin awal trimester
ketiga, disertai prolaps atau menggembungnya selaput ketuban ke dalam vagina,
diikuti oleh pecahnya selaput ketuban dan ekspulsi janin immatur. Apabila tidak
diterapi secara efektif, rangkaian ini akan berulang setiap kehamilan.

• Gangguan fungsi rahim (endometrium)

Malfungsi endometrium dapat mengganggu implantasi atau mengganggu bakal janin
dalam pertumbuhan. Diduga ini dipengaruhi oleh : kelainan hormonal, gangguan
nutrisi ibu, penyakit infeksi yang diderita ibu (toxo, rubella), kelainan imunologi
dan faktor psikologi.8,10 Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat
implantasi kurang sempurna menyebabkan pemberian zat-zat makanan pada hasil
konsepsi terganggu.

• Gangguan Hormonal

Ibu yang berisiko mengalami keguguran berulang adalah ibu yang memiliki
gangguan hormonal. Misalnya gangguan hormonal kelenjar gondok. Gangguan pada
kelenjar gondok ini disebut hipertiroidisme bila kadar tiroidnya terlalu tinggi, atau
disebut hipotiroidisme bila kadar tiroidnya sangat rendah. Kelainan ini dapat
menimbulkan gangguan metabolisme, suatu gangguan yang dapat mempengaruhi
perkembangan janin dan menimbulkan keguguran karena terganggunya hormon
progesteron.

Penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus
pada usia kehamilan 10-12 minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih fungsi
korpus luteum dalam produksi hormon.

• Karena ACA (anticardiolipin antibody)

Sekitar 60% ibu yang memiliki kelainan antibodi atau auto antibodi, berisiko
mengalami keguguran berulang. Kelainan ini disebut dengan APS (antiphospholipid
syndrome). Ini merupakan kelainan di dalam sistem kekebalan tubuh. Yaitu
terbentuknya antibodi-antibodi yang tidak normal, seperti ACA (anticardiolipin
antibody). Penderita dengan ACA inilah yang disebut penderita APS. Ibu yang
menderita APS dapat mengalami keguguran. Antibodinya yang abnormal,
mengakibatkan pembekuan sirkulasi darah. Jika ACA terbawa sampai ke dalam
rahim, mengakibatkan pengentalan darah bahkan pembekuan darah dalam
plasenta. Jika darah membeku, terjadilah sumbatan jalan darah ke plasenta
sehingga oksigen dan nutrisi sama sekali tak terkirim. Akibatnya janin tak
mendapat makanan yang dibutuhkannya, dan berujung pada kematian janin. Bila
janin rusak secara otomatis janin akan dikeluarkan oleh tubuh.Keguguran bisa
terjadi pada akhir trimester pertama atau pada trimester kedua.

• Gaya hidup, seperti merokok dan alkoholisme.

Penelitian epidemiologi mengenai merokok tembakau dan abortus spontan
menemukan bahwa merokok tembakau dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya
abortus spontan. Namun, hubungan antara merokok dan abortus spontan
tergantung pada faktor-faktor lain termasuk konsumsi alkohol, perjalanan
reproduksi, waktu gestasi untuk abortus spontan, kariotipe fetal, dan status
sosioekonomi.

• Faktor imunologis

Ketidakcocokan (inkompatibilitas) sistem HLA (Human Leukocyte Antigen)
mempunyai peranan sebagai faktor penting dalam kematian janin berulang. Dua
model patofisiologis utama yang berkembang adalah teori autoimun (imunitas
teradap tubuh sendiri) dan teori aloimun (imunitas terhadap orang lain)

Patofisiologi

Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian
diikuti dengan perdarahan di dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-
perubahan nekrotik pada daerah implantasi, infiltrasi sel sel peradangan akut, dan
akhirnya perdarahan pervaginam. Hasil konsepsi terlepas seluruhnya atau sebagian
yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim. Hal ini
menyebabkan kontraksi rahim dimulai, dan segera setelah itu terjadi pendorongan
keluar rongga rahim(ekspulsi). Seringkali fetus tak Nampak dan ini disebut
‘blighted ovum’ yang juga merupakan salah satu penyebab dilakukannya kuretase
(International Federation of Gynecology and Obsetric, 2000).

Perlu ditekankan bahwa pada abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi
paling lama 2 minggu sebelum perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk
mempertahankan janin tidak layak jika telah terjadi perdarahan banyak karena
abortus tidak dapat dihindari. Sebelum minggu ke 10, hasil konsepsi biasanya
dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum minggu ke 10 vili korealis
belum melekat dengan erat kedalam desidua hingga telur mudah lepas
keseluruhannya. Antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan
hubungan vili korialis dengan desidua makin erat sehingga mulai saat tersebut
sering terdapat sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal jika terjadi abortus.

Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi korialis belum menembus desidua
secara dalam, sehingga hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta
tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan
lebih dari 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil
konsepsi keluar dalam berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau benda
kecil yang tak jelas bentuknya (blighted ovum) janin lahir mati, janin masih hidup,
mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

Manifestasi Klinis

Terjadi abortus spontan secara berulang dan berturut-turut sekurang -kurangnya 3
kali .

Gejala terjadinya abortus adalah sebagai berikut :

• Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.

• Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil,
suhu badan normal atau meningkat.

• Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.

• Rasa nyeri atau kram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus

• Pemeriksaan ginekologi :

Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam, ada / tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium/tidak bau busuk dari vulva

Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium uteri, ada/tidak cairan atau
jaringan berbau busuk dari ostium uteri.

Periksa dalam vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa,
kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.

• Pemeriksaan Penunjang

Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah
abortus
Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.

Diagnosis

Pada umumnya, diagnosis abortus ditegakkan berdasarkan :

Anamnesis :

Diagnosis abortus habitualis tidak sukar ditentukan dengan anamnesis. Gejalanya
seperti abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan disertai
kehamilan menghilang, mamma agak mengendor, uterus mengecil, tes kehamilan
negatif.
Adanya perdarahan, haid terakhir, pola siklus haid, ada tidak gejala / keluhan lain,
cari faktor risiko / predisposisi. Riwayat penyakit umum dan riwayat obstetri /
ginekologi. Wanita usia reproduktif dengan perdarahan pervaginam abnormal harus
selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya kehamilan.

Pemeriksaan fisis umum

Periksa keadaan umum dan tanda vital secara sistematik. Jika keadaan umum
buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera.

Pemeriksaan Ginekologi

Jika memungkinkan, cari sumber perdarahan : apakah dari dinding vagina, atau
dari jaringan serviks, atau darah mengalir keluar dari ostium. Pemeriksan dalam
vagina dilakukan untuk menentukan besar dan letak uterus. Adneksa dan
parametrium diperiksa, ada tidaknya massa atau tanda akut lainnya.

Laboratorium

Jika diperlukan, ambil darah / cairan / jaringan untuk pemeriksaan penunjang
(ambil sediaan sebelum pemeriksaan dalam vagina).

Pemeriksaan Penunjang

Dengan USG dapat diketahui apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan
usia kehamilan. Dengan human chorionic gonadotropin (hCG) test bisa diketahui
kemungkinan kehamilan. Khususnya diagnosis abortus habitualis karena
inkompetensi serviks menunjukkan gambaran klinik yang khas, yaitu dalam
kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai nyeri perut
bawah, ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah. Kemudian timbul nyeri perut
bawah yang selanjutnya diikuti oleh pengeluaran janin yang biasanya masih hidup
dan normal. Apabila penderita datang dalam triwulan pertama maka gambaran
klinik tersebut dapat diikuti dengan melakukan pemeriksaan dalam vagina tiap
minggu. Penderita tidak jarang mengeluh bahwa ia mengeluarkan banyak lendir
dari vagina. Diluar kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan
histerosalpingografi dimana ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm.

Penatalaksanaan

Penyebab abortus habitualis untuk sebagian besar tidak diketahui. Oleh karena itu,
penanganannya terdiri atas: memperbaiki keadaan umum, pemberian makanan
yang sempurna, anjuran istirahat cukup banyak, larangan koitus dan olah raga.
Terapi dengan hormon progesteron, vitamin, hormon tiroid, dan lainnya mungkin
hanya mempunyai pengaruh psikologis.
Risiko perdarahan pervaginam yang hebat maka perlu diperhatikan adanya tanda-
tanda syok dan hemodinamik yang tidak stabil serta tanda-tanda vital. Jika pasien
hipotensi, diberikan secara intravena-bolus salin normal (NS) untuk stabilisasi
hemodinamik, memberikan oksigen, dan mengirim jaringan yang ada, ke rumah
sakit untuk diperiksa.

Pada serviks inkompeten, apabila penderita telah hamil maka operasi untuk
menguatkan ostium uteri internum sebaiknya dilakukan pada kehamilan 12 minggu.
Dasar operasi ialah memperkuat jaringan serviks yang lemah dengan melingkari
daerah ostium uteri internum dengan benang sutra atau dakron yang tebal. Bila
terjadi gejala dan tanda abortus insipien, maka benang harus segera diputuskan,
agar pengeluaran janin tidak terhalang.

Tindakan untuk mengatasi inkompetensi serviks yaitu dengan penjahitan mulut
rahim yang dikenal dengan teknik Shirodkar Suture atau dikenal juga dengan
cervical cerclage atau pengikatan mulut lahir. Cara ini bisa menghindari ancaman
janin lahir prematur. Faktor keberhasilannya hingga 85 - 90 persen. Tindakan ini
biasanya dilakukan sebelum kehamilan mencapai usia 20 minggu dengan mengikat
mulut rahim agar tertutup kembali sampai masa kehamilan berakhir dan janin siap
untuk dilahirkan .Tindakan pengikatan mulut rahim dilakukan dengan pembiusan
lokal dan menggunakan benang berdiameter 0,5 cm, yang bersifat tidak dapat
diserap oleh tubuh. Jahitan ini akan dilepas pada saat kehamilan mencapai usia 36-
37 minggu, atau saat bayi sudah siap dilahirkan. Agar tindakan pengikatan
berfungsi optimal. Pasien tidak boleh berhubungan seksual dengan pasangan
selama 1-2 minggu sampai ikatan cukup stabil.

Pengikatan ini umumnya akan dibuka setelah kehamilan mencapai 37 minggu,
kehamilan cukup bulan sekitar 7 bulan, atau bila ada tanda-tanda melahirkan.

Komplikasi

Komplikasi abortus habitualis adalah sebagai berikut :

• Perdarahan

Penyebab kematian kedua yang paling penting adalah perdarahan. Perdarahan
dapat disebabkan oleh abortus yang tidak lengkap atau cedera organ panggul atau
usus. Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian biasanya disebabkan
oleh tidak tersedianya darah atau fasilitas transfusi rumah sakit serta
keterlambatan pertolongan yang diberikan.

• Infeksi,

Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan
flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci,
Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T. paliidum),
Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada
lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium
sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi
terbatas pada desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi
menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-
organisme yang paling sering mengakibatkan infeksi paska abortus adalah E.coli,
Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus,
Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang
dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clostridium tetani.
Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.

• Sepsis

• Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena
infeksi berat.

Prognosis

Prognosis tergantung pada etiologi dari abortus spontan sebelumnya, umur pasien,
dan umur kehamilan. Koreksi kelainan endokrin pada wanita dengan abortus
habitualis memiliki prognosis yang baik untuk terjadinya kehamilan yang sukses (>
90%). Pada wanita dengan etiologi tidak diketahui, kemungkinan mencapai
kehamilan yang sukses adalah 40-80%. Angka kelahiran hidup setelah rekaman
denyut jantung janin pada 5-6 minggu usia kehamilan pada wanita dengan abortus
habitualis disebutkan sekitar 77%. Ketika USG panggul transvaginal menunjukkan
embrio paling sedikit 8 minggu diperkirakan usia kehamilan (EGA) dan aktivitas
jantung, laju keguguran untuk pasien yang lebih muda dari 35 tahun adalah 3-5%
dan untuk mereka yang di atas 35 tahun, sebanyak 8%. Prognosis yang kurang baik
bila pada pemeriksaan USG didapatkan tingkat aktivitas jantung janin kurang dari
dari 90 kali per menit, suatu kantung kehamilan berbentuk atau berukuran tidak
normal, dan perdarahan subchorionic yang hebat. Tingkat keguguran secara
keseluruhan untuk pasien di atas 35 tahun adalah 14% dan untuk pasien yang
berumur di bawah 35 tahun adalah 7%.
GIZI SEIMBANG IBU HAMIL
Kesehatan adalah suatu hal dalam kehidupan yang dapat membuat keluarga bahagia. Pada
kehamilan terjadi perubahan fisik dan mental yang bersifat alami dimana para calon ibu harus
sehat dan mempunyai kecukupan gizi sebelum dan setelah hamil. Agar kehamilan berjalan
sukses, keadaan gizi ibu pada waktu konsepsi harus dalam keadaan yang baik dan selama
hamil mendapatkan tambahan protein, minimal seperti zat besi dan kalsium, vitamin, asam
folat dan energi.

Gizi ibu hamil

Didalam kandungan terjadi proses tumbuh kembang (tumbang) dalam waktu 40 minggu,
yang dimulai dari 2 sel yang kemudian menjadi bayi sempurna dengan BB 2,5-4 Kg.
Sejumlah otot, tulang, darah dan alat tubuh lain dibuat dari zat-zat gizi yang berasal dari
makanan ibu. Zat-zat gizi tersebut dialirkan melalui plasenta kedalam tubuh janin.

Kekurangan atau kelebihan makanan pada masa hamil dapat berakibat kurang baik bagi ibu,
janin yang dikandung serta jalannya persalinan. Oleh karena itu, perhatian terhadap gizi dan
pengawasan berat badan (BB) selama hamil merupakan salah satu hal penting dalam
pengawasan kesehatan pada masa hamil.

Selama hamil, calon ibu memerlukan lebih banyak zat-zat gizi daripada wanita yang tidak
hamil, karena makanan ibu hamil dibutuhkan untuk dirinya dan janin yang dikandungnya,
bila makanan ibu terbatas janin akan tetap menyerap persediaan makanan ibu sehingga ibu
menjadi kurus, lemah, pucat, gigi rusak, rambut rontok dan lain-lain.

Demikian pula, bila makanan ibu kurang, tumbuh kembang janin akan terganggu, terlebih
bila keadaan gizi ibu pada masa sebelum hamil telah buruk pula. Keadaan ini dapat
mengakibatkan abortus, BBLR, bayi lahir prematur atau bahkan bayi lahir mati. Pada saat
bersalin dapat mengakibatkan persalinan lama, perdarahan, infeksi dan kesulitan lain yang
mungkin memerlukan pembedahan. Sebaliknya, makanan yang berlebihan dapat
mengakibatkan kenaikan BB yang berlebihan, bayi besar, dan dapat pula mengakibatkan
terjadinya preeklampsi (keracunan kehamilan). Bila makanan ibu kurang, kemudian
diperbaiki setelah bayi lahir, kekurangan yang dialami sewaktu dalam kandungan tidak dapat
sepenuhnya diperbaiki.

Makanan ibu sebelum dan selama kehamilan berperan penting dalam ketersediaan asam
lemak essensial pada simpanan jaringan lemak ibu. Jenis asam lemak :

 Asam lemak omega 3, yaitu asam lemak linoleat, yang terdiri dari asam
eikosapentaenoat (EPA) dan asam dekosahektaenoat (DHA)

 Asam lemak omega 6, yaitu asam lemak linoleat (LNA), yang didalam
tubuh dikonversi menjadi asam lemak arakidonat.

Fungsi asam lemak omega 3 pada ibu hamil (bumil) dan ibu meneteki (buteki)
 DHA merupakan 50% dari asam lemak di jaringan otak dan retina

 DHA merupakan 2/3 dari asam lemak di sel penerima cahaya pada retina

 Mempengaruhi fungsi membran sel-sel syaraf

 Termasuk fungsi enzim, aktivitas reseptor dan hantaran rangsang yang
akan mempengaruhi fungsi otak untuk pertumbuhan dan perkembangan
plasenta dan fetus

Fungsi lain asam lemak omega 3

 Mencegah asterosklerosis dan penyakit jantung koroner

 Penyembuhan penyakit nefritis dan arthritis

Fungsi asam lemak omega 6

 Pertumbuhan dan janin bayi

 Kesehatan kulit ibu, janin dan bayi

Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang otak dan kecerdasan anak

 Faktor genetik

 Faktor lingkungan

Otak manusia mulai dibentuk pada awal kehamilan dan berkembang terus sampai
lahir

 Berat otak saat lahir 400 gram

 Berat otak pada usia 6 bulan 1000 gram

 Otak tumbuh pesat pertama pada kehamilan 25 minggu sampai bayi
berusia 6 bulan

 Pertumbuhan otak sempurna hingga anak berusia 2-3 tahun

Faktor yang mempengaruhi gizi ibu hamil

 Umur

 Berat badan

 Suhu lingkungan

 Pengetahuan ibu hamil dan keluarga tentang zat gizi dalam makanan
 Kebiasaan dan pandangan wanita terhadap makanan

 Aktivitas

 Status kesehatan

 Status ekonomi

Trimester pertama (usia kehamilan 1-3 bulan)

 Merupakan masa penyusunan ibu terhadap kehamilannya

 Pertumbuhan janin masih berlangsung lambat sehingga kebutuhan gizi
untuk pertumbuhan janin belum banyak

 Kebutuhan gizi ibu hamil pada masa ini masih sama dengan wanita
dewasa biasa

 Diketahui bahwa keluhan yang timbul pada trimester 1 adalah kurang
nafsu makan, mual, pusing, halusinasi, ingin makan yang aneh-aneh, mual
muntah dan lain-lain.

 Dalam batas tertentu hal ini masih wajar, yang perlu dianjurkan adalah
makan berupa makanan yang mudah dicerna dalam porsi sedikit tapi
sering

 Bahan makanan yang baik diberikan adalah makanan kering dan segar
seperti roti panggang, biskuit dan sereal serta buah-buahan segar atau
sari buah

 Keluhan emesis (muntah) dapat dihindari dengan tidak makan dan minum
secara bersamaan atau sebaiknya diberi jarak sekitar 15-30 menit.

Trimester kedua (4-6 bulan) dan ketiga (7-9 bulan)

 Pertumbuhan janin berlangsung cepat pada masa ini

 50% dari penambahan BB terjadi pada bulan keenam dan ketujuh

 Nafsu makan meningkat

 Kemampuan mencerna makanan bertambah baik

 Pada masa ini tambahan zat gula diperlukan untuk memelihara kesehatan
yang baik

Dampak kekurangan gizi ibu hamil

 Anemia gizi besi
Kekurangan zat besi banyak terdapat di Indonesia sehingga ibu hamil dinajurkan agar
mengkonsumsi tambahan zat besi atau makanan yang mengandung zat besi. Seperti hati
ayam dan lain-lain.

 Kenaikan BB yang rendah selama hamil

Di negara maju rata-rata kenaikan BB selama hamil 12-14 kg. Bila ibu hamil kurang gizi
kenaikan BB hanya 7-8 kg berakibat melahirkan bayi BBLR. Tapi, berdasarkan
perkembangan terkini juga disampaikan bahwa ternyata penambahan BB selama kehamilan
tidak terlalu mempengaruhi BB janin, karena ada kalanya ibu yang penambahan BB nya
cukup ternyata BB janinnya masih kurang dan ada juga ibu yang penambahan berat badannya
kurang selama kehamilan tapi BB janinnya sesuai.

 Ngidam (pica) dan mual muntah berlebihan selama kehamilan
(hiperemesis gravidarum)

Mual muntah yang berlebihan yang sampai menyebabkan ibu pingsan dan lemah
memerlukan penanganan khusus. Namun , biasanya emesis ini hanya terjadi pada awal-awal
kehamilan saat kebutuhan gizi janin belum terlalu besar.

Kebutuhan gizi ibu hamil

Kebutuhan energi

Kebutuhan energi pada bumil tergantung pada BB sebelum hamil dan pertambahan BB
selama kehamilan, karena adanya peningkatan basal metabolisme dan pertumbuhan janin
yang pesat terutama pada trimester II dan III, direkomendasikan penambahan jumlah kalori
sebesar 285-300 kalori pada trimester II dan III. Dampak kekurangan energi adalah
pertumbuhan dalam janin terhambat (IUGR) bahkan dampak lebih parah dapat
mengakibatkan kematian. Pada trimester 1 energi masih sedikit dibutuhkan, pada trimester 2
energi dibutuhkan untuk penambahan darah, perkembangan uterus, pertumbuhan massa
mammae/payudara, dan penimbunan lemak, sedangkan pada trimester 3 energi dibutuhkan
untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Sumber energi adalah hidrat arang seperti beras,
jagung, gandum, kentang, ubi-ubian dan lain-lain.

Protein

Tambahan protein diperlukan untuk pertumbuhan janin, uterus, jaringan payudara, hormon,
penambahan cairan darah ibu serta persiapan laktasi. 2/3 dari protein yang dikonsumsi
sebaiknya berasal dari protein hewani yang mempunyai nilai biologi tinggi. Tambahan
protein yang diperlukan selama kehamilan sebanyak 12 gr/hari. Sumber protein hewani
terdapat pada daging, ikan, unggas, telur, kerang dan sumber protein nabati banyak terdapat
pada kacang-kacangan.

Vitamin
 Asam folat dan vitamin B12 (sianokobalamin)

Berfungsi untuk memenuhi kebutuhan volume darah janin dan plasenta (pembentukan sel
darah), vitamin B12 merupakan faktor penting pada metabolisme protein. Dalam bahan
makanan asam folat dapat diperoleh dari hati, sereal, kacang kering, asparagus, bayam, jus
jeruk dan padi-padian.

Asam folat dianjurkan untuk dikonsumsi sebanyak 300-400mcg/hari. Berfungsi untuk
mencegah anemia megaloblastik, mengurangi resiko defek tabung neural jiak dikonsumsi
sebelum dan selama 6 minggu pertama kehamilan.

 Vitamin B6 (piridoksin)

Penting untuk pembuatan asam amino dalam tubuh. Vitamin B6 juga diberikan untuk
mengurangi keluhan mual-mual pada ibu hamil.

 Vitamin C (asam askorbat)

Jika kekurangan/defisiensi vitamin C dapat mengakibatkan keracunan kehamilan, ketuban
pecah dini (KPD). Vitamin C berguna untuk mencegah terjadinya ruptur membran, sebagai
bahan semen jaringan ikat dan pembuluh darah. Fungsi lain dapat mengakibatkan absorbsi
besi non hem, meningkatkan absorbsi suplemen besi dan profilaksis perdarahan post partum.
Kebutuhannya 10 mg/hari lebih tinggi dari ibu tidak hamil.

 Vitamin A

Berfungsi pada pertumbuhan sel dan jaringan, pertumbuhan gigi dan pertumbuhan tulang,
penting untuk mata, kulit, rambut dan mencegah kelainan bawaan. Bila kelebihan vitamin A
dapat mengakibatkan cacat tulang wajah dan kepala, otak, jantung. Sumber vitamin A banyak
terdapat pada minyak ikan,kuning telur, wortel, sayuran berwarna hijau dan buah-buahan
berwarna merah. Bumil sebaiknya tidak mengkonsumsi bahan kosmetik yang mengandung
vitamin A dosis tinggi. Kebutuhan vitamin A ibu hamil 200 RE/hari lebih tinggi daripada ibu
tidak hamil.

 Vitamin D

Selama kehamilan akan mencegah hipokalsemia, membantu penyerapan kalsium dan fosfor,
mineralisasi tulang dan gigi. Sumber vitamin D banyak terdapat pada kuning telur, susu,
produk susu dan juga dibuat sendiri oleh tubuh dengan bantuan sinar matahari. Dapat
menembus plasenta sehingga dapat memasuki tubuh bayi. Bila terjadi defisiensi, gigi tidak
normal dan lapisan luar gigi anak buruk.

 Vitamin E
Jarang terjadi defisiensi. Berfungsi pada pertumbuhan sel dan jaringan dan integrasi sel darah
merah. Dinajurkan dikonsumsi melebihi 2 mg/hari. Pada binatang percobaan defisiensi
vitamin E menyebabkan keguguran.

 Vitamin K

Jarang terjadi defisiensi. Bila terjadi kekurangan dapat mengakibatkan gangguan perdarahan
pada bayi.

Mineral

 Kalsium (Ca)

Jumlah Ca janin sekitar 30 gram, terutama diperlukan pada 20 minggu terakhir kehamilan.
Rata-rata setiap hari penggunaan Ca pada bumil 0,08 gram dan sebagian besar untuk
perkembangan tulang janin. Bila intake Ca kurang, maka kebutuhan ca akan diambil dari gigi
dan tulang ibu. Sehingga tak jarang bagi bumil yang kurang asupan Ca giginya menjadi
caries atau pun keropos serta diikuti dengan nyeri pada tulang dan persendian.

Metabolisme Ca memerlukan vitamin D yang cukup. Namun demikian, ibu yang sering hamil
cenderung terjadi defisiensi, akibatnya janin menderita kelainan tulang dan gigi. Sumber
kalsium terdapat pada susu dan produk susu (yoghurt, keju), ikan, kacang-kacangan, tahu,
tempe dan sayuran berdaun hijau. Konsumsi Ca yang dianjurkan untuk ibu hamil sebanyak
900-1200 mg/hari.

 Fosfor

Fosfor berhubungan erat dengan Ca. Fosfor berfungsi pada pembentukan rangka dan gigi
janin serta kenaikan metabolisme kalsium ibu. Jika jumlah didalam tubuh tidak seimbang
sering mengakibatkan kram pada tungkai.

 Zat besi (Fe)

Sangat esensial, berhubungan dengan meningkatnya jumlah eritrosit ibu (kenaikan sirkulasi
darah ibu dan kenaikan kadar Hb) diperlukan untuk mencegah terjadinya anemia. Intake yang
tinggi dan berlebihan pada Fe juga tidak baik, karena dapat mengakibatkan konstipasi (sulit
BAB) dan nausea (mual muntah).

Zat besi paling baik dikonsumsi diantara waktu makan bersama jus jeruk. Sedangkan kopi,
teh dan susu dapat mengurangi absorbsi zat besi nonhem, sehingga sebaiknya menghindari
minum kopi, teh ataupun susu jika akan mengkonsumsi FE. Sumber zat besi banyak terdapat
pada daging merah, ikan, unggas, kacang-kacangan, kerang, sea food dan lain-lain.

 Seng (Zn)
Berkaitan dengan pembentukan tulang selubung syaraf tulang belakang. Hasil study
menunjukkan bahwa rendahnya kadar Zn pada ibu ditemukan padapersalinan abnormal dan
BBLR (berat bayi lahir rendah <2500gram). Sumber Zn terdapat pada kerang dan daging.
Kadar Zn yang dibutuhkan pada bumil yaitu sebanyak 20mg/hari atau lebih besar 5 mg dari
pada kadar wanita dewasa yang hanya 15 mg/hari.

 Fluor

Dalam air minum sebenarnya cukup mengandung fluor. Fluor diperlukan untuk pertumbuhan
tulang dan gigi. Bila kurang dari kebutuhan gigi tidak terbentuk sempurna. Dan jika kadar
fluor berlebih warna dan struktur gigi tidak normal.

 Yodium

Defisisensi yodium mengakibatkan kretinisme. Jika kekurangan terjadi kemudian,
pertumbuhan anak akan terhambat. Tambahan yaodium yang diperlukan sebanyak 25 ug/hari.

 Natrium

Kebutuhan natrium meningkat sejalan dengan meningkatnya kerja ginjal. Memegang peranan
penting dalam metabolisme air dan bersifat emngikat cairan dalam jaringan sehingga
mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pada ibu hamil. Natrium pada ibu hamil
bertambah sekitar 3,3 gram per minggu sehingga ibu hamil cenderung menderita edema.

Contoh menu makanan ibu hamil

Makan pagi

Nasi 150 gram = 1 gelas

Telur 60 gram = 1 butir

Tempe 50 gram = 2 potong

Sayuran 50 gram = 1/2 gelas

Minyak 5 gram = 1/2 sendok makan

Susu 200 cc = 1 gelas

Pukul 10 : bubur kacang hijau 1 gelas

Makan siang/sore

Nasi 200 gram = 1 1/2 gelas
Ikan 50 gram = 1 potong

Tempe 50 gram = 2 potong

Sayuran 100 gram = 1 gelas

Pepaya 100 gram = 1 potong

Minyak 10 gram = 1 sendok makan

Pukul 16.00 : susu 1 gelas

Tanda kecukupan gizi pada ibu hamil (Nadesul, 2004)

Kategori Penampilan

Keadaan umum Responsive, gesit

Berat badan Normal sesuai dengan tinggi badan dan bentuk tubuh

Postur tubuh Tegak, tungkai dan lengan lurus

Otot Kenyal, kuat, sedikit lemak dibawah kulit

Syaraf Perhatian baik, tidak mudah tersinggung, refleks normal, mental
stabil

Pencernaan Nafsu makan baik

Jantung Detak dan irama normal, tekanan daran normal

Vitalitas umum Ketahanan baik, energik, cukup istirahat, penuh semangat

Rambut Mengkilat, kuat, tidak mudah rontok, kulit kepala normal

Kulit Licin, lembab, segar

Muka dan leher Warna sama (tidak ada perubahan warna), licin, tampak sehat,
segar

Bibir Licin, lembab, tidak pucat, tidak bengkak

Mulut Tidak ada luka, selaput merah

Gusi Merah normal, tidak ada perdarahan

Lidah Merah normal, licin, tidak ada luka

Gigi Tidak berlubang, tidak nyeri, mengkilat, bersih, tidak ada
perdarahan, lurus dagu normal
Mata Bersinar, bersih, konjungtiva tidak pucat, tidak ada perdarahan

Kelenjar Tidak ada perdarahan dan pembesaran

Kuku Keras dan kemerahan

Tungkai Kaki tidak bengkak

Kebutuhan makanan ibu hamil per hari (sumber : widya karya pangan dan zat gizi
indonesia)

Jenis makanan Jumlah yang dibutuhkan Jenis zat gizi

Sumber zat tenaga 10 porsi nasi/pengganti Karbohidrat
(karbohidrat)
2 sdm gula

4 sdm minyak goreng

Sumber zat 7 porsi terdiri dari: Protein, vitamin
pembangun dan
mineral 2 ptg ikan/daging, @ 50 gr

3 ptg tempe/tahu, @50-75 gr

1 porsi kacang hijau/merah

Sumber zat 7 porsi terdiri dari : Vitamin dan mineral
pengatur
4 porsi sayuran berwarna @ 100 gr

3 porsi buah2an @ 100 gr

Susu 2-3 gelas Karbohidrat, lemak,
protein, vitamin dan
mineral

Tanda kecukupan gizi pada wanita dewasa dan ibu hamil

Zat gizi Satuan Wanita Ibu
dewasa hamil

Energi Kal 2200 2485

Protein gr 48 60

Vitamin A RE 500 700

Vitamin D ug 5 15
Vitamin E mg 8 18

Vitamin K mg 65 130

Thiamin mg 1,0 1,2

Riboflavin mg 1,2 1,4

Niacin mg 9 9,1

Vitamin B12 mg 1,0 1,3

Asam folat ug 150 300

Piridoksin mg 1,6 3,8

Vitamin C mg 60 70

Kalsium mg 500 900

Fosfor mg 450 650

Zat besi mg 26 46

Seng mg 15 20

Yodium ug 150 175

Selenium ug 55 70

Angka kecukupan gizi pada ibu menyusui

Zat gizi Satuan Ibu Ibu
menyu menyu
sui (0- sui
6 bln)
(7-12
bln)

Energi Kal 2900 2700

Protein gr 64 60

Vitamin A RE 850 800

Vitamin D ug 15 15

Vitamin E mg 20 18

Vitamin K mg 130 130
Thiamin (vit B1) mg 1,3 1,3

Riboflavin (vit B2) mg 1,6 1,5

Niacin mg 12 12

Vitamin B12 mg 1,3 1,3

Asam folat ug 200 190

Piridoksin (vit B6) mg 3,7 3,7

Vitamin C mg 85 70

Kalsium mg 900 900

Fosfor mg 750 650

Zat besi mg 28 28

Seng mg 25 25

Yodium ug 200 200

Selenium ug 80 75

2 Comments

Posted in gizi, kehamilan

Posted by: lenteraimpian | March 16, 2010

ASUHAN PADA IBU BERSALIN KALA 2
Persalinan kala 2 adalah proses pengeluaran buah kehamilan sebagai hasil pengenalan
proses dan penatalaksanaan kala pembukaan yang dimulai dengan pembukaan lengkap dari
serviks dan berakhir dengan lahirnya bayi.

Lamanya kala dua menurut Friedman adalah 1 jam untuk primigravida dan 15 menit untuk
multigravida. Pada kala 2 yang berlangsung lebih dari 2 jam pada primigravida atau 1 jam
pada multipara dianggap sudah abnormal oelh mereka yang setuju dengan pendapat
Friedman, tetapi saat ini hal tersebut tidak mengindikasikan perlunya melahirkan bayi dengan
forceps atau vakum ekstraksi.

Kontraksi selama kala dua adalah sering, kuat dan sedikit lebih lama yaitu kira-kira 2 menit
yang berlangsung 60-90 detik dengan interaksi tinggi dan semakin ekspulsif sifatnya.

Tanda-tanda bahwa kala 2 persalinan sudah dekat
 Ibu merasa ingin meneran (dorongan meneran/doran)

 Perineum menonjol (perjol)

 Vulva vagina membuka (vulka)

 Adanya tekanan pada spincter anus (teknus)

 Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat

 Meningkatnya pengeluaran darah dan lendir

 Kepala telah turun didasar panggul

 Ibu kemungkinan ingin buang air besar

Diagnosis pasti

 Telah terjadi pembukaan lengkap

 Tampak bagian kepala janin melalui bukaan introitus vagina

Perubahan fisiologi kala 2 persalinan

 Kontraksi, dorongan otot-otot dinding uterus

 Pergeseran dinding uterus

 Ekspulsi janin

Kontraksi uterus dan dorongan otot-otot dinding uterus

dorongan otot2 dinding uterus => kontraksi>>> => ketuban pecah => kepala terdorong
memasuki vagina => terjadi penekanan kepada kepala bayi => terjadi fleksi => kontraksi
makin kuat (efek umpan balik+) => Ferguson’s refleks

Pergeseran organ dasar panggul

penekanan kepala => pergeseran organ dasar panggul => anterior : kandung kemih terdorong
ke abdomen, posterior : rektum => musculus levator ani berdilatasi => perineum menonjol
=> kepala terlihat di vulva => crowning => ekspulsi

Pemantauan Ibu

 Periksa nadi ibu setiap 30 menit

 Pantau frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
 Memastikan kandung kemih kosong melalui bertanya kepada ibu secara
langsung sekaligus dengan melakukan palpasi

 Penuhi kebutuhan hidrasi, nutrisi ataupun keinginan ibu

 Periksa penurunan kepala bayi melalui pemeriksaan abdomen
(pemeriksaan luar) setiap 30 menit dan pemeriksaan dalam setiap 60
menit atau kalau ada indikasi

 Upaya meneran ibu

 Apakah ada presentasi majemuk atau tali pusat disamping kepala

 Putaran paksi luar segera setelah bayi lahir

 Adanya kehamilan kembar setelah bayi pertama lahir

Pemantauan janin

Saat bayi belum lahir

 Lakukan pemeriksaan DJJ setiap selesai menera atau setiap 5-10 menit

 Amati warna air ketuban jika selaputnya sudah pecah

 Periksa kondisi kepala, vertex, caput, molding

Saat bayi lahir

 Nilai kondisi bayi (0-30 detik) dengan menjawab 2 pertanyaan, apakah
bayi menangis kuat dan atau tanpa kesulitan? Apakah bayi bergerak aktif
atau lemas?

Kondisi yang harus diatasi sebelum penatalaksanaan kala 2

 Syok

 Dehidrasi

 Infeksi

 Preeklampsia/eklampsia

 Inersia uteri

 Gawat janin

 Penurunan kepala terhenti

 Adanya gejala dan tanda distosia bahu
 Pewarnaan mekonium pada cairan ketuban

 Kehamilan ganda/kembar

 Tali pusat menumbung/lilitan tali pusat

Persiapan penolong persalinan

 Sarung tangan dan barier protektif lainnya

 Tempat persalinan yang bersih dan steril

 Peralatan dan bahan yang diperlukan

 Tempat meletakan dan lingkungan yang nyaman bagi bayi

 Persiapan ibu dan keluarganya (asuhan sayang ibu, bersihkan perineum
dan lipat paha, kosongkan kandung kemih, amniotomi dan menjelaskan
peran suami/pendamping)

Penatalaksanaan kala 2

 Setelah pembukaan lengkap, pimpin ibu untuk meneran apabila timbul
dorongan spontan untuk melakukan hal itu

 Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontrkasi

 Berikan pilihan posisi yang nyaman bagi ibu

 Pantau kondisi janin

 Bila ingiin meneran tapi pembukaan belum lengkap, anjurkan ibu untuk
bernafas cepat atau biasa, atur posisi agar nyaman, dan upayakan untuk
tidak meneran hingga pembukaan lengkap

MENOLONG PERSALINAN SESUAI APN

Melihat tanda dan gejala kala 2

 Mengamati tanda dan gejala kala 2

Menyiapkan peralatan pertolongan persalinan

 Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial yang siap
digunakan. Mematahkan mapul oksitosin 10 unit dan menempatkan
tabung suntik steril sekali pakai didalam partus set

 Mengenakan baju penutup atau celemek plastik
 Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku. Mencuci kedua
tangan dengan sabun dan air bersih yang megalir dan mengeringkan
tangan dengan handuk 1x pakai/handuk pribadi yang bersih

 Memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi

 Menyiapkan oksitosin 10 unit kedalam spuit (dengan memakai sarung
tangan) dan meletakannya kembali di partus set tanpa dekontaminasi
spuit

Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik

 Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari
depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah
dibasahi air DTT

 Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam
untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap (bila ketuban
belum pecah maka lakukan amniotomi)

 Mendekontaminasi sarung tangan

 Memeriksa DJJ setelah berakhir setiap kontraksi (batas normal 120-
160x/menit)

Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan meneran

 Memberitahukan ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik, membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman

 Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran

 Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk
meneran

Persiapan pertolongan kelahiran

 Jika kepala telah membuka vulva dengan diameter 4-5 cm, meletakan
handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi

 Meletakan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu

 Membuka partus set

 Memakai sarung tangan steril

Memulai meneran

 Jika pembukaan belum lengkap, tenteramkan ibu dan bantu pilihkan posisi
yang nyaman
 Jika ibu merasa ingin meneran namun pembukaan belum lengkap, berikan
semangat dan anjurkan ibu untuk bernafas cepat dan bersabar agar
jangan meneran dulu

 Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantulah
ibu memilih posisi yang nyaman untuk meneran dan pastikan ibu untuk
beristirahat diantara kontraksi

 Jika pembukaan sudah lengkap namun belum ada dorongan untuk
meneran, bantu ibu memilih posisi yang nyaman dan biarkan berjalan-
jalan

 Jika ibu tidak merasa ingin meneran setelah pembukaan lengkap selama
60 menit, anjurkan ibu untuk memulai meneran pada saat puncak
kontraksi, dan lakukan stimulasi puting susu serta berikan asupan gizi
yang cukup

 Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit, lakukan rujukan (kemungkinan CPD,
tali pusat pendek)

Cara meneran

 Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya selama
kontraksi

 Jangan menganjurkan untuk menahan nafas selama meneran

 Anjurkan ibu untuk berhenti meneran dan segera beristirahat diantara
kontraksi

 Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ibu mungkin merasa lebih
mudah untuk meneran jika ibu menarik lutut kearah dada dan
menempelkan dagu ke dada

 Anjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saay meneran

 Jangan melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran bayi.
Dorongan pada fundus meningkatkan resiko distosia bahu dan ruptur uteri

Menolong kelahiran bayi

 Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi
perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain, letakan tangan yang lain
di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak mengahmbat
pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan.
Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan atau bernafas cepat saat
kepala lahir

 Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau
kasa bersih
 Memeriksa lilian tali pusat dan jika kendurkan lilitan jika memang terdapat
lilitan dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi

 Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan

 Tempatkan kedua tangan dimasing-masing sisi kedua muka bayi

 Menelusurkan tangan mulai dari kepala bayi yang berada dibagian bawah
kearah perienum tangan membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke
tangan tersebut

 Menelusurkan tangan yang berada diatas anterior dari punggung ke arah
kaki bayi untuk menyangga saat punggung dan kaki lahir. Memegang
kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

Penanganan bayi baru lahir

 Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakan bayi diatas perut ibu
dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya

 Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali
bagian tali pusat

 Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat/umbilical
bayi

 Memegang tali pusat dengan satu tangan smabil melindungi bayi dari
gunting, dan tangan yang lain memotong tali pusat diantara dua klem
tersebut

 Mengganti handuk basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut
bersih, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka

 Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk
bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya

Yang harus diperhatikan pada saat pengeluaran bayi

 Posisi ibu saat melahirkan bayi

 Cegah terjadinya laserasi atau trauma

 Proses melahirkan kepala

 Memeriksa lilitan tali pusat pada leher bayi

 Proses melahirkan bahu

 Proses melahirkan tubuh bayi
 Mengusap muka, mengeringkan dan rangsang taktil pada bayi

 Memotong tali pusat

Gejala dan tanda distosia bahu

 Turtle sign adalah kepala terdorong keluar tetapi kembali kedalam vagina
setelah kontraksi atau ibu berhenti meneran

 Tidak terjadi puataran paksi luar apabila kepala telah lahir

 Kepala tetap pada posisinya (dalam vagina) walau ibu meneran sekuat
mungkin

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Adalah gerakan janin yang mengakomodasikan diri terhadap panggul ibu

Penyesuaian diri berupa : fleksi, rotasi dari janin. Hal ini sangat penting untuk kelahiran
melalui vagina oleh karena janin tersebut harus menyesuaikan diri dengan ruangan yang
tersedia didalam panggul. Diameter-diameter yang lebih besar dari janin harus menyesuaikan
diri dengan diameter yang paling besar dari panggul ibu agar janin bisa masuk melalui
panggul untuk dilahirkan.

Panggul dan fetal skull

Tubuh janin

Letak : hubungan poros panjang janin ke poros panjang ibu

 Membujur

 Melintang

 Miring/oblique

Letak bayi

Presentasi : menunjukkan pada bagian bawah janin memasuki jalan masuk panggul bagian
atas

 Kepala : verteks, sinpital, dahi, muka

 Bokong : murni, lengkap, presentasi kaki

 Bahu

Sikap
 Flexi : dagu melekat ke dada

 Lurus

 Ekstensi : occiput mendekat ke belakang

Posisi :hubungan antara bagian terendah janin dan sisi panggul ibu

Synclitisma/Asynclitisma

 Synclitismus : sutura sagitalis berada pada pertengahan antara simpisis
pubis dengan promontorium

 Asynclitismus : sutura sagitalis mendektai simpisis pubis atau
promontorium

Tengkorak kepala janin

Terdiri dari 5 tulang, 4 sutura dan 2 ubun-ubun

Batasan tengkorak kepala dalam persalinan

 Ubun-ubun anterior : dibentuk oleh pertemuan sutura frontalis, sagitalis
dan coronaria, berbentuk segi empat (diamond)

 Ubun-ubun posterior : dibentuk dari sutura sagitalis dan lamboidea,
berbentuk seperti segitiga

 Sutura sagitalis : sutura antara 2 tulang pariental, yang merupakan
petunjuk synclitismus

 Molding : perubahan bentuk kepala (kepala tumpang tindih) sebagai
penyesuaian kepala saat melewati panggul

 Caput succadenum : pembengkakan edematous diatas kepala janin yang
diakibatkan oleh tekanan kepala saat melewati rongga panggul

Diameter

 Jarak biparietal : merupakan diameter melintang terbesar dari kepala
janin, dipakai dalam definisi penguncian (engagement)

 Jarak suboccipitobregmatika : jarak antara batas leher dengan occiput ke
anterior fontanella, ini adalah diameter yang berpengaruh membentuk
presentasi kepala

 Jarak occipitomental : merupakan diameter terbesar dari kepala janin. Ini
adalah diameter yang berpengaruh untuk membentuk presentasi dahi

MEKANISME PERSALINAN
 Turunnya kepala dibagi menjadi dua yaitu masuknya kepala dalam pintu
atas panggul, dan majunya kepala

 Pembagian ini terutama berlaku pada primigravida. Masuknya kedalam
pintu atas panggul pada primigravida (yang baru pertama kali hamil)
sudah terjadi pada bulan terkahir kehamilan tetapi pada multigravida
(yang sudah pernah hamil sebelumnya) biasanya baru terjadi pada
permulaan persalinan.

 Masuknya kepala kedalam pintu atas panggul biasanya dengan sutura
sagitalis, melintang dan dengan fleksi yang ringan

 Masuknya sutura sagitalis terdapat ditengah-tengah jalan lahir, ialah tepat
diantara simpisis dan promontorium, maka kepala dikatakan dalam
synclitismus dan synclitismus os parietal depan dan belakang sama
tingginya

 Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati simpisis atau agak
kebelakang mendekati promontorium maka posisi ini disebut
asynclitismus. Pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam
asynclitismus posterior yang ringan. Asynclitismus posterior ialah jika
sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang lebih rendah
dari os parietal depan. Asynclitismus anterior ialah jika sutura sagitalis
mendekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os
parietal belakang

 Majunya kepala pada primigravida terjadi setelah kepala masuk kedalam
rongga panggul dan biasanya baru dimulai pada kala 2. Pada multigravida
sebaiknya majunya kepala dan masuknya kepala kedalam rongga panggul
terjadi bersamaan. Yang menyebabkan majunya kepala : Tekanan cairan
intrauterin, tekanan langsung oleh fundus pada bokong, kekuatan
meneran, melurusnya badan janin oleh perubahan bentuk rahim

 Penurunan terjadi selama persalinan oleh karena daya dorong dari
kontraksi dan posisi, serta peneranan selama kala 2 oleh ibu

 Fiksasi (engagement) merupakan tahap penurunan pada waktu
diameter biparietal dari kepala janin telah masuk panggul ibu

 Desensus merupakan syarat utama kelahiran kepala, terjadi karena
adanya tekanan cairan amnion, tekanan langsung pada bokong saat
kontraksi, usaha meneran, ekstensi dan pelurusan badan janin

 Fleksi, sangat penting bagi penurunan kepala selama kala 2 agar bagian
terkecil masuk panggul dan terus turun. Dengan majunya kepala, fleksi
bertambah hingga ubun-ubun besar. Keuntungan dari bertambahnya fleksi
ialah ukuran kepala yang lebih kecil melalui jalan lahir yaitu diameter
suboccipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboccipito
frontalis (11,5 cm). Fleksi disebabkan karena janin didorong maju, dan
sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul, serviks,
dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan dorongan dan
tahanan ini terjadilah fleksi, karena moment yang menimbulkan fleksi
lebih besar dari moment yang menimbulkan defleksi.
 Putaran paksi dalam/rotasi internal, pemutaran dari bagian depan
sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar ke
depan ke bawah sympisis. Pada presentasi belakang kepala bagian yang
terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan
memutar kedepan kebawah simpisis. Putaran paksi dalam mutlak perlu
untuk kelahiran kepala karena putara paksi merupakan suatu usaha untuk
menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bentuk
bidang tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam tidak terjadi
tersendiri, tetapi selalu kepala sampai ke hodge III, kadang-kadang baru
setelah kepala sampai di dasa panggul. Sebab-sebab putaran paksi
dalam : Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian
terendah dari kepala. Pada bagian terendah dari kepala ini mencari
tahanan yang paling sedikit yaitu pada sebelah depan atas dimana
terdapat hiatus genetalis antara M. Levator ani kiri dan kanan. Pada
ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter
anteroposterior

 Rotasi internal dari kepala janin akan membuat diameter enteroposterior
(yang lebih panjang) dari kepala akan menyesuaikan diri dengan diameter
anteroposterior dari panggul

 Ekstensi, setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar
panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini terjadi pada
saat lahir kepala, terjadi karena gaya tahanan dari dasar panggul dimana
gaya tersebut membentuk lengkungan Carrus, yang mengarahkan kepala
keatas menuju lubang vulva sehingga kepala harus mengadakan ekstensi
untuk melaluinya. Bagian leher belakang dibawah occiputnya akan
bergeser dibawah simpisis pubis dan bekerja sebagai titik poros. Uterus
yang berkontraksi kemudian memberi tekanan tambahan atas kepala
yang menyebabkan ekstensi kepala lebih lanjut saat lubang vulva-vagina
membuka lebar. Pada kepala bekerja dua kekuatan, yang satu
mendesaknay ekbawah dan satunya kerena disebabkan tahanan dasar
panggul yang menolaknya keatas. Resultantenya ialah kekuatan kearah
depan atas.

 Setelah subocciput tertahan pada pinggir bawah sympisis maka yang
dapat maju karena kekuatan tersebut diatas adalah bagian yang
berhadapan dengan subocciput, maka lahirlah berturut-turut pada pinggir
atas perineum ubun-ubun besar, dahi hidung dan mulut dan akhirnya
dagu dengan gerakan ekstensi. Subocciput yang menjadi pusat
pemutaran disebut hypomoclion

 Rotasi eksternal/putaran paksi luar, terjadi bersamaan dengan
perputaran interior bahu. Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar
kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher
yang etrjadi karena putaran paksi dalam. Gerakan ini disebut putaran
restitusi. Restitusi adalah perputaran kepala sejauh 45ᴼ baik kearah kiri
atau kanan bergantung pada arah dimana ia mengikuti perputaran menuju
posisi oksiput anterior. Selanjutnya putaran dilanjutkan hingga belakang
kepala berhadapan dengan tuber ischidicum. Gerakan yang terakhir ini
adalah gerakan paksi luar yang sebenarnya dan disebabkan karena ukuran
bahu, menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah
panggul.
 Ekspulsi, setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah
sympisis dan menjadi hypomoclion untuk kelahiran bahu belakang.
Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir
searah dengan paksi jalan lahi mengikuti lengkung carrus (kurva jalan
lahir).

MOLDING (Molase)

Adalah perubahan bentuk kepala sebagai akibat penumpukan tulang tengkorak yang saling
overlapping satu sama lain karena belum menyatu dengan kokoh dan memungkinkan
terjadinya pergeseran sepanjang garis sambungnya. Molding melibatkan seluruh tengkorak
kepala, dan merupakan hasil dari tekanan yang dikenakan atas kepala janin oleh struktur jalan
lahir ibu. Sampai batas-batas tertentu, molding akan memungkinkan diameter yang lebih
besar bisa menjadi lebih kecil dan dengan demikian bisa sesuai melalui panggul ibu

MANUVER TANGAN DAN LANGKAH-LANGKAH DALAM PERTOLONGAN
PERSALINAN

MANUVER ALASAN

Letakkan telapak tangan pada bagian Jari-jari tangan didalam vagina bisa
vertex yang terlihat, sambil hati-hati membawa masuk organisme dan
agar jangan membiarkan tangan masuk meningkatkan resiko robekan perineum.
kedalam vagina. Lakukan penekanan Tekanan yang dilakukan terhadap kepala
terkendali dan tidak menghambat kepala pada saat ini akan membantu kepala
janin untuk keluar agar fleksi sehingga daerah subocciput
menyentuh pinggir bawah simpisis pubis
dan proses pengekstensian dimulai

Dengan tangan lainnya, support Gerakan kebawah dan kedalam ini
perineum untuk mencegah kepala melibatkan jaringan yang cukup dalam
terdorong keluar terlalu cepat sehingga aksi tersebut dan mendistribusikan
merusak perineum. Tutupilah tangan jaringan tambahan kearah bagian tengah
yang mensupport perineum dengan dan perineum yaitu daerah yang paling
handuk. Letakkan ibu jari dipertengahan besar kemungkinannya mengalami
pada salah satu sisi perineum dan laserasi. Handuk akan mencegah tangan
letakkan jari telunjuk dipertengahan sisi yang bersarung tangan terkena
perineum yang berlawanan. Secara kontaminasi secara tidak sengaja
perlahan tekanlah ibu jari dan jari
telunjuk kebawah dan kearah satu sama
lain untuk mengendalikan peregangan
perineum.

Dengan cermat dan hati-hati perhatikan Garis-garis putih yang tipis akan segera
perineum saat kepala janin terus muncul tampak sebelum terjadinya perobekan
dan lahir, usaplah mulut bayi dengan jari pada perineum. Gunakan kain kasa
yang dibungkus kain kasa untuk menghapus lendir yang mungkin
terhisap pada saat bayi mulai bernafas
untuk pertama kali

Pada waktu kepala sudah lahir, Meluncurkan jari tangan ke leher bayi
luncurkan salah satu jari tangan dari sampai ke puncak punggungnya akan
salah satu tangan ke leher bayi untuk memungkinkan penolong untuk
memeriksa apakah ada lilitan tali pusat mengetahui dimana letak tali pusatnya
disekeliling leher janin, biasanya tali
pusat tersebut hanya perlu dilonggarkan
sedikit agar kepala janin bisa dilahirkan
tanpa kesulitan

Jika tali pusat melilit leher bayi dengan Tali pusat yang ketat bisa menyebabkan
longgar, upayakan agar tali pusat terjadinya hipoksia bayi. Menaganjurkan
tersebut dapat dilonggarkan lewat ibu bernafas pendek-pendek akan
kepalanya. Jika lilitan tali pusat tersebut mencegah meneran dan mencegah
terlalu ketat untuk bisa dilepas lewat lilitannya menjadi lebih ketat.
kepala bayi, tetapi tidak terlalu ketat
melilit leher bayi, lepaskan melalui
bahunya saat bayi lahir.

Jika tali pusat tersebut melilit leher bayi
dengan ketat, pasanglah dua buah klem pada
tali pusat tersebut dengan segera. Pastikan ibu
mendapatkan penjelasan tentang apa yang
penolong lakukan, dan sebaiknya ibu hanya
bernafas pendek saja dan tidak meneran.

Tunggulah sampai terjadi rotasi eksternal Menunggu, dan tidak melakukan
pada kepala bayi. Setelah kepala bayi manuver tangan hingga restitusi kepala
berputar menghadap ke paha ibu, selesai adalah penting untuk
letakkan tangan pada kedua sisi kepala keselamatan kelahiran tersebut. Dalam
bayi, tangan kebawah untuk melahirkan kelahiran yang normal perlu melakukan
bahu anterio, kemudian tangan intervensi agar kepala bayi berputar,
mengarah keatas lagi untuk melahirkan sambil menunggu beri dukungan pada
bahu posterior ibu

Setelah bahu dilahirkan, letakan salah Badan bayi haruslah meluncur keluar
satu tangan dibawah leher bayi untuk dengan dituntun oleh tangan sepanjang
menopang kepala, leher dan bahunya, kurva jalan lahir (Carus) dan
sedangkan 4 jari tangan yang satu lagi menopangnya dari tekanan yang
menopang lengan dan bahu anterior. berlebihan oleh perineum ibu.
(sementara melakukan hal tersebut, Pemegangan yang seperti ini akan
bungkukan badan secukupnya untuk memungkinakan penolong untuk
mengamati perineum dan memastikan mengendalikan kelahiran tubuh bayi
bahwa tidak ada tekanan berlebihan
pada perineum)

Pada saat badan bayi dilahirkan, Bagaimana licinnya bayi, cara seperti ini
luncurkan tangan atas kebawah badan akan menghasilkan pegangan yang
bayi, dan selipkan jari telunjuk diantara aman
kaki bayi dan terus ke bawah hingga
menggenggam kedua pergelangan kaki
bayi

Lahirkan tubuh bayi dalam gerak Hal ini akan membuat bayi berada dalam
lengkung yang rata (ingat kurva carus) ketinggian yang sama dengan plasenta
keluar supaya kepalanya sekarang dan mencegah bayi terlepas atau
ditopang oleh permukaan telapak tangan terkena tekanan yang berlebihan
yang satu lagi. Tangan yang menopang terhadap jaringan bayi. Merendahkan
kepala hendaknya lebih rendah dari posisi kepala bayi akan mendorong
tubuh bayi. pengeluaran lendir sementara bayi
dikeringkan

Sementara mengevaluasi kondisi bayi, Bayi saat ini harus sudah mulai bernafas,
keringkanlah lalu letakkan bayi diatas kering, dan kontak dengan kulit ibu
abdomen ibu sedapat mungkin untuk mencegah
hipotermia, untuk mendorong
terciptanya ikatan batin serta pemberian
ASI

Sumber :

Simkin P & Ancheta R. 2005. Buku Saku Persalinan. EGC. Jakarta

Varney, Kriebs JM, Gegor CL. 2002. Buku Saku Bidan. EGC. Jakarta

MHN. 2008. Asuhan Persalinan Normal depkes RI. Jakarta

Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. 2003. Asuhan Intrapartum. Depkes RI. Jakarta

Saifuddin, Abdul bari. 2002. Buku Panduan Praktik Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. YBPSP. Jakarta

Oxorn H. Patologi dan Fisiologi Persalinan

Varney, Helen. 1997. Varney’s Midwifery. Jones and Barlett. New York

Sastrowinata, S. 1983. Obstetri Fisiologi. Unpad. Bandung

Depkes RI. 2003. Standar Asuhan Kebidanan Bagi Bidan di Rumah sakit dan Puskesmas

Direktorat Keperawatan dan Keteknisan Medik

Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Depkes RI. jakarta
1 Comment

Posted in persalinan

Posted by: lenteraimpian | March 16, 2010

ASUHAN SAYANG IBU DAN POSISI MENERAN
ASUHAN SAYANG IBU

 Asuhan yang aman, berdasarkan evidence based dan turut meningkatkan
angka kelangsungan hidup ibu

 Membantu ibu merasa nyaman dan aman selama proses persalinan yang
menghargai kebiasaan budaya praktek keagamaan dan kepercayaan

 Melibatkan ibu dan keluarga sebagai pengambil keputusan

 Menghormati kenyataan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan
proses alamiah dan bahwa intervensi yang tidak perlu dan pengobatan
untuk proses alamiah harus dihindarkan

 Berpusat pada ibu dan bukan pada petugas kesehatan dan selalu melihat
dahulu ke cara pengobatan yang sederhana dan non intervensi sebelum
berpaling ke teknologi

 Menjamin bahwa ibu dan keluarganya diberitahu tentang apa yang sedang
terjadi dan apa yang bisa diharapkan

 Panggil ibu sesuai dengan namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai
dengan martabatnya

 Anjurkan keluarga untuk mendampingi ibu selama proses persalinan dan
kelahiran dan anjurkan keluarga agar terlibat dalam asuhan sayang ibu

 Berikan dukungan dan semangat pada ibu dan anggota keluarganya

 Tenteramkan hati ibu selama kala 2 persalinan

 Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran

 Saat pembukaan lengkap, jelaskan pada ibu untuk hanya meneran apabila
ada dorongan kuat untuk meneran. Anjurkan ibu untuk beristirahat
diantara kontraksi

 Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi selama kala 2
persalinan

 Berikan rasa aman, semangat dan tenteramkan hati ibu selama proses
persalinan dengan memberikan penjelasan tentang cara dan tujuan dari
setiap tindakan
 Menghargai privasi ibu

 Mmenghargai dan memperbolehkan praktek-praktek keagamaan maupun
tradisional yang tidak memberi pengaruh yang merugikan

 Hindari tindakan yang berlebihan dan mungkin dapat membahayakan
seperti episiotomi, kateterisasi rutin, pencukuran dan klisma

 Anjurkan pada ibu untuk memeluk bayinya segera setelah kelahiran bayi

 Membantu memulai pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah
kelahiran

 Siapkan rencana rujukan (bila diperlukan)

Kerugian pencukuran perineal, enema, kateterisasi rutin

 Pencukuran perineal dapat menyebabkan laserasi kecil yang bisa menjadi
jalan masuk bagi organisme serta sebagai saluran masuk infeksi.
Pencukuran akan terasa tidak nyaman pada saat bulu pubis mulai tumbuh
kembali

 Enema bisa menambah rasa tidak nyaman bagi ibu, menimbulkan kram
pada rektum sehingga feses tidak bisa dikendalikan, menyebabkan
lingkungan persalinan tidak bersih. Adanya kram pada bagian anus juga
bisa menimbulkan kram pada bagian uterus dan dapat menyebabkan
pengeluaran bayi yang terlalu cepat (partus presipitatus)

 Kateterisasi dapat menimbulkan rasa sakit, meningkatkan resiko infeksi
dan kemungkinan luka pada saluran kemih

Kehadiran keluarga atau teman dalam persalinan

 Persepsi ibu mengenai kelahiran anak lebih baik

 Memberikan rasa nyaman

 Sebagai dukungan psikologis maupun emosional

 Waktu persalinan terasa lebih pendek

 Intervensi medis menjadi lebih sedikit karena rasa nyeri ibu menjadi
teralihkan dengan kehadiran orang-orang yang dicintai

 Hasil persalinan yang baik, ternyata erat hubungannya dengan dukungan
keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (Enkin, et al,
2000)

Hasil penelitian (Enkin, et al 2000)
 Meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernafas sehingga
terjadi kelelahan yang tidak perlu sehingga menyebabkan resiko asfiksia
pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui plasenta

 ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan
dan kelahiran bayi. Kecukupan asupan cairan dapat mencegah ibu
mengalami hal tersebut.

POSISI MENERAN

Seorang bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan memilih sendiri posisi
persalinan yang diinginkannya dan bukan berdasarkan keinginan bidannya sendiri. Dengan
kebebasan untuk memutuskan posisi yang dipilihnya, ibu akan lebih merasa aman.

Berdasarkan penelitian pilihan posisi berdasarkan keinginan ibu

 Memberikan banyak manfaat

 Sedikit rasa sait dan ketidaknyamanan

 Kala 2 persalinan menjadi lebih pendek

 Laserasi perineum lebih sedikit

 Lebih membantu meneran

 Nilai apgar lebih baik

Posisi meneran

 Posisi terlentang (supine) dapat menyebabkan hipotensi karena bobot
uterus dan isinya menekan aorta, vena cava inferior serta pembuluh-
pembuluh darah lain sehingga menyebabkan suplai darah ke janin
menjadi berkurang, dimana akhirnya ibu dapat pingsan dan bayi
mengalami fetal distress ataupun anoksia janin. Posisi ini juga
menyebabkan waktu persalinan menjadi lebih lama, besar kemungkinan
terjadinya laserasi perineum dan dapat mengakibatkan kerusakan pada
syaraf kaki dan punggung.

 Posisi berjongkok, berlutut merangkak akan meningkatkan
oksigenisasi bagi bayi dan bisa mengurangi rasa sakit punggung bagi ibu

 Posisi jongkok/setengah duduk akan membantu dalam penurunan
janin dengan bantuan gravitasi bumi untuk menurunkan janin kedalam
panggul dan terus turun kedasar panggul. Posisi berjongkok akan
memaksimumkan sudut dalam lengkungan Carrus, yang akan
memungkinkan bahu besar dapat turun ke rongga panggul dan tidak
terhalang (macet) diatas simpisis pubis. Dalam posisi berjongkok ataupun
berdiri, seorang ibu bisa lebih mudah mengosongkan kandung kemihnya,
dimana kandung kemih yang penuh akan dapat memperlambat
penurunan bagian bawah janin
 Posisi merangkak dapat membantu penurunan kepala janin lebih dalam
ke panggul

1 Comment

Posted in persalinan

Posted by: lenteraimpian | March 16, 2010

AMNIOTOMI DAN EPISIOTOMI
AMNIOTOMI/pemecahan selaput ketuban

 Selama membran amnion masih utuh, bayi akan terlindung dari infeksi

 Cairan amnion berfungsi sebagai perisai untuk melindungi bayi dari
tekanan kontraksi uterus

 Kantung ketuban akan pecah secara spontan

Istilah untuk menjelaskan penemuan cairan ketuban/selaput ketuban

 Utuh (U), membran masih utuh, memberikan sedikit perlindungan
kepada bayi uterus, tetapi tidak memberikan informasi tentang kondisi

 Jernih (J), membran pecah dan tidak ada anoksia

 Mekonium (M), cairan ketuban bercampur mekonium, menunjukkan
adanya anoksia/anoksia kronis pada bayi

 Darah (D), cairan ketuban bercampur dengan darah, bisa menunjukkan
pecahnya pembuluh darah plasenta, trauma pada serviks atau trauma
bayi

 Kering (K), kantung ketuban bisa menunjukkan bahwa selaput ketuban
sudah lama pecah atau postmaturitas janin

Alasan untuk menghindari pemecahan ketuban dini

 Kemungkinan kompresi tali pusat

 Molase yang meningkat serta kemungkinan kompresi kepala yang tidak
merata

 Tekanan yang meningkat pada janin mengakibatkan oksigenasi janin yang
berkurang

Indikasi amniotomi

 Jika ketuban belum pecah dan serviks telah membuka sepenuhnya
 Akselerasi persalinan

 Persalinan pervaginam menggunakan instrumen

Mekanisme amniotomi

 Saat melakukan pemeriksaan dalam, sentuh ketuban yang menonjol,
pastikan kepala telah engaged dan tidak teraba adanya tali pusat atau
bagian-bagian kecil janin lainnya.

 Pegang ½ klem kocher/kelly memakai tangan kiri dan memasukan
kedalam vagina dengan perlindungan 2 jari tangan kanan yang
mengenakan sarung tangan hingga menyentuh elaput ketuban

 Saat kekuatan his sedang berkurang, dengan bantuan jari-jari tangan
kanan, goreskan klem ½ kocher untuk menyobek 1-2 cm hingga pecah

 Tarik keluar klem ½ kocher/kelly dengan tangan kiri dan rendam dalam
larutan klorin 0,5%. Tetap pertahankan jari-jari tangan kanan didalam
vagina untuk merasakan turunnya kepala janin dan memastikan tetap
tidak teraba adanya tali pusat. Keluarkan jari tangan kanan dari vagina,
setelah yakin bahwa kepala turun dan tidak teraba tali pusat. Cuci dan
lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik didalam larutan klorin
0,5%

 Periksa kembali denyut jantung janin

EPISIOTOMI

 Tidak dilakukan secara rutin

 Bila tidak tepat waktu dan prosedurnya salah, terjadi peningkatan jumlah
perdarahan, laserasi derajat 3 atau 4 dan kejadian hematoma

 Menyebabkan nyeri pasca persalinan

 Meningkatkan resiko infeksi

Persiapan

 Pertimbangkan indikasi episiotomi dan pastikan bahwa episiotomi penting
untuk kesehatan dan kenyamanan ibu/bayi

 Pastikan perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia
dan steril

 Gunakan teknik aseptik setiap saat, cuci tangan dan gunakan sarung
tangan steril

 Jelaskan kepada ibu alasan dilakukannya episiotomi dan diskusikan
prosedurnya dengan ibu, berikan dukungan dan dorongan pada ibu
Indikasi

 Terjadi gawat janin dan persalinan mungkin harus diselesaikan dengan
bantuan alat (ekstraksi cunam atau vakum)

 Adanya penyulit (distosia bahu, persalinan sungsang)

 Adanya perut yang menghambat proses pengeluaran bayi

Jenis episiotomi

Medialis

Otot yang terpotong

 M. Transversa perinei

 M. Bulbocavernosi

 M. Bulbococcygeal

 M. Iliococcygei

Manfaat

 Secara anatomis lebih alamiah

 Menghindari pembuluh-pembuluh darah dan syaraf, jadi penyembuhan
tidak terlalu sakit

 Lebih mudah dijahit karena anatomis jaringan lebih mudah

 Nyeri saat berhubungan (dispareunia) jarang terjadi

 Kehilangan darah lebih sedikit

 Jarang terjadi kesalahan penyembuhan

Bahaya

 Jika meluas bisa memanjang sampai ke spincter ani yang mengakibatkan
kehilangan darah lebih banyak, lebih sulit dijahit dan jika sampai spincter
ani harus dirujuk

Mediolateralis

Pemotongan dimuali dari garis tengah fossa vestibula vagina ke posterior ditengah antara
spina ischiadica dan anus. Dilakukan pada ibu yang memiliki perineum pendek, pernah
ruptur grade 3.
Manfaat

 Perluasan laserasi akan lebih kecil kemungkinannya menjani spincter ani

Bahaya

 Penyembuhan terasa lebih sakit dan lama

 Mungkin kehilangan darah lebih banyak

 Jika dibandingkan dengan medialis (yang tidak sampai spincter ani) lebih
sulit dijahit

 Bekas luka parut kurang baik

 Pelebaran introitus vagina

 Kadangkala diikuti dispareunia (nyeri saat berhubungan)

1 Comment

Posted in persalinan

Posted by: lenteraimpian | March 9, 2010

KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TRIMESTER I DAN II
ANEMIA KEHAMILAN

Yang dimaksud dengan anemia kehamilan adalah jika kadar hemoglon < 11 gr/dL pada
trimester 1 dan 3, atau jika kadar hemoglobin < 10,5 gr/dL pada trimester 2

Tingkatan anemia

 Anemia ringan : 9-10 gr/dL

 Anemia sedang : 7-8 gr/dL

 Anemia berat : < 7 gr/dL

Gejala : pucat, mudah pingsan, TD normal, gejala klinik dapat terlihat pada tubuh yang
malnutrisi

Jika hasil pemeriksaan kadar hemoglobin tidak akurat, hal ini mungkin akibat dari kadar LED
darah yang cepat ataupun spesimen yang tidak tercampur dengan baik.

Pembagian anemia

 Anemia defisiensi besi
 Anemia megaloblastik

 Anemia hipoplastik

 Anemia hemolitik

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Adalah penurunan jumlah sel darah merah akibat dari kekurangan zat besi

Patofisiologi

 Darah meningkat 50% dalam kehamilan (hipervolemia), penambahan sel
darah tidak sebanding dengan plasma darah (plasma 30%, sel darah 18%,
Hb 19%)

 Terjadi pengenceran darah

 Pembentukan sel darah merah terlalu lambat

 Volume darah bertambah sejak usia kehamilan 10 minggu

 Puncaknya penambahan darah pada usia kehamilan 32-36 minggu

Etiologi

 Makanan tidak cukup mengandung zat besi (Fe)

 Komposisi makanan tidak baik untuk penyerapan

 Adanya gangguan penyerapan (penyakit usus)

 Kebutuhan Fe meningkat

Gejala klinis

 Data subjektif : ibu mengatakan sering pusing, cepat lelah, lemas, susah
bernafas

 Data objektif : konjungtiva pucat, muka pucat, ujung-ujung kuku pucat

Komplikasi

 Trimester 1 : missed abortus, kelainan kongenital, abortus

 Trimester 2 : partus prematurus, perdarahan antepartum, gangguan
pertumbuhan janin dalam rahim (PJT), asfiksia, gestosis/manifestasi
keracunan karena kehamilan, IQ bayi rendah, dekompensasi kordis)
 Trimester 3 : gangguan his primer dan sekunder, janin lahir anemia,
persalinan dengan tindakan tinggi, ibu cepat lelah

Pemantauan

 Periksa kadar Hb setiap 2 minggu

 Bidan memberikan suplemen zat besi kepada kliennya yang
memeriksakan diri

 Efek samping berupa gejala gangguan gastrointestinal : konstipasi, diare,
rasa terbakar di ulu hati, nyeri abdomen dan mual

Pencegahan

 Sulfas ferrosus 1 tablet/hari

 Anjurkan makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang banyak
mengandung vitamin dan mineral

 Pemberian preparat besi

 Pemeriksaan kadar Hb pada trimester 1 dan 2

 Pemberian vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. Penyerapan
zat besi yang terbaik adalah pada waktu perut kosong

 Susu dan antasida dapat mengurangi penyerapan zat besi

 Hindari kafein, misalnya kopi dan teh

 Sebelum dan selama kehamilan mengkonsumsi makanan yang kaya zat
besi, asam folat dan vitamin B

Penatalaksanaan

 Oral : pemberian fero sulfat,/fero gluconat/Na-fero bisitrat 60 mg/hari, 800
mg selama kehamilan, 150-100 mg/hari

 Parenteral : pemberian ferum dextran 1000 mg (20 ml) IV atau 2×10 ml/IM

ANEMIA MEGALOBLASTIK

Adalah anemia yang terjadi karena kekurangan asam folat

Peran asam folat

 Untuk pertumbuhan dan replikasi sel
 Mencegah terjadinya perubahan pada DNA yang dapat menyebabkan
kanker

 Penting dalam pembentukan sel

 Darah merah membutuhkan asam folat

 Membantu perkembangan janin

Gejala

 Tangan atau kaki kesemutan dan kaku

 Kehilangan sensasi sentuh

 Kehilangan kemampuan indera penciuman

 Sulit berjalan dan terlihat goyah

 Demensia (kehilangan kemampuan psikis atau mental)

 Kejiwaan terganggu (halusinasi, paranoia, psikosis/gangguan jiwa yang
disertai dengan disintegrasi kepribadian)

Sumber asam folat

 Hewani maupun nabati seperti hati, kuning telur, ginjal, ragi, sayuran
hijau (bayam, brokoli) dan susu

 80% kandungan asam folat hilang selama proses pemasakan

 Sereal siap saji yang difortifikasi mengandung asam folat

 Asam folat sintesis, struktur kimianya lebih sederhana sehingga lebih
mudah diserap tubuh (asam pteroil glutamat)

Kebutuhan

 Orang dewasa 400 mcg (0,4 mg)/hari

 Ibu hamil 600 mcg/hari

 Ibu menyusui 500 mcg/hari

 Harus disiapkan sebelum kehamilan, karena gangguan sering terjadi pada
bulan pertama kehamilan, dimana ibu biasanya belum menyadari bahwa
dirinya tengah hamil

Efek samping
 Terselubungnya komplikasi syaraf akibat defisiensi vitamin B12

 Tidak dianjurkan > 1000mg/hari

 Asam folat termasuk golongan vitamin B yang larut dalam air, jika
kelebihan dapat larut dalam air

ANEMIA HIPOPLASTIK

 Adalah anemia yang terajdi akibat sumsum tulang kurang mampu
membuat sel-sel darah baru

 Jarang dijumpai dalam kehamilan

 Disertai dengan trombositopenia, dan leucopenia

 Disertai kelainan kongenital sering terjadi akibat obat-obatan, zat kimia,
infeksi, irradiasi, leukemia dan kelainan immunologik

 Bisa juga trejadi akibat transplantasi sumsum tulang atau transfusi darah
berulang kali

ANEMIA HEMOLITIK

 Adalah anemia yang terjadi akibat sel darah merah lebih cepat hancur dari
pembentukannya

 Etiologi tidak jelas

 Kejadian langka

 Hemolisis berat timbul secara dini dalam kehamilan dan hilang beberapa
bulan setelah bersalin

 Penambahan darah tidak memberikan hasil

 Transfusi darah untuk meringankan penderitaan ibu dan mengurangi
bahaya hipoksia pada janin

HIPEREMESIS GRAVIDARUM (HEG)

 Adalah gejala mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil

 Dapat berlangsung sampai usia kehamilan 4 bulan dan keadaan umum
menjadi buruk

 Etiologi belum diketahui secara pasti

 Dibagi menjadi 3 tingkatan menurut beratnya gejala yang timbul

HEG tingkat 1
 Muntah terus menerus

 Ibu merasa lemah

 Nafsu makan tidak ada

 Berat badan turun

 Nyeri epigastrium

 Nadi meningkat sekitar 100x/menit

 Tekanan darah turun

 Turgor kulit mengurang

 Lidah mengering

 Mata cekung

HEG tingkat 2

 Ibu lebih lemah dan apatis

 Turgor kulit lebih mengurang

 Lidah mengering dan nampak kotor

 Nadi rendah dan cepat

 Suhu tubuh kadang-kadang naik

 Mata cekung dan sedikit ikterus

 BB dan TD turun

 Hemokonsenterasi, oliguria dan konstipasi

 Ditemukan aseton pada air kencing

HEG tingkat 3

 Keadaan umum lebih parah

 Muntah berhenti

 Kesadaran menurun dari somnolen sampai koma

 Nadi kecil dan cepat

 Suhu meningkat
 TD dan BB turun

 Ensepalopati Wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan perubahan
mental

Penatalaksanaan

 Rawat inap

 Stop makan dan minum dalam 24 jam pertama

 Obat-obatan diberikan secara parenteral

 Infus D10% (2000 ml) dan RL 5% (2000 ml) per hari

 Pemberian antiemetik (metokopramid hidrochlorid)

 Roborantia/obat penyegar

 Diazepam 10 mg IM (jika perlu)

 Psikoterapi

 Lakukan evaluasi dalam 24 jam pertama

 Bila keadaan membaik, boleh diberikan makan dan minum secara
bertahap

 Bila keadaan tidak berubah : stop makan/minum, ulangi penatalaksanaan
seperti sebelumnya untuk 24 jam kedua

 Bila dalam 24 jam tidak membaik pertimbangkan untuk rujukan

 Infus dilepas setelah 24 jam bebas mual dan muntah

 Jika dehidrasi berhasil diatasi, anjurkan makan makanan lunak porsi kecil
tapi sering, hindari makanan yang berminyak dan berlemak, kurangi
karbohidrat, banyak makan makanan yang mengandung gula

Kriteria pulang

 Mual dan muntah tidak ada lagi

 Keluhan subjektif sudah tidak ada

 TTV baik

ABORTUS

 Adalah berhentinya kehamilan pada usia < 20 minggu yang
mengakibatkan kematian janin
 BBL <500 gram, PB <25 cm

 Angka harapan hidup sangat kecil yaitu <1%

 Batasan berbeda tentang abortus 18-24 minggu, WHO 22 minggu

Pembagian abortus

 Abortus spontan (imminens, insipiens, incompletus, completus)

 Abortus induced (therapeutik, sugenic, electiv)

 Abortus septik

 Abortus habitualis

 Missed abortion

Etiologi

Maternal

 Kelainan kromosom

 Infeksi kronis (sifilis, TB aktif)

 Keracunan

 Trauma fisik

 Gangguan endokrin (hipotiroid, DM)

 Penyakit kronis

 Oksidan (rokok, alkohol)

 Defisiensi hormonal

Fetal

 Kematian janin akibat kelainan bawaan

 Mola hidatidosa

 Penyakit plasenta dan desidua

ABORTUS IMMINENS

 Perdarahan bercak-sedang
 Perdarahan ringan (lebih dari 5 menit basahi pembalut)

 Dilatasi serviks tertutup

 Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan

 Gejala/tanda : kram perut bawah uterus (hilang timbul)

 USG, pengaruhi rencana tindakan

 Diagnosa banding : mola, KET

Penatalaksanaan

 Bed rest, tidak perlu pengobatan khusus ataupun tirah baring total

 Jangan melakukan aktifitas fisik berlebihan

 Kurangi hubungan seksual

 Tidak perlu terapi hormonal baik estrogen maupun progesteron

 Tidak perlu pemberian tokolitika ( salbutamol, indometasin)

 Pemberian fenobarbital 3×30 mg/hari

 Pemberian papaverin 3×40 mg/hari

 Observasi perdarahan (jika berhenti : lakukan asuhan antenatal seperti
biasa, lakukan penilaian jika terjadi perdarahan lagi. Jika terus berlangsung
: nilai kondisi janin lewat uji kehamilan/USG, konfirmasi penyebab lain jika
ditemukan ukuran uterus yang lebih besar dari usia kehamilan.

ABORTUS INSIPIEN (sedang berlangsung)

 Perdarahan sedang-banyak

 Konsepsi dalam uterus

 Perdarahan berat hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk basahi
pembalut

 Serviks terbuka

 Ukuran uterus sesuai usia kehamilan

 Gejala/tanda ; kram/nyeri pada perut bagian bawah

Penatalaksanaan
Jika usia kehamilan < 16 minggu, evaluasi uterus dengan AVM, jika evaluasi tidak dapat
dilakukan, segera lakukan :

 Pemberian ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang setelah 15 menit jika
perlu), atau pemberian misoprostol 400 mg/oral (dapat diulang setelah 4
jam bila perlu)

 Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus

Jika usia kehamilan >16 minggu

 Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil
konsepsi

 Jika perlu pasang infus 20 IU oksitosin dalam RL atau garam fisiologik 500
ml IV, dengan kecepatan 40 tetes/menit untuk membantu ekspulsi hasil
konsepsi

Tetap pantau kondisi ibu setelah penanganan

Pasang infus D5% = oksitosin 10 IU

ABORTUS INKOMPLETUS

 Perdarahan sedang-banyak

 Serviks terbuka

 Uterus sesuai usia kehamilan

 Gejala/tanda : kram/nyeri perut bagian bawah dengan rasa sakit yang kuat

 Terjadi ekspulsi sebagian hasil konsepsi

Penatalaksanaan

 Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap
komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis)

 Keluarkan sisa konsepsi secara digital atau dengan menggunakan cunam
ovum dan evaluasi perdarahan

 Jika perdarahan berhenti, berikan ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol
400 mg/oral

 Jika perdaraan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan
AVM

 Jika terdapat tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika profilaksis
 Jika terjadi perdarahan hebat dan < 16 minggu, segera evakuasi dengan
AVM

 Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferrosus 600mg/hari selama 2
minggu (anemia sedang ) atau transfusi darah (anemia berat)

ABORTUS KOMPLETUS

 Perdarahan bercak-sedang

 Serviks tertutup atau terbuka

 Uterus lebih kecil dari usia kehamilan normal

 Gejala/tanda : sedikit/tanpa nyeri pada perut bagian bawah

 Riwayat ekspulsi hasil konsepsi

 Janin akan keluar dari rahim, baik secara spontan maupun alat bantu

Penatalaksanaan

 Tidak perlu evaluasi

 Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak

 Bila kondisi baik, cukup berikan ergometrin 3×1 tablet/hari selama 3 hari

 Tetap pantau kondisi ibu setelah penanganan

 Bila terjadi anemia sedang berikan sulfas ferrosus tablet 600 mg/hari
selama 2 mingg dan anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi

 Untuk anemia berat lakukan transfusi darah

 Bila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberikan antibiotika
atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberi antibiotika profilaksis

 Lakukan konseling pasca abortus dan lakukan pemantauan lebih lanjut

ABORTUS HABITUALIS

 Adalah kejadian abortus berulang, umumnya disebabkan karena kelainan
anatomik uterus (mioma, septum, serviks inkompeten dan lain-lain) atau
kelainan faktor-faktor immunologi

 Idealnya dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat ada atau tidaknya
kelainan anatomi

MISSED ABORTION
 Adalah kematian janin dan nekrosis jaringan konsepsi tanpa adanya
pengeluaran, terjadi pada usia kehamilan 4 minggu atau lebih (beberapa
buku 8 minggu)

 Biasanya didahului tanda dan gejala abortus imminens yang kemudian
menghilang spontan atau menghilang setelah pengobatan

Pentalaksanaan

 Keluarkan jaringan konsepsi dengan laminaria, dan stimulasi kontraksi
uterus dengan oksitosin

 Jika diputuskan untuk melakukan tindakan kuretase, harus sangat berhati-
hati karena jaringan telah mengeras dan dapat terjadi gangguan
pembekuan darah akibat hipofibrinogenemia

ABORTUS THERAPEUTIK

 Adalah abortus yang dilakukan atas pertimbangan/indikasi kesehatan
wanita, dimana bila kehamilan itu dilanjutkan akan membahayakan
dirinya, contohnya pada wanita dengan penyakit jantung, hipertensi, ginjal
dan korban perkosaan (masalah psikis)

 Dapat juga dilakukan atas pertimbangan kelainan janin yang berat

Syarat-syarat abortus therapeutik

 Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang ahli dan berwenang

 Meminta pertimbangan ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi)

 Melakukan informed consent

 Saran kesehatan memadai

 Prosedur tidak dirahasiakan

 Dokumen medik harus lengkap

ABORTUS SEPTIK

 Adalah abortus yang mengalami komplikasi berupa infeksi setelah abortus
spontan/tidak aman

 Terjadi jika terdapat sisa hasil konsepsi atau penundaan pengeluaran hasil
konsepsi

 Tindakan : resusitasi dan perbaiki keadaan umum ibu, berikan antibiotik
spektrum luas dosis tinggi, keluarkan sisa konsepsi dalam 6 jam

DIAGNOSTIK ABORTUS
 Anamnesis : perdarahan, haid terakhir, pola siklus haid, ada tidaknya
gejala/keluhan lain, cari faktor resiko/predisposisi, riwayat penyakit umum
dan obstetri

 Prinsip : wanita usia reproduktif dengan perdarahan pervaginam abnormal
HARUS selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya kehamilan

 Pemeriksaan fisik umum : KU, TTV, jika KU buruk lakukan resusitasi dan
stabilisasi segera

 Pemeriksaan ginekologik : ada tidaknya tanda akut abdomen, jika
memungkinkan cari sumber perdarahan apakah dari dinding vagina atau
jaringan serviks atau keluar ostium. Jika perlu ambil darah/cairan/jaringan
untuk pemeriksaan penunjang (ambil sediaan sebelum PD), lakukan PD
dengan hati-hati

 Bimanual : tentukan besar dan letak uterus, tentukan apakah 1 jari
pemeriksa dapat masuk kedalam ostium dengan mudah/lunak atau tidak
(lihat ada/tidaknya dilatasi serviks), jangan dipaksakan. Adneksa dan
parametrium diperiksa, ada/tidaknya massa atau tanda akut lainnya.

PENATALAKSANAAN PASCA ABORTUS

 Lakukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebab aborts agar
kejadian ini tidak berulang pada kehamilan berikutnya

 Perhatikan involusi uterus dan kadar B-hCG selama 1-2 bulan

 Anjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan

 Anjurkan pemakaian kontrasepsi kondom atau pil

PRINSIP (perdarahan pervaginam pada kehamilan < 12 minggu)

 JANGAN LANGSUNG DILAKUKAN KURETASE

 Tentukan dulu, janin mati atau hidup. Jika memungkinkan periksa dengan
USG

 Jangan terpengaruh dengan B-hCG yang positif, meski janin sudah mati,
kadar B-hCG mungkin masih tinggi dan bisa bertahan sampai 2 bulan
setelah kematian janin

ABORTUS PROVOKATUS KRIMINALIS

 Akibat : perforasi, luka pada serviks uteri, perlekatan pada kavum uteri,
perdarahan infeksi

 Cara umum : olah raga berlebihan, naik kuda, mendaki gunung, berenang,
naik turun tangga, trauma
 Cara lokal : menggunakan alat-alat yang dapat menusuk kedalam vagina,
alat memasang IUD, alat yang dialiri arus listrik, aspirasi jarum suntik

METODE KONTRASEPSI PASCA ABORTUS

Kontrasepsi Waktu Efektivitas

Kondom Segera Kedisiplinan klien, mencegah PMS

Pil Segera Minum secara teratur setiap hari dengan waktu
yang sama

Suntik Segera Konseling untuk pilihan hormon tunggal dan
kombinasi

Implan/susuk Segera Punya > 1 anak, jangka panjang

AKDR Segera Setelah kondisi pulih

Tubektomi Segera Menghentikan fertilitas

Beberapa wanita mungkin butuh

 Jika klien pernah imunisasi, dinding vagina atau kanalis servikalis luka,
berikan booster TT 0,5 ml

 Riwayat imunisasi tidak jelas, beri serum anti tetanus 1500 IU IM diikuti
dengan TT 0,5 ml setelah 4 minggu

 Penatalaksanaan PMS

 Penapisan kanker serviks

KEHAMILAN EKTOPIK

Patofisiologi

 Ovum yang telah dibuahi berimplantasi di tempat lain selain di
endometrium kavum uteri

 Gangguan interferensi mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam
perjalanannya menuju kavum uteri

 Kemungkinan implantasi : paling sering di tuba falopii (90-95 %, dengan
70-80% di ampula), serviks, ovarium, abdomen dan sebagainya.

Etiologi

 Kelainan tuba adalah karena adanya riwayat penyakit tuba, seperti
salpingitis
 Riwayat operasi tuba, sterilisasi

 Riwayat penyakit radang panggul

 IUD

 Ovulasi yang multipel akibat induksi obat-obatan, usaha fertilisasi in vitro
dan sebagainya

Gejala

 Amenorhea

 Nyeri perut bagian bawah yang snagat dan berawal dari satu sisi, tengah,
seluruh perut bagian bawah akibat robeknya tuba

 Penderita bisa sampai pingsan dan syok

 Perdarahan pervaginam biasanya berwarna hitam

 Pusing, perdarahan, berkeringat, pembesaran payudara, perubahan warna
pada vagina dan serviks, perlunakan serviks, pembesaran uterus,
frekuensi BAK meningkat

Diagnosis

 Pemeriksaan panggul, tentukan lokasi sakit

 Lakukan tes B-hCG

 Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui konsentrasi hormon
progesteron

 Pemeriksaan USG

 Diagnosis banding : usus buntu (apendisitis akut), radang panggul

 Penanganan : methotrexate

 Prognosis : HCG (kuantitatif) untuk melihat sisa jaringan

 Kesempatan hamil tergantung dari kerusakan tuba (1x operasi tuba : 55-
60%, jika slauran satunya tidak ada atau rusak : 45%, >2x pembedahan
ektopik dan komservatif : 30%)

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Gejala

 Kolaps dan kelelahan
 Nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih)

 Hipotensi

 Hipovolemia

 Abdomen akut dan nyeri pelvis

 Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya
darah bebas

 Nyeri lepas

 Pucat

Diagnosis

 Anamnesis : riwayat terlambat haid atau amenorhea, gejala dan tanda
kehamilan muda dapat ada atau tidak ada, perdarahan pervaginam, nyeri
perut pada kanan/kiri bawah

 Pemeriksaan fisis : KU dan TTV dapat baik sampai buruk, ada tnada akut
abdomen, saat pemeriksaan adnexa ada nyeri goyang portio

 Pemeriksaan penunjang : tes urine B-hCG (+), kuldosentesis (ditemukan
darah di kavum douglasi), USG

Penatalaksanaan KE dengan ruptur tuba

 Optimalisasi KU ibu dengan transfusi, infus oksigen atau kalau dicurigai
adanya infeksi diberikan juga antibiotika

 Hentikan sumber perdarahan segera dengan laparatomi dan
salpingektomi (memotong bagian tuba yang terganggu)

Sebelum pulang

 Konseling prognosis kesuburannya

 Konsleing metode kontrasepsi dan penyediaan metode kontrasepsi

 Perbaiki anemia dengan sulfas ferrosus 600 mg/hari per oral selama 2
minggu

 Kontrol ulang 4 minggu

KEHAMILAN SERVIKAL

 Jarang terjadi

 Perdarahan pervaginam tanpa disertai rasa nyeri
 Terjadi abortus spontan sangat besar

 Jika kehamilan tumbuh sampai besar, perdarahan atau ruptur yang terjadu
sangat besar dan bisa dilakukan histerektomi lokal.

KEHAMILAN OVARIAL

Ditegakkan atas dasar kriteria Spiegelberg :

 Tuba pada sisi kehamilan harus normal

 Kantung janin harus terletak di ovarium

 Jaringan ovarium yang nyata harus ditemuka dalam dinding kantung janin

MOLA HIDATIDOSA

 Hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi
dari vili korialis disertai dengan degenerasi hidropik

 Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi yang
normal, tidak dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh
jaringan sperti rangkaian buah anggur

 Resiko terjadi keganasan (koriokarsinoma)

Pembagian

Mola hidatidosa klasik/komplet

 Janin atau bagian tubuh janin tidak ada

 Sering disertai pembentukan kista lutein (25-30%)

Mola hidatidosa parsial/inkomplet

 Janin atau bagian tubuh janin ada

 Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya
mati pada trimester pertama

Gejala

 Hiperemesis

 Hipertiroid

 Preeklampsia

 Anemia
 Uterus lebih besar dari umur kehamilan

 Tanda pasti kehamilan tidak ditemukan

 Perdarahan

 Bisa juga disertai preeklampsia/ eklampsia

Diagnosa

 Ditegakkan dengan USG

 Pengosongan jaringan mola dengan vakum kuret

 Pemeriksaan tindak lanjut dilakukan untuk mengetahui kemungkinan
keganasan

 Kadar hCG dipantau hingga minimal 1 tahun pasca kuretase

 Bila >8 minggu pasca kuretase hCG tinggi berarti trofoblast masih aktif

 Anamnesis : hamil disertai gejala dan tanda hamil muda yang berlebihan,
perdarahan pervaginam berulang berwarna coklat, gelembung seperti
busa

 Pemeriksaan fisik : pada mola klasik ukuran uterus > besar dari usia
kehamilan yang sesuai, tidak teraba bagian janin, DJJ tidak ada. Uji batang
sonde tidak ada tahanan massa konsepsi. Pada mola parsial, gejala seperti
missed abortion, uterus < gestasi

 Pemeriksaan penunjang : periksa kadar B-hCG kuantitatif dan USG. Pada
USG gambaran seperti badai salju (snowflake/snowstorm-like appearance)

Penatalaksanaan

 Perhatikan sindroma yang mengancam fungsi vital (depresi nafas,
hipertiroid/tirotoksikosis dan sebagainya). Resusitasi bila KU buruk

 Evakuasi jaringan mola : dengan AVM dan kuret tajam. Suction dapat
mengeluarkan sebagian besar massa mola, sisanya bersihkan dengan
kuret. Dapat juga dilakukan induksi, pada waktu evakuasi berikan oksitosin
untuk merangsang kontraksi uterus dan mencegah refluks cairan mola ke
arah tuba

 Pada wanita yang tidak mengharapkan anak lagi dapat dianjurkan
histerektomi

Follow up

 Profilaksis terhadap keganasan dengan sitostatika terutama pada
kelompok resiko keganasan tinggi
 Pemeriksaan ginekologik dan B-hCG kuantitatif rutin tiap 2 minggu teratur
tiap 3 bulan-1 tahun

 Foto toraks pada awal terapi, ulang bila kadar B-hCG menetap atau
meningkat

 Kontrasepsi hormonal 1 tahun pasca kuretase, sebaiknya preparat
progesteron oral selama 2 tahun

 Penyuluhan pada pasien akan kemungkinan keganasan

5 Comments

Posted in kehamilan, patologi

Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

PROSES ADAPTASI IBU HAMIL
Aspek Psikologi Masa Hamil

Respon psikologis masa hamil berubah setiap saat sesuai dengan trimesternya, yang diawali
dengan suatu ketidakpastian (ambivalent) pada kehamilannya dan berfokus hanya pada diri
sendiri lalu lambat laun fokus tersebut mulai bergeser ke arah bagaimana ia dapat melindungi
janin yang dikandungnya.

RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 1

Reaksi psikologis dan emosi yang biasanya timbul pada wanita terhadap kehamilan :

 Kecemasan

 Kegusaran

 Ketakutan

 Perasaan panik

Dalam pikiran wanita, kehamilan merupakan ancaman, kegawatan, ketakutan dan bahaya
bagi dirinya. Sehingga tak jarang terdapat beberapa wanita yang pada awal kehamilannya
tidak hanya bersikap menolak kehamilan, tapi juga berusaha untuk menggugurkan
kandungannya, bahkan ada yang mencoba untuk bunuh diri.

Gambaran respon terhadap rasa tidak pasti

Selama beberapa minggu kehamilan seorang wanita ragu, apakah ia benar-benar hamil/tidak.
Sehingga wanita tersebut berusaha untuk membuktikan kehamilannya, dengan cara
mengamati perubahan tubuh dengan seksama, mencari tanda-tanda kehamilan, membahas
ketidakpastian dengan keluarga, teman tentang kemungkinan hamil dan untuk
memastikannya wanita melakukan tes kehamilan (periksa ke bidan, tes urin, USG dan lain-
lain)

Reaksi terhadap ketidakpastian hamil

Respon terhadap ketidakpastian hamil bersifat sangat individual hal ini bergantung dari
masing-masing wanita, ada yang menjadi sangat bergembira dengan berita kehamilannya
karena memang sangat dinanti-nantikan dan sudah direncanakan sebelumnya, ada pula yang
merasakan takut terhadap adanya kemungkinan kehamilan dan mengharapkan bukan
petunjuk adanya kehamilan saat ini. Biasanya wanita tersebut mencari kepastian dari dokter
atau pun bidan dalam waktu 12 minggu pertama tidak haid dan mengharap bukan petunjuk
adanya kehamilan saat ini.

Gambaran ambivalensi

 Kebanyakan wanita menunjukan ambivalen terhadap kehamilannya

 Ada yang merasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk hamil

 Sekalipun kehamilan diharapkan/direncanakan sering kali wanita
mengatakan tidak berfikir akan hamil secepat itu

 Wanita merasa belum siap dengan kehamilannya

 Wanita sering ingin tidak hamil sampai tercapai suatu tujuan tertentu/bila
rencananya sudah matang

Beberapa hal yang belum diketahui wanita sebagai calon ibu

 Apa arti kehamilan, dalam pengertian terjadinya perubahan dalam
kehidupan

 Apa yang dapat wanita tersebut berikan sebagai hasil dari kehamilan

 Pada kehamilan yang pertama, seorang wanita mungkin saja khawatir
tentang bertambahnya tanggung jawab

 Wanita tersebut tidak yakin terhadap kemampuannya sebagai orang tua
yang baik

 Beberapa wanita yang sudah mempunyai anak akan mencemaskan
kehamilannya akan mempengaruhi hubungannya dengan anak-anaknya
yang lain yang juga sebagai calon kakak dari janin yang dikandungnya

 Wanita juga mencemaskan kehamilannya akan mempengaruhi
hubungannya dengan suami

Diri sebagai fokus utama
 Pada awal kehamilan fokus utama wanita hanya pada dirinya sendiri dan
bukan pada janinnya

 Respon fisik, seperti mual dan letih, sebenarnya isyarat sesuatu telah
terjadi pada dirinya, walaupun kepastian tentang janin belum menentu
dan tidak nyata

 Berat badan ibu belum bertambah

 Wanita lebih sering mengatakan “Saya hamil” daripada “Saya akan
mempunyai anak”

 Perubahan fisik dan meningkatnya derajat hormonal dapat menyebabkan
emosi menjadi labil

 Mood berubah dengan cepat, dari gembira menjadi mudah tersinggung

 Ibu yang optimis menjadi lebih ingin tidur

 Menunda pekerjaan

 Keadaan perubahan itu membingungkan pasangan yang ingin ikut
mempertahankan kestabilan hubungan

 Peran bidan membantu menerangkan pada pasangan bahwa perubahan
mood merupakan hal yang normal dan jangan dijadikan sebagai masalah
yang tidak terselesaikan

RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 2

Konsep abstrak kehamilan menjadi identifikasi nyata

 Perut menjadi membesar

 Gerakan janin terasa (quickening) dan gerakan ini merupakan peristiwa
penting karena gerakan janin yang lembut ini menandakan bahwa
kehidupan terjadi dalam rahim,

 Saat memeriksakan diri kepada bidan terdengar suara denyut jantung
janin ataupun melihat janin bergerak-gerak saat melakukan USG ke dokter

 Wanita sudah dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan

 Wanita mulai memikirkan, janin merupakan bagian dari dirinya yang
secara keseluruhan bergantung kepadanya sehingga wanita berusaha
untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dapat bermanfaat bagi
tumbuh kembang janinnya, istirahat yang cukup dan lain-lain

 Sekarang wanita tersebut mengatakan “Saya akan mempunyai bayi”

Perubahan fisik
 Perubahan fisik sudah jelas terlihat

 Pada wanita yang mendambakan kehamilan, adanya janin menjadi terasa
“nyata” baginya

 Rahim membesar dengan cepat dan teraba

 Berat badan bertambah

 Perubahan pada payudara

Janin sebagai fokus utama

 Pada trimester ini janin sebagai fokus utama

 Ibu hamil biasanya merasa sehat

 Ketidaknyamanan pada trimester pertama biasanya berkurang

 Perubahan dari ukuran dirinya tidaklah merubah kegiatannya

 Wanita ingin memiliki janin sehat

 Mencari informasi tentang dietari (makanan yang cocok untuk ibu hamil
dan janin)

 Mencari informasi tentang tumbuh kembang janin

 Wanita tersebut berusaha untuk tetap energik

 Kebanyakan wanita menyadari kemampuannya untuk melindungi janinnya
yang dimanifestasikan dalam bentuk narsisme dan introversi

Narsisme dan introversi

Narsisme secara harfiah berarti cinta/jatuh cinta kepada diri sendiri. Dalam
psikiatri/psikologi narsisme menandakan keterkaitan minat dan perhatian pada diri/tubuh
sendiri

Manifestasi narsisme

 Hati-hati dalam memilih baju yang baik untuk digunakan

 Hati-hati dalam memilih makanan yang dimakan

 Memilih lingkungan yang lebih nyaman dari sebelumnya

 Wanita lebih mengarahkan perhatiannya pada kehamilannya
 Wanita dapat ketakutan kalau-kalau aktivitasnya dapat membahayakan
janin

Introversi suatu keadaan dimana wanita lebih memikirkan tentang dirinya sendiri tapi
bertujuan untuk janinnya, wanita tersebut akan membesar-besarkan kesalahannya sendiri,
membesarkan perasaannya dan menjadi kurang berminat kepada dunia luar dan berfokus
hanya pada janinnya.

Kesan tubuh (body image)

Positif

 Dapat menerima perubahan tubuh yang cepat dari sebelum hamil menjadi
hamil, dari yang ramping menjadi lebih gemuk

 Perubahan tubuh menunjukan pertumbuhan janin, sebagai kebanggaan
diri dan pasangan

Negatif

 Perubahan tubuh disertai striae (gurat-gurat/garis-garis pada perut)
kehamilan dan hiperpigmentasi (perubahan warna pada kulit, dimana kulit
menjadi lebih gelap)

 Menurunnya daya tahan tubuh, ketidaknyamanan pelvis (panggul) dan
perut bagian bawah

Perubahan dalam seksualitas

 Tidak dapat diduga, dapat meningkat/menurun/tidak berubah

 Kenyamanan fisik/ketenteraman sejalan dengan keinginan aktivitas seks

 Rasa takut keguguran seperti disebabkan menghindari hubungan
seksualitas terutama yang berpengalaman kehilangan kehamilan

 Rasa bersalah berkembang ke arah ansietas (kecemasan) bila aktivitas
seksual dikurangi

 Saran :

Pada trimester 1 : suami isteri boleh melakukan hubungan seksual namun frekuensinya
dikurangi dan sebaiknya menggunakan kondom karena sperma mengandung hormon
prostaglandin yang dapat mempengaruhi kontraksi uterus yang bisa memicu abortus

Pada trimeter 2 : dalam melakukan hubungan seksual suami isteri diberi kebebasan untuk
menggunakan kondom atau pun tidak, namun frekuensi tetap harus dikurangi
Pada trimester 3 : posisi hubungan seksual sebaiknya diubah (menyesuaikan perubahan tubuh
wanita)

RESPON PSIKOLOGI TRIMESTER 3

 Wanita sudah dapat menyesuaikan diri

 Kehidupan psikologik-emosional dikuasai oleh perasaan dan pikiran
mengenai persalinan yang akan datang

 Pikiran dan perasaan akan tanggung jawab sebagai ibu yang akan
mengurus anaknya

Bermacam penjelmaan dapat terjadi

 Semula menolak kehamilan—sekarang menunjukkan sikap positif dan
menerima kehamilan

 Semula jarang memeriksa kehamilan—sekarang lebih teratur dan
mendaftarkan diri untuk bersalin

 Persiapan perawatan bayi sudah disiapkan di rumah

Dua golongan wanita yang perlu mendapat perhatian karena diliputi rasa takut

 Wanita dengan pengalaman tidak menyenangkan dalam
kehamilan/persalinan sebelumnya dan primigravida (wanita yang baru
pertama kali hamil) yang mendengar pengalaman
menakutkan/mengerikan dari wanita lain

 Multipara (wanita yang sudah pernah hamil) lanjut usia, kehamilan dan
persalinan normal lancar. Kecemasan bukan pada dirinya tetapi pada janin
dan anak yang lain, siapa yang akan mengurus anak-anaknya apabila
terjadi apa-apa dengan dirinya pada waktu persalinan

 Pada kedua keadaan ini penting pengertian dari bidan dan keluarga
terhadap wanita tersebut agar lebih tenang dan relaks dalam menghadapi
persalinan

 Pendekatan psikologis yang tepat antara tenaga kesehatan dengan wanita
tersebut

 Hubungan saling percaya antara bidan dan wanita akan meringankan
beban penderitaannya

 Kesemuanya ini bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi

Kerentanan

 Kerentanan meningkat pada trimester ketiga terutama pada kehamilan 7
bulan
 Sering merasakan bayi yang amat berharga dapat saja hilang/mengalami
hal buruk bila tidak dilindungi sepanjang waktu

 Fantasi/mimpi buruk tentang janinnya (wanita jadi sangat berhati-hati)

 Menghindari tempat ramai oleh karena tidak mampu melindungi janinnya

Meningkatnya kebutuhan akan ketergantungan

 Merasakan sangat mendambakan suaminya

 Meningkatnya kebergantungan pada pasanga/suami pada akhir-akhir
minggu kehamilan

 Dalam sehari dapat berulang-ulang menelpon suami

 Meningkatnya kebutuhan cinta dan perhatian dari pasangan

 Butuh kepastian dukungan dan kemampuan pasangan agar merasa lebih
mantap akan kemampuannya dalam menghadapi persalinan

 Mengaharapkan pasangan mengerti perasaannya (wanita menjadi lebih
rentan jika pasangan tidak menunjukkan rasa simpati)

Persiapan untuk melahirkan

 Secara bertahap perasaan rentan akan menurun sesuai dengan situasinya

 Janin bertumbuh terus dan pergerakannya tidak lagi lembut (mendorong—
menyodok—menendang) merupakan ekspresi gangguan bayi terhadap
kondisi sesak dan aktivitas meningkat

 Hubungan wanita dan janin berubah, pengertian bayi bukan bagian dari
dirinya—sesuatu yang ada didalam—walaupun sadar terpisah tetapi
wanita merasa akrab

 Kebanyakan wanita menaydari kemampuannya menentukan kapan akan
melahirkan

 Wanita mulai memperhatikan tanda-tanda persalinan, menanyakan
teman/keluarga yang pernah bersalin

 Banyak pasangan merasa cemas mereka tidak/belum sampai di klinik/RS
saat melahirkan

 Pasangan tersebut menyadari tentang bagaimana menangani persalinan

 Minggu terakhir kehamilan, kesadaran akan tanggal perkiraan persalinan
makin meningkat didasarkan pengalaman sebelumnya
 Beberapa wanita merasa ketakutan terhadap tanggal perkiraan persalinan
maupun untuk melahirkan. Ketidaknyamanan terjadi sampai tepat terjadi
persalinan

 Selama trimester 3 ibu yang mendambakan kehamilannya dapat
mengatakan “Saya akan menjadi ibu” persiapan untuk janinnya –
pakaian—tempat tidur bayi—membicarakan pembagian tugas rumah
tangga dengan pasangan

 Pasangan melengkapi pengetahuan tentang persalinan

Leave a Comment

Posted in kehamilan, psikologi kebidanan

Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PSIKOLOGIS IBU HAMIL -2nd-
Berbagai faktor yang berhubungan dengan ibu hamil

 Dukungan kepada ibu hamil dan nifas

 Dukungan dari tenaga kesehatan (nakes)

 Menciptakan rasa aman dan nyaman selama hamil dan nifas

 Persiapan menjadi orang tua

 Mempersiapkan saudara (sibling). Menerima dan memahami janin dalam
kandungan/BBL

DUKUNGAN KEPADA IBU HAMIL DAN NIFAS

 Wanita yang telah/belum dianugerahi anak disaat ia menginginkan
hamil/dalam menghadapi kehamilan dan bersalin membutuhkan dukungan

 Mereka mengharapkan dukungan dari :

o Suami

o Keluarga (keluarga dekat) : ortu-mertua-saudara kandung-ipar dan
lain-lain

o Lingkungan : keluarga selain keluarga dekat-tetangga-teman dan
lain-lain

Dukungan suami

Dari penelitian kualitatif di Indonesia diperoleh berbagai dukungan suami yang diharapkan
isteri :
 Suami sangat mendambakan bayi dalam kandungan isteri

 Suami senang mendapatkan keturunan

 Suami menunjukkan kebahagiaan pada kehamilan ini

 Suami memperhatikan kesehatan isteri yakni menanyakan keadaan
isteri/janin yang dikandungnya

 Suami mengantar dan atau menemani isteri untuk memeriksakan
kandungannya

 Suami tidak menyakiti isteri baik secara fisik maupun perasaan

 Suami menghibur/menenangkan ketika ada masalah yang dihadapi isteri

 Suami menasihati agar isteri tidak terlalu capek bekerja di rumah/di
tempat kerja

 Suami membantu tugas isteri

 Suami berdoa untuk kesehatan dan keselamatan isteri dan anaknya

 Suami menunggu ketika isteri melahirkan

 Suami menunggu ketika istreri dioperasi

Diperoleh atau tidak diperoleh dukungan suami tergantung pada :

 Keintiman hubungan

 Adanya komunikasi yang bermakna

 Adanya kekhawatiran/masalah dalam biaya

Dukungan keluarga

 Ayah-ibu kandung, maupun mertua sangat mendukung kehamilan ini

 Ayah-ibu kandung maupun mertua sering berkunjung dalam periode ini

 Seluruh keluarga berdoa untuk keselamatan ibu dan bayi

 Walaupun ayah-ibu kandung maupun mertua ada didaerah lain, sangat
didambakan dukungan melalui telepon, surat ataupun doa dari jauh

 Selain itu, ritual tradisional dalam periode ini seperti upacara 7 bulanan
pada beberapa orang mempunyai arti tersendiri yang tidak boleh
diabaikan

Dukungan lingkungan
 Diperoleh dari ibu-ibu pengajian/perkumpulan/kegiatan yang berhubungan
dengan keagamaan/sosial dalam bentuk doa bersama untuk keselamatan
ibu dan janinnya

 Membicarakan/menceritakan/menasihati tentang pengalaman hamil dan
bersalin

 Ada diantara mereka yang mau mengantarkan ibu hamil untuk periksa

 Mereka dapat menjadi seperti saudara bagi ibu hamil dan nifas

RASA AMAN DAN NYAMAN SELAMA KEHAMILAN DAN PASCA BERSALIN

 Tingkat kemudahan dan kepuasan pada seseorang yang berubah menjadi
orang tua terutama bergantung kepada keberhasilan mereka (suami isteri)
dalam mengartikan dan menerima hubungan antar anggota keluarga

 Apabila pasangan suami isteri tersebut telah mampu memandang satu
sama lain sebagaimana adanya (dan bukan seperti apa yang diinginkan)
dan dapat menerima perbedaan dalam nilai dan tingkah laku, dapat
bekerja sama untuk membangun dasar kekuatan yang fleksibel untuk
keduanya, dapat mengembangkan standar yang memungkinkan keduanya
saling mengerti maka peralihan dari kecemasan menuju kenyamanan
selama persalinan akan lebih lancar

 Harapan rasa aman dan nyaman ini merupakan manifestasi keinginan
berbagi rasa yang saat-saat itu memang cenderung meningkat

 Harapan itu akan lebih mudah terwujud apabila ada kesesuaian antara
suami isteri

 Menifestasi kesesuaian terlihat dari perilaku suami yang membantu sambil
menahan diri untuk tidak mengeluh

 Optimalisasi tercapainya harapan rasa aman dan nyaman selama
kehamilan dan pasca bersalin sangatlah individual tergantung dari sudut
pandang tiap-tipa orang.

DUKUNGAN DARI TENAGA KESEHATAN

aktif — melalui kelas antenatal

pasif – dengan memberi kesempatan pada mereka yang mengalami masalah untuk
berkonsultasi

tenaga kesehatan harus mampu mengenali tentang keadaan yang ada disekitar ibu
hamil/pasca bersalin yaitu bapak (suami ibu bersalin), kakak (saudara kandung dari calon
bayi/sibling), penunjang.

Bapak/suami ibu bersalin
 Keadaan emosi dan interaksi seorang ayah dengan bayi sangatlah penting
karena biasanya ia merupakan penunjang utama bagi ibu bersalin

 Apakah bapak dapat diandalkan?

 Apakah ia dapat terlibat dengan ibu dan bayi?

 Apakah ia memberi respon terhadap signal dari si bayi?

 Seberapa banyak ia memiliki informasi mengenai sifat-sifat dan
pengasuhan bayi?

 Apakah yang ia harapkan setelah isterinya pulih?

 Apabila ia mengharapkan isterinya cepat pulih baik tenaga maupun
libidonya, bial pemulihan lebih lama dari yang diharapkan ia mungkin
kesal

 Apakah pandangan yang realistik terhadap bayi (misal bayi akan tidur
nyenyak sepanjang malam, penuh senyuman, mudah ditenangkan)akan
menimbulkan masalah jika tidak sesuai yang diharapkan/justru
kebaikannya?

Kakak (saudara kandung dari bayi)

 Sangat penting untuk mengetahui umur kakak-kakaknya dan bagaimana
perasaan mereka terhadap bayi yang baru lahir

 Apakah mereka tertarik dan ingin membantu?

 Apakah mereka bersikap bermusuhan dan agresif?

 Bagaimana reaksi orang tua terhadap tingkah laku kakak-kakak si bayi?

Penunjang

 Anggota keluarga sering merupakan sistem penunjang yang kuat dan
keterlibatan mereka sangat penting untuk proses penyesuaian keluarga

 Apakah ada kakek-nenek si bayi yang bersedia untuk dilibatkan?

 Apakah ada kakak perempuan/laki-laki orang tua yang tinggal dekat?

 Apakah mereka bersedia membantu orang tua baru ini?

 Bila keluarga tidak bersedia, siapa yang akan menajdi penunjang?

 Apakah telah dipikirkan mengenai bantuan?

Tingkah laku non verbal
 Tingkah laku non verbal juga sama pentingnya

 Apakah orang tua sepakat dengan apa yang akan mereka lakukan? Misal,
apakah si ibu berkata puas terhadap sifat-sifat anaknya, tetapi secara non
verbal terlihat lamban merespon sinyal-sinyal bayinya?

Yang harus diperhatikan bidan

 Tegaskan kesan dan kesimpulan yang didapat pada saat penilaian
psikososial

 Salah satu cara yang terbaik adalah menanyakan, misal, “Seberapa besar
pengalaman Anda denagn bayi baru lahir?”

 Apakah terkejut mendapat anak perempuan/laki-laki?

 Makanan apa yang diberikan pada BBL di Indonesia sebelum ASI keluar?

 Apa rencananya kalau sudah di rumah?

 Seberapa lama ibu/mertua anda dapat tinggal di rumah anda?

Analysis

 Maksud penilaian keluarga adalah untuk mengidentifikasi kekuatan
keluarga sekaligus menentukan intervensi yang dapat meningkatkan
penyesuaian keluarga/mencegah gangguan dalam fungsi sebagai keluarga

 Kadang-kadang keluarga yang biasanya berfungsi baik, tidak mampu
mengatasi peristiwa spesifik ini

 Peristiwa spesifik ini adalah kelahiran bayi dan yang penting dapat
memasukkan bayi itu kedalam struktur keluarga yang telah ada

 Diagnosa kebidanan adalah perubahan proses keluarga yang
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai kebutuhan dan
tingkah laku bayi, stress pada minggu-minggu pertama di rumah dan
persaingan kakak-adik

Rencana

 Mengidentifikasi cara untuk meredakan stress selama berminggu-minggu
pertama di rumah

 Menguraikan tindakan yang dapat diambil untuk menurunkan persaingan
kakak-adik

 Mengidentifikasi bantuan luar dan sistem penunjang

Intervensi
 Mengajarkan keluarga tentang bayi baru lahir (BBL)

 Kebutuhan bayi : ada orang tua baru yang mempunyai harapan yang tidak
relistis atas bayinya dan bidan ada di posisi yang baik untuk memberikan
informasi tentang apa saja yang dapat dibuat oleh bayi dan apa yang
diperlukan oleh bayi sehingga dapat tumbuh dengan baik

Sinyal bayi

 Bicarakan mengenai pentingnya respon yang cepat dan lembut bila bayi
memberi sinyal seperti menangis/gelisah yang menunjukkan bayi tersebut
memerlukan perhatian

 Tegaskan kepada orang tua bahwa menjawab dengan cepat tidak akan
“memanjakan” bayi tetapi akan membantu membangun kepercayaan
bahwa dunia merupakan tempat yang aman

Membantu keluarga menyesuaikan diri

 Memberikan bimbingan tentang peredaan ketegangan stress

Bidan dapat memberikan bimbingan tentang minggu-minggu pertama di rumah, saat keluarga
harus penyesuaian diri dengan tuntutan bayi

 Ini merupakan saat dimana kebutuhan istirahat sangat besar tetapi
kesempatan untuk tidur yang tidak terganggu sangat kecil

 Akibatnya timbul kelelahan, yang merupakan masalah umum

Cara untuk mengurangi persaingan kakak-adik

 Berikan anjuran agar orang tua membuat rencana untuk menghabiskan
waktu dengan sang kakak dan sering memberikan pujian dan menegaskan
kembali tempat mereka dalam keluarga

 Orang tua harus memperlihatkan kasih sayang mereka

 Selain itu, pengunjung maupun keluarga lainnya tidak boleh hanya
memberikan perhatian kepada si bayi tetapi juga mengikutsertakan anak
yang lebih tua dalam memberi hadiah/ucapan tentang BBL

 Tekankan pentingnya merespon dengan tenang dan pengertian bila si
kakak menajdi lebih kekanak-kanakan tingkah lakunya/sikap bermusuhan
dengan bayi

 Sangat bermanfaat untuk memperhatikan perasaan anak tersebut dan
menegaskan kembali tentang kasih sayang orang tua

 Ada anak-anak, terutama yang lebih dari 3 tahun, yang senang menjadi
abang/kakak dan mau diikutsertakan dalam asuhan si bayi
 Keikutsertaan ini tidak dapat dilakukan oleh anak yang lebih muda,
sehingga akan lebih baik bila orang tua memberikan waktu yang terpisah
untuk melakukan kegiatan yang disenangi anak tersebut

Identifikasi bantuan

 Pada rumah tangga umumnya wanita yang mendapat beban pekerjaan
rumah yang lebih besar

 Dengan kelahiran bayi, pekerjaan ini akan menjadi lebih sulit

 Harus dilakukan persetujuan/negosiasi tentang pembagian pekerjaan
untuk mencegah stress/kelelahan tambahan

 Pembagian kerja sangat penting bila ada anak-anak lain yang juga
memerlukan waktu dan perhatian

 Pembantu utama bagi ibu adalah bapak si bayi, namun anggota keluarga
lainnya terutama nenek si bayi atau saudara perempuan juga dapat
memberikan bantuan yang berharga

 Bantuan komunitas/lingkungan dapat berupa asuhan harian (daycare)

PERSIAPAN MENJADI ORANG TUA

Peran orang tua : proses peralihan berkelanjutan

 Peralihan menjadi orang tua merupakan suatu proses dan bukan suatu
keadaan statis

 Proses ini berawal dari kehamilan, dengan bunga ucapan selamat,
merupakan saat kewajiban menjadi orang tua dimulai

Konsep-konsep lain mengenai peran orang tua

 Peran orang tua yang membawa perubahan negatif pada kualitas hidup

 Peran orang tua tertuju pada bagaimana perubahan kualitas kehidupan
pribadi maupun perkawinan setelah kelahiran bayi. Selain itu, cenderung
diwarnai oleh batasan kualitas hidup yang diukur dari sudut pandang yang
individualistik

 Dalam ukuran individualistik ini, fokus kualitas hidup tertuju pada tingkat
keberhasilan seseorang mengatasi berbagai hambatan, termasuk
gangguan alamiah maupun tatanan kerja untuk memenuhi
keinginan/tujuan pribadinya

 Ukuran individualistik tentang asuhan, misal tertuju pada sejauh mana
perasaan terganggunya seorang wanita yang harus keluar masuk RS
akibat penyakit diabetes selama kehamilannya. Bila perasaan
terganggunya rendah, maka asuhan kesehatannya baik
Peran orang tua sebagai krisis dibandingkan sebagai masa peralihan

 Seberapa besarkah menjadi orang tua menimbulkan “krisis”?

 Perubahan ini dianggap suatu krisis apabila sangat hebat, sangat
mengganggu dan merupakan perubahan yang negatif

 Apakah ada kebiasaan yang terganggu seperti perubahan kehidupan
seksual, pola tidur dan hal-hal yang serupa

Kepentingan tentang kehadiran dari BBL adalah temperamen, cara pasangan mengertikan
stress dan bantuan serta bagaimana orang tua berkomunikasi dan mengubah peran sosial
mereka merupakan hal yang harus diperhitungkan.

Peralihan menjadi orang tua

Fase penantian (anticipatory)

 Fase penantian berkaitan dampaknya pada kehamilan dan bukan pada
peran orang tua

 Kehamilan merupakan tahap penantian menjadi orang tua dan calon
orang tua perlu menyelesaikan beberapa tugas mereka

 Pembuatan keputusan dan harapan-harapan mereka mempengaruhi
perannya sebagai orang tua nantinya, seperti pembagian tugas dalam
keluarga. Hal ini menjadi sangat penting bila bayi telah lahir

 Mengamati bagaimana aktivitas sehari-hari yang dijalankan keluarga
seringkali menggambarkan seberapa berhasilnya seseorang menerima
perubahan peran mereka

 Hal ini juga memberi gambaran peran yang akan dimainkan anak dalam
keluarga kelak. Bidan harus memperhatikan apakah ada
negosiasi/fleksibilitas antar pasangan saat pembagian tugas

 Bagaimana keluarga menggunakan kehamilan untuk membagi tugas
dalam keluarga akan sangat berdampak pada peralihan peran

 Bila salah satu anggota secara sepihak meminta pasangannya untuk
bertanggung jawab/bila ada pandangan kaku mengenai kerja pria dan
kerja wanita, mungkin akan timbul perlawanan halus/tugas berlebihan
dengan meningkatnya tanggung jawab akibat adanya bayi yang baru lahir

 Pasangan dalam fase penantian, akan mengalami perasaan yang hebat,
tantangan dan tanggung jawab. Bila digunakan secara baik, kesempatan
ini akan digunakan untuk menguji kemampuan dalam mempersiapkan
untuk menerima dan mengintegrasikan anggota keluarga yang baru
kedalam sistem.

Fase bulan madu (honeymoon)
 Fase bulan madu akan sangat berdampak apad masa puerperium(nifas),
hal ini perlu mendapat perhatian pada asuhan kebidanan yang diberikan
oleh bidan

 Fase bulan madu ini bersifat psikis dan bukan merupakan saat damai dan
gembira

 Hubungan personal pasangan juga tidak kalah penting, tetapi sebagian
besar tenaga difokuskan pada pengembangan hubungan baru dengan
bayi

Ketertarikan dan keterkaitan (bonding and attachment)

 Kemampuan BBL untuk mengendalikan tingkah laku merupakan rangsang
kuat untuk orang tua yang siap untuk melanjutkan hubungan dari
ketertarikan awal (initial bonding) menuju keterkaitan (attachment)

 Ketertarikan merupakan awal tertariknya dan keinginan untuk lebih
mengenal

 Sedangkan keterkaitan merupakan suatu kerja keras dan lama untuk
mencintai seseorang

 Oleh karena itu, ketertarikan dapat dianggap langkah awal dalam proses
saling tertarik dan respon antara orang tua dan BBL berkembang dan
menjadi kasih sayang dan afiliasi

Pelayanan asuhan kesehatan

 Pelayanan asuhan harus hati-hati bila menasihati pasien, sehingga tidak
menimbulkan rasa bersalah pada orang tua yang tidak dapat atau tidak
turut berpartisipasi dalam proses persalinan dan yang tidak langsung
tertarik pada bayi barunya.

 Proses keterkaitan bervariasi dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan
dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain

SIBLING (KAKAK-KAKAK)

 Respon kakak-kakak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan
bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan

 Biasanya balita kurang sadar akan adanya kelahiran

 Mereka mungkin melihat “pendatang baru” itu sebagai saingan atau
mereka takut akan kehilangan kasih sayang orang tua

 Tingkah laku negatif mungkin muncul dan merupakan petunjuk derajat
stress pada kakak-kakak ini
 Tingkah laku negatif ini mungkin berupa masalah tidur, peningkatan upaya
menarik perhatian, kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti
ngompol, atau menghisap jempol.

 Beberapa anak mungkin memperlihatkan tingkah laku bermusuhan
terhadap sang ibu, terutama bial ibu menggendong bayi atau memeberi
makan

 Tingkah laku ini merupakan manifestasi rasa iri dan frustasi yang
dirasakan kakak-kakak ini bila mereka melihat perhatian sang ibu
diberikan kepada orang lain.

 Orang tua harus mencari kesempatan-kesempatan untuk menegaskan
kembali kasih sayang mereka untuk kakak yang sedang rapuh ini

 Anak prasekolah mungkin akan lebih banyak melihat daripada menyentuh

 Sebagian besar akan menghabiskan waktu dekat dengan bayi dan
berbicara kepada ibu tentang bayi ini

 Lingkungan yang relaks dan biasa tanpa dibatasi waktu yang akan
mempermudah interaksi anak-anak yang muda dengan bayi

 Sang kakak harus diberikan perhatian khusus oleh orang tua, pengunjung
dan bidan yang sepadan dengan yang diberikan kepada bayi baru

Adaptasi kakak

Balita

 Bagaimana cara kakak menyesuaikan diri dengan kelahiran bayi akan
sangat bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan anak-anak

 Anak-anak yang sangat muda, 2 tahun atau kurang, tidak menyadari
perubahan pada ibunya yang sedang hamil dan tidak mengerti bahwa
akan lahir seorang adik laki-laki atau perempuan karena balita belum
mempunyai persepsi waktu

 Banyak orang tua yang menangguhkan pemberitahuan sampai dekat
dengan saat kelahiran

 Meskipun sulit untuk mempersiapkan anak yang masih sangat muda untuk
menyongsong kelahiran bayi, seorang bidan dapat memberikan saran
yang membantu

o Pertama, segala perubahan dalam susunan tidur bersama harus
dibuat beberapa minggu sebelum kelahiran supaya balita tersebut
tidak merasa disingkirkan oleh bayi yang baru

o Kedua, orang tua dapat mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan
mereka untuk menanyakan balita tersebut apakah dia iri dan
menyesali adanya adik, apabila si balita harus dapat berbagi waktu
dan perhatian dengan si bayi

o Hanya apabila si balita merasa aman terhadap kasih sayang orang
tuanya, baru dapat diharapkan seorang anak berumur 2 tahun
dapat menyongsong kedatangan “orang lain”

o Sangat penting diyakinkan secara berulang kali yang utama bagi
orang tua adalah kasih sayang mereka kepada si balita

o Dapat diajarkan kepada orang tua untuk menerima perasaan
kuat/hebat yang diperlihatkan balita, seperti marah, iri atau kesal,
tanpa menghakimi dan selalu memperkuat kasih sayang terhadap
anak tersebut

Anak yang lebih tua

 Anak yang lebih tua, dari usia 3-12 tahun, lebih sadar akan perubahan-
perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan terjadinya
kelahiran bayi

 Anak-anak ini mungkin akan tertarik untuk memperhatikan perut ibu, dan
merasakan pergerakan janin. Mereka akan senang mendengarkan denyut
jantung janin, dan mungkin mempunyai beberapa pertanyaan tentang
cara bayi dikeluarkan dari perut

 Mereka umumnya mengerti si bayi akan merupakan adik laki-laki atau
perempuan dan sangat menunggu kehadiran bayi

 Namun mereka mungkin mengharapkan bayi yang lahir langsung sudah
dapat dibuat bermain dan sering kaget melihat betapa kecil dan tak
berdayanya si bayi

 Anak-anak yang telah sekolah akan mendapat keuntungan bila
diikutsertakan dalam persiapan menyongsong bayi

 Mereka sering senang mengukur besar dan perkembangan janin dan
mencatat di kalender

 Mereka tertarik untuk mempersiapkan tempat untuk bayi tidur dan
mengumpulkan barang-barang keperluan bayi

 Anak-anak ini harus diajak untuk merasakan pergerakan janin, dan banyak
diantara mereka yang mendekat ke perut ibunya dan berbicara dengan si
janin

 Anak-anak yang lebih tua juga mendapat rasa tenteram dan menikmati
waktu bersama orang tua

 Anak-anak yang berumur 3 tahun pun akan mendapat keuntungan dari
kelas-kelas (kelas khusus persiapan menjadi orang tua/parent education
program) untuk persiapan sebagai kakak
 Mereka diajak untuk membawa boneka sehingga mereka dapat belajar
cara mengasuh bayi

 Kelas-kelas ini juga merupakan kesempatan untuk dapat berdiskusi
mengenai perubahan-perubahan dalam keluarga akibat adanya bayi yang
baru

 Dalam beberapa keadaan, anak berumur 3 tahun sudah diperbolehkan
hadir saat persalinan

 Bila anak yang muda ini akan hadir untuk peristiwa persalinan, mereka
harus mengikuti kelas yang akan mempersiapkan mereka untuk peristiwa
tersebut

 Seseorang yang sudah dikenal harus hadir untuk dapat menerangkan apa
yang sedang terjadi dan menenangkan mereka atau membawa mereka
keluar ruangan kalau mereka takut

Remaja

 Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan
mereka

 Ada remaja yang malu karena kehamilan berarti ada hubungan seksual
antara orang tua mereka

 Mereka mungkin jijik melihat perubahan fisik ibu

 Banyak remaja yang sangat larut dalam perkembangan mereka sendiri
yang meliputi :

o Pengenduran ikatan kepada orang tua dan menghadapi
perkembangan seksualitas mereka sendiri

o Mereka mungkin tidak peduli terhadap kehamilan kecuali bila
mengganggu kegiatan mereka sendiri, namun ada remaja yang
justru menjadi sangat terlibat dan ingin membantu dengan
persiapan untuk bayi.

1 Comment

Posted in kehamilan, psikologi kebidanan

Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

MASALAH-MASALAH YANG LAZIM TERJADI PADA BAYI
DAN ANAK
1. MUNTAH ATAU GUMOH
Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif
atau keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak
lama makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk mengeluarkan isi lambung akan
terlihat sebagai kontraksi otot perut.

Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering kali dijumpai dan dapat terjadi pada
berbagai gangguan. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin muntah lendir,
bahkan kadang-kadang disertai sedikit darah.

Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian makanan pertama, suatu keadaan yang
mungkin disebabkan adanya iritasi mukosa lambung oleh sejumlah benda yang tertelan
selama proses kelahiran, jika muntahnya menetap pembilasan lambung dengan larutan garam
fisiologis akan dapat menolongnya.

Refluks gastroesofagus adalah kembalinya isi lambung kedalam esofagus tanpa terlihat
adanya usaha dari anak

Regurgitasi adalah bila bahan dari lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut

Secara klinis kadang-kadang sukar dibedakan antara muntah, refluks dan regurgitasi. Muntah
sering dianggap sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun yang
tertelan.

Penyebab muntah

Pada neonatus

Organik

 Gastrointestinal

Obstruksi : atresia esofagus

Non obstruksi : perforasi lambung

 Ekstra gastrointestinal

Insufisiensi ginjal, obstruksi urethra

 Susunan syaraf pusat

Peningkatan tekanan intra cranial (TIK)

Non organik
Teknik pemberian minum yang salah, makanan/minuman yang tidak cocok atau terlalu
banyak, keracunan, obat-obat tertentu, kandidasis oral.

Pada anak

Organik

 Gastrointestinal

Obstruksi : stenosis pylorus

Non obstruksi : refluk esofagal, infeksi/peritonitis

 Luar gastrointestinal

Infeksi (OMA, pertusis, tonsilofaringitis)

uremia

Non organik

 Sama dengan neonatus

 Mabuk perjalanan

 Keracunan makanan (1-8 jam sesudah makan)

 Food borne disease (salmonellosis) lebih lama dari keracunan makanan

Perlu anamnesa yang teliti :

 Pola pemberian makan

 Berat badan lahir

 Jumlah yang dimuntahkan, frekuensi

 Disertai diare, batuk atau panas

 Terjadi sebelum/sesudah makan

 Menyemprot/proyektil atau tidak

Sifat muntah

 Keluar cairan terus menerus maka kemungkinan obstruksi esophagus

 Muntah proyektil kemungkinan stenosis pylorus (pelepasan lambung ke
duodenum)
 Muntah hijau (empedu) kemungkinan obstruksi otot halus, umumnya
timbul pada beberapa hari pertama, sering menetap, biasanya tidak
proyektil.

 Muntah hijau kekuningan kemungkinan obsruksi dibawah muara saluran
empedu

 Muntah segera lahir dan menetap kemungkinan tekanan intrakranial tinggi
atau obstruksi usus

Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan secara radiologis yaitu apabila didapatkan gambaran suatu
keadaan kelainan kongenital bawaan seperti obstruksi usus halus, atresia esophagus dan lain-
lain. Selain dengan pemeriksaan radiologis, juga dapat ditegakkan dengan pemeriksaan uji
coba memasukan kateter kedalam lambung. Diagnosis harus dapat segera dibuat sebelum
anak tersedak sewaktu makan dengan kemungkinan terjadinya aspirasi pneumonia.

Muntah (kelainan bedah) adalah gangguan passage gastrointestinal dengan tanda-tanda
muntah, perut membuncit, kegagalan evakuasi mekonium (pada BBL).

Gambaran muntah yang perlu dicurigai sebagai kelainan bedah

 Muntah hijau (gangguan pada empedu)

 Muntah proyektil (menyemprot)

 Muntah persisten

 Muntah bercampur darah

 Muntah disertai penurunan berat badan

Komplikasi

 Kehilangan cairan tubuh/elektrolit sehingga dapat menyebabkan dehidrasi

 Karena sering muntah dan tidak mau makan/minum dapat menyebabkan
ketosis

 Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjatan
(syok)

 Bila muntah sering dan hebat akan terjadi ketegangan otot perut,
perdarahan, konjungtiva, ruptur, esophagus, infeksi mediastinum, aspirasi
muntah jahitan bisa lepas pada penderita pasca operasi dan timbul
perdarahan.

Penatalaksanaan
 Utamakan penyebabnya

 Berikan suasana tenang dan nyaman

 Perlakukan bayi/anak dengan baik dan hati-hati

 Kaji sifat muntah

 Simptomatis dapat diberi anti emetik (atas kolaborasi dan instruksi dokter)

 Kolaborasi untuk pengobatan suportif dan obat anti muntah (pada anak
tidak rutin digunakan) :

o Metoklopramid

o Domperidon (0,2-0,4 mg/Kg/hari per oral)

o Anti histamin

o Prometazin

o Kolinergik

o Klorpromazin

o 5-HT-reseptor antagonis

o Bila ada kelainan yang sangat penting segera lapor/rujuk ke rumah
sakit/ yang berwenang

GUMOH/REGURGITASI

Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah
minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya hanya sedikit.

Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal terutama pada bayi dibawah
usia 6 bulan

Penyebab

 Anak/bayi yang sudah kenyang

 Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk
kedalam lambung

 Posisi botol yang tidak pas

 Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap

 Akibat kebanyakan makan
 Kegagalan mengeluarkan udara

Diagnosis

Sebagian besar gumoh terjadi akibat kebanyakan makan atau kegagalan mengeluarkan udara
yang ditelan. Oleh karena itu, sebaiknya diagnosis ditegakkan sebelum terjadi gumoh.
Pengosongan lambung yang lebih sempurna, dalam batas-batas tertentu penumpahan kembali
merupakan kejadian yang alamiah, terutama salam 6 bulan pertama. Namun, penumpahan
kembali tersebut diturunkan sampai jumlah yang bisa diabaikan dengan pengeluaran udara
yang tertelan selama waktu atau sesudah makan.

Dengan menangani bayi secara hati-hati dengan emghindari konflik emosional serta dalam
menempatkan bayi pada sisi kanan, letak kepala bayi tidak lebih rendah dari badannya. Oleh
karena pengeluaran kembali refleks gastroesofageal lazim ditemukan selama masa 4-6 bulan
pertama.

Penatalaksanaan gumoh

 Kaji penyebab gumoh

 Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi
yang umurnya dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik
menyusui/memberikan susu.

 Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan

 Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap

 Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup
rapat puting susu ibu

 Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI

 Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian
terluas lambung ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung
ynag luas

 Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan

2. KEMBUNG

Kembung adalah keadaan perut yang membesar dan berisi angin

Penyebab

 Bayi kembung karena menelan angin waktu menyusui

hal ini terjadi karena teknik menyusui yang salah, puting terlalu besar atau terlalu kecil
 Bayi yang minum susu formula dengan botol

Angin ikut tertelan karena lubang dot terlalu kecil, sehingga bayi menghisap terlalu kuat dan
angin masuk melalui pinggiran dot

Penatalaksanaan

 Bayi menyusui ASI dengan teknik yang benar (menutupi areola)

 Bayi minum susu formula dengan dot :

o Lubang dot diperiksa (tidak terlalu kecil/besar)

o Jika botol hampir kosong, pantat botol dinaikkan

o Tidak diberi empeng

o Menyendawakan bayi setelah minum

o Minum air hangat

o Beri minyak kayu putih, minyak telon pada daerah perut

3. KONSTIPASI/OBSTIPASI

Konstipasi/sembelit adalah keadaan dimana anak jarang sekali buang air besar dan kalau
buang air besar keras

Obstipasi : obstruksi intestinal (konstipasi yang berat)

Penyebab

Faktor non organik

 Kurang makanan yang tinggi serat

 Kurang cairan

 Obat/zat kimiawi

 Kelainan hormonal/metabolik

 Kelainan psikososial

 Perubahan mikroflora usus

 Perubahan/kurang exercise

Faktor organik
 Kelainan organ (mikrocolon, prolaps rectum, struktur anus, tumor)

 Kelainan otot dasar panggul

 Kelainan persyarafan : M. Hirsprung

 Kelainan dalam rongga panggul

 Obstruksi mekanik : atresia ani, stenosis ani, obstruksi usus

Tanda dan gejala

 Frekuensi BAB kurang dari normal

 Gelisah, cengeng, rewel

 Menyusu/makan/minum kurang

 Fese keras

Pemeriksaan penunjang

 Laboratorium (feses rutin, khusus)

 Radiologi (foto polos, kontras dengan enenma)

 Manometri

 USG

Penatalaksanaan

 Banyak minum

 Makan makanan yang tinggi serat (sayur dan buah)

 Latihan

 Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi

 ASI lebih baik dari susu formula

 Enema perotal/peranal

 Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi

 Perawatan kulit peranal

4. DIARE
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja
menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang
sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)

Penyebab

 Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat
dilahirkan

 Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare,
hygiene dan sanitasi yang buruk

 Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan

 Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)

 Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani

 Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus

 Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)

 Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)

 Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi
antibiotik)

Jenis diare

 Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah,
demam

 Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut,
sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus

 Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare
akut ataupun disentri

Tanda dan gejala

 Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang
sehat diikuti muntah dan diare

 Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi
hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering

 Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia

 Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit
menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
 Pucat anus dan sekitarnya lecet

 Pengeluaran urin berkurang/tidak ada

 Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan
berbau busuk dan terdapat butiran lemak

 Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa

 Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang
berdarah

Komplikasi

 Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan
demam)

 Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian

 Penurunan berat badan dan malnutrisi

 Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)

 Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)

 Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)

 Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan
alkali dalam tubuh)

Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1997)

 Dehidrasi ringan, BB menurun 3-5% dengan volume cairan yang hilang <
50 ml/kgBB

 Dehidrasi sedang, BB menurun 6-9% dengan volume cairan yang hilang
50-90% ml/kgBB

 Dehidrasi berat, BB menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang
hilang ≥100 ml/kgBB

Penatalaksanaan

 Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit

 Terapi rehidrasi

 Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman
penyebabnya
 Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk
mencegah penularan

 Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik

 Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental
feses

5. DERMATITIS ATOPIK (EKSIM SUSU)

Dermatitis atopik adalah penyakit kulit tersering pada bayi dan anak, sering kambuh,
diturunakn dalam keluarga, tidak menular dan merupakan pertanda timbulnya asma.

Penyebab

Belum jelas, sangat kompleks

 “Eksim susu” dulu disangka penyebabnya adalah ASI, hal ini terbukti salah
karena Asi justru mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan
infeksi

 Faktor kulit yang ekring

 Faktor kebersihan diri (personal hygiene) dan kebersihan lingkungan yang
kurang

 Faktor hidup kurang sehat, yaitu istirahat dan asupan nutrisi yang kurang

 Faktor perilaku dan emosi

 Alergi terhadap makanan seperti susu, telur, ikan, kacang, coklat, jeruk
dan lain-lain

Gambaran klinik

 Lokasi pada bayi biasanya di muka terutama kedua pipi. Pada dewasa
ditengkuk, lekukan siku, lutut biasanya lebih kering

 Terasa sangat gatal

 Warna kulit kemerahan, ukuran kecil sebesar koin sampai dengan telapak
tangan, basah atau berdarah. Setelah itu akan mengering dan menjadi
keropeng, kekuningan atau kehitaman, kulit bersisik dan kering

 Mudah terkena infeksi bakteri, virus atau jamur

Penatalaksanaan

Mencegah kekambuhan
 Mencegah makanan penyebab alergi dan memberikan makanan pengganti

 Cegah allergen lingkungan seperti debu rumah, tungau, serbuk-serbuk,
kapuk dan lingkungan yang bersih

 Kebersihan perseorangan yang terjaga (seperti kulit lembab dan bersih)

 Hindari suasana sedih, kesal dan depresi

Pengobatan (kolaborasi)

 Hindari faktor pencetus dan pemeliharaan kulit

 Obat anti gatal

 Kortikosteroid salep (berikan tipis-tipis)

Efek samping kortikosteroid : penipisan kulit, gangguan pertumbuhan tulang, gangguan
siklus hormon

6. DIAPER RASH (RUAM POPOK)

Diaper rash adalah ruam kulit akibat radang pada daerah yang tertutup popok, yaitu pada
alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Berupa bercak-
bercak iritasi kemerahan, kadang menebal dan bernanah.

Iritasi terjadi karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik.
Diaper rash juga merupakan reaksi kulit dengan amonia dari urin kontaminasi bakteri dari
maternal fecal

Penyebab

 Sering terjadi pada usia 9-12 bulan, tidak sering mengganti pampers,
modifikasi diet

 Kebersihan kulit yang tidak terjaga

 Udara atau suhu lingkungan yang teralu panas atau lembab

 Kulit bayi masih peka sehingga mudah iritasi

 Popok yang basah karena urin dan feses yang tidak segera diganti (enzim
protease dan lipase)

 Lebih parah pada bayi yang mengkonsumsi susu formula (pada susu
formula kandungan protein lebih tinggi sehingga kadar amonia/urea lebih
pekat)
 Infeksi jamur Candida albicans dan infeksi bakteri Staphylococcus
menyebabkan perubahan sistem imun

 Popok yang mengiritasi akibat sabun, karet, plastik dan detergen yang
keras

 Diare sehingga menyebabkan iritasi kulit

Tanda dan gejala

 Iritasi pada kulit yang terkena muncuul sebagai erithema

 Erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti pantat, alat kelamin,
perut bawah, paha bagian atas dan lipatan-lipatan kulit

 Erupsi dapat berupa bercak kering, merah dan bersisik

 Keadaan lebih parah terdapat pada papila erythemetosa, vesicula dan
ulcerasi

 Bayi menjadi rewel karena rasa nyeri

Penatalaksanaan

 Menjaga kebersihan dan kelembaban daerah kulit bayi, terutama didaerah
alat kelamin, bokong, lipatan selangkangan

 Daerah yang terkena iritasi tidak boleh dalam keadaan basah (terbuka dan
tetap kering)

 Menjaga kebersihan pakaian danperlengkapan

 Setiap BAB dan BAK bayi segera dibersihkan

 Untuk membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus
yang dioleskan dengan minyak atau sabun mild dan air hangat

 Popok dicuci dengan detergen yang lembut

 Mengangin-anginkan kulit sebelum pampers baru dipasang dan
menggunkan pampers dengan daya serap yang tinggi dan pas
pemakaiannya

 Menggunakan popok yang tidak terlalu ketat (terbuka atau longgar) untuk
memperbaiki sirkulasi udara.

 Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit yang teriritasi

 Pengobatan
o Mengoleskan krim dan lotion yang mengandung zinc pada daerah
yang sedang meradang

o Memberikan salep/krim yang mengandung kortikosteroid 1%

o Salep anti jamur dan bakteri (miconazole, ketokonazole, nystatin)

7. MILIARIASIS/SUDAMINA/LIKEN TROPIKUS/BIANG KERINGAT

Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai dengan
gelembung kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran
kelenjar keringat yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup pakaian (dada, punggung), tempat
yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan juga kepala.

Faktor penyebab

 Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang

 Pakaian yang terlalu ketat, bahan tidak menyerap keringat

 Aktivitas yang berlebihan

 Setelah menderita demam atau panas

 Penyumbatan dapat ditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang
dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan di absorbsi oleh
stratum korneum

Bentuk miliariasis

Miliaria kristalina

 Kelainan kulit berupa gelembung kecil 1-2 mm berisi cairan jernih disertai
kulit kemerahan

 Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian pakaian yang
tertutup pakaian

 Umumnya tidak menimbulkan keluhan dan sembuh dengan sisik halus

 Pada keadaan histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal

 Asuhan : pengobatan tidak diperlukan, menghindari udara panas yang
berlebihan, ventilasi yang baik serta menggunakan pakaian yang
menyerap keringat.

Miliaria rubra

 Sering dialami pada anak yang tidak biasa tinggal didaerah panas
 Kelainan berupa papula/gelembung merah kecil dan dapat menyebar atau
berkelompok dengan rasa sangat gatal dan pedih

 Staphylococcus juga diduga memiliki peranan

 Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum
sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di
epidermis

 Asuhan : gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, menghindari
udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik, dapat diberikan bedak
salicyl 2% dibubuhi menthol 0,25-2%

Miliaria profunda

 Timbul setelah miliaria rubra

 Papula putih, kecil, berukuran 1-3 mm

 Terdapat terutama di badan ataupun ekstremitas

 Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinik lebih banyak
berupa papula daripada vesikel

 Tidak gatal, jarang ada keluhan, tidak ada dasar kemerahan, bentuk ini
jarang ditemui

 Pada keadaan histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah
pada dermis bagian atas atau tanpa infiltrasi sel radang

 Asuhan : hindari panas dan lembab berlebihan, mengusahakan regulasi
suhu yang baik, menggunakan pakaian yang tipis, pemberian losio
calamin dengan atau tanpa menthol 0,25% dapat pula resorshin 3% dalam
alkohol

Penatalaksanaan

 Perawatan kulit yang benar

 Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil atau
bedak kocok setelah mandi

 Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang terbentuk
memperparah sumbatan kelenjar

 Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotik

 Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih, sehingga
tidak menggores kulit saat menggaruk)

8. DERMATITIS SEBOROIK/CRADLE CAP
Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronik yang berhubungan dengan kelenjar
sebaseus. Dermatitis seboroik juga merupakan kerak pada kulit kepala bayi yang disebabkan
oleh vernix kaseosa yang tidak bersih dan dapat terinfeksi staphylococcus.

Penyakit ini biasanya dimulai dari kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan
badan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan
konstitusionil dan sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita
yang mengalami penyakit ini terjadi pada kulit yang berlemak (sebaseus), tetapi bagaimana
hubungan antara kelenjar lemak dengan penyakit ini masih belum jelas. Ada yang
menganggap bahwa kambuhnya penyakit ini akibat makanan yang berlemak, makanan
berkalori tinggi, minuman beralkohol dan gangguan emosi.

Penyebab

 Kurang jelas

 Berkaitan dengan sistem imun dan hygiene yang buruk

 Karena adanya vernix kaseosa/lemak pada kepala bayi yang kemudian
terinfeksi staphylococcus

 Sering terjadi pada penderita HIV-AIDS dan anak-anak

Gejala

 Semacam noda berwarna kuning yang berminyak, bersisik, yang
kemudian mengeras dan akhirnya menjadi semacam kerak. Kerak ini
sering timbul di kulit kepala (cradle cap), kadang di alis/bulu mata dan
telinga.

 Exudat seborrhoic pada kulit kepala (masalah kosmetik)

Diagnosis banding

Atopik dermatitis dengan gejala eritema, edema eksudasi, krusta dan bersisik terutama pada
bayi muda.

Penatalaksanaan

 Oleskan atau basahi kerak dengan baby oil atau vaselin selama 24 jam,
sesudah itu urut pelan-pelan kulit kepala yang berkerak itu dengan
handuk lembut hingga kerak mengelupas

 Mengeluarkan kerak yang tersangkut di rambut dengan hati-hati (dicukur
untuk memudahkan perawatan)

 Dapat juga digunakan sikat rambut yang lembut, sisir yang halus atau
kapas untuk menghindari iritasi pada kulit kepala bayi
 Pada keadaan tertentu dapat diberi kortikosteroid, antifungi dan
antibiotika tropical

 Menjaga kebersihan bayi dengan memandikan dan mencuci rambutnya
dengan shampo khusus untuk bayi atau shampo anti seboroik

9. BERCAK MONGOL

Bercak mongol adalah bercak kebiruan, kehitaman atau kecoklatan yang lebar, difus,
terdapat didaerah bokong atau lumbosakral yang akan menghilang setelah beberapa bulan
atau tahun.

Bercak mongol adalah pigmentasi yang datar dan berwarna gelap didaerah pinggang bawah
dan bokong yang ditemukan pada saat lahir pada beberapa bayi yang akan menghilang secara
perlaan-lahan selama tahun pertama.

Patofisiologi

Bercak mongol rata-rata muncul pada umur kehamilan 38 minggu. Mula-mula terbatas di
fossa koksigea lalu menjalar ke regio lumbosakral. Tempat lain yaitu didaerah orbita : sclera
atau fundus mata dan daerah zigomaticus (nevus ota), daerah deltotrapezeus (nevus ito).

Nevus ota dan nevus ito biasanya menetap, tidak perlu diberikan pengobatan, cukup dengan
tindakan konservatif saja. Namun bila penderita telah dewasa, pengobatan dapat diberikan
dengan alasan estetika. Akhir-akhir ini dianjurkan pengobatan dengan sinar laser.

Penyebab

 Belum jelas

 Timbulnya bercak akibat ditemukannya lesi yang berisi sel melanosit pada
lapisan dalam dermis atau sekitar folikel rambut

Penatalaksanaan

 Bercak mongol biasanya akan menghilang setelah beberapa pekan sampai
1 tahun, sehingga tidak perlu pengobatan dan cukup dilakukan tindakan
konservatif

 Informasikan kepada keluarga untuk mengurangi kekhawatiran/kecemasan

 Pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika

10. HEMANGIOMA (TUMOR JINAK DI KULIT)

 adalah malformasi vascular local yang disebut juga nevi vascular atau
hemangima yang sering ditemukan pada kelopak mata atas neonatus.
 Adalah tumor jinak atau hamartoma/gumpalan yang terjadi akibat
gangguan pada perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan
dapat terjadi disegala organ seperti hati, limfa, otak, tulang dan kulit

 Kelainan yang terjadi pada kulit akibat gangguan pada perkembangan dan
pembentukan pembuluh darah yang terletak di superficial (kutan),
subkutan atau campuran.

Penyebab

 Masih belum jelas

 Timbulnya hemangioma dikarenakan pembuluh darah yang melebar dan
berhubungan dengan proliferasi endotel

Jenis hemangioma

 Hemangioma kapiler

Terdiri dari pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel. Bila
menghilang terjadi gangguan fibrotik

Terdiri atas :

 Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus)

 Granuloma piogenik

 Cherry spot (ruby-spot), angioma senilis

 Hemangioma kavernosa

Berasal dari lapisan dermis bagian bawah, disertai rongga-rongga besar yang tidak teratur dan
berisi darah

Terdiri atas :

 Hemangioma kavernosum (hemangioma matang)

 Hemangioma keratotik

 Hemangioma vaskular

 Telangiektasis

o Nevus flameus

o Angiokeratoma

o Spider angioma
Tipe hemangioma kutan pada kelopak mata neonatus

 Hemangioma telangietaksis dasar tipis (flat telang relatic hemangiomas)

 Hemangioma yang menonjol berupa kapiler, kaverna atau campuran
(hemangioma besar : proptosis sampai dengan trelihat dibawah
konjungtiva tarsal)

Gejala klinis

Hemangioma kapiler

 Strawberry hemangioma (hemangioma simpleks)

Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari sesudah lahir. Tampak
sebagai bercak merah yang semakin lama semakin besar. Warnanya menjadi merah menyala,
tegang dan berbentuk lobular, berbatas tegas, tegang dan keras pada perabaan. Ukuran dan
dalamnya sangat bervariasi, ada yang superfisial berwarna merah terang dan ada yang
subkutan berwarna kebiruan. Involusi kurang tegang dan lebih mendatar.

 Granuloma piogenik

Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi bukan oleh
karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi biasanya soliter,
dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh
yang sering mengalami trauma. Mula-mula berbentuk papul sritematosa dengan pembesaran
yang cepat. Beberapa lesi dapat mencapai pembesaran 1 cm dan dapat bertangkai. Lesi
mudah berdarah.

Hemangioma kavernosum

Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eriternatosa atau nodus yang berwarna
merah sampai ungu. Bila ditekan mengempis dan akan cepat menggembung lagi apabila
lepas. Lesi terdiri atas elemen vaskular yang matang. Bentuk kavernosum jarang mengadakan
involusi spontan.

Hemangioma campuran

Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis kavernosum. Gambaran klinisnya
juga terjadi atas gambaran kedua jenis tersebut. Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas
inferior, biasanya unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir atau masa anak-anak. Lesi berupa
tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang kemudian pada perkembangannya dapat
gambaran keratotik dan verukosa.

Diagnosis
Secara klinis diagnosis hemangioma tidak sukar, terutama pada lesi yang khas. Gambaran
klinis umum ialah adanya bercak merah yang timbul sejak lahir atau beberapa saat setelah
lahir. Pertumbuhannya relatif cepat dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, warnanya
merah terang bila jenis strawberry atau biru bila jenis kavernosa. Bil besar maksimum sudah
tercapai, biasanya pada umur 9-12 bulan, warnanya menjadi merah gelap.

Diagnosis banding

Diagnosis banding ialah terhadap tumor kulit lainnya, yaitu limfangioma, higroma, lipoma,
dan neurofibroma.

Penatalaksanaan

 Umumnya hemangioma akan menghilang dengan sendirinya

 Tetapi bila terdapat prognosis yang berat lakukan rujukan dan kolaborasi
dengan tenaga medis dan berikan prednison 2-3 mg/kgBB/hari selama 10-
14 hari, jika hemangioma menipis/menghilang dosis diturunkan secara
bertahap

11. FURUNKEL ATAU BISUL

Furunkel adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh staphylococcus profunda yang berbentuk
nodul-nodul lemak eritematosa dan letaknya didalam, biasanya daerah muka, pantat, leher,
ketiak dan lain-lain.

Nodul ini mengandung cairan yang dalam waktu beberapa hari akan mengeluarkan bahan
nekrotik bernanah.

Berbentuk

 Furunkel (boil)

 Karbunkel (furunkel multipel)

Furunkel dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan terletak didaerah nasal, aksila dan
telinga

Penatalaksanaan

 Furunkel diobati dengan drainase pembedahan, dengan kompres basah

 Pemberian antibiotika sistemik

12. KANDISOSIS/MONILIASIS/ORAL TRUSH
Oral trush adalah infeksi Candida yang didapat bayi melalui jalan lahir atau
perkontinuitatum. Biasanya infeksi terjadi didaerah mukokutan, mulut dan bibir. Lesi berupa
bercak putih yang lekat pada lidah, bibir dan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan
sisa susu. Infeksi ini dapat meluas ke saluran terutama di lipatan kulit, bahkan ke berbagai
alat dalam.

Kandidosis oral

Infeksi candida pada daerah mulut, sering terjadi pada bayi normal dan makin jarang sejalan
dengan pertambahan usia.

Penyebab

 Infeksi melalui jalan lahir pada ibu yang menderita kandidosis vagina
(Candida albicans)

 Infeksi silang dari penderita kandidiasis lain

 Candida albicans dapat menyebabkan infeksi apabila ada faktor
predisposisi

 Peralatan minum terutama yang menggunakan PASI

 Bayi yang mendapatkan terapi antibiotika atau immunosupresi

Faktor predisposisi

 Faktor endogen : perubahan fisiologik, umur, imunologik

 Faktor eksogen : iklim, kebersihan, kontak dengan penderita

Gejala

 Terdapat bercak putih pada lidah, bibirdan mukosa mulut yang dapat
dibedakan dengan sisa susu

 Jika sisa susu mudah diangkat, namun jika moniliasis sulit diangkat dan
jika dilepaskan dari dasarnya akan menyebabkan basah, merah dan
berdarah

 Diagnosa dapat diketahui dengan sediaan hapusan yang berwarna biru
metilen dan tampak miselium dan spora yang khas

Pencegahan

 Menghindari/menghilangkan faktor predisposisi

 Setiap bayi selesai minum susu berikan 1-2 sendok teh air matang untuk
membilas sisa susu dalam mulut bayi
 Pemeliharaan kebersihan mulut dan perawatan payudara

Komplikasi

 Kesukaran minum dapat mengakibatkan kekurangan makanan

 Diare bila tidak diobati dapat menjadi penyebab dehidrasi

Penatalaksanaan

 Membersihkan mulut dan lidah yang dibasahi air matang hangat

 Kandidiasis pada bayi sehat biasanya sembuh sendiri, tapi lebih baik
diobati

 Beri gentian violet 0,5% dioleskan pada luka didalam mulut /bibir

 Nistatin 100.000 U dioleskan 3x sehari atau dalam bentuk tetes kedalam
mulut bayi, pemberian nistatin tidak boleh lebih dari 7 hari.

 Mengolesi puting susu dengan cream nistatin/gentian violet setiap selesai
menyusui selama bayi diobati

13. IKTERUS FISIOLOGIS

Ikterus fisiologis adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dalam satu minggu
pertama kehidupannya. Pada hari ke 2-3 dan puncaknya di hari ke 5-7, kemudian akan
menurun pada hari ke 10-14, peningkatannya tidak melebihi 10 mg/ddl pada bayi atterm dan
< 12 mg/dl pada bayi permatur. Keadaan ini masih dalam batas normal.

Manifestasi klinis

Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dengan cahaya sinar matahari. Salah satu cara
pemeriksaan derajat kuning pada BBL secara klinis, sederhana dan mudah adalah dengan
penilaian menurut Kramer (1969). Caranya dengan jari telunjuk ditekankan kepada tempat-
tempat yang tulangnya menonjol seperti hidung, dada, lutut dan lain-lain. Tempat yang
ditekan akan tampak pucat atau kuning. Penilaian bilirubin pada masing-masing tempat
tersebut disesuaikan dengan tabel derajat ikterus menurut kramer (1969).

Zona Bagian tubuh yang Rata2 serum bilirubin indirek
kuning (umol/l)

1 Kepala dan leher 100

2 Pusat-leher 150

3 Pusat-paha 200
4 Lengan+tungkai 250

5 Tangan+kaki >250

Tanda dan gejala

Warna ikterus (kuning) pada kulit, konjungtiva dan mukosa

Pencegahan

 Pengawasan ANC yang baik

 Menghindari pemberian obat-obatan pada masa kehamilan seperti
sulfanamida dan lain-lain

 Pemberian ASI sedini mungkin (early feeding)

o Mempercepat metabolisme bilirubin, yaitu dengan menambahkan
glukosa yang terdapat dalam ASI

o Pengeluaran bilirubin

Protein albumin dalam ASI merupakan transportasi bilirubin, albumin mengikat bilirubin
agar mempermudah proses ekstraksi bilirubin jaringan kedalam plasma. Hal ini
mengakibatkan bilirubin plasma meningkat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin ada
dalam ikatan albumin.

Penatalaksanaan

 Pemberian ASI yang adekuat

Anjurkan ibu menyusui sesuai dengan keinginan bayinya, paling tidak setiap 2-3 jam

 Jemur bayi dalam keadaan telanjang dengan sinar matahari pukul 7-9 pagi

Pemberian terapi sinar matahari sehingga bilirubin diubah menajdi isomer foto yang tidak
toksik dan mudah dikeluarkan tubuh karena mudah larut dalam air

Tujuan utama penatalaksaan ikterus fisiologis adalah mengendalikan agar kadar bilirubin
tidak meningkat 4-5 mg/dl dalam 24 jam, karen adapat menyebabkan ensefalopati bilirubin
yaitu bilirubin indirek (tak terkonjugasi) akan direabsorpsi kembali melalui sirkulasi
enterohepatik ke aliran darah dan menembus sawar otak yang akan menimbulkan bayi
lethargi, kejang, bayi malas menghisap dan malas minum.

11 Comments

Posted in MTBS
Posted by: lenteraimpian | March 5, 2010

TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK KEBIDANAN
1. TEORI REVA RUBIN

Penekanan rubin dalam teorinya adalah pencapaian peran ibu. Untuk mencapai peran tersebut
seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaian aktivitas berupa latihan-
latihan dan adalam peran ini diharapkan seorang wnaita mampu mengidentifikasi peran
sebagai seorang ibu.

Perubahan yang umum terjadi pada waktu hamil

 Cenderung tergantung dan membutuhkan peran lebih untuk berperan
sebagai calon ibu

 Mempu memperhatikan perkembangan janinnya

 Membutuhkan sosialisasi

Reaksi yang umum pada kehamilan

 Trimester 1 : ambivalent, takut, fantasi, khawatir

 Trimester 2 : perasaan lebih nyaman, kebutuhan mempelajari tumbuh
kembang janin, pasif, introvert, egosentris, self centered

 Trimester 3 : perasaan aneh, merasa jelek, sembrono, lebih introvert,
merefleksikan terhadap pengalaman waktu kecil.

3 aspek yang diidentifikasi dalam peran ibu

 Ideal image : gambaran tentang idaman diri

 Self image : gambaran tentang diri

 Body image : gambaran tentang perubahan tubuh

4 tahapan psikososial

 Anticipatori stage : ibu melakukan latihan peran, dan memerlukan
interaksi dengan anak yang lain

 Honeymoon stage : ibu mulai memahami peran dasarnya, dan
memerlukan bantuan anggota keluarga lain

 Plateu stage : ibu mencoba peran sepenuhnya, membutuhkan waktu

 Disengagement : tahap penyelesaian dimana latihan peran dihentikan
Adaptasi psikososial postpartum

Konsep dasar

 Peride post partum menyebabkan stress emosional terhadap ibu baru,
bahkan lebih menyulitkan bila terjadi perubahan fisik yang hebat saat
melahirkan

 Faktor yang mempengaruhi :

o Respon dan dukungan dari keluarga dan teman

o Hubungan pengalaman saat melahirkan terhadap harapan

o Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu

o Pengaruh budaya

o Periode diuraikan rubin dalam 3 fase, taking in, taking hold dan
letting go

Periode taking-in

 Terjadi pada 1-2 hari post partum, umumnya ibu pasif dan
ketergantungan, perhatiannya tertuju pada diri sendiri

 Ia mungkin akan mengulang-ulang pengalamannya waktu melahirkan

 Kebutuhan akan istirahat sangat penting, pusing, iritabel

 Peningkatan kebutuhan nutrisi

Periode taking-hold

 Berlangsung 2-4 hari post partum, ibu menjadi lebih perhatian pada
kemampuannya menjadi orang tua

 Berkonsenterasi terhadap pengontrolan fungsi tubuhnya, seperti BAK,
BAB, kekuatan dan ketahanan fisiknya

 Ibu berusaha keras untuk merawat bayinya sendiri, agak sensitif,
cenderung menerima nasihat bidan karena terbuka untuk menerima
pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi

Periode letting go

 Biasanay terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan sangat berpengaruh
terhadap waktu dan perhatian yang diberikan keluarga

 Beradaptasi dengan kebutuhan bayinya, menyebabkan berkurangnya hak
ibu dan kebebasan hubungan sosial
 Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini

Depresi post partum

 Banyak ibu mengalami perasaan “let-down” setelah melahirkan,
sehubungan dengan seriusnya pengalaman melahirkan dan keraguan
akan kemampuan untuk mengatasi masalah secara efektif dalam
membesarkan anak

 Umumnya depresi sedang dan dapat diatasi 2 pekan kemudian

 Jarang menjadi patologis sampai psikosis post partum

2. TEORI RAMONA MERCER

 Fokus teorinya lebih menekankan pada stress antepartum dalam
pencapaian peran ib

 Memperhatikan wanita pada wkatu persalinan

 Mengidentifikasi pada hari awal post partum

 Menunjukan bahwa wanita lebih mendekatkan diri pada bayi daripada
melakukan tugasnya sebagai seorang ibu

Pokok pembahasan dalam teori Ramona Mercer

a. Efek stress antepartum

Antepartum stress adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negatif dalam
kehidupan. Tujuannya memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi lemahnya
lingkungan serta dukungan sosial dan kurangnya percaya diri.

Faktor yang mempunyai hubungan dengan status kesehatan

 Hubungan interpersonal

 Peran keluarga

 Stress antepartum

 Dukungan sosial

 Rasa percaya diri

 Penguasaan rasa takut, keraguan dan depresi

Maternal role (peran ibu)
 Menjadi seorang ibu berarti memperoleh identitas baru yang
membutuhkan pemikiran dan penguraian yang lengkap tentang diri
sendiri (Mercer, 1986)

 1-2 juta ibu di Amerika yang gagal memerankan peran ini, terbukti dengan
tingginya jumlah anak yang mendapat perlakuan yang kejam

b. Pencapaian peran ibu

 Peran ibu dicapai dalam kurun wkatu tertentu dimana ibu menajdi dekat
dengan bayinya, yang membutuhkan pendekatan yang kompeten
termasuk peran dalam mengekspresikan kepuasan dan penghargaan
peran

 Peran aktif wanita sebagai ibu dan pasangannya berinteraksi satu dengan
yang lain

4 langkah dalam pelaksanaan peran ibu

 Anticipatory

Suatu masa sebelum wanita menjadi ibu, dimana wanita memulai penyesuaian sosial dan
psikologis terhadap peran barunya nanti dengan mempelajari apa saja yang dibutuhkan untuk
menjadi seorang ibu

 Formal

Tahap ini dimulai dengan peran ibu sesungguhnya, bimbingan peran secara formal dan sesuai
dengan apa yang diharapkan sistem sosial

 Informal

Tahap ini dimulai saat wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan
peran ibu yang tidak disampaikan oleh sosial sistem

 Personal

Merupakan tahap akhir pencapaian peran, dimana wanita telah mahir melaksanakan perannya
sebagai seorang ibu. Ia telah mampu menentukan caranya sendiri dalam melaksanakan peran
barunya

Faktor yang mempengaruhi wanita dalam pencapaian peran

Faktor ibu

 Usia ibu saat bersalin

 Persepsi ibu pada waktu persalinan pertama kali
 Memisahkan ibu dan anak secepatnya

 Stress sosial

Faktor bayi

 Temperamen

 Kesehatan bayi

Faktor lain

 Latar belakang etnik

 Status perkawinan

 Status ekonomi

Pengaruh bayi (infant’s personality) pada waktu ibu melaksanakan peran sebagai ibu

 Emotional support

Perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti

 Informational support

Membantu individu untuk menolong dirinya sendiri dengan memberikan informasi yang
berguna dan berhubungan dengan masalah atau situasi

 Physical support

Pertolongan yang langsung, seperti membantu merawat bayi, memberikan dukungan dana

 Appraisal support

Informasi yang menjelaskan tentang peran pelaksanaan, bagaimana ia menampilkannya
dalam peran, hal ini memungkinkan individu mampu mengevalusi dirinya sendiri yang
berhubungan dengan penampilan peran orang lain.

4 faktor dalam masa adaptasi

 Physical recovery phase (mulai lahir sampai 1 bulan)

 Achievement phase (2-4/5 bulan)

 Disruption phase (6-8 bulan)

 Reorganisation phase (8-12 bulan)
Peran bidan yang diharapkan Mercer dalam teorinya

 Adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugasnya dalam adaptasi
peran fungsi ibu

 Mengidentifikasi faktor apa yang mempengaruhi peran ibu dalam
pencapaian peran fungsi ini dan kontribusi dari stress antepartum

3. TEORI ERNESTINE WIEDENBACH

Wiedenbach mengemukakan teorinya secara induktif berdasarkan pengalaman dan
observasinya dalam praktek.

Konsep asuhan, terdiri dari :

 The agent (midwife/bidan)

Untuk memenuhi kebutuhan ibu dan ayah dalam persiapan menjadi orang tua

 The recipient (wanita, keluarga, masyarakat)

Wanita/masyarakat yang oleh sebab tertentu tidak mampu memenuhi kebutuhannya.
Wiedenbach sendiri berpandangan bahwa recipient adalah individu yang berkompeten dan
mampu menentukan kebutuhannya sendiri

 The goal (purpose/tujuan dari intervensi)

Disadari bahwa kebutuhan masing-masing individu perlu diketahui sebelum menentukan
goal. Bila sudah diketahui kebutuhan ini, maka dapat diperkirakan goal yang akan dicapai
dengan mempertimbangkan tingkah laku fisik, emosional atau fisiological yang berbeda dari
kebutuhan normal.

 The means (metode untuk mencapai tujuan)

Untuk mencapai tujuan dari asuhan kebidanan ada beberapa tahap, yaitu :

 Identifikasi kebutuhan klien

 Memberikan dukungan dalam pelayanan yang dibutuhkan

 Validation/bantuan yang diberikan

 Koordinasi dengan tenaga yang direncanakan untuk memberikan bantuan

 The framework (organisasi sosial, lingkungan profesional)

Untuk mengidentifikasi kebutuhan diperlukan pengetahuan, judgement/pengambilan
keputusan, dan keterampilan.
4. TEORI ELA JOY LEHRMAN

Teori ini menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek praktek kebidanan dalam
memberikan asuhan pada wanita hamil dan memberikan pertolongan pada persalinan, teori
ini juga menjelaskan perbedaan antara pengalaman seorang wanita dengan kemampuan bidan
untuk mengaplikasikan konsep kebidanan dalam praktek

8 konsep penting dalam pelayanan kebidanan

 Asuhan yang berkesinambungan

 Keluarga sebagai pusat asuhan

 Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan

 Tidak ada intervensi dalam asuhan

 Keterlibatan dalam asuhan

 Advokasi dari klien

 Waktu

 Asuhan partisipatif

Asuhan partisipatif

 Bidan dapat melibatkan klien dalam pengkajian, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.

 Pasien/klien ikut bertanggung jawab atau ambil bagian dalam pelayanan
antenatal

 Dalam pemeriksaan fisik, misalnya klien ikut melakukan palpasi pada
tempat tertentu atau ikut mendengarkan detak jantung.

Kedelapan komponen yang dibuat oleh Lehrman ini, kemudian diujicobakan oleh Morten
(1991) pada klien post partum. Selanjutnya Morten menambahkan 3 komponen

Konsep Morten

Teknik komunikasi terapeutik

Proses komunikasi sangat penting dalam perkembangan dan penyembuhan. Misalnya,
mendengarkan aktif, mengkaji, klarifikasi, humor, sikap yang tidak menuduh, pengakuan,
fasilitasi, pemberian izin.

Pemberdayaan (empowerment)
Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan. Bidan dalam penampilan dan pendekatannya
akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengoreksi, memvalidasi, menilai dan
memberi dukungan.

Hubungan sesama (lateral relationship)

Menjalin hubungan yang baik terhadap klien, bersikap terbuka, sejalan dengan klien,
sehingga antara bidan dan kliennya tampak akrab. Misalnya : sikap empati atau berbagi
pengalaman.

5. TEORI JEAN BALL

Teori kursi goyang

 Keseimbangan emosional ibu, baik fisik maupun psikologis

 Psikologis dalam hal ini agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan menjadi
orang tua terpenuhi

 Kehamilan, persalinan dan masa post partum adalah masa untuk
mengadopsi yang baru

Dalam teori kursi goyang, kursi dibentuk dalam 3 elemen

 Pelayanan kebidanan

 Pandangan masyarakat terhadap keluarga

 Support terhadap kepribadian wanita

Teori Ball yaitu

 Teori perubahan,

 Teori stress, coping, dan support

 Teori dasar

Hipotesa Ball

 Respon emosional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan
dengan kelahiran anak, dipengaruhi oleh personality/kepribadian

 Persiapan yang harus diantisipasi oleh bidan dalam masa post natal akan
dipengaruhi oleh respon emosional wanita dalam perubahan yang
dialaminya pada proses kelahiran anak

Kesimpulan hipotesa Ball
Wanita yang boleh dikatakan sejahtera setelah melahirkan sangat bergantung kepada
kepribadiannya, sistem dukungan pribadi, dan dukungan yang dipersiapkan pelayanan
kebidanan.

Abortus
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum kehamilan
tersebut berusia 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram atau buah kehamilan belum
mampu untuk hidup diluar kandungan.

Etiologi Abortus

Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudigah. Sebaliknya
pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Hal-hal
yang dapat menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut.

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi

Kelainan hasil konsepsi yang berat dapat menyebabkan kematian mudigah pada kehamilan
muda. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai
berikut.

1. Kelainan kromosom.

Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi,poliploidi dan
kemungkinan pula kelainan kromosom seks.

1. Lingkungan kurang sempurna.

Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehinggga
pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.

1. Pengaruh dari luar.

Radiasi, virus, obat-obatan, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun
lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen.
Zat teratogen yang lain misalnya tembakau, alkohol, kafein, dan lainnya.

1. Kelainan pada plasenta

Endarteritis dapat terjadi dalam vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta
terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini
biasa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.

1. Penyakit ibu.
a) penyakit infeksi dapat menyebabkan abortus yaitu pneumonia, tifus abdominalis,
pielonefritis, malaria, dan lainnya. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui
plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadi abortus.

b) Kelainan endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat kontrol
metabolik pada trimester pertama.selain itu juga hipotiroidism dapat meningkatkan resiko
terjadinya abortus, dimana autoantibodi tiroid menyebabkan peningkatan insidensi abortus
walaupun tidak terjadi hipotiroidism yang nyata.

1. kelainan traktus genitalia

retroversion uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus.
Tetapi, harus diingat bahwa hanya retroversion uteri gravid inkarserata atau mioma
submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam trimester ke 2 ialah
serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada seviks, dilatasi
serviks berlebihan,konisasi, amputasi, atau robekan serviks luas yang tidak dijahit.

Patologi Abortus

Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis
jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau
seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil
konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua
lebih dalam, sehingga hasil konsepsi mudah dilepaskan. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu
villi koriales menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan
sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas
umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin disusul dengan plasenta.
Pedarahan jumlahnya tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap.

Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Adakalanya kantong
amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum)
atau janin telah mati dalam waktu yang lama (missed abortion).

Apabil mudigah yang mati tidak dikeluarkan secepatnya, maka akan menjadi mola karneosa.
Mola karneosa merupakan suatu ovum yang dikelilingi oleh kapsul bekuan darah. Kapsul
memiliki ketebalan bervariasi, dengan villi koriales yang telah berdegenerasi tersebar
diantaranya. Rongga kecil didalam yang terisi cairan tampak menggepeng dan terdistorsi
akibat dinding bekuan darah lama yang tebal. Bentuk lainnya adalah mola tuberosa, dalam
hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.

Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi.
Mumifikasi merupakan proses pengeringan janin karena cairan amnion berkurang akibat
diserap, kemudian janin menjadi gepeng (fetus kompresus). Dalam tingkat lebih lanjut janin
dapat menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus).
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak cepat dikeluarkan adalah terjadinya maserasi.
Tulang-tulang tengkorak kolaps dan abdomen kembung oleh cairan yang mengandung darah.
Kulit melunak dan terkelupas in utero atau dengan sentuhan ringan. Organ-organ dalam
mengalami degenerasi dan nekrosis.

Klasifikasi Abortus

Berdasarkan jenis tindakan, abortus dibedakan menjadi 2 golongan yaitu:

1) abortus spontan

abortus yang berlangsung tanpa tindakan. Kata lain yang luas digunakan adalah keguguran
(miscarriage).

2) abortus provokatus

abortus provokatus adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat suatu tindakan.
Abortus provokatus dibagi menjadi 2 yaitu :

a) Abortus provokatus terapeutik / artificialis

Merupakan terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum janin mampu hidup
(viabel). Beberapa indikasi untuk abortus terapeutik diantaranya adalah penyakit jantung
persisten dengan riwayat dekompensasi kordis dan penyakit vaskuler hipertensi tahap lanjut.
Yang lain adalah karsinoma serviks invasif. American College Obstetricians and
Gynecologists (1987) menetapkan petunjuk untuk abortus terapeutik :

 Apabila berlanjutnya kehamilan dapat mengancam nyawa ibu atau
mengganggu kesehatan secara serius. Dalam menentukan apakah
memang terdapat resiko kesehatan perlu dipertimbangkan faktor
lingkungan pasien.

 Apabila kehamilan terjadi akibat perkosaan atau incest. Dalam hal ini pada
evaluasi wanita yang bersangkutan perluditerapkan kriteria medis yang
sama.

 Apabila berlanjutnya kehamilan kemungkinan besar menyebabkan
lahirnya bayi dengan retardasi mental atau deformitas fisik yang berat.

b) Abortus provokatus kriminalis

Abortus provokatus kriminalis adalah interupsi kehamilan sebelum janin mampu hidup atas
permintaan wanita yang bersangkutan, tetapi bukan karena alasan penyakit janin atau
gangguan kesehatan ibu. Sebagian besar abortus yang dilakukan saat ini termasuk dalam
katagori ini.

Secara klinik abortus dapat diklasifikasikan menjadi :
1) Abortus imminens

Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa dilatasi serviks.
Pada kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.

2) Abortus insipiens

Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan adanya dilatasi serviks uterus yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus. Kondisi ini menunjukan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut
menjadi abortus inkomplit atau komplit.

3) Abortus inkomplit

Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.

4) Abortus komplit

Abortus komplit adalah pengeluaran seluruh hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20
minggu.

5) Abortus tertunda (missed abortion)

Abortus tertunda adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin yang mati
tersebut tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak
diketahui, tetapi diduga adanya pengaruh hormone progesteron. Pemakaian hormon
progesteron pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion.

6) Abortus habitualis

Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut.
Etiologi abortus habitualis pada dasarnya sama dengan penyebab abortus spontan. Selain itu
telah ditemukan sebab imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen lymphocyte
trophoblast cross reactive (TLX). Pasien dengan reaksi lemah atau tidak ada akan mengalami
abortus.

7) Abortus infeksiosa, abortus septik

Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia, sedangkan abortus
septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam
peredaran darah atau peritoneum.

8) Abortus servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri
eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis, dan
serviks uteri menjadi besar dengan dinding yang menipis.

Diagnosis Abortus

Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang
perdarahan pervaginam setelah mengalami terlambat haid. Kecurigaan tersebut diperkuat
dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes
kehamilan secara biologis (Galli Mainini) atau imunologik (Pregnosticon, Gravindex).

Sebagai kemungkinan diagnosis yang lain harus dipikirkan kehamilan ektopik terganggu,
mola hidatidosa, atau kehamilan dengan kelainan pada serviks.

Kehamilan ektopik terganggu dengan hematokel retrouterina kadang sulit dibedakan dengan
abortus dimana uterus posisi retroversi. Pada keduanya ditemukan amenorea disertai
perdarahan pervaginam, rasa nyeri di perut bagian bawah, dan tumor dibelakang uterus.
Tetapi keluhan nyeri biasanya lebih hebat pada kehamilan ektopik. Apabila gejala-gejala
menunjukan kehamilan ektopik terganggu, dapat dilakukan kuldosintesis untuk memastikan
diagnosanya. Pada molahidatidosa uterus biasanya lebih besar daripada lamanya amenorea
dan muntah lebih sering. Apabila ada kecurigaan terhadap molahidatidosa, perlu dilakukan
pemeriksaan ultrasonografi.

Karsinoma serviks uteri, polypus serviks dan sebagainya dapat menyertai kehamilan.
Perdarahan dari kelainan ini dapat menyerupai abortus. Pemeriksaan dengan spekulum,
pemeriksaan sitologik dan biopsi dapat menentukan diagnosis dengan pasti.

Abortus imminens

Diagnosis abortus imminens ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri
eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sebesar tuanya
kehamilan , serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif. Pada beberapa wanita hamil
dapat timbul perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya datang jika tidak terjadi
pembuahan. Hal ini disebabkan oleh penembusan villi koriales kedalam desidua, pada saat
implantasi ovum. Perdarahan implantasi biasanya sedikit, darah berwarna merah, dan cepat
berhenti, serta tidak disertai rasa mulas.

Pemeriksaan penunjang yang dapat menegakan diagnosis abortus imminens salah satuya
adalah dengan pemeriksaan USG. Pada USG dapat ditemukan buah kehamilan masih utuh.
Diagnosis meragukan jika kantong kehamilan masih utuh, tetapi pulsasi jantung janin belum
jelas.

Abortus insipiens
Diagnosis abortus insipiens ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri
eksternum, disertai mules atau adanya kontraksi uterus. Pada pemeriksaan dalam,ostium
terbuka, buah kehamilan masih didalam uterus, serta ketuban masih utuh dan dapat menonjol.

Pada kehamilan lebih dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak dan bahaya perforasi
pada kerokan akan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian
infus oksitosin.

Abortus inkomplit

Diagnosis abortus inkomplit ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri
eksternum, disertai mules atau adanya kontraksi uterus. Apabila perdarahan banyak dapat
menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi
dikeluarkan. Pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba
dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksterum.

Abortus inkomplit sering berhubungan dengan aborsi yang tidak aman, oleh karena itu
periksa tanda-tanda komplikasi yang mungkin terjadi akibat abortus provokatus seperti
perforasi, dan tanda-tanda infeksi atau sepsis.

Abortus komplit

Pada abortus komplit ditemukan adanya perdarahan yang sedikit, ostium uteri telah menutup,
dan uterus telah mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa
dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.

Abortus tertunda (missed abortion)

Dahulu diagnosis biasanya tidak dapat ditentukan dalam satu kali pemeriksaan, melainkan
memerlukan waktu pengamatan untuk menilai tanda-tanda tidak tumbuhnya atau bahkan
mengecilnya uterus yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan.
Gejala subyektif kehamilan menghilang, mammae agak mengendor lagi, uterus tidak
membesar lagi bahkan mengecil, tes kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin
menghilang. Dengan ultrasonografi (USG) dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati
dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion
kadang-kadang disertai gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga
pemerikaan kearah ini perlu dilakukan.

Abortus habitualis

Diagnosis abortus habitualis tidak sukar ditentukan dengan anamnesis. Khususnya diagnosis
abortus habitualis karena inkompetensia menunjukan gambaran klinik yang khas yaitu dalam
kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mulas, ketuban menonjol
dan pada suatu saat pecah. Kemudian timbul mulas yang selanjutnya diikuti dengan
melakukan pemeriksaan vaginal tiap minggu. Penderita sering mengeluh bahwa ia telah
mengeluarkan banyak lender dari vagina. Diluar kehamilan penentuan serviks inkompeten
dilakukan dengan histerosalfingografi yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm.

Abortus infeksiosa, abortus septik

Diagnosis abortus infeksiosa ditentukan dengan adanya abortus yang disertai dengan gejala
dan tanda infeksi alat genitalia, seperti panas, takikardi, perdarahan pervaginam yang berbau,
uterus yang membesar, lembek serta nyeri tekan, dan adanya leukositosis.

Apabila terdapat sepsis, penderita tampak sakit berat, kadang-kadang menggigil. Demam
tinggi, dan tekanan darah menurun. Untuk mengetahui kuman penyebab perlu dilakukan
pembiakan darah dan getah pada serviks uteri.

Abortus servikalis

Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium uteri
eksternum yang tidak membuka, sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis, dan
serviks uteri menjadi besar dengan dinding yang menipis. Pada pemeriksaan ditemukan
serviks membesar dan diatas ostium uteri eksternum teraba jaringan.

Penanganan Abortus

Penilaian awal

Untuk penanganan yang memadai, segera lakukan penilaian dari :

 Keadaan umum pasien

 Tanda-tanda syok seperti pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan
sistolik < 90 mmHg, nadi > 112 x/menit

 Bila syok disertai dengan massa lunak di adneksa, nyeri perut bawah,
adanya cairan bebas dalam cavum pelvis, pikirkan kemungkinan
kehamilan ektopik yang terganggu.

 Tanda-tanda infeksi atau sepsis seperti demam tinggi, sekret berbau
pervaginam, nyeri perut bawah, dinding perut tegang, nyeri goyang
portio, dehidrasi, gelisah atau pingsan.

 Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat ditatalaksana pada
fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk (setelah dilakukan stabilisasi)

Penanganan spesifik

1. Abortus imminens

 Tidak diperlukan pengobatan medik yang khusus atau tirah baring total
 Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau
melakukan hubungan seksual.

 Bila perdarahan :

- Berhenti: lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan
lagi.

- Terus berlangsung: nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG). Lakukan konfirmasi
kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).

- Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui
gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologis.

1. Abortus insipiens

 Lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi. Bila usia gestasi ≤ 16 minggu,
evakuasi dilakukan dengan peralatan aspirasi vakum manual (AVM)
setelah bagian-bagian janin dikeluarkan. Bila usia gestasi ≥ 16 minggu,
evakuasi dilakukan dengan prosedur dilatasi dan kuretase (D&K)

 Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilaksanakan atau usia gestasi
lebih besar dari 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan :

- Infuse oksitosin 20 unit dalam 500ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat
dinaikan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi uterus hingga terjadi
pengeluaran hasil konsepsi.

- Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian.

- Misoprostol 400mg per oral dan apabila masih diperlukan, dapat diulangi dengan dosis
yang sama setelah 4 jam dari dosis awal.

 Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat dikeluarkan dengan
AVM atau D&K (hati-hati resiko perforasi)

1. Abortus inkomplit

 Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap
komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi atau sepsis).

 Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai dengan
perdarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau
cunam ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan :

- Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg per oral
- Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K
(pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian
janin).

 Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotik profilaksis (ampisilin 500
mg oral atau doksisiklin 100 mg)

 Bila terjadi infeksi, beri ampisilin 1 gr dan metronidazol 500 mg setiap 8
jam.

 Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera
lakukan evakuasi dengan AVM.

 Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferosus 600 mg perhari selama
2 minggu (anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat).

Pada beberapa kasus, abortus inkomplit erat kaitannya dengan abortus tidak aman, oleh sebab
itu perhatikan hal-hal berikut:

 Pastikan tidak ada komplikasi berat seperti sepsis, perforasi uterus, atau
cidera intra abdomen (mual/muntah, nyeri punggung, demam, perut
kembung, nyeri perut bawah, dinding perut tegang, nyeri ulang lepas).

 Bersihkan ramuan tradisional, jamu, bahan kaustik, kayu, atau benda-
benda lainnya dari region genitalia.

 Berikan boster tetanus toksoid 0,5 ml bila tampak luka kotor pada dinding
vagina atau kanalis servikalis dan pasien pernah diimunisasi.

 Bila riwayat pemberian imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus
(ATS) 1500 unit IM diikuti dengan pemberian tetanus toksoid 0,5 ml
setelah 4 minggu.

 Konseling untuk kontrasepsi pascakeguguran dan pemantauan lanjut.

1. Abortus komplit

 Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet ergometrin 3×1 tablet/hari
untuk 3 hari.

 Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas ferosus
600 mg/hari selama 2 minggu disertai dengan anjuran mengkonsumsi
makanan bergizi. Untuk anemia berat berikan transfuse darah.

 Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberi antibiotika,
atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberi antibiotik profilaksis.

1. Abortus infeksiosa

 Kasus ini beresiko tinggi untuk terjadi sepsis, apabila fasilitas kesehatan
setempat tidak mempunyai fasilitas yang memadai, rujuk pasien ke RS
 Sebelum merujuk pasien lakukan restorasi cairan yang hilang dengan NS
atau RL melalui infuse dan berikan antibiotika(misalnya ampisilin 1 gr dan
metronidazol 500 mg).

 Jika ada riwayat abortus tidak aman, beri ATS dan TT.

 Pada fasilitas kesehatan yang lengkap, dengan perlindungan antibiotik
berspektrum luas dan upaya sbilisasi hingga kondisi pasien memadai,
dapat dilakukan pengosongan uterus dengan segera (lakukan secara hati-
hati karena tingginya kejadian perforasi pada kondisi ini)

Tabel 2.1 kombinasi antibiotika untuk abortus infeksiosa

Kombinasi Dosis oral catatan
antibiotika

Ampisilin dan 3×1 gr oral Berspektrum luas dan
dan mencakup untuk
metronidazol gonorrhea dan bakteri
3×500 mg anaerob

Tetrasiklin dan 4×500 mg Baik untuk klamidia,
dan gonorrhea,bakteroides
klindamisin fragilis
2x300mg

Trimethoprim 160 mg dan Spectrum cukup luas
dan dan harganya relatif
800 mg murah
sulfamethoksazol

Table 2.2 antibiotika parenteral untuk abortus septik

Antibiotika Cara Dosis
pemberian

Sulbenisilin IV 3×1 gr

Gentamisin 2×80 mg

metronidazol 2×1 gr

Seftriaksone IV 1×1 gr

Amoksisiklin + IV 3×500 mg
klavulanik acid
3×600 mg
klindamisin
1. Abortus tertunda (missed abortion)

Missed abortion seharusnya ditangani di rumah sakit atas pertimbangan :

 Plasenta dapat melekat sangat erat di dinding rahim, sehingga prosedur
evakuasi (kuretase) akan lebih sulit dan resiko perforasi lebih tinggi.

 Pada umumnya kanalis servikalis dalam keadaan tertutup sehingga perlu
tindakan dilatasi dengan batang laminaria selama 12 jam.

 Tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenemia yang berlanjut dengan
gangguan pembekuan darah.

1. Abortus habitualis

 Penyebab abortus habitualis sebagian besar tidak diketahui oleh karena
itu penanganannya terdiri dari: memperbaiki keadaan umum, pemberian
makanan yang sempurna, menganjurkan untuk istirahat yang cukup,
larangan koitus dan olahraga.

 Terapi dengan hormone progesteron, vitamin, hormon tiroid, dan lainnya
mungkin hanya mempunyai pengaruh psikologis karena penderita
mendapat kesan penderita diobati.

 Apabila pada pemeriksaan histerosalfingografi yang dilakukan dluar
kehamilan menunjukan kelainan miom submukoa atau uterus bikornu
maka kelainan tersebut dapat diperbaiki dengan pengeluaran miom atau
penyatuan kornu uterus dengan operasi menurut Strassman.

 Pada serviks inkompeten, apabila penderita telah hamil maka operasi
untuk mengecilkan ostium uteri internum sebaiknya dilakukan pada
kehamilan 12 minggu atau lebih sedikit. Dasar operasi adalah
memperkuat jaringan serviks yang lemah dengan melingkari daerah
ostium uteri internum dengan benang sutera atau dakron yang tebal. Bila
terjadi gejala dan tanda abortus insipiens , maka benang harus segera
diputuskan, agar pengeluaran janin tidak terhalangi. Apabila operasi
berhasil, maka kehamilan dapat dilanjutkan sampai hampir cukup bulan
dan benang dipotong pada kehamilan 38 minggu. Operasi tersebut dapat
dilakukan menurut cara Shirodkar atau cara Mac Donald.

1. Abortus servikalis

 Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan untuk
mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis.

Komplikasi Abortus

Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok.

 Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika
perlu diberikan transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila
pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

 Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda
bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi,
penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi.

 Infeksi

 Syok

Syok pada abortus dapat terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dank arena infeksi berat
(syok endoseptik).

Daftar Pustaka

Pedoman Diagnosis & Terapi Obstetri & Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bagian II
Ginekologi. Editor : Hidayat Wijayanegara, dkk. Bandung : Bagian Obstetri & Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran RSUP Dr. Hasan Sadikin, 1997.

Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu kandungan. Editor : Hanifa Wiknjosastro, dkk. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007.

Wibowo, Budiono. Ilmu Kebidanan. Editor : Hanifa Wiknjosastro, dkk. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2002.
KONSEP ABORTUS SPONTAN
1. Pengertian
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat – akibat tertentu pada atau sebelum
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di
luar kandungan (Prawirohardjo,2006).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin mampu hidup diluar kandungan
(Nugroho,2010)
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi dari luar untuk
mengakhiri kehamilan tersebut, terminologi umum untuk masalah ini adalah keguguran
seperti abortus imminens, insipiens, komplit, inkomplit, dan missed abortion. Sedangkan
abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk
mengakhiri proses kehamilan, terminologi untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau
abortus provokatus (Prawirohardjo,2006).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan, sedangkan abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari
kavum uteri dan masih ada yang tertinggal (Manuaba, 2008).
Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam
uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan
dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum, perdarahannya masih terjadi
dan jumlahnya bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang
menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus
(Saifuddin, 2002).
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi
serviks. Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil
konsepsi masih berada di dalam uterus (Prawirohardjo,2006)
Abortus imminens adalah abortus yang mengancam, perdarahannya bisa berlanjut beberapa
hari atau dapat berulang. Dalam keadaan ini kehamilan masih mungkin berlanjut atau
dipertahankan. Beberapa kepustakaan menyebutkan beberapa resiko dapat terjadi seperti
prematuritas dan gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (Sujiyatini dkk,2009)
Abortus insipiens di diagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak,
kadang – kadang disertai gumpalan darah disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan
ditemukan adanya dilatasi servik sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat
diraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian ibu dan jaringan yang
tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan (Sujiyatini
dkk,2009)

2. Manifestasi klinis
Karena abortus spontan banyak jenisnya maka untuk lebih memudahkan berikut beberapa
macam abortus dan manifestasi klinisnya :
Tabel 2.1 Manifestasi Klinis Abortus (Manuaba,2007)
Jenis abortus Manifestasi klinisnya
Abortus imminen a. Terasa nyeri / kram ringan pada abdomen
b. Disertai perdarahan ringan, encer
c. Perdarahan bercak, dan sedang
d. Pemeriksaan dalam/spekulum:
1) Servik tertutup
2) Hegar positif
3) Piskacek positif
4) Chadwieck positif
e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
f. Hasil konsepsi masih dalam uterus
g. Tes kehamilan positif
Abortus insipien
a. Terasa nyeri / kram berat
b. Perdarahan banyak bahkan disertai gumpalan
c. Pemeriksaan dalam :
1) Servik membuka
2) Ketuban menonjol
3) Terasa kontraksi uterus berlanjut
d. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
e. Belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi
f. Tes kehamilan mungkin masih positif
Abortus inkomplit
a. Nyeri hebat
b. Perdarahan banyak
c. Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih berada di dalam
uterus
d. Pemeriksaan dalam :
1) Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa
2) Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam
e. Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
f. Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak dapat dipertahankan.
Abortus komplit a. Nyeri perut sedikit
b. Ekspulsi total jaringan hasil konsepsi
c. Perdarahan sedikit
d. Pemeriksaan dalam
1) Servik terbuka sedikit terkadang sudah menutup
2) Jaringan kosong
3) Perdarahan minimal
e. Uterus besarnya kecil dari usia kehamilan
f. Tidak ada lagi gejala kehamilan dan tes kehamilan negative
Abortus tertunda (missed abortion) a. Janin sudah meninggal dalam rahim tetapi tidak
dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
b. Tanpa ada rasa nyeri
c. Perdarahan bisa ada, bisa tidak
d. Payudara terasa mengecil
e. Hilangnya tanda – tanda kehamilan
g. Berat badan ibu menurun
h. Besar uterus lebih kecil dari umur kehamilan
Abortus sepsis a. Disertai rasa nyeri dan panas
b. Perdarahan ringan dari jalan lahir dan berbau
c. Rahim terasa nyeri saat perabaan
d. Adanya tanda – tanda infeksi pada genitalia
Abortus habitualis Abortus spontan yang terjadi 3 kali berturut – turut atau lebih

Gb. 2.1 Kondisi rahim sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006)
3. Etiologi
Abortus inkomplit merupakan salah satu abortus spontan, banyak faktor penyebab terjadinya
abortus spontan.
Penyebab abortus spontan (Manuaba,2009) :
a. Faktor genetik
1) Kelainan kromosom
Kelainan kromosom yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi, monosomi,
triploid/tetraploid
2) Abortus dua kali karena kelainan kromosom terjadi 80%
3) Sindrom Ehlers – Danlos
Yaitu suatu keadaan membran endometrium sangat rapuh sehingga mudah ruptur atau pecah
(rupture membrane abortus spontan)
b. Faktor hormonal
1) Defisiensi luetal
2) Abortus berulang karena faktor hormonal sekitar 35 – 50%
3) Ibu hamil menderita penyakit hormonal. Seperi diabetes mellitus dan gangguan kelenjar
tyroid
c. Kelainan anatomi uterus
1) Sub mukosa mioma uteri
2) Kelainan kongenital uterus seperti, septum, uterus arkuatus yang berat, terdapat polip uteri
3) Serviks inkompeten
d. Faktor infeksi genitalia interna
1) Toxoplasmosis
2) Sitomegalovirus
3) Rubela
4) Herpes simpleks
5) Infeksi endometrium (klamidia, toksoplasmosis, mycoplasma hominis
e. Intoksikasi agen eksternal
1) Intoksikasi bahan anestesi
2) Kecanduan (alkohol. Perokok, agen lainnya)
f. Postur ibu hamil
1) Kurus, BB kurang dari 40 kg
2) Gemuk, BB diatas 80 kg
g. Faktor paternal
1) Hiperspermatozoa, jumlah sperma lebih dari 250 juta
2) Oligospermatozoa, jumlah sperma kurang dari 20 juta
3) Prinsipnya kekurangan DNA
h. Faktor imunologis
1) Faktor alloimmune
a) Penolakan maternal terhadap hasil konsepsi yang mengadakan implantasi
b) Jika tipe homolog HLA atau antipaternal antibody tinggi, akan berlangsung abortus
c) Kehamilan dipertahankan oleh komponen :
(1) Lokal autoimmune reaksi sehingga menetralkan antipaternal antibody yang dijumpai pada
sebagian ibu hamil
(2) Faktor hormonal dari plasenta yaitu human chorionic gonadotropin dan progesterone
2) Faktor antibody autoimun, terutama :
a) Antibody antiphosfolipid :
(1) Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan
(2) Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus
(3) Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant (LAC)
(4) Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan menyebabkan abortus.
Nugroho juga membagi faktor pencetus terjadinya abortus menjadi dua (Nugroho,2010)
a. Faktor fetal
Sekitar 2/3 dari abortus spontan pada trimester pertama merupakan anomaly kromosom
dengan ½ dari jumlah tersebut adalah trisomi autosom dan sebagian lagi merupakan triploidi,
tetraploidi atau monosomi 45X.
b. Faktor maternal
1) Faktor – faktor endokrin
a) Beberapa gangguan endokrin telah terlibata dalam abortus spontan berulang, termasuk
diantaranya adalah diabetes mellitus tak terkontrol, hipo dan hipertiroid, hiperkresi
luteinizing hormone, insufisiensi korpus luteum atau disfungsi fase luteal dan penyakit
polikistik ovarium
b) Pada perkembangan terbaru peranan hiperandrogenemia dan hiperprolaktinemia telah
dihubungkan dengan terjadinya abortus berulang
2) Faktor – faktor anatomi
a) Anomaly uterus termasuk malformasi kongenital, defek uterus yang di dapat , leiomioma
dan inkompetensia serviks.
b) Meskipun anomali – anomali ini sering dihubungkan dengan abortus spontan, insiden,
klasifikasi dan peranannya dalam etiologi masih belum diketahui secara pasti . Penelitian lain
menunjukkan wanita dengan anomali didapat seperti asherman’s syndrome, adhesi uterus dan
anomali didapat melalui paparan dietilestilbestrol memiliki angka kemungkinan hidup fetus
yang lebih rendah dan meningkatnya angka kejadian abortus.
3) Faktor – faktor immunologi
a) Pada kehamilan normal, system imun maternal tidak bereaksi terhadap spermatozoa atau
embrio, namun 40% pada abortus berulang diperkirakan secara imunologis kehadiran fetus
tidak dapat di terima.
b) Respon imun dapa dipicu oleh beragam faktor endogen dan eksogen, termasuk
pembentukan antobodi antiparental, gangguan autoimun yang mengarah pada pembentukan
antibodi autoimun (antibody antifosfolipid, antibody antinuclear, aktivasi sel B poliklonal),
infeksi, bahan – bahan toksik dan stress.
4) Trombofilia
a) Trombofilia merupakan keadaan hiperkoagulasi yang berhubungan dengan predisposisi
terhadap trombolitik
b) Kehamilan akan mengawali keadaan hiperkoagulasi dan melibatkan keseimbangan antara
jalur prekoagulan dan antikoagulan
c) Trombofilia dapat merupakan kelainan yang herediter atau didapat
d) Terdapat hubungan antara antibodi antifosfolipid yang didapat dan abortus berulang dan
semacam terapi dan kombinasi terapi yang melibatkan heparin dan aspirin telah
direkomendasikan untuk menyokong pemeliharaan kehamilan sampai persalinan.
e) Pada sindrom antifosfolipid, antibodi fosfolipid mempunyai hubungan dengan kejadian
trombisis vena, trombosis arteri, abortus atau trombositopenia. Namun, mekanisme pasti yang
menyebabkan antibodi fosfolipid mengarah ke trombosis masih belum diketahui
f) Pada perkembangan terbaru, beberapa gangguan trombolitik yang herediter atau didapat
telah dihubungkan dengan abortus berulang termasuk faktor V leiden, defisiensi protein
antikoagulan dan antitrombin, hiperhomosistinemia, mutasi genetik protrombin, dan mutasi
homozigot pada gen metileneterhidrofolat reduktase.
5) Infeksi
a) Infeksi – infeksi maternal yang memperlihatkan hubungan yang jelas dengan abortus
spontan termasuk sifilis, parvovirus B19, HIV dan malaria.
b) Brusellosis, suatu penyakit zoonosis yang paling sering menginfeksi manusia melalui
produk susu yang tidak dipasteurisasi juga dapat menyebabkan abortus spontan.
6) Faktor – faktor eksogen
Meliputi bahan – bahan kimia :
a) Gas anestesi
(1) Nitrat oksida dan gas – gas anestesi lainnya diyakini sebagai faktor resiko untuk
terjadinya abortus spontan.
(2) Pada suatu tinjauan oleh Tannebaum dkk, wanita yang bekerja dikamar operasi sebelum
dan selama kehamilan mempunyai kecendrungan 1,5 sampai 2 kali untuk mengalami abortus
spontan.
(3) Pada suatu penelitian meta-analisis yang baru, hubungan antara pekerjaaan maternal yang
terpapar gas anestesi dan resiko abortus spontan digambarkan adalah 1,48 kali dari pada yang
tidak terpapar.
b) Air yang tercemar
(1) Suatu penelitian prospektif di California menemukan hubungan bermakna antara resiko
abortus spontan pada wanita yang terpapar trihalometanan dan terhadap salah satu
turunannya, bromodikhlorometana.
(2) Demikian juga dengan wanita yang tinggal di daerah Santa Clara, daerah yang dengan
kadar bromide pada air permukaan paling tinggi tersebut, memiliki resiko 4 kali lebih tinggi
untuk mengalami abortus spontan.
c) Dioxin
Dioxin telah terbukti menyebabkan kanker pada manusi dan binatang dan menyebabkan
anomali reproduksi pada binatang. Beberapa penelitian pada manusai menunjukkan
hubungan antara dioxin dan abortus spontan.
d) Pestisida
Resiko abortus spontan telah diteliti pada sejumlah kelompok pekerja yang menggunakan
pestisida
7) Gaya hidup merokok dan alkoholisme
Penelitian epidemiologi mengenai merokok tembakau dan abortus spontan menemukan
bahwa merokok dapat sedikit meningkatkan resiko untuk terjadinya abortus spontan. Namun
hubungan antara merokok dan abortus spontan tergantung pada faktor–faktor lain termasuk
konsumsi alkohol, perjalanan reproduksi, waktu gestasi untuk abortus spontan, kariotipe fetal,
dan status sosial ekonomi.
Peningkatan kejadian abortus spontan pada wanita alkoholik mungkin berhubungan dengan
akibat tak langsung dari gangguan terkait alkoholisme.
8) Radiasi
Radiasi ionisasi dikenal menyebabkan gangguan hasil reproduksi termasuk malformasi
kongenital, restriksi pertumbuhan intrauterine dan kematian embrio.
Sedangkan menurut Sarwono hal – hal yang menyebabkan abortus spontan dibagi atas :
(Prawirohardjo,2006)
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat.
Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil-hamil muda. Faktor-
faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan diantaranya:
1) Kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi,
poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks
2) Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat
implantasi kurang sempurna, pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi akan terganggu
3) Pengaruh dari luar. Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik
hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya
dinamakan pengaruh teratogen.
b. Kelainan plasenta
Endarteritis dapat terjadi pada vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta
terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini
bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.
c. Penyakit ibu
Biasanya penyakit maternal berkaitan dengan abortus euploidi. Peristiwa abortus tersebut
mencapai puncaknya pada kehamilan 13 minggu, karena pada saat terjadinya abortus lebih
belakangan, pada sebagian kasus dapat ditentukan etiologi abortus yang dapat dikoreksi.
Sejumlah penyakit, kondisi kejiwaan dan kelainan perkembangan pernah terlibat dalam
peristiwa abortus euploidi.
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain
dapat menyebakan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta
masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus.
Anemia berat, keracunan, laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti
brusellosis, mononukleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, juga dapat menyebabkan abortus
walaupun lebih jarang.
d. Kelainan traktus genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus.
Tetapi harus diingat bahwa hanya retroversio uteri gravidi inkarserata atau mioma submukosa
yang memegang peranan penting. Sebab lain abortus dalam trimester ke II adalah servik
inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan pada servik, dilatasi servik berlebihan,
konisasi, amputasi, atau robekan servik yang tidak dijahit.

4. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis
jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau
seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil
konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua
secara mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus
desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat
menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang
dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta.
Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini
menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong
amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas dan mungkin
pula janin telah mati lama. Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang
cepat maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah, isi uterus dinamakan mola kruenta.
Bentuk ini menjadi mola karnosa apaila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi
organisasi sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose,
dalam hal ini amnion tampak berbenjol – benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan
korion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi
diamana janin mengering dan karena cairan amnion berkurang maka ia jadi gepeng (fetus
kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus
papiraseus)
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan adalah terjadinya maserasi,
kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan dan seluruh
janin berwarna kemerah – merahan dan dapat menyebabkan infeksi pada ibu apabila
perdarahan yang terjadi sudah berlangsung lama.(Prawirohardjo,2005),

5. Diagnosa dan Prognosa
Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang
perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering terdapat pula terasa mules.
Kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan
bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis atau imunologik. Harus diperhatikan
macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan servik dan adanya jaringan dalam kavum
uteri atau vagina (Prawirohardjo,2006)
Dugaan abortus diperlukan beberapa kriteria sebagai berikut :
a. Terdapat keterlambatan datang bulan
b. Terjadi perdarahan
c. Disertai sakit perut
d. Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi
e. Pemeriksaan tes hamil dapat masih positif atau sudah negatif.
Hasil pemeriksaan fisik terhadap penderita bervariasi
a. Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung jumlah perdarahan
b. Pemeriksaan fundus uteri :
1) Tinggi dan besarnya fundus tetap dan sesuai usia kehamilan
2) Tinggi dan besarnya sudah mengecil
3) Fundus uteri tidak teraba diatas simfisis
Pemeriksaan dalam :
a. Servik uteri masih tertutup
b. Servik sudah terbuka dan dapat teraba ketuban dan hasil konsepsi dalam kavum uteri atau
pada kanalis servikalis
c. Besarnya rahim atau uterus mengecil
d. Konsistensinya lunak.
(Sujiyatini,2009)
Sebagai kemungkinan diagnosis lain harus dipikirkan yaitu kehamilan ektopik yang
terganggu, mola hidatidosa, kehamilan dengan kelainan pada servik. Untuk penegakan
diagnose disesuaikan dengan gejala klinis masing – masing abortus. Sedangkan untuk
prognosa abortus juga tergantung pada jenis abortus dan kondisi pasien
(Prawirohardjo,2006).

6. Penatalaksanaan
Penanganan umum :
a. Lakukan penilaian awal untuk menentukan kondisi pasien (gawat darurat, komplikasi berat
atau masih cukup stabil)
b. Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien sebelum melakukan
tindakan lanjutan (yindakan medic atau rujukan)
c. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau
dirujuk kerumah sakit.
1) Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan hebat segera atasi
komplikasi tersebut
2) Gunakan jarum infuse besar (16G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml
dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer
d. Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji padanan silang (crossmatch)
a. Bila terdapat tanda – tanda sepsis, berikan antibiotic yang sesuai
b. Temukan dan hentikan segera sumber perdarahan
c. Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan perkembangan lanjut
(Prawirohardjo,2006)

Tabel 2.2 Penatalaksanaan abortus sesuai dengan jenis abortus (Prawirohardjo,2006)

Jenis abortus Penatalaksanaannya
Abortus imminen a. Tidak diperlukan pengobatan medic yang khusus
b. Istirahat (tirah baring), agar aliran darah ke uterus meningkat dan ransang mekanik
berkurang
c. Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas berlebihan atau melakukan hubungan seksual
d. Bila perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal terjadwal
e. Bila perdarahan berlanjut, nilai kondisi janin melalui tes kehamilan atau USG
Abortus insipiens a. Uterus harus segera dikosongkan untuk menghindari perdarahan yang
banyak atau syok karena rasa mules dan sakit yang hebat
b. Pasang infuse, sebaiknya diertai oksitosin drip untuk mempercepat pengeluaran hasil
konsepsi
c. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilakukan dengan kuretase atau dengan cunam abortus
disusul dengan kerokan
d. Sebelum dilakukan kuretase diberikan antibiotika prifilaksis
e. Bila prosedur evakuasi tidak dapat segera dilakukan atau usia gestasi lebih besar dari 16
minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan :
f. Infuse oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat
dinaikkan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi rahim hingga terjadi
pengeluaran hasil konsepsi
1) Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian
2) Misoprostol 400 mg peroral dan apabila masih diperlukan dapat diulangi dengan dosis
yang sam setelah 4 jam dari dosis awal.
Abortus inkomplit
a. Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan cairan NaCl fisiologis
atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul dengan transfuse darah
b. Setelah syok teratasi, lakukan kerokan
c. Pasca tindakan berikan injeksi metal ergometrin maleat intra muscular untuk
mempertahankam kontraksi otot uterus
d. Perhatikan adanya tanda – tanda infeksi
e. Bila tak ada tanda – tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis (ampisilin 500 mg oral atau
doksisiklin 100 mg)
f. Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam
Abortus komplit a. Tidak memerlukan pengobatan khusus, cukup uterotonika atau kalau perlu
antibiotika
b. Apabila kondisi pasien baik, cukup diberikan tablet ergometrin 3×1 tablet/hari untu 3 hari
c. Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas Ferosus 600 mg/hari
selama 2 minggu disertai anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan,
daging, telur). Untuk anemi berat berikan transfusi darah
d. Jika infeksi berikan antibiotika profilaksis
Abortus tertunda (missed abortion) a. Karena sering plasenta melekat maka penanganan harus
dirumah sakit
b. Periksa kadar fibrinogen atau test perdarahan dan pembekuan darah sebelum tindakan
kuretase. Bila normal jaringan konsepsi dapat segera dikeluarkan, teapi bila kadarnya rendah
( 7gr/dl (anemia) atau dicurigai adanya infeksi
Tubektomi Segera Sesuai untuk pasangan yang ingin menghentikan fertilitas, jika dicurigai
adanya infeksi, tunda samapi keadaan jelas. Jika Hb kurang dari 7g/dl, tunggu sampai anemia
telah diperbaiki. Sediakan metode alternatif seperti kondom.

B. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA ABORTUS INKOMPLIT

a. langkah I : Pengumpulan Data Dasar
1) Data Subjektif
a) Identitas ibu dan suami yang perlu dikaji adalah nama, umur, agama, suku/bangsa,
pendidikan , pekerjaan, nomor telepon dan alamat. Bertujuan untuk menetapkan identitas
pasien karena mungkin memiliki nama yang sama dengan alamat dan nomor telepon yang
berbeda serta untuk mengetahui faktor resiko yang mungkin terjadi.
b) Keluhan utama , merupakan alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan.
Kemungkinan yang ditemui pada kasus abortus inkomplit ini adalah ibu mengeluhkan bahwa
keluar darah yang banyak dari kemaluannya, darah bergumpal dan berwarna merah segar
yang disertai nyeri hebat pada perut bagian bawah.
c) Riwayat menstruasi yang dikaji adalah menarche, siklus haid, lamanya, banyaknya dan
adanya dismenorrhoe saat haid yang bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis
apakah ibu benar-benar hamil .
d) Riwayat kehamilan sekarang yang dikaji yaitu HPHT, riwayat hamil muda dan tua,
frekuensi pemeriksaan ANC yang bertujuan untuk mengetahui tua kehamilan ibu serta
taksiran persalinan dan resiko yang akan terjadi dari adanya riwayat pada kehamilan.
e) Riwayat penyakit dahulu yang dikaji adalah apakah ibu ada mengalami keguguran
sebelumnya, menderita penyakit jantung, DM, ipertensi, ginjal, asma, TBC, epilepsi dan PMS
serta ada tidaknya ibu alergi baik terhadap obat-obatan ataupun makanan dan pernah transfusi
darah ,atau operasi, serta ada tidaknya kelainan jiwa.
f) Riwayat penyakit keluarga yang dikaji yaitu ada tidaknya keluarga ibu maupun suami yang
menderita penyakit jantung, DM, hipertensi, ginjal, asma, dan riwayat keturunan kembar
yang bertujuan agar dapat mewaspadai apakah ibu juga berkemungkinan menderita penyakit
tersebut.
g) Riwayat perkawinan yang dikaji yaitu umur berapa ibu kawin dan lamanya ibu baru hamil
setelah kawin, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ibu memiliki faktor resiko.
h) Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu yang dikaji adalah fisiologi jarak
kehamilan dengan persalinan yang minimal 2 tahun, usia kehamilan aterm 37-40 minggu atau
apakah ibu ada mempunyai riwayat abortus, jenis persalinan yang bertujuan untuk
menentukan ukuran panggul dan adanya riwayat persalinan dengan tindakan, sehingga
menunjukkan bahwa 3P telah bekerja sama dengan baik, penyulit yang bertujuan untuk
mengetahui penyulit persalinan yang pernah dialami ibu, nifas yang lalu kemungkinan
adanya keadaan lochea, laktasi berjalan dengan normal atau tidak serta keadaan anak
sekarang.
i) Riwayat keluarga berencana, kemungkinan ibu pernah menggunakan alat –alat kontrasepsi
atau tidak.
j) Makan terkhir bertujuan untuk mengetahui persiapan tenaga ibu untuk persalinan.
k) BAK dan BAB terakhir bertujuan untuk mengetahui apakah ada penghambat saat proses
persalinan berlangsung.
2) Data Objektif
a) Pemeriksaan umum
Secara umum ditemukan gambaran kesadaran umum, dimana kesadaran pasien sangat
penting dinilai dengan melakukan anamnesa. Selain itu pasien sadar akan menunjukkan tidak
adanya kelainan psikologis dan kesadaran umum juga mencakup pemeriksaan tanda-tanda
vital, berat badan, tinggi badan , lingkar lengan atas yang bertujuan untuk mengetahui
keadaan gizi pasien.

b) Pemeriksaan khusus
I. Inspeksi
Periksa pandang yang terpenting adalah mata (konjungtiva dan sklera) untuk menentukan
apakah ibu anemia atau tidak, muka (edema), leher apakah terdapat pembesaran kelenjar baik
kelenjar tiroid maupun limfe sedangkan untuk dada bagaimana keadaan putting susu, ada
tidaknya teraba massa atau tumor, tanda-tanda kehamilan (cloasma gravidarum, aerola
mamae, calostrum), serta dilihat pembesaran perut yang sesuai dengan usia kehamilan, luka
bekas operasi, dan inspeksi genitalia bagian luar serta pengeluaran pervaginam dan
ekstremitas atas maupun bawah serta HIS.
II. Palpasi
Dengan menggunakan cara leopold:
Leopold I :
Untuk menentukan TFU dan apa yang terdapat dibagian fundus (TFU dalam cm) dan
kemungkinan teraba kepala atau bokong lainnya, normal pada fundus teraba bulat, tidak
melenting, lunak yang kemungkinan adalah bokong janin
Leopold II:
Untuk menentukan dimana letaknya punggung janin dan bagian-bagian kecilnya. Pada
dinding perut klien sebelah kiri maupun kanan kemungkinan teraba, punggung, anggota
gerak, bokong atau kepala.
Leopold III:
Untuk menentukan apa yang yang terdapat dibagian bawah perut ibu dan apakah BTJ sudah
terpegang oleh PAP, dan normalnya pada bagian bawah perut ibu adalah kepala.
Leopold IV:
Untuk menentukan seberapa jauh masuknya BTJ ke dalam rongga panggul dan dilakukan
perlimaan untuk menentukan seberapa masuknya ke PAP.
III. Auskultasi
Untuk mendengar DJJ dengan frekuensi normal 120-160 kali/menit, irama teratur atau tidak,
intensitas kuat, sedang atau lemah. Apabila persalinan disertai gawat janin, maka DJJ bisa
kurang dari 110 kali/menit atau lebih dari 160 kali/menit dengan irama tidak teratur.
IV. Perkusi
Pemeriksaan reflek patella kiri dan kanan yang berkaitan dengan kekurangan vitamin B atau
penyakit saraf, intoksikasi magnesium sulfat.
V. Penghitungan TBBJ
Dengan menggunakan rumus (TFU dalam cm – 13) x 155 yang bertujuan untuk mengetahui
taksiran berat badan janin dan dalam persalinan postterm biasanya berat badan janin terjadi
penurunan karena terjadi perubahan anatomik yang besar pada plasenta atau sebaliknya berat
janin terus bertambah karena plasenta masih berfungsi.
VI. Pemeriksaan Dalam
Yang dinilai adalah keadaan servik, pembukaan, keadaan ketuban, presentasi dan posisi,
adanya caput atau moulage, bagian menumbung atau terkemuka, dan kapasitas panggul
(bentuk promontorium, linea innominata, sacrum, dinding samping panggul, spina ischiadica,
coksigis dan arcus pubis > 900).
c) Pemeriksaan Penunjang
I. Darah
Yaitu kadar Hb, dimana Hb normal pada ibu hamil adalah ≥ 11 gr% (TM I dan TM III 11 gr
% dan TM II 10,5 gr %)
Hb ≥ 11 gr% : tidak anemia
Hb 9-10 gr% : anemia ringan
Hb 7-8 gr% : anemia sedang
Hb ≤ 7 gr% : anemia berat
II. Urine
Untuk memeriksa protein urine dan glukosa urine.untuk klien dengan kehamilan dan
persalinan normal protein dan glukosa urine negative.
III. USG
Untuk memeriksa apakah kantong gestasi masih utuh dan cairan amnion masih ada.

b. Langkah II: Interprestasi Data
Data dasar di interprestasikan menjadi masalah atau diagnosa spesifik yang sudah di
identifikasikan. Di dalam interprestasi data, terdapat tiga komponen penting di dalamnya
yaitu:
1) Diagnosa
Diagnosa setiap kala persalinan berbeda dan diagnosa ditetapkan bertujuan untuk mengetahui
apakah ada penyimpangan. Untuk persalinan postterm dapat ditegakkan dengan mengetahui
HPHT serta menetukan taksiran persalinan dan mengetahui gerakan janin pertama kali
dirasakan dan riwayat pemeriksaan ANC lainnya.
2) Masalah
Dapat berupa keluhan utama atau keadaan psikologis ibu, keadaan janin yang memburuk
karena sudah keluarnya sebagian sisa jaringan.
3) Kebutuhan
Di sesuaikan dengan adanya masalah,seperti:
a) Berikan informasi dan konseling untuk mengatasi kecemasan ibu
b) Berikan ibu dukungan psikologis.
c) Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan kuretase
c. Langkah III: Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Kemungkinan masalah potensial yang timbul adalah:
1) Infeksi
2) Perdarahan
3) Syok
4) Anemia .
d. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera.
Adapun tindakan segera yang dilakukan adalah:
Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik
e. Langkah V:Merencanakan Asuhan Yang Menyeluruh
Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sehingga dapat direncanakan asuhan sesuai
dengan kebutuhan yaitu:
Tindakan yang perlu dilakukan adalah:
1) Memberikan inform consent untuk tindakan kuretase
2) Melakukan pemeriksaan TTV
3) Pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit dengan pemberian infus.
4) Membantu melakukan tindakan kuretase
5) Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi obat-obatan
6) Memberikan dukungan psikologis.
7) Pemenuhan nutrisi dan hidrasi
8) Konseling alat kontrasepsi pasca abortus
f. Langkah VI:Melaksanakan Perencanaan
Perencanaan bisa dilakukan oleh bidan atau dokter dan sebagian oleh klien. Bidan juga
bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan yang telah di rencanakan.
g. Langkah VII:Evaluasi
Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan persalinan,dari hasil pelaksanaan
perencanaan dapat diketahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan dan menunjukkan
perbaikan kondisi apabila banyi ataupun ibu sempat mengalami masalah yang harus segera
ditangani.
h. Pendokumentasian
Pendokumentasian kasus dibuat dalam bentuk matrik dengan menggunakan 7 langkah varney
DAFTAR PUSTAKA

JNPK _KR. 2008. Pelayanan obsetri dan neonatal emergensi dasar (PONED)
Kusmiyati, Dkk. 2009. Perawatan ibu hamil. Yogjakarta : Fitramaya
Nugroho, taufan. 2010. Buku ajar obstetric. Yogjakarta : Nuha Medika
Manuaba. 2007. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
PPKC. 2002. Pelatihan manajemen asuhan kebidanan. Jakarta
Prawirohardjo, S. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka
ABORTUS INKOMPLIT

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perdarahan selama kehamilan dianggap sebagai suatu keadaan akut yang

dapat membahayakan ibu dan anak sehingga menimbulkan kematian. Wanita hamil

yang mengalami perdarahan pada umur kehamilan < 20 minggu biasanya berakhir

dengan abortus yaitu keluarnya hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar

kandungan dengan berat janin < 500 gram. Sampai saat ini kejadian abortus masih

dianggap sebagai masalah kesehatan yang sangat serius dalam masyarakat

terutama abortus inkomplit yang termasuk penyebab langsung kematian ibu yang

apabila tidak mendapat penanganan segera dapat meningkatkan morbiditas dan

mortalitas (http://www.library.usu.ac.id.online, diakses 14 April 2007)

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 1999 kejadian abortus

berkisar 46 juta kehamilan dan sekitar 30%-50% diantarnya meninggal akibat

komplikasi abortus yang tidak aman. (http://bkkbn.go.id.online, diakses 23 Maret

2007)

Angka Kematian Ibu (AKI) masih tergolong tinggi di negara berkembang

dibandingkan di negara maju. Pada tahun 2003 Angka Kematian Ibu (AKI) di ASEAN

yang paling tinggi yaitu Indonesia berkisar 307/100.000 kelahiran hidup, yang

menduduki peringkat kedua Filipina berkisar 170/100.000 kelahiran hidup, Vietnam
berkisar 30/100,000 kelahiran hidup, dan Malaysia berkisar 30/100.000 kelahiran

hidup (http://www.media.Indonesia.com.online, 1 Juni 2007)

1

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2005
angka kematian ibu berkisar 290,8/100.000 kelahiran hidup berarti menurun 5,27%.
Tingginya angka kematian ibu secara langsung disebabkan oleh perdarahan (28%),
eklamsia (13%), dan sepsis (10%), sedangkan penyebab tidak langsung berupa
anemia pada ibu hamil (51%), anemia pada ibu nifas (17,6%), tiga terlambat (3T)
yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat kefasilitas kesehatan,dan terlambat
mendapat penanganan (http://www.Hidayatullah.com.online, diakses 15 Maret 2007)
Data yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan Dinas Kesehatan

Tingkat I Provensi Sulawesi Selatan pada tahun 2004 angka kematian ibu berkisar

(AKI) berkisar 110/100.000 kelahiran hidup yang disebabkan oleh perdarahan 60

orang (54,55%), Infeksi 7 orang (22,27%), khusus kejadian abortus berkisar 1.852

orang (1,22%) dari 151.168 kehamilan, sedadngkan pada tahun 2005 angka

kematian ibu meningkat 53 orang (48,18%) menjadi 163/100.000 kelahiran hidup

yang disebabjan oleh perdarahan 88 orang (53,98%), infeksi 10 orang (16,3%),

eklamsia 26 orang (15,95%), dan lain-lain 39 orang (23,98%), khusus kejadian

abortus berkisar 1.759 orang (0,60%) dari 297.051 kehamilan, namun pada tahun

2006 menurun berkisar 30 orang (18,40%) menjadi 133/100.000 kelahiran hidup

yang di sebabkan oleh perdarahan 71 orang (53,385), infeksi 4 orang (3,01%),

eklamsia 34 orang (25,56%), dan lain-24 orang (10,05%) (Profil Dinas Kesehatan

2005)

Data yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan Dinas Kesehatan

kabupaten Gowa pada tahun 2006 jumlah kematian ibu sekitar 10 orang yang

disebabkan oleh perdarahan 8 orang (80%), dan eklamsia 2 orang (20%). Khusus

kejadian abortus berkisar 221 orang (1,65%) dari 13.388 kehamilan.

Khusus data yang diperoleh dari medical Record (Rekam Medis) di Rumah

sakit umum daerah Syekh Yusuf Gowa pada tahun 2006 kejadian abortus berkisar
148 orang (10,55%) dari 1.402 kehamilan, diantaranya abortus provakatus 10 orang

(0,67%), abortus imminens 46 orang (31,08%), abortus habitualis 1 orang (0,67%),

abortus komplit 2 orang (1,35%) dan abortus inkomplit 89 orang (60,13%).

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya abortus pada umumnya adalah

gangguan pertumbuhan zigot, embrio, plasenta, infeksi, kelainan uterus, dan faktor

eksternal seperti radiasi dan obat-obatan ,sedangkan komplikasi yang dapat

mengancam jiwa ibu akibat abortus adalah perdarahan, infeksi, perforasi, dan syok.

Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah sekaligus menekan kejadian abortus

dengan menganjurkan ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara

teratur, memberikan konseling tentang pengtinya keluarga berencana (KB) untuk

mengatur jarak kehamilan.

Tingginya kejadian abortus yang ditemukan serta besarnya resiko yang

ditimbulkan membuat penulis termotivasi untuk membahas lebih lanjut melalui karya

tulis ilmiah dengan judul Manajemen Asuhan kebidanan pada NY “S” Dengan

Abortus Inkomplit.

B. Ruang Lingkup Pembahasan

Ruang lingkup pembahasan karya tulis ilmiah ini adalah Manajemen Asuhan

kebidanan pada Ny ”S” Kehamilan 13 Minggu Empat Hari Dengan Abortus Inkomplit

di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa.

C. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini, tujuan yang diharapkan adalah sebagai

berikut :

1. Tujuan Umum

Dapat melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny “S” Kehamilan 13 Minggu Empat

Hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa.
2. Tujuan Khusus

a. Dapat melaksanakan pengkajian dan analisa data dasar pada Ny ”S” Kehamilan 13

Minggu Empat hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh

Yusuf Gowa.

b. Dapat mengidentifikasi dioagnosa / masalah aktual pada Ny “S” Kehamilan 13

Minggu Empat Hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Stekh

Yusuf Gowa.

c. Dapat mengantisipasi diagnosa / masalah potensial pada Ny ”S” Kehamilan 13

Minggu Empat Hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh

Yusuf Gowa.

d. Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada Ny ”S” Kehamilan 13

Minggu Empat hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh

Yusuf Gowa.

e. Dapat merencanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny ”S” Kehamilan 13 Minggu

Empat Hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf

Gowa.

f. Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny ”S” Kehamilan 13 Minggu

Empat Hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf

Gowa.

g. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan pada Ny ”S” Kehamilan 13 Minggu Empat

Hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa.

h. Dapat mendokumentasikan semua asuhan kebidanan pada Ny ”S” Kehamilan 13

Minggu Empat Hari dengan Abortus Inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh

Yusuf Gowa.

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat praktis

Sebagai salah satu sumber informasi bagi setiap penentu kebijakan dan pelaksaan

program baik di Departemen Kesehatan maupun pihak Rumah Sakit Umum Daerah

Stekh Yusuf Gowa dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

program sebagai upaya pencegahan atau penanganan abortus inkomplit.

2. Manfaat ilmiah

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dalam memperkaya

wawasan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan acuan bagi penulis selanjutnya.

3. Manfaat Institusi

Sebagai bahan masukan bagi rekan-rekan mahasiswa program D III Kebidanan

Universitas Indonesia Timur dalam melaksanakan asuhan kebidanan.

4. Manfaat bagi penulis

a. Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir dijenjang

pendidikan Diploma III Kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar.

b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam proses manajemen asuhan

kebidanan dengan kasus abortus inkomplit.

B. Metode Penulisan

Dalam penyusunan karya tulis ini didasarkan pada teori ilmiah yang

dipadukan dengan praktek dan pengalaman penulis memerlukan data yang objektif

dan relevan dengan teori-teori yang dijadikan dasar analisa dalam pemecahan

masalah. Untuk itu penulis menggunakan metode sebagai berikut :

1. Studi Kepustakaan
Yaitu dengan membaca data dan mempelajari buku-buku atau literatur yang ada

kaitannya dengan masalah yang dibahas sebagai dasar teoritis yang digunakan

dalam pembahasan karya tulis ini.

2. Studi Kasus

Yaitu melaksanakan studi kasus dengan menggunakan pendekatan pemecahan

masalah melalui asuhan kebidanan yang meliputi : pengkajian, merumuskan

diagnosa/masalah aktual maupun potensial, melaksanakan tindakan segera atau

kolaborasi, perencanaan, implementasi, dan evaluasi serta mendokumentasikan

asuhan kebidanan yang telah diberikan pada klien dengan kasus abortus inkomplit.

Tehnik pengumpulan data yang digunakan :

a. Anamnese

Penulis mengadakan tanya jawab dengan ibu, suami maupun keluarganya yang

dapat memberikan informasi yang dibutuhkan serta bidan dan dokter yang berada di

ruang kebidanan yang berhubungan dengan masalah klien.

b. Pemerikasaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis mulai dari kepala sampai kaki (head

to toe) meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi dan pemeriksaan laboratorium

serta pemeriksaan diagnostik lainnya.

c. Pengkajian Psikososial

Pengkajian psikososial dilakukan meliputi pengkajian status emosional, respon

terhadap kondisi yang dialami serta pola interaksi dengan keluarga, petugas

kesehatan dan lingkungannya.

d. Studi Dokumenter
Mempelajari status kesehatan klien yang bersumber dari catatan dokter, bidan,

perawat, petugas laboratorium dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya.

e. Diskusi

Penulis melakukan tanya jawab dengan dokter, bidan dan perawat yang menangani

langsung klien tersebut serta mengadakan diskusi dengan dosen

pengasuh/pembimbing karya tulis ilmiah ini.

E. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran umum tentang karya tulis ini maka penulis

menyusun dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Ruang Lingkup Masalah

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

2. Tujuan Khusus

D. Manfaat Penulisan

E. Metode Penulisan

F.Sistematika penulisan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Tentang Abortus

1. Pengertian Abortus

2. Klasifikasi Abortus

3. Etiologi Abortus

4. Patofisiologi Abortus

5. Komplikasi Abortus
6. Diagnosis Abortus

7. Gambaran Klinis Abortus Inkomplit

8. Penanganan Umum Abortus

9. Penanganan Abortus Inkomplit

10. Prosedur Kerja Abortus

B. Proses Manajemen Kebidanan

1. Pengertian Manajemen Kebidanan

2. Tahapan Manajemen Kebidanan

3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)

BAB III : STUDI KASUS

A. Langkah 1. Pengkajian dan Analisa Data Dasar

B. Langkah 2. Mengidentifikasi Diagnosa/Masalah Aktual

C. Langkah 3. Mengantisipasi Diagnosa/Masalah Potensial

D. Langkah 4. Perlunya Tindakan Segera dan Kolaborasi

E. Langkah 5. Rencana Asuhan Kebidanan

F. Langkah 6. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

G. Langkah 7. Evaluasi Asuhan Kebidanan

H. Langkah 8. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan

BAB IV : PEMBAHASAN

Pada bagian ini penulis membahas tentang kesenjangan antara teori dan fakta yang

ada, dibahas secara sistematis mulai dari pengkajian, merumuskan

diagnosa/masalah aktual dan potensial, tindakan segera atau kolaborasi,

perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi asuhan kebidanan.

BAB V : PENUTUP
Merupakan bagian terakhir yang memuat kesimpulan hasil pelaksanaan studi kasus

yang dilakukan dan juga berisi saran-saran dan meningkatkan kwalitas asuhan

kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Tentang Abortus

1. Pengertian Abortus

Kehamilan adalah suatu proses yang dimulai dari ovulasi sampai persalinan

aterm sekitar 280 hari (40 minggu). Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan yaitu :
a) Triwulan pertama antara 0-12 minggu, b) Triwulan kedua antara 12-28

minggu, c) Triwulan ketiga 28-40 minggu dan apabila kehamilan ini berakhir

sebelum waktunya maka disebut dengan abortus. (Manuaba, I.B.G. 1998. Hal. 125)

Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi

sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil

dilaporkan dapat hidup diluar kandungan memiliki berat badan lahir 297 gram tetapi

jarangnya janin yang di lahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup

terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin

mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu (Winkjosastro, H, 2005, Hal

302).

Berikut ini dikemukakan beberapa defenisi abortus menurut beberapa

pendapat antara lain :

a. Abortus merupakan berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada

atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum

mampu untuk hidup diluar kandungan (Saifuddin., A. B. 2001, Hal 145).

b. Abortus merupakan pengakhiran kehamilan dengan cara apapun sebelum janin

cukup berkembang untuk dapat hidup diluar kandungan. Defenisi lain yang

digunakan secara umum adalah kelahiran janin-neonatus yang beratnya kurang dari

500 gram (Cunningham, Mac Donald, Gant, 1995).

c. Abortus merupakan terhentinya proses kehamilan sebelum berumur 28 minggu atau

berat janin 1000 gram (Manuaba, I.B.G. 1998. Hal 214).

d. Abortus merupakan suatu proses berhentinya suatu kehamilan, dimana janin belum

mampu hidup diluar rahim (viable) dengan criteria usia kehamilan < 20 minggu atau

berat badan janin < 500 gram (Achadiat, M. C. 2004. Hal 26)
e. Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar

kandungan. Dibawah ini dikemukakan beberapa defenisi para ahli tentang abortus :

EASTMAN : Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup

hidup sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya

terletak antara 400-1000 gram, atau sisa kehamilan kurang dari 28 minggu.

JEFFCOAT : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 minggu,

yaitu fetus belum Viable by law.

HOLMER : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16, dimana proses

plasentasi belum selesai (Mochtar, 1998, Hal 209).

Berdasarkan beberapa defenisi tentang abortus diatas maka penulis

menyimpulkan bahwa abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum janin dapat

hidup diluar kandungan pada umur kehamilan < 20 minggu dengan berat badan

janin < 500 gr.

2. Klasifikasi Abortus (Mochtar, R. 1998. Hal 211)

Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan :

a. Abortus spontan

Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun

medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.

Abortus spontan terbagi atas :

1) Abortus imminens (keguguran membakat dan akan terjadi)

Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obat

hormonal dan antispasmodika serta istirahat.

2) Abortus insipiens (keguguran yang sedang berlangsung)

Abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang

teraba. Kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.
3) Abortus Inkomplit (keguguran bersisa)

Hanya sebagian dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah

desidua atau plasenta.

4) Missed Abortion

Keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak

dikeluarkan selama dua bulan lebih.

5) Abortus komplit (keguguran lengkap)

Seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim

kosong.

6) Abortus habitualis (keguguran yang berulang)

Artinya keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau

lebih.

7) Abortus infeksiosa dan Abortus Septik

Abortus Infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi genetalia sedangkan abortus

septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau

toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.

b. Abortus Provokatus adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-

obatan maupun alat-alat yang dapat dibagi menjadi:

1) Abortus medisinalis (abortus therapeutica)

Artinya abortus pada tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan

dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis).

2) Abortus kriminalis

Artinya abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau

tidak berdasarkan indikasi medis.

3. Etiologi Abortus (Wiknjosastro, H. 2005. Hal 303)
Penyebab keguguran sebagian besar tidak di ketahui secara pasti, tetapi

terdapat beberapa sebab antara lain :

a. Faktor pertumbuhan hasil konsepsi

Ini dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan

kematian mudigah pada hamil muda.

Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :

1) Kelainan kromosom

Gangguan yang terjadi sejak semula pertemuan kromosom terutama ditemukan

pada trisomi autosom.

2) Faktor lingkungan endometrium

a) Endometrium yang belum siap untuk menerima hasil konsepsi terganggu.

b) Gizi ibu kurang

3) Pengaruh dari luar

a) Infeksi endometrium, endometrium tidak siap untuk menerima hasil konsepsi.

b) Hasil konsepsi dipengaruhi oleh radiasi dan obat menyebabkan pertumbuhan janin

terganggu.

b. Kelainan plasenta

Endarteritis dapat terjadi dalam villi korialis dan menyebabkan oksigenasi plasenta

terganggu sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin.

Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi.

c. Penyakit ibu

Penyakit secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan

melalui placenta yaitu penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria,

syphilis. Toxin, bakteri, virus, atau plasmodium sehinggga menyebabkan kematian

janin dan terjadi abortus.
d. Kelainan traktus genitalis

Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan

abortus.

4. Patofisiologi Abortus (Wiknjosastro, H. 2002. Hal 303-304)

Gejala awal yang di timbulkan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis

yang diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya yang menyebabkan hasil konsepsi

terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga bagian yang terlepas ini merupakan

benda asing dalam uterus. Ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk

mengeluarkan benda asing tersebut, oleh karena adanya kontraksi uterus maka

akan memberi gejala umum berupa nyeri perut karena kontraksi disertai perdarahan

dan pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan

seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua lebih dalam. Pada

kehamilan antara 8 – 14 minggu villi korialis menembus desidua lebih dalam,

sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan

banyak perdarahan. Pada kehamilan  14 minggu yang dikeluarkan setelah ketuban

pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak

banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap.

5. Komplikasi Abortus (Wiknjosastro, H. 2002. Hal 311-312)

Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi,

infeksi, dan syok.

a. Perdarahan

Diatasi dengan pengosongan uterus dan sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu

pemberian transfusi darah. Kematian yang disebabkan oleh perdarahan dapat terjadi

apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
b. Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi

hiperretrofleksi. Jika peristiwa ini terjadi penderita perlu diamati dengan teliti. Jika

ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan

bentuk peforasi, penjahitan luka operasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus

pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam menimbulkan persoalan gawat

karena perlukaan lebih luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih

atau usus. Dengan adanya dugaan terjadinya perforasi, laparatomi harus segera

dilakukan.

c. Infeksi

Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi tiap abortus, tetapi biasanya

ditemukan abortus inkomplit dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan

tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila infeksi menyebar lebih jauh

terjadilah peritonitis umum atau sepsis dengan kemungkinan diikuti syok.

d. Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena

infeksi berat (syok endoseptik).

6. Diagnosis Abortus (Wiknjosastro, H. 2002. Hal 304)

Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh

tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, rasa mules,

kecurigaan tersebut diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada

pemeriksaan bimanual dengan tes kehamilan secara biologis atau imunologik. Harus

diperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks dan adanya

jaringan dalam kavum uteri atau vagina.
Abortus inkomplit diduga bila pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis

terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah

menonjol dari ostium uteri eksternum. Perdarahan pada abortus inkomplit dapat

banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti

sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan.

Tabel : Diagnosa Perdarahan Kehamilan Muda
Perdarahan Serviks Uterus Gejala/Tanda Diagnosa
Bercak Tertutup Sesuai Keram perut Abortus
hingga dengan bawah Imminens
sedang usia gestasi
Sedikit Limbung atau Kehamilan
membesar pinsan, Nyeri Ektopik
dari normal perut bawah, terganggu
Nyeri goyang
porsio, Massa
Adneksa,
Cairan bebas
intraabdominal
Tertutup/Terbuka Lebih kecil Sedikit/tanpa Abortus
usia gestasi nyeri perut Inkomplit
bawah,
Riwayat
ekspulsi hasil
konsepsi
Sedang Terbuka Sesuai usia Kram atau Abortus
hingga kehamilan nyeri perut Insipiens
banyak bawah belum
terjadi ekspulsi
hasil konsepsi
Kram atau Aborus
nteri perut Inkomplit
bawah,
Ekspulsi
sebagian hasil
konsepsi
Terbuka Lunak dan Mual muntah, Abortus
lebih besar Kram perut mola
dari usia bawah, tak
ggestasi ada janin,
keluar jaringan
seperti anggur
Sumber, Saifuddin, A.B. 2002. Hal ……

7. Gambaran Klinis Abortus Inkomplit (Mochtar, R. 1998. Hal 212)

a. Gambaran klinis yang biasa terjadi :

(1) Amenoroe

(2) Perdarahan pervaginam

(3) Sakit perut dan mules-mules

(4) Tes kehamilan menunjukkan positif

(5) Pada pemeriksaan dalam dijumpai gambaran berupa :

(a) Kanalis servikalis terbuka kadang tidak

(b) Dapat diraba jaringan dalam rahim atau kanalis servikalis.

8. Penanganan Umum Abortus (Saifuddin, A.B. 2002. Hal 145-146)

a. Lakukan penilaian secara cepat mengenai keadaan umum pasien, termasuk tanda-

tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu).

b. Periksa tanda-tanda syok (pucat dan berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik

kurang dari 90 mmHg, nadi lebih 112 x/ menit).

c. Jika dicurigai terjadi syok, segera mulai penanganan syok. Jika tidak terlihat tanda-

tanda syok, tetap pikirkan kemungkinan tersebut saat penolong melakukan evaluasi

mengenai kondisi wanita karena kondisinya dapat memburuk dengan cepat.

d. Pasang infus dengan jarum infus besar (16 G atau lebih besar), berikan larutan

garam fisiologik atau ringer laktat dengan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam

pertama).
9. Penanganan Abortus Inkomplit (Saifuddin, A.B. 2002. Hal M-

13)

a. Menentukan besar uterus, kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat,

syok dan sepsis).

b. Bila perdarahan tidak banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu, lakukan

evakuasi secara digital atau cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi.

c. Bila perdarahan berhenti beri ergometrin 0,2 mg / IM atau Misoprostol 400 gram/oral.

d. Bila perdarahan banyak dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu evakuasi sisa

hasil konsepsi dengan :

(1) Aspirasi vakum manual (AVM)

Merupakan metode evakuasi yang dipilih. Jika aspirasi vakum tidak tersedia

evakuasi dilakukan dengan kuret tajam.

(2) Bila evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg/IM (diulangi

setiap menit jika perlu) atau misorostol 400 gram/oral (dapat diulangi setelah 4 jam

atau jika perlu)

e. Kehamilan lebih dan 16 minggu :

(1) Infus oksitoksin 20 unit dalam 500cc cairan IV (garam fisiologik/Ringer Laktat)

dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi.

(2) Jika perlu berikan misoprostol 200 mg/vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi

hasil konsepsi (maksimal 800 mg)

(3) Evakuasi sisa konsepsi yang tertinggal dalam uterus.

a. Bila tidak ada tanda-tanda infeksi beri antibiotika profilaksis (sulbenisillin 2 gram/IM

atau sefuroksim 1 gram oral).

b. Bila terjadi infeksi beri ampicillin 1 gram dan Metrodidazol 500mg setiap 8 jam.
c. Bila pasien tampak anemik, berikan sulfasferosus 600 mg/hari selama 2 minggu

(anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat).

Pada beberapa kasus abortus inkomplit erat kaitannya dengan abortus risiko tinggi,

oleh sebab itu perlu diperhatikan hal sebagai berikut :

1. Pastikan tidak ada komplikasi berat seperti sepsis, perforasi uterus atau cedera intra

abdomen (mual/muntah, nyeri punggung, demam, perut kembung, nyeri perut

bagian bawah, nyeri ulang lepas).

2. Bersihkan ramuan tradisional yaitu jamu, bahan kaustik, kayu atau benda-benda lain

dari region genitalia.

3. Berikan boster tetanus toxoid 0,5 ml bila tampak luka kotor pada dinding vagina atau

kanalis servikalis dan pasien pernah diimunisasi.

4. Bila riwayat pemberian imunisasi tidak jelas pemberian Tetanus Toxoid 0,5 ml

setelah 4 minggu.

Kerja (Saifuddin, A.B. 2002. Hal 441-443)

sa jaringan secara digital

Tindakan ini dilakukan untuk menolong penderita di tempat-tempat yang tidak

ada fasilitas kuretase, sekurang-kurangnya untuk menghentikan pendarahan. Hal ini

sering dilakukan pada keguguran yang sedang berlangsung (abortus insipiens) dan

abortus inkompletus.

Pembersihan secara digital hanya dapat dilakukan bila telah ada pembukaan

serviks uteri yang dapat dilalui oleh satu jari longgar dan vacum uteri cukup luas.

Caranya adalah dengan dua tangan (bimanual); jari telunjuk dengan jari tengah

tangan kanan dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk mengeluarkan hasil konsepsi,

sedangkan tangan kiri menekan korpus uteri sebagai fiksasi. Dengan kedua jari

tangan kikislah hasil konsepsi sebanyak mungkin atau sebersihnya.
sa jaringan dengan kuretase atau kerokan

Prosedur kerja kuretase adalah suatu rangkaian proses pelepasan jaringan

yang melekat pada dinding cavum uteri dengan melakukan invasi dan memanipulasi

instrument (sendok kuret). Sendok kuret akan melepas jaringan tersebut dengan

tehnik pengerokan secara sistematis.

edur kerja kuretase terdiri atas :

a) Persetujuan tindakan medik (informat counsent)

b) Persiapan pasien :

(1) Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi

(2) Cairan dan slang infus sudah terpasang, perut bagian bawah dan lipatan paha

sudah dibersihkan dengan air dan sabun.

(3) Uji fungsi kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmuner

(4) Siapkan kain alas bokong, sarung kaki dan penutup perut bawah

(5) Medikamentosa :

(a) Analgetika (pethidin 1-2 mg/kg BB, ketamin HCL 0,5 mg/kg BB, tramadol 1-2 mg/kg

BB).

(b) Sedativa (diazepam 10 mg)

(c) Atropiny sulfas 0,25 – 0,50 mg/ml

(d) Oksitoksin 1 amp dan ergometrin 1 amp

(6) Larutan bethadine

(7) Oksigen dengan regulator

(8) Instrument :

(a) Speculum sims 2 buah

(b) Cunam tampong 1 buah

(c) Cunam peluru atau tenakulum 1 buah
(d) Sonde uterus 1 buah

(e) Dilatator 1 set

(f) Kuret tajam 1 buah dan kuret tumpul 1 buah

(g) Klem ovum (penster) 1 buah lurus dan lengkung 1 buah

(h) Sendok kuret 1 set

(i) Kateter karet 1 buah

(j) Spoit 3 cc sekali pakai 2 buah

(k) Kain kasa dan kapas steril

(l) Doek steril 2 buah

(m) Mangkok logam 2 buah

(n) Ember penampung darah dan jaringan 1 buah

(o) Ember yang berisikan larutan klorin 0,5 %

(p) Lampu sorot 1 buah

c) Penolong (operator dan asisten)

(1) Baju kamar tindakan, apron, masker dan kacamata pelindung.

(2) Sarung tangan DTT/steril 2 pasang

(3) Alas kaki (sepatu/bot karet) 2 pasang

2) Tindakan :

a) Instruksikan asisten untuk memberikan sedatif dan analgetik (dokter Obgyn)

b) Lakukan kateterisasi kandung kemih

c) Lakukan pemeriksaan bimanual ulangan untuk menentukan serviks, besar, arah dan

konsistensi uterus.

d) Bersihkan lakukan dekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin 0,5 %.

e) Pakai sarung tagan DTT / steril yang baru
f) Satu tangan masukkan speculum sim’s / L secara vertikal kedalam vagina setelah itu

putar kebawah sehingga posisi bilah menjadi transversal.

g) Minta asisten untuk menahan spekulum bawah pada posisinya.

h) Dengan sedikit menarik spekulum bawah hingga (lumen vagina tampak jelas)

masukkan bilah speculum secara vertikal kemudian putar dan tarik keatas hingga

jelas terlihat serviks.

i) Minta asisten untuk memegang spekulum atas pada posisinya.

j) Bersihkan jaringan dan darah dalam vagina (dengan kapas antiseptik yang dijepit

dengan cunam tampon). Tentukan bagian serviks yang akan dijepit (jam 11.00 dan

13.00).

k) Jepit serviks dengan tenakulum pada tempat yang telah ditentukan.

l) Setelah penjepitan terpasang dengan baik, keluarkan spekulum atas.

m) Lakukan pemeriksaan kedalaman dan lengkung uterus dengan sonde uterus.

Pegang gagang tenakulum, masukkan klem ovum yang sesuai dengan pembukaan

serviks hingga mengentuh fundus.

n) Pegang gagang sendok kuret dengan ibu jari dan telunjuk, masukkan ujung sendok

kuret melalui kanalis servikalis kedalam uterus hingga menyentuh fundus uteri.

o) Lakukan kerokan dinding uterus secara sistematis dan searah jarum jam hingga

bersih.

p) Keluarkan semua jaringan dan bersihkan darah yang menggenangi lumen vagina

bagian belakang.

q) Lepaskan jepitan tenakulum pada serviks.

r) Lepaskan spekulum bagian bawah.

s) Kumpulkan jaringan untuk dikirim ke laboratorium patologi

t) Beritahukan kepada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai dilakukan.
3) Pasca tindakan :

a) Periksa kembali tanda-tanda vital pasien segera lakukan tindikan apabila terjadi

kelainan/ komplikasi

b) Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan (dokter) didalam kolom yang tersedia.

c) Lanjutkan pengobatan dan pemantapan kondisi pasien.

B. Proses Kebidanan (Simatupang, E. J. 2006. Hal 7)

1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan

Manajemen asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang

digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan

berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keteramilan dalam rangkaian logis.

2. Tahapan Manajemen Kebidanan (Varney, 1997. Hal 25-27)

Proses manajemen kebidanan terdiri dari tujuh langkah asuhan kebidanan

yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi.

Tahapan dalam proses manajemen asuhan kebidanan ada tujuh langkah

yaitu :

a. Pengkajian dan Analisa Data Dasar

Pengumpulan data dasar yang lengkap untuk menilai keadaan klien. Data

ini termasuk data dasar adalah riwayat kesehatan klien, pemeriksaan fisik, dan

catatan riwayat kesehatan yang lalu dan sekarang, pemeriksaan laboratorium.

Semua data tersebut diatas harus memberikan informasi saling berhubungan dari

semua sumber dan menggambarkan kondisi ibu yang sebenarnya.

. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Menginterpretasikan data secara spesifik mengenai diagnosa dan masalah.

Kata diagnosa dan masalah selalu digunakan keduanya namun mempunyai

pengertian yang berbeda. Masalah lebih sering berhubungan dengan apa yang

dialami oleh seseorang menguraikan suatu kenyataan yang ia rasakan sebagai

suatu masalah sedangkan diagnosa lebih sering diidentifikasi oleh bidan dengan

berfokus pada apa yang dikemukakan oleh ibu secara individual.

. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial

Pada tahap ini, mengantisipasi masalah potensial yang mungkin terjadi atau

yang akan dialami oleh ibu bila tidak mendapat penanganan yang dilakukan melalui

pengamatan cermat, observasi secara akurat dan persiapan untuk segala sesuatu

yang dapat terjadi.

. Tindakan Segera dan kolaborasi

Menggambarkan sifat proses kebidanan secara terus menerus tidak hanya

dalam pemberian pelayanan dasar tetapi bidan dapat melakukan tindakan

emergency sesuai kewenangannya, kolaborasi maupun konsultasi untuk

menyelematkan ibu atau janinnya. Bidan mengevaluasi setiap keadaan ibu untuk

menentukan tindakan selanjutnya.

. Rencana Asuhan Kebidanan

Pengembangan suatu rencanan tindakan komprehensif yang ditentukan

pada langkah sebelumnya, juga antisipasi diagnosa dan masalah yang didasari atas

rasional tindakan yang relevan yang diakui kebenarannya, sesuai dengan kondisi

dan situasi yang seharusnya dikerjakan atau tidak oleh bidan. Agar efektifnya

rencana harus ada persetujuan oleh bidan dan klien, oleh sebab itu sebelumnya

harus terlebih dahulu didiskusikan dengan klien.

Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan
Pelaksanaan rencana asuhan kebidanan (implementasi) kebidanan

dilaksanakan oleh bidan dan sebagian dilaksanakan oleh ibu sendiri, bidan dan

anggota tim kesehatan lainnya berdasarkan rencana yang ditetapkan.

. Evaluasi Asuhan Kebidanan

Langkah akhir kebidanan adalah evaluasi, namun sebenarnya evaluasi ini

dilakukan pada setiap langkah kebidanan. Pada tahap evaluasi, bidan harus

mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan kebidanan yang diberikan kepada

klien.

3. Pendokumentasian asuhan kebidanan (SOAP) ( Simatupang, E. J. 2006.

Hal 60-61)

Data atau fakta yang merupakan informasi termasuk biodata, mencakup nama,

umur, tempat tinggal, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan serta keluhan-

keluhan yang diperoleh dari hasil wawancara langsung pada pasien atau keluarga

dan tenaga kesehatan lainnya.

b. Data Objektif

Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi,

auskultasi, perkusi, serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium.

nosa

Merupakan keputusan yang ditegakkan dari hasil perumusan masalah yang

mencakup kondisi, masalah dan prediksi terhadap kondisi tersebut. Penegakan

diagnosa kebidanan dijadikan sebagai dasar tindakan dalam upaya menanggulangi

ancaman keselamatan pasien ibu

canaan
Rencana kegiatan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan

dalam melakukan intervensi untuk memecahkan maslaah pasien/klien.

3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan

Tabel 1 : Pendokumentasian Manajemen Asuhan kebidanan.

Proses

Manajemen

Kebidanan

Pencatatan dari

Asuhan kebidanan

Pendokumentasian

Asuhan kebidanan

Alur Pikir Bidan

7 Langkah dari 5 Langkah Soap Notes
Helen Varney Kompetens Bidan
Subjektif
1. Pengumpulan data Data Objektif

2. Merumuskan diagnosa Assesment/ Assesment/
Diagnosa Diagnosa
3. Antisipasi
diagnosa/Masalah
potensial

4. Tindakan segera dan
kolaborasi asuhan
kebidanan

5. Rencana tindakan Membuat rencana Planning :
asuhan kebidanan a. Konsul
b. Tes lab
6. Implementasi Implementasi c. Rujukan
d.
7. Evaluasi Evaluasi Pendidikan/konselin
g
e. Follow up

Sumber : Simatupang E.J, ”Penerapan Unsur-Unsur Manajemen Dalam Praktik Kebidanan”, 2006,

BAB III

STUDI KASUS

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “S” UMUR KEHAMILAN 13
MINGGU EMPAT HARI DENGAN ABORTUS INKOMPLIT
DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SYEKH YUSUF GOWA
TANGGAL 19 DAN 20 MARET 2007

No. Register : 105346

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 19 Maret 2007 jam 08.20 wita

Tanggal Pengkajian : 19 Maret 2007 jam 08.20 wita

A. Langkah 1. Pengumpulan Data
1. Identitas Ibu / Suami

a. Nama : Ny “S” / Tn “L”

b. Umur : 30 tahun / 31 tahun

c. Nikah : 1 kali / ± 8 tahun

d. Suku : Makassar / Makassar

e. Agama : Islam / Islam

f. Pendidikan : SD / SMP

g. Pekerjaan : IRT / Wiraswasta

h. Alamat : Jl. Pallanga Toddo Toa No. 24

2. Riwayat Kehamilan sekarang

a. Ibu mengeluh keluar darah dari jalan lahir sedikit-sedikit kemudian banyak

bergumpal berwarna merah kehitaman ± 2 sarung disertai nyeri perut bagian bawah

sejak tanggal 18 Maret 2007 jam 23. 10 wita setelah seharian membersihkan rumah

b. Ibu tidak pernah ke dukun dan tidak pernah meminum obat-obatan dan jamu tanpa

resep dokter.

c. Ibu mengatakan hamil yang ke tiga dan tidak pernah keguguran sebelumnya (GIII PII

A0).

d. Ibu mengatakan HPHT tanggal 14-12-2006.

e. Ibu mengatakan umur kehamilannya 3 bulan lebih.

f. Siklus haid 28-30 hari, lamanya 7 hari dan tidak ada nyeri haid.

g. Ibu makan 3 kali sehari menunya seperti nasi, ikan, sayur, tempe, tahu, buah-

buahan seperti jeruk, pisang, minum air 6-8 gelas sehari dan kadang minum segelas

susu.
h. Ibu mengatakan tidak ada gangguan eleminasi BAB dan BAK (BAB 1-2 kali sehari

warna kuning, konsistensi lunak, bau khas. BAK 3-4 kali sehari, warna kuning, bau

pesing).

i. Ibu mandi 2 kali sehari, mengosok gigi pagi hari dan sebelum tidur, keramas 2 kali

seminggu.

j. Ibu tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 6-8 jam

k. Ibu mengatakan tidak pernah melakukan hubungan seksual selama hamil.

l.

Ibu belum pernah memeriksakan kehamilannya dan belum pernah mendapat
imunisasi TT.
m. Usaha ibu untuk mengatasi keluhan dengan istirahat baring.

3. Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas Yang Lalu Dan Sekarang.

Kehamilan Persalinan Nifas
Tgl Umur Pen- Je-nis Penolon BB/ Kea- Pen- Kea- Menyusu Pen-

Lahi yulit g PB daan yulit daan i yulit

r gr/cm
12- Aterm Tidak Norma Bidan 3000/5 Seha Tidak Seha ± 2 tahun Tidak

02- (38 mgg) ada l 0 t ada t ada

199

7
25- Aterm Tidak Norma Bidan 2900/4 Seha Tidak Seha ± 2 tahun Tidak

07- (37 mgg ada l 9 t ada t ada

200

1
19- Kehami-

03- lan

200 Sekaran

7 g

4. Riwayat Kesehatan / Penyakit Yang Diderita Sekarang Dan Lalu
a. Tidak ada riwayat penyakit jantung, hipertensi, malaria dan diabetes mellitus.

b. Tidak ada riwayat operasi dan transfusi darah.

c. Tidak ada riwayat alergi obat-obatan, makanan maupun minuman.

d. Tidak ada riwayat ketergantungan obat-obatan dan alkohol.

5. Riwayat Psikososial, Spiritual, dan Ekonomi

entang bagaimana keadaannya.

b. Ibu khawatir dengan kehamilannya.

c. Hubungan Ibu dengan keluarga dan petugas baik.

d. Ibu dan keluarga ingin cepat ditolong dan cepat sembuh

e. Ibu dan keluarga taat beribadah, rajin berdoa agar keadaannya cepat membaik dan

keluar dari rumah sakit.

f. Suami yang mengambil keputusan dalam keluarga

g. Ibu yang mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah

h. Ibu dan suaminya tinggal dirumah sendiri

i. Suami yang mencari nafkah untuk keluarganya

iksaan Fisik

a. Keadaan Umum : Ibu nampak lemah

b. Kesadaran : composmentis

: 155 cm

Berat Badan : 50 kg

d. Tanda-tanda vital

1) Tekanan darah : 110/80 mmHg

2) Nadi : 89 x/menit

3) Suhu badan : 37 °C

4) Pernafasan : 20x/menit
e. Keadaan rambut bersih tidak mudah rontok dan berwarna hitam

f. Ekspresi wajah meringgis menahan sakit, tidak oedema dan tidak ada cloasma

gravidarum.

g. Konjungtiva merah muda dan tidak ada ikterus

h. Gigi bersih tidak ada yang tanggal dan tidak ada karies gigi, gusi merah muda

i. Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe dan vena jugularis

j. Payudara simetris kiri kanan, puting susu terbentuk, tampak hiperpigmentasi areola,

tidak ada massa dan benjolan, belum ada colostrum bila dipencet.

k. Abdomen tampak striae albicans dan linea nigra, tidak ada bekas operasi, tinggi

fundus uteri 2 jari diatas sympisis dan ada nyeri tekan pada daerah sympisis.

l. Ekstremitas bawah simetris kiri kanan, varises dan oedema tidak ada, refleks patella

positif kiri kanan.

m. Tampak keluar darah dari vagina dan tidak ada varises

n. Anus tidak ada hemoroid dan varises

o. Pemeriksaan dalam oleh dokter “R” tanggal 19-03-2007 jam 08.25 wita

a kelainan

2) Portio : Lunak

3) OUE / OUI : Terbuka 2 cm

D / CD : Antefleksi, uterus membesar sesuai umur kehamilan

5) Pelepasan : Darah dan sisa jaringan

p. Pemeriksaan laboratorium oleh petugas laboratorium jam 08.30 wita

no test : (+)

2) Haemoglobin : 10,8 gr% (normal 12-14 gr%)

ukosit : 7.540 (normal 5-10 ribu )

rombosit : 224.000 / mm3 (normal 150 -400 ribu /mm3)
B. Langkah 2 . Identifikasi Diagnosa / Masalah Aktual

GIII PII A0, umur kehamilan 13 minggu empat hari, dengan abortus inkomplit

dan kecemasan.

GIII PII A0, umur kehamilan 13 minggu empat hari

Data Dasar :

engatakan ini kehamilan yang ketiga

engatakan HPHT tanggal 14-12-2006

engatakan umur kehamilannya 3 bulan lebih

1) Tampak striae albicans, linea nigra dan tidak ada bekas operasi.

t perut kendor

3) Perut membesar sesuai umur kehamilan (TFU 2 jari bawah pusat).

c. Analisis dan Interpretasi

1) Menurut Rumus Neagle dari HPHT tanggal 14-12-2006 sampai pengkajian tanggal

19-03-2006 umur kehamilan sekarang 13 minggu empat hari. (Mochtar, R. 1998. Hal

48)

2) Adanya pengaruh hormon MSH yang meningkat pada kehamilan menyebabkan

linea alba menjadi hitam yang dikenal dengan linea nigra. Tidak jarang dijumpai kulit

perut seolah -olah retak- retak warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan

yang disebut striae livide yang biasanya muncul pada primigraviada, setelah partus

akan berubah warna menjadi putih yang disebut striae albicans yang muncul pada

multigravida (Wiknjosastro, H. 2005. Hal 97-98).
3) Tonos otot perut yang kendor menandakan uterus sudah pernah mengalami

pembesaran sebelumnya (Mochtar, R. 1998. Hal 46)

4) Membesarnya uterus disebabkan oleh pengaruh hormon ekstrogen dan

progesteron yang kadarnya meningkat yang disebabkan oleh hipertropi otot-otot

polos uterus (Wiknjosastro, H. 2005. Hal 89)

2. Abortus Inkomplit

Data Dasar :

1) Ibu mengeluh keluar darah dari jalan lahir sedikit-sedikit kemudian banyak

bergumpal berwarna merah kehitaman ± 2 sarung disertai nyeri perut bagian bawah

sejak tanggal 18 Maret 2007 jam 23. 10 wita setelah seharian membersihkan rumah.

2) Ibu yang mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah.

b. Objektif

1) Tampak keluar darah dari vagina dan tidak ada varises

2) Tampak ekspresi wajah ibu meringgis kesakitan

3) Pemeriksaan dalam oleh dokter “R” tanggal 19-03-2007 jam 08.25 wita

a) Vagina : Tidak ada kelainan

b) Portio : Lunak

c) OUE / OUI : Terbuka 2 cm

CD : Antefleksi, uterus membesar sesuai umur kehamilan

e) Pelepasan : Darah dan sisa jaringan

c. Analisa dan interpretasi

Wanita hamil muda yang aktifitas kesehariannya padat sangat rentang terhadap

terjadinya abortus karena menyebabkab ibu kelelahan sehingga mempengaruhi

kondisi fisik ibu, dengan adanya rasa lelah atau capek bisa merangsang uterus
berkontraksi akibatnya terjadi perdarahan dalam desidua basalis yang diikuti oleh

nekrosis jaringan sekitarnya yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian

atau seluruhnya, sehingga bagian yang terlepas merupakan benda asing dalam

uterus menyebabkan uterus berkontraksi mengeluarkan isinya, oleh karena adanya

kontraksi uterus maka akan memberi rasa nyeri perut disertai dengan perdarahan

dan pengeluran seluruh atau sebagian hasil konsepsi (Wikjosastro, H. 2005. Hal

303).

3. Kecemasan

Data Dasar :

a. Subjektif

1) Ibu mengatakan khawatir dengan kehamilannya.

2) Ibu sering menanyakan tentang keadaan dirinya dan janinnya.

b. Objektif

Tampak ekspresi wajah ibu cemas.

c. Analisa dan interpretasi

Keadaan yang dirasakan ibu menjadi stressor yang mempengaruhi saraf sympatis

sehingga merangsang hypothalamus untuk melepaskan norephinefrin yang bekerja

pada adrenergik pada sel-sel efektor sehingga meningkatkan hormon-hormon

korteks adrenal, yang menimbulkan kekhawatiran yang diekspresikan dengan

perasaan cemas (Elisabeth, C. Corwin, 2002).

C. Langkah 3. Antisipasi Diagnosa / Masalah Potensial

Potensial terjadinya Infeksi Jalan Lahir

Data Dasar
1) Ibu mengeluh keluar darah dari jalan lahir sedikit-sedikit kemudian banyak

bergumpal berwarna merah kehitaman ± 2 sarung disertai nyeri perut bagian bawah

sejak tanggal 18 Maret 2007 jam 23. 10 wita setelah seharian membersihkan

rumah.

b. Objektif

1) Tampak keluar darah dari jalan lahir berwarnah merah kehitaman

2) Tampak daerah genetalia dan anus ibu kotor dengan sisa-sisa darah

3) Tanda-tanda vital

a) Tekanan darah : 110/80 mmHg

b) Nadi : 89 x/m

c) Suhu : 37°C

d) Pernafasan : 20 x/m

4) Pemeriksaan TFU 2 jari atas sympisis

5) Pemeriksaan dalam oleh dokter “R” tanggal 19-03-2007 jam 08.25 wita

a) Vagina : Tidak ada kelainan

b) Portio : Lunak

c) OUE / OUI : Terbuka 2 cm

D / CD : Antefleksi, uterus membesar sesuai umur kehamilan

e) Pelepasan : Darah dan sisa jaringan

c. Analisa dan Interpretasi

Hasil konsepsi yang masih tertinggal dan adanya perlukaan dalam uterus, serta

darah dan stolse yang tertinggal didalam vagina merupakan media tempat

berkembangnya mikroorganisme penyebab infeksi (Mochtar, R. 1998)

D. Langkah 4. Perlunya Tindakan Segera / Kolaborasi

Tanggal 19-03-2007 jam 08.25 wita
1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan infus Ringer Laktat dengan

pitogin 20 unit secara IV 16 tetes /menit.

2. Rencana kuret jam 11.20 wita

3. Pemberian injeksi TT 0,5 ml secara IM

gkah 5. Rencana Asuhan Kebidanan

1. GIII PII A0,umur kehamilan 13 minggu empat hari, dengan abortus inkomplit,

kecemasan dan potensial terjadi infeksi jalan lahir.

a. Tujuan :

Keadaan umum ibu baik dan abortus inkomplit dapat teratasi.

Kecemasan dapat teratasi.

Infeksi jalan lahir tidak terjadi.

b. Kriteria :

1) Sisa jaringan dapat dikeluarkan seluruhnya dengan kuretase

2) Perdarahan berkurang dan kontraksi uterus baik

3) Tanda-tanda vital dalam batas normal

a) Sistole 110-130 mmHg Diastole 70-90 mmHg

b) Nadi 60-90 x/m

c) Suhu 36,5°C – 37,5°C

d) Pernapasan 16-24 x/m

4) Ekspresi wajah ibu tampak tenang dan cerah

5) Pengeluaran darah post kuret tidak berbau

c. Rencana Tindakan

1) Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital serta perdarahan
Rasional :

Dengan observasi untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan kearah atau

penyimpangan dari hasil yang diharapkan serta mengetahui jumlah perdarahan agar

memudahkan dalam penanganan selanjutnya.

2) Beri penjelasan tentang penyebab perdarahan, nyeri pada perut bagian bawah dan

anjurkan teknik relaksasi bila timbul rasa nyeri.

Rasional :

Agar ibu dapat mengerti bahwa sumber dari perdarahan yang dialaminya, nyeri

yang dirasakan akibat dari kontraksi uterus dan teknik relaksasi sebagai salah satu

upaya mengalihkan perhatian ibu terhadap rasa sakit/nyeri.

3) Bantu klien mengatur posisi yang nyaman sesuai dengan kebutuhan klien.

Rasional :

Dengan posis yang diinginkan akan memberikan rasa nyaman pada klien.

4) Sarankan atau libatkan orang terdekat dengan ibu selama perawatan.

Rasional :

Ibu akan merasa aman bila berada didekat/disamping orang terdekat sehingga

mengurangi kecemasan.

5) Beri dorongan spiritual

Rasional :

Ibu dapat memahami bahwa manusia hanya berusaha namun Tuhan yang

menentukan.

6) Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang pentingnya dilakukan kuret dan minta

persetujuan untuk melakukan tindakan (Informet Consent).

Rasional :
Dengan menjelaskan kepada ibu dan keluarganya diharapkan dapat menyetujui

rencana tindakan kuret agar ibu dapat menyiapkan fisik dan psikis, sekaligus

sebagai pernyataan persetujuan dari klien/keluarga untuk tindakan yang akan

dilakukan dan sebagai perlindungan hukum bagi dokter dan bidan dalam

melaksanakan tindakan.

7) Kolaborasi dengan dokter untuk perencanaan tindakan kuret

Rasional :

Segala sesuatu yang akan dibutuhkan selama proses kuretase sudah tersedia

sesuai dengan instruksi dokter.

8) Siapkan alat kuret secara ergonomis

Rasional :

Memperlancar dalam proses kerja kuretase

6. Penatalaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

Tanggal 19-03-2007 jam 08.25 wita

1. Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital serta perdarahan.

2. Menjelaskan tentang penyebab perdarahan, nyeri pada perut bagian bawah dan

menganjurkan teknik relaksasi bila timbul rasa nyeri.

3. Membantu ibu mengatur posisi yang nyaman sesuai dengan kebutuhan ibu.

4. Melibatkan keluarga pasien selama proses perawatan berlangsung

5. Memberikan dorongan spiritual

6. Menjelaskan kepada ibu atau keluarga tentang pentingya dilakukan kuret dan

meminta persetujuan tindakan pada keluarga dan pasien sendiri (Informet Consent).

7. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk perencanaan tindakan kuret.

8. Menyiapkan alat kuret sesuai dengan prosedur kerja :

a. Persiapan pasien
1) Jam 11.10 wita infus terpasang dengan cairan Ringer Laktat 500 ml dengan tetesan

28 tetes/menit botol, lipatan paha dan perut sudah dibersihkan dengan air dan

sabun.

b. Persiapan obat-obatan

1) Medikamantosa

algetik (Tramadol 1-2 mg/kg BB)

b) Oksitosin 20 unit (2 ampul)

c) Ergometrin 0,2 mg (2 ampul).

c. Persiapan instrument

1) Spekulum sims 2 buah

2) Tampong Tang 1 buah

3) Tenakulum 1 buah

4) Sonde uterus 1 buah

5) Kuret tajam 1 buah dan kuret tumpul 1 buah

6) Kateter karet 1 buah

7) Spoit 3 cc sekali pakai 2 buah

8) Kain kasa dan kapas steril

9) Doek steril 2 buah

10) Mangkok logam 2 buah

11) Ember penampung darah dan jaringan 1 buah

12) Ember berisi larutan klorin 0,5 %.

13) Larutan bethadine

14) Lampu sorot 1 buah

d. Persiapan penolong (operator dan asisten)

1) Baju kamar tindakan, apron, dan masker
2) Sarung tangan DTT/steril 2 pasang

3) Alas kaki (sepatu / boot karet) 2 pasang

e. Tindakan Kuretase yang dilakukan oleh Dokter “R” jam 11.20 wita

1) Jam 11.15 wita untuk memberikan drips oksitosin 10 unit (1 ampul) dan tramadol 1

mg/kg BB dalam cairan infus yang sudah terpasang.

2) Jam 11.18 wita memberikan injeksi tramadol 1 mg/ kg BB secara IV.

3) Kateterisasi kandung kemih

4) Pemeriksaan bimanual ulang untuk menentukan serviks, besar arah, dan konsistensi

uterus.

5) Satu tangan memasukkan spekulum sims/L secara vertikal kedalam vagina setelah

itu putar kebawah sehingga posisi bilah menjadi tranversal

6) Asisten menahan spekulum bawah pada posisinya

7) Menarik spekulum bawah hingga lumen vagina tampak jelas memasukkan bilah

spekulum secara vertikal kemudian putar dan tarik keatas hingga jelas terlihat

serviks

8) Asisten memegang spekulum atas pada posisinya

9) Membersihkan jaringan dan darah dalam vagina (dengan kapas yang dijepit dengan

cunam tampon). Menentukan bagian yang akan dijepit

10) Menjepit serviks dengan tenakulum pada jam 11.00

11) Setelah penjepitan terpasang dengan baik, mengeluarkan spekulum atas.

12) Melakukan pemeriksaan kedalaman dan dan bentuk uterus dengan sonde uterus.

13) Memegang gagang sendok kuret dengan ibu jari dan telunjuk, memasukkan ujung

sendok kuret melalui kanalis servikalis kedalam uterus hingga menyentuh fundus

uteri
14) Melakukan kerokan dinding uterus secara sistematis di mulai dengan menggunakan

abortik tang, kuret tumpul dan diakhiri dengan kuret tajam (pada saat peralihan kuret

tumpul ke kuret tajam minta asisten memberikan injeksi oksitosin 10 unit +

ergometrin 0,2 mg secara IM).

15) Mengeluarkan semua jaringan dan membersihkan darah yang menggenangi vagina

bagian belakang

16) Melepaskan jepitan tenakulum pada serviks

17) Melepaskan spekulum bagian bawah

18) Membersihkan ibu dari sisa darah

7. Evaluasi Asuhan Kebidanan

Tanggal 19-03-2007 jam 11.40 wita

1. Jaringan dapat dikeluarkan seluruhnya atau uterus kosong

2. TFU 2 jari atas symphisis kontraksi uterus baik

3. Perdarahan sedikit pada pembalut

4. Ekspresi wajah ibu tenang dan tidak meringis lagi

5. Tanda-tanda vital dalam batas normal dan tidak ada tanda-tanda infeksi.

a. Tekanan darah : 110/80 mmHg

b. Nadi : 80x/menit

c. Suhu badan : 370C

d. Pernafasan : 20x/menit
PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA NY“S”KEHAMILAN 13
MINGGU EMPAT HARI DENGAN ABORTUS INKOMPLIT DI RUMAH SAKIT
UMUM DAERAH SYEKH YUSUF GOWA
TANGGAL 19 MARET 2007

No. Register : 105346

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 19 Maret 2007 Jam 08.20 wita

Tanggal Pengkajian : 19 Maret 2007 jam 08.20 wita

A. Subjektif

1. Identitas Ibu / Suami

a. Nama : Ny “S” / Tn “L”

b. Umur : 30 tahun / 31 tahun

c. Nikah : 1 kali / ± 8 tahun

d. Suku : Makassar / Makassar

e. Agama : Islam / Islam

f. Pendidikan : SD / SMP

g. Pekerjaan : IRT / Wiraswasta

h. Alamat : Jl. Pallanga Toddo Toa No. 24

2. Ibu mengeluh keluar darah dari jalan lahir sedikit-sedikit kemudian banyak bergumpal

berwarna merah kehitaman ± 2 sarung disertai nyeri perut bagian bawah sejak

tanggal 18 Maret 2007 jam 23. 10 wita setelah seharian membersihkan rumah.

3. Ibu tidak pernah ke dukun dan tidak pernah meminum obat-obatan dan jamu tanpa

resep dokter.

4. Ibu mengatakan hamil yang ke tiga (GIII PII AI).

5. Ibu mengatakan HPHT tanggal 14-12-2006.

6. Ibu mengatakan umur kehamilannya 3 bulan lebih.
7. Siklus haid 28-30 hari, lamanya 7 hari dan tidak ada nyeri haid.

8. Ibu makan 3 kali sehari menunya seperti nasi, ikan, sayur, tempe, tahu, buah-

buahan seperti jeruk, pisang, minum air 6-8 gelas sehari dan kadang minum segelas

susu.

9. Ibu mengatakan tidak ada gangguan eleminasi BAB dan BAK (BAB 1-2 kali sehari

warna kuning, konsistensi lunak, bau khas. BAK 3-4 kali sehari, warna kuning, bau

pesing).

10. Ibu mandi 2 kali sehari, mengosok gigi pagi hari dan sebelum tidur, keramas 2 kali

seminggu.

11. Ibu tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 6-8 jam

12. Ibu mengatakan tidak pernah melakukan hubungan seksual selama hamil.

13. Ibu belum pernah memeriksakan kehamilannya dan belum pernah mendapat
imunisasi TT.
14. Usaha ibu untuk mengatasi keluhan dengan istirahat baring.

B. Objektif

1. Keadaan umum : Ibu tampak lemah

2. Kesadaran : composmentis

3. Tanda-tanda vital

anan darah : 110/80 mmHg

di : 89 x/menit

hu badan : 370C

nafasan : 20x/menit

4. Ekspresi wajah cemas dan meringis menahan sakit
5. Tampak keluar darah dari vagina berwarna merah kehitaman dan varises tidak ada

6. Tinggi fundus uteri 2 jari atas symphisis dan terasa nyeri bila ditekan

7. Pemeriksaan dalam oleh dokter “R” tanggal 19-03-2007 jam 08.25 wita

1) Vagina : tidak ada kelainan

2) Portio : lunak

3) OUE / OUI : terbuka 2 cm

: Antefleksi, uterus membesar sesuai umur kehamilan

5) Pelepasan : darah dan sisa jaringan

8. Pemeriksaan laboratorium oleh petugas laboratorium jam 08.35 wita

: (-)

bin : 10,8 gr% (normal 12-14 gr%)

: 7.540 (normal 5-10 ribu )

: 224.000 / mm3 (normal 150 -400 ribu /mm3)

C. Assesment

1. GIII PII A0, umur kehamilan 13 minggu empat hari dengan abortus inkomplit dan

kecemasan

2. Potensial terjadinya infeksi jalan lahir

3. Kolaborasi dengan dokter memberikan infus cairan Ringer Laktat 500 ml dengan

oksitosin 20 unit 16 tetes/menit secara IV, rencana tindakan kuret dan pemberian TT

0,5 ml secara IM.

D. Planning

Tanggal 19-03-2007 jam 08.25 wita
1. Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital serta perdarahan. Tanda-

tanda vital dalam batas normal ditandai dengan : a. Tekanan Darah : 110/80

mmHg

b. Nadi : 84 x/m

c. Suhu : 37°C

d. Pernapasan : 20 x/m

Perdarahan ± 50 cc

2. Jam 08.20 wita penatalaksanaan pemberian cairan infus ringer laktat 500 ml 28

tetes/menit botol 1 dan pemberian injeksi TT 0,5 ml secara IM. Ibu telah ditelah

diberikan cairan infus dan injeksi TT 0,5 ml / IM

3. Melibatkan keluarga pasien selama proses perawatan berlangsung. Ibu ditemani

oleh suaminya,

4. Membantu ibu mengatur posisi yang nyaman sesuai dengan kebutuhan ibu.

5. Menjelaskan pada ibu dan keluarganya tentang pentingnya dilakukan kuret dan

meminta persetujuan dari pihak keluarga serta pasien Memberikan penjelasan

tentang penyebab perdarahan, nyeri pada perut bagian bawah dan menganjurkan

teknik relaksasi bila timbul rasa nyeri.

6. Memberi dorongan spiritual. Ibu selalu berzikir menyebut nama Allah.

7. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan. semua obat yang

diperlukan sudah siap

8. Menyiapkan alat kuret secara ergonomis. (Alat kuret siap untuk digunakan)

9. Observasi setelah kuret selesai jam 11.40 wita :

a. Tanda-tanda vital dalam batas normal:

1. Tekanan darah :110/80 mmHg

2. Nadi : 80 x/menit
3. Suhu badan : 360C

4. Pernafasan :20 x/menit

aringan dapat dikeluarkan seluruhnya atau uterus kosong

FU 2 jari atas symphisis kontraksi uterus baik

erdarahan sedikit pada pembalut

yeri dirasakan ibu berkurang pada perut bagian bawah

kspresi wajah ibu tenang dan tidak meringis lagi

10. Pemeriksaan Hb kontrol (10,4 g%)

11. Penatalaksanaan pemberian obat-obatan post kuret sesuai instruksi dokter berupa :

a. Cefadroxil 3x500 mg,

b. Metilergo tablet 3x1,

c. Biosanbe 2x1
PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA NY “S” POST KURET DI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SYEKH YUSUF GOWA
TANGGAL 20 MARET 2007

A. Data Subjektif

1. Ibu sudah merasa baik tidak cemas lagi karena sudah bisa menerima keadaan yang

dialaminya.

2. Masih ada darah yang keluar dari vagina sedikit dan perut masih agak nyeri

3. Ibu sudah dapat beristirahat dengan baik dan tidur dengan baik

B. Data Objektif

1. Keadaan umum ibu baik

2. Tampak ekspresi wajah ibu tenang

3. Tanda-tanda vital :

a. Tekanan darah : 110/80 mmHg

b. Nadi : 80x/menit

c. Suhu badan : 360C

d. Pernafasan : 24x/menit

4. Pelepasan darah sedikit, kandung kemih kosong, TFU tidak diraba lagi

C. Assesment

1. GIII PII AI, umur kehamilan 13 minggu empat hari dengan post kuret abortus

inkomplit.

2. Antisipasi terjadinya infeksi.

3. Kolaborasi dengan dokter tidak ada.
D. Planning

1. Memeriksa keadaaan umum ibu, tanda-tanda vital, kontraksi uterus dan

pengeluran darah post kuret. Kedaan umum ibu baik, tanda-tanda vital dalam

batas normal (TD : 110/80 mmHg, N : 80x/m, S : 36,8°C dan P : 20x/m),

Kontraksi uterus baik, pengeluaran darah sedikit.

2. Informasikan pada ibu untuk senantiasa menjaga kebersihan diri misalnya

menganti softeks jika terasa sangat lembab dan menganjurkan ibu untuk

mengkomsumsi makanan yang bergizi agar tenaganya cepat pulih. Ibu

mengerti dan bersedia melakukan apa yang disampaikan,

3. Pada jam 08.00 wita Pemberian obat sesuai instruksi dokter

a. Cefadroxil : 3 x 500 mg

b. Biosanbe : 2 x 1 kaplet

c. Metilergo tablet : 3 x 500 mg

4. Menganjurkan ibu minum obat sesuai dosis. Ibu telah minum obat dan

bersedia untuk tetap mengkomsumsi obat sesuai dosis anjuran.

5. Pemeriksaan Hb post kuret oleh petugas laboratorium (10,8 gr%)

6. Memberitahu ibu bahwa ibu diperbolehkan untuk pulang. Ibu sudah tidak

sabar untuk pulang kerumahnya.

7. Menganjurkan ibu datang kontrol dirumah sakit satu minggu kemudian yaitu

tanggal 27-03-2007 dan ibu bersedia datang
8. Memberikan konseling KB sebelum ibu pulang.

9. Ibu pulang dalam keadaan sehat pada jam 09.25 wita

BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan melihat apakah asuhan yang telah diberikan

pada Ny “S” kehamilan 13 minggu empat hari dengan abortus inkomplit di Rumah

Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa yang dilakukan mulai tanggal 19 Maret – 20

Maret 2007 sesuai dengan tinjauan pustaka.
Pembahasan ini dibuat berdasarkan teori dan asuhan yang nyata

dengan pendekatan proses manajemen kebidanan yang dibagi dalam tujuh tahap

yaitu: pengkajian dan analisa data dasar, merumuskan diagnosa / masalah aktual

dan potensial, tindakan segera atau kolaborasi, perencanaan, pelaksanaan tindakan

asuhan kebidanan, dan evaluasi hasil asuhan kebidanan, serta mendokumentasikan

asuhan kebidanan.

A. Pengkajian Data dan Analisa Data Dasar

Pengkajian diawali dengan pengumpulan data meliputi identifikasi data

biologis / fisiologis, serta data spiritual yang berpedoman pada format pengkajian

yang telah tersedia dan dikembangkan sesuai dengan kondisi yang ditemukan pada

klien. Selanjutnya pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, palpasi, pemeriksaan

dalam dan pemeriksaan laboratorium.

Dalam tinjauan pustaka ditemukan gejala / keluhan abortus inkomplit

didapatkan adanya riwayat amenorhoe, perdarahan dari jalan lahir yang biasa

sedikit atau banyak, perdarahan yang mendadak banyak dapat menimbulkan

keadaan gawat, nyeri perut bagian bawah. Hasil pemeriksaan dalam untuk didapati

serviks terbuka, kadang - kadang dapat diraba sisa - sisa jaringan dalam kanalis

servikalis atau cavum uteri.

76

Pada kasus Ny “S” data yang dikumpulkan dari hasil pengkajian sebagai berikut ;
anamnese HPHT tanggal 14-12 -2007 dengan kehamilan 13 minggu empat hari (95
hari), perdarahan mula-mula sedikit kemudian banyak berwarna merah kehitaman,
nyeri perut bagian bawah, kontraksi uterus positif dan pada pemeriksaan palpasi
TFU 2 jari atas symphisis, pemeriksaan dalam ada pembukaan serviks 2 cm, teraba
ada jaringan pada ostium uteri eksternum.
Berdasarkan uraian diatas ada persamaan gejala dan keluhan antara teori

dan kasus. Penulis tidak menemukan hambatan yang berarti karena pada saat
pengumpulan data baik keluarga, klien, bidan dan dokter dilahan praktek bersedia

untuk memberikan informasi atau data yang diperlukan yang ada hubungannya

dengan penyakit dan perawatan ibu sehingga memudahkan dalam pengumpulan

data.

B. Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual

Dalam menegakkan suatu diagnosa atau masalah klien harus berdasarkan

pada pendekatan asuhan kebidanan yang didukung dan ditunjang oleh beberapa

data, baik data subjektif dan data objektif dari hasil pengkajian. Dalam tinjauan

pustaka diagnosa abortus inkomplit dapat ditegakkan apabila ditemukan adanya

riwayat amenorhoe, terjadi perdarahan melalui jalan lahir, perdarahan disertai nyeri

perut diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi, pada pemeriksaan dalam kanalis

servikalis terbuka dan pada pemeriksaan plano test didapatkan hasil positif.

Pada kasus Ny “S” dengan diagnosa abortus inkomplit, kehamilan 13 minggu

lima hari dengan masalah nyeri pada perut bagian bawah, dan kecemasan. Dari

uraian diatas masalah aktual kecemasan yang terjadi pada Ny “S” ditemukan pula

dalam teori ( Elisabeth C. Corwin, 2002 ). Hal ini disebabkan karena pada saat

pengkajian ekspresi wajah klien nampak cemas dan selalu menanyakan tentang

keadaannya. Menegakkan diagnosa dengan USG tidak dilakukan dalam kasus ini,

karena diagnosa sudah pasti.

C. Merumuskan Diagnosa / Masalah Potensial

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian tidak ada perbedaan

masalah potensial antara teori dengan yang ditemukan pada kasus. Adapun

masalah potensial tersebut adalah potensial terjadi infeksi jalan lahir data yang

mendukung yaitu pada pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka 2 cm, teraba sisa
jaringan atau darah yang tertinggal yang merupakan media untuk berkembangnya

mikroorganisme penyebab infeksi.

D. Tindakan Segera dan Kolaborasi

Tindakan segera yang diberikan dalam kasus ini tidak ada kesenjangan

sesuai yang ditemukan dalam teori. Adapun tindakan yang diberikan sesuai dengan

keadaan klien yaitu pemberian infus cairan Ringer Laktat 500 ml tetesan 28 tetes /

menit dan kolaborasi dengan dokter untuk tindakan kuret.

E. Rencana Asuhan Kebidanan

Dalam membuat rencana tindakannya ditentukan dengan tujuan dan kriteria

yang akan dicapai dalam menerapkan asuhan kebidanan pada Ny “S” dengan

abortus inkomplit tersebut. Pada kasus ini di temukan kesenjangan penanganan

antara tinjauan pustaka dan rencana asuhan yang diberikan pada Ny “N”.

Menurut Saifuddin (2002) dalam buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan

Maternal dan Neonatal, jika kehamilan kurang dari 16 minggu diberikan infus

oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena dengan kecepatan 40 tetes/menit

sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi. Sementara pada kenyataannnya, kasus

Ny”S” dilakukan kuretase dan infuse piton S 10 unit secara Interavena. Hal ini

disesuaikan dengan kondisi klien karena bila hanya menunggu ekspulsi tidak bisa

dijamin kebersihan dari pada sisa jaringan yang tertinggal sehingga penyebab

perdarahan tidak teratasi dengan baik.

F. Pelaksanaan tindakan asuhan kebidanan

Pada tahap pelaksanaan asuhan kebidanan pada Ny “S” ini penulis

melaksanakan sesuai dengan rencana dan tidak menemukan permasalahan yang

berarti karena seluruh tindakan yang dilakukan sudah berorientasi pada kebutuhan
klien sehingga tujuan dapat dicapai. Hal ini ditunjang pula oleh klien yang kooperatif

dalam menerima saran yang diberikan.

G. Evaluasi asuhan kebidanan

Sebagai langkah terakhir dalam proses ini adalah melakukan evaluasi

terhadap hasil dan proses manajemen kebidanan yang diterapkan. Hasil evaluasi

pada Ny “S” sudah sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu jaringan dapat

dikeluarkan seluruhnya atau uterus kosong, TFU 2 jari atas symphisis kontraksi

uterus baik, perdarahan sedikit, nyeri yang dirasakan ibu berkurang pada perut

bagian bawah, ekspresi wajah ibu tenang dan tidak meringis lagi, tanda-tanda vital

dalam batas normal yaitu: tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu

badan 360C, pernafasan 20 x/menit.

BAB V

PENUTUP

Pada bab ini penulis akan mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran

untuk memberikan gambaran dan informasi tentang abortus khususnya abortus

inkomplit.

A. Kesimpulan

Abortus inkomplit ( keguguran bersisa )
1). Abortus inkomplit ( keguguran bersisa ) artinya pengeluaran sebagian dari hasil

konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang

tertinggal dalam uterus.

2). Kehamilan adalah suatu proses yang alamiah, namun senantiasa perlu diwaspadai

karena setiap saat dapat memberikan komplikasi oleh karena AKI di Indonesia

masih tinggi dibandingkan Negara ASEAN lainnya yaitu 290,8 / 100.000 kelahiran

hidup. Bidan sebagai tenaga kesehatan terdepan, diharapkan mampu memberikan

pelayanan yang profesional sehingga dapat berperan dalam penurunan AKI

disebabkan oleh perdarahan (Abortus), dengan menerapkan manajemen asuhan

kebidanan berkualitas.

3).

81

Manajemen kebidanan adalah suatu kerja profesi dengan menggunakan langkah-
langkah pemecahan masalah, sehingga merupakan jalur kerja dari
pengorganisasian secara pikir dan langkah-langkah dalam suatu urutan yang logis
dan menguntungkan baik pasien maupun bidan. Adapun tahapannya yaitu
pengumpulan dan analisa data, identifikasi diagnosa / masalah aktual, antisipasi
diagnosa / masalah potensial, menilai perlunya tindakan segera / kolaborasi,
pengembangan rencana asuhan kebidanan, pelaksanaan tindakan, evaluasi asuhan
kebidanan.
4). Dalam menerapkan asuhan kebidanan pada Ny “S” dengan abortus inkomplit

diperlukan pendekatan terhadap klien agar diperoleh hasil pengkajian yang akurat.

5). Dari pengkajian dilakukan didapatkan gejala-gejala / keluhan yang muncul pada

abortus inkomplit yaitu perdarahan yang mula-mula sedikit kemudian banyak

bergumpal berwarna merah kehitaman, nyeri pada perut bagian bawah. Pada

pemeriksaan dalam teraba ada sisa jaringan dikanalis servikalis dan ada

pembukaan 2 cm.

6). Penanganan asuhan kebidanan yang diberikan pada pasien dengan kasus abortus

inkomplit sangat perlu diperhatikan adanya komplikasi sepsis dan perforasi uterus.
B. Saran-Saran

1. Ibu hamil sebaiknya melakukan ANC secara teratur segera setelah terlambat haid.

2. Setiap ibu hamil dan keluarga khususnya bidan harus mengetahui tanda-tanda

bahaya dalam kehamilan.

3. Bidan harus memberikan asuhan sesuai dengan kewenangannya untuk itu

manajemen kebidanan perlu dikembangkan karena merupakan alat yang mendasar

bagi bidan untuk memecahkan masalah klien dalam berbagai kasus.

4. Bidan sebagai tenaga yang profesional yang berarti manusia yang bertaqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berilmu pengetahuan, mempunyai skill yang tinggi sehingga

bidan harus bekerja dengan penuh keikhlasan, bertanggung jawab sehingga

senantiasa mendapat Ridho-Nya.

DAFTAR PUSTAKA
Achadiat, M. C.2004. Prosedur Tetap Obstetri Dan Ginekologi, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.

Anonim. 2002. Pria Berperan Turunkan Angka Kematian Ibu, http://www.bkkbn.go.id.online,
diakses 23 Maret 2007

Cunningham, MacDonal Gant. 1995, Obstetri Williams, Edisi 18. Buku Kedokteran EGC.
Jakartarwin Elisaberth C, 2002, Buku Satu Phatofisiologi Penyakit. EGC. Jakarta.

Dinas Kesehatan Provensi Sulawesi Selatan, 2005. Data Profil Kesehatan, Makassar.

Manuaba I.B.G, 1998, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana,
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Rustam Mochtar, 1998, Sinopsis Obstetri, Edisi II. Cetakan I. EGC. Jakarta.

Syaifuddin A.B, 2002, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal,
Edisi I. Cetakan I. YBP-SP. Jakarta.

Simatupang Erna Juliana, 2006, Penerapan Unsur-Unsur Manajemen, Awan Indah.
Jakarta.

Tarigan Djokobus. 2004. Perdarahan Selama Kehamilan (Online),
http://www.library.usu.id, diakses 14 April 2007)

Varney Helen, 1997. Varney’s midwifery, Third Edition, Jones and Barlet Publishers,
London.

Wiknjosastro, Hanifa.2005. Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo,
Jakarta.

Pusdiknakes, 1998, Program Safe Motherhood Modul, Yayasan Bina Pustaka. EGC.
Jakarta.

LAMPIRAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN ALAT KONTRASEPSI POST KURET

1. Topik : Alat Kontrasepsi Post Kuret

2. Sasaran : Klien Ny "S"

3. Tanggal : 20 Maret 2007
4. Waktu : Jam 08.25 - 9.10 wita

5. Tempat : Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa

6. Tujuan : a. Tujuan Umum

Ibu menjadi akseptor KB

b. Tujuan Khusus

1). Ibu mengetahui alat-alat kontrasepsi

2). Ibu mengetahui dan mengerti keuntungan dan kerugian masing-masing alat kontrasepsi

7. Pembimbing : Bidan “R"

ar Pustaka : a. Wiknjosastro, Hanifa, 2005, llmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Sarwono

Prawirohardjo, Jakarta

b. Manuaba I.B.G,1998, llmu Kebidanan, Penyakit kandungan dan Keluarga Berencana

Untuk Pendidikan Bidan, Buku Kedokteran, Jakarta

ALAT KONTRASEPSI POST KURET

Metode KB terdiri dari beberapa macam, hal ini disesuaikan dengan

kebutuhan dan kondisi klien yang ingin memilihnya. Adapun macam-macam

alat kontrasepsi sebagai berikut :

1. Metode sederhana

Metade KB sederhana dapat dilakukan tanpa atau melalui atat / obat.

seperti : Senggama terputus dan pantang berkala

at seperti : Kondom, d i a f r a g m a , k a p , j e l i , krim, tissue, dan tablet busa
2. Metode Efektif

a. Pil KB

Hormon yang mengandung estrogen dan progesteron saja yang diminum

setiap hari selama 21 atau 28 hari.

Adapun keuntungan dan kerugiannya adalah :

1). Keuntungan

a). Kesuburan cepat kembali

b). Mengurangi nyeri pada waktu haid

c). Terlindung dari penyakit radang panggu d a n k e h a m i l a n diluar rahim

d). Mudah dalam menggunakannya

e). Cocok digunakan untuk menunda kehamilan dari pasangan usia subur

muda.

2). Kerugian :

a). Pemakai harus disiplin meminum pil setiap haid, jika tidak kemungkinan hamil

tinggi.

b). Dapat mengurangi produksi ASI untuk pil yang mengandung progesteron.

c). Dapat meningkatkan risiko infeksi klamida/jamur disekitar kemaluan wanita.

d). Tidak dianjurkan pada wanita yang berumur 35 tahun dan perokok karena akan

mempengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh.

b. AKDR / IUD

Alat kontrasepsi yang digunakan kedalam rahim yang bentuknya bermacam-

macam, terbuat dari plastik yang dililit tembaga atau tembaga bercampur

perak yang dapat berisi hormon waktu penggunaannya bisa mencapai 10

tahun.

Adapun keuntungan dan kerugiannya adalah :
1). Keuntungan

a). Praktis dan ekonomis

b). Efektivitas tinggi (angka kegagalan kecil)

c). Kesuburan kembali jika segera dibuka

d). Tidak harus mengingat seperti kontrasepsi PIL

e). Tidak mengganggu pemberian ASl

2). Kerugian

Dapat keluar sendiri IUD tidak cocok dengan ukuran rahim pemakai

c. Suntikan

Hormon progesteron yang disuntikkan ke otot panggul, lengan atas setiap 3

bulan atau hormon estrogen yang disuntikkan setiap 1 bulan sekali

Adapun keuntungan dan kerugiannya adalah :

1). Keuntungan

a). Praktis, efektif dan aman

b). Tidak mempengaruhi produksi ASI, cocok digunakan untuk ibu menyusui

c). Tidak terbatas umur

2). Kerugian

a). Kembalinya kesuburan agak telat

b). Harus kembali ketempat pelayanan

c). Tidak dianjurkan bagi penderita kanker, hypertensi, jantung dan hati

d. Susuk / Implant

Susuk/implant merupakan satu atau enam kapsul (seperti korek api) yang

dimasukkan kedalam kulit dengan atas secara perlahan-lahan melepaskan

horman progesteron selama 3 atau 5 tahun.
Adapun keuntungan dan kerugiannya adalah :

1). Keuntungan

a). Tidak menekan praduksi ASi

b). Praktis dan efektif

c). Masa pakai jangka panjang (3 atau 5 tahun)

d). Kesuburan cepat kembali setelah pengangkatan

e). Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormon esterogen

2). Kerugian

a). Susuk/implant harus dipasang dan diangkat petugas kesehatan yang terlatih

b). Dapat menyebabkan siklus haid berubah

c). Pemakai tidak dapat menghentikan pemakaiannya sendiri

3. Metode mantap

Merupakan tindakan pada alat reproduksi untuk membatasi keturunan permanen

atas suami istri secara sukarela.

a Tubektomi

Kontrasepsi permanen wanita untuk mereka yang tidak menginginkan anak lagi.

Dalam pelaksanaannya nanti pemakai harus menandatangani surat persetujuan

yang juga harus ditandatangani oleh suami.

Cara kerjanya menghambat perjalanan sel telur wanita sehingga tidak dapat dibuahi

oleh sperma.

Adapun keuntungan dan kerugiannya adalah :

1). Keuntungan

a Efektif langsung tidak sterilisasi

b Permanen

c Tidak ada efek samping jangka panjang
d Tidak mengganggu hubungan seksual

2). Kerugian : Resiko dan efek samping tidak ada

b Vasektomi / MOP

Kotrasepsi permanen pada laki-laki untuk mereka yang tidak menginginkan anak

iagi. Datam pelaksanaannya nanti pemakai harus menandatangani surat

persetujuan yang juga harus ditanda tangani oleh pihak suami.

Cara kerjanya dengan menghalangi transport spermatozoa atau jalannya sel

mani sehingga tidak dapat membuahi sel telur.

1). Keuntungan

a Tidak ada mortalitas dan morbilitas

b Morbilitas atau komplikasi penyakit lain lebih kecil

c Pasien tidak perlu dirawat dirumah sakit

d Tidak mengganggu hubungan suami istri (seksual)

e Tidak ada resiko kesehatan

f Tidak harus diingat-ingat, tidak harus ada persediaan

g Sifatnya permanent

2). Kerugian

a). Harus dengan tindakan pembedahan / operasi

b). Harus memakai kontrasepsi lain (kondom) selama beberapa hari atau minggu

sampai sel mani menjadi negatif

c). Tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin mempunyai anak lagi.

Tabel 4. Hubungan Waktu dan jenis Metode Medis KB
Saat Menstruasi Jenis Metode KB
Pasca Partus a. Hormonal :
Puerperium 1) Progesteron only pil
Sedang laktasi 2) Suntikan KB
3) KB susuk
4) Implanon
b. Mekanis IUD
c. Mekanis Kontap
Saat menstruasi a. Hormonal :
Post MR/suction 1) Pil KB
Abortus 2) Suntikan KB
3) KB susuk
4) Implanon IUD
b. Kontap
Interval a. Hormonal :
1) Pil KB
2) Suntikan KB
3) KB susuk
4) Implanon IUD
b. Mekanis IUD
c. Kontap
Hubungan seksual tanpa perlindungan
a. KB Hormonal Darurat
perkosaan b. Pemasangan IUD
Sumber : Manuaba I.B.G, 1998

Gambar 7. Alat-Alat Kontrasepsi
Lippoes Loop dan Cut-380A=ParaGard
Lippoes Loop D Dan Cut-380S (Slimline)

Hubungan Seksual

Kondom Pria

MLCu-250, mempunyai tiga MLCU-375, mempunyai tiga

Ukuran : Standart, Short dan SL Ukuran : Standar, Short dan SL
Sumber : Manuaba I.B.G, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan
Bidan, Tahun 1998
PERNYATAAN PERSETUJUAN
KARYA TULIS ILMIAH

Manajeman Asuhan Kebidanan Pada Ny ”S” Kehamilan14 Minggu Satu Hari Dengan
Abortus Inkomplit Di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa
Tanggal 19 dan 20 Maret 2007

NUR SALMA
NIM : 04. 1301. 037

Karya tulis ini telah kami setujui untuk dipertahankan dalam ujian Karya Tulis
Ilmiah dihadapan tim penguji Program DIII Kebidanan Universitas Indonesia Timur
Makassar.

Makassar, …Juni 2007

Pembimbing I Pembimbing II

(SUHARTI, S.ST) (FITRIANI, S.ST)

Mengetahui,
Direktur Program D III Kebidanan
Universitas Indonesia Timur
Makassar

(A. MARYAM, SKM)

PENGESAHAN TIM PENGUJI
Karya tulis ini disahkan oleh Panitia Ujian Akhir dan Tim Penguji jurusan Kebidanan

Universitas Indonesia Timur Makassar yang dilaksanakan pada tanggal … Juni

2007.

Ketua : Djuhadiah, S. Am. Keb.S.Pd (.............................)

Sekretaris : Hj. Ros Rahmawati, SKM (.............................)

Anggota : 1. Marhaeni S. SiT (.............................)

2. Yurniati, SKM (.............................)

Panitia Ujian

Ketua Sekretaris

Djuhadiah, S.Am. Keb.S.Pd Hj.Ros Rahmawati, SKM
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha

Esa karena berkat rahmat dan karunia – Nya sehingga penyusunan Karya Tulis

Ilmiah ini dapat terlaksana meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana.

Penulisan karya tulis ilmiah ini merupakan salah satu syarat dalam

menyelesaikan pendidikan pada Universitas Indonesia Timur Makassar Jurusan

Kebidanan dengan judul “ Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ny “S” Kehamilan

14 Minggu Satu Hari Dengan Abortus Inkomplit Di Rumah Sakit Umum Daerah

Syekh Yusuf Gowa Tanggal 19-20 Maret 2007” dapat diselesaikan sesuai dengan

yang diharapkan penulis.

Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini berbagai macam hambatan dan

kesulitan yang penulis hadapi. Namun atas bantuan, bimbingan dan kerjasama dari

berbagai pihak sehingga hambatan dan kesulitan tersebut teratasi. Khususnya buat

kedua orang tua yang tercinta utamanya ummaku dan saudaraku Mursul, Tati, dan

ipon yang membantu baik dari segi material maupun doa, serta sanak keluarga

utamanya tante wings yang selalu mendukung.

Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam pelaksanaan sampai penyusun karya tulis ilmiah ini yaitu :

1. Bapak H. Haruna, MA., MBA. selaku Ketua Yayasan Universitas Indonesia

Timur Makassar.

2. Bapak Prof. Dr. H. Muim Salim selaku Rektor Universitas Indonesia Timur

Makassar.
3. Ibu A. Maryam, SKM, selaku Direktur Program Diploma Tiga Kebidanan

Universitas Indonesia Timur Makassar.

4. Ibu Yurniati, SKM, selaku Wakil Direktur Program Diploma Tiga Kebidanan

Universitas Indonesia Timur Makassar.

5. Ibu Suharti, S.ST selaku pembimbing I dan ibu Fitriani, S.ST selaku

pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya dalam memberikan

bimbingan dan arahan untuk penyusunan karya tulis ilmiah ini.

6. Segenap dosen dan staf Program Diploma Tiga Kebidanan Universitas

Indonesia Timur Makassar.

7. Ibu Dr. Hj. Nur Rahma, Sp.OG, selaku Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti

Fatimah Makassar beserta staf yang telah memberikan izin untuk

pengambilan data yang penulis butuhkan.

8. Rekan-rekan mahasiswa Program Diploma Tiga Kebidanan Universitas

Indonesia Timur Makassar. Khususnya angkatan 2004 kelas A4 yang telah

memberikan bantuan dan kerjasama yang baik selama penulis menulis karya

tulis ilmiah ini dan selama menjalani pendidikan.

9. Sahabatku Ifa, nita, ani, rini dan khusus penghuni pondok kuning k’ cumu, k’

irma. K’ kasma. K’ biah, macci, fitto, wanti, ira, anti, jum, anchi, jeje, ucuu,

sayadin, jo tarada dan tuan rumah yang di tempati rumahnya selama 3 tahun

serta keluarga besar dari ibunda dirga, pata, dan A’ gndut. serta semua

teman-teman yang tak dapat saya sebut satu persatu terima kasih atas

dorongan semangat dan kebersamaanya selama ini.
10. Serta pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu

yang telah berpartisipasi selama penulisan karya tulis ilmiah ini.

Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan

saran dari pembaca guna melengkapi kekurangan demi kesempurnaan karya tulis

ilmiah ini.

Makassar, Juni 2006

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................... I

SURAT PERSETUJUAN................................................................................ II

PENGESAHAN TIM PENGUJI....................................................................... III

KATA PENGANTAR........................................................................................ IV

DAFTAR ISI....................................................................................................... VII

DAFTAR TABEL............................................................................................... x

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xi

BAB I. PENDAHULUAN................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1
B. Ruang Lingkup Masalah ......................................................... 3

C. Tujuan Penulisan ...................................................................... 3

1. Tujuan Umum....................................................................... 3

2. Tujuan Khusus..................................................................... 4

D. Manfaat Penulisan .................................................................... 5

E. Metode Penulisan ..................................................................... 6

F. Sistematika Penulisan .............................................................. 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 11

A. Konsep Dasar Tentang Abortus .............................................

1. Pengertian Abortus .............................................................

2. Klasifikasi Abortus................................................................

3. Etiologi Abortus.....................................................................

4. Patofisiologi Abortus ...........................................................

5. Komplikasi Abortus ............................................................. 34

6. Diagnosis Abortus ............................................................... 35

7. Gambaran Klinis dan Penanganan Abortus ................. 36

8. Prosedur Kerja Abortus ...................................................... 42

B. Proses Manajemen Kebidanan ............................................. 48

1. Pengertian Manajemen Kebidanan ................................ 48

2. Tahapan Manajemen Kebidanan .................................... 48

3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP) ........ 50

BAB III : STUDI KASUS ................................................................................. 53

A. Pengkajian dan Analisa Data Dasar .................................. 53

B. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual ........................... 57

C. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial ..................... 60
D. Tindakan Segera dan Kolaborasi ....................................... 61

E. Rencana Asuhan Kebidanan ............................................. 61

F. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan .................... 65

G. Evaluasi Asuhan Kebidanan .............................................. 68

Pendokumentasian Asuhan Kebidanan .......................... 70

BAB IV : PEMBAHASAN ............................................................................... 76

BAB V : PENUTUP......................................................................................... 81

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Diagnosis Perdarahan Pada

Kehamilan Muda................................................................................. 41

Tabel 2. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan ....................................... 52

Tabel 3. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas Yang Lalu................. 54

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Tinggi Fundus Uteri Dan Umur Kehamilan................................... 18

Gambar 2. Abortus Iminens.................................................................................. 28

Gambar 3. Abortus Insipiens ............................................................................... 28

Gambar 4. Abortus Inkomplit ............................................................................... 29

Gambar 5. Missed Abortion .................................................................................. 29
Gambar 6. Tatalaksana penanganan abortus .................................................. 40
BAB I

PENDAHULUAN

F. Latar Belakang Masalah

Perdarahan selama kehamilan dianggap sebagai suatu keadaan akut yang

dapat membahayakan ibu dan anak sehingga menimbulkan kematian. Wanita hamil

yang mengalami perdarahan pada umur kehamilan < 20 minggu rata-rata berakhir

dengan abortus yaitu keluarnya hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar

kandungan dengan berat janin < 500 gram. Sampai saat ini kejadian abortus masih

dianggap sebagai masalah kesehatan yang sangat serius dalam masyarakat

terutama abortus inkomplit yang termasuk penyebab langsung kematian ibu yang

apabila tidak mendapat penanganan segera dapat meningkatkan morbiditas dan

mortalitas

(http://www.library.usu.ac.id.online, diakses 14 April 2007)

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 1999 kejadian abortus

berkisar 46 juta kehamilan dan sekitar 30%-50% diantarnya meninggal akibat

komplikasi abortus yang tidak aman, 20% secara tidak langsung disebabkan ole

anemia, malaria, dan penyakit jantung (http://bkkbn.go.id.online, diakses 23 Maret

2007)

Angka Kematian Ibu (AKI) masih tergolong tinggi di negara berkembang

dibandingkan di negara maju. Pada tahun 2003 Angka Kematian Ibu (AKI) di ASEAN

yang paling tinggi yaitu Indonesia berkisar 307/100.000 kelahiran hidup, yang

menduduki peringkat kedua Filipina berkisar 170/100.000 kelahiran hidup, Vietnam

berkisar 30/100,000 kelahiran hidup, dan Malaysia berkisar 30/100.000 kelahiran

hidup.
1

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2005
angka kematian ibu berkisar 290,8/100.000 kelahiran hidup berarti menurun 5,27%.
Tingginya angka kematian ibu secara langsung disebabkan oleh perdarahan (40%-
50%), eklamsia (20%-30%), dan sepsis (20%-30%), sedangkan penyebab tidak
langsung berupa anemia pada ibu hamil (51%), anemia pada ibu nifas (17,6%), tiga
terlambat (3T) yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat kefasilitas
kesehatan,dan terlambat mendapat penanganan
(http://www.gatra.com.online, diakses 15 Maret 2007)

Data yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan Dinas Kesehatan

Tingkat I Provensi Sulawesi Selatan pada tahun 2004 angka kematian ibu berkisar

(AKI) berkisar 110/100.000 kelahiran hidup yang disebabkan oleh perdarahan 60

orang (54,55%), Infeksi 7 orang (22,27%), khusus kejadian abortus berkisar 1.852

orang (1,22%) dari 151.168 kehamilan, sedadngkan pada tahun 2005 angka

kematian ibu meningkat 53 orang (48,18%) menjadi 163/100.000 kelahiran hidup

yang disebabjan oleh perdarahan 88 orang (53,98%), infeksi 10 orang (16,3%),

eklamsia 26 orang (15,95%), dan lain-lain 39 orang (23,98%), khusus kejadian

abortus berkisar 1.759 orang (0,60%) dari 297.051 kehamilan, namun pada tahun

2006 menurun berkisar 30 orang (18,40%) menjadi 133/100.000 kelahiran hidup

yang disebabkan oleh perdarahan 71 orang (53,385), infeksi 4 orang (3,01%),

eklamsia 34 orang (25,56%), dan lain-lain 24 orang (10,055).

Data yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan Dinas Kesehatan

kabupaten Gowa pada tahun 2006 jumlah kematian ibu sekitar 10 orang yang

disebabkan oleh perdarahan 8 orang (80%), dan eklamsia 2 orang (20%). Khusus

kejadian abortus berkisar 221 orang (1,65%) dari 13.388 kehamilan.

Khusus data yang diperoleh dari medical Record (Rekam Medis) di Rumah

sakit umum daerah Syekh Yusuf Gowa pada tahun 2006 kejadian abortus berkisar

148 orang (10,55%) dari 1.402 kehamilan, diantaranya abortus provakatus 10 orang
(0,67%), abortus imminens 46 orang (31,08%), abortus habitualis 1 orang (0,67%),

abortus komplit 2 orang (1,35%) dan abortus inkomplit 89 orang (60,13%).

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya abortus pada umumnya adalah

gangguan pertumbuhan zigot, embrio, plasenta, infeksi, kelainan uterus, dan faktor

eksternal seperti radiasi dan obat – obatan ,sedangkan komplikasi yang dapat

mengancam jiwa ibu akibat abortus adalah perdarahan, infeksi, perforasi, dan syok.

Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah sekaligus menekan kejadian abortus

dengan menganjurkan ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara

teratur, memberikan konseling tentang pengtinya keluarga berencana (KB) untuk

mengatur jarak kehamilan.

Tingginya kejadian abortus yang ditemukan serta besarnya resiko yang

ditimbulkan membuat penulis termotivasi untuk membahas lebih lanjut melalui karya

tulis ilmiah dengan judul Manajemen Asuhan kebidanan pada NY “S” Dengan

Abortus Inkomplit.

G. Ruang Lingkup Pembahasan

Ruang lingkup pembahasan karya tulis ilmiah ini adalah Manajemen Asuhan

kebidanan pada Ny ”S” Kehamilan 13 Minggu Enam Hari Dengan Abortus Inkomplit

di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa.

H. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini, tujuan yang diharapkan adalah sebagai

berikut :

1. Tujuan Umum

Dapat melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny “S” kehamilan 13 minggu Enam

hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Umum Daerah Syekh Yusuf Gowa.

2. Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian dan analisa data dasar pada Ny ”S” Kehamilan 13

minggu Enam hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti

Fatimah Makassar yang dilakukan mulai tanggal 19-20 April 2006.

b. Dapat merumuskan diagnosa/masalah aktual pada Ny ”N” kehamilan 15 minggu dua

hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar

yang dilakukan mulai tanggal 19-20 April 2006.

c. Dapat merumuskan diagnosa/masalah potensial pada Ny ”N” kehamilan 15 minggu

dua hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar yang dilakukan mulai tanggal 10-20 April 2006.

d. Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada Ny ”N” kehamilan 15

minggu dua hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar yang dilakukan mulai tanggal 19-20 April 2006.

e. Dapat merencanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny ”N” kehamilan 15 minggu

dua hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar yang dilakukan mulai tanggal 19-20 April 2006.

f. Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny ”N” kehamilan 15 minggu

dua hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar yang dilakukan mulai tanggal 19-20 April 2006.

g. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan pada Ny ”N” kehamilan 15 minggu dua hari

dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar yang

dilakukan mulai tanggal 19-20 April 2006.

h. Dapat mendokumentasikan semua asuhan kebidanan pada Ny ”N” kehamilan 15

minggu dua hari dengan abortus inkomplit di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar yang dilakukan mulai tanggal 19-20 April 2006.

I. Manfaat Penulisan
1. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan ujian akhir dan penerapan ilmu

yang telah didapatkan pada jenjang pendidikan Diploma III Jurusan Kebidanan

Universitas Indonesia Timur Makassar.

2. Sebagai bahan masukan bagi institusi dalam pengembangan program pendidikan

sehingga dapat memberikan pelayanan kebidanan yang aktual dan profesional pada

masyarakat.

3. Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan dalam penerapan proses asuhan

kebidanan dengan abortus inkomplit.

4. Dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta tambahan pengalaman

yang sangat berharga dalam penerapan asuhan kebidanan dengan abortus

inkomplit.

J. Metode Penulisan

Dalam penulisan karya ilmiah ini metode yang digunakan sebagai berikut :

1. Studi Kepustakaan

Yaitu penulis mempelajari literatur-literatur yang relevan dalam pembahasan

karya tulis ini.

2. Studi Kasus

Yaitu penulis melaksanakan studi kasus dengan menggunakan metode

pelaksanaan pemecahan masalah dalam kebidanan yang meliputi : pengkajian,

merumuskan diagnosa/masalah aktual dan potensial, melaksanakan tindakan

segera dan kolaborasi, rencana asuhan kebidanan, melaksanakan tindakan dan

mengevaluasi asuhan kebidanan serta mendokumentasikan hasil asuhan

kebidanan.

Untuk memperoleh data / informasi akurat penulis menggunakan teknik :
a. Anamnese

Penulis mengadakan tanya jawab dengan klien, suami serta keluarga yang dapat

memberikan informasi yang dibutuhkan.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain : inspeksi, palpasi, pemeriksaan dalam

dan pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan format pengkajian

c. Pengkajian psikososial

Pengkajian psikososial meliputi status emosional, respon terhadap kondisi yang

dialami serta pola interaksi klien terhadap keluarga, petugas kesehatan dan

lingkungannya serta pengetahuan tentang kesehatan.

3. Diskusi

Penulis mengadakan tanya jawab dengan tenaga kesehatan yaitu bidan atau

dokter yang menangani langsung klien tersebut serta berdiskusi dengan dosen

pembimbing karya tulis ilmiah.

K. Sistematika Penulisan

Untuk memperoleh gambaran umum tentang karya tulis ini maka penulis

menyusun dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

G. Latar Belakang Masalah

H. Ruang Lingkup Masalah

I. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

2. Tujuan Khusus

J. Manfaat Penulisan

K. Metode Penulisan
L. Sistematika penulisan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

B. Konsep Dasar tentang kehamilan

1. Pengertian Kehamilan

2. Tanda dan Gejala kehamilan

3. Perubahan Fisiologi Yang Terjadi Pada Wanita Hamil

C. Konsep Dasar Abortus

1. Pengertian Abortus

2. Klasifikasi Abortus

3. Etiologi Abortus

4. Patofisiologi Abortus

5. Komplikasi Abortus

6. Diagnosis Abortus

7. Gejala Abortus Inkomplit

8. Gambaran Klinis dan Penanganan Abortus

9. Prosedur Kerja Abortus

D. Proses Manajemen Kebidanan

1. Pengertian Manajemen Kebidanan

2. Tahapan Manajemen Kebidanan

3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)

BAB III : STUDI KASUS

I. Pengkajian dan Analisa Data Dasar

J. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual

K. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial
L. Tindakan Segera dan Kolaborasi

M.Rencana Asuhan Kebidanan

N. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

O. Evaluasi Asuhan Kebidanan

P. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan

BAB IV : PEMBAHASAN

Pada bagian ini penulis membahas tentang kesenjangan antara teori dan fakta yang

ada, dibahas secara sistematis mulai dari pengkajian, merumuskan

diagnosa/masalah aktual dan potensial, tindakan segera atau kolaborasi,

perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi asuhan kebidanan.

BAB V : PENUTUP

Merupakan bagian terakhir yang memuat kesimpulan hasil pelaksanaan studi kasus

yang dilakukan dan juga berisi saran-saran dan meningkatkan kwalitas asuhan

kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN