You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN
Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada
anak di negara berkembang. Anak usia 0-3 tahun rata-rata mengalami tiga kali diare
pertahun. Menurut WHO (2009) diare adalah suatu keadaan buang air besar (BAB)
dengan konsistensi lembek hingga cair dan frekuensi lebih dari tiga kali sehari. Diare
akut berlangsung selama 3-7 hari, sedangkan diare persisten terjadi selama ≥ 14 hari.
Secara klinis penyebab diare terbagi menjadi enam kelompok, yaitu infeksi,
malabsorbsi, alergi, keracunan makanan, imunodefisiensi dan penyebab lainnya
,misal: gangguan fungsional dan malnutrisi.1,2

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, didapatkan
bahwa penyebab kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) yang terbanyak adalah diare
(31,4%) dan pneumonia (23,8%). Hasil Survei Morbiditas Diare dari tahun 2000 s.d.
2010 didapatkan angka kesakitan diare balita Tahun 2000-2010 tidak menunjukkan
pola kenaikan maupun pola penurunan (berfluktuasi). Pada tahun 2000 angka
kesakitan balita 1.278 per 1000, sedikit menurun di tahun 2003 (1.100 per 1000),
agak meningkat pada tahun 2006 (1.330 per 1000), dan di tahun 2010 angka
morbiditas kembali menurun (1.310 per 1000). Dilihat dari distribusi umur balita
penderita diare di tahun 2010 didapatkan proporsi terbesar adalah kelompok umur 6 –
11 bulan yaitu sebesar 21,65%, lalu kelompok umur 12-17 bulan sebesar 14,43%,
kelompok umur 24-29 bulan sebesar 12,37%, sedangkan proporsi terkecil pada
kelompok umur 54-59 bulan yaitu 2,06%. Menurut Riskesdas 2013, insiden diare (≤ 2
minggu terakhir) berdasarkan gejala pada seluruh kelompok umur sebesar 3,5%
(kisaran menurut provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare pada balita sebesar 6,7%
(kisaran provinsi 3,3%-10,2%). Sedangkan period prevalence diare pada seluruh
kelompok umur (>2 minggu-1 bulan terakhir) berdasarkan gejala sebesar 7% dan
pada balita sebesar 10,2%.3,4

1

Komplikasi tersering yang dapat timbul dari diare adalah terjadinya dehidrasi
yang jika tidak ditangani dengan cepat dapat mengakibatkan keadaan yang lebih
buruk bahkan kematian. Komplikasi yang lain adalah adanya asidosis metabolik yang
dapat terjadi akibat peningkatan kehilangan basa.3,4

2

Pasien selalu merasa kehausan. dan 2x di UGD. Di sekitar rumah pasien. muntah berisi makanan. kejang (-). beringus (-). nafsu makan menurun. Menurut ibu pasien. IDENTITAS PASIEN  Nama : An. Z  Jenis kelamin : Perempuan  umur : 1. Panas (+) 2 hari. masuk rumah sakit dengan keluhan BAB cair dengan frekuensi 6x dalam sehari. BAB II LAPORAN KASUS 1. sesak (-). sifat panas naik turun. warna kencing kuning. Sakit perut (-). juga ada yang mengalami BAB encer seperti yang di keluhkan pasien.3 tahun  Agama : Islam  Kebangsaan : Indonesia  Suku bangsa : Gorontalo  Alamat : Pantoloan  Tanggal masuk rumah sakit : 30 juli 2016  Masuk ke ruangan : Nuri atas ( kelas 3) ANAMNESIS (diberikan oleh : Orang tua/Heteroanamnesis) Keluhan Utama : BAB cair Pasien An. BAK lancar. Anamnesis antenatal dan riwayat persalinan: 3 . lendir (-). warna kuning dan berbau busuk. pasien juga mengalami muntah sebanyak 2x sebelum masuk rumah sakit. darah (-). Awalnya BAB cair dengan frekuensi 4x di rumah. darah (-). batuk (-). lendir (-). Menurut ibu pasien setelah BAB pasien tampak lemas.

saat hamil ibu tidak pernah sakit. Saat anak memasuki usia 8 bulan diberikan juga makanan tambahan seperti bubur saring. Saat anak memasuki umur 1 tahun mulai diberikan makanan padat. Bayi lahir ditolong oleh dokter dengan berat badan lahir 3000 gram bayi lahir langsung menangis. sehingga kadang tetangga pasien menumpang BAB di toilet pasien. Di sekitar rumah pasien. Hal ini baru pertama kali dialami. Bayi lahir cukup bulan. Riwayat penyakit dahulu: Pasien tidak pernah di rawat di rumah sakit sebelumnya. Lingkungan rumah merupakan lingkungan padat penduduk. namun saat ini pasien hanya diberikan bubur dengan alasan orang tua bahwa anaknya masih mengalami BAB cair. lahir spontan.ANC rutin. Ibu pasien mempunyai riwayat diabetes melitus. juga ada yang mengalami BAB encer seperti yang di keluhkan pasien. Riwayat makan sejak lahir sampai sekarang: Anak meminum ASI (air susu ibu) sejak lahir sampai berumur 6 bulan. Riwayat penyakit dalam keluarga: Keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama. Pembiayaan perawatan kelas 3 selama di rumah sakit menggunakan BPJS Riwayat Imunisasi Dasar : 4 . Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kurangnya sarana kebersihan (MCK) di lingkungan tempat tinggal. lingkungan dan sosial: Pasien tinggal serumah dengan orang tua. Anamnesis kebiasaan.

Sklera: Ikterik -/-. lurus. Pupil: isokor.5 kg Panjang Badan : 79 cm Status Gizi : Gizi Baik ( Z-score antara 0 sampai -1) Tanda Vital . edema periorbital (-) .Respirasi : 35 kali/menit Kulit : Sianosis (-). DTP : 4 kali pemberian . BCG : 1 kali pemberian . Deformitas : Tidak ada . Mata : cekung (-).5o C .Denyut nadi : 112 Kali/menit . Wajah : Simetris. turgor: baik. 5 . Riwayat Kemampuan dan Kepandaian: Membalik : 3 bulan Tengkurap : 4 bulan Duduk : 6 bulan Berceloteh : 8 bulan Merangkak : 9 bulan Berdiri : 1 tahun Berjalan : 1 tahun 4 bulan PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : Sakit Sedang Kesadaran : Compos Mentis Berat Badan : 8. konjungtiva: anemis -/-. Kepala .. POLIO : 4 kali pemberian . sulit dicabut . pucat (-). HEPATITIS : 3 kali pemberian Imunisasi bayi ini lengkap. ikterus (-). Bentuk : Normocephal .Suhu : 36. Rambut : Hitam. eritema (-).

50 106/µl HGB 10. Wheezing (-) Jantung .7 11. gallop(-)  Abdomen Inspeksi : Kesan cembung.0-10. patologis (-) PEMERIKSAAN PENUNJANG  Laboratorium PARAMETER HASIL NILAI RUJUKAN WBC 9 4. Inspeksi : Ictus Cordis tidak tampak . massa (-).5-17 g/dl 6 . Pembesaran kelenjar tiroid (-)  Thorax Paru-paru .0 103/ µl RBC 4 3. Inspeksi : Simetris bilateral. Palpasi : Vokal fremitus (+) ka=ki. Perkusi : Sonor (+) diseluruh lapang paru. Mulut : Bibir kering (+). Auskultasi : Bunyi vesikular (+). distensi (-). organomegali (-). retraksi (-).  Genital : Tidak ditemukan kelainan  Anggota gerak : Ekstremitas atas dan bawah akral hangat. batas kiri jantung SIC V linea axilla anterior . . Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular. . massa (-). sikatriks (-) Auskultasi : Peristaltik (+) kesan meningkat. Ronkhi (-). Perkusi : Batas atas jantung SIC II. massa (-) . nyeri tekan (-) . Perkusi : Timpani (+). murmur (-).  Refleks : Refleks fisiologis normal. Palpasi : Ictus Cordis teraba pada SIC V linea midclavicula sinistra . asites (-) Palpasi : Nyeri Tekan regio abdomen (-). batas kanan SIC V linea Parasternal dextra. edema (-). Lidah Kotor (-) Stomatitis Angularis (-) Tonsil T1/T1 tidak hiperemis  Leher Pembesaran kelenjar getah bening (-).80-6.

Awalnya BAB cair 4x di rumah. Nafsu makan menurun. Pasien selalu merasa kehausan. Menurut ibu pasien.5o C. sifat panas naik turun. BAK lancar. panjang badan: 79 cm. syok Mata Biasa Cekung Sangat cekung Mulut Biasa Kering Sangat kering Pernapasan <30x 30-40x >40x Turgor Baik Kurang Jelek Nadi <120x 120-140x >140x Skor 9 : Dehidrasi Ringan-sedang Diagnosis : Diare akut disertai dehidrasi ringan-sedang Terapi : Non-Medikamentosa : 7 . Skor Dehidrasi Modifikasi UNHAS SKOR Yang Dinilai 1 2 3 Keadaan umum Baik Lesu/haus Gelisah.Z masuk rumah sakit dengan keluhan BAB dengan konsistensi tinja cair.0-54. ngantuk. suhu: 36. warna kuning-kehijauan dan berbau busuk. lendir (-). dan 3x di UGD. denyut nadi: 112 x/menit. mulut: kering. mata:cekung (-). frekuensi BAB 7x dalam sehari. turgor kulit: baik. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan berat badan: 8. respirasi: 35x/menit. HCT 30 37. Status gizi: gizi baik ( Z-score antara 0 sampai -1). muntah isi makanan.0 % PLT 395 150-500 103/µl RESUME Pasien An. darah (-). warna kencing kuning. Panas (+) 2 hari. menurut ibu pasien setelah BAB pasien tampak lemas. lemas. juga ada yang mengalami BAB encer seperti yang di keluhkan pasien. Di sekitar rumah pasien.5 kg. auskultasi abdomen: peristaltik (+) meningkat. pasien juga mengalami muntah sebanyak 2x.

peristaltik (+) kesan meningkat. lendir (-). Diit bubur Medikamentosa : . Abdomen : Bentuk datar. timpani (+). darah (-). Tanda Vital o Denyut Nadi : 100 kali/menit o Respirasi : 32 kali/menit o Suhu : 370C o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15) b.. c. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-) Pembesaran kelenjar tiroid (-) e. Tirah baring . Muntah (-) Batuk (-). NTA (-) Assesment (A): Diare akut disertai dehidrasi ringan-sedang Plan (P) : 8 . Ivfd Ring As 50cc  12tpm . ampas (+). Kulit : Pucat (-). warna kuning. Kepala : konjungtiva hiperemis (-/-). BAK Lancar Objek (O) : a. Thorax Paru-paru : Simetris bilateral. Vokal fremitus (+) kesan normal. sklera Ikterik (-/-) mata cekung (-). Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular. bibir kering (-) d. Sonor (+) Bunyi vesikular (+). Zink 1x1 tab FOLLOW UP Perawatan Hari ke 1 Tanggal : 30 juli 2016 Subjek (S) : BAB encer 3 kali. bising jantung (-) f. L-Bio 1x1 sachet . Cotrimoxazole 2x1 cth . ikterik (-) turgor : baik. Panas (-). Sesak napas (-).

Tirah baring . bibir kering (-) d. Kulit : Pucat (-). Objek (O) : a. Panas (+). Kepala : konjungtiva hiperemis (-/-). timpani (+) 9 . sklera Ikterik (-/-) mata cekung (-). Diit bubur MEDIKAMENTOSA  IVFD Asering 12 tpm  Kotrimoksazole syr 2x1cth  L-bio 1x1 sachet  Zink 1x20 mg tab Perawatan Hari ke 2 Tanggal : 31 juli 2016 Subjek (S) : BAB encer 1 kali. Vokal fremitus (+) kesan normal. Tanda Vital o Denyut Nadi : 112 kali/menit o Respirasi : 32 kali/menit o Suhu : 37. lendir (-).60C o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15) b. darah (-). warna kuning. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-) Pembesaran kelenjar tiroid (-) e. Sesak napas (-). ikterik (-) turgor : baik. bising jantung (-) f. Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular. Thorax Paru-paru : Simetris bilateral. Sonor (+) Bunyi vesikular (+). Muntah (-) Batuk (-). c.NON-MEDIKAMENTOSA . ampas (+). Abdomen : Bentuk datar. BAK Lancar. peristaltik (+) dalam batas normal.

ikterik (-) turgor : baik. Panas (-). bibir kering (-) d. Vokal fremitus (+) kesan normal. Kulit : Pucat (-). c.Assesment (A): Diare akut disertai dehidrasi ringan-sedang Plan (P) : NON-MEDIKAMENTOSA . Batuk (-). Muntah (+) 2x saat minum susu.60C o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15) b. 10 . Tirah baring . sklera Ikterik (-/-) mata cekung (-). ampas (+). Thorax f. darah (-). BAK Lancar Objek (O) : a. Paru-paru : Simetris bilateral. Tanda Vital o Denyut Nadi : 100 kali/menit o Respirasi : 35 kali/menit o Suhu : 36. Kepala : konjungtiva hiperemis (-/-). Sesak napas (-). lendir (-). muntah berisi susu. Sonor (+) Bunyi vesikular (+). Diit bubur MEDIKAMENTOSA  IVFD RL + neurosanbe 12 tpm  Kotrimoksazole syr 2x1cth  L-bio 1x1 sachet  Zink 1x20mg  PCT syr 3x1 cth Perawatan Hari ke 3 Tanggal : 1 juli 2016 Subjek (S) : BAB (+) biasa. warna kuning. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-) Pembesaran kelenjar tiroid (-) e.

NTA (-) Assesment (A): Post diare disertai dehidrasi ringan-sedang Plan (P) : NON-MEDIKAMENTOSA . timpani (+). Muntah (-) Batuk (-). Sesak napas (-). Abdomen : Bentuk datar. g. Panas (-). lendir (-). peristaltik (+) kesan meningkat. Sebelumnya pasien di beri buah papaya oleh ibunya. darah (-). Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular. Diit bubur MEDIKAMENTOSA  IVFD Asering 12 tpm  Kotrimoksazole syr 2x1cth  L-bio 1x1 sachet  Zink 1x20 mg  Pct syr 3x1 cth (kalau panas) Perawatan Hari ke 4 Tanggal : 2 juli 2016 Subjek (S) : BAB (+) cair 1 kali. BAK Lancar. ampas (+). Tirah baring . warna kuning. Objek (O) : Tanda Vital o Denyut Nadi : 100 kali/menit o Respirasi : 32 kali/menit o Suhu : 370C o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15) 11 . bising jantung (-) h.

NTA (-) Assesment (A): Diare akut disertai dehidrasi ringan-sedang Plan (P) : NON-MEDIKAMENTOSA . timpani (+). Panas (-). BAK Lancar 12 . darah (-). Anjurkan pasien untuk sementara tidak memberi pasien pepaya MEDIKAMENTOSA  Infuse tercabut saat pasien bermain  Kotrimoksazole syr 2x1cth  L-bio 1x1 sachet  Zink 1x20 mg  PCT syr 3x1 tab (kalau panas) Perawatan Hari ke 5 Tanggal : 3 juli 2016 Subjek (S) : BAB (+) biasa. warna kuning. Tirah baring . Kepala : konjungtiva hiperemis (-/-). Muntah (-) Batuk (-). Sonor (+) Bunyi vesikular (+). peristaltik (+) dalam batas normal. Vokal fremitus (+) kesan normal. bibir kering (-) Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-) Pembesaran kelenjar tiroid (-) Thorax Paru-paru : Simetris bilateral. Diit bubur . bising jantung (-) Abdomen : Bentuk datar. lendir (-). Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular. Kulit : Pucat (-). sklera Ikterik (-/-) mata cekung (-). Sesak napas (-). ikterik (-) turgor : baik.

timpani (+). 13 . Vokal fremitus (+) kesan normal. Tanda Vital o Denyut Nadi : 100 kali/menit o Respirasi : 32 kali/menit o Suhu : 370C o Kesadaran : Compos mentis (GCS E4 M6 V5 = 15) b. bising jantung (-) h. Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular. sklera Ikterik (-/-) mata cekung (-). Kepala : konjungtiva hiperemis (-/-). peristaltik (+) dalam batas normal. Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-) Pembesaran kelenjar tiroid (-) e. NTA (-) Assesment (A): Post Diare dengan dehidrasi ringan-sedang Plan (P) : MEDIKAMENTOSA  Kotrimoksazole syr 2x1cth  L-bio 1x1 sachet  Zink 1x20 mg tab  PCT syr 3x1 tab (kalau panas) Pasien di pulangkan oleh dokter karena keadaan umum pasien telah membaik. Sonor (+) Bunyi vesikular (+). c. bibir kering (-) d. tidak ada keluhan dan tanda vital dalam batas normal. ikterik (-) turgor : baik. Paru-paru : Simetris bilateral. Thorax f.Objek (O) : a. Abdomen : Bentuk datar. Kulit : Pucat (-). g.

Pada anamnesis di dapatkan pasien An.5o C. respiras: 35x/menit. dan 3x di UGD. dan berbau seperti telur busuk. muntah isi makanan.A masuk dengan keluhan BAB dengan konsistensi tinja cair. disertai lendir (+). frekuensi BAB 7x dalam sehari. Pada pemerikssan fisik denyut nadi: 112 x/menit. Menurut ibu pasien. Pasien selalu merasa kehausan. BAB III DISKUSI KASUS Diagnosis pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis. Nafsu makan menurun. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. mulut: kering. 14 . suhu: 36. pasien juga mengalami muntah sebanyak 2x. turgor kulit: baik. Awalnya BAB cair 4x di rumah.

Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yang digambarkan dalam bagan berikut :2. flies (lalat).2 Skor Dehidrasi Modifikasi UNHAS SKOR Yang Dinilai 1 2 3 Keadaan umum Baik Lesu/haus Gelisah. penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan cara penyapihan yang tidak baik.5 15 . kurangnya sarana kebersihan (MCK). Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain: tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama kehidupan bayi. kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk. field (lingkungan)}. Diagnosis pada kasus ini adalah diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang. pencemaran air oleh tinja. ngantuk. fluid (cairan).1. disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu.auskultasi abdomen: peristaltik (+) meningkat. Diare akut adalah buang air besar pada bayi dan anak lebih dari 3 kali perhari. syok Mata Biasa Cekung Sangat cekung Mulut Biasa Kering Sangat kering Pernapasan <30x 30-40x >40x Turgor Baik Kurang Jelek Nadi <120x 120-140x >140x Skor 8 : Dehidrasi Ringan-sedang (skor dehidrasi pada kasus) Cara penularan diare pada umumnya melalui fekal-oral yaitu melalui 4F {finger (jari-jari tangan). lemas. tidak memadainya penyediaan air bersih.

Penyebab terbanyak diare akut pada anak-anak dinegara berkembang adalah rotavirus. dibawah ini merupakan karakteristik dari beberapa agen infeksius penyebab diare. juga ada yang mengalami BAB encer seperti yang di keluhkan pasien.7 Tabel 01.2. sallmonella. Setiap infeksi bakteri atau virus memiliki gambaran khas masing-masing.2.5.7 16 . Pada kasus di dapatkan informasi bahwa lingkungan tempat tinggal pasien merupakan lingkungan padat penduduk. dan E.5. coli enteropatogenik. Di sekitar rumah pasien. vibrio cholera. escherichia coli enterotoksigenik. sehingga kadang tetangga pasien menumpang BAB di toilet pasien dan ada sebagian tetangga pasien BAB di sekitar lingkungan rumah. Kurangnya saranan kebersihan (MCK) di lingkungan tempat tinggal. meskipun pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan pasti untuk mengetahui penyebab dari diare. shigella.

Sehingga pasien di duga mengalami diare infeksi oleh rotavirus. Rotavirus Salmonella ETEC EIEC Shigella Vibrio disentri cholera Mual & Permulaan + . berisi makanan. . + + - Sakit Tenesmus Kolik (+) Kadang. + jarang muntah Demam + + . Tenesmus Tenesmus Kolik kadang kolik kolik. frekuensi 7x. + Sering - kadang Bau . Telur Tinja Tidak Tidak Anyir busuk spesifik berbau Warna Hijau kuning Hijau Tidak Hijau darah Hijau Putih berwarna darah keruh Leukosit . Kadang. disertai lender (-). muntah dengan frekuensi 2x. + + + Pada kasus di dapatkan pasien mengeluh BAB dengan konsistensi tinja cair. + . pusing Volume Sedang Menurun Banyak Menurun Menurun Sangat banyak Frekuensi 5-10x Sering Sering Sering Sering Terus sekali menerus Konsistensi Berair Berair Berair Kental Kental Lendir Mukus Jarang + + + Sering Flacks Darah . Patogenesis diare yang disebabkan oleh virus yaitu virus yang menyebabkan diare pada manusia secara selektif menginduksi dan menghancurkan sel-sel ujung- 17 . . warna kuning-kehijauan dan berbau busuk. panas (+) 2 hari.

2. Gangguan motilitis usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin dari virus atau bakteri) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolik ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Virus akan menginfeksi lapisan epithelium di usus halus dan menyerang villus di usus halus. Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru 2. rencana penanganan yang dianjurkan adalah rencana terapi B. Gangguan osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolik ke dalam rongga usus.7 Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan timbulnya diare pada anak adalah : 1.7 Departemen kesehatan menetapkan lima pilar penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare yang diderita anak balita baik dirawat dirumah maupun sedang dirawat dirumah sakit. yaitu :4. Antibiotik selektif 5. berbentuk kuboid yang belum matang sehingga fungsinya belum baik. 2.6 1. Sel-sel epitel usus halus yang rusak diganti oleh eritrosit yang baru.5. Biopsi usus halus menunjukkan berbagai tingkat penumpukan villus dan infiltrasi sel bundar pada lamina propria. 2. 3. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan. Zink diberikan selama 10 hari berturut-turut 3. Hal ini dilakukan karena pada kasus diare jumlah cairan yang dibutuhkan oleh tubuh 18 . Nasihat kepada orang tua Pada kasus ini. Hal ini menyebabkan fungsi absorpsi usus halus terganggu. ASI dan makanan tetap diteruskan 4.ujung villus pada usus halus.5.

6 2. biarkan anak memilih makanan yang disukai. Jika anak muntah. Pasien pada kasus ini mengalami muntah sehingga pemberiannya harus secara perlahan-lahan. Anak > 6 bulan = 20 mg (1 tablet) per hari Zink termasuk mikronutrien yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi. Mengajarkan ibu cara menyiapkan cairan oralit di rumah. Anak < 6 bulan = 10 mg (1/2 tablet) per hari b.6 Setelah 3 jam: a. Ulangi penilaian dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasi b. Rehidrasi Berikan oralit sesuai yang dianjurkan selama periode 3 jam. c. Jumlah oralit yang diperlukan = berat badan (dalam kg) x 75 ml. Menjelaskan aturan perawatan diare di rumah:  Beri cairan tambahan  Lanjutkan pemberian tablet zink sampai 10 hari  Lanjutkan pemberian makan. Mengajarkan ibu berapa banyak oralit yang harus diberikan di rumah c. tunggu 10 menit kemudian berikan lagi lebih lambat serta lanjutkan pemberian makanan.4. b. Melanjutkan memberi makan pasien Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai: a.4. Oleh karena itu prioritas managemen diare akut dengan dehidrasi ringan sedang adalah menggantikan jumlah kebutuhan cairan yang diperlukan tubuh. Pemberian zink dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat menurunkan 19 . Tablet zinc selama 10 hari dengan dosis : a. Pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan.Pada kasus ini BB 8. 1. Cara memberikan larutan oralit yaitu dengan meminumkan sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir/ mangkuk/ gelas.banyak yang keluar.5 kg x 75 ml yaitu 637 cc dibagi 3 adalah 212 cc / jam salam 3 jam.

maka dapat mencegah komplikasi dari diare tersebut.6 20 . Pada kasus ini anak berumur 6 bulan maka pada terapi zink diberikan 10 mg (1/2 tablet) yang diberikan selama 10 hari. berulang. Hanya sebagian kecil (10-20 %) yang disebabkan oleh bakteri patogen seperti Shigella. sehingga penatalaksanaannya sesuai dengan ketepatan cara pemberian rehidrasi.6 3. Salmonella.2. atau belum membaik dalam 3 hari. Enteroinvasif E.4. Komplikasi yang dapat terjadi pada diare akut adalah gangguan elektrolit seperti: hipernatremia. Selain itu ibu disarankan untuk selalu menjaga kebersihan dan mencuci tangan dengan baik dan benar sebelum dan sesudah memberi makan / minum anak. prognosisnya adalah bonam. Nasehat kepada orang tua Nasehat yang dapat diberikan apabila penderita sudah pulang ke rumah atau untuk penderita rawat jalan adalah segera datang kembali kerumah sakit jika timbul demam. ASI atau Makanan diteruskan ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi yang hilang pada saat terjadi diare. diare semakin sering. pasien sudah tidak mengalami dehidrasi. Pada pasien ini. Apabila penanganan yang diberikan tepat dan sesegera mungkin. makan atau minum sedikit. Antibiotik sesuai indikasi Antibiotik pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh karena sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self-limited dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotik. hiperkalemia.4. Kehilangan cairan dalam jumlah yang besar dapat berujung pada kematian. tinja berdarah.6 5. 4. hiponatremia. Coli dan sebagainya akan tetapi pada kasus tidak diberikan. 2. Prognosis diare dapat ditentukan oleh derajat dehidrasi. Coli.risiko terjadinya dehidrasi pada anak. karena derajat dehidrasinya masih tergolong ringan sedang dan saat pulang. Enterotoxin E. hipokalemia. Adanya karbonat yang hilang menyebabkan pernapasan kussmaull. sangat haus.6 4.4. dan kejang.

Kementrian kesehatan republik Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 6.denpasar. 21 . Buku Ajar Diare. S. 4. Acute diarrhea: 2008. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. Jakarta. Kapita Selekta. 7. 2008. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Edisi pertama. DAFTAR PUSTAKA 1. 2010. 2012. 5. 2011. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. Sudaryat. World Gastroenterology Organisation Practic Guidline. KEMENKES RI: 2011. 3. Gastroenterologi Anak. Jakarta. FK UNUD/RS Sanglah. 2. Departemen Kesehatan RI. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Jilid I Cetakan Ketiga. Departemen Kesehatan RI. 2012. Tatalaksana diare pada balita. UKK Gastroenterologi Hepatologi IDAI.