You are on page 1of 5

MO-KTI-0204-2013

Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Hiperbilirubinemia
Pada Neonatus Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung
Periode April 2010 – Maret 2011
Septiani N, Farid, Handayani S

Program Studi Diploma III Akademi Kebidanan Medika Obgin Bandung

ABSTRAK
Berdasarkan data dari The Fifty Sixth Session of Regional Committee, WHO (World Health
Organization) pada tahun 2003, kematian bayi terjadi pada usia neonatus dengan penyebab
infeksi 33%, asfiksia/ trauma 28%, BBLR 24%, kelainan bawaan 10%, dan lain-lain 5%.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap
kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus. Metode penelitian ini merupakan penelitian
analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Pengumpulan data menggunakan data sekunder
pasien yang lahir dan mengalami neonatus hiperbilirubinemia di Rumah Sakit Umum Daerah
Kota Bandung pada periode April 2010 sampai dengan Maret 2011. Diperoleh data bayi yang
mengalamiHiperbilirubinemia adalah 357 bayi dari 2897 bayi dan disajikan dalam bentuk
tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini faktor kejadian neonatus hiperbilirubinemia :
12,3%, dengan golongan usia kehamilan < 37 minggu: 12,5%, 37-42 minggu: 12,1%, >42
minggu: 9,4%, dengan golongan berat badan lahir < 2500 gram: 15,7%, 2500-4000 gram:
10,1%, >4000 gram: 17,5%, dengan golongan jenis persalinan spontan: 12,3%, seksio
sesarea: 12,4%, vakum: 13,0% dan forseps : 12,1%.

Kata Kunci : Faktor-faktor, Neonatus Hiperbilirubinemia

PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Indikator derajat kesehatan masyarakat komponen
kesehatan,diantaranya adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Indonesia masih menuai presentasi di ASEAN (Association of South East Asia Nations)
Angka kematian bayi di negara-negara ASEAN seperti Singapura 3/1000 per kelahiran hidup,
Malaysia 5,5/1000 per kelahiran hidup, Thailand 17/1000 per kelahiran hidup, Vietnam
18/1000 per kelahiran hidup, dan Philipina 26/1000 per kelahiran hidup. Sedangkan angka
kematian bayi di Indonesia cukup tinggi yakni 26,9/2000 per kelahiran hidup.
Tingkat kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu indikator di suatu Negara. Angka
kematian Maternal dan Neonatal masih tinggi, salah satu faktor penting dalam upaya
penurunan angka tersebut dengan memberikan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal
yang berkualitas kepada masyarakat yang belum terlaksana.
Menurut Pola penyakit penyebab kematian bayi menunjukkan bahwa proporsi penyebab

Selain memiliki angka mortalitas yang tinggi. Ikterus ialah suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi barulahir (BBL) menurut beberapa penulis Barat berkisar antara 50% pada bayi cukup bulan dan 75% pada bayi kurang bulan. Usia gestasi sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup bayi. Data epidemiologi yang ada menunjukan bahwa lebih dari 50% bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat diditeksi secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam faktor penyebab seperti umur kehamilan. Sedangkan jumlah kejadian neonatus hiperbilirubin di RSUD Kota Bandung yaitu cukup banyak. Berdasarkan data dari The Fifty Sixth Session of Regional Committee. TINJAUAN PUSTAKA Faktor-faktor yang berpengaruh dengan Neonatus Hiperbilirubinemia. kematian bayi terjadi pada usia neonatus dengan penyebab infeksi 33%. berat badan bayi antara 2500-≤ 4000 gram. diare). oleh karena itu ia mengalami banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. pneumonia. berat badan > 4000 gram.6%). BBLR 24%. kemudian feeding problem (14. terutama bayi kecil (bayi dengan berat badan <2500 gram) mengalami ikterus pada minggu pertama hidupnya. Sebagian besar hiperbilirubin ini proses terjadinya mempunyai dasar yang patologik. kelainan bawaan 10%. Usia gestasi adalah usia sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran. Jenis usia gestasi menurut WHO (1976) dikelompokan menjadi tiga yaitu: kehamilan cukup bulan (term/aterm) yaitu usia gestasi 37-42 minggu (259-294 hari). Ikterus terjadi karena peninggian bilirubin indirect (unconjugated) dan . jika tidak ditanggulangi dengan baik.1% (termasuk tetanus 9. makin tinggi mordibitas dan mortalitasnya. Pembagian berat badan lahir menurut WHO tahun 1961 berat badan bayi lahir dikelompokan menjadi tiga yaitu: berat badan bayi kurang dari atau sama dengan 2500 gram. Makin rendah usia gestasi dan makin kecil bayi yang dilahirkan. Hiperbiliirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubiin mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kern-ikterus. jenis persalinan dan penatalaksanaan. Ikterus adalah suatu keadaan kulit dan membran mulkosa yang warnanya menjadi kuning akibat peningkatan jumlah pigmen empedu di dalam darah dan jaringan tubuh. Makin pendek usia kehamilannya makin kurang pertumbuhan dalam alat-alat tubuhnya dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematian.5%. Penyakit penyebab kematian neonatal kelompok umur 8-28 hari tertinggi adalah infeksi sebesar 57. salah satunya bayi akan rentan terhadap infeksi yang nantinya dapat menimbulkan ikterus neonatorum atau hiperbilirubinemia. Angka kejadian bayi hiperbilirubin berbeda di satu tempat ke tempat lainnya. WHO (World Health Organization). sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi prematur. Organ tubuh bayi prematur belum berfungsi seperti bayi yang matur. asfiksia/ trauma 28%. pada tahun 2003. juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy. Banyak bayi lahir. berat badan lahir. kehamilan lewat waktu (postterm) yaitu usia gestasi lebih darai 42 minggu (294 hari). kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh. kemudian asfiksia lahir (33. sepsis . kehamilan kurang bulan (preterm) yaitu usia gestasi kurang dari 37 minggu (259 hari). Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati biliaris (lebih dikenal sebagai kernikterus).kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari tertinggi adalah premature dan Berat Badan Lahir Rendah / BBLR (35%). tuli nada tinggi. sehingga perlu dilakukan penangan yang tepat agar angka kematian bayi menurun dan tidak menimbulkan komplikasi yang berkelanjutan.3%). paralysis dan displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Ensefalopati biliaris merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat. dihitung dari hari pertama haid terakhir (menstrual age of pregnancy).Berat badan lahir yang kurang dari normal dapat mengakibatkan berbagai kelainan yang timbul dari dirinya. dan lain-lain 5%. Dalam hal ini. Ikterus neonatrum ialah menguningnya sklera.

HASIL PENELITIAN Pada periode April 2010 sampai dengan Maret 2011 terdapat 12. b. Imatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia. Banyak bayi. Kurangnya enzim glukorinil tranferase sehingga konjugasi bilirubin . Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien yang lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung periode April 2010 sampai Maret 2011 yang mengalami neonatus hiperbilirubinemia di Bagian Perinatologi yaitu 357 dari 2897 bayi. setiap kasus ikterus yang muncul dalam 24 jam pertama kehidupan harus di anggap serius. terutama bayi kecil (yang kurang dari 2500 gram pada saat lahir atau lahir sebelum usia gestasi 37 minggu). makin tinggi mordibitas dan mortalitasnya. Bilirubin indirect akan mudah melewati apabila bayi terdapat keadaan berat badan lahir rendah. oleh karena itu ia mengalami banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. Kondisi ini sesuai dengan teori dimana pada usia gestasi < 37 minggu sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup bayi. Makin pendek usia kehamailannya makin kurang pertumbuhan dalam alat-alat tubuhnya dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematian. Pada sebagian kasus. Hal ini disebabkan kegagalan bilirubin terkonjugasi diekskresi dari hepar (hepatosit) ke duodenum karen defisiensi sekresi atau aliran empedu sehingga menyebabkan cedera sel hepar. sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi prematur. Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi (indirect) Kadar bilirubin serum indirek ≥ 10 mg/dL untuk bayi cukup bulan atau ≥ 4-5 mg/dL untuk bayi prematur. Karena peningkatan produksi bilirubin dan sirkulasi enterohepatik atau disebut penurunan ambilan bilirubin ke dalam hepar. Bersangkutan dengan kurang sempurna nya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisikologik maka mudah timbul beberapa kelainan diantaranya immatur hati. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang di ambil dari rekam medik dan buku register yang ada di Bagian Perinatologi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung Periode April 2010 sampai Maret 2011. hipoksia dan hipoglikemia. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analitik dan berdasarkan waktu penyelenggaraan penelitian.3% atau 357 bayi yang mengalami neonatus hiperbilirubinemia dari 2897 yang terdapat diruang perinatologi. Alat tubuh bayi yang prematur belum berfungsi seperti bayi yang matur. Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung angka kejadian Neonatus Hiperbilirubinemia terbanyak kepada kelompok umur kehamilan <37 minggu yaitu 12. Hiperbilirubinemia terkonjugasi (direct) Bilirubin serum direk (terkonjugasi) ≥3 mg/dL atau fraksi >10% sampai 15% bilirubin serum total. dapat mengalami ikterus selama minggu pertama kehidupan. Hiperbilirubinemia ialah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang menjurus kearah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. Akan tetapi. Makin rendah usia kehamilan dan makin kecil bayi yang dilahirkan.5%. a. penelitian ini menggunakan disain Cross-Sectional dimana data yang di ambil melihat ke belakang. kadar bilirubin yang menyebabkan ikterus tidak membahayakan dan tidak membutuhkan terapi. hal ini dapat terjadi karena belum maturnya fungsi hepar. Dalam hal ini.kadar bilirubin direct (conjugated).

05) adalah nilai p-value yang signifikan atau bermakna antara berat badan lahir dengan kejadian neonatus hiperbilirubinemia. Tom dkk.bidanindonesia. Hiperbilirubinemia pada bayi prematur bila tidak segera ditangani dapat menjadi kern ikterus yang akan menimbulkan gejala sisa yang permanen. Jakarta : EGC .000 (< 0. FKUI.Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan Keluarga : Jakarta. Sarwono.Diakses pada tanggal 13 Mei 2011 Markum. Bayi Baru Lahir Patologi Ikterus Neonatorum. Haws. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS- KIA). melalui http://www. faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian neonatus hiperbilirubinemia di Rumah Sakit Umum Daerah kota Bandung periode April 2010 – Maret 2011 adalah Berat Badan Lahir dan secara statistik bermakna. 2004 Prawirohardjo. Paulette S dkk. Nilai p-value sebesar 0. salah satunya yaitu hal tersebut dapat menyebabkan kematian bayi dan keterbelakangan mental untuk jangka panjang.0%. Kondisi ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa bayi yang lahir normal tapi dengan menggunakan tindakan dengan ekstrasi vakum karena salah satunya bisa karena bayi yang besar sehingga dilakukan persalianan dengan tindakan ekstrasi vakum. maka penulis mencoba menarik simpulan sebagai berikut: Neonatus Hiperbilirubinemia paling banyak terjadi pada umur kehamilan <37minggu yaitu 12. Asuhan Neonatus Rujukan Cepat.2007. At a Galance Neonatologi.Ilmu Kebidanan. Dan risiko yang terjadi pada bayi adalah bisa terjadi asfiksia dan cidera bayi sehingga dapat menimbulkan infeksi dan dapat menyebabkan kelainan pada bayi. Jakarta : Erlangga Subekti. Menurut penelitian yang pernah di lakukan sebelumnya juga oleh Hardian (2008) bahwa memang kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus bisa disebabkan oleh persalinan dengan tindakan salah satunya dengan ekstrasi vakum karena bisa terjadi cidera dan infeksi ke bayi yang lahir dengan vakum.2008.2007. Kadar bilirubin normal pada bayi prematur 10 mg/dL.indirect menjadi bilirubin direct belum sempurna dan kadar albmin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin dari jaringan ke hepar kurang. Nike.0%. jika teori ini di sambungkan dengan persalinan dengan tindakan yaitu dengan vakum karena bayinya cukup mempunyai berat badan lahir yang besar maka persalinan dengan vakum bisa menyebabkan infeksi dan menyebabkan bayi mengalami cidera. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan. Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir. Hety. Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian faktor Neonatus Hiperbilirubinemia berdasarkan jenis persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung angka kejadian Neonatus Hiperbilirubinemia terbanyak kepada kelompok jenis persalinan vakum yaitu 13.com. Namun. Jakarta : EGC Lissauer. 2008.Jakarta : Yayasan Penerbit Sarwono Prawirohardjo Ryana. Berdasarkan faktor yang paling bepengaruh terhadap Neonatus Hiperbilirubinemia dapat diketahui bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap neonatus hiperbilirubinemia dari 3 penelitian yang telah dilakukan adalah berat badan lahir yang mengalami neonatus hiperbilirubinemia terbanyak yaitu pada berat badan lahir >4000 gram. berdasarkan jenis persalinan paling banyak terjadi pada persalinan dengan ekstrasi vakum yaitu 13.2009. Ilmu Kesehatan Anak.5%.2005.5% dan berat badan lahir >4000 gram yaitu 17. H.5%. Berdasarkan hasil penelitian faktor Neonatus Hiperbilirubinemia berdasarkan berat badan lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung angka kejadian Neonatus Hiperbilirubinemia terbanyak kepada kelompok berat badan lahir > 4000 gram yaitu 17.

Jakarta: Rineka Cipta Yulifah R. Helen. Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Untuk Dokter. Buku Ajar Neonatologi.Sujarno. Edisi 1. Varney. Jakarta : IDAI Cuningham dkk. 2008. 1998. 2005. Notoatmodjo. Jakarta: IDAI. dkk. 2005.jurnalpendidikanbidan. Jakarta : Salemba Medika Setiawan A. Asuhan Kebidanan. dkk. Yogyakarta : Nuha Medika http://www. Obstetri Williams. S1 dan S2. DIV.com/arsip/39-mei-2013/113-faktor-faktor-yang- berpengaruh-terhadap-kejadian-hiperbilirubinemia-pada-neonatus-di-rumah- sakit-umum-daerah-kota-bandung-periode-april-2010-maret-2011. Bidan. 2010.html .Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC Sukadi A.2010. Sinopsis Obstetri. 2008.Jakarta : EGC. Rustam. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC. dan perawat di Rumah Sakit. Mochtar. Soekidjo. 2009.dkk. Achmad dkk. Metodologi Penelitian Kebidanan DIII. 21th ed. Edisi 4.