You are on page 1of 13

.

.

.

.

Bagus niii .

.

Kehamilan pada mola hidatidosa berkembang secara tidak wajar. morfologis.4Secara makroskopik. dan hanya terdapat sedikit pembuluh darah. sedangkan mola hidatidosa invasif sebagai borderline keganasan.1.1 Di amerika serikat kasus mola hidatidosa dijumpai satu dari 1500 kehamilan dan diklasifikasikan menjadi mola komplit ataupun mola parsial berdasarkan klinis. Safriani Yovita Mola Hidatidosa adalah salah satu penyakit trofoblas gestasional (PTG). yaitu degenerasi hidrofik dan kistik dari vili khorealis. dan genetik. dan tidak ditemukan pembuluh darah janin. dimana tidak ditemukannya janin dan hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik dan berbentuk seperti gelembung yang menyerupai anggur. Sedangkan Koriokarsinoma juga muncul sekitar 3% . proliferasi trofoblas. dok? (MOLA HIDATIDOSA) Oleh: dr. Para ahli ginekologi dan onkologi sependapat untuk mempertimbangkan kondisi ini sebagai kemungkinan terjadinya keganasan. yang meliputi berbagai penyakit yang berasal dari plasenta yakni mola hidatidosa parsial dan komplet. membengkak. 6. mola hidatidosa tampak seperti gelembung-gelembung berwarna putih. Secara histologis terdapat proliferasi trofoblast dengan berbagai tingkatan hiperplasia dan displasia.7 Mola Hidatidosa merupakan suatu kehamilan patologik dimana khorion mengalami beberapa hal.5-5% setelah terjadinya mola parsial. dan koriokarsinoma yang ganas. dengan ukuran yang bervariasi yaitu dari beberapa milimeter hingga 1-2 cm.Apa Kehamilan Anggur itu.6 Janin biasanya meninggal dengan villus yang terus tumbuh membesar dan edematus sebagai segugus buah anggur. Mola hidatidosa dapat menimbulkan penyakit trofoblas gestasional persisten yang mana ditemukan sekitar 10-30% kasus setelah terjadinya mola komplit dan 0. tembus pandang. koriokarsinoma. dengan mola hidatidosa berprognosis jinak. Vili khorialis terisi cairan. berisi cairan yang jernih. mola invasif dan placental site trophoblastic tumors.

Ovum yang tidak bernukleus mengalami fertilisasi oleh sperma haploid yang kemudian berduplikasi sendiri. Pada mola hidatidosa parsial terdapat jaringan fetus. yaitu 1:40 persalinan dengan faktor resiko.4 Mola hidatidosa terbagi atas 2 kategori. periode januari 2002 sampai dengan desember 2005 didapatkan sebanyak 72 kasus mola hidatinosa. kurang berkembang. Ukuran vesikel bervariasi dari yang sulit dilihat. Makassar. yaitu: 9 1. Paritas tidak mempengaruhi faktor resiko ini. seperti gizi buruk. Wanita usia lebih dari 40 tahun memiliki resiko 7 kali dibanding wanita yang lebih muda. Tabel 1. Wahidin Sudirohusodo. Berdasarkan penelitian retrospektif yang dilakukan pada bagian obstetri dan ginekologi di BLU Dr. Beberapa faktor-faktor seperti gangguan pada telur. Eritrosit fetus dan pembuluh darah di vili khorialis sering didapatkan. dan mungkin tampak sebagai jaringan janin.6. Wanita yang berusia lebih dari 35 tahun memiliki resiko 2 kali lipat.XXX atau 96.8 Mola hidatidosa terbagi menjadi mola hidatidosa komplet dan parsial.XX atau 46.3 Mola hidatidosa di Indonesia dianggap sebagai salah satu penyakit yang membutuhkan perhatian khusus dengan insidensi yang tinggi.setelah terjadinya mola komplit dan jarang dilaporkan terjadi setelah mola parsial.4 Faktor resiko mola hidatidosa sering didapatkan pada wanita usia reproduktif. Semua kromosom berasal dari paternal. Vili khorialis terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk dengan stroma tropoblastik yang menonjol dan berkelok-kelok. dari 230 kehamilan didapatkan 1. Wanita usia remaja atau usia perimenopausal amat sangat beresiko. sel darah janin Sering dijumpai Sering dijumpai Bervariasi. Mola hidatidosa komplet tidak berisi jaringan fetus.fokal ringansedang Bervariasi. vili khoriales memiliki ciri seperti buah anggur. riwayat obstetri.XY Patologi  Janin  Amnion. Perkembangannya berlangsung lambat pada sebagian villi yang biasanya avaskular.XY. Gambaran Klasifikasi Mola Hidatidosa 9 Gambaran Mola Parsial Mola Sempurna Kariotipe Umumnya 69. sementara villi – villi berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin plasenta yang masih berfungsi tidak terkena. 2. 90 % biasanya terdiri dari kariotipe 46.XX dan 10% 46. Mola Hidatidosa Parsial 9 Mola hidatidosa parsial memiliki perubahan villi yang bersifat fokal.7 Sejauh ini penyebab dari mola hidatidosa sendiri masih belum diketahui. Hiperplasia trofoblastik lebih bersifat fokal dari pada generalisata. Temuan Histologik ditandai oleh:  Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan Stroma Vilus  Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak  Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi  Tidak adanya janin dan amnion.2Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di rumah sakit Charing Cross Hospital di london. Pada mola yang komplet. berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering berkelompok – kelompok menggantung pada tangkai kecil. kekurangan gizi pada ibu hamil. etnis. dan genetik serta sering terjadi pada usia kurang dari 20 tahun dan pada usia lebih dari 35 tahun. atau satu telur dibuahi oleh 2 sperma. ringanberat Gambaran Klinis  . dan terdapat tropoblastik hiperplasia. Wanita dengan usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun juga memiliki resiko tinggi untuk terjainya mola hidatidosa. yaitu komplet mola hidatidosa dan parsial mola hidatidosa. dan kelainan rahim dianggap berhubungan dengan peningkatan angka kejadian mola hidatidosa sendiri.fokal Tidak ada Tidak ada Difus  Edema villus  Proliferasi trofoblas Bervariasi.XXY 46.6.3% diantaranya telah berkembang menjadi mola hidatidosa. Mola Hidatidosa Komplet 9 Villi korionik pada mola hidatidosa komplet berubah menjadi suatu massa vesikel–vesikel jernih.

Kasus mola hidatidosa dengan kista lutein memiliki faktor resiko untuk terjadinya degenerasi keganasan empat kali lebih besar dibandingkan dengan kasus mola hidatidosa tanpa disertai kista lutein. dan adanya denyut jantung pada ultrasonografi.1 Masalah lain yang juga sering muncul akhir-akhir ini pada kasus mola hidatidosa adalah tirotoksikosis. Selanjutnya perkembangan lebih pesat.1 Uterus pada mola hidatidosa tumbuh lebih cepat daripada kehamilan biasa. pada uterus yang besar ini tidak terdapat tanda. 1 Perdarahan merupakan gejala utama mola hidatidosa. Biasanya disini penderita meninggal diakibatkan oleh krisis tiroid. tetapi ada beberapa kasus dimana kista lutein baru ditemukan sewaktu kita melakukan pemeriksaan berhari-hari. Perdarahan ini biasanya terjadi antara bulan pertama hingga bulan ke tujuh dengan rata-rata usia 12 sampai dengan usia 14 minggu.1 Mola hidatidosa juga sering disertai dengan kista lutein. dan gejala-gejala lainnya. Umumnya kista ini menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan. Sebenarnya pada tiap-tiap kehamilan selalu ada migrasi dari sel-sel trofoblas ke paru-paru tanpa memberikan gejala apa-apa. namun apabila menggunakan Ultra Sonografi (USG) angka insidensinya meningkat hingga 50%. Maka dari itu Martaadisoebrata menganjurkan agar semua kasus mola hidatidosa harus dicari tanda-tanda tirotoksikosis secara aktif seperti kita yang selalu waspada terhadap tanda-tanda pre-eklamsi ataupun eklamsi pada tiap kehamilan. Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan: 1. pada mola hidatidosa terkadang jumlah dari sel trofoblas begitu banyak.Diagnosis  Ukuran uterus  Kista teka lutein  Penyulit medis  Penyakit Pasca mola Missed abortion Kecil untuk masa kehamilan Jarang Jarang Kurang dari 5-10% Gestasi mola 50% besar untuk masa kehamilan 25-30% Sering 20% Gejala awal pada mola hidatidosa tidak jauh berbeda dengan kehamilan biasanya. Sifat dari perdarahan ini dapat intermiten. hanya saja perbedaannya ialah pre-eklamsia ataupun eklamsia pada mola hidatidosa terjadinya lebih muda dari pada usia kehamilan biasa. sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari pada usia kehamilan.2 %.1 Mola hidatidosa juga dapat disertai dengan pre-eklamsia ataupun eklamsia layaknya kehamilan biasa. baik unilateral ataupun bilateral. gerak janin pada auskultasi. Dalam hal ini perkembangan trofoblas tidak begitu aktif. adanya kerangka janin pada pemeriksaan roentgen.kadang dijumpai emboli paru A. hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat dari pada kehamilan biasa. Namun.1 Penyulit lain yang mungkin terjadi adalah emboli sel trofoblas ke paruparu.1 Diagnosis penyakit ini meliputi:10 (1)Perdarahan per vaginam disertai keluarnya gelembung gelembung seperti buah anggur (gelembung mola) atau villus (2)Tejadi gejala toksemia pada trisemester I-II (3)Terjadi hiperemis gravidum (4)Dijumpai gejala- gejala tirotoksikosis atau hipertiroid (5)Kadang. yaitu berupa rasa mual. pusing.10 (1)Umumnya ukuran uterus pada . muntah. Dengan pemeriksaan klinis insidensi kista lutein lebih kurang 10. sehingga perlu dipikirkan kemungkinan adanya jenis dying mole.tanda adanya janin didalamnya. sehingga dapat menimbulkan emboli paru akut yang dapat berujung pada kematian. walaupun jaringannya belum dikeluarkan. Adapun kasus-kasus dimana uterusnya sama kecil atau sama besarnya dengan usia kehamilan. sedikit-sedikit atau banyak. Biasanya keluhan perdarahan inilah yang mendorong pasien untuk datang ke rumah sakit. seperti ballotement pada palpasi. sehingga menyebabkan pasien mengalami anemia dari ringan hingga berat dan dapat berujung pada syok hingga kematian.

karena dapat menyebabkan perforasi.000 IU/ml  Beta HCG serum diatas 40. kemudian mengecil sendiri.8  Terapi profilaksis dengan sitostatika dapat diberikan pada kasus mola dengan risiko tinggi akan terjadi keganasan. yaitu:  Lebih besar dari usia kehamilan (50%-60%)  Besarnya sama dengan usia kehamilan (20%-25%)  Lebih kecil daripada usia kehamilan (5%-10%) (2)Dijumpai kista lutein yang biasanya lebih besar dari kista lutein biasa (3)Tidak teraba bagian janin (4)Terdapat bentuk asimetris. Pemeriksaan Laboratorium 1. walaupun ukuran kehamilan besar B. Diperlukan kontrasepsi yang adekuat selama periode ini.10  Tidak terdapat janin  Tampak sebagian plasenta normal C.mola hidatidosa bervariasi. Batasan yang dipakai adalah wanita usia 35 tahun yang telah memiliki tiga anak yang hidup. Sebelum tindakan kuret dilakukan.5 minggu. Namun.12  Pemulihan biasanya memerlukan waktu sekitar 4. serta masa .10  Beta HCG urin tinggi lebih dari 100.10  Tidak tampak janin  Jaringan mola terlihat jelas Penanganan awal pada mola hidatidosa adalah perbaikan keadaan umum. biasanya disebut dengan mola destruen (5)Tak ada ballotement (6)Tidak dijumpai adanya denyut jantung janin. Sebelum mola dievakuasi. Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim(AKDR) tidak dianjurkan sampai dengan kadar HCG tidak terdeteksi karena terdapat resiko perforasi rahim jika masih terdapat mola invasif. bagian menonjol yang sedikit padat.11  Sediaan kuret dipisahkan dari sediaan kuret tumpul dan kuret tajam. Selanjutnya pengeluaran mola yang dapat dilakukan dengan histerektomi pada wanita usia lanjut dan sudah memiliki anak dengan jumlah yang diinginkan dengan alasan bahwa usia tua dan parietas yang tinggi merupakan faktor predisposisi terjadinya keganasan. ada baiknya melakukan prmeriksaan roentgen paru untuk melihat kemungkinan metastase. Selanjutnya dapat dilakukan kuretase menggunakan kuret tumpul untuk mengeluarkan sisa-sisa konseptus. akibat pengaruh hormonal. kemudian keduanya diperiksakan secara patologi anatomik.6. biasanya dilakukan pemasangan batang laminaria atau dengan menggunakan dilatator Hegar untuk membuka serviks. maka dapat dilakukan pengeluaran mola dengan sunction curettage dan untuk memperbaiki kontraksi dapat diberikan oksitosin secara intravena. Kedua ovarium dapat ditemukan membesar menjadi kista teka lutein. misalnya pada usia tua dan paritas tinggi yang menolak untuk dilakukan histerektomi atau kasus mola dengan hasil histopatologi yang dicurigai memiliki tandatanda keganasan. dianjurkan uterus beristirahat 4 – 6 minggu dan penderita disarankan untuk tidak hamil selama 12 bulan. sistemik atau barier selama waktu monitoring.000 IU/ml D. Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi dan terapi sulih hormon dianjurkan setelah kadar hCG kembali normal. Pemeriksaan USG Serial Tunggal 1. pada wanita muda yang masih menginginkan untuk memiliki anak. Pasien dianjurkan untuk memakai kontrasepsi oral. Biasanya diberikan methotrexate atau actinomycin D.1. Kerokan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.1  Setelah dilakukan evakuasi. Setelah 7-10 hari pengeluaran mola dapat dilakukan kerokan ulangan dengan kuret tajam untuk memastikan bahwa uterus benar-benar kosong dan untuk memeriksa tingkat proliferasi sisa-sisa trofoblas yang dapat ditemukan. Pemberian pil kontrasepsi berguna dalam 2 hal yaitu mencegah kehamilan dan menekan pembentukan LH oleh hipofisis yang dapat mempengaruhi pemeriksaan kadar HCG. Pemeriksaan MRI 1.

Pasien dinyatakan sembuh apabila kadar beta-hCG normal yakni .pengawasan 2 tahun.5 minggu. serta masa pengawasan 2 tahun. Pasien dinyatakan sembuh apabila kadar beta-hCG normal yakni Pemulihan biasanya memerlukan waktu sekitar 4.