You are on page 1of 6

Novel “Pulang”

Karya Toha Mohtar

A. Identitas Buku
1. Judul : Pulang
2. Pengarang : Toha Mohtar
3. Penerbit : Pustaka Jaya(cetekan ketiga)
4. Tahun terbit : 1972
5. Pencetak : Fa Aries Lima
6. Seri : PJ 024
7. Jumlah halaman : 71
8. Jenis : Fiksi

B. Sinopsis
Novel Pulang menceritakan seorang pemuda dari desa yang
menjadi tentara Heiho dan bertugas untuk memerangi bangsa Indonesia.
Nama dari pemuda tersebut adalah Tamin. Tujuh tahun lamanya, Tamin
menjadi Heiho dan pergi ke Jepang untuk tinggal di sana, kisah ini dimulai
ketika Tamin berkeinginan pulang ke kampung halamannya yang telah
tujuh tahun ditinggalnya.Tamin berkeinginan untuk pulang karena rindu
dengan keluarganya dan sanak saudaranya. Tamin pulang menyusuri jalan-
jalan desa di kala siang hari. Langkah demi langkah ia jalani, ia melihat
jalan yang dilaluinya masih sama seperti yang dulu, masih seperti tujuh
tahun yang lalu. Sesampainya di kampung halaman, Tamin melihat rumah
yang telah ditinggalnya selama tujuh tahun, masih seperti dahulu. Terlihat
seorang perempuan tua duduk di pelataran rumahnya, dialah ibu Tamin,
Tamin seakan tak percaya bahwa ibunya telah setua itu dan ibunya seakan

Bahkan. Sesampainya di rumah. Ia takut jika nantinya ada orang yang membocorkan rahasia dirinya yang kemudian menceritakan kisah yang sebenarnya kepada warga kampungnya. Ayah Tamin bercerita banyak tentang keluarga saat Tamin tidak ada. Berita dan cerita-cerita bohong yang telah dibuat oleh Tamin sangat menggelisahkan bagi dirinya sendiri. Dia bercerita bahwa Ayah Tamin telah meninggal dunia. dalam kepergiannya. Tamin adalah seorang tentara Heiho yang telah berkhianat terhadap bangsa dan negaranya sendiri. Tamin berkeyakinan bahwa ia tak sepenuhnya bersalah menjadi tentara Heiho. orang tuanya sendiri tidak mengetahui bahwa ia adalah tentara Heiho.tidak percaya Tamin pulang ke kampung halamannya. ia tetap merasa tersiksa karena telah berbohong. Warga kampung yang mendengar berita kedatangan Tamin. Lalu. Ayah Tamin harus menjual sawahnya. Akan tetapi. tetangga kampungnya. Hati Tamin sungguh sedih. Dan tekad untuk membangun kampung . Suatu hari. Hal inilah yang sangat menggelisahkan hati Tamin saat ia pulang ke kampung halamannya. Apalagi ketika dirinya di suruh untuk menyanyikan lagu-lagu nasional dan perjuangan. di dalam pengembaraannya Tamin bertemu dengan Pak Banji. karena untuk mempertahankan hidupnya. waktu itu ia sangat terpengaruh terhadap propaganda Jepang dan sekutunya. Akhirnya Tamin memutuskan untuk meninggalkan kampung halamnanya untuk mengembara. Padahal. Warga kampung ingin mendengar cerita perjuangan Tamin melawan para penjajah. Mendengar cerita dari Pak Banji di satu sisi Tamin senang karena warga kampungnya belum mengetahui jati dirinya sebagai Heiho di sisi yang lain Tamin sangat sedih mendengar kepergian ayahnya karena itulah Tamin bertekad untuk pulang ke kampung halamannya dan membangun kampung halamannya sebagai wujud penyesalan karena telah melawan bangasanya sendiri. Dalam hati kecilnya. Tamin langsung melepas rindunya terhadap keluarganya. Melihat kenyataan ini Tamin terpaksa membohongi warga kampung dan orang tuanya sendiri tentang perjuangannya sealam tujuh tahun di tempat perantauan untuk melawan penjajah. Namun. Pan Banji juga bercerita bahwa orang-orang di kampungnya mengharapkan Tamin untuk pulang ke desanya. Karena dirinya merasa sebagai pembohong dan pengkhianat di kampungnya ia tak kuat menahan rasa di hati. Tamin akan menebusnya kembali. Mereka sangat ingin mendengarkan kisah perjuangan Tamin sewaktu melawan para penjajah. mereka menganggap Tamin adalah seorang pahlawan gerilya yang telah berjuang membela bangsa dan negaranya dari penjajah. Ia selalu mengarang cerita bagaimana ia bergerilya melawan para penjajah di hutan-hutan di Jawa Barat.

jangan engkau lepaskan kelak meski sejengkal. lantaran dibatasi oleh kali yang tidak pernah kering sepanjang musim. Ayah Tamin 1) Bijaksana: ““ Ingat Tamin. Penokohan a. halamannya diwujudkan sebagai balas jasa terhadap ayahnya dan sebagai kecintaan terhadap kampung halamannya. Unsur-Unsur Intrinsik 1. Sumi 1) Rajin: “Sumi rajin menyiangi. seperti juga ia telah menghidupi nenek moyang kita. Agar keluarganya tidak terbebani. Engkau harus tahu. Ibu Tamin 1) Cemas: “…. bahwajanji hidup dari keturunanmu terletak dalam tanah ini pula. Tamin 1) Pekerja keras: “Ia telah berada di sawah di waktu subuh sebelum matahari terbit dan pulang menjelang senja.kadang-kadang aku cemas melihatnya. Dan engkau berhak mengetahuinya. yang selama ini cuma menjadi milikku. lantaran aku adalah anakmu. mencabuti rerumputan yang tumbuh menganggu padi…. e. b. “ Tanah ini adalah yang terbaik di seuruh desa. Ini adalah pusaka!”” c. kata Ayahnya.” 2) Jujur: “Engkau benar.” 3) Pemaaf dijelaskan pada saat Sumi memaafkan Tamin karena Tamin menampar pipi Sumi. Pak Banji . 4) Patuh terhadap orang tua.” 2) Penyayang/Perhatian: “Aku cuma ingin melihat engaku segembira kemarin…. Gantungkan harapanmu di sini dan bila datang masanya engkau memegang sendiri. 3) Penyayang d. Cintailah ini seperti juga nenekmu mengajari aku.” 3) Tangung jawab dan senang membantu orang tua dijelaskan saat Tamin membantu keluarganya untuk menggarap sawah. Mbok Min f. Apakah gerangan itu yang menjadikannya?” 2) Perhatian kepada anak-anaknya: Ibu Tamin selalu cemas kepada anak-anaknya. mak! Memang ada sesuatu yang tersimpan di dalam hati. C. Tema: Tanggung jawab 2.

” 2) Sedih: “….” c.. dengan etalase yang terisi beraneka ragam barang jualan.” 3) Di pinggir sawah: “Sendiri... kegembiraannya seperti tak termuat dan meluap-luap.” 4) Di sebuah toko: “Mereka turun di depan sebuah toko yang besar.. dadanya terlalu penuh. Suasana: 1) Haru: “Sekalipun ia telah membayangkan. samping pematang yang masih tergenang air oleh hujan kemarin petang. ia yakin bahwa itu adalah rumahnya. Tamin berdiri di pinggir sawah.. 1) Periang: “Ia terkenal di seluruh desa sebagai seorang periang…” g.” 5) Di gubuk: “Ia tengah melepaskan lelah kala itu. bahwa akan setua itu ibunya. akhirnya ia menangis lantaran itu. ia ingin memanggil ibunya. Waktu: 1) Setelah 7 tahun: “…telah tujuh tahun lamanya sejak ia meninggalkan desanya sampai kini. Alangkah beratnya kaki untuk melangkah masuk. di bawah gubuk …. dengan malam- malamnya. Latar a.” 4) Gembira: “Bibirnya tak mau berhenti.” 3) Sunyi: “Malam bertambah sunyi.” .. Tempat: 1) Latar utamanya adalah sebuah kampung di kaki Gunung Wilis 2) Di rumah: “Ia masih berdiri di samping pagar. tapi peristiwa sekejap itu mengubah derasnya air mata. Warga Kampung 3.” b.” 6) Pendapa kelurahan: “Pendapa kelurahan telah ramai. sekalipun. Ia ingin berteriak. Isah h. namun segala suara terhenti…. Ia tak dapat menahan air matanya yang membasahi pelupuknya saja selama berkata. Seperti kemarin juga orang kampong tak ada yang mau turun…. Pak Lurah Kabul i..

c. Nilai nasionalis: Gamik dan Pardan melakukan perjuangan melawan penjajah demi tanah air. Patuhlah kepada orang tua. Latar belakang pengarang Toha Mohtar adalah seorang penulis yang telah banyak menulis cerpen. Bukti 1: “…. Tamin telah terbangun.” 4. Nilai budaya: Menyanyikan lagu/tembang bahasa jawa yaitu lagu Asmaradana. Jika berbuat salah. b.” 4) Setelah 4 bulan: “Empat bulan matanya bertambah dalam. c. Tanggapan 1. b. Sudut pandang Menggunakan sudut pandang orang ketiga. Nilai-nilai kehidupan a.barulah kemudian terlepas teriakan yang menyayat keheningan petang itu.” 3) Pagi hari: “Pagi-pagi ketila suara pedati pertama menembus dinding dan langkah orang di jalanan…. Jawa Timur dan meninggal dunia di Jakarta pada 17 Mei 1992. Pada novel ini berisi tentang keadaan di suatu .” Bukti 2: “Ia berhenti sebentar. suara pedati pertama menembus dinding dan langkahorang di jalanan menuju pasar mulai ramai. Tanggung jawab terhadapa amanah yang sudah diberikan. Unsur Ekstrinsik 1. D. Nilai sosial: Warga kampung bergotong royong untuk perbaikan makam Gamik dan Pardan. Kemudian ia mulai menulis buku roman dan mendapat hadiah sastra nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) pada tahun 1958. Ia lahir pada 17 September 1926 di Kediri. 2) Petang: “…. haruslah meminta maaf. lebih baik memperbaikinya. wajahnya bertambah kering. Nilai ekonomi: Ibu Tamin yang masih rajin ke pasar untuk berbelanja. d. Logika cerita Cerita pada novel “Pulang” masuk akal karena pada novel ini tidak ada hal-hal yang dilebihkan.” 6. 2. E. Alur Pada novel “Pulang” ini menggunakan alur maju 5. Amanat a. pannjang menelan ludah dan Tamin mulai meraba gelora hati ibunya. d. Jangan menyesali kesalahan yang dahulu.

F.com/ . Contohnya.kejadian pada novel ini sangat relevan atau sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya.blogspot.blogspot. Manfaat bagi pembaca Pembaca dapat mengambil manfaat dari penokohan yang ada di novel “Pulang”. Sumber Pustaka http://fathinauliarahman.com/ http://nikenvanessa. pada novel ini diceritakan seorang Tamin mencangkul di sawah. Novel ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk selalu bekerja keras dan apabila diberi amanah kita harus bertanggung jawab kepada amanah tersebut. 2.com/ http://nahkoda90. kita harus meneladani sifat tanggung jawab dan pekerja keras dari sifat tokoh Tamin. Kejadian ini relevan dengan kehidupan sehari-hari karena mencangkul di sawah adalah suatu kegiatan yang biasa yang dilakukan oleh petani.blogspot. 3. kampung dan hal-hal yang ada di novel ini diceritakan seperti keadaan di kehidupan sehari-hari. Relevansi dengan kehidupan sehari-hari Kejadian.