You are on page 1of 9

https://ilmubatubara.wordpress.

com/2006/09/23/sumber-daya-dan-cadangan/
Perhitungan Cadangan Dengan Metode Penampang
Pada prinsipnya, perhitungan cadangan dengan menggunakan metoda penampang ini
adalah mengkuantifikasikan cadangan pada suatu areal dengan membuat penampang-
penampang yang representatif dan dapat mewakili model endapan pada daerah tersebut. Pada
masing-masing penampang akan diperoleh (diketahui) luas batubara dan luas overburden.
Volume batubara & overburden dapat diketahui dengan mengalikan luas terhadap jarak
pengaruh penampang tersebut. Perhitungan volume tersebut dapat dilakukan dengan
menggunakan 1 (satu) penampang, atau 2 (dua) penampang, atau 3 (tiga) penampang, atau
juga dengan rangkaian banyak penampang:
a. Dengan menggunakan 1 (satu) penampang
Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa 1 penampang mempunyai daerah pengaruh hanya
terhadap penampang yang dihitung saja

Volume = (A x d1) + (A x d2)
dimana : A = luas overburden
d1 = jarak pengaruh penampang ke arah 1
d2 = jarak pengaruh penampang ke arah 2
Volume yang dihitung merupakan volume pada areal pengaruh penampang tersebut. Jika
penampang tunggal tersebut merupakan penampang korelasi lubang bor, maka akan
merefleksikan suatu bentuk poligon dengan jarak pengaruh penampang sesuai dengan daerah
pengaruh titik bor (poligon) tersebut.

maka perlu ditambahkan penampang antara untuk mereduksi kesalahan. dimana A1 & A3 adalah luas penampang 1 & 3. dan d adalah jarak antar penampang. . Jika tidak terlalu berbeda maka dapat digunakan rumus mean area & rumus kerucut terpancung.b. c. tetapi jika perbedaannya terlalu besar maka digunakan rumus obelisk. Dengan menggunakan 3 (tiga) penampang Metoda 3 (tiga) penampang ini digunakan jika diketahui adanya variasi (kontras) pada areal di antara 2 (dua) penampang. dimana A1 dan A2 adalah luasan penampang 1 & 2. A2 adalah luas penampang antara. Yang perlu diperhatikan adalah variasi (perbedaan) dimensi antara kedua penampang tersebut. Dengan menggunakan 2 (dua) penampang Cara ini digunakan jika diasumsikan bahwa volume dihitung pada areal di antara 2 penampang tersebut.

C = area batubara dalam acre atau hektar Kemiringan lapisan batubara juga memberikan pengaruh dalam perhitungan sumber daya batubara. cm atau meter B = berat batubara per stuan volume yang sesuai atau metric ton. tonase batubara harus dibagi dengan nilai cosinus kemiringan lapisan batubara. Bila lapisan batubara memiliki kemiringan yang berbeda-beda. . Kemiringan 00 – 100 Perhitungan Tonase dilakukan langsung dengan menggunakan rumus Tonnase = ketebalan batubara x berat jenis batubara x area batubara 2.2. Kemiringan 100 – 300 Untuk kemiringan 100 – 300. maka perhitungan dilakukan secara terpisah. 1. dimana: A = bobot ketebalan rata-rata batubara dalam inci. feet.2 Metode USGS 1984 Data yang digunakan dalam penghitungan hanya berupa data singkapan. II. maka metode yang digunakan untuk penghitungan sumber daya daerah penelitian adalah metode Circular (USGS) Penghitungan sumber daya batubara menurut USGS dapat dihitung dengan rumus Tonnase batubara = A x B x C.

yaitu dengan mencari volume dari batubara. striping ratio. tonase batubara dikali dengan nilai cosinus kemiringan lapisan batubara. mining recovery. overallslope. Metode mean area ini terdiri dari beberapa langkah yang harus dilakukan. sulfur dan ash). Pembuatan garis sayatan dan penampang sayatan menggunakan bantuan software autocad land development dimana jarak tiap penampang 20 m. pembuatan peta kualitas batubara (kalori. Hasil perhitungan secara manual ini dapat dipakai sebagai alat pembanding untuk mengecek hasil perhitungan yang lebih canggih dengan menggunakan komputer. penentuan kedudukan batubara. dan processeding recovery.4 Metode Cross Section Masih sering dilakukan pada tahap-tahap paling awal dari perhitungan. meliputi: pembuatan penampang log bor. pembuatan iso struktur top dan bottom batubara. 3. pembuatan penampang. faktor geologi. geogicall loose. lebar mineflor. . data kualitas batubara. peta geologi daerah penelitian skala 1 : 100000. Perhitungan volume batubara dan overburden menggunakan metode mean area. 2. yang diperoleh dari rata-rata (mean) luas area dikalikan dengan jarak penampang. Kemiringan > 300 Untuk kemiringan > 300. II. Sehingga diperoleh nilai dari Striping ratio yaitu perbandingan antara volume overburden dengan cadangan batubara. perhitungan tonase serta striping ratio. geologi lokal. perhitungan cadangan yang meliputi : pembuatan sayatan. Sedangkan data sekunder berupa : peta topografi skala 1 : 4000. pembuatan cropline. mining recovery. selanjutnya didapatkan tonase dari batubara dengan mengkalikan volume dengan berat jenis batubara.2. processing recovery. II.3 Metode Mean Area Metode ini memerlukan data primer berupa: data titik bor.

.

. Lsimp1/3 = h/3 (f0+fn) + h/3 (4f1+4f3+4f5+... (2.+fn-1) + 2h/3 (f2+f4+f6+. (2...+4fn-1) + h/3 (2f2+2f4+2f6+....+3fn-1) + h/8 (3f2+3f4+3f6+..5) II.Untuk menghitung luas penampang digunakan penggabungan metode simpson 1/3 dan simpson 3/8..+fn-1) + 3h/8 (f2+f4+f6+....+3fn-2) h/8 (f0+fn) + 3h/8 (f1+f3+f5+...............+fn-2) Lsimp1/3 = h/3 ( f0 + 4 ∑ f ganjil + 2 ∑ f genap + fn ) .....+fn-2) Lsimp3/8 = h/8 ( f0 + 3 ∑ f ganjil + 3 ∑ f genap + fn ) .....4) Lsimp3/8 = h/8 (f0+fn) + h/8 (3f1+3f3+3f5+.+2fn-2) h/3 (f0+fn) + 4h/3 (f1+f3+f5+....2.5 Metode Isoline (Metode Kontur) .......

Metoda ini dipakai untuk digunakan pada endapan batubara dimana ketebalan dan kadar mengecil dari tengah ke tepi endapan. Bila kondisi mineralisasi tidak teratur maka akan muncul masalah.dst. 1998). Volume dapat dihitung dengan cara menghitung luas daerah yang terdapat di dalam batas kontur. (Dr. Ir. 2003). dan keseluruhan variable acak dalam daerah yang dianalisis tersebut akan membentuk suatu fungsi acak dengan menggunakan model struktural variogram atau kovariogram (Dr. Kriging diambil dari nama seorang pakar geostatistik dari Afrika Selatan yaitu D. Ir. Rukmana Nugraha Adhi. II. kemudian mengadakan weighting dari masing-masing luas daerah dengan contour grade. Kadar rata-rata dapat dihitung dengan cara membuat peta kontur. Totok Darijanto. 1998).6 Metode Krigging Kriging yaitu suatu teknik perhitungan untuk estimasi atau simulasi dari suatu variabel terregional (regionalized variable) yang memakai pendekatan bahwa data yang dianalisis dianggap sebagai suatu realisasi dari suatu variabel acak (random variable). kemudian mempergunakan prosedur-prosedur yang umum dikenal.2. Hal ini dapat dijelaskan melalui contoh berikut ini (Seimahura. Kriging adalah penaksiran geostatistik linier tak bias yang paling bagus untuk mengestimasi kadar blok karena menghasilkan varians estimasi minimum ’ BLUE (Best Linier Unbiased Estimator). go = kadar minimum dari batubara g = interval kadar yang konstan antara dua kontur Ao = luas endapan dengan kadar go dan lebih tinggi A1 = luas endapan batubara dengan kadar go + g dan lebih tinggi A2 = luas endapan batubara dengan kadar go + 2g dan lebih tinggi.G Krige yang telah banyak memikirkan hal tersebut .

Perhitungan dengan metoda kriging ini kadang-kadang terlalu kompleks untuk suatu komoditi tertentu. Secara sederhana. Secara sederhana. kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. . Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi conto di sekitar blok serta model variogramnya. Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi conto di sekitar blok serta model variogramnya.sejak tahun 50an. Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran. Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran. kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. Hal ini sangat bermanfaat jika dilakukan pada penentuan cadangan- cadangan yang mineable dengan kadar-kadar di atas cut off grade.