You are on page 1of 6

1

JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6

PENENTUAN MULTI CRITERIA
DECISION MAKING DALAM OPTIMASI
PEMILIHAN PELAKSANA PROYEK
Chintya Ayu Puspaningtyas, Alvida Mustika Rukmi, dan Subchan
Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
Email: alvida@matematika.its.ac.id

Abstrak—Dengan semakin bertumbuhnya ekonomi, Hierarchy Process pada pemilihan pemenang
sarana dan prasarana publik harus mampu mendukung proyek. Penelitian ini nantinya dapat memberi
aktifitas perekonomian masyarakat. Pembangunan jalan informasi tentang kelebihan maupun kekurangan
merupakan salah satu faktor yang mampu memperlancar masing-masing metode dan mampu memberikan
roda perekonomian. Dalam pelaksanaanya pelelangan deskripsi perbedaan antara masing-masing metode
diperlukan untuk menentukan pelaksana proyek yang sehingga mampu memberikan alternatif pilihan
dapat melaksanakan pembangunan. Tugas Akhir ini
metode yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah
membahas permasalahan penentuan pelaksana proyek
dengan menggunakan metode Multi Criteria Decision ditentukan.
Making (MCDM). Metode Analytic Network Process
dan Analytical Hierarchy Process diterapkan untuk II. METODE PENELITIAN
memilih pemenang proyek dan membandingkan
metode yang terbaik. Berdasar pada hubungan A. Studi Pendahuluan.
ketergantungan antar kriteria dan alternatif diperoleh Studi pendahuluan bertujuan untuk mendapatkan
metode terbaik adalah Analytic Network Process. dan menentukan tujuan dan permasalahan dalam
Selanjutnya metode Zero One Goal Programming
digunakan untuk optimasi penentuan pemenang
tugas akhir. Dari permasalahan dan tujuan yang telah
pelaksana proyek dan diperoleh pemenang pelaksana dirumuskan selanjutnya dilakukan studi litelatur dan
proyeknya adalah PT.A studi lapangan.

Kata Kunci— analytical hierarchy process, analytic B. Pengumpulan data
network process, multi criteria decision making, zero one Data yang digunakan yaitu kriteria dan alternatif
goal programming. pelaksanaan proyek y a n g m e r u p a k a n d a t a
s e k u n d e r dan data primer hasil form penilaian antat
I. PENDAHULUAN kriteria dengan alternatif pelaksana proyek.

I ndonesia merupakan
berkembang. Dengan
negara
semakin
yang sedang
bertumbuhnya
ekonomi, sarana dan prasarana publik harus mampu
C. Pengolahan data dengan metode AHP dan ANP
Pada tahap ini hasil rekap dari form penilaian yang
berupa matriks perbandingan diolah menggunakan
mendukung aktifitas perekonomian masyarakat. metode AHP dan ANP untuk menentukan bobot kriteria
Pembangunan jalan merupakan salah satu faktor yang dan bobot masing-masing alternatif terhadap masing-
mampu memperlancar roda perekonomian. Dalam masing kriteria serta untuk mengukur konsistensi dari
pelaksanaannya pelelangan diperlukan untuk setiap penilaian.
menentukan pelaksana proyek yang dapat melaksanakan
pembangunan. D. Pengolahan data dengan metode Zero one Goal
Multi Criteria Desion Making adalah suatu programming.
teknik pengambilan keputusan yang kompleks Pada tahap ini bobot yang merupakan hasil dari
karena adanya banyak faktor yang mempengaruhi proses perhitungan dengan metode AHP dan ANP
[7]. Pada metode Analytic Network Process dioptimasi dengan metode Zero one Goal programming.
mempertimbangkan adanya hubungan antar kriteria. Untuk perhitungan menggunakan software LINDO.
Sedangkan, pada penelitian yang dilakukan oleh
Olivia, C.M, (2013) [3] dalam pengambilan E. Analisis Hasil dan Kesimpulan.
keputusannya menggunakan metode Analytical Analisis hasil dan kesimpulan dilakukan untuk
Hierarchy Process dimana kriteria yang digunakan membahas hasil keluaran (output) berdasarkan hasil
tidak saling berhubungan satu sama lain. keputusan
perhitungan dan analisa metode AHP, ANP tersebut [7]. Penel
dan Zero-
Dalam Tugas Akhir ini akan dilakukan One Goal Programming.
perankingan alternatif dengan menggunakan metode
Multi Criteria Decision Making (MCDM) yaitu
metode Analytic Network Process dan Analytical
2
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6

III. DATA PENELITIAN dan sistematis[10]. Tahapan penyelesaian pada metode
Analytical Hierarchy Process adalah :
Penelitian ini menggunakan dua macam data yaitu
data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif
1. Menyusun Hierarki
diperoleh dari pengisian kuisioner oleh expert. Data
Dalam struktur hierarki terdapat 3 level yaitu level
kuantitaif digunakan pada kriteria nilai penawaran dan
harga satuan timpang. Kemudian, data alternatif yang satu adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu memilih
digunakan pada tugas akhir ini ada sebanyak 5 pemenang proyek. Level dua merupakan kriteria-kriteria
perusahaan yaitu PTA, PTB, PTC, PTD, dan PTE. yang digunakan dalam. Sedangkan level tiga berisi
Tabel 1. Kriteria yang digunakan dalam proses evaluasi alternatif-alternatif pemenang proyek yaitu PT.A, PT.B,
pemilihan pelaksana proyek PT.C, PT.D dan PT.E.
No. Kriteria Keterangan
1 Surat Penawaran Surat penawaran harus
disesuaikan dengan ketentuan dan
2. Pembobotan.
paket proyek yang ditawar. a. Perhitungan bobot antar kriteria.
2 Jaminan Penawaran Jaminan yang digunakan untuk
proses penawaran hingga proyek Tahap ini akan melakukan penghitungan bobot dari
selesai dilaksanakan. masing-masing kriteria, untuk mengetahui tingkat
3 Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan proyek yang kepentingan masing-masing kriteria[4]. Matriks A
digunakan olek calon pelaksana
proyek. dibentuk dari nilai-nilai dari tabel perbandingan yang
4 Jadwal Waktu Pelaksanaan Jadwal waktu pelaksana proyek ditunjukkan oleh tabel 3.
yang digunakan harus sesuai
target yang ditetapkan oleh pihak
Tabel 3. Skala Perbandingan Berpasangan[1]
DPU Nilai Definisi Keterangan
5 Jenis Peralatan Kapasitas, jumlah, bukti milik, 1 Sama penting Kedua elemen sama pentingnya.
dan jenis peralatan yang 3 Sedikit lebih Elemen yang satu sedikit lebih penting
digunakan dalam pelaksanaan penting daripada elemen yang lainnya.
proyek.
5 Lebih penting Elemen yang satu lebih penting daripada
6 Spesifikasi Teknik Spesifikasi pekerjaan calon
pelaksana proyek. elemen yang lainnya.
7 Daftar Personil Inti Spesifikasi pendidikan, 7 Sangat lebih Satu elemen sangat lebih penting
pengalaman kerja, dan jumlah penting daripada elemen lainnya.
personil inti yang dimiliki oleh 9 Mutlak lebih Satu elemen mutlak lebih penting
calon pelaksana proyek penting daripada elemen lainnya.
8 Nilai Penawaran Nilai penawaran yang diajukan 2,4,6,8 Kompromi Adanya kompromi penilaian secara
oleh calon pelaksana proyek.
antara dua nilai numerik karena tidak ada istilah yang
9 Harga Satuan Timpang Harga timpang (tidak sesuai
benar-benar sesuai untuk
dengan Harga Perkiraan
Sendiri/HPS) dari masing- masing menggambarkan keadaan sesungguhnya.
satuan barang. Kebalikan Nilai kebalikan Untuk satu nilai perbandingan elemen a
10 Preferensi Harga Bukti referensi harga untuk tiap- dengan elemen b, maka elemen b
tiap harga satuan timpang. mempunyai nilai yaitu kebalikan dari
nilai elemen a apabila dibandingkan
Sumber : DPU Bina Marga Provinsi Jawa Timur
dengan elemen a.
Tabel 2. Data kuantitatif calon pelaksana proyek.
Kemudian, Perhitungan bobot dari masing-masing
No. Kriteria Nama Jumlah
kriteria dilakukan dengan membuat matriks normalisasi
1 Nilai Penawaran PT.A
Rp. 794.699.974,00 dari matriks A yaitu matriks W, dan rata-rata tiap baris
PT.B Rp. 809.820.462,00 matriks W yaitu matriks AR. Representasi dari matriks
PT.C Rp. 814.039.311,00
PT.D Rp. 834.860.715,00
AR ditunjukkan oleh tabel 4.
PT.E Rp. 814.109.560,00 Tabel 4. Bobot masing-masing kriteria
2 Harga Satuan PT.A 1 Kriteria Bobot
Timpang PT.B 3 Surat Penawaran 0,039
PT.C 5
Jaminan Penawaran 0,027
PT.D 2
PT.E 4 Metode Pelaksanaan 0,141
Sumber : DPU Bina Marga Provinsi Jawa Timur
Jadwal Waktu Pelaksanaan 0,106
Jenis Peralatan 0,224
IV. MULTI CRITERIA DECISION MAKING Spesifikasi Teknik 0,114
A. Analytical Hierarchy Process Daftar Personil Inti 0,051
Metode Analytical Hierarchy Process yang Nilai Penawaran 0,024
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Metode Harga Satuan Timpang 0,167
Analytical Hierarchy Process merupakan model
Preferensi Harga 0,106
pengambilan keputusan yang menguraikan masalah
Konsistensi dilakukan untuk setiap perbandingan
multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hierarki.
berpasangan lokal. Untuk menghitung konsistensi
Dengan hierarki, permasalahan akan lebih terstruktur diperoleh dengan mencari eigenvalue maksimum
3
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6

( ), Consistency Indeks (CI) dan Consistency Tabel 7. Penghitungan bobot AHP
Ratio (CR). diperoleh dengan membentuk Bobot
matriks B yang merupakan perkalian antara elemen dari Kriteria
Bobot
Alternatif
alternatif Bobot
tiap kolom matriks A dengan elemen dari tiap baris Kriteria terhadap akhir
kriteria
matriks AR. Selanjutnya tiap baris matriks dijumlahkan
menghasilkan matriks C. PTA 0,081 0,003
Untuk mendapatkan nilai λ-maks dapat dihitung PTB 0,114 0,004
λ-maks = (1) SP 0,039 PTC 0,255 0,01
Untuk mendapatkan nilai CI dan CR dengan IR PTD 0,249 0,01
sebesar 1.51 PTE 0,301 0,012
PTA 0,186 0,005
CI = (2)
PTB 0,301 0,008
(3) JP 0,027 PTC 0,339 0,009
Keterangan : PTD 0,13 0,004
B : Matriks perkalian kolom matriks A dengan baris PTE 0,044 0,001
PTA 0,091 0,013
matriks R
PTB 0,305 0,043
C : Matriks jumlah baris tiap baris matriks B MP 0,141 PTC 0,451 0,064
IR : indeks random konsistensi PTD 0,074 0,01
: eigen value maksimum PTE 0,08 0,011
PTA 0,139 0,015
CI : Consistency Index
PTB 0,214 0,023
CR : Consistency Ratio
JWP 0,106 PTC 0,193 0,02
IR : Index Random
PTD 0,164 0,017
PTE 0,289 0,031
b. Penghitungan bobot alternatif terhadap kriteria. PTA 0,094 0,021
Tahap berikutnya melakukan perhitungan bobot PTB 0,203 0,045
alternatif terhadap tiap kriteria. Kelima alternatif JPer 0,224 PTC 0,203 0,045
dibandingkan tingkat kepentingannya berdasarkan PTD 0,288 0,065
pemenuhan terhadap masing-masing kriteria. Hasil PTE 0,213 0,048
perhitungan bobot alternatif terhadap kriteria PTA 0,053 0,006
ditunjukkan pada tabel 5. PTB 0,472 0,054
Tabel 5. Bobot perbandingan alternatif terhadap kriteria ST 0,114 PTC 0,276 0,031
Kriteria PTD 0,089 0,01
Alternatif PTE 0,11 0,013
SP JP MP JWP JPer ST DPI NP HST PH
DPI 0,051 PTA 0,268 0,014
PT.A 0.081 0.186 0.091 0.139 0.094 0.053 0.268 0.307 0.115 0.359
PTB 0,263 0,013
PT.B 0.114 0.301 0.305 0.214 0.203 0.472 0.263 0.428 0.261 0.181 PTC 0,356 0,018
PT.C 0.255 0.339 0.451 0.193 0.203 0.276 0.356 0.125 0.349 0.190 PTD 0,059 0,003

PT.D PTE 0,053 0,003
0.249 0.130 0.074 0.164 0.288 0.089 0.059 0.071 0.195 0.212
NP 0,024 PTA 0,307 0,007
PT.E 0.301 0.044 0.080 0.289 0.213 0.110 0.053 0.069 0.080 0.059 PTB 0,428 0,01
PTC 0,125 0,003
PTD 0,071 0,002
c. Penghitungan bobot akhir.
PTE 0,069 0,002
Langkah pertama adalah mencari bobot akhir
HST 0,167 PTA 0,115 0,019
alternatif terhadap kriteria diperoleh dari operasi PTB 0,261 0,044
perkalian bobot masing-masing alternatif terhadap tiap PTC 0,349 0,058
kriteria dan bobot masing-masing kriteria. Hasil PTD 0,195 0,033
perhitungan bobot akhir AHP ditunjukkan pada Tabel 7. PTE 0,08 0,013
PH 0,106 PTA 0,359 0,038
Tabel 6. Bobot akhir masing-masing alternatif PTB 0,181 0,019
Alternatif Bobot PTC 0,19 0,02
PT.A 0.141 PTD 0,212 0,022
PT.B 0.264 PTE 0,059 0,006
PT.C 0.280
PT.D 0.176
PT.E 0.139
4
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6

B. Analytic Network Process
Metode Analytic Network Process memecah
permasalahan yang kompleks menjadi unsur-unsur yang
lebih mudah diselesaikan melalui penyusunan model
jaringan. Pada metode ANP memungkinkan adanya Tabel 8. Bobot pemenuhan alternatif terhadap kriteria
hubungan umpan balik. Dengan itu semua alternatif bisa dengan asumsi tidak ada hubungan ketergantungan antar
bergantung pada kriteria dan alternatif tersebut. Selain alternatif(W2n)
itu kriteria juga bisa tergantung pada alternatif maupun Bobot
Kriteria
dengan kriteria-kriteria yang lain [2]. Bentuk hubungen PT.A PT.B PT.C PT.D PT.E
masalah yang kompleks dapat dicari penyelesaiannya Surat Penawaran 0.133 0.233 0.233 0.233 0.167
dengan ANP[8]. Dalam ANP terdapat 2 kontrol yaitu Jaminan
0.211 0.211 0.211 0.184 0.184
Penawaran
kontrol herarki yang menunjukkan keterkaitan kriteria Metode
0.133 0.267 0.233 0.200 0.167
dan alternatifnya sedangkan kontrol l a i n n y a Pelaksanaan
a d a l a h k o n t r o l keterkaitan yang menunjukkan Jadwal Waktu
0.200 0.200 0.200 0.200 0.200
Pelaksanaan
adanya saling keterkaitan antar kriteria [6]. Kekurangan Jenis Peralatan 0.133 0.233 0.200 0.233 0.200
pada metode ini terdapat pada responden. Sehingga
Spesifikasi Teknik 0.118 0.235 0.235 0.206 0.206
diperlukan responden yang benar-benar pakar[5]. Daftar Personil
0.194 0.258 0.258 0.161 0.129
Inti
a. Membentuk model Jaringan Nilai Penawaran 0.258 0.226 0.194 0.129 0.194
Dalam struktur hierarki terdapat 3 level yaitu level Harga Satuan
0.258 0.226 0.129 0.226 0.161
Timpang
satu adalah tujuan yang ingin dicapai yaitu memilih
Preferensi Harga 0.206 0.235 0.206 0.206 0.147
pemenang proyek. Level dua merupakan kriteria-kriteria
yang digunakan dalam. Sedangkan level tiga berisi
alternatif-alternatif pemenang proyek yaitu PT.A, PT.B, 3. Perbandingan ketergantungan antar kriteria
PT.C, PT.D dan PT.E. Dalam tahap ini perbedaan antara AHP dan ANP
sangat terlihat. Dalam AHP tidak memperhitungkan
b. Penentuan prioritas adanya pengaruh tiap kriteria terhadap kriteria lain.
Perbedaan yang paling menonjol antara metode AHP Dalam ANP ketergantungan tiap kriteria terhadap
dan ANP adalah tahap penentuan prioritasnya. Pada kriteria lain sangat dibutuhkan.
ANP penentuaan hasil akhir berupa prioritas setiap
Tabel 9. Bobot hubungan ketergantungan antar kriteria.
alternatifnya, dengan melakukan pembobotan tingkat JPe
kepentingan dan tingkat ketergantungan antar elemen, Kriteria SP JP MP JWP ST DPI NP HST PH
r
baik kriteria maupun alternatif. Kemudian, bobot SP 0.056 0 0 0 0 0 0 0.5 0 0
prioritas akhir setiap elemen dapat diperoleh.
JP 0.167 0.333 0.278 0 0 0.083 0 0.1 0 0
1. Perhitungan perbandingan antar kriteria MP 0.056 0.333 0.056 0.5 0 0.25 0.333 0.2 0 0
Tahap perhitungan perbandingan kriteria pada ANP
sama dengan metode AHP. Dalam penilaian ini, JWP 0.056 0 0 0.25 0.2 0.125 0.333 0 0 0
diasumsikan bahwa tidak terdapat interdependensi atau JPer 0.222 0 0.222 0.25 0.2 0.125 0 0 0.222 0
hubungan ketergantungan di antara kriteria-kriteria
tersebut. Representasi bobot perbandingan kriteria ST 0.111 0 0.222 0 0 0.042 0 0 0 0
disajikan pada tabel 4. DPI 0 0 0.111 0 0 0 0.333 0 0 0

2. Perhitungan perbandingan alternatif terhadap NP 0.111 0.333 0.111 0 0 0.167 0 0.05 0.111 0.25
kriteria. HST 0.111 0 0 0 0.2 0.083 0 0.25 0.111 0.5
Tahap ini diasumsikan bahwa tidak ada hubungan
ketergantungan antar alternatif, masing-masing PH 0.111 0 0 0 0.4 0.125 0 0.35 0.556 0.25
alternatif dibandingkan tingkat kepentingannya
berdasarkan pemenuhannya terhadap masing-masing 3. Perhitungan perbandingan ketergantungan antar
kriteria.Kelima alternatif dibandingkan tingkat alternatif terhadap kriteria.
kepentingannya berdasarkan pemenuhan terhadap Bobot ketergantungan alternatif terhadap setiap
kriteria. kriteria didapatkan dari matriks normalisasi matriks
perbandingan berpasangan. Tabel 10 menunjukkan
bobot ketergantungan alternatif terhadap kriteria surat
penawaran dan direpresentasikan oleh matriks w41 .
Dengan langkah yang sama didapatkan representasi
matriks w4n , n  1,2,...,10 yang merupakan bobot
ketergantungan alternatif terhadap kriteria ke-n.
5
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6

Tabel 10. Bobot ketergantungan alternatif terhadap
kriteria surat penawaran (CR=0.064 )
w41 PT.A PT.B PT.C PT.D PT.E
PT.A 0.053 0.027 0.038 0.111 0.066 Tabel 12. Bobot akhir masing-masing alternatif
PT.B 0.316 0.162 0.192 0.222 0.110
PT.C 0.263 0.162 0.192 0.222 0.165
Alternatif Bobot
PT.D 0.105 0.162 0.192 0.222 0.330 PT.A 0.175
PT.E 0.263 0.486 0.385 0.222 0.330 PT.B 0.288
PT.C 0.256
2. Perhitungan bobot akhir prioritas PT.D 0.174
Bobot kepentingan antar kriteria yang diasumsikan
PT.E 0.106
tidak ada hubungan ketergantungan antar kriteria
dikalikan bobot hubungan ketergantungan antar kriteria
Tabel 13. Perbedaan konsep antara metode AHP dengan
sehingga didapatkan bobot akhir masing-masing kriteria
metode ANP [9]
yang disajikan dalam Tabel 11.
No. AHP ANP
Prioritas masing-masing pelaksana proyek dengan 1 Model struktur berupa Model struktur berupa
pemenuhan terhadap kriteria-kriteria, didapatkan hirarki. jaringan.
melalui representasi matriks Wp yang merupakan hasil 2 Tidak terdapat sistem Terdapat sistem umpan balik
operasi perkalian matriks W2 yang merupakan bobot umpan balik pada pada elemen satu dengan yang
elemen satu dengan lain.
kepentingan alternatif untuk masing-masing kriteria yang lain.
dengan asumsi tidak ada hubungan ketergantungan antar 3 Tidak terdapat Terdapat dependensi, baik dari
alternatif dan matriks W4 yang merupakan bobot dependensi antara dalam satu elemen maupun
perbandingan ketergantungan antar alternatif untuk elemen satu dengan dari luar elemen.
yang lain.
setiap kriteria.Masing-masing elemen dari Wp
Setelah melakukan perhitungan terhadap metode
didapatkan melalui operasi perkalian setiap elemen
AHP dan ANP diperoleh hasil bahwa bobot akhir dari
matriks W4 dan W2.
kedua metode tersebut menunjukkan adanya perbedaan.
w pn  w4n  w2n dengan n  1,2,3,...,10 . Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya pengaruh dari
Wp1 = W41 xW21 hubungan interdependensi, outerdependensi dan
feedback. Pada data yang digunakan dalam penelitian
ini hubungan ketergantungan antar kriteria dan alternatif
= x mempunyai pengaruh yang besar pada perhitungan
[ ] [ ] bobot akhirnya.
Perbandingan antara bobot kriteria pada metode
AHP dan bobot kriteria pada metode ANP terdapat
= beberapa perbedaan hasil. Kriteria jenis peralatan yang
[ ] memiliki bobot tertinggi pada metode AHP , menjadi
Tahap tersebut dilakukan hingga Wp10 = W410 xW210 tertinggi ke-2 pada metode ANP. Hal ini terjadi akibat
Bobot akhir alternatif merupakan hasil operasi perkalian adanya perhitungan bobot hubungan ketergantungan
matriks bobot pemenuhan kriteria oleh masing-masing antar kriteria pada metode ANP yang dapat
alternatif (Wp) dan matriks bobot prioritas kriteria (Wc) mempengaruhi bobot akhir kriteria karena pengaruh
yang menghasilkan matriks bobot akhir alternatif (WANP) satu kriteria terhadap kriteria lain juga diperhitungkan.
Semakin besar pengaruh suatu kriteria terhadap kriteria
lain, maka semakin besar pula peluang kriteria tersebut
W ANP  W p Wc = untuk memiliki bobot kepentingan tinggi.
[ ] C. Zero One Goal Programming
Representasi dari matrik WANP yang merupakan Penelitian ini menggunakan fungsi tujuan untuk
bobot masing-masing alternatif yaitu calon pelaksanan masing-masing variabel berasal dari hasil perhitungan
proyek disajikan dalam Tabel 11. AHP dan ANP. Adapun fungsi tujuannya adalah :
Tabel 11. Bobot akhir masing-masing kriteria. Fungsi Objektif untuk AHP :
Kriteria Bobot min Z =
Surat Penawaran 0.003
Jaminan Penawaran 0.067
Metode Pelaksanaan 0.122
Jadwal Waktu Pelaksanaan 0.105
Jenis Peralatan 0.163 Fungsi Kendala :
Spesifikasi Teknik 0.040  Kendala surat penawaran
Daftar Personil Inti 0.033 + + + +
Nilai Penawaran 0.094
Harga Satuan Timpang 0.136 Kendala nilai penawaran
Preferensi Harga 0.236
6
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6

+ + + + dan alternatif pada data yang sangat berpengaruh
terhadap prioritas kriteria dan alternatifnya. Hasil
Kendala harga satuan timpang perhitungan prioritas alternatif pelaksana proyek
+ + + + dengan menggunakan ANP menunjukkan bahwa
Untuk jaminan penawaran, metode pelaksana, urutan ranking alternatifnya adalah PT.B memiliki
jadwal waktu pelaksanaan, jenis peralatan, spesifikasi bobot sebesar 0.288, PT.C memiliki bobot sebesar
teknik, daftar personil inti, preferensi harga fungsi 0.256, PT.A memiliki bobot sebesar 0.175, PT.D
kendalanya sama seperti fungsi kendala surat memiliki bobot sebesar 0.174, dan PT.E memiliki
penawaran, nilai penawaran dan harga satuan timpang. bobot sebesar 0.106.
Kendala pemilihan alternatif 2. Dengan menggunakan metode ZOGP, hasil optimal
x1  x2  x3  x4  x5  1 untuk pelaksana proyek yaitu PT.A.

DAFTAR PUSTAKA
Semua diselesaikan dengan bantuan software. Hasil
dari software menunjukkan hasil bahwa alternatif [1] Bayazit, O. (2006). ”Use of Analytic Network
terpilih adalah PT.A. Process in Vendor Selection Decision”.An International
Journal Vol.13 No.5 hal 566-579.
Fungsi Objektif ANP : [2] Buyukyazici, M., Sucu, M. (2002). ”The Analytic Hierarchy
And Analytic Network Process”. Hacettepe Journal of
min Z = Mathematics and Statistics Volume 32 hal 65–73.
[3] Olivia, C.M. (2013). “Penerapan Goal Programming
menggunakan Hasil Analytical Hierarchy Process dan
Principal Component Analysis dalam Pemilihan Pemenang
Fungsi Kendala : Proyek Peningkatan Jalan”.Surabaya: Jurusan Matematika
Kendala surat penawaran Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut
+ + + + Teknologi Sepuluh Nopember.
[4] Qurniawati, T.N. (2012). ”Pembobotan dan Optimasi
untuk Pemilihan Distributor PT.MaanGhodaqoShiddiq
Kendala nilai penawaran Lestari”.
+ + + + Surabaya: Jurusan MatematikaFakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh
Kendala harga satuan timpang Nopember.
[5] Q,B.Zulkanain. (2010). ”Pemilihan Penyediaan Teknologi
+ + + + Menggunakan Proses Jaringan Analitis (Studi Kasus
Untuk jaminan penawaran, metode pelaksana, Perusahaan Layanan IT)”.Surabaya: Jurusan Sistem Informasi
jadwal waktu pelaksanaan, jenis peralatan, spesifikasi Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh
teknik, daftar personil inti, preferensi harga fungsi Nopember.
[6] Saaty,T.L.1996.”Decision Making With Dependence and
kendalanya sama seperti fungsi kendala surat Feedback, The Analytic Network Process”. RWS
penawaran, nilai penawaran dan harga satuan timpang. Publications: Pittsburgh.
Kendala pemilihan alternatif [7] Salamah,U. (2006). ”Implementasi Pendekatan ANP &
x1  x2  x3  x4  x5  1
ZOGP dalam Optimasi Pemilihan Material untuk Produksi
Kapal Ikan Tradisional”.Surabaya: Jurusan Teknik Perkapalan
Keterangan : Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh
Nopember
Z : fungsi tujuan [8] Sulkhiyah, D.A. (2013). “Aplikasi Metode Analytic
d i , d i : variabel deviasi ke-i, i=1,2,3,…,15 Network Process dan Zero-one Goal Programming pada
Pemilihan Pelaksana Proyek”.Surabaya: Jurusan Matematika
xj : alternatif ke-j, j=1,2,…,5 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
[9] Sutanto, N.R. (2012). ”Pemilihan Pemasok dan
Semua diselesaikan dengan bantuan software. Hasil Pengalokasian Order dengan menggunakan Metode Fuzzy-
ANP dan Goal programming”.Surabaya: Jurusan Teknik
dari software menunjukkan hasil bahwa alternatif Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh
terpilih adalah yaitu PT.A. Nopember.
[10] Syaifullah. (2010). “Pengenalan Metode AHP (Analytical
Hierarchy Process)”.

VI. KESIMPULAN

Berdasarkan keseluruhan hasil analisis dapat
diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil perbandingan antara metode AHP dan ANP
menunjukkan adanya perbedaan. ANP adalah
metode yang sesuai untuk data pada penelitian ini.
Karena adanya tingkat ketergantungan antar kriteria