You are on page 1of 49

Perencanaan Geometrik

Secara umum perencanaan geometrik adalah perencanaan bagian-bagian
jalan seperti lebar badan dan bahu jalan, tikungan, drainase, jarak pandang,
kelandaian, kebebasan samping, lengkung vertikal, jalur lalu lintas, galian dan
timbunan serta kombinasi antara bagian-bagian tersebut. Tujuan dari perencanaan
geometrik jalan adalah menghasilkan infrastruktur yang aman, efisien pelayanan
arus lalu lintas dan memaksimalkan ratio tingkat penggunaan atau biaya
pelaksanaan ruang. Dasar dalam perencanaan geometrik adalah sifat, gerakan,
ukuran kendaraan, sifat pengemudi dalam mengendalikan bentuk dan ukuran
jalan, serta ruang gerak kendaraan yang memenuhi tingkat keamanan dan
kenyamanan yang diharapkan.

Kondisi jalan yang bagus adalah jalan yang mampu melayani arus barang
dan jasa dengan baik, dalam segi kapasitas maupun kualitas jalan tersebut. Secara
umum, perencanaan jalan meliputi perencanaan geometrik jalan dan perencanaan
struktur jalan. Perencanaan struktur jalan, dibagi menjadi 2 macam (Departemen
Pekerjaan Umum tahun 1987), yaitu:

- Perencanaan perkerasan jalan baru (New Construction);

- Peningkatan perkerasan jalan lama (Overlay).

1

Klasifikasi Jalan

Klasifikasi jalan merupakan aspek penting yang pertama kali harus di
identifikasikan sebelum melakukan perancangan jalan. Karena kriteria desain
suatu rencana jalan yan ditentukan dari standar desain ditentukan oleh klasifikasi
jalan rencana. Pada prinsipnya klasifikasi jalan dalam standar desain (baik untuk
jalan dalam kota maupun jalan luar kota) didasarkan pada klasifikasi jalan
menurut undang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku.
Klasifikasi menurut fungsi jalan

Klasifikasi menurut fungsi jalan berdasarkan Tata Cara Perencanaan
Geometrik Antar Kota terbagi atas :

a. Jalan arteri

Merupakan jalan yang melayani angkutan umum dengan ciri-ciri perjalanan
jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara
efisien.

b. Jalan kolektor

Merupakan jalan yang melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan
ciri-ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan
masuk dibatasi.

c. Jalan local

Merupakan jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan
jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
8 2.2.2 Klasifikasi menurut kelas jalan

Klasifikasi menurut kelas jalan

Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk
menerima beban lalu lintas, dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST)
dalam satuan ton (Pasal 11, PP. No.43/1993).

2

Klasifikasi jalan di Indonesia menurut Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya (
PPGJR, 1970)

Klasifikasi menurut medan jalan

3

PERHITUNGAN JARAK

XA = -155 YA = 205

XB = 145 YB = -195

XC = 360 YC = 245

XD = 680 YD = 270

XB - XA = 145 – (-155) YB - YA = -195 – 205

= 300 = -400

XC – XB = 360 – 145 YC – YB = 245 – (-195)

= 215 = 440

XD – XC = 680 – 360 YD – YC = 270 – 245

= 320 = 25

300
270
250
205
200 245
150
100
50
0 √ ( XB− XA ) + ( YB−YA )
2 2

-150 -50
-50 50 150 250 350 450 550 650 750
-200 -100
-100 0 100 200 300 400 500 600 700
-150 -195
-200
-250
D1 =

= √ ( 300 ) + (−400 )
2 2

= √ 90000+160000

= 500 m

D2 = √ ( XC −XB ) + ( YC−YB )
2 2

4

α BC 5 .719 m D3 = √ ( XB− XA ) + ( YB−YA ) 2 2 = √ ( 320 ) + (25 ) 2 2 = √ 102400+ 625 = 320.26.69˚ Δ1 = α AB .975 m PERHITUNGAN SUDUT Δ x x α AB = 180 – arc tg y α AB = arc tg y 300 215 = 180 – arc tg 400 = arc tg 440 = 143.042˚ x α CD = 180 – arc tg y 290 = 180 – arc tg 330 = 138.13˚ .α AB = 143. = √ ( 215 ) + ( 440 ) 2 2 = √ 46225+202500 = 489.13˚ = 26.088˚ Δ2 = α CD .042˚ = 117.

042˚ = 59.69˚ .= 138.26.491˚ 6 .

Adanya gangguan dari kendaraan lain e. Sifat fisik jalan dan keadaan medan disekitarnya c. Batasan kecepatan yang diijinkan Kecepatan rencana inilah yang menjadi dasar perencanaan geometrik (alinyemen). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan rencana adalah : a. Kecepatan rencana dari masing-masing kendaraan dapat ditetapkan pada tabel 2. Cuaca d. Kecepatan yang dipilih tersebut adalah kecepatan tertinggi menerus dimana kendaraan dapat berjalan dengan aman dan keamanan itu sepenuhnya tergantung dari bentuk jalan.Kecepatan rencana Kecepatan rencana adalah kecepatan yang dipilih untuk keperluan perencanaan setiap bagian jalan raya seperti : tikungan. kemiringan jalan. Kondisi pengemudi dan kendaraan yang bersangkutan b.6 7 . jarak pandang dan lain-lain.

Menentukan titik koordinasi Berdasarkan gambar rencana yang telah dibuat.Alinyemen Horizontal Alinyemen horizontal atau trase jalan merupakan gambaran badan jalan yang tegak lurus bidang. 8 . Pada gambar tersebut akan terlihat apakah jalan tersebut akan merupakan jalan lurus. umumnya akan ditemui dua jenis bagian jalan. Pada perencanaan alinyemen horizontal. berbelok kekiri atau ke kanan. yaitu bagian lurus. Pada perhitungan alinyemen horizontal terdapat perhitungan yaitu : Bagian Lurus Jalan a. kita dapat Menentukan jarak trase dari titik A (awal proyek) ke titik B (akhir proyek). b. dan bagian lengkung yang disebut tikungan. maka dapat ditentukan titik koordinat. Menentukan panjang garis tangent Dalam perencaan suatu geometrik kita perlu menghitung berapa nilai jarak yang kesmudian digunakan untuk perhitungan tikungan. Dengan mengetahui titik-titik koordinat di setiap tikungan.

perlu dibuat suatu kemiringan melintang jalan pada tikungan yang disebut superelevasi (e). Untuk pertimbangan perencanaan . karena dengan R kecil maka diperlukan superelevasi yang besar. panjang jari-jari minimum untuk berbagai variasi kecepatan dapat dilihat pada tabel 2. Jari-jari lengkung minimum Kendaraan pada saat melalui tikungan dengan kecepatan (V) akan menerima gaya sentrifugal yang menyebabkan kendaraan tidak stabil. Untuk mengimbangi gaya sentrifugal tersebut. Tikungan full circle hanya digunakan untuk R (jarijari tikungan) yang besar agar tidak terjadi patahan. antara lain : 1.Menentukan golongan medan Berfungsi untuk menetukan kelandaian yang akan direncanakan berdasarkan jarak pandang Tikungan Dalam merencanakan sebuah tikungan.12 Panjang Jari-Jari Minimum (Dibulatkan) Untuk e mak = 10% Jenis-jenis tikungan Jenis tikungan yang umunya digunakan dalam perencanaan suatu jalan raya antara lain : a.12 Tabel 2.13 9 . Bentuk Lingkaran (Full Circle = FC) Full Circle adalah jenis tikungan yang hanya terdiri dari bagian suatu lingkaran saja. Jari-jari tikungan untuk tikungan jenis full circle ditunjukan pada tabel 2. haruslah memenuhi beberapa kriteria.

Dengan adanya lengkung peralihan. diambil nilai terbesar dari tiga persamaan dibawah ini : 10 . jadi lengkung peralihan ini diletakkan antara bagian lurus dan bagian lingkaran (circle). Lengkung peralihan dengan bentuk spiral (clothoid) banyak digunakan juga oleh Bina Marga. Panjang lengkung peralihan (Ls). Lengkung peralihan (Spiral – Circle – Spiral = S – C – S ) Lengkung peralihan dibuat untuk menghindari terjadinya perubahan alinyemen yang tiba-tiba dari bentuk lurus ke bentuk lingkaran.b. maka tikungan menggunakan S – C – S. yaitu pada sebelum dan sesudah tikungan berbentuk busur lingkaran. menurut Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota 1997.

11 .

Ys = ordinat titik SC pada garis tegak lurus garis tangen Lc = panjang busur lingkaran Ts = panjang tangen dari titik PI ke titik TS atau titik ST Es = Jarak dari PI ke busur lingkaran = sudut lengkung spiral ∆ = sudut tangen Rc = jari-jari lingkaran p = pergeseran tangen terhadap spiral k = absis dari p pada garis tangen spiral Jika diperoleh Lc < 25 m. tetapi digunakan lengkung S – S. maka sebaiknya tidak digunakan bentuk S – C – S.11 12 . Komponen- komponen untuk tikungan spiral – circle – spiral dapat dilihat pada gambar 2. yaitu lengkung yang terdiri dari dua buah lengkung peralihan.

13 .

PENENTUAN LENGKUNG HORIZONTAL Tikungan 1 Δ = 117.Bila Lc < 20 m Menggunakan lengkung SS -Bila Lc > 20 m Menggunakan lengkung SCS Mencari Lc : π Lc = Δ' x (Rd 180 ) Δ'= Δ1 .(2θs) θs = Ls x 180 Rd x (2xπ) .Rd > Rmaks gunakan FC 115 m < 115m < 700m  memenuhi syarat SCS dan SS  Ketentuan : . dari table Rmaks dan Rmin didapat : Rmin = 115 m dan Rmaks = 700m  Ketentuan : . Ls diambil dari table. Dari table II 17 Tata cara perencanaan geometric jalan antar kota 1997 Bina Marga didapat Ls = 50 m.4556  14 . dengan Vr = 60 Km/jam dan Rd = 115 m.088˚ Vr = 60 Km/jam Rd = 115 m Dengan Vr = 60 Km/jam.Rmin < Rd < Rmaks bisa menggunakan SCS atau SS .566 = 12. Ls x 180 θs = Rd x (2xπ) = 50 x 180 115 x (2xπ) = 9000 722.

916482 m k = Xs .96015 m Es = (Rd + p) .115 (1-cos 12.17679  Lc = Δ' x (Rd π = 92.4556) = 92.17679 180 )x ( 115 x(/180) ) 185.4556) = 0.623 m Xs = Ls 3 −503 −Ls = 50 40.7637 .7637 p= Ys .Rd 502 = 6 . Rd ² m 49.115² = 40.(2 x 12.(2θs) = 117.010 = 7 M Lc > 20 m.115 x sin 12. Δ'= Δ1 .Rd cos 1/2 ' 15 .Rd x sin θs = 49.088 .623 . Maka perencanaan selanjutnya menggunakan lengkung SCS(Spiral Circle Spiral) Perhitungan Elemen Lengkung SCS : Ls² Ys = 6.4556 = 24.Rd (1-cos θs) = 3. 115 = 3.

08824.010 = 7 M 16 . = 107.96015 2 = 214.4451 m Lt = 2Ls + Lc 285.91648 = 2)tg 117.1288 m Ts = (Rd+p)tan1/2 '+k (115+0.

17 .

491˚ Vr = 40 Km/jam Rd = 52 m Dengan Vr = 40 Km/jam. Ls x 180 θs = Rd x (2xπ) = 35 x 180 52 x (2xπ) = 6300 326.Rmin < Rd < Rmaks bisa menggunakan SCS atau SS .726 = 19.Rd > Rmaks gunakan FC 50 m < 52m < 300m  memenuhi syarat SCS dan SS  Ketentuan : .282  18 .(2θs) θs = Ls x 180 Rd x (2xπ) .Bila Lc < 20 m Menggunakan lengkung SS -Bila Lc > 20 m Menggunakan lengkung SCS Mencari Lc : π Lc = Δ' x (Rd 180 ) Δ'= Δ1 . Dari table II 17 Tata cara perencanaan geometric jalan antar kota 1997 Bina Marga didapat Ls = 35 m. Ls diambil dari table.PENENTUAN LENGKUNG HORIZONTAL Tikungan 2 Δ = 59. dengan Vr = 40 Km/jam dan Rd = 52 m. dari table Rmaks dan Rmin didapat : Rmin = 50 m dan Rmaks = 300 m  Ketentuan : .

282 = 17.282) = 1.491.926 Rd ² m p= Ys .282) = 20.52² = 40.Rd cos 1/2 ' 19 .422 m Es = (Rd + p) .(2θs) = 59. Maka perencanaan selanjutnya menggunakan lengkung SS(Spiral Spiral) Perhitungan Elemen Lengkung SS : Ls² Ys = 6.Rd x sin θs = 3.926 .(2 x 19.009 m k = Xs . 52 = 3.3.52 x sin 19.Rd (1-cos θs) = 3.926 .926 m Xs = Ls 3 −353 −Ls = 50 40.Rd 352 = 6 . Δ'= Δ1 .52 (1-cos 19.992 M Lc < 20 m.926  Lc = Δ' x (Rd π = 20.926 180 x )( 52 x(/180) ) = 18.

49117.422 2 = 47.054 m Ts = (Rd+p)tan1/2 '+k = (52+1.724 m Lt = 2Ls + Lc 285.009 m 227. = 9.009)tg 59.179 – 214.4451 – 47.009 > 50 m AMAN 20 .724 = 227.010 = 7 M Kontrol Jarak D2 D2 – Ts1 – Ts2 > 50 m 489.

21 .

9601 K= 5 M 214.054 m Ts = 47.724 m Ls = 35 m 22 .010 Lt = 7 M Rd = Δ= 59.445 Ts = 1 M 107.088  Ls = 50 M 0.491  P= 1.91648 P= 2 M 24.422 m Es = 9.Hasil Perhitungan Alinemen Horisontal Lengkung Spiral-Circle-Spiral  Lengkung Spiral-Spiral Rd 52 m = 115 M Δ = 117.128 Es = 8 M 185.010 Lc = 7 M 285.009 m K= 17.

Nomor jalan ( Sta jalan) dibutuhkan sebagai saran komunikasi untuk dengan cepat mengenali lokasi yang sedang dibicarakan. utuk daerah gunung Sistem penomoran jalan pada tikungan dapat dilihat pada gambar 2.Penentuan titik stasioning Penentuan titik stationing (STA) bertujuan untuk mengetahui panjang jalan yang direncanakan. untuk daerah bukit 3) Setiap 25 m. untuk daerah datar 2) Setiap 50 m. Penomoran (Stasioning) panjang jalan pada tahap perencanaan adalah memberikan nomor pada interval-interval tertentu dari awal pekerjaan.19 23 . selanjutnya menjadi panduan untuk lokasi suatu tempat. Adapun interval untuk masing-masing penomoran jika tidak adanya perubahan arah tangen alinyemen horizontal maupun alinyemen vertikal adalah sebagai berikut : 1) Setiap 100 m.

116 + 320.555 + 50 = 0+335.724 = 0+845.4451 = 0+285.9751 – 47.724 = 0+798.116 m STA PII = STA TS2 + TS SS = 798.Perhitungan Stationing STA A = 0 STA PI = STA A + D1 = 0 +500 = 500 m STA TS1 = STA PI – TS = 500 – 214.566 + 50 = 0+570.84 STA ST2 = STA SS + LS = 833.555 m STA CS = STA SC + LC = 335.555 + 185.566 + 489.116 m STA D = STA ST2 + D3 – TS SS = 868.116 + 35 = 0+868.566 m STA TS2 = STA ST1 + D2 – TS SCS – TS SS = 570.719 – 214.0107 = 0+520.116 + 47.367 m 24 .116 + 35 = 0+833.566 m STA ST1 = STA CS + LS = 520.555 m STA SC = STA TS1 + LS = 285.116 m STA SS = STA TS2 + LS = 798.4451 – 47.724 = 1+141.

Adapun diagaram pencapaian superelevasi pada tikungan spiral – circle – spiral dapat dilihat pada gambar 2. dilakukan dengan bentuk profil dari tepi perkerasan yang dibundarkan.14 25 . tetapi disarankan cukup untuk mengambil garis lurus saja.Diagaram superelevasi Metoda untuk melakukan superelevasi yaitu merubah lereng potongan melintang.

26 .

27 .

28 .

dilakukan untuk mempertahankan kendaraan tetap pada lintasannya (lajurnya) sebagaimana pada bagian lurus. 29 . Hal ini terjadi karena pada kecepatan tertentu kendaraan pada tikungan cenderung untuk keluar lajur akibat posisi roda depan kendaraan dan roda belakang yang tidak sama. yang tergantung dari ukuran kendaraan.Pelebaran perkerasan pada tikungan Pelebaran perkerasan atau jalur lalu lintas di tikungan.

Daerah bebas samping dimaksudkan untuk memberikan kemudahan pandangan di tikungna dengan membebaskan obyek-obyek penghalang sejauh M (m).Perhitungan kebebasan samping pada tikungan Daerah bebas samping di tikungan adalah ruang untuk menjamin kebebasan pandangan pengemudi dari halangan benda-benda disisi jalan (daerah bebas samping). Daerah bebas samping di tikungan dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut: 30 . diukur dari garis tengah lajur dalam sampai obyek penghalang pandangan sehingga persyaratan Jh dipenuhi.

Menghitung radius lengkung untuk lintas luar roda depan (Rc) Rc = √(R+1/2 b)²+( p+ A)² = √(115+ 1/2 x 2.5 m) ²+(6.5 m TONJOLAN DEPAN KENDARAAN A = 1. menghitung radius lengkung terdalam dari lintas pada lengkung horizontal untuk lajur sebelah dalam (Ri) RC ²−( p+ A) ² √ ¿−¿ Ri = ¿ ¿ √¿ √ 116.5 m JARAK ANTAR GANDAR p= 6.5252 +(6.772 m c.5252− ( 6.5−1.5 ) + x 2. PERHITUNGAN PELEBARAN PERKERASAN DITIKUNGAN TIKUNGAN 1 DIK : VD = 60 KM/JAM RD= 115 m KENDARAAN RENCANA : TURK TUNGGAL LEBAR KENDARAAN b = 2.5)² 2 Rw = 117.5)² 1 x 2.525 m b.5 m a.5+1.5 = ¿ ).5+ 1.5)2 = 116. menghitng radius lengkungterluar dari lintasan kendaraan pada lengkung horizontal untuk lajur sebalah dalam (Rw) Rw = √ 1 ( √ Rc ²−( p−A )²+ x b)²+( p+ A)² 2 = √√ 2 1 ( 116. 2 √¿ Ri = 115.000 m 31 .5) ²+( 6.5+1.

132 m g.25 ) ²+ 64− √(116.5 = 7m 32 .772 – 115 2.d. menghitung lebar tambahan akibat kesukaran mengmudi ditikungan (1) 0.105 x 60 = √ 115 Z = 0. menghitung lebar perkerasan yang ditempati satu kendaraan pada jalur sebelah dalam (B) B= √(√ Rc ²−64+1. menghitung lebar total perkerasan ditikungan (Bt) Dik : c = lebar samping kiri dan kanan kendaraan = 1m untuk lebar lalu lintas 7m n = jumlah lajur 2 Bt = n (B + c) + Z = 2 x (2.25 = √ (√ 116.587 = 8.772 m ……………0k! e.525 −64)−1.772 = 117.105 x Vd Z= √R 0. menghitung tambahan perkerasan ditikungan (ΔB) Dik : Bn = Lebar jalur lalu lintas dibagian lurus = 2 x 3.587 m f.772 = 2.772 m Control B = Rw-Ri 2.525 −64 +1.25) ²+64−√ ( R c 2−64 )−1.25 2 2 B = 2.772 + 1) + 0.

132 m – 7 m = 1.132 m 33 .ΔR = Bt – Bn = 8.

848 m b.5 m b.5−1. PERHITUNGAN PELEBARAN PERKERASAN DITIKUNGAN TIKUNGAN 2 DIK : VD = 40 KM/JAM RD= 52 m KENDARAAN RENCANA : TURK TUNGGAL LEBAR KENDARAAN b = 2.5 m JARAK ANTAR GANDAR p= 6.5 ) + x 2.5)²+(6.5+1.5+1. menghitung radius lengkung terdalam dari lintas pada lengkung horizontal untuk lajur sebelah dalam (Ri) RC ²−( p+ A) ² √ ¿−¿ Ri = ¿ ¿ √¿ √ 53. 2 √¿ Ri = 52.848 −( 6.5)2 = 53.5 = ¿ ).5)² 1 x 2. menghitng radius lengkungterluar dari lintasan kendaraan pada lengkung horizontal untuk lajur sebalah dalam (Rw) Rw = √ 1 ( √ Rc ²−( p−A )²+ x b)²+( p+ A)² 2 = √√ 2 2 1 ( 53.084 m c.8482+(6.5 m)²+(6.000 m 34 .5 m TONJOLAN DEPAN KENDARAAN A = 1.5)² 2 Rw = 55. Menghitung radius lengkung untuk lintas luar roda depan (Rc) Rc = √(R+1/2 b)²+( p+ A)² = √(52+1/2 x 2.5+1.

084 = 55.084 m Control B = Rw-Ri 3.105 x Vd Z= √R 0.25 2 2 B = 3.25) ²+64−√ ( R c 2−64 )−1.084 + 1) + 0.084 m ……………0k! e. menghitung lebar tambahan akibat kesukaran mengmudi ditikungan (1) 0. menghitung lebar perkerasan yang ditempati satu kendaraan pada jalur sebelah dalam (B) B= √(√ Rc ²−64+1.5 = 7m 35 .25 ) ²+64−√(53.25 = √ (√ 53.582 = 8.848 −64)−1.582 m f.084 = 3.848 −64+ 1.d.105 x 40 = √ 52 Z = 0. menghitung tambahan perkerasan ditikungan (ΔB) Dik : Bn = Lebar jalur lalu lintas dibagian lurus = 2 x 3. menghitung lebar total perkerasan ditikungan (Bt) Dik : c = lebar samping kiri dan kanan kendaraan = 1m untuk lebar lalu lintas 7m n = jumlah lajur 2 Bt = n (B + c) + Z = 2 x (3.750 m g.084 – 52.000 3.

750 m 36 .750 m – 7 m = 1.ΔR = Bt – Bn = 8.

sehingga kombinasinya berupa lengkung cembung dang lengkung cekung. Pada perencanaan alinyemen vertikal akan ditemui kelandaian positif (tanjakan) dan kelandaian negatif (turunan). Disamping kedua lengkung tersebut ditemui pula kelandaian = 0 (datar). Kelandaian maksimum untuk berbagai kecepatan rencana dapat dilihat pada tabel 2. Kelandaian maksimum didasarkan pada kecepatan truk yang bermuatan mampu bergerak dengan kecepatan tidak kurang dari separuh kecepatan semual tanpa harus menggunakan gigi rendah. Pada pemilihan alinyemen ini juga berkaitan dengan adanya pekerjaan galian dan timbunan tanah. Kelandaian maksimum Kelandaian maksimum yang ditentukan untuk berbagai variasi kecepatan rencana.Alinyemen Vertikal Alinyemen vertikal merupakan garis potong bidang vertikal melalui sumbu jalan atau tepi dalam masing-masing perkerasan jalan yang bersangkutan.14 : 37 . Adapun faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam alinyemen vertikal sebagai berikut : 1) Topografi 2) Kecepatan rencana 3) Fungsi Jalan 4) Tebal perkerasan 5) Tanah dasar 6) Kedudukan tinggi landai kendaraan Pada alinyemen vertikal akan ditemui berbagai keadaan antar lain : Kelandaian Kelandaian pada alinyemen vertikal jalan dapat dibedakan atas : a. dimaksudkan agar kendaraan dapat bergerak terus tanpa kehilangan kecepatan.

Sebaliknya ditinjau dari kepentingan drainase jala. sedangkan kendaraan lain masih dapat bergerak dengan Vr. jalan berlandailah yang ideal. Lajur pendakian pada kelandaian khusus Pada jalur jalan dengan rencana volume lalu lintas yang tinggi. maka kendaraan berat akan berjalan pada jalur pendakian dengan kecepatan dibawah Vr.16 38 . Kelandaian minimum Berdasarkan kepentingan arus lalu lintas.c. Penempatan lajur pendakian harus dilakukan dengan ketentuan sebagi berikut : 1) Berdasarkan MKJI (1997) Penentuan lokasi lajur pendakian harus dapat dibenarkan secara ekonomis yang dibuatberdasarakan BSH. Dalam perencanaan disarankan menggunakan : 1) Landai datar untuk jalan-jalan diatas tanah timbunan yang tidak mempunyai kerb 2) Landai 0.3-0.5% dianjurkan dipergunakan untuk jalan-jalan di daerah galian atau jalan yang memakai kerb. c. sebagaimana ditampilkan pada tabel 2. landai ideal adalah landai datar (0%). sebaiknya dipertimbangkan untuk dibuat lajur tambahan pada bagian kiri dengan ketentuan untuk jalan baru menurut MKJI didasarkan pada BSH (Biaya Siklus Hidup). terutama untuk tipe 2/2 TB.15% dianjurkan untuk jalan-jalan diatas tanah timbunan dengan medan datar dan mempergunakan kerb 3) Landai minimum sebesar 0.

39 .

0 m C B g2 185 m 956 m Titik awalA 50.PERHITUNGAN ALINEMENT VERTIKAL Penentuan Jarak : Titik awal A ke B = 185 m Titik B ke C = 956 m A g1 8. pada buku tata cara 185 perencanaan geometric jalan antar kota 1997.x 100 Jarak AB 8% diambil dari table 8.0 kelandaian maksimum yang di ijinkan berdasarkan kecepatan g1 = -----.0 m ( STA 0 + 00 ) Titik awalB 42 m ( STA 0 + 185 ) Titik awalC 42 m ( STA 0+ 956 ) Penentuan Kelandaian : V = 50.32  8 % ) ( aman ) rencana.x 100% = 4.x 100 % = 0 %  8 % ( aman ) 956 40 .32 % ( 4. Bina Marga.0 .42 = 8.0 m ELV AB g1 = -----------. ELV BC g2 = -----------.x 100 Jarak BC 0 g2 = ----.

70 = 0. Lengkung I: Titik B STA ( 0 + 185 ) Elevasi = 50 m Perubahan kelandaian H = g2 . ( X ) 2 200.32 ( cekung ) Dengan melihat : V = 60 km/jam H = 4. -----) 100 100 2 = + 42 Jadi persamaan lengkung vertikal 41 .X + ( ELVB + ------.32 % Maka dari grafik lengkung vertical cekung diperoleh Lv = 70 m Persamaan Elevasi rencana : H 4.4.33 = .32 g = --------.g1 = 0 – 4.X + ( 42 + ------.00031 (X) 2 Persamaan Elevasi : g2 g2 Vr g = -----. --------) 100 100 2 0 0 60 =------.Lv 200. ( X) 2 = ---------.

00031 . 70) 2 + 42 = 42 m 2. ( -------. 0.00031 ( ------. 1/4 lengkung 70 elevasi = 0.380 m 4.Akhir lengkung elevasi = 0. 3/4 Lengkung 3 .00031 . 70 elevasi = 0. (X)2 + 42 1. (0 .) 2 + 42 4 = 42.) 2 + 42 2 = 42.095 m 3.00031 . Permulaan lengkung elevasi = 0.00031 . 1/2 Lengkung 70 elevasi = 0.854 m 5.519 m 42 .00031 (70)2 + 42 = 43. ( ---------)2 + 42 4 = 42.

43 .

44 .

45 .

46 .

47 .

009 m K= 17.422 m Es = 9.TANGEN D2 DAN D3 = SPIRAL-SPIRAL  HASIL Rd 52 m PERHITUNGAN ALINEMEN = 115 M HORISONTAL Δ = 117.719 m .445 Ts = 1 M 107.9601 K= 5 M 214.91648 P= 2 M 24.054 m 48 Ts = 47.d2 = 489.010 Lt = 7 M Rd = Δ= 59.975 m  BESAR SUDUT  : .088  Hasil Perhitungan Alinemen Horisontal Ls = 50 M Lengkung Spiral-Circle-Spiral  Lengkung Spiral-Spiral 0.TANGEN D1 DAN D2 = SPIRAL-CIRCLE-SPIRAL .010 Lc = 7 M 285.491  JENIS LENGKUNG :. REKAPITULASI  KLASIFIKASI MEDAN : PERBUKITAN  PANJANG TANGEN : .1 = 117.088 .491  P= 1.d1 = 500 m .724 m Ls = 35 m .d3 = 320.2 = 59.128 Es = 8 M 185.

367 m  HASIL PERHITUNGAN ALINEMEN VERTIKAL -Elevasi Lengkung 1. ½ Lengkung : 42.358.854 m 5. Akhir Lengkung : 43.920.519m  PERHITUNGAN GALIAN DAN TIMBUNAN Volume Galian = 82.0 m3 49 . PANJANG JALAN : 1141.095 m 3.73 m3 Volume Timbunan = 24. Permulaan Lengkung : 42 m 2. ¾ Lengkung : 42.380 m 4. ¼ Lengkung : 42.