You are on page 1of 13

UNIT III

PENANGANAN FRAKTUR

A. Definisi Fraktur
Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang,
penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses
degeneratif juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur.
Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang berupa retakan,
pengisutan ataupun patahan yang lengkap dengan fragmen tulang bergeser.

B. Etiologi Fraktur
Etiologi fraktur yang dimaksud adalah peristiwa yang dapat menyebabkan
terjadinya fraktur diantaranya peristiwa trauma(kekerasan) dan peristiwa
patologis.
1. Peristiwa Trauma (kekerasan)
a) Kekerasan langsung
Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya
kekerasan itu, misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil, maka tulang
akan patah tepat di tempat terjadinya benturan. Patah tulang demikian
sering bersifat terbuka, dengan garis patah melintang atau miring.
b) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh
dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang
paling lemah dalam hantaran vektor kekerasan. Contoh patah tulang
karena kekerasan tidak langsung adalah bila seorang jatuh dari ketinggian
dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain tulang tumit, terjadi
pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula patah tulang paha dan
tulang belakang. Demikian pula bila jatuh dengan telapak tangan sebagai
penyangga, dapat menyebabkan patah pada pergelangan tangan dan
tulang lengan bawah.
c) Kekerasan akibat tarikan otot
Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah tulang.
Patah tulang akibat tarikan otot biasanya jarang terjadi. Contohnya patah

Tipe-Tipe Fraktur Berdasarkan Jenis Klasifikasinya Fraktur dapat dibedakan jenisnya berdasarkan hubungan tulang dengan jaringan disekitar. Tanda-tanda Fraktur 1. dimana syaraf ini terjepit atau terputus oleh fragmen tulang 7. Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh darah 3. Nyeri. 1. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang yang rapuh maka akan terjadi fraktur. i. Berdasarkan hubungan tulang dengan jaringan disekitar Fraktur dapat dibagi menjadi : a) Fraktur tertutup (closed). karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang meningkat Karen penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur 6. Spasme otot karena kontraksi involunter disekitar fraktur 5. C. karena otot triseps dan biseps mendadak berkontraksi. Ekimosis ( perdarahan subkutan) 4. dan tumor pada tulang. Peristiwa Patologis a) Kelelahan atau stres fraktur Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas berulang – ulang pada suatu daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas yang lebih berat dari biasanya. penyakit metabolisme tulang misalnya osteoporosis. Pergerakan abnormal 9. b) Kelemahan Tulang Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu tulang akibat penyakit infeksi. yang dapat dirasakan atau didengar bila fraktur digerakan D. bentuk patahan tulang. Kurangnya sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan syaraf. tulang akibat tarikan otot adalah patah tulang patella dan olekranom. dan lokasi pada tulang fisis. Deformitas ( perubasahan struktur atau bentuk) 2. nyeri atau spasme otot 8. Krepitasi. Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidakstabilan tulang. atau peningkatan beban secara tiba – tiba pada suatu daerah tulang maka akan terjadi retak tulang. . Tulang akan mengalami perubahan struktural akibat pengulangan tekanan pada tempat yang sama. 2.bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.

atau kominutif ringan 4) Kontaminasi minimal 2. meliputi struktur kulit. 2) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif. oblik. Gustillo). Derajat III : Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas. dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Derajat II : 1) Laserasi >1 cm 2) Kerusakan jaringan lunak. Berdasarkan bentuk patahan tulang a. transversal. tidak luas. meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat (menurut R. flap/ avulsi 3) Fraktur kominutif sedang 4) Kontaminasi sedang 3. 3) Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak. Transversal . 2. Derajat I : 1) Luka <1 cm 2) Kerusakan jaringan lunak sedikit. Fraktur terbuka derajat III terbagi atas: 1) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat. otot. yaitu: 1. b) Fraktur terbuka (open/compound). bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. tak ada tanda luka remuk 3) Fraktur sederhana.

Fraktur jenis ini sering terjadi pada anak – anak. fragmen biasanya tetap di tempatnya setelah tindakan reduksi. Kominuta Adalah fraktur yang mencakup beberapa fragmen. ada segmen tulang yang retak dan ada yang terlepas menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darah. atau terputusnya keutuhan jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang. Fraktur fisis juga kebanyakan terjadi karena kecelakaan lalu lintas atau pada saat aktivitas olahraga. 3. seperti pada satu vertebra dengan dua vertebra lainnya. b. Fraktur semacam ini biasanya mudah dikontrol dengan pembidaian gips. Segmental Adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang. h. Oblik Adalah fraktur yang memiliki patahan arahnya miring dimana garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Berdasarkan lokasi pada tulang fisis Tulang fisis adalah bagian tulang yang merupakan lempeng pertumbuhan. Fraktur jenis ini hanya menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak. Greenstick Adalah fraktur tidak sempurna atau garis patahnya tidak lengkap dimana korteks tulang sebagian masih utuh demikian juga periosterum. Fraktur Impaksi Adalah fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada diantaranya. Fraktur Fissura Adalah fraktur yang tidak disertai perubahan letak tulang yang berarti. f. g. bagian ini relatif lemah sehingga strain pada sendi dapat berakibat pemisahan fisis pada anak – anak. Fraktur fisis dapat terjadi akibat jatuh atau cedera traksi. d. e. Spiral Adalah fraktur meluas yang mengelilingi tulang yang timbul akibat torsi ekstremitas atau pada alat gerak. Klasifikasi yang . c. Adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang atau bentuknya melintang dari tulang.

kendalikan perdarahan hebat. Pemasangan bidai tidak hanya mengurangi rasa nyeri tetapi juga mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut pada otot. d) Tipe IV fraktur longitudinal melalui epifisis. paling banyak digunakan untuk cedera atau fraktur fisis adalah klasifikasi fraktur menurut Salter – Harris : a) Tipe I fraktur transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan. E. . Pembidaian yang efektif dapat mencegah syok. lempeng pertumbuhan dan terjadi melalui tulang metafisis. Tujuan Pemberian Intervensi Pembidaian Tujuan pemasangan bidai atau splint untuk mencegah adanya gerakan pada ujung tulang yang patah. e) Tipe V cedera remuk dari lempeng pertumbuhan. saraf dan pembuluh darah. mendapat prioritas dibandingkan pembidaian darurat. Prognosis cukup baik meskipun hanya dengan reduksi anatomi. timbul melalui tulang metafisis prognosis juga sangat baik denga reduksi tertutup. Obatiasfiksia. prognosis sangat baik setelah dilakukan reduksi tertutup. Ujung tulang yang patah akan menyebabkan iritasi saraf dan dapat menimbulkan rasa nyeri yang sangat hebat. c) Tipe III fraktur longitudinal melalui permukaan artikularis dan epifisis dan kemudian secara transversal melalui sisi metafisis dari lempeng pertumbuhan. Mempertahankan nyawa. serta mulai terapi syok sebelum pembidaian. Prinsip Pembidaian Prinsip Umum: 1. F. Reduksi terbuka biasanya penting dan mempunyai resiko gangguan pertumbuhan lanjut yang lebih besar. Saraf yang menyebabkan rasa nyeri pada fraktur ekstremitas terletak di dalam membrane didekat tulang. insidens dari gangguan pertumbuhan lanjut adalah tinggi. b) Tipe II fraktur melalui sebagian lempeng pertumbuhan.

meminumkan nyeri. Tujuan : 1. 2. Bila memungkinkan periksa gerakan ekstremitas distal dari fraktur. Pakaian pada ektremitas yang cedera. Rabalah denyut nadi di distal fraktura. Alat-Alat yang Dibutuhkan Untuk Melakukan Pembidaian a) Metode nonrigid (misal :mitela. Prosedur dan Teknik Pembidaian a) Lepaskan pakaian pasien . 3. Pembidaian tidak boleh menganggu sirkulasi darah atau menekan serabut saraf atau pada tonjolan tulang. plester. periksa tanda-tanda cedara arteria dan saraf. Pada ekstremitas yang cedera. Atau amati gerakan pasien yang tidak sadar. Pembidaian darurat. menghindarkan kerusakan jaringan lunak lebih lanjut oleh fragmen tulang. perban) b) Traksi kulit atau skelet c) Fiksasi plester d) Fiksasi interna e) Fiksasi eksterna f) Gips atau penyangga H. 2. harus disingkirkan. . Untuk keefektifan pembidaian yang maksimum. 3. Pembidaian efektif pada saat kecelakaan. immobilisasi sendi di atas dan di bawah fraktura. 5. dan memberikan kenyamanan selama traspor. 4. “Bidai korban di tempat” untuk melindungi terhadap perubahan fraktura tertutup menjadi fraktura terbuka dan melawan drainase jaringan lunak lebih lanjut. sebelum mencari adanya fraktura dan melakukan pembidaian darurat. merupakan tindakan yang penting dalam menatalaksana fraktura dan dislokasi. G. sehinggga bagian ekstremitas yang mengalami cedera tampak seluruhnya\ b) Periksa pulsasi dan sensorik bagian distal dari tempat fraktur sebelumdan sesudah pemasangan split/ bidai. atau di departemen gawat darurat.

d) Luka terbuka harus ditutup dulu dengan kasa steril dan perdarahan dikontrol dulu baru kemudian dipasang bidai. Apa yang harus dilakukan? . Tutup bagian tulang yang keluar dari dengan kassa steril baru dipasang bidai h) Bila ada cedera lain yang yang lebih serius dan mengancam jiwa . e) Pasang bidai melalui 2 sendi pada tulang f) Pasang padding atau bantalan secukupnya pada tulanng yang menonjol g) Pada fraktur terbuka jangan memasukan ujung tulang yang patah ke dalam lagi. c) Jika ekstremitas tampak sangat membengkok dan nadi tidakteraba. Kondisinya tidak sadar dan terdapat fraktur femur tertutup dengan pendarahan massif. Di lokasi belum ada ambulans ataupun polisi yang menolong korban. coba lakukan traksi ringan dan jika ada tahanan jangan diteruskan dan pasang pada bagian tersebut. tetap pasang bidai pada daerah ekstremitas yang dicurugai adanya cedera. Bila cedera ringan sebelum dirujuk ke rumah sakit luka dibidai dulu i) Jika ragu0ragu ada tidaknya fraktur. Kasus 1 Anda menemukan seseorang pengendara motor yang menjadi korban tabrak lari dijalan raya. bidai dipasang setelah pasien distabilkan.

Mintalah bantuan terhadap masyarakat sekitar untuk menghubungi rumah sakit terdekat dan mulailah RJP 6..Mbak. kemudian lakukan kompresi pada tempat tersebut 8. Perhatikan 3A.Pak.” 3. aman diri...Korban tabrak lari . Cari tanda-tanda syok atau perdarahan dan cek ABC 2. Apabila korban tidak merespon kemudian cek pernafasan dan nadi karotisnya dengan Look.Feel... pasien 2... Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali kemudian berikan 2 kali nafas buatan.Terdapat Fraktur Femur tertutup dengan Pendarahan Masif  Intervensi yang dilakukan . Ulangi siklus ini sebanyak 4 kali.. lingkungan.Listen. 9.apakah ada benda asing yang menghambat jalan nafasnya.Belum terdapat ambulans dan juga polisi di TKP  Masalah yang Muncul . Xyphoideus.. Kemudian cek nadi dan nafas korban apabila :  Tidak ada napas dan tidak ada nadi : teruskan RJP sampai bantuan datang..  Terdapat nadi tetapi tidak ada napas : mulai lakukan pernafasan buatan. Kemudian cek respon dengan menepuk atau menggoyangkan bahu sambil berkata “Mas. . Cari trauma pada tempat yang lain yang beresiko (kepala. Cara penanganan femur 1. 4. hentikan RJP..Bu.  Terdapat nadi dan nafas : korban membaik. Tidak ada nafas dan tidak ada nadi maka lakukan RJP 7..Berhubung pasien tidak sadar maka pasien dilakukan RJP 1..Kondisinya tidak sadar .. dan tulang belakang iga dan pneumotoraks dan trauma pelvis) 3. Identifikasi Masalah .Terdapat fraktur femur dengan pendarahan massif . Periksa jalan nafas... 5. . Tentukan posisi RJP pada bagian proc.

.

dibawa kerumah sakit dengan kondisi lengan bawah tangan kanan posisisnya bengkok. K. dan berlumuran darah.Kasus 2 An.  Identifikasi Masalah . Keluarga mengatakan klien jatuh dari pohon mangga. 15 tahun. tulang menonjol keluar.

bengkak.Komplikasi b.Klien dicurigai mengalami patah tulang di tungkai bawah karena terperosok disungai berbatu . Keterbatasan gerak e. R dibawa ke unit gawat darurat dengan ambulans.berlumuran darah.  Identifikasi Masalah .Dicurigai mengalami patah tulang di tungkai bawah . Cidera saraf yang menyebabkan mati rasa g. Balut semua luka terbuka dengan balutan steril 5. Deformitas ekstremitas c. Dan juga terdapat krepitasi disisi area yang dicurigai. dan nyeri sekali. Perbedaan panjang d. Elevasikan ekstremitas yang cedera 7. Imobilisasi bagian cedera 4. Terjadi fraktur kembali  Intervensi yang dilakukan .kaki kiri tidak bisa digerakkan.tulang menonjol keluar .lengan bawah tangan kanan posisisnya bengkok .lengan bawah tangan kanan posisisnya bengkok dan tulang menonjol keluar  Intervensi yang dilakukan Penatalaksanaan : 1. Inkongkruenitas sendi h. dan nyeri . Klien dicurigai mengalami patah tulang di tungkai bawah karena terperosok disungai berbatu. bengkak. Tentukan mekanisme cedera 3.pucat. Gunakan traksi jika terjadi gangguan sirkulasi 6.Tidak ada tulang yang menonjol . Gangguan sirkulasi f.terdapat krepitasi  Masalah yang Muncul . . Tidak ada tulang yang menonjol tapi kaki kiri tidak bisa digerakkan.paresetia dan paralisis) 2. Kaji 5 tanda fraktur (nyeri. Beri sensasi dingin di bagian yang cedera Kasus 3 Ny.  Masalah yang Muncul .denyut nadi.

pembengkakan. Stabilkan belat dengan perban c. Pasang pada salah satu ekstremitas bawah b.a.  Kaji penyebaba cidera  Kaji adanya tanda dan gejala  Kaji penyembuhan luka pada fraktur tertutup  Kaji adnya iritasi pada kulit  Kaji integrits gips atau traksi b. Hebatnya rasa nyeri c.Dirumah Sakit 1. Imobilisasi tempat fraktur dan sendi diatas dan dibawahnya . Pantau dan dokumentasikan kondisi dan penyebab cidera a. Perubahan warna kulit d. . perubahan warna kulit.Di TKP 1. Pembengkakan b. Status neurologi ekstremitas bawah (kesemutan atau mati rasa) 2. a. Status sirkulasi ekstremitas bawah terhadap cidera (warna dan kehangatan nadi) e. Penatalaksaan medis : Cara penatalaksaan mencakup pemasanagn gips dan pemberian analgesic untuk menghilangkan nyeri . Pasang belat atau balutan Jones pada ekstremitas untuk mengurangi nyeri dan mencegah cidera lebih lanjut. Pengkajian  Kaji adanya nyeri. Jika korban berada ditempat umum maka tetap pasang bidai pada daerh ekstremitas yang dicurigai ada cidera.