You are on page 1of 11

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa September 2016

FKIK Universitas Tadulako
Rumah Sakit Daerah Undata

REFLEKSI KASUS

“GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT
PENGGUNAAN ZAT”

DISUSUN OLEH:

NUR SAFRIYANTI

N 111 16 037
PEMBIMBING:

dr. Dewi Suryani Angjaya , Sp.KJ

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA RSUD UNDATA

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2016

REFLEKSI KASUS

IDENTITAS PASIEN

 Nama : Ny. RM
 Umur : 18 tahun
 Alamat : Desa Malonda
 Agama : Islam
 Suku : Kaili
 Pendidikan : SMA
 Pekerjaan : Mahasiswa
 Status perkawinan : Belum menikah
 Tanggal pemeriksaan : 19 September 2016

LAPORAN PSIKIATRIK

I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama
Jantug berdebar, berkeringat.

B. Riwayat Gangguan Sekarang
Seorang pasien bernama R dibawa oleh ibunya ke Rumah Sakit Undata
dengan keluhan jantung berdebar-debar dan sering berkeringat sejak 2
minggu lalu. Pasien memiliki riwayat menggunakan alkohol sejak SMA
dan juga mengonsumsi rokok. Pasien juga mengaku mengonsumsi obat-
obatan namun tidak mengetahui jenis obat yang dikonsumsi jenis apa.
Pasien memiliki teman sepermaian yang sering mengajaknya untuk minum
minuman beralkohol hingga sekarang pasien masih sering bergaul dengan
temannya tersebut. Satu bulan lalu pasien mengalami mual muntah dan
dibawa ke UGD untuk mendapatkan pengobatan. Pasien menganggap
keluhan mual muntah tersebut akibat sering mengonsumsi alkohol
sehingga ingin berhenti untuk mengonsumsinya. Orang tua pasienpun
khawatir jika pasien masih mengonsumsi alkohol dan berharap pasien bisa
berhenti dengan kebiasaannya tersebut. Pasien juga sering bermain judi
hingga sempat menggadaikan laptop ibunya, selain itu juga emas ibunya
pun digadaikan untuk dipakai berjudi. Sejak sekolah dasar pasien sering
masuk ruangan BK (bimbingan konseling) karena sering berkelahi dengan
temannya. Hingga sekarang, ibunya masih menganggap anaknya adalah
anak nakal. Sejak pasien SD, orang tuanya masih membiarkan pasien,
namun saat SMP tingkah lakunya semakin kurang baik, sehingga orang
tuanya pernah memukulnya saat SMP. Pasien juga pernah pindah sekolah
karena berkelahi dengan temanya pada kelas XI SMA.

C. Riwayat Kehidupan Peribadi
 Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir normal, cukup bulan dan dibantu dukun. Selama
mengandung, ibu pasien dikatakan dalam keadaan sehat.
 Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)
Tidak terdapat persoalan-persoalan makan diusia ini. Pertumbuhan
dan perkembangan sesuai umur dan tidak terdapat gejala-gejala
masalah perilaku. Tidak ada riwayat kejang, trauma atau infeksi pada
masa ini. Pasien mendapatkan kasih sayang dari orang tua dan
saudara-saudaranya.
 Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)
Pada umur 6 tahun, pasien mulai masuk SD. Pasien menyelesaikan
pendidikan sekolah dasar dengan hubungan pertemanan yang baik
dengan teman sepermainan. Namun terkadang pasien berkelahi
dengan teman sepermainannya.
 Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja. ( 12-18 tahun)
Pasien seorang yang pandai bergaul. Pasien memiliki banyak teman,
terutama dilingkungan rumah, tetangganya sering mengajak pasien
minum minuman alkohol dan berjudi. Pasien melewati pendidikan 9
tahun, namun pada kelas XI pasien tidak naik kelas, karena berkelahi
dengan teman sekolah sehingga pasien pindah sekolah.
 Riwayat Masa Dewasa
Saat ini pasien masih menjalani pendidikan diperguruan tinggi di
widya loka jurusan komputer.

D. Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Anak pertama masih
kuliah dan anak ketiga masih duduk di bangku SMA. Riwayat gangguan
jiwa dalam keluarga tidak ada. Pasien memiliki komunikasi yang lancar
dengan saudara-saudaranya, namun terkadang pasien tidak nyaman di
rumah karena sering dimarahi dan dipukuli oleh orang tuanya dengan
alasan pasien sering membantah jika diberi tahu.

II.EMOSI YANG TERLIBAT
Kasus ini menarik untuk dibahas karena merupakan kasus penyalahgunaan
zat berupa alkohol pada remaja yang sangat banyak terjadi dimasyarakat.
Kelompok usia dengan persentasi penggunaan alkohol yang tertinggi, yang
juga merupakan kelompok usia yang mengonsumsi alkohol paling banyak
adalah kelompok usia 15-30 tahun. Dengan perbandingan antara laki-laki dan
perempuan yakni 3 : 1. Namun, faktor penyebab perjalanan penyalahgunaan
alkohol juga bervariasi, seorang laki-laki pada usia pasien yang masih remaja
memang rentan untuk melakukan penyalahgunaan alkohol karena
kemungkinan belum memiliki tanggungjawab besar dibandingkan orang yang
sudah berumah tangga. Selain itu pada penyalahgunaan alkohol ada
kemungkinan terjadi komorbiditas (diagnosis ganda) dengan gangguan
mental lain sehingga perlu untuk ditelusuri lebih lanjut.

III. EVALUASI
 Pengalaman Baik
Pasien merespon jika diberikan pertanyaan, serta sikap yang diperlihatkan
cukup tenang.
 Pengalaman Buruk
Pasien masih terlihat belum terbuka saat dilakukan wawancara, sehingga
masih ada beberapa informasi yang belum dipastikan.

IV. ANALISIS
Pasien remaja laki-laki umur 18 tahun datang ke Poliklinik Jiwa
RSUD Undata Palu dengan keluhan berdebar-debar dan berkeringat sejak
dua minggu lalu. Pasien memiliki riwayat penggunaan alkohol dan berjudi
sejak lama. Memiliki riwayat mual muntah 1 bulan lalu dan masuk ke UGD,
pasien menganggap keluhannya tersebut karena ia mengonsumsi alkohol
sehingga berkeinginan untuk berhenti. Pasien sering mengonsumsi alkohol
bersama teman-teman disekitaran rumahnya. Pasien sampai menggadaikan
laptop dan emas orang tuanya untuk dipakai berjudi. Orang tua sering
memarahi pasien karena kebiasannya yang mengonsumsi alkohol tersebut,
sehingga pasien merasa tidak nyaman tinggal di rumah.
Berdasarakan hasil anamnesis dan alloanamnesis, didapatkan kriteria
yang dialami pasien mengarah pada gangguan mental dan perilaku,
penggunaan yang merugikan berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ III yakni
kegagalan memenuhi kewajiban utama dalam sekolah dengan kebiasaan
pasien sering berkelahi sejak SMP dan sempat dikeluarkan dari sekolah
karena berkelahi serta masih sering konsumsi alkohol sehingga memicu
perkelahian fisik. Sesuai dengan Kriteria diagnostik untuk penyalahgunaan
zat menurut DSM IV:
a. Pola penggunaan zat maladaptive yang menyebabkan gangguan atau
penderitaan yang bermakna secara klinis, seperti yang ditunjukan oleh
satu atau lebih hal berikut:
 Penggunaan zat rekuren yang menyebabkan kegagalan untuk
memenuhi kewajiban utama dalam pekerjaan, sekolah atau rumah
(misalnya membolos berulangkali atau kinerja pekerjaan yang
memburuk yang berhubungan dengan penggunaan zat, mangkir,
skor atau pengeluaran dari sekolah yang berhubungan dengan zat,
penelantaran anak atau rumah tangga.
 Penggunaan zat rekuren dalam situasi yang berbahaya secara fisik
(misalnya mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin saat
tergangu oleh penggunaan zat.
 Masalah hukum yang berhubungan dengan zat yang berulang kali
(misalya, penahanan karena gangguan tingkah laku yang
berhubungan dengan zat).
 Pemakaian zat yang diteruskan walaupun memiliki masalah social
atau interpersonal yang menetap atau rekuren karena efek zat
(misalnya bertengkar dengan pasangan tentang akibat intoksikasi,
perkelahian fisik).
b. Gejala diatas tidak pernah memenuhi kriteria ketergantungan zat untuk
kelas zat ini.
Menurut revisi teks edisi keempat DSM IV, gangguan terkait zat
mencakup gangguan-gangguan ketergatungan zat, penyalahgunaan zat,
intoksikasi zat dan putus zat. Kriteria gejala yang ad pada pasien mengarah
pada penyalahgunaan zat berupa alkohol.
Penyalahgunaan zat adalah pola maldaptif penggunaan zat yang
menimbulkan hendaya atau penderitaan yang secara klinis bermakna, yang
ditunjukan dengan satu atau lebih gejala berikut ini dalam periode 12 bulan;
peggunaan zat berulang dalam situasi yang menimbulkan bahaya fisik pada
pengguna, penggunaan zat berulang saat menghadapi hendaya yang nyata di
sekolah atau situasi kerja, penggunaan zat berulang tanpa memandang
masalah hukum yang ditimbulkan, penggunaan berulang tanpa adanya
masalah social atau interpersonal. Untuk memenuhi kriteria untuk
penyalahgunaan zat, saat ini atau dimasa lalu, gejala tidak boleh memenuhi
kriteria untuk ketergantungan zat untuk golongan zat ini.
Pada kasus ini adanya komorbiditas yakni adanya lebih dari satu
gangguan penggunaan zat atau gabungan dari gangguan penggunaan zat dan
gangguan psikiatri lain (diagnosis ganda) lazim ditemukan dengan gangguan
mental lain biasanya ada pada seseorang yang mempunyai suatu gangguan
berhubungan dengan alkohol. Diagnostik psikiatri yang paling sering
berhubungan adalah gangguan berhubungan dengan zat lain, gangguan
kepribadian antisosial, gangguan mood dan gangguan kecemasan. Alkohol
adalah efektif dalam menghilangkan kecemasan, banyak orang menggunakan
alkohol karena alasan tersebut. Walaupun komorbiditas antara gangguan
berhubungan dengan alkohol dan gangguan mood telah dikenal luas, kurang
dketahui bahwa kemungkinan 25 – 50 % dari semua orang dengan gangguan
berhubungan dengan alkohol juga memenuhi kriteria diagnostik untuk suatu
gangguan kecemasan.
Beberapa data menyatakan bahwa alkohol dapat digunakan untuk usaha
mengobati sendiri gejala agoraphobia atau fobia social, tetapi suatu gangguan
berhubungan dengan alkohol kemungkinan mendahului perkembangan
gangguan panic atau gangguan kecemasan menyeluruh. Namun pada pasien
masih menunjukan adanya gejala kecemasan berupa jantung berdebar dan
berkeingat yang merupakan gejala otonomik pada gangguan cemas.
Berdasarkan hal diatas, perlu dilakukan peninjauan lebih lanjut lagi terkaita
dengan klasifikasi gangguan cemas yang dirasakan oleh pasien melalui
wawancara terstruktur yang dapat membantu menentukan jenis zat yang
digunakan serta kuantitas dan frekuensinya. Skala penilaian secara khas
digunakan untuk merekam keparahan penyalahgunaan praterapi dan
pascaterapi. Teen Addiction Severity Index (T-ASI), Adolescent Drug and
Alcohol Diagnostic Assesment (ADAD) dan Adolescent Problem Severity
Index (APSI) adalah beberapa skala penilaian yang berorientasi pada
keparahan. T-ASI dipecah menjadi dimensi-dimensi yang mencakup fungsi
keluarga, status sekolah atau kepegawaian, status psikiatrik, hubungan sosial
sebaya, dan status hokum.

V. EVALUASI MULTIAKSIAL
A. Aksis I
 Berdasarkan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang
bermakna berupa berdebar-debar, rasa ingin meninggal dan
berkeringat. Keadaan ini menimbulkan disstress bagi pasien dan
keluarganya, serta menimbulkan disabilitas dalam sosial
dan pekerjaan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
Gangguan Jiwa.
 Pada pasien tidak ditemukan hendaya dalam menilai realita,
sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Non Psikotik.
 Berdasarkan data yang diperoleh juga ditemukan bahwa pasien
memiliki riwayat penggunaan zat psikoaktif, alkohol dan berjudi.
sehingga didiagnosa sebagai Gangguan Mental dan Perilaku
Akibat Penggunaan Zat. Pola penggunaan zat psikoaktif berupa
alkohol dan rokok yang merusak kesehatan, yang dapat berupa fisik
atau mental sehingga dapat didiagnosis Penggunaan Yang
Merugikan (F10.1)
B. Aksis II
Tidak Ada Diagnosis Aksis II.
C. Axis III
Pasien mengalami mual muntah sehingga terdapat penyakit sistem
pencernaan (K00-K93)
D. Aksis IV
Teradapat masalah dengan “primary Support Group” (keluarga).
E. Aksis V
GAF scale 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik).

VI. RENCANA TERAPI
1. Psikofarmaka
Intervensi psikofarmakologis untuk penggunaan alkohol dan obat
remaja masih berada ditahap awalnya. Jika ada gangguan mood, terdapat
indikasy yang jelas untuk antidepresan dan umumnya serotonin selective
reuptake inhibitor (SSRI) adalah terapi lini pertama. Pada keadaan
tertentu, pemberian obat digunakan untuk menyekat efek obat illegal
yang menguatkan, contohnya memberikan naltrekson untuk
penyalahgunaan opioid.
Antidepressan golongan SSRI: Fluoxetin cap 20 mg 2 x 1
dapatdigunakan untuk mengatasi jantung berdebar-debar, pemberian
golongan SSRI (Serotonin Selective Re-uptake Inhibitors) dapat
digunakan untuk mengobati kecemasan akibat penggunaan alkohol yang
dialami pasien, dapat dipilih salah satu dari kohexin, sertalin, fluoksetin,
fluvoksamin, escitalopram, dan lain-lain. Obat diberikan dalam 3-6
bulan atau lebih, tergantung kondisi individu, agar kadarnya stabil dalam
darah sehingga dapat mencegah kekambuhan. Pemberian obat H2
histmamin bloker dapat digunakan untuk mengatasi keluhan lambung
yang dirasakan pasien. Ranitidin 150 mg sekali sehari.

2. Non psikofarmaka
a. Cognitif Behaviour therapy (CBT)
Pendekatan kognitif perilaku pada psikoterapi untuk remaja dengan
penggunaan zat umumnya mensyaratkan remaja tersebut memiliki
motivasi untuk berpartisipasi di dalam terapi dan menaha diri dari
penggunaan zat lebih lanjut. Terapi ini berpusat pada pencegahan
kekambuhan dan mempertahankan abstinensia.
b. Terapi keluarga
Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakir pasien,
penyebabnya, faktor pencetus, perjalan penyakit dan rencana terapi
serta memotivasi keluarga pasien untuk selalu mendorong pasien
mengungkapkan perasaan dan pemikirannya
c. Terapi pekerjaan
Memanfaatkan waktu luang dengan melakukan hobi atau pekerjaan

VII. KESIMPULAN
1. Berdasarkan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
pada gangguan mental dan perilaku, penggunaan yang merugikan
berdasarkan kriteria diagnostik PPDGJ III dan mengalami
penyalahgunaan zat menurut DSM IV sesuai engan kriteria yang
ditunjukan pasien.
2. Adanya penyalahgunan zat memiliki komorbiditas atau diagnosis ganda
berupa ganguan cemas karena pasien menunjukan gejala berdebar dan
berkeringat saat berkunjung ke rumah sakit, sehingga perlu ditelusuri
lebih lanjut dengan melakukan wawancara yang terstruktur untuk
menentukan skala keparahan pasien dalam penyalahgunaan zat.

DAFTAR PUSTAKA

Elvira S, Hadisukanto G, 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Gunawan S, Setiabudy R, Nafrialdi, 2008. Farmakologi dan Terapi Edisi 5.

Departemen Farmakologi dan Terapetik. Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. Jakarta.

Kaplan & Sadock. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Ed.2. EGC. Jakarta.