You are on page 1of 10

A.

Relevasi:

Persalinan kala I meliputi fase pembukaan dari 1 -10 cm. Secara fisiologis, proses ini
dapat terjadi dengan sendirinya. Akan tetapi, setiap persalinan berpotensi untuk terjadi
komplikasi atau adanya tanda bahwa pada kala I. Oleh karena itu, penting untuk kita ketahui,
bagaimana dan intervensi apa saja yang harus dilakukan selama kala I dan tindakan apa yang
hars dilakukan jika terdapat tanda bahaya selama kala I persalinan.

B. Perubahan Fisik Dan Psikologi Pada Ibu Bersalin Kala I

Persalinan normal yaitu proses pengeluaran buah kehamilan cukup bulan yang
mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban, dengan persentasi kepala
(posisi belakang kepala), dari rahim ibu melalui jalan lahir (baik jalan lahir lunak
maupun kasar), dengan tenaga ibu sendiri (tidak ada intervens dari luar).

1. Perubahan Fisik pada Ibu Bersalin Kala I
a. Perubahan pada uterus dan jalan lahir dalam persalinan, yang meliputi:
1) Perubahan keadaan segmen atas dan bawah rahim pada persalinan:
a) Pada kehamilan lanjut, uterus terdiri atas dua bagian yaitu segmen atas
rahim (SAR) yang dibentuk oleh corpus uteri dan segmen bawah rahim
(SBR) yang dibentuk oleh istmus uteri.
b) Kontraksi otot rahim mempunyai sifat yang khas, yaitu:
(1) Setelah kontraksi maka oto tersebut tidak berlelaksasi kembali ke
keadaan sebelum kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek
walaupun tonusnya seperti sebelum kontraksi (retraksi).
(2) Kontraksi tidak sama kuatnya, tapi paling kuat di daerah fundus
uteri dan berangsur-angsur berkurang kebawah dan paling lemah
pada segmen bawah rahi (SBR).
(3) Sebagian dari isi rahim keluar dari segmen atas dan diterima oleh
segmen bawah.
(4) Jadi, segmen atas makin lama makin mengecil sdangkan segmen
bawah makin diregang dan makin tipis dan isi rhim sedikit demi
sedikit pindah ke segmen bawah.
(5) Karena segmen atas makin tebal dan segmn bawah man tipis, maka
batas antara segmen atas dan bawah menjadi jelas dan akan
membentuk lingkaran retraksi yang fisiologis.
(6) Kalau segmen bawah sangat diregang maka lingkaran retraksi lebih
jelas dan naik mendekat pusat dan akan membentuk lingkaran
retraksi yan patologis atau lingkaran bandle.
2) Perubahan pada bentuk rahim
a) Pada tiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang
sedangkan ukuran melintang maupun muka belakang berkurang.
b) Hal di atas dapat terjadi karena ukuran melintang berkurang, artinya
tulang punggung menjadi lebih lurus dan dengan demikian kutup atas
anak tertekan pda fundus sedangkan kutub bawah ditekan ke dalam
PAP.
3) Perubahan pada serviks

Perubahan pada Sistem Metabolisme Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob meningkat secara berangsur. a) Agar bayi dapat keluar dari rahim maka perlu terjadi pembukaan dari serviks. rasa takut. Diastole (5-10 mmHg). nadi. Dari luar peregangan oleh bagian dnegan nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus menjadi terbuka. pernafasan dan cairan yang hilang. b. kardiak output. Perubahan pada Tekanan Darah 1) TD meningkat selama kontraksi (sistolik rata-rata naik 15 (10-20) mmHg. e. denyut nadi. dan aktivitas otot skeletal. diarahkan kembali ke pembuluh darah perifer. c. b) Pembukaan dari serviks ini biasanya didahului oleh pendataran dari serviks. Antara kontraksi. menjadi satu lubang saja dengan pinggir yang tipis. Peningkatan ini ditandai dengan adanya peningkatan suhu tubuh. Ditandai dengan peningkatan suhu. 2) Setelah ktuban pecah. Aliran darah yang menutun pada arteri uterus akibat kontraksi. Wanita yang memang memiliki resiko hipertensi kni resikonya meningkat untuk mengalami kompilasi. Perubahan pada Suhu Tubuh 1) Meningkat selama persalinan terutama selama dan segera setelah persalinan. Perubahan pada Vagina dan Dasar Panggul 1) Dalam kala I ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina yang sejak kehamilan mengalami perubahan sedemikian rupa. Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara berangsur disebabkan karena kecemasan. pernafasan dan cairan yang hilang. c) Pendataran serviks adalah: pendekatan dari kanalis servikalis berupa sebuah saluran yang panjangnya 1-2 cm. sehingga dapat dilalui oleh anak. seperti perdarahan otak. pemeriksaan tekanan darah di antara kontraksi memberi data yang lebih akrat. Pada tahap pertama persalinan kontraksi uterus meningkatkan tekanan sistolik dengan rata-rata 15 (10-20) mmHg dan kenaikan diastolik dengan rata-rata 5-10 mmHg. 2) Rasa sakit. lubang vulva menghadap ke depan atas. dan cemas juga akan meningkatkan TD 3) Ada beberapa faktor yang mengubah tekanan darah ibu. d) Pembukaan dari serviks adalah pembesaran dari OUE yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa milimeter menjadi lubang yang dapat dilalui anak kira-kira 10cm diameternya. . Timbul tahanan perifer. kardiak output. tekanan darah meningkat dan frekuensi denyut nadi melambat. segala perubahan terutama pada dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis. 3) Waktu kepala sampai vulva. TD kembali normal pada level sebelum persalinan. baik tekanan sistolik maupun diastolik akan tetap sedikit meningkat diantara kontraksi. Oleh karena itu. d. Akan tetapi.

Aktivitas ini meningkatkan tekanan intratoraks. Selama persalinan wanita dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan akibat berbagai alasan: edema jaringan akibat tekanan bagian presentasi. f. kandung kemih menjadi organ abdomen. rasa tidak nyaman. Perubahan pada Sistem Gastrointestinal 1) Motilitas lambung dan absorpsi makanan pada berkurang . dan peningkatan aliran plasma ginjal. i. janin dapat mengalami hipoksia. hipoksia dan hipokapnea (karbondioksida menurun). Peningkatan ini jarang melebih 0. g. mungkin disebabkan oleh peningkatan kardiak output. Curah jantung dan teknan darah meningkat. h. Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan pemakaian oksigen terlihat dari peningkatan frekuensi pernafasan. Pada tahap kedua persalinan. sedasi dan rasa malu. Proteinuria +1 dapat dikatakan normal dan hasil ini merupakan respons rusaknya jaringan otot akibat kerja fisik selama persalinan. Kecemasan juga meningkatkan pemakaian oksigen. Poliuria sering terjadi selama persalinan. mengurangi aliran balik vena dan meningkatkan tkanan vena. 2) Karena terjadi peningkatan metabolisme. maka ia akan mengkonsumsi oksigen hampir dua kali lipat. Perubahan pada Sistem Renal (Ginjal) 1) Poliuria Peningkatan filtrasi glomelurus dan peningkatan aliran plasma ginal 2) Proterinuria yang sedikit dianggap biasa Pada trimester kedua. Proses ini pulih kembali saat wanita menarik napas. Perubahan pada Detak Jantung 1) Detak jantung secara dramatis naik selama kontraksi 2) Antara kontraksi sedikit meningkat dibandingkan sebelum persalinan Pada setiap kontraksi. Perubahan pada Sistem Pernafasan 1) Terjadi sedikit peningkatan laju pernafasan dianggap normal 2) Hiperventilasi yang lama dianggap tidak normal dan bisa menyebabkan alkalosis Sistem pernafasan juga beradaptasi. Ibu harus diberi tahu bahwa ia tidak boleh melakukan manuver valsava (menahan napas dan menegakkan otot abdomen) untuk mendorong selama tahap kedua. Hiperventilasi dapat menyebabkan alkalosis respiratorik (pH meningkat). kandung kemih daat teraba di atas simpisis pubis. Proteinuria yang sedikit dianggap normal dalam persalinan. sedangkan nadi melambat untuk sementara. peningkatan filtrasi dalam glomerulus. Jika ibu tidak diberi obat-obatan.5 0C-1 0C. maka suhu tubuh agak sedikit meningkat selama persalinan terutama selama dan segera setelah persalinan. Selama ibu melakukan manuver valsava. Apabila terisi. Hal ini akan meningkatkan curah jantung sekitar 10% sampai 15% pada tahap pertama persalinan dan sekitar 30% sampai 50% pada tahap kedua persalinan. 400 ml darah dikeuarkan dari uterus dan masuk ke dalam sistem vaskuler ibu.

Mengajukan banyak pertanyaan atau sangat waspada terhadap sekelilingnya c. panik. motilitas dan absorbsi saluran cerna menurun dan waktu pengosongan lambu menjadi lambat. . Selain itu. menggeliat kesakitan. Ibu dapat mengalami diare pada awal persalinan. Bidan dapat meraba tinda yang keras atau tertahan pada rektum. Cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut tempo yang biasa. b. 2. dan pengosongan lambung menjadi sangat lamban. Perubahan Psikologi pada Persalinan Kala I Perubahan psikologi pada ibu bersalin selama kala I antara lain sebagai berikut: a. tidak mempercayai. Bibir dan mulut dapat menjadi kering dan sebagai respons emosi terhadap persalinan. Menunjukkan ketegangan otot dalam derajat tinggi. malu atau tidak berharga e. menjerit. Merasa diawasi l. Responns “melawan atau menghindar”. Memperlihatkan tingkah laku sangat membutuhkan d. Memperlihatkan ketakutan atau kecemasan. yang dipicu oleh adanya bahaya fisik. 2) Pengurangan getah lambung berkurang 3) Pengosongan lambung menjadi sangat lambat 4) Mual muntah biasa terjadi sampai ibu mencapai akhir kala I Persalinan mmpengaruhi sistem saluran cerna wanita. tidak merespon) k. pengluaran getah lambung berkurang menyebabkan aktivitas pencernaan hampir berhenti. Mual atau muntah basa terjadi sampai mencapai akhir j. Memperlihatkan reaksi keras terhadap kontraksi ringan atau terhadap pemeriksaan f. Selama persalinan. Memperlihatkan tingkah laku minder. ketakutan. Motilitas lambung dan absorbsi makanan padat secara substansial berkurang banyak sekali selama persalinan. kecemasan dan bentuk distres lainnya. Mual dan sendawa juga terjadi sebagai respon refleks terhadap dilatasi srviks lengkap.2 gr/100 ml. Perubahan pada Sistem Hematologi Hemoglobin meningkat sampai 1. Tampak “lepas kontrol” dalam persalinan (saat nyeri hebat. g. marah atau menolak terhadap para staf h. Merasa dilakukan tanpa hormat merasa diabaikan atau dianggap remeh m. yang menyebabkan wanita mengartikan ucapan pemberi perawatan atau kejadian persalinan secara pesimistik atau negatif. Menunjukkan kebutuhan yang kuat untuk mengontrol tindakan pemberi perawatan j. Wanita sering kali merasa mual dan memuntahkan makanan yang belum dicerna sebelum bersalin. Menunjukkan kebutuhan yang kuat untuk mengontrol tindakan pemberi perawatan i. Tampak menuntut. selama persalinan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah pasca salin kecuali ada perdarahan postpartum.

persalinan dan nifas yang lalu . Pengertian Manajemen Kala I Manajemen kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan masalah kesehatan ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu. Langkah 1: Pengumpulan Data Yaitu mengumpulkan informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkitan dengan kondisi klien 1) Tujuan pengumpulan data Mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan. 2. adalah dismenorrhea) d) Riwayat perkawinan (Kawin ke berapa dan usia saat kawin) e) Riwayat kesehatan (lalu. Manajemen Kala I 1. 2) Hal yang ditanyakan pada ibu pada saat pengumpulan data subyektif a) Identitas ibu dan suami (nama. Dari rencana asuhannya dievaluasi untuk dinilai keberhasilan atau tidak dari asuhan yang diberikan. bidan kemudian melakukan pengkajian terhadap riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan :  Apakah ibu sedang dalam persalinan  Ibu dan bayi dalam keadaan baik  Apakah ada komplikasi atau penyulit Setelah itu bidan melakukan diagnosis apakah ibu sudah masuk dalam pesalinan yang sesungguhnya atau belum. Nformasi ini digunakan untuk proses membuat keputusan klinik untuk proses membuat keputusan klinik untuk menentukan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang sesuai. Setelah menerima ibu dan keluarga dengan baik. lamanya. kemudian menentukan apakah ibu membutuhkan intervensi darurat segera. Langkah Manajemen Kebidanan a. 2005) Jika seorang ibu akan bersalin datang bersama keluarga. keluarga dan masyarakat (Depks RI. 3. banyaknya. komperhensif dan terstandar pada ibu intranatal dengan memperhatikan riwayat ibu u serta mengantisipasi resiko-resiko yang terjadi selama proses persalinan. umur. Tujuan manajemen kebidanan Memberikan asuhan kebidanan yang adekuat. kehamilan dan persalinan. siklus menstruasi. pekerjaan. agama. pendidikan) b) Keluhan utama c) Riwayat menstruasi (menarche. HPHT. Kemudian bidan membuat rencana asuhan. keluarga dan kehamilan sekarang) f) Riwayat kehamilan. maka seorang bidan layaknya dapat menerima ibu dan keluarganya. alamat.C. terlebih bila dihadapkan dalam kondisi kegawatan. Hal ini akan mengakibatkan rasa takut dan kurang percaya dari pihak pasien dan keluarga terhadap bidan.buru dalam memberikan asuhan kepada wanita yang akan bersalin. Seringkali seorang petugas kesehatan terburu.

BB. kaki dan pertibia tungkai bawah (c) Warna pucat pada mulut dan konjungtiva (d) Refleks (e) Abdomen. suasana hatinya dan tingkat kegelisahan atau nyeri kontraksi. Secara hati-hati letakkan tangan penolong di atas uterus dan palpasi jumlah kontraksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit. kecukupan cairan tubuh. b) Pemeriksaan fisik umum (K/U. jari. tentramkan hati dan bantu ibu agar merasa nyaman (3) Minta ibu mengosongan kandung kencingnya (4) Nilai kesehatan dan keadaan umum ibu. palpasi. digunakan untuk menentukan  TFU Pastikan pengukran dilakukan pada saat uterus tidak sedang kontraksi. g) Riwayat alergi obat-obatan tertentu h) Bio psiko sosial spiritual 3) Pengumpulan data obyektif a) Tujuan pemeriksaan fisik Untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin. auskultasi dan perkuso) d) Langkah pemeriksaan fisik: (1) Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan fisik (2) Tunjukkan sikap ramah dan sopan. Diantara dua kontraksi akan terjadi relaksasi dinding uterus.  Kontraksi unterus Gunakan jarum detik yang ada pada jam dining atau jam tangan untuk memantau kontraksi uterus.  DJJ Gunakan fetoskop pinnards atau doppler untuk mendengarkan DJJ dalam rahim ibu dan untuk menghitung jumlah DJJ permenit. suhu tubuh (b) Edema atau pembengkakan pada muka. nadi. Lila. (5) Melakukan pemeriksaan fisik (a) Tekanan darah. gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan. Tentukan . Ukur TFU dengan pita pengukur mulai dari tepi atas shympisis pubis kemudian rentangkan pita pengukur hingga ke puncak fundus mengikuti aksis atau linea medialis dinding abdomen. tangan. SPR) c) Pemeriksaan fisik khusus (head to too. status gizi. Pada fase aktif. TTV. meliputi inspeksi. kesadasaran. Tentukan durasi atau lama setiap kontraksi yang terjadi. minimal terjadi dua kontraksi dalam 10 menit dan lama kontraksi adalah 40 detik atau lebih.

Bila demikian. Penilaian penurunan kepala dilakukan dengan menghitung proporsi bagian terbawah janin yang masih berada di atas tepi atas shympisis dan dapat diukur dengan lima jari tangan (perlimaan). maka perhatikan dan pertimbangkan bentuk. Kegawatan janin ditunjukkan engan DJJ < 100/ > 180 x/menit. Jika tiak segera mengalami perbaikan.  Presentasi Untuk menentuka presentasi bayi. Lakukan penilaian DJJ tersebut pada lebih dari satu kontraksi. Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi. Bagaian diatas . Bagian berbentuk blat. Gangguan kondisi kesehatan janin dicerminkan dari DJJ yang kurang dari 120 dan lebih dari 160 kali permenit.Jika bagian terbawah belum masuk rongga panggul. terabba tegas adalah ciri kepala.Untuk menentukan apakah presentasi kepala atau bokong. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik. dengarkan sampai sedikitnya 30 detik setelah kontraksi berakhir. kemudian simpulkan perubahan yang terjadi. apakah kepala atau bokong: .Dengan ibu jari dan satu jari tengah. maka bagian tersebut adalah bokong. ukuran. Nilai kembali DJJ setelah 5 menit dari pemeriksaan sebelumnya. maka bagian tersebut masih dapat digerakkan. titik tertentu pada dinding abdomen ibu. dan sebaliknya . Bagian kurang tegas. lunak. jika dibandingkan dengan pemeriksaan dalam (vaginal toucher). kepadatan. bagian tersebut. dimana suara DJJ terdengar paling kuat.Beriri di samping dan menghadap ke arah kepala ibu (minta ibu mengangkat tungkai dan menekuk lutut) .  Penurunan kepala janin Pemeriksaan penurunan bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul melakui pengukuran pada dinding abdomen akan memberkan tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi ibu. baringkan ibu ke sisi kiri dan anjurkan bu untuk relaksasi. relative besar dan sulit terpegang secara mantap. pegang bagian terbawah janin yang mengisi bagian bawah abdomen ibu . maka siakan segera untuk dirujuk.

Membasuh labia secara hati-hati. penurunan kepala janin. e) Pemeriksaan Penunjang Salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan oleh bdan selama kala I persalinan yaitu dengan melakukan pemeriksaan dalam. tangan dicuci dengan sabun dan air bersih yang mengair. perdarahan. cairan ketuban (g) Genital dlaam: penipisan cerviks. seka dan depan kebelakang untuk menghindarkan kontraninasi feses (tinja) . dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam. o 5/5: jika bagian terbawah janin seluruhnya teraba di atas shympisis pubis o 4/5: jika sebagian (1/5) bagian terbawah janin telah memasuki PAP o 3/5: jika sebagian (2/5) bagian terbawah janin yang masih berada di atas shympisis dan (3/5) bagian telah memasuki PAP o 2/5: jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin yang masih berada di atas shympisis dan (3/%) bagian telah masuk PAP o 1/5: jika hanya 1 dari 5 jari masih dapat meraba bagian terbawah janin yang berada di atas shympisis dan 4/5 bagian telah masuk PAP. Jelaskan pada ibu setiap langkah yang akan dilakukan sellama pemeriksaan. Tenramkan dan anjurkan ibu untuk nick. membran/selaput ketuban. Pastikan privasi ibu terjaga selama pemeriksaan dilakukan. lendir darah. Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dalam termasuk: (1) tutupi badan ibu sebanyak mungkin dengan sarung atau selimut (2) minta ibu berbaring terlentang dengan lutut ditekuk dan paha dibentangkan (3) menggunakan sarung tangan DTT atau steril pada saat melakukan pemeriksaan (4) menggunakan kasa atau gulungan kapas DTT yang dicelupan ke air DTT atau larutan antieptik. kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih. o 0/5: jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba dari pemeriksaan luar dan bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam rongga panggul. (f) Genital luar: luka. Sebelum melakukan pemeriksaan dalam. shympisis adalah propori yang belum masuk PAP dan sisanya telah masuk PAP. cairan. Minta ibu unruk brkemih dan membasuh regio genitalia dengan sbaun dan air bersih. dilatasi.

jangan lakukan amniotomi. varikositas vulva atau rektum. lihat warna dan bau air ketuban. (10) Nila vagina. (16) Cuci kedua tangan dan segera keringkan dengan handuk bersih dan kering (17) Bantu ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman (18) Jelaskan hasil-hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarganya.(5) memeriksa genetelia eksterna. Jika ketuban belum pecah. Jika teraba. perdarahan pervagina atau mekonium (7) jika ada perdarahan per vaginam. . (14) Jika kepala dapat dipalpasi. dan apakah kepala janin sesuai dengan diameter dalan lahir (15) Jika pemeriksaan sudah lengkap. teruskan memantau DJJ secara seksama menurut petunjuk pada partograf. Luka parut lama di vagina bisa memberikan indikasi luka atau episiotomi seblumnya. raba fontanela dan sutura sagitalis untuk menilai penyusupan tulang kepala dan atau tumpang tindihnya. jangan mengeluarkannya sebelum pemeriksaan selesai. (b) Jika mekonium kental. jangan lakukan pemeriksaan dalam (8) jika ketuban sudah pecah. rujuk segera. ikuti langkah-langkah kedaruratan dan segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang sesuai. apakah terdapat luka atau massa. atau luka parut di perineum (6) nilai cairan vagina dan tentukan apakah terdapat bercak darah. hal ini mungkin menjadi informasi penting pada saat kelahiran bayi (11) Nilai pembukaan dan penipisan serviks (12) Pastikan tali pusat umbilikus dan/ atau bagian-bagian kecil tidak teraba pada saat melakukan pemeriksaan per vaginam. celupkan sarung tangan ke dalam larutan dekontaminasi. Pada saat kedua jari berada di dalam vagina. diikuti oleh jari tengah. Jika ada tanda-tanda akan terjadinya gawat janin. Masukkan jari telunjuk dengan hati-hati. lepaskan sarung tangan secara terbaik dan rendam dalam larutan dekontaminasi selama 10 menit. Bandingkan penurunan kepala dengan temuan-temuan dan pemeriksaan abdomen untuk menentukan kemajuan persalinan. Ibu mungkin mengalami infeksi (9) Dengan hati-hati pisahkan labia dengan jari manis dan ibu jari tengah. Jika mekonium ditemukan. (13) Nilai penurunan janin dan tentukan apakah kepala sudah masuk ke dalam panggul. keluarkan kedua jari pemeriksa dengan hati-hati. lihat apakah kental atau encer dan periksa DJJ: (a) jika mekonium encer dan DJJ normal. nilai DJJ dan rujuk segera (c) Jika bau busuk.

Agar dapat mendiagnosa persalinan. Setelah melengkapi anamnesis dan pemeriksaan fisik: Ketika anamneis dan pemeriksaan fisik telah lengkap. Lakukan penilaian ulang setelah 4 jam sejak pemeriksaan pertama. d. Catat semua hasil anamnesis dan temuan pemeriksaan fisik secara teliti dan lengkap b. berarti ibu masih dalam fase laten persalinan. bidan harus memastikan perubahan cerviks dan kontraksi yang cukup. Asesment pada persalinan sesungguhnya: persalinan juga harus dicurigai pada ibu dengan umur kehamian > 22 minggu usia kehamilan dimana bu merasa nyeri abdomen berulang dengan disertai cairan lendir yang mengandung darah atau ahow. Gunakan informasi yang terkumpul untuk menentukan apakah ibu sudah dalam persalinan (inpartu). jika pembukaan serviks 4 cm atau lebih. Tentukan ada tidaknya masalah atau penyulit yang harus ditatalaksanakan secara khusus. . Jika pembukaan serviks kurang dan 4 cm. b. maka bidan dapat mengambil keputusan apakah ibu sudah masuk kedalam persalinan sesungguhnya atau belum. Setiap kali selesai melakukan penilaian. buat diagnosis berdasarkan informasi tersebut. Susun rencana penatalaksanaan itu selalu berdasarkan pada hasil temuan penilaian. jika sudah masuk dalam persalinan yang sesungguhnya maka dalam kala berapa ibu sekarang. Berdasarkan temuan data diatas. Langkah 2: Interprestasi Data Dasar Dengan melakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interprestasi atas data-data yang telah dikumpulkan. mulailah mencatat kemajuan persalinan pad apartograf c. ibu telah masuk dalam fase aktif persalinan. analisis data yang terkumpul. lakukan hal berikut ini: a.