BAB IV

ANALISIS KASUS

Tn. ES, usia 47 tahun, datang ke poliklinik RSMH dengan keluhan sering
mengamuk. Keluarga OS mengatakan OS sering mengoceh sendiri, keluyuran hingga
malam. Dari riwayat perjalanan penyakit dan riwayat penyakit dahulu, OS sudah
mengalami keluhan seperti ini dari 24 tahun yang lalu dan mengkonsumsi obat-
obatan seperti Risperidone, Trihexyphenidyl, dan Clorilex.
Berdasarkan anamnesis, ditemukan gejala halusinasi auditorik yakni pasien
mendengar suara berupa pertanyaan. Dari alloanamnesis, OS mempunyai waham
kecurigaan bahwa orang sekitarnya akan membawanya ke polisi sehingga OS
melawan dan memegang sendok yang dianggapnya sebuah pisau. Dari
autoanamnesis, saat pasien diberi pertanyaan, pasien lebih banyak diam, menjawab
tidak sesuai dengan pertanyaan dan mengucapkan kata atau kalimat yang tidak ada
hubungan. Pasien juga mempunyai afek yang mendatar.
Penegakkan diagnosis menurut DSM-IV-TR, gejala-gejala pasien tersebut dapat
ditegakkan sebagai skizofrenia, yakni adanya halusinasi auditorik, waham, bicara
kacau, perilaku katatonik dan adanya gejala negatif. Menurut PPDGJ III juga, pasien
dapat didiagnosis skizofrenia karena adanya halusinasi auditorik, waham dan adanya
gejala lain seperti perilaku katatonik, gejala negatif seperti sikap sangat apatis, bicara
yang jarang, dan respon emosional yang menumpul.
Dari observasi yang dilakukan, pasien memegang sendok didahinya dan
mempertahankan dalam waktu yang lama, kemudian menoleh dan melepas sendok
tersebut ketika dipanggil dan hal tersebut dilakukan berulang-ulang kali. Pasien juga
melakukan gerakan-gerakan yang tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi pengaruh
dari luar. Menurut kriteria diagnosis menurut DSM-IV-TR dan PPDGJ III, pasien
dapat diagnosis sebagai skizofrenia katatonik. Pada pasien yang tidak komunikatif
dengan manifestasi perilaku dari gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin

35

Apabila gejala negatif lebih menonjol dari pada gejala positif.harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. sedangkan perempuan 25 sampai 35 tahun. Pasien juga diberikan antipsikotik atipikal yakni risperidone dan clozapin. atau alkohol dan obat-obatan. Pada umumnya. Pasien diberikan obat-obatan antipsikotik golongan tipikal seperti trifluoperazine untuk gejala positif pasien yakni seperti waham. serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif. jenis obat tertentu sudah terbukti efektif dan dapat ditolelir dengan baik. namun menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. hasil akhir untuk pasien skizofrenik wanita adalah lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien skizofrenia laki-laki. terdapat faktor risiko lain yakni pasien merupakan laki-laki dan pasien pertama kali mengalami keluhan pada saat pasien 24 tahun. pilihan antipsikosis atipikal perlu dipertimbangkan. Pemilihan obat antipsikosis didasarkan atas beberapa pertimbangan antara lain obat antipsikosis mempunyai efek primer yang sama pada dosis ekuivalen dan perbedaan terutama pada efek sekunder (efek samping : sedasi. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun. gangguan metabolik. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya. dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Pada kasus ini. Hal ini 36 . Antipsikotik generasi II (APG II) lebih berpengaruh banyak dalam memblok reseptor 5HT2A dengan demikian meningkatkan pelepasan dopamin dan dopamin yang dilepas lebih dari pada yang dihambat di jalur mesokortikal. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki- laki adalah lebih mungkin daripada wanita untuk terganggu oleh gejala negatif dan wanita lebih mungkin memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Prevalensinya antara laki-laki dan perempuan sama. otonomik dan ekstrapiramidal). efek sampingnya. halusinasi dan mengamuk. Laki-laki mempunyai onset yang lebih awal daripada perempuan.

sehingga blokade reseptor D2 menang. Hipotesis dopamin menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik. Hal ini yang menyebabkan APG II dapat memperbaiki gejala positif. antagonis 5HT2A gagal untuk mengalahkan antagonis D2 di jalur tersebut. Kedua.menyebabkan berkurangnya gejala negatif maka tidak terjadi lagi penurunan dopamin di jalur mesokortikal dan gejala negatif yang ada dapat diperbaiki. APG II di jalur mesolimbik. Kedua. obat-obatan yang meningkatkan aktivitas dopaminergik (seperti amfetamin) merupakan salah satu psikotomimetik. APG II dapat memperbaiki gejala negatif jauh lebih baik dibandingkan APG I karena di jalur mesokortikal reseptor 5HT2A jumlahnya lebih banyak dari reseptor D2. Teori tersebut muncul dari dua pengamatan. beberapa data elektrofisiologis menyatakan bahwa neuron dopaminergik mungkin meningkatkan kecepatan pembakarannya sebagai respon dari pemaparan jangka panjang dengan obat antipsikotik. dimana hiperaktivitas dopamin adalah tidak khas untuk skizofrenia karena antagonis dopamin efektif dalam mengobati hampir semua pasien psikotik dan pasien teragitasi berat. Namun belum jelas apakah hiperaktivitas dopamin ini karena terlalu banyaknya pelepasan dopamin atau terlalu banyaknya reseptor dopamin atau kombinasi kedua mekanisme tersebut. Data tersebut menyatakan bahwa abnormalitas awal pada pasien skizofrenia mungkin melibatkan keadaan hipodopaminergik. Pertama. kecuali untuk klozapin.3 37 . Pada keadaan normal serotonin akan menghambat pelepasan dari dopamin. khasiat dan potensi antipsikotik berhubungan dengan kemampuannya untuk bertindak sebagai antagonis reseptor dopaminergik tipe 2. karena itu defisit dopamin di jalur mesokortikal berkurang sehingga menyebabkan perbaikan gejala negatif skizofrenia. Namun ada dua masalah mengenai hipotesa ini. jadi antagonsis 5HT2A tidak dapat mempengaruhi blokade reseptor D2 di mesolimbik. dan APG II lebih banyak berkaitan dan memblok reseptor 5HT2A dan sedikti memblok reseptor D2 akibatnya dopamin yang di lepas jumlahnya lebih banyak.

karena ada beberapa faktor yang menyebabkan prognosis pasien yakni pasien seorang duda. 38 . adanya gejala negatif. dan berulangkali relaps. Prognosis kasus ini adalah dubia ad malam.