You are on page 1of 9

AGRITECH, Vol. 32, No.

4, NOVEMBER 2012

OPTIMASI EKSTRAKSI OLEORESIN PALA (Myristica fragrans Houtt)
ASAL MALUKU UTARA MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY
(RSM)

Optimization of Nutmeg (Myristica fragrans Houtt) Oleoresin Extraction Origin From North Maluku
Using Response Surface Methodology (RSM)

Muhammad Assagaf1, Pudji Hastuti2, Chusnul Hidayat2, Supriyadi2
1
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara. Jl. Kusu, Sofifi, Kota Tidore Kepulauan
2
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Jl. Flora No. 1, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Email: assagaf_met@yahoo.com)

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kondisi ekstraksi yang optimum dengan melakukan optimasi
suhu dan lama ekstraksi dan karakterisasi komponen kimia penyusun oleoresin pala (Myristica fragrans Houtt) Asal
Maluku Utara. Oleoresin diekstrak menggunakan metode maserasi, untuk optimasi kondisi ekstraksi dilakukan dengan
menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan disain rancangan Central Composite Design
(CCD) dua faktor yaitu X1 (suhu/oC) dan X2 (waktu/menit). Sedangkan untuk karakterisasi komponen senyawa kimia
penyusun oleoresin pala digunakan GC-MS. Hasil optimasi kondisi ekstraksi diperoleh suhu optimum ekstraksi sebesar
51,98oC dan waktu optimum ekstraksi adalah selama 273,82 menit dengan hasil optimum hasil oleoresin yang diperoleh
sebesar 14,88 %. Hasil karakterisasi dengan menggunakan GC-MS diperoleh 39 komponen dengan 5 senyawa kimia
penyusun oleoresin dengan luas area relatif terbesar yaitu senyawa methyleugenol (33.397%), myristicine (10.898%),
cis-methyl isoeugenol (9.086%), elemicin (8.329%), dan isocoumarin (5.608%) dengan 34 komponen yang memiliki
persen relatif luas area minor.

Kata kunci: Oleoresin pala, optimasi ekstraksi, Response Surface Methodology, karakterisasi

ABSTRACT

The purpose of this study was to obtain the optimum extraction conditions by performing the optimization of temperature
and extraction time and characterization of constituent chemical components of oleoresin nutmeg (Myristica fragrans
Houtt) Origin of North Maluku. Oleoresin extracted using maceration method, for optimization of extraction conditions
was done by using Response Surface Methodology (RSM) design with the Central Composite Design (CCD) two
factors X1 (temperature / oC) and X2 (times / minute). As for the characterization of the chemical constituent components
of nutmeg oleoresin used GC-MS. From the results obtained by the optimization of extraction conditions for extracting
the optimum temperature of 51.98 °C and the optimum extraction time was 273.82 minutes with the results for the
optimum result of oleoresin obtained by 14.88%. The results of characterization by using GC-MS obtained with 39
components making up oleoresin chemical compound with the largest relative area of the compound methyleugenol
(33,397%), myristicine (10,898%), cis-methyl isoeugenol (9,086%), elemicin (8,329% ), and isocoumarin (5,608%)
with 34 percent of the components that have relatively minor area.

Keywords: Nutmeg oleoresin, extraction optimization, Response Surface Methodology, characterization

383

eter dan isopropil alkohol Kebanyakan RSM diaplikasikan pada bidang kimia (Moestofa. RSM adalah gabungan teknik statistik dan (Simandi dkk. dengan fragrans Houtt) merupakan salah satu rempah yang produk. antara lain komposisi pelarut. yang secara statistik dapat diterima (Hwang dkk.. Menurut Maya dkk.73%) pada ekstraksi yang menggunakan pelarut n-hexana Di antara rempah-rempah utama Indonesia. dari penelitian Chandrayani (2002). aseton dan diklo. Metode konvensional digunakan. dan untuk tujuan yang digunakan untuk bumbu dan secara luas diaplikasikan tersebut Response Surface Methodology (RSM) sering pada makanan (Shaikh dkk. Secara umum optimasi ekstraksi hasil ekstraksi yang optimum dengan melakukan optimasi dapat dilakukan menggunakan metode empiris atau metode kondisi ekstraksi pada variabel suhu dan waktu ekstraksi statistik. 32. Cisilia (2003) diperoleh oleoresin dengan rendemen tertinggi gunakan pada kebanyakan produk makanan pada saat ini. Vol. dan penelitian biologi. ekstraksi minyak atsiri dari minyak atsiri dan oleoresin pala. No. etilen diklhorida. 2003). (2004) bahwa dari 65 jenis pala yang diperoleh dari India (2009) dan ekstraksi minyak dari biji almond dilakukan oleh memperlihatkan tingginya variabilitas kandungan minyak Zhang dkk. menggunakan pelarut organik seperti etanol. (2009). 2002. memperlihatkan profil flavor mendekati tepung rempah segar.38% dengan kondisi ekstraksi adalah karakter flavor yang lengkap dan didalamnya terkandung suhu 40 oC selama 3 jam dengan perbandingan bahan dan komponen–komponen utama pembentuk flavor yang berupa pelarut 1:10 menggunakan pelarut aseton. evaluasi pengaruh faktor dan mencari kondisi optimum dari roetana (Purseglove dkk. diperoleh rendemen METODE PENELITIAN dari oleoresin yang diekstraksi dengan menggunakan etanol Bahan 96% selama 2. sedangkan untuk ekstraksi minyak faktor-faktor tersebut. (2008). Sedangkan sinya cukup tingggi dan telah secara luas diusahakan. Oleo. Secara tradisional pendekatan satu faktor pada satu dengan metode Response Surface Methodology (RSM) dan waktu dalam proses optimasi akan membutuhkan waktu yang karakterisasi komponen-komponen kimia penyusun oleoresin lama. 2007). faktor-faktor yang mempengaruhi respons (Box dkk. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi Kim dkk. pala (Myristica pada suhu 40ºC. 1981). Aplikasi metode RSM dalam penelitian ekstraksi. Pemilihan pelarut sangat berpengaruh atau proses teknik. terhadap kualitas dan kuantitas oleoresin yang diperoleh. bidang pagan yaitu ekstraksi dengan menggunakan etanol suhu ekstraksi (Wettasinghe dan Shahidi. (2009). Penelitian yang dilakukan oleh Rodianawati dkk. heksan (Somaatmadja. Penelitian ekstraksi oleoresin biji pala menggunakan pelarut organik belum banyak dilaporkan. NOVEMBER 2012 PENDAHULUAN kali diperoleh oleoresin 10. (11. Keuntungan utama dari RSM adalah berkurangnya jumlah disamping itu aspek keamanan juga menjadi pertimbangan unit percobaan yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil sesuai dengan penggunaan oleoresin tersebut. Beragamnya ren- senyawa mudah menguap (minyak atsiri) dan senyawa tidak demen hasil ekstraksi oleoresin biji pala memberi peluang mudah menguap (resin dan gum) yang masing-masing ber. waktu ekatraksi 2 jam 30 menit. pala (Myristica Faragrans Houtt) hasil optimasi.. 1999) dan rasio telah dilaporkan oleh Cho dkk. 1978). Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Utama dan Rempah-rempah merupakan bumbu utama yang di. Variabel proses yang dioptimasi dibutuhkan untuk yang mana membuat oleoresin sebagai bentuk alami flavor memperoleh hasil oleoresin yang optimal. 2006). ukuran biji pala 20 -30 mesh dan rasio pelarut 1:5.. Ekstraksi oleoresin umumnya dengan matematika untuk rancangan percobaan. 2002). kukan variasi pada suhu dan lama waktu ekstraksi untuk Oleoresin hasil ekstraksi dengan pelarut organik memperoleh hasil yang optimum. faktor daerah asal tanaman pala juga dari kepompong ulat sutra menggunakan super critical CO2 merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi flavor juga dilaporkan oleh Wei dkk. 1981). RSM merupakan teknik statistik digunakan umumnya digunakan untuk mengambil oleoresin dan minyak untuk penelitian yang mempunyai proses kompleks dan atsiri dari bahan tanaman yaitu ekstraksi dengan pelarut dipergunakan secara luas dalam penelitian teknologi pangan (solvent extraction) dan distilasi uap (steam distillation) (Shieh dkk. atsiri dan konstituen pada biji pala yang diperoleh dari Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh tempat yang berbeda.. 4. dari Lempoyang (Zingiber zerumbet) oleh Norulaini dkk. riset industri.6% dari berat tepung biji pala. 1981).5 jam dengan rasio bahan:etanol 1:5 dan ukuran bahan 20-30 mesh yang diekstraksi pada suhu 40oC Biji pala yang diektraksi adalah biji dari jenis tanaman menggunakan metode maserasi yang diulang sebanyak dua pala (Myristica fragrans Houtt) yang dibeli dari petani di desa 384 . untuk dilakukan optimasi kondisi ekstraksi dengan mela- peran dalam menentukan aroma dan rasa (Raghavan. (2009). AGRITECH. yang mengekstraksi bahan dengan pelarut (Cacace dan Mazza.. metanol. oleoresin hasil ekstraksi resin merupakan bentuk ekstrak rempah yang mempunyai yang peroleh adalah 15. membangun model. 1996). 1999). waktu ekstraksi. Selain isoflavon dari kecambah..

Hasil ekstraksi disaring menggunakan penyaring vakum dan kerstas saring whatman No. selanjutnya dimasukan kedalam waterbath shaker yang telah diset suhu mulai dari Ekstraksi Oleoresin Biji Pala dengan Metode Maserasi 20 – 60oC dengan kekuatan guncangan 120 rpm selama 2. center Response Surface Methodology (RSM) point dari variasi suhu pada percobaan ini merupakan hasil Pembuatan oleoresin pada penelitian ini dimulai dengan terbaik percobaan sebelumnya yaitu suhu ekstraksi 40oC. vakum di ruang dengan suhu 18 oC.5 jam.5 jam sambil di goyang pada 120 rpm berdasarkan yang akan digunakan untuk penentuan waktu ekstraksi. variabel waktu ekstraksi dimulai dari 90 menit (1. sampai 330 menit (5. nutmeg butter dan pelarut di masukan kedalam ruang dingin Erlenmeyer 250 ml dimasukan sebanyak 25 g tepung biji selama kurang lebih 1 jam untuk memisahkan nutmeg butter. Penentuan titik pusat dilakukan sebelum dioptimasi menggunakan metode RSM. dan pelarut.dan 60oC. juga digunakan untuk penentuan titik pusat waktu 96% sejumlah 5 kali dari berat bubuk pala (rasio bahan ekstraksi pada percobaan berikutnya. Vol. 32. metode ekstraksi yang digunakan adalah Waktu ekstraksi. Hasil saringan berupa ekstrak oleoresin dan pelarut diuapkan pelarutnya dengan Suhu Proses Pengecilan Ukuran Biji Pala menggunakan vacuum rotary evaporator pada suhu 40 oC Untuk melihat pengaruh suhu proses pengecilan ukuran tekanan 175 bar. (2008). storage) dengan suhu 4 oC selama 1 jam untuk memisahkan yang dipanen Bulan Pebruari sampai April 2009. Labu sampel ekstrak oleoresin o C) dan pengecilan ukuran pada suhu 4oC yang dilakukan di kemudian ditimbang untuk penentuan persen hasil oleoresin. yang optimum dari hasil ekstraksi dioptimasi dengan metode Kedalam erlenmeyer 250 ml dimasukan sebanyak 25 g RSM dengan kondisi ekstraksi pada variabel bebas suhu dan tepung biji pala ditambahkan 125 ml etanol 96% kemudian waktu. hasil penelitian yang dilakukan oleh Rodianawati. Bahan kimia nutmeg butter. Untuk memperoleh hasil ekstraksi (2 kali) yang digunakan pada percobaan sebelumnya. menggunakan blender kering merek Suhu ekstraksi yang menghasilkan persen hasil oleresin yang National. ditutup dengan plastik atau parafilm. esktrak biji pala dengan pelarut dimasukan kedalam mengentalnya oleoresin. dan Waktu Ekstraksi Labu sampel ekstrak oleoresin kemudian ditimbang untuk penentuan persen hasil oleoresin. 30. selama kurang tinggi akan digunakan untuk penelitian tahap selanjutnya. esktrak oleoresin dengan Sebanyak 40 g tepung biji pala hasil pengecilan ukuran pelarut dimasukan kedalam ruang penyimpanan dingin (cold pada suhu 4oC lolos ayakan 20 mesh dimasukan kedalam 385 .5 jam) Hasil ekstrak biji pala berupa campuran oleoresin. No. selanjutnya tepung biji pala diayak menggunakan tertinggi digunakan sebagai titik pusat level dari variabel ayakan 20 mesh dan diekstraksi menggunakan pelarut etanol suhu.5 -5. Maluku Utara. NOVEMBER 2012 Marikurubu Kota Ternate. selama kurang lebih 3 jam untuk volume bahan berupa biji pala kering terhadap hasil yang diperoleh. 1:5). untuk variabel suhu Disain Percobaan Optimasi Ekstraksi Oleoresin dengan ekstraksi dimulai dari suhu 20. selanjutnya dimasukan kedalam vakum dengan menggunakan kertas saring Whatman no 1. pala ditambahkan 125 ml etanol 96% kemudian ditutup kemudian dilakukan pemisahan menggunakan penyaringan dengan plastik atau parafilm. 125 ml. AGRITECH.50. Hasil ekstraksi disaring menggunakan penyaring menetes pada penampungan pelarut atau ditandai dengan vakum. penguapan dihentikan bila Penentuan Titik Pusat (center point) untuk Variabel Suhu pelarut tidak menetes lagi atau ekstrak sudah mengental. lebih 3 jam untuk volume 125 ml.5 Langsung jam. Suhu ekstraksi. dalam ruang cold storage. 4. ekstraksi oleoresin dari biji pala menggunakan metode waktu (2. waterbath shaker yang telah diset pada suhu terbaik percobaan ekstrak dan pelarut etanol dievaporasi secara vakum untuk penentuan suhu dengan kekuatan goyangan 120 rpm selama menguapkan pelarut selama 3 jam atau sampai etanol tidak 1.5 jam) dengan interval setiap 60 menit. selanjutnya berat oleore sin ( g ) disaring menggunakan penyaring vakum di ruang dengan % Hasil Oleore sin = x100 berat bubuk pala ( g ) suhu 18oC. Penguapan dihentikan bila tidak menetes lagi pelarut dilakukan percobaan pengecilan ukuran pada suhu kamar (30 atau ekstrak sudah mengental. Suhu ekstraksi yang menghasilkan maserasi menggunakan waterbath shaker dengan suhu 40oC % hasil oleoresin yang tertinggi dari percobaan sebelumnya selama 2. berumur 8-9 bulan. selanjutnya disaring menggunakan penyaring yang digunakan untuk ekstraksi adalah Ethanol 96%. Hasil saringan berupa ekstrak biji pala dan pelarut diuapkan pelarutnya dengan menggunakan vacuum rotary Suhu pengecilan ukuran yang menghasilkan oleoresin ter- evaporator pada suhu 40oC tekanan 175 bar.40. Hasil oleoresin di hitung meng- ruang penyimpanan dingin (cold storage) dengan suhu 4oC gunakan rumus: selama 1 jam untuk memisahkan nutmeg butter. 1.5 jam) rasio pelarut dengan bahan (1:5) dan jumlah maserasi dengan dua kali ekstraksi.

gas pembawa Helium dengan kecepatan ௜ୀଵ ௜ୀଵ ௜ழ௝ୀଵ aliran 80 ml/min.43 9 0 0 50 270 point pada percobaan sebelumnya baik untuk variabel suhu 10 0 0 50 270 maupun waktu. 50 dan 55oC. X1 (suhu.93 270 yaitu suhu dan waktu ekstraksi. ekstraksi 1. βii. βi. MINITAB Release 14. Japan) dilengkapi dengan kolom Rtx- 1). X adalah variabel bebas dengan tanpa kode (untuk variabel suhu ekstraksi: suhu ekstraksi (X1) level 45. Hasil percobaan ini selanjutnya akan digunakan sebagai titik pusat (center point) pada optimasi Setelah diperoleh oleoresin pala. tengah (centeral points) dimana variabel suhu mulai dari 45 Oleoresin pala dianalisis menggunakan GC-MS dengan sampai 55oC dengan titik pusat 50oC dan waktu mulai dari kondisi sebagai berikut: Shimadzu GCMS-QP2010S (Shimad- 240 sampai 300 menit dengan titik pusat 270 menit (Tabel zu Corporation. No. Optimasi ekstraksi oleoresin pala menggunakan kertas saring Whatman no.414 50 227. sedangkan pada variabel Identifikasi Komponen Penyusun Oleoresin Pala dengan waktu ekstraksi hasil oleoresin tertnggi pada waktu ekstraksi Gas Chromatography – Mass Spectroscopy (GC-MS) selama 270 menit.25μm) digunakan untuk analisa GC. sampel dimasukan ke dilihat pada Tabel 1. Komposisi dari kedua 6 1.3. dilanjutkan dengan kondisi ekstraksi dengan metode RSM. Model persamaan matematika dari CCD dengan 2 faktor 5MS (diameter dalam 0. Disain RSM adalah pengujian menggunakan GC-MS untuk mengetahui kompo- 2k faktorial dengan 8 titik bintang (star points) dan 2 titik nen-komponen kimia yang terdapat dalam oleoresin pala. Ekstrak hasil ekstraksi 1 dan ke 2 point) secara terpisah didinginkan pada suhu 4oC selama satu jam No. suhu injektor dan ܻ ൌ ߚ଴ ൅ ෍ ߚ௜ ܺ௜ ൅ ෍ ߚ௜௜ ܺ௜ଶ ൅ ෍ ෍ ߚ௜௜ ܺ௜ ܺ௝ detektor 290°C.25 mm. panjang 30 m. oC) dan X2 (waktu. AGRITECH.414 0 57. pada suhu tertentu (hasil percobaan kode maupun nilai pada metode CCD dengan 10 kombinasi penentuan titik pusat suhu) selama waktu tertentu (hasil ditunjukkan pada Tabel 2. Kyoto. 32. 1 (ekstrak 1).07 270 variabel telah didisain menggunakan pendekatan Central 7 0 -1.9289 45 50 55 57. Penyaringan menggunakan Tabel 2.414 0 42. 3 -1 1 45 300 RSM digunakan untuk mengkaji variasi oleoresin 4 1 1 55 300 hasil ekstraksi pada dua variabel bebas kondisi ekstraksi 5 -1. βij adalah koefesien dari variabel bebas (X). dan ketebalan adalah sebagai berikut. diekstraksi sekali lagi dengan prosedur yang menit) dengan 10 kombinasi perlakuan (2 center sama. Kode Nilai untuk memisahkan lemak pala. β0 adalah membandingkan mass spectra dengan yang ada di database konstanta.414 50 312.0711 Release 5. Analisis Statistik waktu ekstraksi (X2) level 240. Pemekatan campuran ekstrak X1 X2 Suhu (X1) Waktu (X2) oleoresin 1 dan 2 menggunakan rotary vacuum evaporator 1 -1 -1 45 240 (IKA Werke RV 06 ML) pada suhu 40oC dan tekanan 172 2 1 -1 55 240 mbar.diperoleh ekstrak 2.426 yang optimum. kode dan nilai yang dioptimasi grafik dari respon yang diamati berupa koefisien regresi. 3D Variabel bebas -α -1 0 1 Α response surface plot dan contour plot (menggunakan Matlab X1 42. ampas dari disain CCD 2 faktor. sedangkan kombinasi perlakuan berupa dalam water bath shaker. 386 . 4. diperoleh hasil persen oleoresin tertinggi yaitu untuk suhu ekstraksi 50oC. Kondisi GC: suhu 80°C dinaikkan sampai 250 °C (4°C/menit) kemudian pada ଶ ଶ ଶ suhu 250 dipertahankan selama 20 menit. percobaan penentuan titik pusat waktu ekstraksi) dengan kekuatan goyangan 120 rpm. Berdasarkan hasil penentuan titik 8 0 1. wiley library (Adams.57 Composite Design (CCD). Dari analisis ini akan diperoleh koefisien yang berpengaruh dan disamping itu juga diperoleh Tabel 1. 2001). NOVEMBER 2012 erlenmeyer 250 ml yang berisi 200 ml pelarut etanol 96 % Level dari variabel bebas dalam penelitian ini dapat (perbandingan bahan dan pelarut.1. untuk menguji model dari proses ekstraksi X2 227. 2004). dan detektor yang digunakan FID. 270 dan 300 menit dan ε Analisis statistik menggunakan bantuan software adalah random error (Montgomery. Senyawa diidentifikasi dengan membandingkan retention index dan Dalam hal ini Y adalah respon (hasil).). film 0. Level variabel bebas. 1:5).574 240 270 300 312. Vol.

A).726 0.04%. rasio bahan: pelarut proses ekstraksi sampai pada titik kesetimbangan pada suhu (1:5). NOVEMBER 2012 HASIL DAN PEMBAHASAN 15 A Penentuan Titik Pusat (center point) 14 Yield Oleoresin (% bk) 13 Sebelum dilakukan penentuan titik nol untuk variabel 12 suhu dan waktu ekstraksi menggunakan metode RSM. dilihat pada Tabel 4. sehingga proses difusi oleoresin keluar dari diksi pada kombinasi perlakuan dengan disain CCD dapat bahan tidak terjadi lagi. salah satu parameter kesesuaian model adalah kecil- oleoresin pala 50 oC dan waktu ekstraksi 270 menit meng. Pengaruh waktu terhadap proses difusi yang terjadi selama berlangsungnya ekstraksi terhadap yield oleoresin pala. dari percobaan ini dapat dikatakan bahwa. No.86 5 Selanjutnya pada percobaan kedua (penentuan titik nol) 90 150 210 270 330 dilakukan untuk melihat pengaruh suhu ekstraksi terhadap Waktu Ekstraksi (m enit) hasil oleoresin yang diperoleh. dan relatif dengan 10 unit kombinasi perlakuan termasuk 2 ulangan pada tidak terjadi peningkatan yang nyata bila waktu ekstraksi titik pusat. bahwa biji Suhu Ekstraksi ( oC) pala yang mengalami pengecilan ukuran secara tradisional (suhu ± 30oC) sebagian besar minyak atsiri hilang dan mutunya menurun. 32. Hal ini disebabkan karena pada suhu tersebut minyak 12. Menurut McKee 20 30 40 50 60 and Harden.69 %. artinya model yang digunakan sudah Pada Gambar 1 menunjukkan bahwa suhu ekstraksi sesuai.B). Nilai suhu dan waktu ini selanjutnya digunakan atsiri mulai menguap sehingga mempengaruhi persen hasil sebagai titik pusat (Central point) pada optimasi menggunakan oleoresin yang diperoleh. pre- keseimbangan. ter- 11 lebih dahulu dilakukan percobaan ekstraksi oleoresin dengan 10 bahan yang berasal dari suhu ruang pengecilan ukuran tepung 9 biji pala yang berbeda. 387 .296 0.396 2. nya perbedaan antara respon hasil percobaan dan respon hasil hasilkan hasil oleoresin masing-masing sebesar 14. suhu ekstraksi memberikan pengaruh Gambar 1. Vol. waktu : 150 menit. B. Hasil yang diperoleh ini lebih besar dibandingkan 6 dengan tepung biji pala yang pengecilan ukuran pada suhu 5 ruang (± 30oC) yang hanya sebesar 12.04 6 Suhu 4oC 2. Pengaruh suhu ekstraksi terhadap hasil oleoresin 10 pala 9 Suhu proses pengecilan Ekstraksi ke Jumlah Hasil 8 ukuran Biji pala 1 (g) 2 (g) (g) (%db) 7 Suhu ruang 2. terlihat bahwa persen hasil oleoresin hasil percobaan tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata Optimasi Kondisi Ekstraksi di antara keduannya.suhu: 50 oC 50 oC. pada Tabel 3 memperlihatkan bahwa suhu ruang pengecilan ukuran 4oC tepung biji pala dari dua 8 kali ekstraksi menghasilkan oleoresin sebesar 14. (1991) dalam Tomaino dkk.322 14. Sebagai alternatif metode pengecilan ukuran pada 13 B suhu dingin dan cryogenic telah banyak digunakan pada saat 12 Yield Oleoresin (% bk) ini.78 dan prediksi.692 12.86% (% 7 dry basis). A. Tabel 2. diperpanjang (Gambar 1.596 3. Hal ini disebabkan telah terjadi Nilai respon (% hasil oleoresin) dari percobaan. 4. 11 Tabel 3. Pengaruh suhu ekstraksi terhadap yield oleoresin pala. (2005). rasio bahan: pelarut (1:5). AGRITECH. Pada percobaan penentuan titik metode CCD. memperlihatkan nilai prediksi dan pusat untuk variabel waktu diperoleh hasil oleoresin yang percobaan dari % hasil oleoresin menggunkan disain CCD lebih tinggi pada waktu ekstraksi selama 270 menit. selanjutnya bila suhu dinaikan sampai pada suhu 60 o C memperlihatkan penurunan hasil oleoresin (Gambar 1.

1981).321 tetap menunjukkan nilai yang besar walaupun tidak saling 4 1 1 55 300 13.095 12. Maluku Utara. Hal ini 2 1 -1 55 240 12.926 -0. AGRITECH.469 -0.885 12.414 0 57.583e .593 X 1 + 0. Hasil menggunakan disain CCD disajikan pada Tabel 6.062 titik pusat mempunyai kecenderungan membesar. dengan kondisi yang hampir sama yaitu rasio resin pala bahan dan pelarut (1:5). Untuk regresi memperlihatkan bahwa variabel bebas memberikan memperoleh nilai respon (hasil) yang optimal diperoleh pengaruh yang sangat nyata (P<0. Perbe- memperoleh hasil oleoresin pala yang optimal. hal ini juga menunjukkan bahwa suhu (Treyball. (2008) yaitu hanya 10. Selain itu.266 0. sedangkan faktor lain hanya sebesar 3. sedangkan Koefisien Koefisien T P yang berbeda hanya suhu (40 ºC) dan waktu ekstraksi (2.722 0.5 Regresi Konstanta -219. Pengaruh yang sangat nyata ini secara linier dan 51.01) pada hasil oleoresin hasil yaitu sebesar 14.002*** jam).414 0 42.005 0. dan waktu ekstraksi memberikan pengaruh sebesar 96.82 menit.288 0.43 13. Disain CCD dengan nilai % hasil oleoresin perco.414 50 312. oleoresin yang berinteraksi sema- Kesesuaian model regresi ini dalam menghasilkan hasil kin besar dan menyebabkan terjadinya perpindahan masa oleoresin pala yang optimal terlihat pada tingginya nilai R2 = solute dari padatan bahan menuju pelarut semakin besar 0.3806 atas disebabkan suhu yang digunakan lebih rendah dan waktu R2 = 0.001 -6.017 Faktor Rendah Tinggi Optimum 10 0 0 50 270 14.593 7. 32.002*** oleoresin pala dengan rendemen tertinggi (11. NOVEMBER 2012 Tabel 4.739 14.054 -7.98oC dan waktu ekstraksi selama 273.006*** ekstraksi yang menggunakan pelarut n-hexana pada suhu Kuadratik : Suhu x suhu ((x1)x (x1)) -0. Model koefisien regresi kuadratik dari hasil oleo.4% terhadap hasil baan.762 0. dengan ukuran tepung Waktu x waktu ((x2) x (x2)) -0.044 13. Gambar 2 X1 X2 Prediksi memperlihatkan bahwa hasil oleoresin pala yang mendekati (X1) (X2) baan daan 1 -1 -1 45 240 11.117 0.255 Tabel 6. Hasil prediksi kondisi optimum ekstraksi oleoresin 7 0 -1.436 12. Vol.93 270 10.425 mempengaruhi.575 0. Hasil kuadratik sedangkan pada interaksi antara kedua variabel ekstraksi oleoresin ini lebih tinggi dibandingkan dengan hasil tidak memberikan pengaruh yang nyata.002*** 40ºC.384 11.109 6 1.655 5. 4.203 + 5. No.414 50 227.179 11.017 Suhu (oC) 45 55 51.722 -0.836 0.074 0. Sedangkan peneliti lain yang juga memperoleh hasil Linier : oleoresin rendah yaitu Utomo dan Cisilia (2003) diperoleh Suhu (x1) 5.184 -0.871 10. waktu ekstraksi 2 jam 30 menit.07 270 13.983 0.6% pada ekstraksi oleoresin dari biji pala yang juga berasal dari Tabel 5.705 14.57 12.203 -6.004*** biji pala 20-30 mesh dan rasio pelarut dengan bahan 1:5.98 Waktu (menit) 90 330 273. 5 -1.853e-5 -0.924 difusi belum berlangsung optimal sehingga masih banyak Keterangan : *** nyata (P<0.955tn S = 0.655 X 2 − 0. tn = tidak nyata oleoresin yang tertinggal dalam jaringan bahan.060 0.73%) pada Waktu (x2) 0. Kenaikan suhu akan menyebabkan gerakan molekul Persamaan regresi dari model ekstraksi oleoresin pala etanol sebagai pelarut semakin cepat dan acak.089 pala 8 0 1.054 X 1 − 0.966 ekstraksi yang lebih pendek Hal ini menyebabkan proses R2(adj) = 0.88% diperlukan suhu ekstraksi sebesar pala. Oleh karena itu. Interaksi: Rendahnya perolehan hasil oleoresin dari beberapa peneliti di Suhu x waktu (x1*x2) -7. yang diperoleh Rodianawati dkk.001X 22 sehingga memudahkan etanol sebagai pelarut untuk mendifusi masuk ke dalam pori-pori padatan pala dan melarutkan − 7. jenis pelarut (etanol 96%) dan metode ekstraksi (maserasi).966 disamping itu.453 9 0 0 50 270 14. adalah sebagai berikut: kenaikan suhu menyebabkan pori-pori padatan mengembang 2 Y = −219. prediksi dan perbedaan dari keduanya oleoresin yang diperoleh.041 menunjukkan bahwa kombinasi suhu dan waktu ekstraksi 3 -1 1 45 300 11. Sedangkan suhu ekstraksi lebih berpengaruh dibandingkan dengan waktu ekstraksi untuk Kode Nilai Hasil (%) No Suhu Waktu Perco.05). ukuran bahan (20 mesh).6% 388 .543 13.82 Ringkasan dari hasil analisis regresi berganda diperlihatkan pada Tabel 5 dari dua variabel bebas (x1=suhu Kondisi optimum ekstraksi oleoresin pala hasil prediksi dan x2 =waktu ) pada hasil ekstraksi dari oleoresin pala.5X1 X 2 oleoresin.705 -0.

Komponen penentu rasa dari gunakan GC-MS oleoresin pala menurut Raghavan (2007) adalah myristicin. No.086%).885 13. (33. cis-methyl isoeugenol Sementara itu komponen senyawa yang digunakan sebagai (9. elemicin (8.475 above Gambar 2.078 220 240 260 280 300 320 14.68 14.329%). myristicin (10. mensyaratkan myristicin dalam minyak Sampai saat ini belum ada standar mutu oleoresin pala baik pala minimum 10%. 4.283 13. oleh SNI maupun FDA USA.885 13.68 40 14. 32. dan isocoumarin (5. Dari hasil penelitian ini komponen kedua terdapat 39 komponen penyusun (Gambar 4) dengan terbesar penyusun oleoresin juga terdapat myristicin dan persen relatif luas area terbesar adalah methyleugenol elimicin namun safrol berada dalam jumlah yang kecil.295 48 11. Contour plot hasil oleoresin pala sebagai hubungan antara suhu (X1) dan waktu (X2) ekstraksi Identifikasi Komponen Penyusun Oleoresin Pala Meng.693 12.488 12.898 11.078 14.898 11.295 11. Vol. Surface plot hasil oleoresin pala sebagai hubungan antara suhu (X1) dan waktu (X2) ekstraksi y y yy 60 56 52 SUHU 10. NOVEMBER 2012 10.09 12.898%). (SNI 06-2388-2006). AGRITECH.283 13.475 WAKTU Gambar 3.693 12.09 12.397%).608%) syarat mutu minyak pala menurut Standar Nasional Indonesia dengan 34 komponen dengan persen relatif luas area minor.488 44 12. Pada oleoresin campuran hasil ekstraksi pertama dan elimicin dan safrol. 389 .

Kepada Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian Hwang.. G. elemicin (8.E.98oC dan waktu optimum for Experimenters.M. Jung. D. J. SNI 06-2388-2006. J.P. H. Controlling molecular weight ini melalui program Kerja sama Kemitraan Penelitian Pertani. Vol. Berdasarkan hasil optimasi kondisi ekstraksi diperoleh Box.G. Optimization of extraction dari hasil karakterisasi dengan menggunakan GC-MS of anthocyanins from black currants with sulfured diperoleh 39 komponen dengan 5 senyawa kimia penyusun water. dan isocoumarin Penyalut. J. ponents by Gas Chromatography/ Quadrupole Mass Maya. Republik Indonesia yang telah mendanai kegiatan penelitian S. oleoresin dengan luas area relatif terbesar yaitu senyawa Chandrayani. 32. Identification of Essential Oil Com.. D. Badan Standarisasi Nasional.. dan Park. T. Carol stream.. Optimization of ethanol extraction and further purification of isoflavones from soybean sprout cotyledon.898%).397%).. T. Lee. J. rasio bahan: pelarut 1:5.82 menit dengan hasil optimum hasil oleoresin yang diperoleh sebesar 14. AGRITECH. S. Chromatogram oleoresin pala (Myristica fragrans Houtt) hasil optimasi ekstraksi pada kondisi optimum ekstraksi (suhu 52 oC selama 274 menit. myristicin (10.. Kwon. Polymer Science 83(2): 423–434. Lee..T. Bogor. NOVEMBER 2012 Gambar 4. K. S. Institut Pertanian Bogor. D. Journal of Agricultural and Food UGM yang telah menfasilitasi sehingga penelitian ini dapat Chemistry 50(7): 1876–1882. Spectroscopy.. T. G. Chinnan. J.P. T.086%). Mikroenkapsulasi Oleoresin Biji methyleugenol (33. Lee. (2004). S.608%) dengan 34 komponen lain dengan persen relatif luas area minor. (2002).. Hunter. Inc. R. (2004). cis-methyl Pala dengan Menggunakan Sukrosa Sebagai Bahan isoeugenol (9. Journal of Applied Adams. dan Park. Sedangkan Cacace. and degree of deacetylation of chitosan by response an dengan Perguruan Tinggi (KKP3T) tahun 2010 dan LPPM surface methodology. Cha. Statistics suhu optimum ekstraksi sebesar 51. G. N. M. H. J.S. John Wiley and Sons. No.. H. Y. Process optimization of sweet potato pulp-based biodegradable plastics using DAFTAR PUSTAKA response surface methodology. (1978).E. Minyak Pala. K. (5. (2003). Allured Chemical composition of essential oil of nutmeg 390 .329%). dan Park.88 %. Skripsi. Kim. B. Park.. W. Y. (2002). dan pelarut etanol 96% ) KESIMPULAN Standar Nasional Indoensia (2006). Y. E. Zachariah. W. (2002). J. ekstraksi adalah selama 273. Cho. 4. Food Chemistry 117: UCAPAN TERIMA KASIH 312–317. Park. D. berlangsung dengan lancar. G. dan Krishnamoorthy. dan Mazza. K. S. (2009). Journal of Food Science 68: 240–248. dan Hunter.

. C. M.Q.php?id=1637. R. C. Design and Analysis of Experi. De Pasquale A. U. Anuar. Bioresource Technology 100: shop Minyak Atsiri.). R. mization of sucrose polyester synthesis using response surface methodology. dan Cisilia.. dan Jiang. Makalah dalam hasil perumusan BPIHP. Liao.E.. X.. H. Kery. 4214–4219. Zhang. rempah-rempah olahan di Tanjung Karang. F.. Tomaino. Food Research International 31(10): Spices and Aromatic Crops 13(2): 135-139.R. (2009). Treyball. Surabaya.A. McGraw Purseglove. A.. M. Lemberkovics. dan Jia. Food Chemistry 114: 702–705. biji pala (Myristica fragrans Houtt). Koehler.. 32. Food Chemistry 89: 549–554.S. S. Lampung.id/ download. 3ed.A. Seminar Nasional Raghavan. 100.. Zhang. 1537. W. 4. W. Zhang. (2005).M. dan Matyas. Florida.S. B. Liu. Wiley. (1996). Teknik Kimia Indonesia 2003.. B.Y. Microencap. Bogor..che.itb. J. P. A. A..M. Prospek pengembangan industri menjadi Oleoresin dan Minyak Rempah-Rempah. A. Prosiding Work.A. Al Karkhi. F. Optimization of SC-CO2 extraction of oil from almond pretreated with auto- Simandi. Mass Transfer Operation. D. O.T..J. Smith. ac. P. Hastuti.S.X. Influence of heating dan Zaidul. dan Saija. Aspek Teknis Pengolahan Rempah-Rempah Somaatmadja. M. http://digilib... (1999). (2008).. Seasonings. F. Norulaini. Rodianawati. Shaikh. Green.M.. (1981). Optimization of supercritical carbon dioxide Karakterisasi komponen oleoresin biji pala (Myristica extraction of silkworm pupal oil applying the response Fragrance Houtt) asal Maluku Utara. Moestafa (1981). Brown. Evening primrose sulation of black pepper oleoresin. Food Chemistry 94: meal: a source of natural antioxidants and scavenger of 105–110. D.. Boca Raton.O.. (1999). New York.J. J. NOVEMBER 2012 (Myristica fragrans Houtt) accessions. V. Journal of oregano oleoresin. CRC Press. Omar. Pengaruh ukuran biji pala Longman Scientific and Technical Singapore Publisher dan rasio pelarut terhadap rendemen dan mutu oleoresin Pte Ltd. Volume 1. Oszagyan. Super.S. Journal of Agriculture and Food Chemistry 47: 1801– Shieh. J. dan kumpulan kertas kerja pekan pengembangan ekspor Montgomery. Hill Book Company. (2009). Sahena. dan Robbins. N. B.H. Zimbalatti. Q. dan Nurcahyanto. (1981). S. Fatehah.. AGRITECH. Bhosale. Zhang. and Flavorings.J. Spices: Nutmeg and Mace. X. Wei. (1981). Thyrion. 1812. C.. F. Cimino. G. Journal of Food Science 61:97.. dan Singhal. T. ments (5th ed. critical carbon dioxide extraction and fractionation of 391 . 723-728. surface methodology.E.V.. E. E. A. 21-22 Januari.. Venuti. Wettasinghe... (2009). Sulfaro. Z. 2003. No. Setianto. A. J. (2001). N.. Optimization of SC–CO2 on antioxidant activity and the chemical composition of extraction of zerumbone from Zingiber zerumbet (L) some spice essential oils.V.M. F. Handbook of Spices. New York. J. hydrogen peroxide and oxygen derived free radicals. Z. I. Vol. Z. M. Zhang.K. oleoresin di Indonesia. dan Shahidi. R.. C.. 2nd Edition. Opti. dan Casimir. Utomo. claving LWT-Food Science and Technology 42: 1530– Kaszacs. I.Q. Fan. (2006). (2007). M. L.