BAB III

TEORI DASAR

3.1 Nikel Laterit
3.1.1 Pengertian Nikel dan Genesa Nikel Laterit

Bijih nikel dibagi menjadi dua bagian berdasarkan pada proses

terbentuknya, yaitu nikel sulfida dan nikel oksida (nikel laterit). Keduanya berasal

dari jenis batuan yang sama, yakni batuan yang kaya akan besi dan magnesium

atau berasal dari batuan ultrabasa.

Proses pertama dalam pembentukan nikel laterit di awali dengan adanya

proses pelapukan. Pelapukan ini berlangsung pada batuan peridotit yang banyak

mengandung olivin, magnesium silikat dan besi silikat yang mengandung 0,3%

Ni. Batuan ini mudah mengalami pelapukan lateritik yang dapat memisahkan

nikel dari silikat dan asosiasi mineral lainnya.

Air resapan yang mengandung CO2 yang berasal dari udara meresap ke

bawah sampai ke permukaan air tanah melindi mineral primer yang tidak stabil

seperti olivin, serpentin dan piroksen. Air meresap secara perlahan sampai

batas antara zona limonit dan zona saprolit, kemudian mengalir secara lateral,

lebih banyak didominasi oleh transportasi larutan secara horizontal (Valeton,

1967). Proses ini menghasilkan Ca dan Mg yang larut disusul dengan Si yang

cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus

sehingga memungkinkan terbentuknya mineral baru melalui pengendapan

kembali unsur-unsur tersebut. Semua hasil pelarutan ini terbawa turun ke bagian

bawah mengisi celah-celah dan pori-pori batuan. Unsur-unsur Ca dan Mg yang

Zona saprolit dalam hal ini semakin bertambah ke dalam demikian pula ikatan-ikatan yang mengandung oksida MgO sekitar 30-50 % berat dan SiO2 antara 35-40 % berat yang masih terkandung pada bongkah-bongkah di zona saprolit akan terlindi dan ikut bersama-sama dengan aliran air tanah. Adapun urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering).terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa ke bawah sampai batas pelapukan dan diendapkan sebagai dolomit dan magnesit yang mengisi rekahan-rekahan pada batuan induk. Gambar 3. sehingga sedikit demi sedikit zona saprolit atas akan berubah porositasnya dan akhirnya menjadi zona limonit. sehingga memungkinkan penetrasi air tanah yang lebih dalam. Daerah zona erosi dan proses pengayaan nikel laterit dapat dilihat pada Gambar 3.1. Fluktuasi muka air tanah yang berlangsung secara kontinyu akan melarutkan unsur-unsur Mg dan Si yang terdapat pada bongkah-bongkah batuan asal di zona saprolit.1 Penampang Tegak Endapan Nikel Laterit .

menuju batuan dasar maka Fe dan Co akan mengalami penurunan kadar. sebagai berikut: 1. atau merupakan laterit residu yang . Secara umum. Ni dapat mensubstitusi Mg dalam serpentin atau juga mengendap pada rekahan bersama dengan larutan yang mengandung Mg dan Si sebagai garnierit dan krisopras. Batuan asal ultramafik pada zona ini selanjutnya diimpregnasi oleh Ni melalui larutan yang mengandung Ni. Semakin ke bawah. berwarna coklat kuning kemerahan. Untuk bahan-bahan yang sukar atau tidak mudah larut akan tinggal pada tempatnya dan sebagian turun ke bawah bersama larutan sebagai larutan koloid. Akumulasi tersebut terjadi akibat sifat Ni yang berupa larutan pada kondisi oksidasi dan berupa padatan pada kondisi silika. Zona Limonit Material lapisan berukuran lempung. Ni. Untuk Fe yang berada di dalam larutan akan teroksidasi dan mengendap sebagai ferri-hidroksida.mineral ini selalu ikut serta unsur Co dalam jumlah kecil. Bersama mineral . Dalam hal ini. Pada zona saprolit Ni akan terakumulasi di dalam mineral garnierit. membentuk mineral-mineral seperti goethit. lapisan dengan konsentrasi besi yang cukup tinggi (ferriginous duricrust) dan kandungan nikel yang rendah. sehingga kadar Ni dapat naik hingga mencapai 7% dari total berat. berwarna coklat kemerahan dan biasanya terdapat juga sisa-sisa tumbuhan. dan Co akan membentuk konsentrasi residu dan konsentrasi celah pada zona yang disebut dengan zona saprolit. Bahan-bahan seperti Fe. jika suatu endapan nikel laterit dilihat secara vertikal maka akan terdapat beberapa komponen utama. limonit dan hematit yang dekat permukaan.

Zona Saprolit Lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk. . Zona Batuan Dasar (Bedrock) Pada bagian terbawah dari penampang vertikal endapan nikel laterit ini berwarna hitam kehijauan. peridotit. tetapi mineral- mineralnya pada umumnya sudah terubah. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat. Zona yang mengandung oksida besi dominan.01 - 0. Kadar unsur mendekati atau sama dengan batuan asal yaitu dengan kadar Fe ± 5% serta Ni dan Co antara 0.30 %. kadar MgO hanya tinggal kurang dari 2% berat dan kadar SiO2 berkisar 2-5 % berat. ataupun dunit. sedangkan magnesium dan silikon hanya sedikit yang hilang terlindi. Perubahan geokimia zona saprolit dengan kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2 . terdiri dari bongkah . Sebaliknya kadar Fe2O3 menjadi sekitar 60-80% berat dan kadar Al2O3 maksimum 7 % berat.bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75 cm dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis. dapat terbentuk pada bagian atas dari profil dan melindungi lapisan endapan nikel laterit dibawahnya. 2.4 %. berupa bongkah - bongkah lunak berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Pada zona limonit hampir seluruh unsur yang mudah larut hilang terlindi. 3. Pada umumnya berupa harzburgite.

Faktor-faktor tersebut diantaranya: 1. Iklim. Curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang melewati tanah. sehingga pelindian dan transportasi unsur-unsur oleh air tanah tidak banyak terjadi. Topografi Kondisi relief dan lereng akan mempengaruhi proses penetrasi dan sirkulasi air serta reagen-reagen lain. Curah Hujan dan Vegetasi Iklim yang sesuai dalam pembentukan endapan laterit adalah iklim tropis dan sub tropis. terkait curah hujan dan sinar matahari memegang peranan penting dalam proses pelapukan dan pelarutan unsur-unsur yang terdapat pada batuan asal. Adapun pada daerah yang curam.3. yang mempengaruhi intensitas pelarutan dan perpindahan komponen yang dapat dilarutkan. selain membantu proses pelapukan vegetasi juga menjaga suatu batuan dari erosi (pelapukan mekanis). vegetasi ini akan membantu proses penetrasi sebagian air menuju lebih dalam dengan mengikuti jalur akar pepohonan. Pada daerah ini sedikit terjadi pelapukan kimia .2 Kontrol Pembentukan Nikel Laterit Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi dan tingkat pelapukan kimia yang dialami tiap batuan sangat beragam dan akan mempengaruhi pembentukan endapan serta profil laterit dari tiap tempat. Dengan iklim dan curah hujan yang mendukung maka vegetasi yang tumbuh pada kawasan ini sangat beragam dan lebat. 2. air hujan yang jatuh ke permukaan lebih banyak yang mengalir sebagai run-off dibandingkankan air yang meresap kedalam tanah.1.

Sedangkan pada daerah yang landai. Akumulasi endapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan sedang. sehingga menghasilkan endapan nikel yang tipis. Adapun waktu yang diperlukan dalam pembentukan nikel laterit dipengaruhi oleh kontrol pembentukan lainnya. hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Waktu Pelapukan yang berlangsung dalam waktu lama pada umumnya akan menghasilkan endapan yang relatif lebih tebal.0. 3. Batuan asal merupakan jenis batuan ultra basa dengan kadar Ni 0. misalnya adanya struktur akan membantu dalam proses pelindian dan .2 . Kontrol Struktur Adanya kontrol struktur dalam pembentukan endapan nikel laterit dapat memungkinkan terjadinya pelapukan lebih lanjut akibat adanya pelarutan oleh air dan unsur unsur hasil pelindian. air mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan dan mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara intensif. sedangkan pelapukan yang berlangsung dalam waktu singkat akan membentuk endapan yang tipis. Batuan asal Komposisi dan stuktur dari batuan asal akan mempengaruhi kandungan yang terendapkan serta tingkat pelapukan yang terjadi pada batuan.3 % 4. 5.

catatan–catatan lama. laporan temuan dan data pendukung lainnya.2. 3. 3. letak dan bentuk endapan bahan galian (Suhala Supratna.1 Eksplorasi pendahuluan Dalam eksplorasi pendahuluan ini. Eksplorasi dilakukan dengan beberapa tahap yang dijelaskan pada subbab berikut ini. sifat fisik kimia. Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah berikutnya. karena pembentukan endapan bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses – proses geologi yang pernah . pelapukan. 1998). Pada dasarnya seluruh komponen kontrol pembentuk nikel laterit akan saling berkaitan dalam suatu pembentukan nikel laterit. studi faktor– faktor geologi regional dan propinsi metalografi dari peta geologi regional sangat penting untuk memilih daerah eksplorasi. tingkat ketelitian yang diperlukan masih kecil sehingga peta–peta yang digunakan dalam eksplorasi pendahuluan juga mempunyai skala yang relatif kecil. adanya vegetasi yang lebat juga akan mempercepat proses penetrasi air hujan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan juga asam humus yang membantu pelapukan dalam proses kimia. Sebelum memilih lokasi–lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan peta–peta yang sudah ada (dari survey–survey terdahulu).2 Eksplorasi Nikel Eksplorasi adalah kegiatan lanjutan dan prospeksi dengan tujuan untuk menentukan secara akurat jumlah cadangan kadar. lalu dipilih daerah yang akan disurvey.

dan . orientasi sesar dan tanda – tanda lainnya (Sunarto Notosiswoyo dkk. Secara umum hasil yang diharapkan dari pemboran eksplorasi adalah : . 2000). 2. 3. orientasi lapisan batuan sedimen (strike dan dip). Identifikasi struktur geologi . hal-hal yang perlu diperhatikan dan direncanakan dengan baik adalah: 1.terjadi. Geometri endapan . 4. Keperluan sampling Dalam melakukan perencanaan pemboran. Sifat fisik batuan samping dan badan bijih . singkapan–singkapan batuan pembawa bahan galian dan yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan. Kegiatan utama dalam tahap ini ialah sampling dengan jarak yang lebih dekat (rapat) yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau lubang bor untuk mendapatkan data–data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan. Tipe pemboran yang akan digunakan. Kondisi geologi dan topografi. penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Spasi pemboran.2 Eksplorasi Detail Setelah tahap eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa cadangan yang ada mempunyai prospek yang baik.2. Mineralogi batuan samping dan badan bijih . maka diteruskan dengan eksplorasi tahap detail. Waktu pemboran. 3.

maka untuk mendapatkan kecepatan pemboran didapatkan dari perbandingan kedalaman lubang bor yang . Kecepatan Pemboran (Vp) Kecepatan pemboran bertujuan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu meter kedalaman lubang bor.1) Keterangan : Ct = Waktu edar (menit) Bt = Waktu pemboran (menit) St = Waktu menyambung batang bor (menit) At = Waktu melepas batang bor (menit) Pt = Waktu pindah ke lubang yang lain. 1. dan mempersiapkan alat bor hingga siap untuk melakukan pemboran (menit) Setelah mengetahui cycle time pemboran. Pelaksana (kontraktor pemboran). Dimana cycle time pemboran didapatkan berdasarkan perhitungan yang dijabarkan dibawah ini. Sebelum mendapatkan atau mencari kecepatan pemboran maka harus diketahui waktu edar (cycle time) pemboran tersebut. Serta dalam menghitung rumus produksi pemboran dapat dilihat pada penggunaan rumus dibawah ini. 5. Waktu edar (cycle time) pemboran merupakan waktu yang dibutuhkan oleh mesin bor untuk meyelesaikan satu lubang bor. Ct = Bt + St + At + Pt (3.

3 Proses Pengambilan Sampel Pada Eksplorasi Ditinjau secara umum proses pengambilan contoh dimaksudkan untuk mengambil sebagian kecil dari suatu massa yang besar. Core Recovery Core Recovery adalah perbandingan inti bor yang diperoleh dengan kemajuan pemboran yang dicapainya. Kecepatan pemboran dapat diketahui dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: (3.2. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara pemboran. dari cara pemboran ini diharapkan dapat diidentifikasi lebih teliti penyebaran bijih nikel secara vertikal sedangkan penyebaran secara horizontal dapat diperoleh dengan menggabungkan beberapa titik. dimana diharapkan sebagian kecil massa tersebut cukup representatif untuk mewakili keseluruhan massa yang diwakilinya. maka dikatakan bahwa Core Recovery adalah 70%. Rumus umum Core Recovery: (3. . Ex: Jika kemajuan pemboran pada suatu saat mencapai 100 cm sedangkan panjang inti bor yang diperoleh sepanjang 70 cm.3) 3.2) Keterangan : Vt = Kecepatan Pemboran (menit/meter) Cycle time = waktu edar pemboran (menit) Depth = Kedalaman lubang bor (meter) 2.telah dicapai dengan waktu edar yang telah diperoleh.

kedalaman titik bor. nomor sampel. Poligon di hasilkan dengan cara membagi dua jarak antar titik data menghasilkan garis bisectris yaitu garis yang membagi menjadi dua bagian dan tegak lurus. Pendekatan gaya lama Metode ini menggunakan sampel-sampelnya disamakan untuk perhitungan kadar dan lebar rata-rata.3 Prosedur dan Metode Perhitungan Tonnase Umumnya semakin dekat titik jarak pengamatan tidak terlalu berpengaruh dalam prosedur untuk menghitung estimasi. Setelah selesai pemboran sampel dibawa ke rumah sampel dan kemudian dimasukan kedalam kantong sampel dan diberikan kode seperti lokasi tempat pengeboran. jarak data sangat penting dalam prosedur untuk menghitung estimasi. Pada eksplorasi. Selanjutnya dikirim kebagian persiapan conto untuk kemudian dipreparasi guna keperluan analisa kimia (Sunarto Notosiswoyo. Prosedur yang sederhana ini akibat dari prinsip pada bukaan bawah tanah. Dalam kenyataannya. 2000). Sampel dari hasil kegiatan eksplorasi atau kegiatan pemboran disusun dalam core box menurut kedalaman satu meter. . bukan hanya kuantitas tetapi juga kualitas supaya asumsi yang dibuat secara subjektif mempunyai tingkat keyakinan yang tinggi. Metode Poligon Metode Poligon merupakan metode geometri tradisional yang sering digunakan dalam mengestimasi suatu endapan. Terdapat beberapa prosedur estimasi sumberdaya yang dapat membantu dalam memberikan asumsi. 3. metode ini biasanya digunakan pada saat awal keputusan apakah kadar pada sumberdaya sesuai dengan batas yang diinginkan untuk ukuran dan karakteristiknya. 2. Setiap data lubang bor terletak pada pusat poligon dimana batas poligonnya. dan nomor titik bor. 1.

Namun. Nilai segitinya ditentukan dari rata-rata tiga titik pengamatan yang membentuk segitiga itu sendiri. Tebal dan kadar didalam suatu poligon diasumsikan menjadi seragam dalam setiap poligonnya.4) 11 D A E Gambar 3. Metode triangulasi Metode triangulasi juga termasuk metode estimasi konvensional yang caranya hampir mirip dengan metode poligon. angka yang diuji hanya digunakan sekali. untuk kualitas ditentukan dengan cara merata-ratakan kualitas yaitu dengan rumus: .2 Metode Poligon Metode ini mempunyai kerugian dalam memberikan bobot yang lebih pada lubang yang terisolasi. Asumsi yang dihasilkan jelas tidak seperti kenyataannya sesuai batas dari poligon. Itu akan terlihat dari perbandingan dengan C metode yang lain. Rumus yang digunakan dalam menentukan volume pada metode ini yaitu dengan: (3. Perbedaannya terletak pada setiap lubang pengamatan dijadikan ujung dari setigita. B 3.

Metode Penampang B C Metode ini merata-ratakan kadar dan dimensi diantara dua penampang sepanjang penampangnya. Rumus yang digunakan dalam metode ini yaitu: . D A E Gambar 3. Penampang juga dibuat dengan jarak yang konstan. Semakin rapat penampangnya maka akan semakin akurat hasil estimasi yang di hasilkan.3 Metode Triangulasi 4.

Interpolasi. Metode kontur Metode kontur yaitu metode yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai nilai yang sama sehingga membentuk peta kontur. Height atau dengan metode algoritma lain. yaitu dengan cara: 1. Algoritma. 1986) 5. .4 Metode Penampang (Popoff. Peta kontur dapat berupa kontur ketebalan. Nilai ketebalan dikalikan dengan luas daerah diantara dua garis kontur maka akan di dapat volume yang di cari. Kriging. 2. yaitu cara yang paling mudah dengan menghubungkan langsung titik-titik yang sama. kontur kualitas. Terdapat banyak cara dalam membuat kontur. yaitu dengan cara perhitungan berulang-ulang dapat dengan bantuan Inverse Distance Square. Untuk menghitung volume pada metode ini yaitu dengan cara menentukan nilai rata-rata diantara dua garis kontur. Gambar 3. kontur ketinggian dll.

Asumsi dari metode ini adalah nilai interpolasi akan lebih mirip pada data sampel yang dekat dari pada yang lebih jauh. 1997). Bobot ini tidak . dan search radius (Tomczak.5 Metode Kontur (Popoff. 1998). Inverse distance weighting memiliki beberapa parameter di antaranya anisotropic. Inverse Distance terbagi menjadi Inverse Distance Weight (IDW). Gambar 3. power. Bobot (weight) akan berubah secara linear sesuai dengan jaraknya dengan data sampel. Parameter radius pencarian (search radius) belum diketahui secara pasti seberapa besar pengaruhnya dalam penaksiran kadar. Inverse Distance Squared (IDS). dll. Inverse Distance Cubic. Metode Inverse Distance Weighted (IDW) merupakan metode deterministic yang sederhana dengan mempertimbangkan titik disekitarnya (NCGIA. 1986) 6. Salah satu hal yang menentukan pemilihan parameter IDW tersebut adalah spasi titik bor. Metode Inverse Distance Konsep metode Inverse Distance sebenarnya mempunyai berbagai macam perhitungan.

Pemilihan nilai pada power sangat mempengaruhi hasil interpolasi. Untuk mendapatkan hasil yang baik. sampel data yang digunakan harus rapat yang berhubungan dengan variasi lokal.anSpline0013 . hasilnya kemungkinan besar tidak sesuai dengan yang diinginkan. Pengaruh dari data sampel terhadap hasil inter polasi disebut sebagi isotropic. Nilai power yang tinggi akan memberikan hasil seperti menggunakan interpolasi nearest neighbor dimana nilai yang didapatkan merupakan nilai dari data point terdekat. Jika sampelnya agak jarang dan tidak merata. karena metode ini menggunakan rata-rata dari data sampel sehingga nilainya tidak bisa lebih kecil dari minimum atau lebih besar dari data sampel.akan dipengaruhi oleh letak dari data sampel. Jadi. Metode ini biasanya digunakan dalam industri pertambangan karena mudah untuk digunakan. Dengan kata lain. Kerugian dari metode IDW adalah nilai hasil interpolasi terbatas pada nilai yang ada pada data sampel. 1985). puncak bukit atau lembah terdalam tidak dapat ditampilkan dari hasil interpolasi model ini (Watson & Philip.