You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan
kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal. Anemia bukan merupakan penyakit,
melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh.
Secara fisiologis, anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk
mengangkut oksigen ke jaringan.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan Anemia. Tujuan penyajian makalah ini adalah sebagai bagian dari
metode pembelajaran di STIKes WIRA MEDIKA PPNI Bali dan untuk mengetahui lebih
lanjut mengenai imun hematologi. Pemahaman dan pendalaman yang lebih baik akan
membantu dalam menambah wawasan mengenai gangguan imun hematologi.

B. PERMASALAHAN
Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Anemia?

C. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok yang di
berikan oleh dosen mata kuliah Imun Hematologi dan untuk menambah wawasan tentang
asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan Anemia.

D. METODE
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kepustakaan dan media
kepustakaan lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN

SISTEM IMUN HEMATOLOGI 1

Karena faktor intrasel: talasemia. anemia dijabarkan sebagai penurunan kadar hemoglobin serta hitung eritrosit dan hematokrit di bawah normal. 2.dll. b. Anemia Ringan Karena jumlah sel darah merah yang rendah menyebabkan berkurangnya pengiriman oksigen ke setiap jaringan dalam tubuh. hemoglobinopatie. Anemia Berat SISTEM IMUN HEMATOLOGI 2 . Hal ini juga bisa membuat buruk hampir semua kondisi medis lainnya yang mendasari. keperluan yang bertambah. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. c. Konsep Dasar Penyakit 1. Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang). Definisi Anemia merupakan keadaan dimana masa eritrosit dan/atau masa hemoglobin yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh. anemia dapat menyebabkan berbagai tanda dan gejala. operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun: cacingan. sintesis kurang. 3. Jika anemia secara perlahan terus menerus (kronis). infeksi –malaria. absorbsi kurang. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut: a. Etiologi Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan. Jika anemia ringan biasanya tidak menimbulkan gejala apapun.A. reaksi hemolitik transfusi darah. Gejala anemia mungkin termasuk yang berikut : 1) Kelelahan 2) Penurunan energy 3) Kelemahan 4) Sesak nafas 5) Palpitasi (Raa jantung balap atau pemukulan tidak teratur) 6) Tampak pucat b. Tanda dan Gejala a. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi. Secara laboratories. tubuh dapat beradaptasi dan mengimbangi perubahan. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan. dalam hal ini mungkin tidak ada gejala apapun sampai anemia menjad lebih berat. d. Bisa karena intake kurang.

seperti : a. Daya konsentrasi rendah c. atau serangan jantung 16) Pingsan Beberapa jenis anemia mungkin memiliki gejala yang lainnya. dan SISTEM IMUN HEMATOLOGI 3 . Rambut rontok e.Beberapa tanda-tanda yang mungkin menunjukan nemia berat pada seseorang dapat mencakup: 1) Perubahan warna tinja. Kesemutan d. 2) Denyut jantung cepat 3) Tekanan darah rendah 4) Frekuensi pernapasan cepat 5) Pucat dan kulit dingin 6) Kulit kuning disebut jaundice jika anemia karena kerusakan sel darah merah 7) Murmur jantung 8) Pembesaran limpa dengan penyebab anemia tertentu 9) Nyeri dada 10) Pusing atau kepala terasa ringan (terutama ketika berdiri atau dengan tenaga) 11) Kelelahan atau kekurangan energy 12) Sakit kepala 13) Tidak bisa berkonsentrasi 14) Sesak nafas (khususnya selama latihan) 15) Nyeri dada. Malaise (rasa umum tidak sehat). angina. atau tampak berdarah jika anemia karena kehilangan darah melalui saluran pencernaan. termasuk tinja hitam dan tinja lengket dan berbau busuk. Sembelit b. berwarna merah marun.

Mekanisme kompensasi tubuh terhadap anemia. 4. Anoksia organ target karena berkurangnya jumlah oksigen yang dapat dibawa oleh darah ke jaringan. Sel darah merah dapat menghilang melalui perdarahan atau hemolisis. Sebagai hasil sampingan dari hasil proses tersebut. Apabila konsentrasi Resiko plasmanya melebihi kapasitas hemoglobin plasma. pajanan toksik. invasi tumor. Kegagalan sumsum tulangdapat terjadi akibat kekurangan nutrisi. tubuh dapat menyesuaikan diri dengan kadar oksigen rendah dan mungkin individu tidak merasa berbeda kecuali anemia menjadi berat. Memburuknya masalah jantung Beberapa pasien dengan anemia tidak menunjukkan gejala. tampak pucat. Perlu dicatat jika anemia sudah berjalan lama (anemia kronis). 1. atau akibat penyebab yang tidak (HB) Anemia diketahui. f. Pathway Kekurangan Ketidakefektifan Perfusinutrisi Jaringan Perifer Perdarahan hemolisis (destruksi sel darah merah) Kegagalan sumsum tulang Kehilangan sel darah merah Ketidakseimbangan Nutrisi SISTEMKurang IMUN dari Kebutuhan HEMATOLOGI 4 Tubuh . Infeksi hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dank e dalam urin. 2. dan menjadi sesak nafas. terjadi palpitasi/berdebar (rasa balap jantung). Intoleransi Aktivitas 5. bilirubin yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran darah. Patofisiologi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Pada dasarnya gejala anemia timbul karena dua hal berikut ini. Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi. Lisis sel darah merah terjadi dalam sel fagosistik atau dalam sistem retikulo endothelial. mudah kelelahan. Sedangkan anemia pada orang lain mungkin merasa: capek. terutama dalam hati dan limpa. maka hemoglobin akan muncul dalam plasma.

Pemeriksaan laboratorium hematologis Pemeriksaan laboratorium hematologis dilakukan secara bertahap sebagai berikut. Pemeriksaan Diagnostik 1.MCH dan MCHC) SISTEM IMUN HEMATOLOGI 5 . Tes penyaringan: tes ini dikerjakan padatahap awal pada setiap kasusu anemia. a.Resistensi aliran darah perifer Pertahanan sekunder tidak adekuat Penurunan transport O2 Hipoksia Lemah lesu Gangguan fungsi otak Intake nutrisi turun anoreksia 6. 1) Kadar hemoglobin 2) Indeks eritrosit (MCV. Pemeriksaan ini meliputi pengkajian pada komponen-komponen berikut. dapat dipastikan adanya anemia dan morfologi anemia tersebut. Dengan pemeriksaan ini.

Jenis-jenis terapi yang dapat diberikan adalah: a. dan hitung retikulosit. c. Pemeriksaan tersebut meliputi komponen berikut ini. Pemeriksaan sitogenetik d. rasional dan efisien. Terapi gawat darurat Pada kasus anemia denga payah jantung atau ancaman payah jantung. Pemeriksaan rutin merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kelainan pada sistem leukosit dan trombosit. dan feritin serum 2) Anemia megaloblastik: asam folat darah/eritrosit. 3) Anemia hemolitik. tes Coombs. Terapi spesifik sebaiknya diberikan setelah diagnosis ditegakkan . Faal ginjal b. FISH = fluorescence in situ hybridization). atau limfangiografi. Faal hati e. USG. saturasi transferin. a. Penatalaksanaan Terapi Pada setiap kasus anemia perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut. Terapi diberikan atas indikasi yang jelas. 1) Anemia defisiensi besi: serum irin. Radiologi: torak. 7. hitung diferensial. a. Biopsy kelenjar yang dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi b. TIBC. Biakan kuman 3. c. b. b. B12. Pemeriksaan biologi molekuler (PCR = polymerase chain reaction. hitung retikulosit. Pemeriksaan sumsum tulang: pemeriksaan ini harus dikerjakan pada sebagian besar kasus anemia untuk mendapatkan diagnose definitive meskipunada beberapa kasus yang diagnosanya tidak memerlukan pemeriksaan sumsum tulang. b. 2. Asam urat d. 3) Apusan darah tepi. elektroforesis Hb. d. vitamin. Pemeriksaan laboratorium non hematologis Pemeriksaan labolatorium nonhematologis meliputi: a. Faal endokrin c. 4) Anemia pada leukemia akut biasanya dilakuakn pemeriksaan sitokimia. Pemeriksaan atas indikasi khusus: pemeriksaan ini akan dikerjakan jika telah mempunyai dugaan diagnosis awal sehingga fungsinya adalah untuk mengonfirmasi dugaan diagnose tersebut. Terapi khas untuk masing-masing anemia SISTEM IMUN HEMATOLOGI 6 . maka harus segera diberikan terapi darurat dengan transfuse sel darah merah yang dimampatkan (PRC) untuk mencegah perburukan payah jantung tersebut. Pemeriksaan yang dikerjakan meliputi laju endap darah (LED). Pemeriksaan penunjang lain Pada beberapa kasus anemia diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut. bone survey.

[eka rangsang (menunjukkan hipoksemia serebral). Pengkajian a. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda sebagai berikut: 1) Kelelahan. 5) Pucat pada kulit dan membrane mukosa dan darah kuku. dan sel darah merah). Diagnosa Keperawatan Berdasarkan pada data pengkajian. hematokrit. c. b. 2. c. Riwayat atau adanya faktor-faktor penyebab 1) Kehilangan darah kronis 2) Riwayat ulkus gastric kronis 3) Adanya penyakit sel sabit 4) Penggunaan kemoterapi 5) Gagal ginjal 6) Penggunaan antibiotic yang lama 7) Defisiensi nutrisis 8) Luka bakar yang luas b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna. ukuran. dan bentuk. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan. diagnosis keperawatan yang muncul pada klien adalah sebagai berikut: a. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Ketidakefektifan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrisi ke sel. 4) Napas pendek pada istirahat dan aktivitas (menunjukkan kerusakan fungsi miokard karena hipoksemia). trombosit. 2) Palpitasi (menunjukkan kepekaan miokard karena hipoksemia). c. Terapi ini bergantung pada jenis anemia yang dijumpai. d. Kaji pemahaman klien tentang kondisi dan rencana pengobatan. Terapi kausal. 4) Hemoglobin elektroforesis: mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin. kelemahan (menunjukkan hipoksemia jaringan). 7) Tes Schilling digunakan untuk mendiagnosis defisiensi vitamin B12. 5) Masa perdarahan memanjang. misalnya preparat besi untuk anemia defisiensi besi. B. 2) Feritin dan kadar besi serum rendah pada anemia defisiensi zat besi. 6) Aspirasi sumsum tulang: sel mungkin tampak berubah dalam jumlah. Pemeriksaan diagnostic 1) Jumlah darah lengkap dibawah nilai normal (hemoglobin. SISTEM IMUN HEMATOLOGI 7 . 3) Kadar B12 serum rendah pada anemia pernisiosa. 3) Sakit kepala ringan.

Catat keluhan rasa dingin. Dipsnea. 6. gemericik menunjukkan auskultasi bunyi napas. 4. kaji pengisian 1. serta kuku dan rabut rapuh 3. 4. Risiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder. gangguan memori dan defisiensi vitamin B12. Penurunan urine output 5. Ekstremitas dingin 4. membrane derajat/keadekuatan perfusi jaringan mukosa dan dasar kuku. gagal jantung kanan karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung. dan membantu menentukan kebutuhan intervensi. fubfsi serebral karena hipoksia atau agitasi. 3. membrane mukosa kering. Ketidakmampuan berkonsentrasi. bingung. Awasi tanda vital. Vasokontriksi menurunkan sirkulasi pertahankan suhu lingkungan dan perifer. Tinggikan tempat tidur sesuai 2. Dapat mengidentifikasikan gangguan melambat. Palpitasi 2. Awasi upaya pernapasan: 3. Kulit pucat. Batasan Karakteristik: Karakteristik yang biasanya muncul dari diagnosa di atas adalah sebagai berikut: 1. mudah terangsang. memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. warna kuku. Perubahan tekanan darah. Selidiki keluhan nyeri dada. Kenyamanan klien/kebutuhan SISTEM IMUN HEMATOLOGI 8 . pengisian kapiler lambat 7. Iskemia seluler memengaruhi jaringan palpitasi. d. Rencana Keperawatan Diagnosa Keperawatan: Ketidakefektifan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan komponen yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrisi ke sel. miokardial. 5. Mual. Memberikan informasi tentang kapiler. 2. disorientasi Intervensi Rasional Mandiri: Mandiri: 1. Meningkatkan ekspansi paru dan toleransi. Kaji adanya respons verbal yang 5. 6. muntah dan distensi abdomen 6. 3.

terhadap terapi. Termoreseptor jaringan dermal penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer. melakukan tugas/aktivitas sehari- hari normal. Kaji kemampuan klien untuk 1. 10. tubuh hangat sesuai indikasi. Berikan oksigen tambahan sesuai 10. jumlah sel darah merah. dan awasi secara untuk menurunkan risiko perdarahan. produk darah oksigen. Batasan Karakteristik: Karakteristik gejala yang biasanya muncul pada diagnosia di atas adalah sebagai berikut: 1. Kolaborasi: Kolaborasi: 8. 9. rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi. Palpatasi. Kelemahan dan kelelahan 2. Mengidentifikasi defisiensi dan (Hb. 11. Ht. ketat untuk komplikasi transfuse. Meningkatkan jumlah sel pembawa lengkap/packed. Hindari penggunaan bantalan 7. jaringan. memperbaiki defisiensi sesuai indikasi. Transplantasi sumsum tulang sesuai indikasi. Memaksimalkan transport oksigen ke indikasi. 7. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan. dilakukan pada kegagalan sumsum tulang/anemia aplastik. kebutuhan pengobatan/respons dan AGD). SISTEM IMUN HEMATOLOGI 9 . Lebih banyak memerlukan istirahat/tidur 4. Awasi pemeriksaan laboratorium 8. Siapkan intervensi pembedahan 11. takikardia dan peningkatan tekanan darah Intervensi Rasional Mandiri: Mandiri: 1. dangkal karena gangguan oksigen. Berikan sel darah merah 9. Memengaruhi pemilihan intervensi. Mengeluh penurunan toleransi aktivitas/latihan 3. keletihan dan kesulitan menyelesaikan tugas. catat laporan kelelahan.

serta catat respons membawa jumlah oksigen adekuat ke terhadap tingkat aktivitas. 4. 6. pusing. 5. 7. 3. pendek dan kelemahan atau pusing jika terjadi. Pantau dan batasi dan menurunkan regangan jantung pengunjung. Berikan lingkungan yang tenang. Penurunan lipatan kulit trisep 3. Awasi tekanan darah. 3. Menunjukkan perubahan neurologis keseimbangan gaya jalan. Ubah posisi klien dengan 5. Batasan Karakteristik: Karakteristik yang biasanya muncul pada klien ini adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan istirahat untuk pertahankan tirah baring bila di menurunkan kebutuhan oksigen tubuh indikasikan. nadi. Hipotensi postural atau hipoksia perlahan dan pantau terhadap serebral dapat menyebabkan pusing. Penurunan toleransi untuk aktivitas serta kelemahan dan kehilangan tonus otot Intervensi Rasional SISTEM IMUN HEMATOLOGI 10 . membrane mukosa mulut 4. 8. Penurunan berat badan 2. memengaruhi keamanan klien. Manifestasi kardiopulmonal dari pernapasan selama dan sesudah upaya jantung dan paru untuk aktivitas. Prioritaskan jadwal asuhan 6. gangguan berulang tindakan yang tidak direncanakan. nyeri dada. Membantu bila perlu. jaringan. Anjurkan klien untuk 8. Kaji kehilangan/gangguan 2. Perubahan gusi. Mempertahankan tingkat energy dan keperawatan untuk meningkatkan meningkatkan regangan pada sistem istirahat. Diagnosa Keperawatan: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna makanan. napas dekompensasi. bila perlu.2. telepon dan dan paru. karena defisiensi vitamin B12 kelemahan otot. Berikan bantuan dalam aktivitas 7. Stress kardiopulmonal berlebihan menghentikan aktivitas bila dapat menimbulkan kegagalan atau palpitasi. jantung dan pernapasan. 4.

10. pengobatan. Timbang berat badan tiap hari. Berikan diet halus. rendah serat. 5. juga mencegah distensi gaster. flatus dan gejala anemia (hipoksia) pada organ. Gejala GI dapat menunjukkan efek mual muntah. Kolaborasi: Kolaborasi: 7. Meningkatkan masukan protein dan kalori. Berikan dan bantu hygiene mulut 6. 9. Meningkatkan efektivitas program laboratorium : Hb/Ht. Observasi dan catat kejadian 5. 3. asam folat. nyeri dapat menghindari makanan panas. Mengidentifikasi defisiensi dan makanan yang disukai. Berguna pada anemia defisiensi besi 10.Mandiri: Mandiri: 1. Mengawasi penurunan berat badan dan efektivitas intervensi nutrisi. 2. 3. besi serum. Pantau pemeriksaan 8. menurunkan makan pertumbuhan bakteri dan meminimalkan kemungkinan infeksi. ditoleransi klien. Membantu dalam membuat rencana 7. transferin. kelemahan dan meningkatkan pemasukan. b. SISTEM IMUN HEMATOLOGI 11 . 8. makanan klien. Observasi dan catat masukan 2. 11. Makan sedikit dapat menurunkan frekuensinya sering. Bila ada lesi oral. protein. Kaji riwayat nutrisi. termasuk 1. menetukan intervensi. tambahan besi oral a. Konsul dengan ahli gizi diet untuk memenuhi kebutuhan individual. albumin. Meningkatkan nafsu makan dan yang baik sebelum dan sesudah pemasukan oral. Berikan suplemen nutrisi 11. Berikan obat sesuai indikasi : 9. Berikan makan sedikit namun 4. 6. B12. 4. vitamin dan suplemen pada tipe anemia atau adanya mineral masukan oral yang buruk. BUN. Kebutuhan penggantian bergantung a. lain yang berhubungan. Mengawasi masukan kalori. membatasi tipe makanan yang dapat pedas atau terlalu asam.

4. 4. Diagnosa Keperawatan: Risiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan pertahanan sekunder yang tidak adekuat. 3. 3. Mencegah kontaminasi silang. Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. Tanda vital stabil pengiriman oksigen/nutrisi ke sel. Membrane mukosa warna merah muda. Tingkatkan cuci tangan yang baik 1. 1 Ketidakefektifan perfusi jaringan yang Kriteria evaluasi adalah klien berhubungan dengan penurunan menunjukkan perfusi jaringan komponen yang diperlukan untuk yngan adekuat seperti berikut: 1. 5. 4. Pertahankan teknik aseptic ketat 2. dan SISTEM IMUN HEMATOLOGI 12 . 3. Intervensi Rasional Mandiri: Mandiri: 1. 2. Meningkatkan pertahanan alamiah. Urine output adekuat. adekuat. Pengisian kapiler baik. Status mental normal 2 Intoleransi aktivitas yang berhubungan Kriteria evaluasi pada klien dengan dengan ketidakseimbangan antara suplai masalah keterbatasan aktivitas oksigen dan kebutuhan. Tingkatkan masukan nutrisi 4. 2. pathogen infeksi lain. Evaluasi No Diagnosa Keperawatan Evaluasi . yaitu nadi. pernapasan. 2. oleh pemberian perawatan dan klien. Menurunkan risiko infeksi pada prosedur/perawatan luka. Batasi pengunjung sesuai 5. Implementasi Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat. Klien menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi. 5. adalah sebagai berikut: 1. Menurunkan pemajanan terhadap indikasi. Deteksi dini adanya tanda-tanda infeksi. 5. Pantau tanda vital dengan ketat.

tekanan darah masih dalam rentang normal klien. Tidak ada eritema. 2. SISTEM IMUN HEMATOLOGI 13 . berat badan atau berat badan stabil dengan nilai laboratorium normal. Mengembangkan rencana makan yang memperbaiki nutrisi optimal. 4. 6. 3. dan vitamin. Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk mempertahankan berat badan yang sesuai. kalori. 3. Meningkatkan penyembuhan luka. Menunjukkan peningkatan makanan. 3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari Kriteria hasil pada klien dengan kebutuhan tubuh yang berhubungan masalah kekurangan nutrisi adalah dengan kegagalan untuk mencerna sebagai berikut: 1. 4 Risiko tinggi infeksi yang berhubungan Kriteria evaluasi pada klien dengan dengan pertahanan sekunder yang tidak masalah infeksi adalah sebagai adekuat. Memakan makanan tinggi protein. Tidak demam. Menghindari makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Bebas drainase purulen. berikut: 1. 2. 4. Tidak mengalami tanda malnutrisi. 5.

B. tentunya makalah ini sangat jauh dari kata sempurna. anemia dijabarkan sebagai penurunan kadar hemoglobin serta hitung eritrosit dan hematokrit di bawah normal. SARAN Dalam keterbatasan yang penulis miliki. masukan / saran yang baik sangat diharapkan guna memperbaiki dan menunjang proses perkuliahan. KESIMPULAN Anemia merupakan keadaan dimana masa eritrosit dan/atau masa hemoglobin yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh. BAB III PENUTUP A. Secara laboratories. SISTEM IMUN HEMATOLOGI 14 . Oleh karena itu.

dan Haribowo. 2011. 2008. Wiwik. Atikah. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Valentinal. 2008. Anemia dan Anemia Kehamilan. Jakarta: EGC Handayani. Yogyakarta : Nuha Medika Brashers. Jakarta: Salemba Medika. Andi Sulistyo. Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan dan Management. DAFTAR PUSTAKA Proverawati. SISTEM IMUN HEMATOLOGI 15 . EDISI: 2.