Lampiran 1 Peraturan Direktur Rumah Sakit

Mawaddah Medika
Nomor : 188.4 /113/ 415.44 / 2014
Tanggal : 25 April 2014

PEDOMAN PELAYANAN ANASTHESI
RUMAH SAKIT MAWADDAH MEDIKA

Anestesiologi adalah suatu ilmu kedokteran yang melibatkan :
1. Evaluasi pasien preoperatif
2. Rencana tindakan anestesi
3. Perawatan intra- dan pasca-operatif
4. Manajemen sistem dan petugas yang termasuk didalamnya
5. Konsultasi perioperatif
6. Pencegahan dan penanganan kondisi perioperatif yang tak diinginkan
7. Tatalaksana nyeri akut dan kronis
8. Perawatan pasien dengan sakit berat / kritis
Kesemua pelayanan ini diberikan atau diinstruksikan oleh anestesiologis.1

American Society of Anesthesiologists (ASA) mendukung konsep pelayanan rawat jalan
untuk pembedahan dan anestesi. Anestesiologis diharapkan memegang peranan sebagai
dokter perioperatif.
Disemua rumah sakit, fasilitas pembedahan rawat jalan, dan berpartisipasi dalam
akreditasi rumah sakit sebagai salah satu sarana untuk menstandarisasi dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan.

Pedoman ini diaplikasikan untuk semua layanan, termasuk petugas yang terlibat dalam
tata kelola rawat jalan anestesi, ini adalah pedoman minimal yang dapat dikembangkan
kapanpun dengan berdasarkan pada pertimbangan / kebijakan petugas anestesi yang
terlibat.

TUJUAN :
1. Meningkatkan kualitas pelayanan pasien
2. Menerapkan budaya keselamatan pasien

3. Menstandarisasi layanan kesehatan di rumah sakit yang sesuai dengan akeditasi

PRINSIP2
1. Standar, Pedoman, dan Kebijakan ASA harus diimplementasikan pada semua kondisi
dan situasi, kecuali pada situasi di mana hal tersebut tidak sesuai / tidak dapat
diaplikasikan pada layanan rawat jalan.
2. Dokter yang berwenang harus dapat dihubungi 24 jam baik pada kasus-kasus
pelayanan map, siap sedia menerima telepon / konsultasi dan paramedis lainnya,
availabilitas sepanjang waktu selama penanganan dan fase pemulihan pasien, hingga
pasien diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
3. Fasilitas rumah sakit harus diorganisir, dilengkapi, dan dioperasikan sejalan dengan
regulasi dan kebijakan pemerintah setempat dan nasional, Seluruh struktur
pelayanan, minimalnya, harus memiliki sumber daya oksigen, suction, peralatan
resusitasi, dan obat-obatan emergensi yang dapat diandalkan.
4. Petugas harus memiliki kompetensi dalam perawatan pasien dan mampu melakukan
prosedur-prosedur yang diperlukan dalam suatu rumah sakit, yang terdiri atas:
a. Petugas profesional
i. Dokter dan sejawat lainnya yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) /
sertifikat yang memenuhi syarat
ii. Perawat yang memiliki surat izin dan memenuhi syarat
b. Petugas administratif
c. Petugas Kebersihan dan Pemeliharaan Rumah Sakit
5. Dokter pelayanan medis bertanggungjawab dalam melakukan peninjauan ulang,
penyesuaian kewenangan, jaminan mutu, dan evaluasi rekan sejawat.
6. Petugas dan peralatan yang berkualitas dan tersedia setiap saat diperlukan untuk
menangani situasi emergensi. Harus dibuat suatu kebijakan dan prosedur untuk
menangani situasi emergensi dan transfer pasien yang tidak diantisipasi ke fasilitas
pelayanan akut.
7. Layanan pasien minimal meliputi:
a. Instruksi dan persiapan preoperatif.

b. Evaluasi dan pemeriksaan pre-anestesi yang memadai oleh anestesiologis,
sebelum dilakukan tindakan anestesi dan pembedahan. Pada kondisi di mana tidak
terdapat petugas medis, anestesiologis harus memverifikasi informasi yang
didapat dan mengulangi serta mencatat elemen-elemen penting dalam evaluasi.
c. Studi konsultasi preoperative, sesuai indikasi medis.
d. Rencana anestesi dibuat oleh anestesiologis, didiskusikan dengan pasien,
kemudian mendapat persetujuan pasien. Kesemuanya ini harus dicatat di rekam
medis pasien.
e. Tindakan anestesi dilakukan oleh anestesiologis, dokter lain yang kompeten, atau
petugas anestesi non-dokter yang dipandu/dibimbing secara langsung oleh
anestesiologis. Dokter non-anestesi yang melakukan/mengawasi tindakan anestesi
harus kompeten dalam edukasi, pelatihan, memiliki surat izin praktik, dan
dipercaya oleh rumah sakit.
f. Pemulangan pasien merupakan tanggungjawab dokter
g. Pasien yang tidak hanya menjalani anestesi lokal harus didampingi oleh orang
dewasa saat pemulangan pasien,
h. Instruksi pasca-operasi dan pemantauan selanjumya harus dicatat dalam rekam
medis
i. Memiliki rekam medis yang akurat, terpercaya, dan terbaru.

DEFINISI
1. Tim Anestesi : spesialis anestesi mengawasi residen anestesi yang sedang menjalani
pendidikan dan atau mengarahkan petugas anestesi non-dokter dalam melakukan
pelayanan anestesi di mana dokter dapat mendelegasikan tugas pemantauan sambil
tetap bertanggung jawab kepada pasien secara keseluruhan.
2. Personel anestesi yang kompeten dan memenuhi syarat : anestesiologis, fellow
anestesiologi, residen anestesi, residen bedah mulut, asisten anestesi, dan perawat
anestesi. Suatu pengecualian dibuat oleh beberapa program studi untuk siswa
anestesi non-dokter.
3. Pengawasan dan pengarahan : istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan
bahwa pekerjaan anestesiologis termasuk mengawasi, mengelola, dan membimbing
residen dan petugas anestesi non-dokter yang tergabung dalam Tim Anestesi.

akan tetapi tidak untuk sedasi berat / anestesi . . serta memantau pasien selama pemberian sedasi ringan (ansiolitik) / sedang (anestesi lokal).umum. dan standar institusi dan nasional dalam memberikan obat anestesi dan analgesic. asisten dokter yang terlatih yang sesuai dengan kebijakan. pedoman.4. Perawat dan asisten anestesi : adalah perawat terdaftar dengan SIP. Perawat dan asisten anestesi harus bekerja dengan supervisi langsung oleh dokter yang kompeten dan terlatih baik.

Meskipun fungsi kognitif dan koordinasi dapat terganggu. Fungsi kardiovaskular biasanya terjaga dengan baik. atau siswa lainnya yang mengikuti program studi / pelatihan terakreditasi secara nasional. Tidak diperlukan intervensi untuk mempertahankan potensi jalan napas. bahkan dengan pemberian stimulus nyeri. Sedasi berat / dalam: suatu kondisi depresi tingkat kesadaran di mana pasien memberikan respons terhadap stimulus berulang / nyeri. Siswa anestesi non-dokter : misalnya siswa perawat anestesi. atau nyeri 2. Anestesi lokal atau topikal c. Blok saraf perifer b. Pasien mungkin membutuhkan bantuan untuk mempertahankan potensi jalan napas. dan mungkin membutuhkan ventilasi tekanan positif karena tidak adekuatnya ventilasi spontan/fungsi kardiovaskular dapat terganggu. siswa asisten anestesi. KATEGORI / TINGKATAN ANESTESI / SEDASI 1. Contoh sedasi minimal adalah : a. Fungsi kardiovaskular biasanya terjaga dengan baik 3. petugas anestesi yang memberikan sedasi harus dapat melakukan penanganan segera terhadap pasien yang efek sedasinya lebih dalam / berat dari pada efek yang seharusnya .5. Oleh karena itu. 4. Sedasi ringan / minimal (anxiolysis) : kondisi di mana pasien masih dapat merespons dengan normal terhadap stimulus verbal.3 Sedasi adalah suatu proses yang berkelanjutan / kontinu. dan ventilasi spontan masih adekuat. Pemberian 1 jenis obat sedatif / analgesik oral dengan dosis yang sesuai untuk penanganan insonmia. sehingga tidak selalu mungkin untuk memprediksi bagaimana respons setiap pasien yang mendapat sedasi. Anestesi umum : hilangnya kesadaran di mana pasien tidak sadar. ventilasi dan fungsi kardiovaskular tidak terpengaruh. Pasien sering membutuhkan bantuan untuk mempertahankan pakensi jalan napas. ansietas. siswa anestesi gigi. Sedasi sedang (pasien sadar) : suatu kondisi depresi tingkat kesadaran di mana pasien memberikan respons terhadap stimulus sentuhan. Fungsi ventilasi spontan dapat terganggu / tidak adekuat.

7. 5. . 3. Setiap anggota tim memiliki kewajiban untuk mengidentifikasi mereka sendiri dan anggota tim lainnya secara akurat kepada pasien dan keluarganya.terjadi (misalnya : petugas anestesi yang memberikan anestesi sedang harus dapat melakukan penanganan terhadap pasien yang jatuh ke dalam kondisi sedasi berat). 2. Selain itu. Instruksi diberikan oleh anestesiologis dan harus sejalan dengan kebijakan dan regulasi pemerintah serta kebijakan rumah sakit. termasuk pemantauan dan pelaksanaan tindakan anestesi. Tanggung jawab keseluruhan terhadap kinerja tim anestesi dan keselamatan pasien terletak pada anestesiologis. Tindakan / layanan anestesi dilakukan oleh tim anestesi. 4. Tim anestesi melibatkan dokter dan non-dokter. Anestesiologis harus mewujudkan keselamatan pasien yang optimal dan memberikan pelayanan yang berkualitas kepada setiap pasien yang menjalani tindakan anestesi. anestesiologis juga diharapkan memberikan pengajaran / edukasi kepada siswa anestesi. terhadap terhadap diberikan stimulus meskipun stimulus verbal stimulus berulang / stimulus dengan stimulus sentuhan nyeri nyeri Jalan napas Tidak Tidak perlu Mungkin perlu Sering terpengaruh intervensi intervensi memerlukan intervensi Ventilasi Tidak Adekuat Dapat tidak Sering tidak spontan terpengaruh adekuat adekuat Fungsi Tidak Biasanya dapat Biasanya dapat Dapat kardiovaskular terpengaruli dipertahankan dipertahankan terganggu dengan baik dengan baik ANGGOTA INTl TIM ANESTESI’ 1.4 Sedasi ringan / Sedasi sedang Sedasi berat / Anestesi Minimal (pasien sadar) dalam umum (anxiolysis) Respons Respons normal Merespons Merespons setelah Tidak sadar. 6. Anestesiologis bertanggungjawab untuk mencegah agar tidak terjadi salah penafsiran / anggapan terhadap petugas non-dokter sebagai dokter residen atau dokter umum.

iii. MANAJEMEN KESELAMATAN PASIEN OLEH TIM ANESTESI1 Untuk mencapai terwujudnya keselamatan pasien yang optimal. Berikut adalah anggota tim anestesi : a.Pimpinan Tim Anestesi Merupakan seorang dokter yang memiliki SIP dan telah menyelesaikan program studi spesialisasi di bidang anestesi yang terakreditasi. Siswa perawat anestesi Merupakan perawat dengan SIP yang sedang mengikuti program studi Perawat Anestesi terakreditasi. Fellow anestesiologi Merupakan anestesiologis yang sedang mengikuti program pelatihan / studi untuk memperoleh pendidikan tambahan dalam salah satu subdisiplin ilmu anestesiologi. iii. Dokter i. Asisten anestesi Merupakan professional kesehatan yang telah menyelesaikan program studi Asisten Anestesi terakreditasi. iv. ii. Perawat anestesi Merupakan perawat dengan SIP yang telah menyelesaikan program studi Perawat Anestesi terakreditasi. Anestesiologis (spesialis anestesi) . Siswa asisten anestesi Merupakan lulusan professional kesehatan yang sedang mengikuti program studi Asisten Anestesi terakreditasi. b. anestesiologis bertanggungjawab terhadap hal-hal berikut ini : . Non-dokter i.8. Residen anestesi Merupakan dokter yang sedang mengikuti program studi spesialisasi di bidang anestesi yang terakreditasi. ii.

di mana perencanaan tersebut juga mempertimbangkan kondisi dan penyakit pasien yang dapat mempengaruhi tindakan anestesi. spesialis anestesi harus memberitahukan kepada pasien bahwa pendelegasian tugas ini termasuk dalam pelayanau anestesi oleh Tim Anestesi. Anestesiologis bertanggungjawab dalam menyusun rencana tindakan anestesi yang bertujuan untuk mewujudkan kualitas pelayanan pasien yang terbaik dan tercapainya keselamatan pasien dengan optimal. dan memperoleh izin persetujuan tindakan (informed consent). c. termasuk kondisi medis setiap pasien dan prosedur yang akan dilakukan. Meskipun petugas non-dokter dapat berkontribusi dalam pengumpulan dan pencatatan data pre-operatif pasien. 3. Anestesiologis harus menentukan tugas perioperative mana yang dapat didelegasikan. b. c. Evaluasi Pre-anestesi Pasien a. 2. b. Anestesiologis dapat mendelegasikan tugas spesifik kepada petugas non-dokter yang dalam Tim Anestesi. Perencanaan Tindakan Anestesi a. b. Manajemen tindakan anestesi bergantung pada banyak faktor. anestesiologislah yang memegang tanggung jawab terhadap evaluasi keseluruhan pasien. Manajemen Kepegawaian Anestesiologis harus niemastikan terlaksananya penugasan dokter dan petugas non- dokter yang kompeten dan berkualitas dalam memberikan layanan / prosedur anestesi kepada setiap pasien. Suatu evaluasi pre-anestesi memungkinkan terwujudnya perencanaan anestesi yang baik. Manajemen Tindakan Anestesi a. keuntungan dan alternatif yang ada. 4.1. dengan syarat kualitas pelayanan pasien dan . Anestesiologis sebaiknya melakukan diskusi dengan pasien (jika kondisi pasien memungkinkan) mengenai risiko tindakan anestesi. Ketika terdapat situasi di mana suatu bagian dan layanan anestesi akan dilakukan oleh petugas anestesi kompeten lainnya.

Dokter yang mengawasi bertanggungjawab akan semua aspek yang terlibat selama perawatan pasien (pre-. termasuk manajemen jalan napas. Konsultasi Anestesi Seperti jenis konsultasi medis lainnya. . Saat pasien disedasi. 3. MANAJEMEN KESELAMATAN PASIEN DALAM PENGGUNAAN SEDASI RINGAN DAN SEDANG OLER PERAWAT DAN ASISTEN ANESTESI 1 1. Perawatan pasca-anestesi rutin didelegasikan kepada perawat pasca-anestesi. Praktisi yang melakukan sedasi harus terlatih dengan baik dalam mengevaluasi pasien sebelum prosedur dilakukan untuk mengenali kapan terdapat peningkatan risiko anestesi. 6. 6. Perawatan Pasca-anestesi a. dokter yang bertanggungjawab harus hadir / mendampingi di ruang tindakan. 4. dan tetap siap sedia untuk menangani situasi emergensi dengan cepat 5. Sertifikat ACLS merupakan standar persyaratan minimal yang harus dimiliki oleh praktisi melakukan sedasi / anestesi dan dokter non-anestesi yang mengawasinya. keselamatan pasien tetap terjaga dengan baik. Evaluasi dan tatalaksana komplikasi pasca-anestesi merupakan tanggung jawab anestesiologis. 5. tidak dapat didelegasikan kepada non-dokter. tetap beipartisipasi dalarn bagian- bagian penting tindakan anestesi. Kebijakan dan prosedur yang terkait harus memperbolehkan praktisi untuk menolak berpartisipasi dalam kasus-kasus tertentu jika mereka merasa tidak kompeten dalam melakukan suatu tindakan anestesi dan terdapat kemungkinan dapat membahayakan pasien / menurunkan kualitas pelayanan pasien. Dokter yang mengawasi bertanggungjawab memimpin timnya dalam situasi emergensi di mana diperlukan tindakan resusitasi. intra-. 2. b. dan pasca-prosedur).

3. dokter bedah mungkin adalah satu-satunya dokter non-anestesi yang kompeten untuk mensupervisi. dan terpercaya dalam mengawasi perawat anestesi. Istilah ‘dokter bedah’ di sini mengacu pada dokter non-anestesi yang terlatih. . 6. Pada beberapa situasi. Akan tetapi. tidak ada program studi / pelatihan pembedahan. Regulasi dan kebijakan setempat tidak “mewajibkan” dokter bedah untuk mensupervisi petugas anestesi non-dokter. kedokteran gigi. Di mana dibutuhkan evaluasi medis pre-operatif atau resusitasi intraoperatif akibat komplikasi. PENGAWASAN TERHADAP SISWA ANESTESI NON-DOKTER’ 1. Untuk mengoptimalisasi keselamatan pasien. memiliki SIP. Siswa anestesi non-dokter diperbolehkan untuk berada sendirian di kamar operasi / kamar tindakan (prosedur) tanpa pengawasan dokter anestesi untuk tujuan pembelajaran / kesempatan praktik. 2. 4. seperti residen oromaksilofasial. 8. Dokter bedah masih tetap bisa berperan dalam keselamatan pasien dan kualitas pelayanan pasien dengan bertanggungjawab secara medis dalam semua perawatan perioperative jika tidak terdapat anestesiologis. di mana tidak ada anestesiologis. pediatrik. dokter bedah harus mendampingi dan mengawasi petugas kesehatan perioperatif termasuk perawat anestesi. 5. Komplikasi anestesi dan pembedahan membutuhkan penanganan segera. 7. 9. dengan syarat: hal ini dinilai tidak tnenimbulkan peningkatan risiko yang signifikan terhadap pasien. Beberapa program studi / pelatihan pembedahan memberikan pendidikan anestesi spesifik. atau program studi non-anestesi lain yang dapat memberikan pelatihan yang memadai mengenai anestesiologi. diperlukan pertimbangan yang cermat oleh dokter bedah saat menjadi satu-satunya dokter medis yang tersedia untuk mengawasi semua perawatan perioperatif. Semua pelayanan anestesi umum dan lokal memberikan peningkatan risiko kepada pasien. yang mernungkinkan lulusannya kompeten dalam melakukan supervisi medis (jika dibandingkan dengan standar kompetensi yang dimiliki oleh anestesiologis).PENGAWASAN TERIIADAP PERAWAT ANESTESI OLEH DOKTER BEDAH’ 1.

Hindari menempatkan siswa dalam situasi di mana mereka tidak sepenuhnya siap. Untuk siswa yang belum sepenuhnya terlatih. yang berarti anestesi yang sepenuhnya terlatih yang juga ditugaskan untuk kasus tersebut dan akan terus hadir dalam pemantauan pasien yang dianestesi. Oleh karena itu. 6. 3. dan semua siswa yang ditunjuk harus bertanggungjawab secara penuh terhadap tugas / pekerjaan yang diberikan. c. Pada umumnya. pengalaman. Siswa harus disupervisi dengan rasio 1: 1 atau 1: 2. 5. Semua anestesiologis yang ditunjuk dan ketua departemen harus memastikan bahwa siswa anestesi non-dokter ini memiliki kompetensi yang memadai untuk melakukan semua pekerjaan / tugas yang diberikan kepada mereka. . haruslah seimbang antara keterampilan. Meskipun pendidikan siswa anestesi non-dokter merupakan hal yang penting.2. 4. Praktik ini harus dibedakan dan penjadwalan pertemuan siswa sebagai bagian dari program studi / pelatihan anestesi primer. dan tekad yang dimiliki oleh setiap siswa. b. pelatihan. siswa memperoleh peugalaman mengenai perawatan pasien risiko tinggi di bawah supervisi berkelanjutan oleh personel anestesi yang terlatih. keselamatan pasien tetaplah yang utama. tingkat dan internsitas pengawasan/supervisi berkelanjutan harus lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang sudah terlatih dan terpercaya. d. Tugas berupa manajemen kasus pasien harus selalu dilakukan sesuai dengan norma dan etika yang berlaku sehingga tetap mempertahankan tercapainya pelayanan pasien yang berkualitas dan siswa mendapatkan pembelajaran terbaik. e. pengetahuan. serta hadir dalam proses belajar mengajar ini. Hak Istimewa Suatu hak istimewa harus dikerjakan sebelum melakukan praktik ini berupa menyatakan secara individu dan resmi bahwa setiap siswa akan disupervisi dengan perbandingan 1 : 2 oleh dokter anestesi yang kompeten dan berkualitas. Tugas dan Supervisi a.

Untuk mengurangi risiko in anestesiologis lainnya juga harus ditugaskan untuk mensupervisi salah satu siswa dan dapat segera hadir jika diperlukan. 8. Surat Persetujuan Tindakan a. Untuk memastikan adanya jaminan asuransi pertanggungjawaban profesional yang terpercaya untuk semua pihak yang terlibat (mencakup tim anestesi dan institusi). b. terpercaya. Residen anestesi senior bertanggungjawab untuk memastikan bahwa setiap pasien (atau keluarganya) memahami bahwa selama proses anestesi berlangsung di kamar operasi / tindakan. Anestesiologis yang terlibat dalam supervisi siswa non-dokter harus dapat siap sedia dan segera hadir sepanjang proses anestesi berlangsung. Jika seorang anestesiologis secara bersamaan mensupervisi dua siswa anestesi nondokter. 7. sebaiknya tidak mensupervisi> 1 siswa tanpa adanya dokter cadangan yang terlatih dan terpercaya yang dapat segera hadir jika diperlukan. meskipun tetap di bawah pengarahan oleh anestesiologis yang bertanggungjawab terhadap pasien. f. Jika pasien atau keluarganya telah paham dan setuju akan hal ini. residen anestesi senior harus memberitahukan Projéssional Liability Carrier yang berwenang untuk mengizinkan siswa anestesi non-dokter melakukan perawatan anestesi tanpa supervisi langsung dan berkelanjutan oleh anestesiologis yang terlatih. yang berarti tidak meningggalkan kamar operasi / tindakan untuk tujuan praktik pribadi/rawat jalan. dan kompeten. Pengawas Cadangan a. . dapat terjadi kondisi di mana seorang anestesiologis diperlukan secara bersamaan di 2 ruangan yang berbeda. tahap selanjutnya adalah menandatangani surat persetujuan tindakan. Sebagai contoh: jika hanya terdapat satu anestesiologis yang siaga. terdapat kemungkinan hanya ada siswa anestesi non-dokter. 9. Pemberian Informasi kepada Professionul Liability Carrier a. b.

Komorbiditas mayor b. bursal injection f. 4. 2. 6. epidural blood patch c. Contoh prosedur ini adalah : a. Penggunaan anestesi umum untuk prosedur yang menimbulkan nyeri minor hanya dibenarkan dalam kondisi-kondisi khusus. blok saraf oksipital (occipital nerve block) g. Prosedur yang berkepanjangan (lama) dan atau nyeri sering memerlukan sedasi intravena dan penggunaan monitor anestesi (Monitored Anesthesia Care-MAC). fleksus seliaka. Gangguan mental / psikologis yang membuat pasien tidak kooperatif 5. PELAYANAN ANESTESI SELAMA PROSEDUR INTERVENSI DENGAN RASA NYERI UNTUK DEWASA4 1. injeksi steroid epidural b. Prosedur ini meliputi : a. Blok saraf simpatis (ganglion stelata. injeksi sendi sakroiliaka e. terutama pada pasien yang menjalani prosedur tulang belakang servikal. Penggunaan sedasi dan obat anestesi lainnya harus seimbang dengan potensi risiko / bahaya yang diakibatkan dan pelaksanaan prosedur dengan nyeri minor terhadap pasien dengan anestesi umum. Sebagian besar pelaksanaan prosedur dengan nyeri minor tidak memerlukan pelayanan anestesi selain anestesi lokal. trigger point injection d. Berikut adalah kondisi-kondisi yang memerlukan layanan anestesi khusus : a. Ablasi radiofrequency (RJF) . paravertebral lumbal) b. facet injection 3. di mana diperlukan perawatan / layanan anestesi yang terampil dan terlatih.

Trial spinal cord stimulator lead placement 7. Disektomi perkutan e. Diskograli (discography) d. tetapi diyakini bahwa prosedur blok ini mungkin memerlukan penggunaan anestesi intravena dan MAC (misalnya: blok fleksus brakialis. c. Blok fleksus / saraf utama lebth jarang dilakukan di klinik penanganan nyeri kronis. blok saraf sciatica. . teknik kateterisasi kontinu tertentu).

4. 3. Membantu dokter memberikan keuntungan dilakukannya sedasi / analgesik sementara meminimalisasi risiko yang dapat terjadi. Kebutuhan dan keterbatasan yang terdapat pada pasien atau prosedur c. Kecenderungan terjadinya efek sedasi yang lebih dalam dari pada yang diinginkan / diantisipasi. 2. Preferensi dan pengalaman masing-masing dokter b. atau dokter lainnya yang telah mengikuti pelatihan khusus mengenai teknik sedasi. Pemilihan teknik dan obat-obatan sedasi / analgesik yang digunakan bergantung pada: a. Oleh karena itu. Pedoman ini juga tidak ditujukan untuk pasien yang menjalani anestesi umum / anestesi induksi (misalnya blok spinal /epidural / kaudal) di mana harus diawasi dan dilakukan oleh dokter spesialis anestesi.3 TUJUAN3 1. dokter bedah. Pedoman ini tidak dimaksudkan sebagai persyaratan yang mutlak atau standar. fisiologi. Penerapan pedoman ini tidak dapat menjamin hasil akhir yang spesifik. dan resusitasi. anestesi. anestesiologis sering diminta untuk berpartisipasi dalam mengembangkan kebijakan dan prosedur rumah sakit untuk sedasi dan analgesik yang digunakan pada saat melakukan prosedur diagnostik atau terapeutik. Pedoman ini dapat dimodifikasi dan diadapatasi sesuai dengan kebutuhan klinis dan keterbatasan yang ada. Membantu dokter dan pasien dalam membuat keputusan mengenai pelayanan kesehatan. . PEDOMAN PEMBERIAN SEDASI DAN ANESTESI OLEH NON ANESTES1OLOGIS Anestesiologis mempunyai keahlian spesifik dalam hal farmakologi. 2. Pedoman ini diaplikasikan secara spesifik untuk sedasi sedang (sering disebut sebagai anestesi di mana pasiennya sadar) dan sedasi berat / dalam. dan manajemen klinis terhadap pasien-pasien yang mendapat sedasi dan analgesik. PRINSIP3 1.

6. 7. Meningkatkan risiko cedera karena pasien menjadi kurang / tidak kooperatif c. dan data klinis. Menurunkan risiko kejadian efek samping. praktik dokter. Didesain agar dapat diaplikasikan oleh dokter non-anestesiologis di berbagai fasilitas. Timbulnya efek fisiologis atau psikologis akibat respons terhadap stress yang dialami pasien. yaitu rumah sakit. Pada anak-anak dan orang dewasa yang tidak kooperatif sedasi / anelgesik dapat mempercepat dan memperlancar pelaksanaan prosedur yang mcmerlukan pasien untuk diam / tidak bergerak.5. Pemberian sedasi / analgesik yang tidak adekuat : a. Untuk meningkatkan efikasi klinis (proses pemberian sedasi dan analgesik yang berjalan lancar) b. klinik swasta. dan fasilitas lainnya. sehingga petugas / personel yang memberikan sedasi harus dapat segera mengenali dan rnenanganinya untuk mencegah kejadian: kerusakan otak akibat hipoksia. forum terbuka. Pedoman ini menyediakan rekomendasi dasar yang didukung dengan analisis literatur terkini dan pengolahan opini para ahli / pakar kedokteran. . Evaluasi pre-prosedur a. dokter gigi. Pasien dapat menoleransi prosedur yang tidak menyenangkan dengan mengurangi kecemasan. atau kematian. PENDAHULUAN3 1. dan praktik kedoktcran selalu berkembang sepanjang waktu. Menimbulkan ketidak nyamanan pada pasien b. 3. Pedoman ini harus direvisi karena pengetahuan. Risiko pemberian sedasi : berpotensi menimbulkan depresi kardirespirasi. 2. henti jantung. teknologi. PEDOMAN (UNTUK SEDASI SEDANG DAN BERAT / DALAM) 1. atau nyeri yang mereka rasakan b. ketidak nyamanan. Keuntungan yang didapat dan pemberian sedasi /analgesic : a.

v. keterbatasan. Prosedur elektif mempunyai waktu yang cukup untuk pengosongan lambung b. Temuan klinis dikonfirmasi segera sebelum melakukan anestesi / sedasi. dan setelah prosedur dilakukan : i. 4. c. pertimbangkan dalam menentukan tingkat kategori sedasi. Pemeriksaan fisik terfokus • Tanda vital • Evaluasi jalan napas (lihat lampiran 3) • Auskultasi jantung dan paru iii. Pemantauan a. Situasi emergensi: berpotensi teijadi pneumonia aspirasi. alergi obat. alkohol. Konseling pasien a. Data yang harus dicatat dengan interval yang teratur sebelum. dan alternatif yang ada 3. dan efek samping yang pernah terjadi / dialami • Obat-obatan yang dikonsumsi saat ini. Evaluasi ini meliputi : i. selama. keuntungan. apakah perlu penundaan prosedur. Tingkat kesadaan pasien (dinilai dari respons pasien terhadap stimulus) • Respons menjawab (verbal) : menunjukkan bahwa pasien bernapas . Mengenai risiko. Puasa pre-prosedur (lihat lampiran 4) a. dan apakah perlu proteksi trakea dengan intubasi. dan interaksi obat yang mungkin terjadi asupan makan terakhir • Riwayat merokok. Pemeriksaan laboratorium (berdasarkan pada kondisi yang mendasari dan efek yang mungkin terjadi dalam penanganan pasien) iv. Konsultasi 2. Riwayat penyakit pasien yang relevan • Abnormalitas sistem organ utama • Riwayat anestesi / sedasi sebelumnya. atau penyalahgunaan obat-obatan ii.

oksimetri. Pencatatan data untuk sedasi berat / dalam: . tekanan intra-arteri. mendekati anestesi umum.3 ii. auskultasi bunyi jantung. Respons terhadap perintah verbal (jika memungkinkan)3 iv. auskultasi) • Semua pasien yang menjalani anestesi umum harus memiliki ventilasi yang adekuat dan dipantau secara terus-menerus • Lihat tanda klim pergerakan dinding dada. auskultasi dada • Pemantauan karbon dioksida yang diekspirasi untuk pasien yang terpisah dari pengasuh / keluarganya • Jika terpasang ETT / LMA: pastikan posisi terpasang dengan benar • Kapnografi v. dan harus segera ditangani. Sirkulasi • Elektrokardiogram (EKG) untuk pasien dengan penyakit kardiovaskular yang signifikan • Pemeriksaan analisis gas darah (AGD) • Tekanan darah dan frekuensi denyut jantung setiap 5 menit (kecuali dikontrindikasikan) • Pasien dengan anestesi umum: semua hal di atas ditambah evaluasi kontinu fungsi sirkulasi dengan: palpasi nadi. pergerakan kantong pernapasan. Oksigenasi: • memastikan konsentrasi oksigen yang adekuat selama proses anestesi • gunakan oksimetri denyut (pulse oximetly) 5 iii. vi. Ventilasi paru (observasi. Temperatur tubuh5 b. • Hanya memberikan respons berupa refleks menarik diri (withdrawal): dalam sedasi berat / dalam.

Keterampilan bantuan hidup lanjut e. dan obat-obatan resusitasi dasar c. Keterampilan bantuan hidup dasar d. 7. Untuk sedasi berat/dalam : petugas yang melakukan pemantauan tidak boleh diberikan tugas/ pekerjaan lain. Suction. Pemantauan karbondioksida yang diekspirasi untuk semua pasien iii. Memiliki kemampuan untuk mempertahankan potensi jalan napas. Farmakologi obat-obatan antagonis yang tersedia c. Peralatan intravena. ventilasi tekanan positif b. b. dan resusitasi (bantuan hidup lanjut) selama prosedur berlangsung. obat-obatan antagonis. Peralatan intubasi d. peralatan patensi jalan napas dengan berbagai ukuran. Untuk sedasi berat / dãlam: defibrillator tersedia setiap saat dan dapat segera dipakai (untuk semua pasien) . Sebaiknya terdapat bertugas anestesi non-dokter yang ikut hadir dalam proses anestesi. Respons terhadap perintah verbal atau stimulus yang lebih intens (kecuali dikontraindikasikan) ii. Untuk sedasi berat / dalam: keterampilan bantuan hidup lanjut di kamar tindakan /prosedur. Pcrsonel / Petugas a. Defibrillator yang tersedia setiap saat dan dapat segera dipakai (untuk pasien- pasien dengan penyakit kardiovaskular) e. bertugas untuk memantau pasien sepanjang prosedur berlangsung. EKG untuk semua pasien 5. melakukan ventilasi tekanan positif. Peralatan emergensi (Ithat lampiran 5) a. 6. Farmakologi obat-obatan anestesi dan analgesik b. Petugas ini boleh membantu dengan melakukan tugas-tugas ringan lainnya saat pasien telah stabil d. Pelatihan a. i. c.

Pengurangan dosis yang sesuai jika menggunakan sedatif dan analgesik c. Pengobatan intravena diberikan secara bertahap dengan interval yang cukup antar pemberian untuk memperoleh efek yang optimal b. Analgesik: untuk mengurangi nyeri c. Oksigen tambahan a. Propofol dan ketamin efektif dipakai untuk sedasi sedang c. 12. Sedatif: untuk mengurangi ansietas / kecemasan. Pemberian oksigen c. propofol. Pemberian berulang dosis obat-obatan oral untuk menambah edek sedasi / analgesic tidak direkomendasikan 11. menyebabkan kondisi somnolen b. Biasanya digunakan untuk anestesi umum b. Methohexital efektif untuk sedasi dalam / berat d.8. Tersedianya peralatan oksigenasi b. Kombinasi sedatif dan analgesik: efektif untuk sedasi sedang dibandingkan dengan penggunaan satu jenis obat 10. termasuk penanganan jika pasien jatuh dalam keadaan anestesi umum. Tanpa memandang rute pemberian dan tingkat sedasi yang diinginkan. Penggunaau obat anestesi induksi (methohexitat. Untuk sedasi berat / dalam : pemberian oksigen kepada semua pasien (kecuali dikontraindikasikan) 9. pasien dengan sedasi berat harus dipantau secara konsisten. ketamin) a. Akses intravena . Pilihan obat-obatan anestesi a. Tkrasi dosis a.

Dilakukan oleh Anggota Tim Audit yang telah ditunjuk oleh ASA. Tersedia personel/petugas yang memiliki keterampilan/keahlian mengakses jalur intravena. Anggota tim ini meliputi : a. penyakit jantung/ paru) ginjal hepar yang berat): konsultasikan dengan spesialis yang sesuai b. Obat antagonis: tersedia nalokson dan flumazenil jika pasien diberikan obat opioid/benzodiazepine. c. Pemberian obat sedasi melalui jalur intravena: pertahankan akses intravena dengan baik selama prosedur hingga pasien terbebas dari risiko depresi kardiorespirasi.3 AUDIT DAN REVlSI3 1. Masalah medis berat yang mendasari (usia sangat lanjut. d. Oksigenasi harus dipantau secara rutin dan teratur sampai pasien terbebas dari risiko hipoksemia c. Ventilasi dan sirkulasi harus dipantau secara rutin dan teratur sampai pasien diperbolehkan pulang. b. Pemulihan a. (lihat lampiran 6). Metodologis . Gastroenterologis c. Observasi sampai pasien terbebas dari risiko depresi sistem kardiorespirasi b. Risiko gangguan kardiovaskular / pernapasan yang berat atau diperlukannya ketidaksadaran total pada pasien untuk menciptakan kondisi operasi yang memadai: konsultasikan dengan anestesiologis. 15. Gunakan kriteria pemulangan yang sesuai untuk meminimalisir risiko depresi kardiovaskular / pernapasan setelah pasien dipulangkan. 14. a. Anestesiologis di RS swasta atau RS Pendidikan / Pemerintah b. Pemberian obat sedasi melalui jalur lain: keputusan diambil berdasarkan kasus perkasus. Siluasi khusus a. 13. 2.

4. Hanya artikel yang relevan dengan pemberian obat sedasi oleh non anestesiologis yang dievaluasi. Tugas yang diamanatkan: a. Berpartisipasi dalam survei mengenai efektifitas dan keamanan metode / intervensi yang digunakan untuk proses sedasi . . Membentuk konsensus di dalam komunitas dokter yang bersinggungan dengan pedoman ini. d. termasuk dokter non- anestesiologis dan dokter gigi yang secara rutin memberikan obat sedasi — analgesic.analgesik c. juga anestesiologis dengan minat khusus terhadap sedasi . Keseluruhan informasi ini digunakan oleh Tim Audit untuk memfinalisasi penyusunan Pedoman. Tim Audit menyelenggarakan forum ilmiah terbuka di dua pertemuan nasional utama untuk mengumpulkan masukan mengenai rekomendasi penyusunan nakah. Memperoleh opini dan diskusi panel konsultan. Menganalis dan meninjau ulang studi riset yang relevan dengan revisi dan pembaharuan. Proses merevisi dan memperbaharui pedoman ini terdiri dari 5 langkah : a. Pada diskusi panel. Konsultan mengikuti survei untuk mengutarakan pendapat mereka mengenai implementasi kelayakan dan finansial dan penerapan pedoman yang telah direvisi dan diperbaharui. b.3. e.analgesik. Meninjau ulang bukti-bukti yang ada b. Meninjau ulang dan memberikan pendapat mengenai naskah pelaporan yang disusun oleh Tim Audit c. ii. para konsultan diminta untuk: i.

Teknisi pemeriksaan gas darah (blood gas technicians) 4.LAMPIRAN : ANGGOTA TIM ANESTESI TAMBAHAN1 Anggota Tim Anestesi lainnya yang dapat terlibat dalam perawatan peri-anestesi: 1. dan pemeliharaan alat : 1. 4. Perawat peri-operatif : adalab perawat yang merawat pasien selama di kamar operasi. Teknisi anestesi 2. Cardiovascular perfusionists : adalah petugas kesehatan professional yang mengoperasikan mesin bypass kardiopulmoner. pengadaan alat. Perawat neonates : adalah perawat yang merawat neonatus di ruang rawat khusus. 5. 2. Terapis pernapasan : adalah petugas kesehatan professional yang memberikan perawatan / manajemen pernapasan kepada pasien. Teknisi mesin monitor (monitoring technicians) . 6. Perawat obstetri : adalah perawat yang membantu pasien bersalin / melahirkan. 3. Anggota pendukung yang menangani masalah teknis. Perawat untuk layanan intensif : adalah perawat yang merawat pasien di ruang rawat intensif (Intensive Care Unit-ICU). Teknisi manajemen pernapasan (respiratory technicians) 5. 7. Petugas pembantu anestesi (anesthesia aides) 3. Perawat pasca-anestesi : adalah perawat yang merawat pasien dalam fase pemulihan dan pengaruh anestesi.

Pemantauan pelatihan anestesi dengan interval yang cukup sering 6. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat terhadap pasien sebelum menjalani anestesi 2. Menyediakan pelayanan / perawatan pasca-anestesi. Pelaporan pembayaran atas layanan anestesi harus secara akurat mencerminkan layanan yang diberikan. 4. termasuk induksi anestesi (pasien dibius dan menjadi tidak sadar) dan ‘emetgence’ (pemberian anestesi dihentikan dan pasien sadar kembali). Anestesiologis harus berusaha untuk memberikan pelayanan dengan . sesuai indikasi 8. Pendelegasian perawatan anestesi hanya kepada personel anestesi yang kompeten dan berkualitas. Siap sedia / hadir setiap kali diperlukan untuk memberikan diagnosis dan tata laksana segera dan bertanggungjawab secara medis. Menyusun rencana anestesi 3. Melakukan dan mencatat evaluasi pasca-anestesi ASA juga mengetahui akan kurangnya kepastian / prediksi dalam perawatan anestesi dan banyaknya variabilitas akan kebutuhan pasien yang dapat. Ikut serta dalam sebagian besar proses anestesi. Kemampuan unruk memprioritaskan tugas dan kebutuhan perawatan pasien dari waktu ke waktu merupakan keahlian yang penting yang harus dimiliki oleh Tim Anestesi. dalam keadaan tertentu dan jarang. 5. membuatnya kurang sesuai dari sudut pandang keselamatan pasien dan kualitas pelayanan pasien untuk mematuhi peraturan / ketentuan pembayaran yang berlaku.LAMPIRAN2 PERATURAN PENAGIHAN DAN DEFINISI YANG SERING DIGUNAKAN 1 ASA mengetahui adanya peraturan pembayaran komersial dan pemerintahan yang berlaku untuk penagihan layanan anestesi dan memotivasi para anggotanya untuk mematuhinya sebisa mungkin. 7. Beberapa tugas umum yang dilakukan meliputi : 1.

kualitas tertinggi dan menerapkan keselamatan pasiendengan optimal kepada semua pasien peri-operatif. melakukan manajemen medis segera pada kondisi emergensi yang tak terduga). Hal ini berkaitan dengan kondisi di mana anestesiologis tcrlibat dalam ≤ 4 tindakan anestesi yang bersamaan.” [Catatan: kata ‘supervisi’ juga dapat digunakan di luar Tim Anestesi untuk mendeskripsikan pengawasan medis peri-operatif oleh dokter bedah terhadap petugas anestesi non-dokter. .] Dokter bedah yang melakukan pengawasan / supervisi berhubungan dengan manajemen medis pasien peri-operatif dan manajemen anestesi (misalnya: menentukan kesiapan medis pasien untuk menjalani anestesi dan pembedahan. PENGARAHAN’ MEDIS (oleh anestesiologis) Merupakan suatu istilah pembayaran yang mendeskripsikan pekerjaan / tugas spesifik seorang anestesiologis dari keterbatasan yang terlibat dalam pembayar tagihan untuk manajemen dan pengawasan petugas anestesi non-dokter. ‘SUPERVISI’ MEDIS (oleh anestesiologis) Kebijakan pembayaran jasa medis berisi rumusan pembayaran khusus untuk ‘supervisi medis’ yang berlaku untuk kondisi “ketika anestesiologis terlibat dalam > 4 prosedur tindakan secara bersamaan atau melakukan pelayanan lain sambil mengarahkan prosedur / tindakan anestesi lainnya.

VTP ini dapat lebih sulit dilakukan pada pasien dengan anatomi jalan napas yang atipikal / tidak lazim 2. Habitus / postur tubuh: obesitas yang signifikan (terutama di struktur wajah dan leher) ii. Riwayat pasien i.hyoid (<3 cm pada dewasa) • Massa di leher • Penyakit / trauma pada tulang spinal servikal • Deviasi trakea • Gambaran wajah dismorfik (misalnya: sindrom Pierre-Robin) . Pemeriksaan fisik i. dengan atau tanpa intubasi trakea mungkin diperlukan jika timbul gangguan pernapasan selama proses pemberian sedasi /analgesik. Beberapa faktor yang dapat menimbulkan kesulitan dalam manajemen jalan napas antara lain : a. Abnormalitas jalan napas dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya obstruksi jalan napas saat ventilasi spontan 3. mengorok (snoring. Kepala dan leher: • Leher pendek • Eksensi leher terbatas • Pendeknya jarak antara mentalis .LAMPIRAN3 PROSEDUR PEMERIKSAAN PATENSI JALAN NAPAS UNTUK PEMBERIAN SEDASI DAN ANAL GESIK3 Pemberian ventilasi tekanan positif (VTP). Artritis rematoid yang lanjut / berat b. Adanya masalah dengan anestesi / sedasi sebelumnya ii. apnea saat tidur (sleep apnea) iii. 1. Stridor.

Rahang • Mikrognatia • Retrognatia • Trismus • Maloklusi yang signifikan . Mulut • Gigi • Gigi yang goyang • Menggunakan peralatan gigi Lengkung langit-langit yang tinggi • Makroglosia (lidah besar) • Hipertrofi tonsil • Uvula tidak terlihat iv.iii.

Jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi harus dipertimbangkan saat menentukan periode waktu puasa yang tepat. Konsistensi susu sapi mirip dengan makanan padat dalam waktu pengosongan lambung. .LAMPIRAN4 PEDOMAN PUASA SEBELUM MENJALANI PROSEDUR MENURUT AMERICAN SOCIETY OF ANETHESIOLOGIST3 Jenis makanan Periode puasa minimal Cairan bening/jernih 2 jam Air Susu lbu (ASI) 4 jam Susu formula untuk bayi 6 jam Susu sapi 6 jam Makanan ringan 6 jam Rekomendasi ini diaplikasikan untuk pasien sehat yang akan menjalani prosedur elektif Tidak ditujukan untuk wanita hamil. teh. Makanan yang digoreng atau berlemak atau daging dapat memperlama waktu pengosongan lambung. Contoh makanan ringan adalah roti dan cairan bening. Perlu diingat bahwa dengan mengikuti pedoman in tidak menjamin pengosongan lambung yang sempurna. jus buah tanpa bulir / ampas. Periode puasa minimal diaplikasikan untuk semua usia. Contoh cairan bening / jernih adalah : air putih. minuman berkaitonasi. jumlah susu yang diminum harus dipertimbangkan saat menentukan periode waktu puasa yang tepat. dan kopi.

Sumber oksigen yang bertekanan ii. Cairan intravena / cairan infuse viii. 22) vi. dapat dimodifikasi sesuai dengan kondisi tempat praktik / institusi. Kassa steril v.LAMPIRAN 5 PERALATAN EMERGENSI UNTUK SEDASI DAN ANALGESIK3 1. Suction tipe-Yankauer v. Sarung taugan ii. Tourniquet iii. Peralatan emergensi yang sesuai harus tersedia saat melakukan pemberian sedasi/analgesik yang berpotensi untuk menyebabkan depresi kardiorespirasi. injeksi intramuscular (pada anak dan bayi : jarurn untuk injeksi intraosseous sumsurn tulang) ix.dewasa) vi. Berikut adalah pedoman mengenai peralatan apa saja yang harus tersedia. Swab alkohol iv. 2. Perekat b. a. Jarum suntik untuk aspirasi obat. Orophaiyngeal airways dan nasopharyngeal airways viii. Kateter intravena / kanula infus (ukuran 24. Peralatan intravena i. Spuit dengan beragam ukuran x. Sungkup wajah (berbagai ukuran dari bayi . Satu set self-inflating breathing bag-valve vii. Selang infus (untuk anak-anak menggunakan tetesan mikro: 60 tetes/mi) vii. Peralatan untuk manajemen jalan napas dasar i. Mesin suction iii. Lubrikan / gel pelumas . Kateter untuk suction iv.

Peralatan untuk manajemen jalan napas lanjut (untuk petugas dengan keahlian intubasi) i. Efedrin iii. 8. Diazepam atau midazolam .0. 50% ix. Amiodaron vii. Obat-obatan antagonis i. Hidrokortison. Epinefrin ü. Bilah laringoskop iv. Stilet / mandarin (ukuran disesuaikan dengan diameter ETT) d. metilprednisolon. Obat-obatan emergensi i. Pegangan laringoskop iii.c. Vasopressin iv. Nitrogliserin (tablet atau semprot) vi. Lidokain viii.0. Dekstrose l0%. 7.0 mm. Atropine v.25%. Difenhidramin x. Tabung endotrakeal (endotracheal tube-ETT’) : ukuran dengan balon berdiarneter 6. Nalokson ii. v. atau deksametason xi. Flumazenil e. Laryngeal mask airways (LMA) ii.

beberapa prinsip dasar yang harus miliki adalah : 1. Prinsip umum a. b. dan oksigenasi (jika diindikasikan) harus dicatat dengan rutin dan teratur e. Pasien yang menjalani sedasi sedang atau dalam harus dipantau sampai kriteria pemulangan terpenuhi. kondisi umum pasien. Pengawasan medis dalam fase pemulihan dan pemulangan pasien setelah pemberian sedasi sedang / dalam merupakan tanggungjawab dokter yang melakukan sedasi. Petugas yang kompeten dalam menangani komplikasi (misalnya mempertahankan patensi jalan napas. Ruang pemulihan harus dilengkapi dengan monitor dan peralatan resusitasi yang adekuat c. Tingkat kesadaran. i. memberikan ventilasi tekanan positif) harus dapat segera hadir kapanpun diperlukan hingga kriteria pemulangan terpenuhi. Perawat atau petugas terlatih lainnya yang bertugas memantau pasien dan mengidentifikasi adanya komplikasi harus dapat hadir! mendampingi pasien hingga kriteria pemulangan terpenuhi. dan intervensi / prosedur yang dilakukan ii. tanda vital. . f. Oksigenasi hams dipantau sampai pasien terbebas dan risiko depresi pernapasan d.LAMPIRAN 6 KRITERIA PEMULIHAN DAN PEMULANGAN PASIEN SETELAR PEMBERIAN SEDASI DAN ANALGESIK3 Setiap rumah sakit harus mempunyai kriteria pemulihan dan pemulangan yang sesuai dengan pasien dan prosedur yang dilakukan. Durasi dan frekuensi pemantauan harus disesuaikan dengan masing-masing pasien bergantung pada tingkat sedasi yang diberikan.

Kriteria Pemulangan Pasien a.2. dan nomor telepon yang dapat dihubungi jika terjadi keadaan emergensi. DITETAPKAN DI : MOJOKERTO PADA TANGGAL : 25 April 2014 DIREKTUR RUMAH SAKIT MAWADDAH MEDIKA dr. Pasien rawat jalan boleh dipulangkan dengan didampingi oleh orang dewasa yang dapat mengantarkan pasien sampai ke rumah dan dapat melaporkan jika terjadi komplikasi pasca-prosedur. Dokter dan keluarga harus menyadari bahwa pasien anak-anak yang memiliki risiko obstruksi jalan napas harus duduk dengan posisi kepala menunduk ke depan. Penggunaan sistem skoring dapat membantu pencatatan untuk kriteria pemulangan d. f. aktivitas. Pasien harus sadar dan memilik i orientasi yang baik. Tanda vital harus stabil c. e. flumazenil) untuk memastikan bahwa pasien tidak masuk ke fase sedasi kembali setelah efek obat antagonis menghilang. b. Sihwati Wilujeng . Bayi dan pasien dengan gangguan status mental harus kembali ke status semula /awal (sebelum menjalani anestesi / analgesik). obat-obatan. Pasien rawat jalan dan pendampingnya harus diberikan instruksi tertulis mengenai diet pasca-prosedur. Telah melewati waktu yang cukup (hingga 2 jam) setelah pemberian terakhir obat antagonis (nalokson.

Anesthesia Care Team. 3. Statement on the anesthesia care team.96: 1004-17. Standards for basic anesthetic monitoring. American Society of Anesthesiologist. Standards and Practice Parameters. 2008. Disetujui oleh ASA House of Delegates. Disetujui oleh ASA House of Delegates. 2010. Statement on anesthetic care during interventional pain procedures for adults. Pain Medicine. 4. Practice guidelines for sedation and analgesia by non anesthesiologists: an updated report by the American Society of Anesthesiologist Task Force on sethtion and analgesia by non-anesthesiologist. 2. 5. Ambulatory Surgical Care. Disetujui oleh ASA House of Delegates. 2010. . Guidelines for ambulatory anesthesia and surgery. 2002. Anesthesiology.REFERENSI 1. 2009. Disetujui oleh ASA House of Delegates.