You are on page 1of 11

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BURST APDOMEN /
WOUND DEHISCENCE

A. Definisi
Burst abdomen atau abdominal wound dehiscence adalah terbukanya
tepi-tepi luka sehingga menyebabkan evirasi atau pengeluaran isi organ-
organ dalam seperti usus, hal ini merupakan salah satu komplikasi post
operasi dari penutupan luka di dalam perut.
Abdominal wound dehiscence dan hernia insisional adalah bagian
yang sama dari proses kegagalan penyembuhan luka operasi. Abdominal
wound dehiscence terjadi sebelum penyembuhan kulit, sedangkan hernia
insisional terjadi saat penyembuhan insisi kulit yang membaiki.

B. Etiologi
Pre operasi
1. Batuk
2. Anemia
3. Malnutrisi
4. Hypoalbumin

Operasi
1. Tipe insis
2. Jahitan luka

Post operasi

1. Batuk
2. Distensi abdominal
3. Ascites
4. Vomiting
5. Kebocoran usus
6. Infeksi
7. Hematoma
8. Ketidakseimbangan elektrolit

pada insisi transversal. . Pada insisi midline. Kebiasaan merokok sejak muda menyebabkan batuk-batuk yang persisten. dan jahitan bahan. organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi. penutupan sayatan. Pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. batuk yang kuat dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen. Untuk perbaikan jaringan. 9. penyakit diabetes mellitus. Penyakit-penyakit tersebut tentu saja amat sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh sehingga akan mengganggu proses penyembuhan luka operasi. hal-hal yang berpengaruh dalam factor pre operasi ini adalah usia. Hemoglobin menyumbang oksigen untuk regenerasi jaringan granulasi dan penurunan tingkat hemoglobin mempengaruhi penyembuhan luka. Patofisiologi Burst Abdomen bisa disebabkan oleh faktor pre operasi. Kekurangan vitamin C terkait dengan delapan kali lipat peningkatan dalam insiden wound dehiscence. tergantung pada tipe insisi. Selain itu adanya anemia. Kekurangan vitamin C dapat mengganggu penyembuhan dan merupakan predisposisi kegagalan luka. hypoproteinaemia. operasi dan post operasi. Untuk factor operasi. VitaminC sangat penting untuk memperoleh kekuatan dalam penyembuhan luka. dan beberapa kekurangan vitamin bisa menyebabkan terjadinya burst abdomen. sejumlah besar asam amino diperlukan. Jaundice C. Pada faktor pre operasi. Kontraksi dari dinding abdomen menyebabkan tekanan tinggi di daerah lateral pada saat penutupan. Kejadian tertinggi burst abdomen sering terjadi pada umur > 50- 65 tahun.kebiasaan merokok. dan malnutrisi. Dan sebaliknya. seseorang yang memiliki tingkat protein serum di bawah 6 g / dl. Hypoproteinemia adalah salah satu faktor yang penting dalam penundaan penyembuhan. ini memungkinkan menyebabkan bahan jahitan dipotong dengan pemisahan lemak transversal. Sejalan dengan bertambahnya umur. penutupan peritoneum. Seng adalah co-faktor untuk berbagai proses enzimatik dan mitosis.

Tes BGA (Darah lengkap) Hemoglobin. Otot perut rektus segmental memiliki suplai darah dan saraf. dan ketidakseimbangan elektrolit. D. Dapat dipicu juga jika mengangkat beban berat. batuk dan bersin yang kuat. Pasien sering menunjukkan “sensasi penyobekan” atau merasakan sesuatu yang pernah diberikan 5. Jika irisan sedikit lebih lateral. Terlihat serosa tidak berfungsi dari luka. lemak dilawankan dengan kontraksi. migrasi dari faktor peradangan. Ketegangan atau perpindahan struktur 4. Itu terlihat lebih dari 85 % dari masalah E. Dehiscence selalu ditunjukkan pada 7-14 hari setelah operasi 2. peningkatan sel darah putih. gula darah. Pemeriksaan diagnostic 1. dan pematangan kolagen. Luka distrupsi mungkin terjadi tanpa tanda 3. Manifestasi klinis 1. mengejan akibat konstipasi. serum kreatinin. pembedahan abdominal dan kegemukan. dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama. Antineoplastic agents menghambat penyembuhan luka dan luka penundaan perolehan dalam kekuatan tarik. Ini menciptakan titik lemah di dinding dan pecah perut. mitosis. dan urea. Sinar X abdomen . 2. serum protein. medial bagian dari otot perut rektus mendapat denervated dan akhirnya berhenti tumbuh. CT scan atau MRI 3. Terapi radiasi dapat mengganggu sintesis protein normal. Faktor post operasi terdiri dari peningkatan dari intra-abdominal pressure yang menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit).

Kemudian proses akir dari dinding abdomen. Tutup kulit dengan agak longgar dan mempertimbangkan pemakaian pengering luka dangkal. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya tinggi kadar gas dalam usus atau obstruksi usus. Kebanyakan untuk pasien akut atau baru saja terjadi luka disarankan untuk operasi kembali. Ada beberapa teknik. 4. jangan biarkan luka terbuka dan bungkuslah. 7. dilakukan untuk menutup lubang dan memperkuat bagian yang lemah. tetapi pada prinsipnya adalah : 1. 1. Bebaskan lipatan peritonim dan usus untuk jarak yang pendek pada permukaan yang dalam dari luka pada kedua sisi 5. 3. F. . Jika terjadi infesi luka yang buruk . Pemberian antibiotic preoperative spektum meluas. 6. Salah satu dari eksternal (menggabungkan semua lapisan peritonium melewati kulit) atau (semua lapisan kecuali kulit) mungkin digunakan. 2. Kebanyakan teknik yang utama dalah segera menjahit kembali pada tempat jahitan semula yang mengalami perobekan 3. 2. Otot perut dirapatkan menutupi lubang yang ada. Memakai jahitan luka yang padat dan tidak menyerap. Masukkan jahitan luka yang dalam. yakinlah untuk mengambil potongan yang dalam dari jari. Penumpukan Jahitan. memakai materi jahitan yang banyak dan hindari tegangan yang berlebihan pada luka. Luas potongan paling tidak 3cm dari tepi luka dan interval stikjahitan 3cm atau kurang. Penatalaksanaan Tindakan operasi: Operasi pembedahan.

Untuk mengatasi keluhan tadi. karena otot perutnya tidak lagi ditarik. sehingga penderita tidak akan merasa nyeri. 4. Usaha untuk menutup dinding perut mungkin dapat menyebabkan elevasi dari tekanan intra abdominal dan syndrome ruang abdomen berikutnya. Kehilangan jaringan pada dinding perut. Perut yang tidak bisa menutup Pada sebagian kecil pasien bisa mendapat penatalaksanaannya yang tepat. Pada kasus kasus tertetu (exs. kini tersedia jala sintetis yang dikenal dengan mesh. Penderita setelah operasi biasanya masih mengeluh soal lain. Trauma abdomen mayor 2. meliputi: 1. Penumpukan jahitan luka eksternal biasanya dibiarkan selama paling tidak tiga minggu. Retro peritoneal hematom 4.Teknik yang tidak aman atau terkadang tidak mungkin untuk menutup dinding perut dengan benar. Jangan mengikat terlalu kuat 6. Penumpukan jahitan luka internal dapat menghindari pembentukan bekas luka yang tidak sedap dipandang akan tetapi luka itu tidak dapat dipindahkan pada waktu berikutnya(meningkatkan resiko infeksi) 5. Penutupan “mesh” pada insisi abdomen biasanya menunjukan: . Setelah operasi ia merasakan bagian yang dioperasi seperti tertarik dan nyeri.jika penyebabnya memungkinkan untuk diselesaikan dengan cepat) mungkin bisa menutup abdomen untuk sementara waktu dengan membungkus luka dan mengambil tindakan lebih lanjut dalam waktu 24-48 jam. Beberapa kondisi yang mungkin bisa menjadi faktor pencetus pada dinding perut yang tidak dapat menutup. Penggunaannya menguntungkan bagi penderita pascaoperasi. Sepsis abdomen yang kasar 3.

dapat beristirahat/ tidur dan ikut serta dalam aktivitas sesuai kemampuan Intervensi Rasional . Diagnosa keperawatan 1.Tampak santai.Pasien melaporkan bahwa rasa sakitnya telah terkontrol atau hilang . H. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun 4. Lubang adalah jahitan luka pada tempat dari jahitan luka yang menembus lapisan tebal dinding abdomen. Kerusakannya adalah penutupan dari satu atau dua lapisan pada lubang. 1. Pola napas tidak teratur berhubungan dengan nyeri. Nyeri akut berhubungan dengan terbukanya luka operasi. 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan proses invasif pada abdomen Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dan peningkatan terhadap pajanan. 2. akhirnya berpengaruh pada permukaan yang bisa dibungkus dengan pemindahan robekan kulit(transparansi kulit). 2. Tujuan: rasa nyeri pasien berkurang bahkan hilang Kriteria hasil: . G. Perubahan balutan dan granulasi benuk jaringan berikutnya. Intervensi 1. Nyeri akut berhubungan dengan terbukanya luka operasi.

Kolaborasikan untuk pemberian 5.Pasien bebas dari tanda-tanda hipoksia . sesuai kebutuhan. Dorong penggunaan tehnik pemberian narkotik. Analgesik akan menimbulkan obat analgesic yang sesuai. misalnya latihan napas dalam. zat anastesi. 5. dan mungkin relaksasi. 4. hipertensi.Bunyi nafas tambahan tidak ada . lokasi dan intensitas ( skala dan ketidak nyamanan. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan nyeri Tujuan : Pasien menunjukan pola napas yang efektif Kriteria hasil : . 2. Berikan informasi mengenai sifat koping.Pasien tidak menunjukan otot bantu pernafasan Intervensi Rasional . Respirasi mungkin menurun pada 4. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan 1 Dapat mengindikasikan rasa sakit akut oleh pasien. Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien sehingga dapat menentukan intervensi yang sesuai 2. 2 . menimbulkan efek sinergistik dengan zat- bimbingan imajinasi. Melepaskan tegangan emosional dan tachikardi. 1. perhatikan 3.Untuk memahamiketidaknyamanan. 1-10). tingkatkan perasaan control yang pernapasan. penghilangan nyeri yang lebih efektif. visualisasi. ketidaknyamanan. dan peningkatan otot. mungkin dapat meningkatkan kemampuan 3. Kaji tanda-tanda vital.

pemakaian efektivitas pernapasan sehingga upaya otot bantu pernapasan. rongga dada. Untuk meningkatkan nafsu makan makanan pelengkap. sesuai kebutuhan klien dapat terbiasa untuk napas dalam 3. retraksi tau 2. meningkat mendekati 48 Kg Intervensi intervensi rasional 1. atau kemungkinan pasien . Diskusikan dengan dokter tentang nutrisis kepada pasien kebutuhan stimulus nafsu makan. Berikan instruksi untuk yang efektif. Dilakukan untuk memastikan kedalaman pernapasan. oksigen yang akan diikat oleh Hb. Dilakukan untuk meningkatkan pernapasan cuping hidung. 2.BB stabil. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuan berhubungan dengan nafsu makan menurun Tujuan : nutrisi pasien adekuat Criteria Hasil: . 1. Untuk menentukan pemberian 2. 2. latihan nafas dalam 4. Catat kemajuan yang ada tidakkah intervensi yang dilakukan pada klien tentang pernafasan perawat pada klien. 3.Nafsu makan pasien meningkat . warna atau memaksimalkan pengambilan kulit dan aliran udara. Sebagai indikator efektif atau 4. Observasi frekuensi dan 1. Dengan latihan napas yang rutin. Berikan tambahan oksigen 3. Kolaborasikan dengan ahli gizi untuk menberikan diet TKTP 1. perluasan memperbaikinya dapat segera dilakukan.

cara untuk mempertahankan luka mandiri . Untuk mengevaluasi keefektifan dengan tetap memperhatikan status intervensi yang telah diberikan kesehatan pasien 5. Mempercepat proses penyembuhan teratur luka 2. Ajarkan perawatan luka insisi 2. Dukung anggota keluarga untuk untuk makan membawa makanan kesukaan pasien 4.pemberia makanan melalui selang 3. Lakukan perawatan luka secara 1. Untuk mengetahui perkembangan 4. termasuk tanda dan gejala melakukan perawatan luka secara infeksi. Berikan edukasi kepada pasie tentang nutrisi pasien pentingnya asupan nutrisi yang adekuat untuk membantu proses enyembuhan pasien 5. Lakukan pemeriksaan BB secara teratur Sebagai sumber energy pasien untuk mempercepat proses penyembuhan 4. Resolusi pada daerah ekstermitas baik Intervensi intervensi rasional 1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bekas operasi Tujuan : pasien menunjukan integritas kulit yang baik Criteria hasil: . Supaya keluarga atau pasien dapat pembedahan. Meningkatkan kesediaan pasien 3. Terbebas dari adanya lesi jaringan .

Pasien menunjukan higiene pribadi adekuat . kalori yang dapat memperburuk keadaan dan vitamin 6. jumlah bakteri pada kulit. Pantau secara teratur kondisi luka pasien 5. Control infeksi. Menghindari ketegangan pada luka makanan tinggi protein.Melaporkan tanda dan gejala infeksi Intervensi intervensi rasional 1. mineral. Mengetahui proses penyembuhan 5. untuk mencegah infeksi. Tetapkan mekanisme yang dirancang atau kebijakan aseptik. Konsultasikan pada ahli gizi tentang 5. jika diperlukan 6. Tujuan: faktor resiko infeksi akan hilang Kriteria hasil: . Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dan peningkatan terhadap pajanan. Uji bahwa pembersihan kulit post 2.Pasien terbebas dari tanda dan gejala infeksi . sterilisasi dan rosedur 1. 2. Posisikan pasien untuk menghindari luka pada pasien ketegangan pada luka. . Menghindari adanya resiko infeksi pada insisi 4. 4. Buang debris dan bekas luka yang yang sesuai sehingga mempercepat merekat proses penyembuhan luka. Pembersihan akan mengurangi operasi telah dilakukan. untuk memberikan asupan nutrisi 3.insisi tetap kering dan mengrangi stress 3.

Kolaborasikan untuk pemberiakn lokasi luka debris antibiotik 5. Dapat diberikan secara profiaksis bila dicurigai terjadi infeksi atau kontaminasi . Mencegah kontaminasi lingkungan 4. 3. Kolaborasikan untuk melakukan pada luka baru irigasi luka yang banyak.3. 4. misalnya air. Sediakan pembalut yang steril. Dapat digunakan pada intraoperasi antibiotic atau analgesic. untuk mengurangi jumlah bakteri pada 5.