ARTIKEL

Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi
pada Kelompok Rawan
(Protocol for Recovery and Prevention of Food and Nutrition Crises on
Vurnerable Group)
Dodik Briawan1,2, Purwiyatno Hariyadi1,3, Eko Hari Purnomo1,3 dan Fahim M. Taqi1,3
SEAFAST Center, LPPM IPB,
1

2
Departemen Gizi Masyarakat, FEMA, IPB, dan
3
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta, IPB
Email : phariyadi@ipb.ac.id

Diterima : 14 Nopember 2014 Revisi : 24 Juni 2015 Disetujui : 25 Juni 2015
ABSTRAK
Krisis pangan dan gizi merupakan permasalahan yang berdampak terhadap pembangunan di
Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan protokol pencegahan dan penanggulangan
krisis pangan dan gizi. Data yang digunakan terdiri dari data sekunder dan primer. Protokol krisis pangan
dan gizi dikembangkan dengan melibatkan ahli dan narasumber dari pemerintah daerah di Sukabumi,
Situbondo dan Bogor. Kondisi krisis pangan dan gizi dapat ditetapkan dengan sistem survailan
menggunakan indikator yang valid, sensitif, dan mudah dikumpulkan. Model yang sudah ada yaitu “Sistem
Kewaspadaan Pangan dan Gizi” dapat digunakan dengan beberapa modifikasi tertutama pada komponen
indikator. Protokol pencegahan dan penanggulangan dikembangkan untuk kelompok rumah tangga rawan
di masyarakat. Kelompok ini dapat ditetapkan berdasarkan 14 indikator nonmoneter yang dikembangkan
oleh BPS, dengan prioritas yang mempunyai anak di bawah usia lima tahun dan atau ibu hamil. Upaya
penyelamatan terutama dilakukan dengan memberikan makanan tambahan pada kelompok rawan ini.
Penanggulangan diarahkan melalui bantuan ekonomi kepada rumah tangga sasaran. Pemerintah daerah
perlu membentuk tim manajemen krisis pangan dan gizi yang disertai peran dan tanggungjawab yang
jelas. Disarankan, pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam menetapkan kondisi krisis, yang
disertai anggaran pelaksanaan protokol tersebut. Selain itu, dalam jangka panjang program seperti SKPG,
Posyandu dan UPGK perlu diperbaiki dan ditingkatkan.
Kata kunci: krisis pangan dan gizi, protokol, survaila, penanggulangan, penyelamatan

ABSTRACT
Food and nutrition crises affect Indonesian development. This study aims to develop general protocol
for prevention and recovery of food and nutrition crises. The data comprises of secondary and primary data.
The crisis protocol is developed by involving experts and resource persons from Sukabumi, Situbondo and
Bogor local governments. The crisis condition could be determined using mechanism of surveillances,
valid, sensitive, and easy to generate indicators. The existing “Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi”
model could be applied with some modification on its components. The recovery and prevention protocol
should specifically be developed for vulnerable groups which can be determined using 14 non-monetary
indicators developed by CBS, with special priority given to households with children under 5 years and/or
pregnant mothers. The recovery is focused on feeding program for those groups. Prevention program is
designed for the development of economic activities for the targeted households. The local government
need to establish a crisis management team with well defined roles and responsibilities. It is proposed
that Head of Local Governments should have authority to determine, declare crisis condition, and allocate
budget to execute the protocol. In the long run, existing food and nutrition programs; especially SKPG,
Posyandu and UPGKshall be up-graded and improved.
Keywords: food and nutrition crisis, protocol, surveillances, recovery, prevention

Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 149
Dodik Briawan, Purwiyatno Hariyadi, Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi

2 Juni 2015 : 149-166 . Berdasarkan UU No. pangan. Pengertian ketahanan pangan menurun hingga tahun 2012 mencapai angka tersebut terkandung makna dimensi fisik 1. diperkirakan atau 28. menyebabkan akses masyarakat terhadap kondisi kemiskinan dan kekurangan pangan pangan menjadi rendah. Meskipun dari segi persentase di bawah 10 yang artinya Indonesia termasuk negara yang persen.I. BPS mencatat pada bulan Agustus 2013 Tingkat kemiskinan di Indonesia telah dari sebanyak 118. namun tren jumlah pengangguran 150 PANGAN.852. Hal ini layak untuk dikhawatirkan karena untuk penduduk desa.3.4 persen pada tahun 2007. Index.64 kkal.08 gram (2013).5 juta pada tahun 2010 menjadi pendapatan/penghasilan Rp. PENDAHULUAN mengalami permasalahan kelaparan dengan tingkat ”serius”. makmur. Ketidaktahanan pangan dan gizi pangan (penyediaan).47 persen 2010-2015) mencapai angka 2. aman. adil dan presentase kemiskinan di Indonesia menurun. terlihat dari presentase jumlah pengangguran. Kemiskinan Dalam jangka waktu yang lebih panjang. Kelesuan ekonomi penduduk miskin di pada tahun 1999 naik sebagai salah satu dampak logis krisis menjadi 23.19 juta angkatan kerja di melahirkan indikator kelaparan (Global Hunger Indonesia. Angka tersebut kesinambungan). Vol. 275.442. 2008) sebesar 11. erat dengan ketahanan pangan. persentase penyumbang terbesar laju pertumbuhan penduduk miskin di Indonesia menunjukkan tren penduduk adalah masyarakat berpenghasilan menurun semenjak tahun 2006. dan selanjutnya dapat dan gizi akan lebih memprihatinkan jika risiko menyebabkan kelaparan dan kekurangan gizi. Sebenarnya. Statistik.91 kkal dan terus dan terjangkau.779/kapita/bulan 2013). Hal ini didukung Dalam kaitannya dengan akses terhadap dengan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. akan tetapi hal ini tidak diikuti dengan kenaikan ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi rata-rata konsumsi pangan dan gizi penduduk terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang Indonesia.55 juta jiwa.6 juta jiwa pada tahun 2035 (Bappenas. namun dari segi rendah yang hidup di bawah garis kemiskinan. Standar untuk menetapkan jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh penduduk miskin tersebut didasari oleh angka lima tahun mendatang akan terus meningkat garis kemiskinan yaitu penduduk yang memiliki yaitu dari 238. merata mencapai angka 2014. Terhitung sejak tahun 2007 dimana tercermin dari tersedianya pangan yang cukup.75 kkal dan 53.18 Tahun 2012. Data Masalah pangan dan gizi ini berkaitan tersebut menunjukkan bahwa asupan pangan erat dengan aspek perbaikan kehidupan dan gizi masih di bawah standar penduduk masyarakat. kemiskinan diidentifikasi Riskesdas pada tahun 2010 sebesar 17. dimensi ekonomi (daya juga ditunjukkan oleh masih tingginya prevalensi beli). dimensi pemenuhan gizi individu.43 persen.826/kapita/ 305. dapat keuangan global sudah menampakkan akibat disimpukan bahwa ada begitu banyak faktor nyata pada ketersediaan lapangan kerja dan ini yang dapat menyebabkan kemiskinan. terutama untuk mencapai tujuan golongan tahan pangan (>2000 kkal/kapita/hari). dimensi gizi buruk dan kurang pada balita mencapai 19. adanya krisis ekonomi yang terjadi akan diperburuk oleh adanya krisis ekonomi tahun 1998 menyebabkan presentase jumlah global (lihat Gambar 1).. Berdasarkan data Badan Pusat K risis pangan dan gizi merupakan salah satu permasalahan penting yang berdampak terhadap pembangunan nasional Indonesia.39 juta diantaranya menganggur. proporsi penduduk miskin di Indonesia (TFR) yang selama lima tahun terakhir (tahun pada tahun 2013 yaitu sebesar 11.9 sebagai salah satu faktor kritis yang berkaitan persen dan 18. akan terjadinya ledakan jumlah penduduk turut Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun dipertimbangkan. meningkat apabila dibandingkan dengan data Di satu sisi.842. Grebmer. Dengan total fertility rate 2013. jumlah terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin meskipun tidak signifikan. 7. Oleh karena itu.6 keamanan pangan dan dimensi waktu (dimensi persen pada 2013 (Riskesdas). pembangunan nasional yaitu terwujudnya Telah dijelaskan sebelumnya bahwa tingkat kehidupan masyarakat yang sejahtera. rata-rata konsumsi kalori dan protein per hari penduduk Indonesia secara keseluruhan yaitu 1. bulan untuk kota dan Rp. dkk. rata-rata konsumsi kalora penduduk Indonesia baik jumlah maupun mutunya. krisis pangan dan gizi ini diperkirakan Selain itu. 24 No. 308.

Dalam nyata dengan perkiraan Baird. Dengan berpotensi menjadi ancaman hilangnya sebuah tingkat pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan generasi (lost of generation). mungkin penduduk miskin mampu memenuhi Risiko lost generation ini juga menjadi lebih asupan pangan dan gizinya dengan baik. 2013). Kekurangan zat gizi melanda. yang mundur dua puluh tahun ke belakang. 2014).1 persen pada ibu Di samping krisis ekonomi global yang hamil (Riskesdas. dkk. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . Gambar 1. dapat dibayangkan bagaimana menurunnya kualitas sumberdaya manusia. pencapaian lapisan sosial-ekonomi kelas bawah.743/hari rendahnya kualitas gizi selama kehamilan serta tersebut bukanlah alokasi biaya untuk asupan terjadinya gangguan pertumbuhan anak balita. beban ekonomi masyarakat akan (mikro) akan berakibat pada (i) penurunan semakin berat karena harga – harga kebutuhan kemampuan kognitif.302 atau dengan kata menjadi lebih signifikan untuk rumah tangga lain hanya Rp.743/hari/orang. merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia dengan prevalensi 37. bahwa penghasilan yang dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat miskin Dampak kerawanan pangan dan gizi akan perbulan adalah Rp. dalam jangka panjang akan berakibat pada oleh karena itu.2 persen (World Bank. dan risiko adanya lost generation ini dipertegas maka laju pertambahan jumlah pengangguran dengan data dari Kementerian Kesehatan dan penduduk miskin sangatlah sulit untuk yang menunjukkan bahwa anemia gizi masih dibendung. 9. Kerangka Analisis Dampak Krisis Global pada Konsumsi Rumah Tangga menunjukkan peningkatan apabila dilihat pangan pemicu berbagai kerawanan. (ii) peningkatan kematian pokok yang semakin melambung tinggi ibu melahirkan. BPS (2013) menyatakan memberikan produktivitas yang rendah.561 per bulan. Produk Domestik Bruto (GDP) sebesar 1 persen kondisi yang mengarah pada terjadinya krisis akan menyebabkan peningkatan mortalitas Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 151 Dodik Briawan. yang menyatakan bahwa setiap penurunan data-data ini bisa mengindikasikan suatu pra. 9. Purwiyatno Hariyadi.. terutama pemenuhan kecukupan kalori sangatlah jauh untuk anggota rumah tangga kelompok rawan dari rata-rata pengeluaran penduduk Rp. dan (iv) penderita akan makin menurun. Uang sebesar Rp. (ibu hamil dan anak balita). (2007) kaitannya dengan krisis global sekarang ini. Lebih lanjut. (iii) bayi yang dilahirkan rentan sementara di sisi lain daya beli masyarakat cacat dan penyakit. Kekhawatiran hanya mencapai 5. melainkan untuk keperluan lain. 703. pangan saja. 292.

2002.000 setiap ringan. Penyelamatan adalah ditujukan kepada rumah 2008). jaring pengaman sosial (JPS). 2009). Pada tahap dalam kaitannya dengan kualitas SDM dan ketiga yang lebih parah. Namun tidak semua anggota kelompok rawan (ibu hamil dan anak program tersebut efektif untuk mencegah balita). 2006). anak balita) terjadi.3 persen. Bank Dunia juga memperkirakan bahwa pangan. dan mudah dikumpulkan. 2002). mungkin muncul. dan sebaliknya 18. rumah tangga akan memaksimalkan tahunnya. 24 No. jika kondisi krisis ini berlanjut (sampai potensinya untuk memperoleh pangan. khususnya pada kelompok rawan. sudah mulai terjadi sejak tahap pertama krisis. merubah tambahan) (IMF. maka Pemerintah rumah tangga. perubahan iklim. KONDISI SAAT INI yaitu berupa paket produktif agar rumah tangga mampu memanfaatkan potensi sumberdaya Beberapa paket program pemerintah telah internalnya. Kekurangefektifan efektif karena paket produk tidak sesuai dengan program tersebut misalnya ditunjukkan oleh kebutuhan sasaran. untuk memenuhi kebutuhan pangan atau Mengingat pentingnya ketahanan pangan mencari bantuan/pinjaman pangan. Dalam konteks krisis tangga secara alami akan terjadi pada saat krisis global. program PNPM. pemerintah dalam skenario “penanggulangan” II. 2005). maka rumah tangga ketahanan nasional (Hariyadi. Banyak studi yang telah dilakukan untuk kematian yang disebabkan karena masalah mengkaji strategi pertahanan rumah tangga dari gizi (malnutrition) secara global akan terjadi krisis pangan.8 persen yang skenario “penyelamatan atau penanggulangan”. Pada tahap kedua. Pada kondisi krisis pangan tingkat peningkatan antara 200. bantuan perlu melaksanakan skenario “penyelamatan”. Pada studi lainnya. mencari pangan dari kematian anak-anak di Peru meningkat dengan kebun sekitarnya. Situbondo Sejak tahap pertama terjadinya krisis dan Bogor berdasarkan metode survei dan pada rumah tangga. misalnya tahun 2015 akan mencapai 2. seperti bantuan beras miskin (raskin). untuk akan melakukan migrasi (menjadi gelandangan mengantisipasi kondisi krisis global yang di kota). Hasil studi berupa survey ekonomi masyarakat. 2 Juni 2015 : 149-166 . tidak rawan malah mendapatkan BLT (Mutiara. Protokol krisis pangan dan gizi dikembangkan dan akan terus memburuk pada tahapan dengan melibatkan ahli dan narasumber dari selanjutnya. Sementara itu proses kekurangan mekanisme dan protokol untuk penanggulangan gizi pada anggota rumah tangga yang kondisi dan penyelamatan jika krisis pangan dan gizi fisiologisnya rawan (ibu hamil. Diingatkan bahwa pola konsumsi pangan. maka perlu dikembangkan dkk. perpisahan dalam rumah tangga. Pemberian bantuan menunjukkan bahwa rumah tangga rawan pangan atau skema bantuan untuk keluarga pangan yang memperoleh bantuan BLT hanya miskin seharusnya didasarkan pada pilihan 54. mengarah pada pemberdayaan rumah tangga. langsung tunai (BLT). 2009).bayi sebanyak antara 17 dan 44 untuk seribu Mekanisme food coping pada rumah bayi yang dilahirkan. bantuan terutama pada rumah tangga yang mempunyai kredit UKM dan lainnya. Vol. dan mengingat fenomena atau tindakan kriminal (Usfar.. pemerintah daerah di Sukabumi. rumah 17. atau karena bantuan PMT studi yang dilakukan di Bogor terhadap peserta tersebut dikaitkan dengan upaya pemberdayaan penerima program BLT. salah sasaran dalam tangga yang saat itu juga harus diberi makan. Kondisi krisis pangan rumah tangga survailan menggunakan indikator yang valid. misalnya melalui pemberian makanan terjadinya peningkatan gizi buruk maupun tambahan (feeding). Pada kondisi krisis pangan rumah dilakukan dalam menanggulangi krisis di tingkat tangga tahap kedua dan ketiga. Kondisi krisis paket bantuan oleh pemerintah sudah sangat pangan dan gizi dapat ditetapkan dengan sistem diperlukan.000 dan 400.1 persen (Agustina. Setiawan.000 sebagai akibat dari krisis ekonomi apada tangga akan menjual aset produktif yang dimiliki akhir tahun 1980-an (Paxson and Schady. 152 PANGAN. penerimaan BLT tersebut bahkan mencapai sedangkan penanggulangan adalah lebih 44. maka intervensi berupa penggunaan skema SKPG. Program PMT yang terperosoknya rumah tangga dari status nyaris dilakukan oleh pemerintah saat ini dinilai kurang miskin menjadi miskin. pada tahap pertama memerlukan bantuan sensitif.8 juta kematian dengan mencari pekerjaan sampingan.

pen- baik di pusat maupun di daerah. Karena itu. Suatu daerah kejadian saat bencana alam dimana kondisi dapat dikatakan rawan pangan jika banyak kekurangan pangan terjadi dengan masif dan penduduk mengalami kekurangan pangan. Model SKPG bukanlah Rawan gizi ialah suatu keadaan dimana banyak model yang baru. sehingga pada akhir bila kesempatan kerja menjadi sangat terbatas kegiatan. Proses pada waktu tertentu (kronis) atau dapat terjadi tersebut menggambarkan urutan kejadian akibat keadaan darurat seperti bencana alam yang dapat menjadi sebab timbulnya rawan maupun sosial (transien). beberapa peristiwa tertentu dari makanan pokok. Kejadian protein seperti telur dan susu. PMT dapat menahan laju anemia ibu sebagai akibat kegagalan panen. bihun dan banyak dan terdapat kesempatan kerja yang susu menunjukkan hasil yang positif. maka hamil 30 persen. 2005) dalam rawan pangan. Tingkat kesehatan yang gizi dapat dilihat pada Gambar 2. Produk cukup luas. sekalipun persediaan tersebut didesain sesuai dengan kebutuhan gizi pangan di pasar masih cukup banyak tetapi dan preferensi sasaran. karakteristik rumah tangga dan mengakibatkan tingkat konsumsi makanan yang pola konsumsi pangan setempat. atau situasi sosial maupun ekonomi. 2009). penyelamatan yang tepat adalah apabila Dalam keadaan yang demikian. sudah dikenal oleh masyarakat pemangku kepentingan pangan. dan selanjutnya mempengaruhi terhadap situasi pangan dan gizi masyarakat pula konsumsi. Program bantuan pangan untuk skenario setan yang tidak memiliki ujung pangkalnya. Jika hal tersebut terus III. Berakar dari kondisi kemiskinan. gizi dan kesehatan.. Pada dasarnya pangan dan gizi. masyarakat atau rumah tangga yang dan Gizi (SKPG) menyebutkan proses tingkat ketersediaan pangannya tidak cukup terjadinya rawan pangan dimulai dari untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis kegagalan produksi pangan. kekurangan pangan. tingkat Kabupaten/Kota dengan kegiatan pengamatan pendapatannya. Kerawanan masyarakat dan rumah tangga. sehingga taraf kesehatan dalam penangangan masalah pangan dan umumnya juga rendah. pada waktu serentak. sekuensi proses terjadinya bagian akhir dari serangkaian peristiwa yang kerawanan pangan tidak selalu linear. dan akhirnya pangan dapat terjadi secara berulang-ulang akan menyebabkan kekurangan gizi. misalnya terjadi melalui berbagai proses perubahan terjadinya kemiskinan laten di perkotaan. Secara umum kerangka kerja SKPG tubuh yang rendah. infant disebut rawan pangan. sehingga program bantuan pangan WIC (women. tetapi juga ada sumber dapat terjadi pada waktu bersamaan. Sebaliknya. Namun demikian pada kondisi keadaan rawan pangan dan gizi merupakan masyarakat tertentu. dan protokol penanganan krisis pangan dan Hal ini selanjutnya berdampak pada daya tahan gizi. kejadian- mempertimbangkan kebutuhan fisiologis. Pengalaman kegagalan panen tidak selalu menimbulkan SEAFAST Center (Astawan dkk. and children) yang diterapkan di USA adalah Sebelum dinyatakan sebagai kondisi paket bantuan pangan yang tidak hanya terdiri rawan pangan. kalau persediaan pangan menyelengarakan PMT untuk ibu hamil adalah di pasar dan pada keluarga masih cukup dengan paket bantuan berupa biskuit. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . yang diikuti bagi pertumbuhan dan kesehatan bagi sebagian dengan menurunnya perrsediaan pangan di besar masyarakat (Sandjaja. Kerawanan pangan adalah situasi di Konsep Sistem Kewaspadaan Pangan daerah. duduk di daerah rawan tersebut memiliki model ini bisa digunakan sebagai kerangka kualitas konsumsi makanan yang rendah dasar dalam rangka pengembangan program sehingga asupan zat gizinya menjadi rendah. Purwiyatno Hariyadi. kejadian yang timbul secara berurutan dapat tahapan krisis. meningkatkan berat kehamilan akan berakibat banyak penduduk menderita dan menekan kejadian berat lahir rendah. Misalnya menurun pada banyak penduduk. dan karena itu secara relatif penduduk mengalami kekurangan gizi. Hal ini merupakan lingkaran secara teratur dan terus menerus yang Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 153 Dodik Briawan. SKEMA PENANGANAN KRISIS PANGAN berkelanjutan dapat mengarah pada situasi DAN GIZI kelaparan dan kekurangan gizi yang berat. Pelaksana tidak baik secara tidak langsung juga berdampak SKPG adalah Pemerintah Daerah (Pemda) pada produktivitas kerja yang menurun.

Pada awalnya tiga indikator utama. Pada tahapan ini. Klasifikasi Penanganan Krisis Untuk mencegah terjadinya kejadian rawan Pangan dan Gizi Menurut Kerangka pangan dan gizi perlu dilakukan pengamatan Kerja yang Dikembangkan oleh dan kajian setiap indikator yang digunakan SKPG (Depkes. kebutuhan pangan. 2009). Indikator bertujuan untuk menyediakan informasi bagi tersebut ada yang digunakan untuk panduan penentuan kebijakan. yaitu: SKPG dikembangkan oleh Kementerian Pertama. Pencegahan pada tahap ini merupakan pencegahan yang sangat dini sebelum terjadinya penurunan persediaan pangan di masyarakat. Analisis situasi pangan dan gizi masalah pangan dan gizi. 2 Juni 2015 : 149-166 . maka selain bantuan penanggulangan juga diperlukan bantuan kepada keluarga sasaran melalui protokol penyelamatan (kuratif). intervensi (protokol) penanggulangan yang efektif dapat mencegah terjadinya kerawanan pangan di masyarakat yang semakin memburuk. sesuai dengan urutan kejadiannya. 24 No. indikator pertanian meliputi produksi Kesehatan dan saat ini dilanjutkan oleh BBKP beras dan produksi setara beras yang dijadikan dengan tujuan utama untuk memantau keadaan sebagai ratio perimbangan produksi dengan pangan dan gizi di masyarakat. Rasio ketersediaan produksi Gambar 3. Sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 2. Vol. kegagalan produksi atau krisis ekonomi dapat mengakibatkan pendapatan masyarakat menurun yang pada saatnya akan menyebabkan ketersediaan pangan di masyarakat menjadi terbatas. Apabila kondisi berlanjut sampai terjadi krisis pangan. Gambar 2. Matriks Tiga Indikator SKPG (Sumber: BKP. 2007b) 154 PANGAN. perencanaan program kapan tindakan preventif dan tindakan kuratif dan penetapan tindakan dalam penanganan harus dilakukan. Keberadaan SKPG menurut SKPG dilakukan dengan menggunakan sudah ada sejak tahun 1970-an.

teknis pelaksanaan • Skor 3 : KK miskin 42. indikator kemiskinan yang dinilai konstribusi dalam penyediaan informasi dini. daerah ditetapkan nampaknya terlalu tinggi artinya Pemda masih beresiko tinggi adalah jika persen keluarga belum akan melakukan tindakan intervensi miskin ≥ 63.95 (defisit). Skor dan Gizi 2006-2010 yang dikeluarkan oleh prevalensi Kekurangan Energi dan Protein Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. dan kemiskinan. indikator status gizi balita yang dinilai Dokumen Rencana Aksi Nasional Pangan dengan prevalensi gizi kurang pada balita.95 .41. daerah ditetapkan resiko tinggi jika Apabila dibandingkan dengan Keputusan prevalensi kurang energi-protein >20 persen.00 . Misalnya. Hal ini menyebabkan penerapan SKPG kategori hijau. persen Namun pada saat itu SKPG tidak memberikan Ketiga.1. Batas ini Dengan indikator kemiskinan. merah.20 mengalami krisis multi dimensi yang salah persen satunya adalan bermunculan kasus gizi buruk • Skor 4: wilayah dengan prevalensi >20 seperti yang diberitakan di media massa. (SKD-KLB Gizi).00 persen penggunaan titik batas atau cut-off point seperti Berdasarkan pada komposit ketiga yang disebutkan dalam buku panduan adalah indikator tersebut. dapat dikatakan bahwa (KLB-Gizi Buruk) adalah suatu kondisi apabila sebenarnya peta rawan pangan dan gizi terjadi lebih dari 1 persen kasus gizi buruk merupakan gabungan antara tiga peta. yaitu pangan. rawan (merah) adalah >20 persen.14 (surplus) pangan resiko tinggi. dengan persentase kepala keluarga (KK) miskin. 2007). yaitu peta disertai dengan meningkatnya faktor resiko Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 155 Dodik Briawan.95 (defisit) kerja SKPG. resiko sedang dan resiko • Skor 2 = apabila ratio > 1. maka skema krisis pangan dan gizi • Skor 3 = apabila ratio > 0.1 – 15 persen Pada tahun 1997 .1. peta rawan gizi.00 . penetapan • Skor 4 : KK miskin >63.62. kuning.20. dikembangkanlah matriks tidak bersifat baku atau permanen.99 persen penyebabkan tidak berfungsinya SKPG dengan • Skor 2 : KK miskin 21.14 rendah dan aman. Hal ini juga sesuai dengan Kedua.00 . Purwiyatno Hariyadi. Tidak semua daerah sudah menerapkan SKPG Persentase KK miskin dengan skor: ini sebagai bagian dari instrumen pembangunan ketahanan pangan. Banyak faktor yang menjadi • Skor 1 : KK miskin 0. Dengan indikator pada saat KEP masih kurang dari 20 persen. dan hitam. (KEP) : yang menetapkan “Revitalisasi SKPG untuk meningkatkan ketersediaan data pangan dan • Skor 1: wilayah dengan prevalensi <10 gizi di daerah” salah satu rencana aksi strategis persen (Bappenas.99 persen dan kelembagaan. Menteri Kesehatan Nomor: 1116/Menkes/SK/ VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemantuan SKPG melalui peta rawan Surveilans Epidemiologi Kesehatan batas pangan dan gizi di tingkat kabupaten/kota dapat tersebut terlalu besar. Menkes ini adalah penyelenggaraan Sistem masing kecamatan dan dapat ditinjau dari tiga Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa Gizi aspek. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . kesehatan. baik dari aspek konsep. gizi.00 persen. suatu daerah ditetapkan sebagai resiko tinggi apabila rasio produksi dan Penetapan titik batas KEP pada daerah kebutuhan pangan (setara padi) ≤ 0.1998 Indonesia • Skor 3: wilayah dengan prevalensi 15. indikator pertanian. kebutuhan beras dengan skor : Pemetaan menghasilkan gambaran lokasi rawan pangan dan gizi dengan kategori wilayah rawan • Skor 1 = apabila ratio > 1. yaitu daerah. dan peta kemiskinan. Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk Dengan demikian. artinya dapat SKPG yang akan membagi kondisi kerawanan disesuaikan dengan kondisi masing-masing gizi dalam empat (4) kategori (Gambar 3).00 .1 .99 persen baik.00 (cukup) dapat dikembangkan mengacu pada kerangka • Skor 4 = apabila ratio ≤ 0. terutama jika titik batas Pada SKPG dengan menggunakan tersebut berbeda antar daerah. Salah satu sasaran SK menggambarkan tingkat kerawanan masing. Berdasarkan pertimbangan (swasembada) diatas. • Skor 2: wilayah dengan prevalensi 10. tidak bisa dibandingkan hasilnya antara daerah satu dengan lainnya.(Produksi Setara Beras atau PSB) dibandingkan pangan.

KLB dinyatakan selesai SKPG untuk meningkatkan ketersediaan data apabila penderita gizi buruk sudah ditanggulangi pangan dan gizi di daerah sangat penting. dalam studi ini disarankan bahwa klinis. Dengan menggunakan Dinas Pertanian dinilai tidak efektif dalam kategori yang sudah ada (Gambar 3). Sementara pemetaan SKPG adalah menggunakan data gizi buruk didefinisikan sebagai keadaan kurang rutin dari masing-masing sub-sektor yang gizi tingkat berat pada anak-anak berdasarkan terkait. tetapi lebih merupakan pelaksanaan krisis pangan dan gizi penanganan sebagai proyek yang jalan jika tersedia dibedakan menjadi tiga kategori yaitu: wilayah anggaran. program “Revitalisasi SKPG” ditanggulangi. kasus baru lagi selama 3 bulan < 1 persen.(perubahan memburuknya pola konsumsi dan Indikator yang digunakan dalam penyakit) di suatu wilayah tertentu. P ENANGANAN DAMPAK KRISIS menggerakan sub-sektor (dinas/kantor) yang PANGAN DAN GIZI terkait untuk melaksanakan SKPG mulai dari Seperti telah disampaikan sebelumnya. skema penanganan dampak krisis pangan Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota dan gizi yang dikembangkan didasarkan pada dengan Ketua Pelaksana Harian Kepala kerangka kerja SKPG. pengumpulan. sebagaimana dinyatakan dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi harus benar-benar Kelemahan SKPG dari aspek kelembaga. Deklarasi KLB berupa kota) yang mempunyai peta rawan pangan desa tempat terjadinya KLB memerlukan yang secara sekuensial tersedia setiap tahun. Gradasi Situasi Kerawanan Pangan dan Gizi Serta Skema Penanganannya 156 PANGAN. Vol. Tantangan dalam kompilasi dan indeks perbandingan berat badan dan tinggi pengolahan data disebabkan karena Pemda badan (BB/TB) <-3SD dan atau ditemukan belum mempunyai staf teknis yang kompeten. Akibatnya. Secara umum tingkat sebagai kegiatan rutin. dengan BB/TB <-3SD atau melihat tanda-tanda Oleh karena itu. tanda-tanda klinis marasmus. (sesuai tata laksana gizi buruk). maka mengkoordinasikan sub-sektor dengan tingkat visualisasi situasi pangan dan gizi bersama eselon yang setara. Gambar 4. Konfirmasi dilakukan secepatnya setelah peran pemerintah dalam melakukan revitalisasi diterima laporan. kwashiorkor dan sehingga tidak semua daerah (kabupaten/ marasmus-kwashiorkor. dan faktor resiko Dengan kata lain. pengolahan dan intervensi. dilaksanakan secara berkelanjutan. 24 No. konfirmasi yang dilakukan oleh petugas. pelaksanaan dengan skema penanganannya dapat disajikan SKPG di beberapa daerah dilaksanakan bukan pada Gambar 4. an adalah masih belum jelasnya lembaga yang secara koordinatif dapat secara efektif IV. Hal Demikian pula sangat jarang intervensi (bantuan ini dilaporkan apabila terdapat kasus gizi penanggulangan atau penyelamatan) dilakukan buruk yaitu dengan mengidentifikasi status gizi oleh Pemda yang didasarkan atas peta SKPG. 2 Juni 2015 : 149-166 .

tanpa 4. Mandiri tahun 2008 hanya menyatakan bahwa Sedangkan pendidikan konsumen yang PNPM mandiri akan dilaksanakan minimal diberikan meliputi ketahanan pangan berbasis sampai 2015.8. Program intervensi PSD ini PNPM mandiri menekankan usulan program umum berupa upaya pemberdayaan ekonomi pemberdayaan dari suatu kelompok masyarakat masyarakat. dan Seperti telah disajikan sebelumnya. merah). dan pendidikan gizi. yaitu sebagai program penanggulangan kemiskinan. Menteri yaitu peningkatan kesejahteraan dan pendidikan koordinator kesejahteraan masyarakat dalam konsumen. eksplisit bahwa PNPM mandiri adalah program bantuan pangan dan pemberdayaan ekonomi pemberdayaan berdasarkan skema program masyarakat. PNPM ketahanan pangan. sasaran Penanggulangan Dini (PD). PNPM Mandiri dilaksanakan Banyak data menunjukkan bahwa peningkatan dibawah kendali kementerian koordinator kesejahteraan rumah tinggi tidak serta merta bidang kesejahteraan masyarakat.12. dan (PNPM Mandiri). Secara sepintas PNPM mandiri tampak 4. Purwiyatno Hariyadi. merah) untuk mencegah jangan masyarakat mapan/kaya. Hal ini terlihat dari belum adanya masih mampu melaksanakan kegiatan ekonomi komitmen nyata pemerintah untuk menyatakan produktif.risiko tinggi (skor 9-12. risiko rendah (skor <6. Sedangkan penanggulangan dini disuatu wilayah tertentu. kuning). wilayah risiko penanggulangan kemiskinan dari “skema sedang (skor 6 . Pada tahun 2009. Dalam rangka pemanfaatan PNPM berbagai program pengentasan kemiskinan mandiri sebagai instrumen penanggulangan tersebut mulai disatukan dan dikoordinasikan dampak krisis. Rumah pemerintah yang perlu dilakukan pada wilayah tangga yang rentan terhadap dampak krisis risiko rendah (skor <6. pemberdayaan akan tetap ada termasuk di Sampai dengan tahun 2007 ada sekitar negara maju dengan tingkat pendapatan 53 program pengentasan kemiskinan di sekitar perkapita yang tinggi sekalipun. Program Penanggulangan menjadi program ideal penanggulangan kemiskinan secara terpadu. Mulai tahun 2007. keamanan pangan. Penanggulangan utama dari suatu program penanganan krisis sangat dini (PSD) adalah upaya intervensi adalah pada tingkatan rumah tangga. Kondisi ini dapat (PD) adalah upaya intervensi pemerintah yang menghambat pengentasan dan pemberdayaan perlu dilakukan pada wilayah risiko sedang (skor rumah tangga miskin yang berada di kelompok 6 .8. teknologi dan kearifan lokal. Sektor pendidikan konsumen yang tersebar di berbagai kementerian/ belum tersentuh dan diperhatikan secara serius. risiko sedang. lembaga tersebut. program ini belum secara khusus di bawah satu program utama yaitu Program memberikan perhatian terhadap pendidikan Nasional Pengembangan Masyarakat Mandiri masyarakat tentang gizi. tanpa 4. dan menghindari pendekatan proyek. Peningkatan kesejahteraan dicapai rapat koordinasi nasional pelaksanaan PNPM melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat. tangga miskin yang membutuhkan program keamanan pangan. Penanggulangan Sangat Dini (PSD). kuning). tanpa 4. hitam). hitam). 22 kementerian/lembaga. akan tetapi kesinambungan program ini masih perlu Untuk kelompok masyarakat miskin yang dipertanyakan. Akan tetapi terdapat Dengan menggunakan skema pada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki dalam Gambar 4. untuk bisa terdapat baik di wilayah yang miskin mencegah jangan sampai masuk ke wilayah ataupun suatu wilayah yang relatif kaya/mapan. Program intervensi PD yang disarankan Walaupun sudah dinyatakan secara adalah berupa program-program padat karya. maka program penanggulangan rangka meningkatkan efektivitas PNPM mandiri bisa dibedakan dalam dua kelompok. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . dampak krisis dapat dicegah atau bahwa program ini akan dilaksanakan secara ditanggulangi dengan melalui dua pendekatan terus menerus tanpa batas waktu.1. tanpa 4. PNPM meningkatkan status gizi rumah tangga mandiri ditujukan untuk merubah paradigma Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 157 Dodik Briawan. Dalam kenyataannya. rumah sumberdaya. Fokus utama PNPM masih mandiri diharapkan mulai berjalan efektif pada pemberdayaan masyarakat utamanya dari dalam mengkoordinasikan berbagai program sektor ekonomi. sampai masuk ke wilayah risiko tinggi (skor 9 . dan wilayah proyek” menjadi “skema program”.

dan aspek konsumsi (penganekaragaman Untuk wilayah risiko tinggi (skor 9 . dan untuk memberikan pendidikan gizi. 2 Juni 2015 : 149-166 . rangka mendorong pelaksanaan PNPM mandiri. Program Penyelamatan fisik dan ekonomi dan stabilisasi harga pangan). Oleh karena itu tenaga pendamping masyarakat desa. Sejauh Departemen Pertanian maka dukungan dari ini penggunaan dana CSR disesuaikan dengan departemen yang lain tidak bisa optimum. kelembagaan sasaran dan atau kelompoknya harus didorong dan budaya lokal di perdesaan. Oleh karena mendapatkan asupan gizi yang optimal. Dalam rangka pangan (proksidemapan). dengan menggunakan dana yang berasal dari Padahal kita ketahui bersama bahwa masalah APBN. Memperhatikan beberapa hal yang telah pemerintah perlu mengatur porsi minimum dijabarkan diatas maka program pemberdayaan pembelanjaan dana CSR untuk pemberdayaan masyarakat serta program program pen- masyarakat melalui PNPM Mandiri. Rumah tangga pendayagunaan sumberdaya. Program penyelamatan 158 PANGAN. Kementerian Pangan (BKP) Kementan. APBD dan dana masyarakat. Di samping itu. 24 No. Salah kerawanan/krisis pangan dapat terjadi baik di satu dana masyarakat yang ditargetkan untuk desa maupun di kota. Tujuan utama menjamin bahwa program pemberdayaan proksidemapan adalah untuk meningkatkan masyarakat ini mencapai sasaran masyarakat ketahanan pangan dan gizi (mengurangi maka rumah tangga harus didefinisikan sebagai kerawanan pangan dan gizi) masyarakat melalui sasaran utama program. karena pembiayaan program ini adalah dana corporate proksidemapan adalah merupakan kegiatan social responsibility (CSR) dari industri. Hal ini kebutuhan masyarakat sekitar industri dan juga teridentifikasi dari hasil survei pelaksanaan pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada proksidemapan di Kabupaten Sukabumi dan industi bersangkutan. dalam Situbondo. Peningkatan status gizi juga mandiri pangan tahun 2009). dan ketahanan pangan. keamanan meningkatkan aksesbilitas pangan masyarakat. pangan. Hal satu institusi untuk memudahkan kontrol dan ini terutama dilakukan oleh Badan Ketahanan menghindari tumpang tindih. PNPM mandiri dibiaya kelompok rawan pangan di perkotaan. yaitu upaya pangan (Pedoman umum program aksi desa penyelamatan. pangan). aspek distribusi (akses pangan secara 4. tujuan proksidemapan adalah untuk program permberdayaan yang paling sesuai meningkatkan kemandirian masyarakat.2.bersangkutan. dukungnya dalam rangka menanggulangi Sementara itu. terkait erat dengan pengetahuan tentang gizi Me n c e rma t i t u ju a n d a n s a s a r a n dan sumber gizi agar setiap rumah tangga dapat proksidemapan maka sangat jelas bahwa membelanjakan sumberdaya yang dimiliki- program penanganan pangan difokuskan nya secara tepat dan bijaksana dalam rangka pada masyarakat di perdesaan. Secara lebih dan difasilitasi untuk mengembangkan usulan khusus. kegiatan pemerintah dalam dampak krisis terhadap kerawanan pangan rangka mengatasi dampak krisis terhadap harus dilaksanakan secara kontinu dan kerawanan pangan lebih banyak dilakukan sebaiknya dilaksanakan di bawah kendali oleh Kementerian Pertanian (Kementan).upaya penanggulangan adalah rumah tangga miskin di desa rawan perlu dilakukan tindakan ekstra.12. Salah satu program koordinator bidang kesejahteraan masyarakat andalan Badan Ketahanan Pangan Kementerian dinilai merupakan institusi yang tepat untuk Pertanian adalah program aksi desa mandiri mengendalikan program ini. konsumsi pangan). Oleh karena itu. Sasaran dari proksidemapan hitam) selain upaya . dengan kebutuhan dan kemampuan yang meningkatkan peran dan fungsi kelembagaan dimiliki. Pendanaan Proksidemapan dilaksanakan dalam rangka program pemberdayaan ini melibatkan baik dana memperkuat sistem ketahanan pangan secara pemerintah dalam bentuk APBN dan APBD dan keseluruhan mulai dari aspek ketersedian (dalam juga dana masyarakat. mengembangkan sistem harus disediakan oleh pemerintah yang ketahanan pangan masyarakat desa. misalnya berupa dana bentuk peningkatan produksi dan cadangan CSR yang harus ditetapkan secara jelas. itu proksidemapan ini tidak akan menjangkau Dari sisi pendanaan. sekaligus juga dapat di optimalkan perannya meningkatkan pendapatan masyarakat. Vol.

dengan tujuan utama mencegah dasar berupa pangan pokok. buruk atau gizi kurang dan membawanya ke Kebijakan subsidi BBM tersebut juga disinergi- kondisi sehat sehingga mampu melaksanakan kan dengan program PNPM. Namun. Program for Women. Dan secara JPS. dan pelayanan kesehatan gizi dalam rangka meningkatkan perilaku makan dasar. dibarengi dengan program pemberdayaan Pada kondisi peta SKPG hitam maka untuk menggerakan perekonomian masyarakat program penanggulangan akibat krisis dapat sehingga mereka mampu menolong dirinya dilakukan melalui dua pendekatan yang sendiri dan menanggulangi dampak krisis secara dilakukan secara serentak. akan membuat keluarga tersebut dapat mandiri. Selain itu dari pemberian makanan tambahan (PMT). untuk anak balita normal dan ibu hamil pada sereal. Karena alasan itulah maka bantuan untuk termasuk didalamnya mampu memenuhi keluarga miskin sebaiknya tetap menyertakan kebutuhan dasar lainnya. Program WIC terdiri paket makanan tambahan (PMT). Peserta program WIC setiap bulan anak. Program Pemerintah untuk kebutuhan dasar pangan. and Children”. Program penyelamatan dilaksanakan safety net). Dengan alasan inilah maka rakyatnya yang miskin. Pengalihan subsidi BBM tersebut secara cepat/responsif dan meminimalkan berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT). Program penyelamatan ini berupa program Program WIC ditetapkan resmi Pemerintah AS bantuan pangan yang sesuai dengan kebutuhan tahun 1972. sehingga aspek aktifitas ekonomi produktif. ibu menyusui. Namun demikian. yaitu anak di antaranya berupa bantuan pangan bagi balita dan ibu hamil. Perlu disadari bahwa pada saat krisis. peanut butter. Purwiyatno Hariyadi. yaitu ibu hamil dan anak balita. pembe- kerumitan birokrasi. bantuan dan pemberdayaan berjalan bersa- program penyelamatan tersebut perlu maan. Infants. bahwa situasi kekurangan pangan dan gizi Namun jika dibandingkan dengan negara maju pada keluarga miskin juga akan berdampak sekalipun. gizi buruk pada keluarga berpenghasilan minyak goreng dan garam beryodium. telur. BLT atau yang lainnya berupa uang (cash) bersamaan dengan pemberdayaan ekonomi dikritik tidak bersifat mendidik masyarakat. sehingga tidak pemberian bantuan (social protection). yang yang disertai dengan penyakit penyerta. Program WIC tersebut sampai saat ini yang sehat. subsidi beras. khususnya PROGRAM gizi di AS dikenal dengan untuk individu (anggota keluarga) berisiko tinggi nama program WIC atau “Supplemental Food kurang gizi. peserta program juga memperoleh pendidikan pendidikan gizi. seperti akan terperosok pada gizi buruk. Kelompok sasaran program WIC Untuk keluarga yang mempunyai anggota adalah wanita hamil. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . terutama jika kekurangan gizi tersebut lama melaksanakan program social security terjadi pada anggota individu rawan. PMT terdiri dari susu. PMT untuk pemulihan mempunyai masih ada. mengingat program pemberdayaan perokonomian.terutama ditujukan pada rumah tangga yang Bakar Minyak (PKPS-BBM) dilakukan dalam sangat miskin dan atau didalamnya terdapat bentuk kompensasi yang bersifat khusus (cash kelompok rawan pangan dan gizi (ibu hamil dan program) atau jaring pengaman sosial (social balita). Program ini dirancang agar keluarga miskin tidak terperosok ke dalam agar keluarga miskin masih dapat memenuhi keadaan gizi buruk. namun jumlah dan cara gram Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan pengolahannya harus disesuaikan dengan Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 159 Dodik Briawan. sari buah. minyak goreng dan gula. dan anak ibu hamil dan atau anak balita memperoleh balita dari keluarga miskin. PMT ini diberikan terutama pada anak menerima kupon yang dapat ditukarkan di toko yang mengalami gizi buruk atau gizi kurang swalayan terdekat berupa paket makanan. langsung pangan dan pemberdayaan per- program bantuan pangan sangat diperlukan ekonomian masyarakat. Program ini ditujukan untuk basan biaya pendidikan. protein hewani. misalnya Pemerintah USA sudah panjang. pengobatan keluarga mengangkat kelompok rawan dari kondisi gizi miskin. prinsipnya adalah berasal dari bahan makanan Kebijakan Pemerintah dalam rangka Pro. perlu ada upaya penyelamatan. rendah. yaitu bantuan mandiri. dan dari hasil evaluasi manfaatnya formula khusus untuk memenuhi persyaratan sangat besar dirasakan oleh warga AS yang kebutuhan gizi dan kemampuan pencernaan miskin. yang tersedia di pasar.

protokol/SOP administrasi kependudukan struktural RT/ yang disarankan adalah lebih menekankan RW. tangga miskin sasaran. Pada saat ini cakupan Kegiatan Penyelamatan. Kabupaten Bogor dan Pusat melibatkan berbagai komponen masyarakat: Pengembangan Gizi dan Makanan. Karena itulah maka kajian ini menyarankan dilakukannya Ketiga. mencakup jumlah balita. Kedua. skema penanganan gizi pendataan. masih dapat menggunakan bahan makanan lokal diperlukan pula tambahan identifikasi rumah (Hariyadi. 2010) dan dapat disesuaikan masing. Langkah-langkah intervensi yang perlu Secara khusus. dan Puskesmas (Rumah Sakit)(Sumber: Depkes. dapat diperlihatkan pada skema gizi buruk. buruk adalah melalui Posyandu. Skema Penangan Gizi Buruk serta keterkaitannya dengan Posyandu. Demikian pula diperlukan cara identifikasi protokol pemberian makanan tambahan (PMT) yang lain. maka penanganan lembaga kesehatan seperti puskesmas. Oleh Selanjutnya. 2005).sasaran. Vol. dengan mengacu perkotaan yang disinyalir jarang datang ke panduan yang telah dikembangkan oleh Posyandu. 2 Juni 2015 : 149-166 . 2008b) 160 PANGAN. Analisis data. dan September atau bulan imunisasi). dkk. bidan kasus gizi buruk memerlukan tindakan yang desa dan kader posyandu bersama unsur cepat melibatkan perlakuan medis yang tepat masyarakat lainnya bersepakat melakukan pula. 24 No.. perlu dicari kesepakatan rencana Gambar 5. Secara umum. yaitu pada rumah tangga miskin di untuk rumah tangga rawan. pendapat perlu dilakukan oleh semua unsur 80 persen. selain revitalisasi Posyandu. Pada kajian ini. PPG. Perumusan Masalah dan Penetapan revitalisasi Posyandu. Kementerian Pertama. Dalam hal ini Kesehatan RI di Bogor. serta buruk. Gambar 5. Untuk itu pemberian PMT tersebut karena itu. Mengacu pada pengalaman karakteristik daerah masing-masing dan di Kota Bogor. Diskusi dan tukar kedatangan ke Posyandu mencapai sekitar 60. misalnya melalui jalur masing daerah. Pengumpulan data. SEAFAST Center (Astawan. Data yang telah diperoleh Pengalaman Dinas Kesehatan Kabupaten selanjutnya dianalisis dengan indikator dan Kota Bogor dalam mengidentifikasi persentase jumlah balita status gizi baik. sebagai bagian dari sistem SKPG secara jumlah balita yang menderita gizi kurang dan keseluruhan. gizi keluarga yang mempunyai anak balita gizi kurang dan gizi buruk. program penyelamatan dilakukan dalam rangka penanggulangan untuk bayi dan balita gizi buruk perlu didesain gizi buruk bisa dikembangkan sesuai dengan secara khusus. Cakupan kedatangan ke Posyandu masyarakat untuk memberikan pemahaman akan mengalami peningkatan terutama pada tentang arti penting dan siginifikansi saat bulan penimbangan balita (Februari permasalahan pangan dan gizi yang ada.

Tenaga kesehatan dari Puskesmas – dilakukan melalui: (i) tingkat wilayah. Selain itu. Indikator ekonomi berdasarkan sumber ditunjukkan pada Gambar 5. dan (v) Keluarga Pra-KS dan KS I termasuk pemilihan jenis pangan.3. menderita gizi buruk. bentuk wilayah masing-masing berdasarkan berbagai bantuan yang akan diberikan untuk balita yang kategori yang berkaitan dengan keadaan sosial. Batasan terhadap kelompok Ketiga. Secara skematis kelamin dari kepala rumah tangga mekanisme umum penanganan gizi buruk ini Kedua. perumahan dan dimana prioritas perlu diberikan pada daerah keikutsertaan dalam kegiatan masyarakat. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . yaitu yang banyak mengalami kesulitan dalam (i) tingkat pendidikan kepala rumah tangga. dan (iii) jenis menderita gizi buruk baru. Karakteristik demografi rumah tangga. termasuk apakah makanan sesuai dengan kebutuhannya. penetapan pengelola ekonomi. pemerintah mempunyai peta kerawanan di dan penyumbang dana intervensi. (iv) Sejahtera III (KS III) Sejahtera III+ protokol umum pelaksanaan penyelamatan (KS II+). unit keluarga sebagai penentu kesejahteraan dengan menggunakan 22 indikator. dan menu dikategorikan sebagai keluarga miskin. Pada tingkat wilayah pengatahuan dan keterampilan untuk bisa penetapan daerah sasaran didasarkan pada melakukan fungsinya sebagai mediator sistem kewaspadaan yang sudah dilakukan oleh mengarahkan kelompok masyarakat selama pemerintah. termasuk pelatihan kader Posyandu. Implementasi kegiat- dikategorikan menjadi 5 yaitu: (i) Pra-Sejahtera an dilakukan oleh segenap unsur masyarakat. politik. Purwiyatno Hariyadi. Monitoring dan Evaluasi. makanan tersebut sudah diterima dan betul.juga bisa dibekali dengan berbagai tingkat rumah tangga. (iii) Sejahtera II sesuai dengan kesepakatan dan pedoman dan (KS II). perlu dilakukan upaya Tahapan yang dapat diambil untuk capacity building dalam bidang pangan dan menentukan sasaran dari program gizi. buta huruf. Indikator sosial. (iv) pemilikan ternak. keamanan termasuk situasi keuangan dan penetapan teknis pemberian pangan dan gizi masyarakat. yaitu (i) besar rumah tangga (jumlah anggota betul dikonsumsi oleh balita gizi buruk dan Ibu rumah tangga). yang terdiri dari (i) sumber 4. dan (v) pemilikan dan penyelamatan) krisis pangan dan gizi alat-alat tangkap (untuk nelayan). Pada tingkat rumah tangga untuk menentukan kelompok sasaran untuk program Kelima. yang Keempat. dan penanggulangan dan penyelamatan dapat lain-lain. kesehatan. (ii) rasio ketergantungan. (ii) jumlah Penanganan anggota rumah tangga yang mempunyai pekerjaan berupah. pendapatan. ditujukan kepada kelompok rawan yang ada di masyarakat. (iii) pemilikan lahan Protokol penanganan (penanggulangan pertanian. (ii) penyediaan dan distribusi pangan. yaitu hamil. menerbitkan Panduan Umum Capacity Building SKPG yang mengandung unsur pendidikan Tahun 1990-an BKKBN menggunakan pangan dan gizi pada masyarakat. bantuan. sehingga jumlah anggota rumah tangga dewasa yang mengurangi akses pangan oleh rumah tangga. (Pra-KS). rawan dapat dilakukan pada tingkat wilayah.kegiatan penyelamatan termasuk sumber dana gizi. Implementasi. Raharto dan Romdiati dalam Prosiding dengan kesepakatan bertugas melakukan WNPG VII (2004) misalnya menyebutkan monitoring terhadap makanan tambahan yang kelompok rumah tangga miskin berdasarkan: dikomsumsi oleh balita. apakah Pertama. Puskesmas intervensi sebaiknya memperhatikan beberapa atau kelompok kerja yang ditunjuk sesuai indikator. Sasaran Rumah Tangga Untuk Program pendapatan tetap rumah tangga. Selanjutnya dilakukan pula pemantauan rasio anggota rumah tangga yang berusia berat badan balita mingguan dan bulanan serta kurang dari 15 dan 65 tahun keatas terhadap melakukan pendataan apabila ada balita yang mereka yang berusia 15-64 tahun. sesuai dengan status kesehatan dan gizi penderita gizi buruk dan ibu hamil. (ii) Sejahtera I (KS I). sesuai proses diskusi. termasuk pendidikan. dan (ii) misalnya. (iii) jumlah anak usia sekolah yang Dengan menggunakan peta situasi pangan dan sedang/terdaftar di sekolah dan yang tidak Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 161 Dodik Briawan. Kementerian Kesehatan telah dengan tingkat kapasitas daerah. misalnya SKPG atau FIA. kebiasaan makan.

(iv) tidak adanya fasilitas tempat buang bakar yang digunakan untuk memasak. anak balita memenuhi 4 . (vi) penerangan yang digunakan untuk bepergian. (ix) tidak mampu membeli daging/ayam/susu sekali dalam Di samping indikator-indikator tersebut. buruh (upah per bulan kurang dari anak balita di dalam rumah tangga yang upah minimum propinsi). jumlah aset yang dijual.12 indikator. Keempat belas indikator ini yang digunakan Pemerintah Indonesia dalam rangka oleh BPS untuk melakukan pandataan jumlah keluarga miskin di Indonesia. (v) sumber air minum bukan air bersih sumber penerangan utama.8 indikator. 2 Juni 2015 : 149-166 . dan (v) jumlah anggota Berdasarkan indikator tersebut rumah tangga yang sedang mencari pekerjaan keluarga dikelompokkan menjadi empat kategori. anak usia sekolah yang masih jika memenuhi 9 . penghasilan tambahan. sepeda motor tangga yang melakukan lebih dari satu macam atau barang modal lainnya) senilai Rp 500. yaitu: setelah krisis (transitory poverty). kesehatan 162 PANGAN. yang rencananya akan atau rumah tangga sangat miskin dan miskin. Kategori tersebut didasarkan pada Rumah tangga miskin merupakan korban jumlah komponen indikator yang memenuhi pertama dari adanya krisis. 2007). ”jimpitan” di Jawa Tengah). Penyaluran Pebruari 2009 menyatakan bahwa BPS telah BLT plus ditujukan bagi rumah tangga miskin. (iii) jumlah anggota rumah berharga (misalnya emas. (ix) jenis bahan rendah. ternak. (iv) jumlah jam kerja kepala rumah tangga. Soemardjan yakni berupa bantuan dana tunai dan pangan. (x) tidak mampu membeli pakaian beberapa indikator kemiskinan yang berasal baru bagi setiap ART satu kali dalam setahun. (ii) sumber air minum. keterlibatan wanita sangat miskin jika memenuhi 13 . (v) kebiasaan makan (berapa kali untuk Pendataan BLT tahun 2008 adalah (i) anggota rumah tangga makan dalam sehari).14 indikator. (xi) jumlah pakaian (seperti mata air tidak terlindungi.000 pekerjaan sebagai upaya untuk mendapatkan (upah minimum propinsi). melakukan tugas dengan benar. dalam satu hari kurang dari dua kali. dan (xii) keikutsertaan dalam bukan listrik. nelayan. Sehingga (i) Keluarga tidak miskin jika hanya memenuhi LIPI merekomendasikan penggunaan indikator 0-3 indikator. tersebut adalah untuk pangan. Indikator tersebut diantaranya adalah (i) jumlah pekebun. Namun demikian persyaratan untuk menunjukkan tingkat munculnya kemiskinan baru dapat terjadi keparahan kemiskinan suatu keluarga. seperti utama bantuan yang diutamakan untuk keluarga yang selama ini sudah berlangsung. (iii) Keluarga miskin kurang gizi. dan (xiv) tidak memiliki aset/barang tidak bersekolah. (ii) keluarga hampir miskin jika pelengkap seperti konsumsi pangan. rumah tangga petani penggarap. 24 No. seminggu. sedangkan bantuan Tahapan prioritas bantuan adalah: (i) Prioritas dana tunai disalurkan melalui kantor pos. (vi) luas lantai per anggota keluarga < 8 m2. (BBM) diantaranya adalah Bantuan Langsung Namun putusan PN Jakarta Pusat tanggal 19 Tunai (BLT) (Bappenas. (xiii) pendidikan kepala mengalami kekurangan gizi. Dalam mempertahankan kesejahteraan masyarakat pelaksanaannya pengunaan data ini pernah yang berpenghasilan rendah terutama digugat oleh Serikat Rakyat Miskin Indonesia masyarakat miskin melalui program (SRMI) yang mengatakan indikator tersebut tidak kompensasi kenaikan bahan bakar minyak mewakili kondisi keluarga miskin di Indonesia. (iv) perilaku kesehatan Kriteria kemiskinan (variabel non-moneter) keluarga. (xi) dari beberapa hasil kajian yang berkaitan tidak mampu berobat ke poliklinik/puskesmas dengan dampak krisis perlu dipertimbangkan jika ART sakit. (1998) menyarankan skema bantuan akibat Bantuan pangan diantaranya terdiri dari minyak berbagai krisis ditujukan kepada keluarga goreng dan gula. (vii) kondisi rumah (kondisi jenis lantai rumah tanah/papan/kualitas rendah. (x) air besar. (viii) pemilikan (iii) jenis dinding rumah bumbu/papan kualitas barang-barang rumah tangga. (xii) lapangan pekerjaan kepala dalam menentukan rumah tangga miskin. (vii) bahan bakar yang digunakan kegiatan masyarakat (seperti ”perelek” di Jawa dari kayu bakar/arang. fisik rumah secara umum). dan (iv) Keluarga sekolah atau tidak sekolah. (ii) jumlah anak rumah tangga tidak pernah sekolah/tidak tamat usia sekolah SD di dalam rumah tangga tetapi SD/MI. dalam aktivitas ekonomi.terdaftar di sekolah. air sungai atau anggota rumah tangga yang dapat dipakai tadah hujan). disalurkan melalui RT/RW. (viii) frekuensi makan Barat. Vol.

dan air. baik di desa mental. sehingga nantinya akan terlahir sebagai bayi Sedangkan untuk bayi/anak perempuan gagal yang sehat dan sempurna secara fisik dan tumbuh pada usia enam bulan. misalnya untuk buruk akan berdampak terhadap pertumbuhan jajan. Prioritas keempat dianjurkan hidup berhemat di Balita dengan status gizi kurang maupun rumah tangga dan masyarakat.3 anggota keluarga rawan tersebut (balita dan ibu tahun merupakan tahap penting perkembangan hamil). dan (iv) yang sulit diputus (”Lingkaran Setan”). Kesimpulan tidak mencapai maksimal. mineral. (ii) Kurang Energi dan Protein (KEP) dan Anemia Prioritas selanjutnya bantuan pemerintah untuk Gizi Besi (AGB). Bahkan secara Pertama. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . pemakaian listrik. terhadap ibu hamil terutama pada ibu hamil Anemia adalah salah satu dari empat masalah keluarga miskin.1. Purwiyatno Hariyadi. energi. Berbagai kajian telepon. untuk mengantisipasi kejadian rawan ekonomi balita yang mengalami kurang gizi. peneliti menganggap 40 – 50 persen ibu hamil. Riwayat gizi kurang dan gizi buruk kurang Wanita hamil memerlukan minimal tambahan lebih dipengaruhi oleh status gizi ibu sebelum asupan energi sebesar 300 kkal per hari dan dan pada saat hamil. Jika terjadi masalah kekurangan gizi pada masa ini maka perkembangan otak 4. Kondisi ibu hamil yang benar-benar laki gagalnya pertumbuhan mulai terjadi pada sehat sangat diperlukan bagi pertumbuhan umur kurang dari tiga bulan baik bayi dan balita dan perkembangan janin dalam kandungan. serta mempunyai kelahiran bayi prematur dan Berat Bayi Lahir anak balita dan atau ibu hamil. kelompok ibu hamil merupakan kelompok tidak 100 persen sehat atau mengalami kurang rawan gizi yang harus dipantau keadaannya gizi dapat mengakibatkan komplikasi pada janin agar siklus gizi buruk dapat diputus. protein. bantuan penyelamatan sangat diperlukan oleh Masa balita khususnya pada usia 0 . Kelompok khusus tersebut adalah rumah pada ibu hamil dapat menyebabkan pendarahan tangga yang memenuhi 14 indikator yang sudah sebelum dan pada saat melahirkan.dan anak (untuk pangan dan pendidikan). dikembangkan oleh BPS. gizi utama di Indonesia yang dialami oleh sekitar Secara khusus. Selain itu. Salah satu maupun ibu hamil. dan mineral pun meningkat. akan melahirkan anak gizi kurang/buruk. penggunaan dan perkembangannya. upaya yang dapat dilakukan adalah dengan Kurang gizi pada ibu hamil akan berdampak melakukan pemberian makanan tambahan pada perkembangan janin dalam kandungannya. karbohidrat. Selama kehamilan kebutuhan asupan maupun kota. gizi yang cukup agar perkembangan otak anak IV. akan kehilangan potensi menyediakan proyek padat karya terutama ketika mencapai usia produktif. dapat terpenuhi pada masa “golden age” atau Ibu hamil dan anak balita merupakan dua masa pertumbuhan pesat maka akan mengalami anggota keluarga yang paling rawan terkena gangguan dan kegagalan pertumbuhan otak dan dampak krisis. keguguran. Ibu dengan gizi kurang harus mengandung protein. anemia segera. Jika kondisi ibu hamil itu. (iii) berkaitan erat dengan tingkat produkifitas dan Prioritas ketiga penyuluhan kepada rumah kualitas hidup individu yang mengalami masalah tangga untuk menggunakan sumberdaya alam kurang gizi serta menjadi sebuah ”mata rantai” dan sosial dari lingkungan terdekat. laki-laki yang terdapat di desa maupun di kota. Hal ini tentunya yang bersifat produktif dan berkelanjutan. mempunyai dampak jangka panjang yang Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Atmarita serius apabila mengalami kekurangan pangan/ pada tahun 2005 bahwa pada bayi/anak laki- gizi. KESIMPULAN dapat optimal. lemak. Tahap ini membutuhkan asupan permanen dan meluas di masa mendatang. Intervensi berupa Rendah (BBLR < 2500 gram). membeli koran menunjukkan bahwa jika asupan zat gizi tidak dan seterusnya. kebiasaan merokok. piknik. pangan di suatu daerah perlu ditentukan Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 163 Dodik Briawan. agar terhindar dari konsekuensi yang otak manusia. Anemia berdampak bahwa perlu untuk memberikan fokus khusus buruk pada peningkatan angka kematian ibu pada kelompok rumah tangga rawan yang perlu dan bayi serta penurunan produktivitas kerja mendapatkan upaya penyelamatan dengan dan kemampuan belajar. Selain itu kelompok tersebut terganggunga sistem perkembangan tubuhnya. Untuk vitamin.

Kesembilan. Tenaga pendamping sekaligus ber- 164 PANGAN. Sehingga guna membantu penanganan melalui protokol skema bantuan lebih diarahkan pada usaha penyelamatan maupun penangulangan. upaya penanggulangan lebih Jika daerah tersebut dinyatakan krisis. 2 Juni 2015 : 149-166 . melalui program (surveillances) menggunakan indikator yang Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK).lembaga yang berwenang menetapkan suatu dan ibu hamil. kriteria yang dapat tetapi juga dari swasta melalui dana CSR digunakan sebagai isyarat dini adalah data mereka. dalam rangka meningkatkan Ketujuh. penanganan (penyelamatan dan penanggulang- Kedelapan. penetapan suatu daerah menjadi rawan pedesaan dan pertanian. dibawah kementerian koordinator kesejahteraan 4. yaitu : (i) harus mendapatkan bantuan dalam program Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). untuk meningkatkan efektifitas yang diperoleh dari Posyandu. 24 No. terutama dengan pangan dan gizi. proses pengusulan program pe. daerah termasuk pada kategori kritis/tidak krisis. Saran rakyat. Vol. sistem penanganan dampak krisis kesejateraan masyarakat dapat diperluas pangan dan gizi yang pernah dikembangkan sehingga mempermudah pelaksanaan program yaitu Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi pemberdayaan dalam rangka menghadapi krisis (SKPG) dinilai telah memadai. Pertama. melakukan revitalisasi beberapa program Keenam. penyelamatan dan penanggulangan paling (ii) Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). pemerintah dalam bentuk APBD dan APBN. Untuk valid. wewenang koordinasi kementerian koordinator Kelima. secara struktuktural kementerian Keempat. tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu hamil Keempat.2. program oleh Pemerintah Daerah (Pemda). program penyelamatan dan pemberdayaan Program pemberdayaan harus dilaksanakan dalam rangka penanganan dampak krisis secara kontinu dan mencakup rumah tangga baik pangan dan gizi sebaiknya dikoordinasikan yang berada di pedesaan maupun perkotaan. program penyelamatan diprioritaskan tingkat partisipasi dari semua stakeholders secara khusus pada kelompok rawan yaitu pemberdayaan masyarakat maka pendanaan rumah tangga miskin yang memiliki anak program dapat berasal bukan hanya dari dibawah lima tahun (balita) dan atau ibu hamil. komponen isyarat dini (early warning) dan Kedua. dalam rangka menghindari tumpang gizi diarahkan untuk menggerakkan dan tindih dan mengefektifkan program maka meningkatkan perekonomian masyarakat. membawahi Kementerian Pertanian dan an) dampak krisis pangan dan gizi perlu dibuat Badan Ketahanan Pangan sebagai institusi secara sederhana akan tetapi efektif baik yang terkait erat dengan masalah kerawanan dalam pencapaian tujuan maupun menghindari pangan. Untuk wilayah Kedua. Bagi kelompok rawan ini. sasaran rumah tangga miskin yang pangan dan gizi yang sudah ada. Ketiga. produktif di masyarakat. dan (iii) tidak harus didasarkan pada 14 indikator non. penanggulangan dampak krisis pangan dan Ketiga. usaha produktif yang atau tidak rawan pangan dan gizi didasarkan bisa dilakukan adalah usaha produktif dalam p a da m ekan isme p e manta u a n wila y a h bidang pertanian dan pangan. koordinator kesejahteraan masyarakat tidak nanganan (penyelamatan dan penanggulang. disarankan penyelamatan dampak krisis pangan dan gizi agar melibatkan tenaga pendamping (misalnya: yang paling diutamakan adalah pemberian mahasiswa atau tenaga yang direkrut secara makanan tambahan (PMT) untuk anak balita khusus). maka ditujukan pada daerah yang wilayahnya kepala daerah diberi kewenangan penuh oleh banyak ditemukan rumah tangga mengalami undang-undang untuk mengalokasikan APBD kesulitan untuk akses ekonomi. disarankan kepada Pemerintah untuk pemetaan daerah rawan. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) moneter yang dikembangkan BPS. bantuan dalam rangka program an) dampak krisis pangan dan gizi. sensitif dan mudah diimplementasikan wilayah non-pertanian dan perkotaan. Oleh karena itu disarankan agar kecurangan.

2008. 4 Desember 2010: 295- 301 International Monetary Fund. and Schady. http:// Bogor www. Grebmer KV. SEAFAST Center. Utama. Badan Ketahanan Pangan.imf. 2007. Hasil Riskesdas 2013 Terkait Kabupaten Bogor. Thesis. Eko Hari Purnomo dan Fahim M Taqi . PANGAN Vol.tugas untuk memberikan umpan balik data ke Poorest Countries. Aggregate World Bank. Setiawan B. C. Global Economic Crisis: Economic Crisis Starts to Hit World’s Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan 165 Dodik Briawan.2 Persen. N.depkes. Keluarga dan Penentuan Indikator Kelaparan.. Departemen Kesehatan. Keluarga. Nestorova B. 1998. Paper 4346. After the 1997 Economic Crisis. 2009. The Challenge of Hunger. Fateta. 2013. Purwiyatno Hariyadi. Washington D. 2007b. Analisis Strategi Food Coping SKPG. [terhubung berkala]. Jakarta El Nino terhadap Masyarakat. Pedoman Teknis SKPG Tahun 2009. and Yohannes Y. Kesehatan Ibu. Global Hunger Index. Sulaeman A.kesehatanibu. Dublin Hariyadi. Petunjuk Berbagai Krisis dalam Rumah Tangga. 2009. 2009. IPB. Bogor Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi. Pandya-Lorch R. Child Health Agustina H. release/2014/12/08/indonesia-to-grow-by-5-2- Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB-Gizi percent-in-2015-world-bank-report (diakses 18 Buruk. Ketahanan Pangan sebagai Fondasi Ketahanan Nasional. Stuttgart Jakarta. Hariyadi. Jakarta Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006. Riyadi H dan (diakses 18 Juni 2015). Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan.go. Republik Indonesia. Policy Research Working Diperkirakan 5. 2002. Sukandar D dan Briawan D. 2008. Jakarta. 2007a. Prihatin Lahir Batin: Dampak Badan Ketahanan Pangan. http://www. Jakarta Soemardjan S. Hidup dan Tingkat Kepuasan di Kota dan Riskesdas. Jakarta. 2007. Food Security in Indonesia and the Relation to Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. LIPI dan UNICEF. Usfar AA. University Baird S. dan Departemen Gizi Masyarakat. Ibu dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. The World Bank Penerima BLT dalam Pemenuhan Kebutuhan Economic Review. FEMA. Kajian Indikator Ketahanan Pangan Berdasarkan IPB. Republik Indonesia.id/archives/678 Astawan M. Laporan Bank Dunia: Income Shocks and Infant Mortality in the Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2015 Developing World. Prosiding Seminar menuju Ketahanan Pangan yang Kokoh sebagai Buffer Krisis dan Fondasi Ketahanan Nasional dalam rangka Persiapan Sidang Tahunan Asian Development Bank tahun 2009. Prihananto. 19 No. Laporan “Feeding Program Sandjadja. Penguatan Industri Penghasil Nilai Tambah Berbasis Potensi Lokal Peranan Teknologi Pangan untuk Kemandirian Pangan.htm. Jakarta. P. GMSK IPB. Palupi NS. (SKPG) dalam rangka menjamin aktualitas Mutiara E. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Gizi Ibu dan Kualitas Anak. Disertasi Pasca Sarjana IPB. 2010. Household Coping Strategies for 2010.worldbank. DC: World Bank. 2002.org/in/news/press- Departemen Kesehatan. [terhubung berkala]. Olofinbiyi T. Agroekosistem Lahan Kering dan Pasang Surut. Fritschel H.. 2008b. 2009. Washington. Bonn. www. Bonn. 2005. Skripsi Jur. P. Kamus Gizi: Pelengkap Kesehatan pada Ibu Hamil dan Dampaknya terhadap Status Keluarga. Friedman J and Schady N. 2005.org/external/pubs/ dalam sistem kewaspadaan pangan dan gizi ft/survey/so/2009/NEW030309A. Anak di Indonesia. 2013. Pedoman Umum Laporan Kajian. Coping strategy keluarga miskin and Economic Crisis in Peru.C. Dalam Operasional Sistem Kewaspadaan Pangan dan Prosiding Dampak Krisis Moneter dan Bencana Gizi. 19(2). Bogor DAFTAR PUSTAKA Paxson. Juni 2015). Nutritional Status: A Comparison Before and Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. 2006. 2014.

serta S3 Kimia Pangan dan Teknik Kimia di University of Wisonsin-Madison. dan bidang Teknik Pangan di University of Paul Cezanne d’Aix Marseille III. Australia (S2). Vol. Australia (S2) dan University of Twente. menyelesaikan pendidikan S1 Teknologi Pangan di IPB. S2 Ilmu Pangan. dan bidang Teknik Pangan di the University of New South Wales. The Netherland (S3). Marseille. Eko Hari Purnomo. Purwiyatno Hariyadi. S1) dan di University of Queensland. Perancis. 166 PANGAN. dan S3 bidang Technological Watch dan Competitive Intelligence di Universite Paul Cezanne d’Aix Marseille III. USA. Fahim M Taqi. di Perancis. serta S3 pada bidang Gizi Manusia di IPB. 2 Juni 2015 : 149-166 . 24 No. Perancis. menyelesaikan pendidikan Gizi Masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB. menyelesaikan pendidikan S1 bidang Teknologi Pangan di IPB. menyelesaikan pendidikan S1 bidang Teknologi Pangan di IPB. BIODATA PENULIS Dodik Briawan.