Standar Operasional Prosedur

Laboratorium

Standar Operasional Prosedur Laboratorium (Standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di
laboratorium (Depkes RI, 2002)

1. Pakailah jas laboratorium saat berada dalam ruang pemeriksaan atau di ruang
laboratorium. Tinggalkan jas laboratorium di ruang laboratorium setelah selesai
bekerja.

2. Cuci tangan sebelum pemeriksaan.

3. Menggunakan alat pelindung diri (masker, sarung tangan, kaca mata dan sepatu
tertutup).

4. Semua specimen harus dianggap infeksius (sumber penular), oleh karena itu harus
ditangani dengan sangat hati-hati.

5. Semua bahan kimia harus dianggap berbahaya, oleh karena itu harus ditangani dengan
hati-hati.

6. Tidak makan, minum dan merokok di dalam laboratorium.

7. Tidak menyentuh mulut dan mata pada saat sedang bekerja.

8. Tidak diperbolehkan menyimpan makanan di dalam lemari pendingin yang digunakan
untuk menyimpan bahan-bahan klinik atau riset.

9. Tidak diperbolehkan melakukan pengisapan pipet melalui mulut gunakan peralatan
mekanik (seperti penghisap karet) atau pipet otomatis.

10. Tidak membuka sentrifuge sewaktu masih berputar.

11. Menutup ujung tabung penggumpal darah dengan kertas atau kain, atau jauhkan dari
muka sewaktu membuka.

12. Bersihkan semua peralatan bekas pakai dengan desinfektans larutan klorin 0,5 %
dengan cara merendam selama 20-30 menit.

13. Bersihkan permukaan tempat bekerja atau meja kerja setiap kali selesai bekerja
dengan menggunakan larutan klorin 0,5 %.

14. Pakai sarung tangan rumah tangga sewaktu membersihkan alat-alat laboratorium dari
bahan gelas.

Cuci tangan dengan sabun dan beri desinfektan setiap kali selesai bekerja. 16. Gunakan tempat antitembus dan antibocor untuk menempatkan bahan-bahan yang tajam. Dokumen : No. STIKES Nahdlatul Ulama Tuban STANDARD OPERATING PROSEDUR ( S O P) PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN (Hb) PROTAB No. Letakkan bahan-bahan limbah infeksi di dalam kantong plastik atau wadah dengan penutup yang tepat. Revisi : - Halaman : Tanggal Terbit : Ditetapkan . 17.15.

Mencuci tangan 3. dibilas pipet sampai bersih. Bersihkan ujung luar pipet dengan kertas tissue secara hati-hati jangan sampai darah dari dalam pipet berkurang. SKM. kadar Hb dibaca dalam satuan gram/dl. Sahli terdiri dari : a. Penambahan aquadest sampai warnanya sama dengan standart warna. Untuk mengetahui kadar hemoglobin didalam darah. Tahap Kerja 1.1 N. Skala merah untuk hematokrit. Masukkan kira-kira 5 tetes (angka 2) HC1 0. lalu isap asam HC1 yang jernih itu ke dalam pipet 2 atau 3 kali untuk membersihkan darah yang masih tinggal dalam . Hemoglobinometer (hemometer). Gelas berwarna sebagai warna standard b. Pipet pasteur. Tahap PraInteraksi 1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik 2. f. Angkatlah pipet itu sedikit. Reagen a.Kes) NIP. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien 3. Tabung hemometer dengan pembagian skala putih 2 sampai dengan 22. Darah dan HCl 0. c. dan jangan sampai terjadi gelembung udara. 5.1 N b. Larutan HCL 0.1 N dicampur. 2. Pengaduk dari gelas d. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya 4. Hemoglobin oleh asam klorida diubah menjadi hematin asam yang berwarna coklat tua. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan C. Miftahul Munir. Pipet Sahli yang merupakan kapiler dan mempunyai volume 20/ul e. M. Tujuan 1. Menetapkan kadar hemoglobin dalam darah Indikasi Pemeriksaan darah lengkap Petugas Perawat Persiapan alat1. 3. Lalu dimasukkan ke dalam tabung Hb yang telah berisi larutan HCl 0. Ketua STIKES NU Tuban (H. 19710412 1997303 1 004 Pengertian Tindakan keperawatan yang di lakukan pada klien untuk mengetahui kadar Hb dalam darah. Tahap Orientasi 1. 4.1 n ke dalam tabung pengencer hemometer Darah kapiler/vena dihisap sebanyak 20µl dengan pipet sahli. Kertas saring/tissue/kain kassa kering 2. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada 2. 2. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar B. Aquades Prosedur A.

8. Wadah 2. 1991 1. Isi tabung dikocok sampai homogen supaya terjadi hematin asam yang berwarna coklat tua (dalam waktu 3-5 menit) 7. Prinsip : Akan terbentuk 2 garis merah apabila dalam urin terdapat hormone HCG (human chorionic gonodotropin). Melakukan evaluasi tindakan 2. pipet. Strip Plano test. 9. Aquadest ditambahkan setetes demi setetes diaduk dengan batang pengaduk yang tersedia sampai warna sama dengan standart warna. Urin . Plano Test (Tes Kehamilan) Metode : Imunokromatografi Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya hormone HCG dalam sampel urin. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan perawatan Referensi Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas. Tahap Terminasi 1. 6. Departemen Kesehatan RI.14 g/d D. Alat dan Bahan : 1. Setiap kali penambahan aquadest harus dikocok sampai homogen.16 g/dl  Wanita : 12. Membereskan alat-alat 4. Jakarta. Berpamitan dengan klien 3. 3. Mencuci tangan 5. Nilai normal :  Pria : 14. Kadar Hb dibaca dalam satuan gram/dl.

Interpretasi : ( + ) : terdapat garis merah pada C dan T. 3. Mengetahui adanya antibody spesifik terhadap bakteri Salmonella. Hasil positif dinyatakan dengan adanya aglutinasi. Siapkan sampel urin pada wadah yang telah disiapkan. Sebagai uji cepat (rapit test) hasilnya dapat segera diketahui. Invalid : terdapat garis merah pada garis T sedangkanpada garis C tidak terdapat garis merah. 1. Dibaca dalam waktu ±5 menit dan bila terdapat 2 garis merah maka hasilnya adalah positif. 2. . Dasar teori : Pemeriksaan widal ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (didalam darah) terhadap antigen kuman Salmonella typhi / paratyphi (reagen).Prosedur Kerja : 1. Karena itu antibodi . 1.Pemeriksaan Widal Tujuan : Untuk membantu menegakkan pemeriksaan demam typhoid. Strip dicelupkan pada wadah yang berisi sampel urin sampai garis tanda panah. Prinsip : Adanya antibody Salmonella pada sampel serum akan bereaksi dengan antigen yang terdapat pada reagen widal sehingga menyebabkan reaksi aglutinasi. ( – ) : terdapat garis merah pada garis C tapi tidak pada garis T.

Reagen :  antigen O  antigen H  antigen AH  Antigen BH 1. reaksi anamnestik (pernah sakit). dan adanya faktor rheumatoid (RF). 5. Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor. reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp). B dan C yang masih dijumpai secara luas di negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. 6.jenis ini dikenal sebagai Febrile agglutinin. Bahan : – sampel serum 2. Perhatikan adanya reaksi aglutinasi dalam 1 menit. antara lain pernah mendapatkan vaksinasi. Alat dan Bahan: 2. Hasil negatif palsu disebabkan antara lain : penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika. Dipipet serum sebanyak 50 ul dan diletakkan pada slide test. Kemudian goyangkan “slide” selama 1 menit. Hasil uji ini dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. 4. Demam typhoid (Typhoid Fever) merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi A. 3. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Ditambahkan 1 tetes antigen pada slide tersebut. Alat :  Slide test  Clinipette  Batang pengaduk  Tissue 1. waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit. Cara Kerja : 2. . dan adanya penyakit imunologik lain. keadaan umum pasien yang buruk. 1.

Catat hasil pada buku register.000 ­ 400. 7.5 tepat  hapuslah kelebihan darah yang melekat pada bagian luar pipet  lau hisaplah larutan  Amonium oxalat samapai tanda 101 (hati ­ hati jangan sampai terjadi  gelembung udara)  lalu kedua ujung pipet di tutup dengan menggunakan jari lalu kocok sampai darah dan  larutan  Amonium oxalat homogen  letakkan kamar hitung (improved neubaure) dan kaca penutungnya / cover glass (supaya kaca  penutup mudah lengket pada bagian kedua tunggul di basahi dengan sedikit air)  lalu ambil pipet thoma tadi dan kocok kembalai.000 / mm3 . 18 Mei 2013 / Label: Hematologi Pemeriksaan Hitung Trombosit metode  Amonium oxalat Tujuan : untuk menghitung jumlah trombosit dalam darah Prinsip kerja : darah di encerkan dan di cat dengan larutan  Amonium oxalat lalu di hitung jumlah tombosit dalam volume pengenceran tertentu Yang mana amonium oxalat akan melisiskan sel selain trombosit. Reaksi positif bila terjadi aglutinasi. jadi pada saat pemeriksaan yang terlihat  hanyalah trombosit saja Alat : pipet thoma kamar hitung (improved neubaure) dek glass/cover glass counter tally mikroskop Bahan pemeriksaan : darah yang telah di beri antikoagulan / EDTA Reagen : larutan Amonium oxalat Cara kerja :  hisaplah darah dengan pipet thoma eritrosit sampai tanda garis tanda 0. 8. Pemeriksaan Hitung Trombosit metode Amonium oxalat Diposkan oleh Surga Cinta on Sabtu. lalu buang kira ­ kira 3 ­ 4 tetes  tetesan selanjutnya di masukkan kedalam kamar hitung (improved neubaure) dan diamkan  sebentar  kemudian trombosit di hitung dengan mikroskop dengan cara menghitung jumlah trombosit pada  seluruh lapangan pandang eritrosit dan hasil di kalikan 2000 Nilai normal : 150.

Perhitungan : = Trombosit yang di temukan x 2000 = ... /mm3 Pemeriksaan Hitung Jumlah Eritrosit Tujuan : Untuk menghitung  jumlah eritrosit dalam darah Prinsip kerja : darah yang telah di encerkan lalu di hitung jumlah leukosit dalam volume pengenceran tertentu dengan  cara mengalikan terhadap faktor perhitungan jumlah eritrosit dan di peroleh jumlah eritrosit dalam satuan  volume darah Alat : pipet thoma leukosit kamar hitung (improved neubaure) dek glass/cover glass counter tally tissue mikroskop Bahan pemeriksaan : darah yang telah di beri EDTA Reagen : larutan hayem Cara kerja :  hisaplah darah dengan pipet thoma eritrosit sampai tanda garis tanda 0....5 tepat  hapuslah kelebihan darah yang melekat pada bagian luar pipet  lau hisaplah larutan hayem samapai tanda 101 (hati ­ hati jangan sampai terjadi gelembung udara)  lalu kedua ujung pipet di tutup dengan menggunakan jari lalu kocok sampai darah dan larutan  hayem homogen ..........

. Prinsip : Reaksi antigen-antibodi berupa penggumpalan (aglutinasi) Metode Slide Test dengan Menggunakan Darah Kapiler Tujuan : Sebagai pemeriksaan awal untuk mengetahui golongan darah pendonor Alat dan Bahan :  Handscound (sarung tangan)  Object Glass . letakkan kamar hitung (improved neubaure) dan kaca penutungnya / cover glass (supaya kaca  penutupmudah lengket pada bagian kedua tunggul di basahi dengan sedikit air)  lalu ambil pipet thoma tadi dan kocok kembalai.. / ul darah Standar Operasional Prosedur Pemeriksaan Golongan Darah Tujuan : Untuk mengetahui golongan darah pendonor yang didasarkan pada antigen yang terdapat di sel darah merah. lalu buang kira ­ kira 3 ­ 4 tetes  tetesan selanjutnya di masukkan kedalam kamar hitung (improved neubaure) dan diamkan  sebentar  kemudian leukosit di hitung dalam 5 bidang besar dengan perbesaran lensa objektif 10x dan 40x  untuk memperjelas Nilai normal :  laki ­ laki : 4...000 x Jumlah eritrosit yang di temukan  = ....5 juta / ul darah  wanita : 4 ­ 5 juta / ul darah Perhitungan : = 10.5 ­ 5.

anti serum AB mengumpal sedangkan di anti serum B mengumpal. Menusuk jari manis/tengah dengan posisi vertical. anti-B. Mengaduk dengan batang pengaduk masing-masing campuran darah donor dengan antiserum dan menggoyang-goyangkan 12. Mencuci tangan dan mengeringkan 4. Meneteskan 1 tetes darah yang keluar pada objek glass 10. Aglutinasi pada anti-A karena golongan darah A mempunyai antigen A dan antibodi B  Golongan Darah B : darah di anti serum A tidak mengumpal. anti-AB. pada objek glass 11. Memakai sarung tangan 5. Mengusap darah yang pertama kali keluar dari jari donor dengan kapas kering 9. Meneteskan 1 tetes (±50 µ) anti-A. Mendekatkan alat 3. Menyiapkan reagen disuhu kamar 6. Aglutinasi pada anti-B karena golongan darah B mempunyai antigen B dan antibodi A . anti serum AB mengumpal sedangkan di anti serum B tidak. Memijit-mijit ujung jari manis/tengah donor dan kemudian melakukan desinfeksi dengan alkohol 70% 7. Mengatur posisi klien senyaman mungkin 2. Mengamati ada tidaknya aglutinasi secara makroskopis Interpretasi Hasil Pembacaan Golongan Darah Cell Typing  Golongan Darah A : darah di anti serum A mengumpal. mengggunakan blood lancet 8.  Lancet  Pengaduk  Darah Kapiler  Serum anti-A biasanya berwarna biru atau hijau  Serum anti-B biasanya berwarna kuning  Serum anti-AB biasanya berwarna merah muda/tak berwarna Cara Kerja : 1.

Puasa & 2 Jam Post Puasa Pengertian: Pemeriksaan GDS adalah Suatu tindakan untuk mengetahui hasil atau nilai gula darah pada pasien yang dilakukan sewaktu dan tanpa persiapan apapun.  Golongan Darah AB : darah di anti serum A dan B mengumpal. Sabar 3. Mencuci tangan 15. Tidak terjadi aglutinasi karena golongan darah O tidak mempunyai antigen A dan B tetapi mempunyai antibodi A dan B 13. Merapikan alat 14. Pemeriksaan gula darah puasa (GDP) adalah tindakan untuk mengetahui hasil gula darah pasien setelah pasien melakukan puasa minimal 8 . dan AB tidak mengumpal. Teliti 2.10 jam. anti serum AB mengumpal. B. . Ramah SOP / Cara Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu. Pendokumentasian Sikap 1. Aglutinasi pada anti-A dan anti-B karena golongan darah AB mempunyai antigen A dan B tetapi tidak mempunyai antibodi  Golongan Darah O : darah di anti serum A. Melepaskan sarung tangan 16. Pemeriksaan gula darah 2 jam post puasa (GD 2jam PP) adalah tindakan untuk mengetahui hasil gula darah pasien 2 jam setelah pasien makan setelah sebelumnya pasien puasa minimal 8-10 jam.

Cuci tangan dan gunakan sarung tangan bersih. Cek order dokter. Berikan / oleskan swab alkohol pada jari yang akan ditusuk. .Tujuan Pemeriksaan GDS:  Pemeriksaan laboratorium harian  Acuan tidakan medis  Pengobatan yang tepat  Pemilihan diit yang tepat  Pencegahan resiko hiperglikemi Kebijakan : Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) dilakukan oleh petugas laboratorium. Lakukan kontrak / persetujuan dengan pasien. 5. 9. 3. Mesin gluco test 2. Perlak dan pengalas Prosedure Tindakan Pemeriksaan GDS / GDP / GD 2 jam PP: 1. Strip stick GDS 3. kemudian pasang strip stick GDS nya secara benar dan pastikan sudah bergambar darah pada layar. Papan perlak dan pengalas pada bawah jari yang akan ditusuk. Nyalakan mesin Gluco Test dan pastikan sudah menyala dengan baik. 7. Jarum / lancet GDS 4. jari tengah dan jari manis. Lakukan pemilihan jari untuk pemeriksaan GDS yaitu: jari telunjuk. 2. Pemeriksaan GDS juga boleh dilakukan oleh dokter dan perawat. 6. Alat dan bahan: 1. Alkohol swab 5. Bawa alat ke dekat pasien. 8. Pasang sampiran atau privasi. 4.

Laporkan hasil pemeriksaan pada dokter yang meminta. 3. 13.Tusuk ujung jari pasien secara hati-hati. Instalasi Gawat Darurat 3.Tekan daerah sekitar tusukan dengan jari kita agar darah keluar. Oxaloacetate direduksi menjadi malate oleh enzym malate oleh enzym malate dehydrogenase ( MDH ) dan niconamide adenine dinucleotide ( NADH ) teroksidasi menjadi NAD. 1000 µl . pastikan darah keluar secukupnya. Berpamitan dengan pasien.Setelah cukup tunggulah beberapa detik untuk melihat hasilnya pada layar. Tahap Terminasi: 1. Cuci tangan dengan prinsip bersih. Laboratorium 2. SGOT – Metode : Kinetik – IFCC (tanpa pyridoxal-5-phosphate) – Prinsip Aminotransferasi ( AST ) mengkatalis transaminasi dari L aspartate dan a – kataglutarate membentuk L – glutamate dan oxaloacetate. 14. Ruang rawat biasa dan intensive Cara Pemeriksaan 1. 2. Unit Terkait: 1. 11. 10.Tempelkan ujung stick GDS pada mesin Gluco test ke darah pasien. – Peralatan  Kuvet  Mikropipet 100µl . 12. Banyaknya NADH yang teroksidasi. berbanding langsung dengan aktivitas AST dan diukur secara fotometrik dengan panjang gelombang 340 nm.Setelah hasil keluar catatlah pada lembar cetatan perawat / petugas laboratorium.

SGPT . dan dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 340 nm dengan faktor 1745. 2. Masukkan ke dalam tabung reaksi Blanko Pemeriksaan Reagen – 1000 µl Serum – 100 µl 1.65 110 mmol/L L-aspartate 320 mmol/L LDH (Lactate dehydrogenase) ≥ 1200 U/L MDH (Malate dehydrogenase) ≥ 800 U/L  Reagen 2 : NADH 1 mmol 2-oxoglutarat 65 mmol Dari ragen 1 dan 2 dibuat monoreagen dengan perbandingan 4 bagian reagen 1 ditambah 1 bagian reagen 2. 2 . Pembacaan dilakukan pada menit 1.  Tip kuning dan tip biru  Spektrofotometer – Bahan : Serum atau plasma heparin – Reagensia  Reagen 1 : TRIS pH 7. Homogenkan dan stabilkan pada suhu 2-8 oC. dan 3 3. – Cara kerja 1. Misalnya 20 mL R1 ditambah 5 mL R2. Catat hasil pemeriksaan dan hitung kadar SGOT dengan rumus ∆A/min x faktor = aktivitas ASAT (U/L) 1. Homogenkan.

– Peralatan  Kuvet  Mikropipet 100µl . Misalnya 20 mL R1 ditambah 5 mL R2.– Metode : Kinetik – IFCC (tanpa pyridoxal-5-phosphate) – Prinsip Alanine aminotransferase ( ALT ) mengkatalis transiminasi dari L – alanine dan a – kataglutarate membentuk l – glutamate dan pyruvate. Homogenkan dan stabilkan pada suhu 2-8 oC. – Cara kerja 1. Masukkan ke dalam tabung reaksi Blanko Pemeriksaan Reagen – 1000µl Serum – . pyruvate yang terbentuk di reduksi menjadi laktat oleh enzym laktat dehidrogenase ( LDH ) dan nicotinamide adenine dinucleotide ( NADH ) teroksidasi menjadi NAD.15 140 mmol/L L-alanine 700 mmol/L LDH (Lactate dehydrogenase) ≥ 2300 U/L  Reagen 2 : NADH 1 mmol 2-oxoglutarat 85 mmol Dari ragen 1 dan 2 dibuat monoreagen dengan perbandingan 4 bagian reagen 1 ditambah 1 bagian reagen 2. Banyaknya NADH yang teroksidasi hasil penurunan serapan ( absobance ) berbanding langsung dengan aktivitas ALT dan diukur secara fotometrik dengan panjang gelombang 340 nm. 1000 µl  Tip kuning dan tip biru  Spektrofotometer – Bahan : Serum atau plasma heparin – Reagensia  Reagen 1 : THS pH 7.

F.  Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut. yang salah satu penyebabnya adalah proses infeksi yang disebabkan oleh virus. sumbatan empedu ekstra hepatik. Nilai normal 1. karbenisilin. sirosis Laennec. linkomisin. eritromisin. dan penanda kerusakan sel lainnya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium  Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar  Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapat meningkatkan kadar  Hemolisis sampel  Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin. sindrom Reye. perlemakan hati. Tinjauan Klinis  Enzim SGOT dan SGPT dapat meningkat karena adanya gangguan fungsi hati. mitramisin. 2. dan infark miokard (SGOT>SGPT)  Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis. spektinomisin. 1. 2 . SGOT ü Perempuan : < 31 U/L ü Laki-laki : < 35 U/L 1. gentamisin. dan dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 340 nm dengan faktor 1745. tetrasiklin). Pembacaan dilakukan pada menit 1. narkotika . Catat hasil pemeriksaan dan hitung kadar SGPT dengan rumus ∆A/min x faktor = aktivitas ALAT (U/L) D. nekrosis hati (toksisitas obat atau kimia)  Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear. hepatitis kronis aktif. SGPT ü Perempuan : < 31 U/L ü Laki-laki : < 41 U/L E. sirosis biliaris. dan 3 3. Homogenkan.

G. Pemeriksaan SGOT dan SGPT dilakukan dengan metode kinetik untuk penentuan aktifitas SGOT dan SGPT sesuai dengan rekomendasi dari IFCC ( Internasional Federation of Clinical Chemistry ) 2. rifampin. dan penanda kerusakan sel lainnya. flurazepam (Dalmane). ginjal dan otak. Pemeriksaan SGPT adalah indikator yang lebih sensitif terhadap kerusakan hati dibanding SGOT. sedangkan enzim GOT banyak terdapat pada jaringan terutama jantung. preparat digitalis. 4. lead dan heparin. yang salah satu penyebabnya adalah proses infeksi yang disebabkan oleh virus. otot rangka. morfin.  Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar. salisilat. guanetidin). (meperidin/demerol. kodein). 3. . antihipertensi (metildopa. Hal ini dikarenakan enzim GPT sumber utamanya di hati. Nilai normal kadar SGOT dalam serum untuk perempuan adalah < 31 U/L dan laki- laki adalah < 35 U/L. propanolol (Inderal). Enzim SGOT dan SGPT dapat meningkat karena adanya gangguan fungsi hati. Kesimpulan 1. indometasin (Indosin). kontrasepsi oral (progestin-estrogen). sedangkan untuk SGPT pada perempuan adalah < 31 U/L dan laki-laki adalah < 41 U/L.