You are on page 1of 29

PRAKATA

Alhamdulillahirabbil’aalamin, segala puja dan puji syukur penulis panjatkan
kepada Allah Yang Maha Penyayang. Tanpa karunia-Nya, mustahillah karya tulis ini
terselesaikan tepat waktu mengingat tugas dan kewajiban lain yang bersamaan
hadir.

Karya tulis ini hadir untuk melengkapi tugas akhir mata kuliah AR3231
Arsitektur Kolonial Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014. Tulisan ini diharapkan
dapat memberi sumbangan sebagai pengayaan arsip tentang bangunan kolonial di
Hindia Belanda. Karya tulis ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dan
dorongan dari berbagai pihak. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Bambang Setia Budi, Ph.D. selaku Dosen Pembimbing AR3231 yang telah
memberikan pengarahan dan bimbingan demi kesempurnaan karya tulis ini.

Meskipun telah berusaha untuk menghindarkan kesalahan, penulis menyadari
juga bahwa kesalahan dan kekurangan buku ini pasti ditemukan. Dengan segala
pengharapan dan keterbukaan, penulis menyampaikan rasa terima kasih dengan
setulus-tulusnya. Kritik merupakan perhatian agar dapat menuju kesempurnaan.
Akhir kata, penulis berharap agar buku ini dapat membawa manfaat kepada
pembaca.

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................
PRAKATA............................................................................................................... 1
DAFTAR ISI .......................................................................................................... 2
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................... 3
1.1. Latar Belakang.............................................................................. 3
1.2. Pembatasan Masalah.................................................................... 3
1.3. Metode Penulisan.......................................................................... 3
BAB 2 SEKILAS KOTA BOGOR DAN KOMPLEKS ISTANA BOGOR 4
1. Kota Bogor.................................................................................... 4
2. Kompleks Istana Bogor................................................................ 5
BAB 3 ISTANA BOGOR DI MASA PENJAJAHAN KOLONIAL........... 7
1. Awal Pembangunan...................................................................... 7
2. Gempa Tahun 1818....................................................................... 9
3. Gempa Tahun 1834....................................................................... 9
4. Pembangunan Kembali................................................................ 10
BAB 4 ISTANA BOGOR SETELAH BELANDA PERGI ......................... 14
1. Masa Penjajahan Jepang ............................................................. 14
2. Kemerdekaan Indonesia............................................................... 14
BAB 5 ISTANA BOGOR SEKARANG ....................................................... 18
1. Penggunaan Bangunan ................................................................ 18
2. Karya Seni di Istana Bogor......................................................... 24
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang
mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan faunanya.
Salah satunya adalah keberadaan rusa-rusa yang didatangkan langsung dari Nepal dan
tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.
Saat ini sudah menjadi trend warga Bogor dan sekitarnya setiap hari Sabtu, Minggu,
dan hari libur lainnya berjalan-jalan di seputaran Istana Bogor sambil memberi makan
rusa-rusa yang hidup di halaman Istana Bogor dengan wortel yang diperoleh dari petani-
petani Bogor.
Sebuah Istana megah yang dikelilingi taman hijau dan kebun tropis yang luas ini tentu
saja memiliki kisahnya sendiri. Dari mana dia bermula, peristiwa apa yang telah
disaksikannya sejak pertama kali Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff
memutuskan untuk membangunnya, dan cerita apa yang ingin disampaikannya? Kisah
itulah yang ingin penulis bagi melalui karya tulis berjudul “…” ini.

1.2. Pembatasan Masalah
Karena keterbatasan waktu dan kemampuan penulis, maka dalam karya tulis ini
penulis membatasi pembahasan pada perjalanan sejarah dan aspek arsitektur Istana Bogor.

1.3. Metode Penulisan
Pada karya tulis ini penulis menggunakan metode studi pustaka.

BAB 2

SEKILAS KOTA BOGOR DAN KOMPLEKS ISTANA BOGOR

3
2.1. Kota Bogor

Kota Bogor sekarang adalah perkembangan dari country estate Buitenzorg di tahun
1745 yang terletak di dataran berbukit di antara sungai Cisadane dan Ciliwung dan dilatari
oleh Gunung Salak dan Gunung Gede.

Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama
satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali
menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat
ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun
1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709. Dalam memanfaatkan
wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu.
Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin
Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda terah
Sumedang.

Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di
bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung
Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari
Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah
perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat
inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang
didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama
anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati,
Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Kampung Baru menjadi
semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung
Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung, De Haan
memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-
1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Pada tahun 1745 Bogor ditetapkan Sebagai Kota Buitenzorg yang artinya kota tanpa
kesibukan dengan sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan

4
dibawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang, daerah tersebut disebut
Regentschap Kampung Baru yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg.

Buitenzorg terhubung dengan “Groote Postweg”, jalan raya Anyer-Panarukan yang
dibangun atas perintah Daendels. Istana Bogor berada tepat pada jalur Groote Postweg ini
sehingga jalur tersebut dibelokkan lalu kembali lagi, menerus ke Cianjur di belakang
Istana. Jalur ini pada akhirnya membentuk pola Kebun Raya di tahun 1817.

2.2. Kompleks Istana Bogor

Kompleks instana bogor mencakup area 23 hektar, hampir seperempat total area
Bogor “Central Park”. Area Istana Bogor memiliki susunan pohon yang lebih jarang, tidak
seperti Kebun Raya yang terdiri dari pohon-pohon besar hutan hujan tropis yang padat.
Beberapa titik terbuka dengan pohon-pohon peneduh tersedia untuk menikmati
pemandangan indah di kompleks istana.

Bagian muka bangunan istana menghadap utara. Sayap-sayapnya terletak di sumbu
timur dan barat. Sumbu utara dan selatan berasal dari pusat gedung utama, melewati
halaman rumput yang berbentuk melingkar dan danau.

Sejak tahun 1870 hingga 1942, Istana Bogor merupakan tempat kediaman resmi dari
38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris.

Tahun 1950 dibangun paviliun di bagian barat untuk rumah tinggal Presiden Soekarno
dan istrinya. Tahun 1965, presidential guesthouse dibangun di bagian timur laut oleh
Sudarsono, arsitek pribadi Presiden.

5
LUKISAN TAHUN
1780

LUKISAN JALAN DEPAN ISTANA
BOGOR VOOR

6
BAB 3

ISTANA BOGOR DI MASA PENJAJAHAN KOLONIAL

3.1. Awal Pembangunan

Kisah dari istana ini bermula pada tahun 1745 ketika Gubernur Jenderal Van Imhoff
membeli tanah Bloeber (ada yang menyebutkan Kampong Baroe) dan memutuskan
membangun sebuah mansion. Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff
terkesima akan kedamaian sebuah kampung kecil di Bogor (Kampung Baru), sebuah
wilayah bekas Kerajaan Pajajaran yang terletak di hulu Batavia. Van Imhoff mempunyai
rencana membangun wilayah tersebut sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan
bagi Gubernur Jenderal.

Istana Bogor dibangun pada bulan Agustus 1745 dan berbentuk tingkat tiga, pada
awalnya merupakan sebuah rumah peristirahatan, Van Imhoff sendiri yang membuat sketsa
dan membangunnya dari tahun 1745-1750, mencontoh arsitektur Blehheim Palace,
kediaman Duke Malborough, dekat kota Oxford di Inggris.

Seorang bernama Rademacker melakukan perjalanan melalui Preanger pada tahun
1776, dan memberi deskripsi.

“The house has been built following the plan of Blenheim castle, but instead of the corps-
de-logies there is a ground floor, where a playhouse is situated. the wings are only fit for
staying over, but the accomodation of his excellency in a hall and sleeping room and
offince in the working wing is best”

Playhose (aula, teater) yang dijelaskan Rademacker adalah sebuah bangunan dua lantai
dengan bagian depan berupa lengkungan besar bergaya neoklasik, terhubung oleh arcade
melingkar ke kedua sayap bangunan.

Salah satu gambar pertama Istana Bogor berada di Raffles Collection di Kantor
Perpustakaan London dan bertanggal sekitar tahun 1812. Dalam gambar tersebut, kedua

7
sayap bangunan tampak identik. Denahnya berbentuk persegi panjang, dua lantai dan atap
perisai.

Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat akibat
serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus
Buang yang disebut Perang Banten 1750 - 1754.

Ketika Van Imhoff meninggal pada tahun 1750, pembangunan Istana Buitenzorg masih
jauh dari usai. Bersamaan dengan waktu itu mulai pula berkobar Perang Banten. Rakyat
yang bermukim di bantaran Sungai Cisadane kecewa karena Ratu Syarifah yang menjadi
penguasa Kesultanan Banten telah menyerahkan kawasan subur kepada VOC. Terjadilah
pemberontakan rakyat yang dimpimpin Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Istana yang
belum selesai dibangun di Buitenzorg itu dibakar dalam salah satu serangan.

Jacob Mossel, Gubemur Jenderal yang menggantikan Van Imhoff, kemudian
melanjutkan pembangunan Istana Buitenzorg yang mengalami kerusakan berat. Ia
meneruskan desain yang ditinggalkan oleh Van Imhoff.

Istana Buitenzorg menjadi tujuan favorit para Gubemur Jenderal serta petinggi VOC
dan kemudian tempat kediaman resmi bagi Gubemur Jenderal. Demikianlah, rencana
membangun rumah Gubemur Jenderal dekat tangsi tentara di Waterlooplein (sekarang
Lapangan Banteng, Jakarta) urung dilaksanakan. Untuk jangka waktu yang panjang, para
Gubemur Jenderal dan keluarganya tinggal di sebuah rumah besar di dalam Kasteel
Batavia, tidak seberapa jauh dari Stadhui (sekarang Museum Sejarah Jakarta). Setiap
Gubemur Jenderal menambah dan menyempurnakan Istana Buitenzorg sesuai dengan
bertambahnya kebutuhan dan kemakmuran VOC.

Pada tahun 1802, di salah satu sudut halaman puri yang seluas 28 hektar itu didirikan
sebuah gereja Protestan. Hingga sekarang gereja itu masih berfungsi, tetapi dipisahkan dari
lahan Istana Bogor dengan pagar, agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum secara
penuh. Bangunan asli gereja itu juga sudah diganti dengan yang baru pada awal abad ke-
20. gereja itu sekarang dikenal dengan nama Zebaoth.

Bersamaan dengan bangunan gereja, dibangun pula dapur pembuatan roti dan kue,
sebuah ruang untuk bermain, dan tempat minum kopi di halaman. Sebuah rumah sakit juga
didirikan di belakang kompleks Istana Buitenzorg. Rumah sakit itu sekarang menjadi

8
Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia, terletak di Jalan Pajajaran. Pada masa lalu,
lahan rumah sakit itu masih menjadi bagian dari halaman luas Istana Buitenzorg.

Berangsur angsur, seiring dengan waktu perubahan-perubahan kepada bangunan awal
dilakukan selama masa Gubernur Jenderal Belanda maupun Inggris (Herman Willem
Daendels dan Sir Stamford Raffles), bentuk bangunan Istana Bogor telah mengalami
berbagai perubahan. sehingga yang tadinya merupakan rumah peristirahatan berubah
menjadi bangunan istana paladian dengan luas halamannya mencapai 28,4 hektar dan luas
bangunan 14.892 m².

Antara tahun 1808 dan 1811 bagian tengah bangunan ini dipugar besar-besaran oleh
Dendels. Setelah tahun 1812, atap pelana pada sayap bangunan dihilangkan oleh Raffles
dan bangunan utama diperluas. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan
mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.

3.2. Gempa Tahun 1818

Pada tanggal 2 Oktober 1818, Istana Bogor mengalami kerusakan karena gempa bumi.
Lalu dilakukan restorasi dan perluasan istana di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal
Van der Capellen. Meskipun proses konstruksi ini tidak disebutkan di mana pun, tetapi
sebuah lukisan Willem Troost (1812-1893) menunjukkan bagian belakang istana,
menggambarkan keadaan sesaat sebelum gempa bumi tahun 1834. Istana ini sekarang
mempunyai dua lantai yang menutup seluruh denah. Bagian tengan istana dimahkotai
sebuah menara dengan dome kecil. Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun
Raya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817. Istana bertingkat dua ini
tetap berdiri sampai tahun 1834, lalu hancur karena gempa bumi tanggal 10 Oktober.

3.3. Gempa Tahun 1834

“A careful survey of the palace, of which at the moment of the earthquake, the
northern part of the main building, the outer wall of the east wing and the northern remise
had collapsed, has proven that no part of this lovely building was spared, but everything
ravaged in such a way, that it has to be completely pulled down”

9
“Sebuah survei yang cermat dari Istana Buitenzorg menyatakan bahwa bagian utara
bangunan utama, dinding luar sayap timur dan bangunan utara telah runtuh karena gempa.
Ini membuktikan bahwa tidak ada bagian dari bangunan indah ini terhindar dari gempa.
Semuanya rusak sedemikian rupa, sehingga harus benar-benar diruntuhkan.”

Dalam dua bulan, dibuatlah sebuah rencana untuk membangun kembali istana
tersebut. Dalam sebuah surat bertanggal 25 Desember 1834, Gubernur Jenderal G.C. Baud
menulis untuk Minister for Colonies, J. van den Bosch, “Sayap timur dari istana baru
sekarang telah masuk kontrak.”

3.4. Pembangunan Kembali

Desain dari istana baru ini kemungkinan digarap oleh Jannis Tromp (1798-1859),
yang merupakan ketua insinyur Departemen Pekerjaan Umum di Batavia, dari tahun 1829
sampai masa pensiunnya tahun 1853. Wilhelm Louis de Sturler (1802-1879) yang
merupakan kapten korporasi insinyur kemungkinan besar menjadi co-designernya. Desain
ini dijelaskkan secara singkat di laporan “Burgerlijke Operbare Werken in Nederlandch-
Indie over het jaar 1892”. Desain istana tidak bertingkat lagi karena disesuaikan dengan
situasi daerah yang sering gempa itu.

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer van Twist
(1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil
arsitektur Eropa abad ke-19.

Pada tahun 1870, Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur
Jenderal Hindia Belanda.

Pada pertengahan Juli 1837, sebagian dari istana telah selesai dan Eerens, penerus dari
Gubernur Jenderal Baud, menjabat. Setelah seluruh pengerjaan istana selesai, sekitar tahun
1839, tiga perubahan kecil disebutkan di laporan tahunan departemen pekerjaan umum.

Bangunan baru Istana Buitenzorg itu juga memiliki menara di atas gedung induknya. Tepat
di bawah menara itu terdapatlah tempat untuk para musisi memainkan musik bila
diselenggarakan pesta-pesta dansa. Ruang utama dibawah menara itu – sekarang disebut
Ruang Garuda – dulu adalah danszaal (ruang dansa) tempat para bangsawan, pejabat

10
LUKISAN TAHUN
1842

LUKISAN TAHUN
1842

11
pemerintah dan militer, serta saudagar Belanda melakukan pesta-pesta meriah. Pada saat-
saat pesta, lampu-lampu gas yang biasanya dipakai sebagai penerangan istana diganti
dengan lilin-lilin yang romantis.

Titik dibawah menara itu juga ditetapkan sebagai poros untuk memperhitungkan
rencana pemasangan pipa air minum bagi semua warga kota Bogor. Bila pintu-pintunya
dibuka, danszaal itu tepat menghadap ke utara, yakni ke jalan utama menuju Batavia
melalui Cibinong.

Silih berganti para Gubemur Jenderal Hindia-Belanda bermukim di Istana Buitenzorg
yang megah, mewah, dan nyaman. Contohnya adalah Gubemur Jenderal Dirk Fock (1921
– 1926) yang menaikkan berbagai macam pajak yang sangat menyusahkan rakyat terjajah.
Kemudian Gubemur Jenderal B.C. De Jonge (1931 – 1936) yang bertangan besi. Ia
menangkap para pemimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia –antara lain Soekarno,
Hatta, dan Sjahrir– dan membuang mereka ke pengasingan.

Pada masa pendudukan Jepang, dengan pilu Gubemur Jendera Tjarda Van
Starkenborgh-Stachower terpaksa menyerahkan Istana Buitenzorg kepada bala tentara
Jepang di Kalijati. Istana ini kemudian menjadi markas Tentara Pendudukan Jepang yang
dipimpin oleh Jenderal Imamura.

12
ISTANA BOGOR TH
1900

BAB 4

13
ISTANA BOGOR SETELAH BELANDA PERGI

4.1. Masa Penjajahan Jepang

Apa yang terjadi kemudian di Istana Buitenzorg adalah lembaran paling kelam dalam
sejarahnya. Jepang memakai bagian bawah tanah sebagai sel-sel tahanan untuk
memenjarakan orang Belanda yang ditangkapnya. Seluruh dinding luar Istana Bogor dicat
dengan wama hitam agar tersamar dari serangan udara. Kolam-kolam indah yang dibangun
pada masa Raffles dikeringkan airnya agar tidak memantulkan cahaya yang bisa tampak
dari udara, dan kemudian ditanami semak-semak.

Rumput di halaman Istana yang luas dibiarkan liar meninggi. Rusa-rusa yang
jumlahnya sudah mencapai ratusan, mulai punah karena setiap hari disembelih dan
dimakan oleh serdadu Jepang. Untungnya, rumput yang sudah tumbuh tinggi justru
merupakan tempat persembunyian yang baik bagi beberapa ekor rusa. Karena terlindung
dibalik rumput itulah populasi rusa Istana Bogor tidak sepenuhnya binasa selama
pendudukan Jepang antara 1942 – 1945.

Tentara Pendudukan Jepang juga mengangkut berbagai benda seni dari Istana
Buitenzorg ke Negeri Matahari Terbit. Berbagai keris dan tombak pusaka yang penuh
sejarah – upeti para raja dan sultan kepada para Gubemur Jenderal Hindia-Belanda lenyap
dari bumi persada Nusantara. Serdadu Jepang juga mencabuti semua benda yang terbuat
dari logam untuk dilebur menjadi alat-alat persenjataan. Tiang-tiang lampu yang indah dari
Eropa, besi cor yang dipakai sebagai pagar dan elemen artistic bangunan Istana, semuanya
dibongkar.

4.2. Kemerdekaan Indonesia

Dalam kondisi compang-camping seperti itulah Istana Bogor pada tahun 1945 direbut
oleh sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat,
setelah Jepang dikalahkan oleh tentara sekutu pada akhir Perang Dunia Kedua. Namun,
para pemuda itu pun kemudian dipaksa meninggalkan Istana Bogor karena kompleks ini

14
direbut kembali oleh Tentara Pendudukan Sekutu yang justru merintis jalan bagi
kembalinya administrasi Hindia-Belanda yang sebelumnya mengungsi ke Australia.

Baru pada akhir tahun 1949, ketika Belanda mengakui kedaulatan Republik
Indonesia, Istana Bogor diserahkan secara resmi oleh Kerajaan Belanda kepada
Pemerintah Republik Indonesia. Hanya lima buah cermin besar yang masih tergantung di
dinding menjadi barang inventaris Istana Bogor yang diserahkan kepada bangsa Indonesia
ketika itu.

Namun demikian, Istana Bogor tidak segera memperoleh perhatian Pemerintah
Republik Indonesia. Usia muda kemerdekaan yang baru diproklamasikan itu membuat
para pemimpin Negara lebih terpusat perhatiannya pada urusan penyelenggaraan Negara.

Presiden Soekarno baru mulai melakukan pemugaran secara bertahap sejak tahun
1952. Yang pertama dipugar adalah bagian depan bangunan induk. Ditambahkan sebuah
beranda (portico) yang ditopang oleh enam tiang berlanggam lonia. Beranda ini
menyambung dengan serambi depan dengan sepuluh saka bergaya sama. Tidak sekadar
menambah keanggunan Istana, beranda baru ini juga berfungsi untuk melindungi tamu
agung dari hujan yang sering tercurah di Bogor. Beberapa mobil dapat sekaligus berhenti
dibawah beranda ini untuk menurunkan penumpang. Dalam memugar Istana Bogor, Bung
Karno tetap mempertahankan gaya arsitektur Palladio. Jembatan kayu yang
menghubungkan bangunan induk dengan kedua sayapnya kemudian diganti menjadi
koridor.

Pemugaran Istana Bogor dipercepat menjelang sebuah pertemuan politik pemimpin
lima Negara sebagai tindak lanjut dari pertemuan di Colombo pada tahun 1954 yang belum
mencapai kata sepakat. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengundang para Perdana
Menteri India, Burma, Sri Lanka, dan Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan di
Indonesia.

Pada tahun 1954 itu pula, di halaman Istana Bogor yang luas juga dibangun dan
dipugar lima buah pavilion – Amarta, Madukara, Pringgodani, Dwarawatim dan Jodipoti
yang lebih dikenal dengan Paviliun 1, 2, 3, 4, dan 5 – yang terpisah agak jauh dari
bangunan-bangunan utama Istana. Salah satunya, sebuah pavilion kecil yang kini dikenal
sebagai Paviliun Amarta (atau paviliun 2), adalah tempat kesukaan Bung Karno. Ia sering
menginap di Paviliun Amarta ini bila sedang berada di Istana Bogor.
15
Bung Karno juga menanam tiga pohon beringin di halaman Istana Bogor untuk
menandai kelahiran tiga putranya: Guruh, Taufan, dan Bayu.

Pada tahun 1997, sebuah masjid umum dibangun untuk mengganti masjid sederhana
yang telah lebih dulu ditambahkan di dekat dapur umum. Masjid itu sengaja diletakkan di
bagian samping depan Istana, agar mudah dijangkau oleh masyarakat umum.

Sementara itu, rusa-rusa yang menghuni halaman Istana Bogor terus beranak-pinak
hingga mencapai 700-an ekor, padahal daya dukung halaman Istana Bogor sebetulnya
hanya ideal untuk 300 ekor rusa. Untuk mengurangi jumlahnya, beberapa ekor rusa telah
dipindahkan ke Istana Tampaksiring di Bali, kompleks Badan Intelijen Negara di Jakarta,
dan beberapa kantor Gubemur di tanah air. Semua langkah tertata untuk konservasi rusa ini
dilaksanakan pada masa Presiden Megawati.

Hamparan rumput Istana juga dihiasi dengan beberapa tempayan-tempayan besar
tanah liat, yang dibuat pada masa Bung Karno. Dari masa penjajahan Belanda masih
tertinggal beberapa tempayan asli dari Cina. Menurut cerita, Bung Karno pernah mengutus
seorang staf Istana untuk membeli tempayan yang biasa dipakai sebagai penyimpan
kedelai di pabrik tabu kepunyaan orang-orang Tionghoa. Akan tetapi, temyata tidak
seorang pun bersedia menjualnya karena benda itu selain langka memang sangat
diperlukan dalam pembuatan tahu. Staf Istana itu kemudian diam-diam mencoba membuat
tempayan semacam itu di Plered, sebuah tempat di Jawa Barat yang memang terkenal
kerajinan tanah liatnya. Percobaan itu temyata berhasil, sehingga Bung Karno memesan
banyak lagi tempayan besar dari Plered yang hingga kini menghiasi halaman Istana Bogor.

Dulu Bung Karno juga sempat mendatangkan beberapa pasang angsa dari Swiss untuk
dipelihara di kolam-kolam Istana. Tetapi, angsa-angsa itu tidak sanggup bertahan hidup
lama di cuaca tropis.

Menjelang 1960, Istana Bogor menjalankan fungsi yang sama dengan Istana Merdeka
dan Istana Negara di Jakarta: sebagai tempat kediaman sekaligus tempat kerja Presiden
Republik Indonesia. Bung Karno membagi waktunya antara Jakarta dan Bogor secara
tetap, setelah menikahi Ibu Hartini di Istana Cipanas pada 1953. Setiap hari Jumat, Sabtu,
dan Minggu ia akan berada di Istana Bogor; pada hari-hari lain, di Istana Merdeka Jakarta.
Dengan pengaturan ini Ibu Hartini pun kemudian dimukimkan di Paviliun Amarta
(Paviliun 2) Istana Bogor. Bangunan induk tetap dipergunakan untuk Ibu Fatmawati dan
16
putra-putrinya. Di bangunan induk ini, Bung Karno dan Ibu Fatmawati menempati ruang
depan dengan jendela menghadap ke halaman depan Istana Bogor.

17
BAB 5

ISTANA BOGOR SEKARANG

5.1. Penggunaan Bangunan

Secara umum, dapat dikatakan bahwa impresi arsitektur aslinya berasal dari tahun
1835. Namun, beberapa perubahan telah terjadi di masa-masa yang lain. Terlepas dari itu,
citra istana putih megah yang dikelilingi taman nan hijau tetap berhasil membuat Bogor
memiliki sebuah identitas yang unik. Pada tahun 1968 Istana Bogor resmi dibuka untuk
kunjungan umum atas restu dari Presiden Soeharto. Arus pengunjung dari luar dan dalam
negeri setahunnya mencapai sekitar 10 ribu orang.

Bangunan di Istana Bogor terdiri dari:

• Bangunan induk istana berfungsi untuk menyelenggarakan acara kenegaraan resmi,
pertemuan, dan upacara.

• Sayap kiri bangunan yang memiliki enam kamar tidur digunakan untuk menjamu
tamu negara asing.

• Sayap kanan bangunan dengan empat kamar tidur hanya diperuntukan bagi kepala
negara yang datang berkunjung.

• Pada tahun 1964 dibangun khusus bangunan yang dikenal dengan nama Dyah
Bayurini sebagai ruang peristirahatan presiden dan keluarganya, bangunan ini
termasuk lima paviliun terpisah.

• Kantor pribadi Kepala Negara

• Perpustakaan

• Ruang makan

• Ruang sidang menteri-menteri dan ruang pemutaran film

• Ruang Garuda sebagai tempat upacara resmi

18
• Ruang teratai sebagai sayap tempat penerimaan tamu-tamu negara.

• Kaca Seribu

Istana tahun 1835 yang asli tidak memiliki beranda di depan. Lalu pada tahun 1890,
ditambahkanlah sebuah beranda (drop off) untuk jalur masuk yang terhindar dari hujan.

Beranda tambahan tersebut beratap datar dan memiliki tiga arch (bukaan melengkung)
di depan dan satu di setiap sisi kanan dan kiri. Beranda itu kini telah diganti dengan yang
baru pada tahun 1952. Tidak diketahui apakah beranda terakhir ini dibuat lebih besar
daripada yang sebelumnya, tetapi beranda ini terlihat terlalu besar untuk Istana Bogor.
Mungkin karena kolom ionicnya yang besar dan pilar-pilar sudutnya yang tidak simestris.

Sebagian besar lantai dan tangga dari galeri utara dan selatan menggunakan material
marmer Italia berwarna putih dan abu-abu. Atapnya terdiri dari pola-pola rumit yang
menutupi konstruksi kayu dan talang masih dalam kondisi yang baik.

Gedung Induk, terdiri dari 8 ruang, yaitu :

1. Ruang Garuda yang berfungsi sebagai Ruang Resepsi, disini juga pertemuan -
pertemuan besar dapat dilaksanakan.

2. Ruang Teratai yang berfungsi sebagai ruang penerimaan tamu.

3. Ruang Film pernah berfungsi sebagai ruang pemutaran film pada masa Presiden
Soekarno.

4. Ruang Makan yang berfungsi sebagai ruang makan utama.

5. Ruang Kerja Presiden yang pernah berfungsi sebagai tempat bekerja Presiden
Soekarno.

6. Ruang Perpustakaan yang pernah berfungsi sebagai ruang perpustakaan Presiden
Soekarno.

7. Ruang Famili dan Kamar Tidur yang berfungsi sebagai tempat / ruang tunggu
Presiden jika akan mengikuti aneka acara di Ruang Garuda.

8. Ruang Tunggu Menteri yang berfungsi sebagai ruang tunggu para menteri jika
mereka akan mengikuti acara - acara di Ruang Garuda.

19
Gedung Utama Sayap Kiri, terdiri dari 2 ruang, yaitu :

1. Ruang Panca Negara, yang pernah berfungsi sebagai ruang Konferensi
Panca Negara / persiapan Konferensi Asia Afrika di Bandung,

2. Ruang Tidur dan Ruang Tengah, yang difungsikan sebagai tempat menginap
Presiden, tamu negara dan tamu agung.

Gedung Utama Sayap Kanan, berfungsi sebagai tempat menginap para Presiden
sebagai tamu negara berikut tamu - tamu negara, dan tamu - tamu lainnya.

1. Paviliun Sayap Kiri berfungsi sebagai kantor Rumah Tangga Istana Bogor

2. Paviliun Sayap Kanan berfungsi sebagai tempat menginap para pejabat dan staf
tamu negara

Pada sayap kanan dan kiri, lantai aula tengahnya dilapisi marmer coklat dari Jawa
Timur. Sayap bangunan terhubung dengan Gedung Utama melalui koridor yang terdiri dari
kolom Toscane, lantai marmer Italia dan jendela kaca.

Paviliun, terdapat 6 paviliun sebagai berikut :

1. Paviliun I-V kini digunakan sebagai tempat menginap para pejabat dan
merupakan ruang tunggu para menteri apabila ada acara

2. Paviliun VI digunakan sebagai rumah jabatan kepala istal

Gedung lainnya :

1. Gedung Dyah Bayurini, yang dilengkapi dengan kolam renang digunakan sebagai
tempat istirahat Presiden serta keluarganya jika sedang berada di Bogor.

2. Gedung Serba Guna yang berfungsi sebagai ruang serba guna: kesenian,
pertemuan, tempat artis, dsb.

20
21
Seiring dengan makin berperannya Indonesia dalam percaturan dunia, Istana Bogor
mewadahi pertemuan lima Perdana Menteri pada 1954: Ali Sastroamidjojo (tuan rumah),
Pandit Jawaharlal Nehru (India), Mohammad Ali (Pakistan), Sir John Kotelawala (Sri
Lanka), U Nu (Burma). Pertemuan itu berhasil mencapai kesepakatan untuk
menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun berikutnya -sebuah
langkah awal strategis untuk mengokohkan kerja sama negara-negara Asia dan Afrika,
yang juga merupakan cikal bakal Gerakan Non-Blok yang pada 1992 -1995 diketuai oleh
Presiden Soeharto.

Hingga sekarang, ruang tempat pertemuan para perdana menteri lima negara itu masih
disebut sebagai Ruang Pancanegara. Bendera-bendera kebangsaan lima negara masih
menghiasi ruangan itu. Tatanan meja-kursi itu pun masih dipertahankan.

Ruang Pancanegara itu terletak di gedung sayap kiri. Gedung yang memiliki enam
kamar tidur yang bagi para tamu negara setingkat menteri ini dilengkapi juga dengan
sebuah ruang makan dan ruang duduk. Pada masa Belanda, sayap kiri ini dipergunakan
bagi hunian staf Gubemur Jenderal.

Gedung sayap kanan diperuntukkan tamu-tamu negara setingkat kepala negara atau
kepala pemerintahan. Pada masa Belanda bagian ini juga menjalankan fungsi yang sama.
Bagian ini hanya terdiri atas empat kamar tidur. Satu-satunya anggota keluarga Kerajaan
Belanda yang pemah menginap di sini adalah Pangeran Willem Frederik Hendrik pada
1837. Beberapa raja dan presiden telah menjadi tamu Republik Indonesia di Istana Bogor.

Di bagian depan, di belakang serambi terbuka gedung induk Istana Bogor, terdapat
sebuah bangsal yang kini dikenal dengan sebutan Ruang Teratai. Penamaan demikian
bermula dengan adanya sebuah lukisan bunga teratai karya c.L. Dake, Jr. yang menjadi
elemen artistik paling menonjol di ruang duduk itu. Ini adalah lukisan yang dibuat pada
1952 berdasarkan teratai besar (Victoria regia)dari Amazon, Brazil, yang menghiasi kolam
di depan Istana Bogor.

Di antara Ruang Teratai dengan balairung utama di belakangnya, terdapat sebuah
koridor kecil yang disangga empat saka berlaras Korintia. Pada dinding-dinding sisinya,
tergantung cermin besar berbingkai emas yang diletakkan berhadapan, sehingga
menciptakan refleksi seolah-olah ada seribu bayangan terpantul hingga nun ke ujung sana.
Cermin ini dikenal dengan sebutan Kaca Seribu. Cermin dan saka-saka Korintia ini
22
merupakan sedikit saja dari elemen artistik yang masih asli sejak dibangunnya Istana ini
pada tahun 1850.

Balairung utama Istana Bogor sempat pula digunakan beberapa kali oleh Presiden
Soekarno untuk pesta-pesta tari lenso. Ruang ini kemudian diberi nama Ruang Garuda
karena penempatan lambang negara Garuda Pancasila pada dinding kepala.

Balairung yang kini ditebari dengan permadani Persia adalah bagian yang paling
anggun di Istana Bogor. Enam belas saka berlaras Korintia menopang langit-Iangit
berbentuk kubah yang dihias relief bergaya Yunani. Beberapa kandelabra kristal digantung
di langit-langit. Di Ruang Garuda ini diselenggarakan acara-acara yang bersifat formal:
jamuan santap resmi, pertemuan pertunjukan kesenian, serta peristiwa penting lainnya.

Pada masa Bung Karno, beberapa kali diselenggarakan sidang kabinet di ruang ini.
Presiden Soekarno juga beberapa kali menerima surat kepercayaan para duta besar di
balairung ini. Pada masa Presiden Soeharto, di balairung ini diselenggarakan pertemuan
para kepala negara APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) pada 1995.

Ruang tidur utama di gedung induk hingga kini masih dijuluki sebagai Kamar Raja. Di
kamar itu terdapat sebuah tempat tidur yang panjangnya hampir tiga meter - khusus dibuat
untuk Raja Ibnu Saud dari Saudi Arabia yang pernah berencana mengunjungi Indonesia.
Sayangnya, ia membatalkan muhibahnya karena kondisi kesehatannya. Ruang ini dulu
merupakan tempat tidur bagi putra-putri Presiden Soekarno.

Pada arah yang berlawanan, sebelum koridor menuju sayap kiri, adalah sebuah ruangan
yang dulu dipakai Bung Karno sebagai tempat untuk memutar film. Setiap menjelang akhir
pekan, petugas Istana Bogor berangkat ke Jakarta untuk mengambil film-film yang akan
dipertunjukkan. Di samping keluarga dan staf Istana, Bung Karno juga sering mengundang
pejabat setempat untuk ikut melihat pemutaran film.

Ruang kerja Presiden yang terletak di bagian kiri belakang gedung induk adalah ruang
yang besar - bahkan lebih besar dari ruang kerja Presiden di Istana Merdeka dengan
jendela-jendela dan pintu besar yang menghadap ke Kebun Raya.

Sejak ditinggalkan oleh Bung Karno, ruang ini tak pernah dipakai sebagai ruang kerja
oleh para presiden berikutnya. Karenanya, ruang ini masih dibiarkan sebagaimana tatanan
aslinya ketika masih dipergunakan Bung Karno. Sebuah tenunan songket dari benang emas
23
ditaruh di atas meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati. Meja kerja ini menghadap
sebuah dinding yang semula mempunyai dua jendela. Dinding besar itu kemudian
dimanfaatkan Bung Karno untuk menggantung lukisan besar karya pelukis Rusia,
Konstantin Egorovich Makowsky, yang dihadiahkan kepada Bung Karno ketika
berkunjung ke Uni Soviet pada 1956. Sebuah lukisan besar Makowsky lainnya tergantung
di ruang makan Istana Bogor. Lukisan itu - dibuat pada 1891 dan menggambarkan Pesta
Dewa Anggur - dibeli Bung Karno dari sebuah galeri di Roma pada 1961.

5.2. Karya Seni di Istana Bogor

Tengkorak harimau dari Thailand

Banyak barang asli turun temurun yang berada di Istana Bogor rusak, hancur, atau hilang
pada masa Perang Dunia II. Karena itu, seluruh karya seni dan perabotan klasik yang
berada di Istana Bogor bermula dari awal tahun 1950.

Koleksi-koleksi karya seni dan dekorasi internasional banyak berasal dari hadiah negara-
negara asing, yang memberikan aksen mewah di Istana Bogor. Salah satunya adalah
tempat penyangga lilin cristal bergaya Bohemian dan karpet langka dari Persia yang
melapisi lantai ruang utama di Istana Bogor.

Koleksi istana meliputi:

 450 lukisan, di antaranya adalah karya pelukis Indonesia Basuki Abdullah, pelukis
Rusia Makowski, dan Ernest Dezentjé

 360 patung

24
 Susunan lantai keramik mewah yang tersebar di istana. Salah satu dari koleksi
keramik yang paling mengesankan, berasal dari Rusia, sumbangan dari Perdana
Menteri Khrushchev pada tahun 1960.

 Hadiah hadiah kenegaraan, di antaranya adalah tengkorak harimau berlapis perak,
hadiah dari Perdana Menteri Thanom Kittikachorn dari Thailand pada tahun 1958.

Karya seni dari Patung perunggu Patung Pegassus dari
Swedia dikenal "Hercules" oleh Swedia terlihat
sebagai "Tangan pemahat terbang di antara
Tuhan" asal Polandia pohon berumur
ratusan tahun di
halaman Istana Bogor

25
LAMPIRAN

assistent resident 1870

ISTANA BOGOR VOOR
1880

26
ISTANA BOGOR TH 1928

27
ISTANA BOGOR TH
1895-1905

ISTANA BOGOR CIRCA
1910

28
29