You are on page 1of 11

Chairunnisa, Implemetasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access And Benefit Sharing System (ABS)....

137

IMPLEMENTASI PRIOR INFORMED CONSENT (PIC) DAN ACCESS AND
BENEFIT SHARING SYSTEM (ABS) DALAM UPAYA OPTIMALISASI
BIOPROSPEKSI SUMBER DAYA GENETIK KAWASAN LAUT
INDONESIA*
Madiha Dzakiyyah Chairunnisa**

Program Studi Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Jalan Sosio Justisia No. 1, Bulaksumur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Abstract
This study discusses on the implementation of Prior Informed Consent (PIC) and Access and Benefit
Sharing System (ABS) in the Effort to Optimalize Bioprospecting of Genetic Resources in Indonesian
Seas. The questions posed are (1) how is the implementation of the aforementioned PIC and ABS as a
protection of genetic resources coming from Indonesian seas? (2) How is the implication of the PIC and
ABS implementation in the bioprospecting of genetic resource in Indonesian seas towards the urgency of
the passing of Genetic Resources Management bill? The result shows that PIC and ABS implementation is
not optimally protecting genetic resources from biopiracy, misuse, and misappropriation.
Keywords: genetic resources, Indonesian seas.

Intisari
Penelitian ini membahas mengenai impelementasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access and Benefit
Sharing System (ABS) dalam Upaya Optimalisasi Bioprospeksi Sumber Daya Genetik di Kawasan Laut
Indonesia. Rumusan masalah yang dikemukakan adalah (1) bagaimana implementasi PIC dan ABS sebagai
bentuk perlindungan sumber daya genetik yang berasal dari wilayah laut Indonesia? (2) bagaimana dampak
dari implementasi PICdan ABS dalam bioprospeksi sumber daya genetik laut di Indonesia terhadap urgensi
pengesahan RUU Pengelolaan Sumber Daya Genetik (RUU PSDG)? Kesimpulan yang diperoleh adalah
implementasi mekanisme PIC dan ABS yang diusung oleh CBD bersama aturan derivatifnya, belum
secara optimal melindungi bioprospeksi sumber daya genetik laut di Indonesia dari biopiracy, misuse, dan
missappropriation oleh pihak-pihak asing yang tidak bertanggung jawab.
Kata kunci: sumber daya genetik, perairan Indonesia.

Pokok Muatan
A. Pendahuluan........................................................................................................................................ 138
B. Pembahasan ....................................................................................................................................... 139
1. Implementasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access and Benefit Sharing System (ABS)
sebagai Bentuk Perlindungan Sumber Daya Genetik yang Berasal dari Wilayah Laut Indonesia 139
2. Dampak dari Implementasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access and Benefit Sharing
System (ABS) dalam Bioprospeksi Sumber Daya Genetik Laut di Indonesia terhadap
Urgensi Pengesahan RUU Pengelolaan Sumber Daya Genetik? ................................................. 144
D. Penutup .............................................................................................................................................. 145

*
Naskah Publikasi Penelitian Program Pascasarjana FH UGM.
**
Penulis Utama.

Februari. Selanjutnya apabila sumber daya spesies-spesies yang memiliki potensi besar untuk genetik telah dimanfaatkan harus ada pengaturan dikembangkan secara komersial. terutama dengan terhadap pembagian keuntungan yang adil dan sama memanfaatkan teknik bioteknologi. Di sinilah kemudian muncul permasalahan. genes. microorganism. . ditemukan di wilayah negara-negara berkembang.2 melalui Access and benefit sharing system (ABS). Protokol tersebut mengkhususkan pada regulasi seperti Indonesia. dengan jalan menginformasikan terlebih dahulu yang berarti proses pencarian sumber daya hayati mengenai rencana pemanfaatan sumber daya terutama sumber daya genetik dan materi biologi genetik. hlm. hlm. Nomor 3. 152. canggih pembagian keuntungan dalam pemanfaatan sumber dan berkarakter cepat untuk menunjang kegiatan daya genetik. 2008. 70. animals. penulis tertarik untuk membahas di wilayah negara berkembang termasuk Indonesia dan menganalisis mengenai mekanisme prior khususnya di wilayah laut. Toh Tuck Link. pengesahan Protokol Nagoya yang diselenggarakan ketika sebagian besar sumber daya genetik banyak di Nagoya. November 2015. Pemanfaatan sumber daya genetik biasanya Prior Informed Consent atau PIC merupakan izin dilakukan melalui proses bioprospeksi. Jepang pada tanggal 29 Oktober 2010. 2 Ibid. berbagai potensi sumber daya genetik yang berada Oleh karena itu. or traditional communities knowledge on biological resources by corporations that patent them for their own use. Bioprospeksi dari pihak yang menyediakan sumber daya genetik sendiri berasal dari kata biodiversity dan prospecting. menyebab­ berhubungan dengan masalah pemberian akses dan kan perlunya bantuan teknologi yang maju. informed consent dan access and benefit sharing Melihat permasalahan di atas maka perlu adanya sebagai upaya perlindungan terhadap potensi upaya untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya genetik tersebut khususnya di kawasan sumber daya genetik yang mengedepankan konsep laut Indonesia melalui penulisan tesis dengan 1 Imron Riyadi. Satu diantaranya adalah melalui tersebut. Halaman 137-147 pembangunan berkelanjutan. 3 Defisnisi biopiracy adalah “biopiracy is defined as biological theft.” Lihat lebih lanjut pada Khrisna R. Jurnal Litbang Pertanian.138 JURNAL PENELITIAN HUKUM Volume 2. or the unauthorized and uncompensated collections of indigenous plants. genetik. Volume 27. Kompleksitas dari kegiatan bioprospeksi Terdapat perkembangan yang cukup signifikan sumber daya genetik khususnya di laut. yang perkembangan teknologinya pemberian akses dan pembagian keuntungan yang tergolong masih jauh di bawah teknologi yang setara dan adil bagi pemanfaatan sumber daya dimiliki negara maju. “Potensi Pengelolaan Bioprospeksi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”. lainnya yang dikelola dan dimanfaatkan untuk Perlindungan terhadap potensi sumber daya kepentingan komersial. World Scientific Publishings. Protokol ini muncul karena maraknya Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan kegiatan eksploitasi potensi sumber daya genetik dan pemanfaatan sumber daya genetik laut menye­ di kawasan laut oleh pihak asing yang kurang babkan banyak terjadinya pencurian sumber daya mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia genetik atau yang lebih dikenal dengan istilah serta belum jelasnya proses secara prosedural dan biopiracy3 oleh perusahaan-perusahaan asing yang teknis pelaksanaan mekanisme PIC dan ABS untuk berasal dari negara maju yang memanfaatkan melindungi potensi sumber daya genetik tersebut.1 Tujuan hal tersebut genetik tidak berhenti setelah PIC disetujui oleh adalah untuk mengidentifikasi dan mengoleksi negara asal. Dronamraju. Emerging Consequences of Biotechnology : Biodiversity Loss and IPR Issues. serta mencegah terjadinya biopiracy maupun kegiatan eksploitasi lainnya oleh perusahaan asing. 2008. Pendahuluan Consent dalam akses ke sumber daya genetik. Salah satunya dengan memasukkan konsep Prior Informed A.

bppp-tegal.4 Indonesia berdasarkan temuan dari riset yang dilakukan sendiri termasuk ke dalam segitiga karang oleh Dr. No.35. http://www. Februari. 9 Ibid.9 Riset terbaru yang dilakukan oleh Pematenan Prialt yang berbasis sumber peneliti dari Balai Riset Pengolahan Produk daya hayati laut ini kemudian dipasarkan dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan di dunia termasuk di negara asal (state of Kementerian Kelautan dan Perikanan. 57-64.6 Pengelolaan Sumber Daya Genetik? Penemuan senyawa genetik dalam spons yang hidup di perairan Papua terutama di wilayah B. berasal dari wilayah laut Indonesia? (2) Bagaimana dian­tara­ nya ditemukannya potensi dari dampak dari implementasi Prior Informed Consent spons Xestospongia yang berasal dari (PIC) dan Access and Benefit Sharing system perairan Papua. 139 rumusan masalah sebagai berikut : (1) Bagaimana mengindikasikan adanya penemuan potensi implementasi Prior Informed Consent (PIC) dan biota laut Indonesia sebagai penghasil Access and Benefit Sharing System (ABS) sebagai senyawa bioaktif yang penting bagi pe­ bentuk perlindungan sumber daya genetik yang ngem­ bangan di bidang farmakologi. Hal ini tertuju pada segitiga karang dunia.7 Hanya System (ABS) sebagai Bentuk Perlindungan saja hal ini masih perlu dikembangkan Sumber Daya Genetik yang Berasal dari dan diteliti lebih lanjut terutama dalam hal Wilayah Laut Indonesia konservasi dan budidayanya. Baldomero M.5 Jenis spons ini disinyalir (ABS) dalam bioprospeksi sumber daya genetik mengandung senyawa antimalaria dengan laut di Indonesia terhadap urgensi pengesahan RUU laju penghambatan Plasmodium yang tinggi. Jurnal Squalen. Hunt & A. Bahkan perairan laut Indonesia oleh Elan Corporation yang berada di Irlandia kini telah menjadi target ekspedisi dan dengan nama dagang Prialt (Ziconotide industri farmasi. Olivera Universitas dunia sehingga kaya akan keanekaragaman Utah. Implementasi Prior Informed Consent yang cukup signifikan dalam bioprospeksi (PIC) dan Access and Benefit Sharing sumber daya genetik laut Indonesia. Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan”. 1) Perkembangan Bioprospeksi Poten­ Spesies cone snail yang ditemukan si Sumber Daya Genetik Laut di di perairan Indonesia adalah jenis yang Wilayah Laut Indonesia mematikan. 6 Ibid.. “Protein Siput untuk Obat Nyeri”.php/artikel/100-artikel/artikel-manajemen/108- protein-siput-untuk-obat-nyeri. 7 Ibid. “Potensi Penemuan Obat Antimalaria dari Laut Indonesia”. Pembahasan perairan Yapen ini merupakan perkembangan 1. Chairunnisa. 2006. Vol. yaitu Conus geographus & Bioprospeksi sumber daya genetik Conus textile.J. origin) dari sumber daya genetik ditemukan Dr. Intrateehal Infusion). Vincent.8 Penemuan tersebut hayatinya termasuk sumber daya genetik kemudian dikomersialkan dan diproduksi didalamnya. Hal 4 B. Ekowati Chasanah dan Murtihapsari yaitu di Indonesia dengan harga mahal. . hlm.com/web/index. Desember 2010. 8 BPPP Tegal. Amerika Serikat. ditemukan bahwa senyawa racun bioteknologi untuk menemukan senyawa yang dimiliki oleh cone snail yang disebut penting dari pembuatan obat-obatan ketika conotaxin mampu dijadikan sebagai obat slogan “drug from the sea” digulirkan dan penghilang rasa sakit (painkiller). Pada perkembangan penelitian laut mulai menjadi kegiatan para ilmuwan selanjutnya. AMBIO. “Scale and Sustainability of Marine Bioprospecting for Pharmaceuticals”. diakses Tanggal 6 Juni 2014. 3.. 5 Murtihapsari dan Ekowati Chasanah. Implemetasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access And Benefit Sharing System (ABS). Volume 5.C..

” 11 Hasil wawancara dengan Ibu Vidya S. Nomor 3. diakses 27 Juni 2014.140 JURNAL PENELITIAN HUKUM Volume 2. unless otherwise determined by that Party. yakni atau pemanfaatan sumber daya genetik pencurian atas senyawa genetik yang diambil bagi pihak-pihak yang berwenang untuk dari keong racun atau siput laut. maksudnya pihak-pihak asing yang tidak bertanggung pemberian informasi yang dapat dipercaya jawab. 13 Ibid. Nalang. .13 Pemberlakuan proses izin keuntungan yang diperoleh dari penjualan penelitian bagi peneliti asing sebagai langkah produk obat Prialt tersebut. Kementerian Lingkungan Hidup baru misuse maupun misappropriation.12 melakukan proses pemanfaatan sumber daya Kewenangan dalam pengaturan mengenai genetik untuk terlebih dahulu melaksanakan izin bagi peneliti asing untuk melakukan pemberitahuan atau persetujuan konfirmasi penelitian di Indonesia semenjak tahun awal (prior informed consent). http://lipi.go. Belum optimalnya pengelolaan sumber PIC atau Prior Informed Consent terdiri dari daya genetik di kawasan laut Indonesia tiga elemen esensial yaitu prior memiliki terlihat dari banyaknya pencurian sumber arti “sebelum akses dilakukan”.11 dengan penggunaan sumber daya genetik. November 2015. Bahkan dari hasil penelusuran terdapat dalam Convention On Biological paten ditemukan ada sekitar 41 paten yang Diversity (CBD) maupun Protokol Nagoya menggunakan bahan dari sumber daya mewajibkan pihak pemakai (users) sebelum genetik yang diduga berasal dari Indonesia. Informed daya genetik yang berkedok penelitian oleh atau “yang diinformasikan”. Indonesia melalui awal dalam mengatasi praktek biopiracy. Jenis keong memanfaatkan sumber daya genetik dan ini banyak ditemukan di perairan hangat mampu memahami implikasinya. artinya “pemberian persetujuan atau 2) Implementasi PIC sebagai Bentuk perolehan izin”.10 Sampai saat 2008-2009 diberikan kepada sekretariat ini.14 memiliki Balai Kliring Keanekaragaman Dalam forum internasional mulai Hayati sebagai media dan sarana dalam dibahas mengenai suatu mekanisme yang memfasilitasi pertukaran data dan informasi diha­rapkan mampu memberikan perlin­ ilmiah berkaitan dengan keanekaragaman dungan yang layak dan efektif sehubungan hayati termasuk sumber daya genetik. Indonesia pun belum menuntut apapun Tim Koordinasi Pemberian Izin Peneliti terkait paten Prialt tersebut dan belum ada Asing (TKPIPA) di Kementerian Riset dan indikasi dari Indonesia untuk mengajukan Teknologi dan tetap dibantu oleh LIPI sebagai permohonan mengenai pembagian dari hasil anggotanya.id/berita/single/ijin-peneliti-asing-diberi-selektif/6715. 14 Ibid. Salah satu contoh biopiracy yang dan relevan mengenai rencana penggunaan terjadi di wilayah laut Indonesia. Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Genetik Kementerian Lingkungan Hidup pada Tanggal 29 Agustus 2014 di Jakarta. Consent Indo-Pasifik. 12 LIPI. Halaman 137-147 ini tentu saja merugikan Indonesia dari sisi yang Berasal dari Wilayah Laut ekonomi karena sebagai negara pemilik Indonesia atau penyedia sumber daya hayati Indonesia Maraknya pendaftaran paten oleh diketahui tidak memperoleh sepeser pun pihak asing yang menggunakan sumber daya dari hasil keuntungan penjualan obat Prialt. “Izin Peneliti Asing Diberi Selektif”. yaitu bentuk perizinan atau Perlindungan Sumber Daya Genetik persetujuan secara eksplisit yang dikeluarkan 10 Bisa dilihat selengkapnya pada Pasal 15 (5) CBD : “Access to genetic resources shall be subject to prior informed consent of the Contracting Party providing such resources. genetik asli Indonesia begitu merugikan Padahal apabila merujuk pada aturan yang Indonesia.

20 Sumber paten telah diperoleh dan dimanfaatkan daya genetik dinyatakan sebagai discovery sesuai dengan ketentuan yang berlaku di karena hal itu merupakan bagian dari unsur negara asal sumber daya genetik. genetik diperlukan upaya bioprospeksi dengan Pendapat pertama yang mengikuti aliran menggunakan teknik bioteknologi seperti liberalisme paten mengemukakan bahwa melalui isolasi. Terdapat beberapa silang pendapat Sedangkan dikatakan sebagai invensi.15 muncul mengacu pada prinsip keterbukaan Pendapat kedua mendasarkan diri pada atau pengungkapan (disclosure) atas sistem syarat kebaruan dengan penafsiran yang perlindungan paten. teknologi. 20 Helianti Hilman dan Ahdiar Romadoni. Dikemukakan bahwa sempit.19 perlindungan Paten.. 18 Ibid. Implemetasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access And Benefit Sharing System (ABS).109. 17 Ibid. Sistem Paten Tidak Boleh Menjarah Sumberdaya Genetik dan Pengetahuan Tradisional .. Selanjutnya pengikut pendapat ini adalah bahwa tidak ada invensi yang benar..16 Suatu invensi yang bersumber setiap invensi yang bersumber dari sumber dari sumber daya genetik dan pengetahuan daya genetik dan pengetahuan tradisional tradisional tidak dapat dipatenkan karena tetap dapat dipatenkan dengan syarat di tidak memenuhi syarat kebaruan. 2001. 2. termasuk yang bersumber yang menggunakan pula di dalamnya unsur dari sumber daya genetik dan pengetahuan kimia sehingga sumber daya genetik yang di tradisional selalu dapat dimintakan paten dapat tidak langsung ada begitu saja tetapi dengan syarat memenuhi standar berupa membutuhkan proses panjang dan bantuan novelty (kebaruan).17 Hal ini saat mengajukan permohonan paten atas didasarkan pada kasus pemberian paten atas invensi tersebut dinyatakan secara transparan turmeric dan beras basmati yang digugat oleh bahwa invensi tersebut bersumber dari pemerintah India untuk dibatalkan karena sumber daya genetik dan pengetahuan tradi­ syarat kebaruan tidak terpenuhi. 141 oleh pemerintah dari negara penyedia sumber invensi sebelumnya atau merupakan kelan­ daya genetik. ekstraksi maupun pemurnian invensi apapun.. Dalam pengajuan paten Persoalan dalam isu kebaruan terkait perlu disyaratkan adanya pengungkapan sumber daya genetik adalah bahwa apakah asal usul. Convention on Biological Diversity 9. sejak makhluk hidup lahir maupun tumbuh. pada dasarnya invensi yang dapat diberikan 15 Konphalindo. Hal ini sebagai kunci utama untuk sumber daya genetik merupakan sekedar menjamin sumber daya genetik dalam suatu suatu temuan belaka (discovery) atau invensi yang diajukan untuk mendapatkan termasuk penemuan (invention). Sedangkan pendapat terakhir yang dan useful (dapat diterapkan pada industri). menyatakan bahwa hampir tidak mungkin benar dianggap baru. jutan dari teknologi yang pernah diung­ Wacana PIC juga berkembang dalam kapkan sebelumnya (prior art). . 21 Ibid. 16 Ibid. Jakarta. Chairunnisa. karena berkaitan dengan penggunaan sumber daya dalam mengidentifikasi suatu sumber daya genetik pada suatu invensi yang dipatenkan.hlm. non-obvious (inventif). Beberapa metabolit sekunder atau senyawa bioaktif negara telah menerapkan disclosure of origin dari suatu organisme makhluk hidup requirements pada aturan paten karena sehingga keberadaannya memang telah ada keterkaitan antara keduanya yang signifikan. 19 Ibid. Makalah. Pengelolaan & Perlindungan Aset Kekayaan Intelektual. The British Council.18 Dasarnya sional. karena suatu invensi ada invensi yang benar-benar baru karena dapat dikatakan sebagai hasil dari invensi. 30 May 2008. hlm. Bonn.

should also be obtained. PIC Pasal 15 (5) CBD. Perolehan izin yang diberikan paten. kepada hukum kekayaan intelektual seperti 4. memiliki kekayaan hayati yang melimpah kurangnya hasil perkembangan dari teknologi termasuk sumber daya genetiknya.22 melekat pada sumber daya genetik sangat Otoritas kompeten dari pemerintahan unik dan khusus. Ada dua perspektif yang biaya seminimal mungkin. karena karakteristik yang penyedia. as appropriate to the circumstances and subject to domestic laws. sesuai dengan yang diperintahkan dalam Dari sudut hukum internasional.” . menuju sumber daya genetik Pendapat pertama yaitu pihak-pihak yang harus transparan sesuai dengan mendukung pengaturannya diserahkan aturan hukum. Isu ini juga berkembang lokal suatu negara memiliki tanggung jawab di negara-negara anggota TRIPs dalam untuk mengeluarkan jaminan secara sah Doha Ministerial Decalaration. Pasal 15 (5) CBD secara eksplisit undang Paten No. mengenai pengaturan perlindungannya 2. IV. Pembatasan terhadap akses PIC terhadap sumber daya genetik dilindungi. Steps In The Access And Benefit-Sharing Process. Nagoya. based on legal grounds.23 dalam aplikasi paten yang perlu diterapkan Dalam memberikan jaminan. Indonesia yang sudah ada sebelumnya. bukan untuk menghambat tujuan dari CBD. Pengaturan lebih tegas dan detail disclosure of origin. such as indigenous and local communities. and not run counter to the objectives of the Convention. Indonesia sebagai kompeten nasional perlu mempertimbangkan 22 Lihat selengkapnya dalam Bonn Guidelines Part. (c) Restrictions on access to genetic resources should be transparent. Prinsip-prinsip dasar dalam sistem PIC untuk dapat membuktikan kepemilikan asal juga diakomodir dalam Bonn Guidelines dari suatu invensi yang telah dipatenkan. in accordance with applicable national legislative. be responsible for granting access or. 23 Pasal 13 (2) Protokol Nagoya : “Each Party shall designate one or more competent national authorities on access and benefit-sharing. muncul ke permukaan bagaimana seharusnya 3. Competent national authorities shall.”). Dalam Undang. The consent of relevant stakeholders. Point 26: (“The basic principles of a prior informed consent system should include: (a) Legal certainty and clarity. Section C. 14 Tahun 2001 belum diatur mengatur mengenai kewajiban menyertakan tentang syarat pencantuman PIC ataupun PIC. Sedangkan pendapat kedua yang oleh otoritas nasional yang muncul adalah harus menggunakan sistem kompeten dan relevan di negara hukum sui generis. Terutama berkaitan dengan perlin­ ditemukan dalam CBD beserta Protokol dungan paten itu sendiri. issuing written evidence that access requirements have been met and be responsible for advising on applicable procedures and requirements for obtaining prior informed consent and entering into mutually agreed terms. (b) Access to genetic resources should be facilitated at minimum cost. Kepastian dan kejelasan hukum. mekanisme PIC ini masih mengalami kesu­ Jaminan mekanisme PIC bisa litan. Nomor 3. as applicable. November 2015. Akses menuju sumber daya genetik harus difasilitasi dengan secara hukum.21 ikut berperan aktif dalam setiap perundingan Dalam implementasinya di lapangan TRIPs guna memperjuangkan hak-haknya.142 JURNAL PENELITIAN HUKUM Volume 2. Beberapa prinsip tersebut terhadap akses sumber daya genetik juga diantaranya: masih menjadi bahan perdebatan terutama 1. Salah satu menurut hukum nasionalnya yang diperlukan isunya yang berkembang dalam deklarasi untuk menentukan diterima atau tidaknya PIC ini adalah mengenai disclosure requirement dalam akses menuju sumber daya genetik. Halaman 137-147 paten merupakan hasil pengembangan dari salah satu negara berkembang yang juga invensi-invensi sebelumnya atau sekurang. (d) Consent of the relevant competent national authority(ies) in the provider country. otoritas dalam perjanjian TRIPs. administrative or policy measures. Hal ini tentu saja cukup termuat dalam Pasal 6 Protokol Nagoya yang mempersulit Indonesia secara hukum sebagai memberikan porsi khusus bagi pelaksanaan negara pemilik asal dari sumber daya genetik PIC. Prior Informed Consent.

24 Pasal 13 (1) poin (a) dalam Protokol Nagoya : “Each Party shall designate a national focal point on access and benefit-sharing. sumber daya hayati. Rekomendasi ketiga mengenai upaya Seperti yang diamanatkan oleh Pasal tindakan untuk meningkatkan kesadaran akan 15 CBD berkaitan dengan akses terhadap pentingnya nilai sumber daya genetik dan sumber daya genetik dan pembagian keun­ yang terkait dengan pengetahua tradisional. informasi suatu agen yang bertugas mengumpulkan berupa prosedur untuk memperoleh PIC dan kemudian menyebarkan informasi tertentu.. pembentukan kesepakatan bersama (mutually Rekomendasi kedua menghimbau negara agreed terms). pembentukan kemampuan dan (ABS) sebagai Bentuk Perlindungan mem­ perkuat sumber daya manusia dan Sumber Daya Genetik yang Berasal kemampuan kelembagaan di negara berkem­ dari Wilayah Laut Indonesia bang. The national focal point shall make information available as follows : (a) for applicants seeking access to genetic rsources.. untuk melaksanakan berbagai tujuan dari ICNP membuat beberapa rekomendasi CBD adalah Kementerian Lingkungan Hidup bagi kepentingan akses pembagian manfaat. Clearing-House yaitu akses sumber daya genetik. evaluasi mengenai bagaimana aktivitas akses Setiap negara pihak CBD yang juga tersebut dapat berdampak pada konservasi negara penyedia yang telah mengatur adanya dan pemanfaatan secara berkelanjutan dari persyaratan PIC perlu mengambil langkah keanekaragaman hayati.. Untuk itu. tungan yang adil. dalam CBD -10. Di Indonesia yang bagi keperluan Protokol Nagoya dalam diberikan mandat sebagai national focal point mendukung akses pembagian manfaat (ABS). serta pelaksanaan pengawasan Protokol Nagoya. memutuskan untuk membentuk Open- maupun Protokol Nagoya mewajibkan setiap ended Ad Hoc Intergovernmental Committee negara dalam level nasional untuk menunjuk (ICNP-Intergovernmental Committee of kelembagaan tertentu sebagai focal point Nagoya Protocol) sebagai badan sementara nasional dari CBD. 143 beberapa hal yang mendukung seluruh aspek tersebut sebagai subjek PIC (pemberitahuan dari mekanisme PIC seperti. Chairunnisa. including benefit-sharing. information on procedures for obtaining prior informed consent and establishing mutually agreed terms. including but not limited to those listed in the Annex.24 hal membangun kemampuan (capacity- 3) Implementasi Access Benefit Sharing building). tipe dan kuantitas sebelumnya) bagi negara pihak pemilik dari sumber daya genetik yang dicari. Negara-negara pihak terhadap akses dan kegiatan pemanfaatan CBD dalam pertemuan negara pihak ke sumber daya genetik. Sebagai bentuk perhatian mengakomodasi seluruh persyaratan yang dalam memajukan dan mempromosikan dibutuhkan. pasti dalam hal legislatif. Implemetasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access And Benefit Sharing System (ABS). administratif atau Keberhasilan implementasi mekanisme pun pengaturan kebijakan yang layak seperti PIC di level nasional tidak bisa dilepaskan yang diamanatkan dalam Pasal 6 ayat 3 dari eksistensi kelembagaan yang mampu Protokol Nagoya.” 25 Pasal 5 (4) Protokol : ”Benefits may include monetary and non-monetary benefits. (KLH) yang bertugas untuk membuat dan Rekomendasi pertama mengenai bentuk mendistribusikan informasi yang layak bagi operasi dari Access and Benefit-sharing para pemohon (applicants) yang memohon Clearing-House. termasuk pula prosedur pihak untuk bertindak membantu dalam pembagian manfaat (benefit-sharing).” . hal ini menunjukkan Rekomendasi terakhir tentang prosedur adanya pengakuan atas kedaulatan negara kerjasama dan mekanisme kelembagaan terhadap sumber daya hayati dan pengaturan dalam memajukan dan mempromosikan mengenai akses terhadap sumber daya hayati Protokol.

27 genetik. Indonesia sebagai negara asal dari sumber daya serta pengakuan sosial. mempunyai payung hukum yang jelas. biaya khusus yang mampu dan siap untuk memanfaatkan sumber dibayarkan agen khusus terpercaya dalam daya genetik bagi pihak asing. CBD sendiri dalam 26 Annex Protokol Nagoya : Monetary and Non-Monetary Benefits. Di Indonesia belum ada aturan hukum Indonesia sebagai salah satu negara peserta yang jelas dan pasti mengenai bagaimana sekaligus peratifikasi CBD melalui Undang-undang implementasi serta prosedur pembagian No. Dampak dari Implementasi Prior Informed berkelanjutan dari keanekaragaman hayati.26 terhadap Urgensi Pengesahan RUU Bentuk pembagian manfaat yang Pengelolaan Sumber Daya Genetik bersifat non-materi seperti saling berbagi Pengesahan RUU PSDG menjadi UU ini hasil penelitian dan pembangunan. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan CBD manfaat di lapangan sehingga masih cukup seharusnya mulai melakukan upaya pembenahan sulit untuk melakukan permohonan ABS dalam instrumen hukum nasional guna melindungi kepada paten asing yang memanfaatkan sumber daya genetik yang dimiliki khususnya sumber daya genetik yang berasal dari sumber daya genetik laut. kelembagaan mekanisme pembagian manfaat yang bisa dan infrastruktur. keikutsertaan Sharing system (ABS) dalam Bioprospeksi dalam kepemilikan hak kekayaan intelektual Sumber Daya Genetik Laut di Indonesia yang relevan. keun­ hasil keuntungan (benefit sharing) terhadap tungan keamanan makanan dan kehidupan. kola­ merupakan sui generis dan bersifat urgent (harus borasi. nasional (capacity building). 27 Ibid. pembayaran lisensi dalam konteks sebagai negara penyedia dalam hal komersialisasi. kontribusi pada ekonomi lokal.144 JURNAL PENELITIAN HUKUM Volume 2. building yang kuat diharapkan Indonesia pembayaran royalti. untuk mencegah terjadinya biopiracy terus- dalam pendidikan dan pelatihan atau pun menerus dan berulang-ulang yang dilakukan oleh transfer alat-alat canggih. akses informasi kita tanpa melakukan penelusuran asal (disclosure sains yang relevan dengan konservasi dan requirements) melalui pemberitahuan sebelumnya penggunaan berkelanjutan keanekaragaman (prior informed consent) serta memberikan bagi hayati.25 Bentuk bisa melalui pembangunan kemampuan yang sifatnya materi seperti biaya akses. mendukung konservasi dan penggunaan 2. pengembangan yang memanfaatkan potensi sumber daya genetik kemampuan kelembagaan. partisipasi dalam para peneliti asing yang berasal dari negara maju pengembangan suatu produk. 5 Indonesia tanpa ada perjanjian sebelumnya. November 2015. Halaman 137-147 Adapun bentuk dari pembagian diterapkan oleh Indonesia terhadap peman­ manfaat terbagi menjadi dua dilihat dari faatan sumber daya genetik oleh pihak asing sifatnya materi dan non-materi. Selanjutnya. Selain kolaborasi dan kerjasama serta berkontribusi itu. . khususnya sumber daya genetik laut yang belum pertukaran staf. Konsekuensi dari UU No. Tahun 1994 tersebut Indonesia memiliki kewajiban- dengan alasan belum ada instrumen hukum kewajiban yang harus segera dilaksanakan terkait nasional yang mengaturnya. publikasi penelitian bersama. Dengan capacity pembayaran di awal. kerjasama dan keikutsertaan peneliti segera) sebagai upaya perlindungan terhadap lokal Indonesia dalam suatu pene­litian inter­ potensi sumber daya genetik yang kita miliki nasional. Implementasi dengan instrumen hukum pendukung. pembayaran proyek. joint ventures. Nomor 3. Consent (PIC) dan Access and Benefit biaya penelitan. transfer pengetahuan dan teknologi.

memperjuangkan perlindungan atas sumber daya yaitu: genetiknya melalui pembahasan di pertemuan. Implemetasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access And Benefit Sharing System (ABS). med Consent dan Access and Benefit menggalang posisi bersama dengan Like Minded Sharing yang diusung oleh CBD Countries (LMCs). Selain itu. Diharapkan hal ini dapat cukup banyak aturan hukum nasional segera terealisasikan dan menjadi instrumen yang mengatur keanekaragaman . Penutup Kedua pasal tersebut dapat menjadi acuan Berdasarkan uraian di atas dapat didapatkan bagi pemerintah dan DPR untuk segera mengesah­ dua kesimpulan. Maraknya pendaftaran paten dengan rancangan peraturan perundang-undangan khususnya di bidang farmasi yang nasional lainnya yang juga tengah menjadi agenda memanfaatkan potensi sumber daya pembahasan di DPR. meskipun sumber daya genetik. Di samping itu. Selain itu. keanekaragaman hayati termasuk sumber daya Hal ini karena belum ada keseragaman genetik menargetkan untuk meratifikasi Protokol terhadap pengaturan PIC maupun ABS Nagoya melalui RUU PSDG dan mendorong DPR sebagai bagian dari persyaratan yang untuk mengesahkan RUU PSDG menjadi UU di harus disertakan oleh pemohon paten tahun 2012 ini. 145 Pasal 8 (g) dan Pasal 19 (1) mengamanatkan bagi hukum nasional yang mengikat sehingga mampu negara pihak untuk segera menyusun. misuse. Protokol Nagoya dapat baik melalui perjanjian TRIPs. Protokol Hal penting yang cukup dianggap mendesak Nagoya belum secara optimal dalam dan tentu memiliki keterkaitan erat dengan proses melindungi bioprospeksi sumber daya pembahasan RUU PSDG untuk segera disahkan genetik laut di Indonesia dari biopiracy. 1. Implementasi mekanisme Prior Infor­ pertemuan seperti COP-CBD. khususnya paten. Chairunnisa. jika melihat langkah.. ketika meminta pematenan invensi Selain. Berdasarkan hasil dari penelitian dan pem­ba­ langkah dan upaya yang dilakukan Indonesia hasan yang Penulis lakukan. menetapkan. 14 Tahun sebagai focal point nasional dari perlindungan 2001 tentang Paten di level nasional. D. urgensinya Protokol Nagoya dapat menjadi aturan Begitu pula dengan perlindungan hukum pendukung dan dasar bagi implementasi melalui rezim HKI. harmonisasi dengan Protokol yang memanfaatkan sumber daya Nagoya. mendukung terjaminnya perlindungan atas sumber dan melaksanakan peraturan perundang-undangan daya genetik. Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup maupun Undang-Undang No. PIC dan ABS. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi maksimal melindungi kekayaan hayati tumpang tindih pengaturan dan perlindungan atas nasional. maka didapat beberapa di tingkat internasional yang cukup aktif dalam kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah. RUU PSDG juga perlu diharmonisasi genetik. mengenai keamanan dan perlindungan sumber daya hayati. seperti RUU Pengetahuan genetik laut Indonesia membuktikan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional dan regulasi nasional belum mampu secara RUU Paten. bersama aturan derivatifnya.. yakni: kan RUU PSDG.. adalah mengenai ratifikasi Protokol Nagoya. padahal jika dilihat dari yang tidak bertanggung jawab. WIPO-IGC-GRTKF. dan missappropriation oleh Sampai saat ini Indonesia baru menjadi negara pihak-pihak asing dari negara maju penandatangan dari Protokol. dan memperkuat legislasi nasional dalam pemanfaatan dokumen WIPO terkait sumber daya sumber daya genetik bagi kesejahteraan rakyat genetik pada tataran internasional Indonesia.

Indonesia”. “Izin Peneliti Asing Diberi Selektif”. diakses Pertanian. Toh Tuck Link. “Protein Siput untuk Obat Nyeri”. dengan tengah diupayakannya proses pembagian hasil keuntungan harmonisasi Protokol Nagoya ke dalam yang adil dan sama sebagai efek dari RUU PSDG. Ekowati. Volume 27. komitmen Indonesia sebagai bagian Hal ini sebagai komitmen Indonesia dari masyarakat hukum internasional dalam implementasi CBD serta Pro­ dalam mengimplementasikan CBD tokol Nagoya dalam upaya perlin­ dan Protokol Nagoya. payung hukum terhadap perlindungan Pentingnya menerapkan sistem sui sumber daya genetik secara utuh. Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Dengan demikian. Vol. No. 2008. dan Vincent. “Scale and LIPI.. Hunt. Halaman 137-147 hayati namun belum ada aturan yang genetik baik akses maupun pem­bagi­ khusus dan mampu memberikan an keuntungan yang bersifat adil. 2008. Volume 5. Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan”.C.bppp-tegal. Hilman. Februari. http:// Sustainability of Marine Bioprospecting for .146 JURNAL PENELITIAN HUKUM Volume 2. Februari. Consequences of Biotechnology : Biodiversity Loss and IPR Issues. “Potensi Pengelolaan http://www. 2001. Desember Dronamraju. Khrisna R.. Jurnal Litbang protein-siput-untuk-obat-nyeri. B. AMBIO. ­­­ Murtihapsari dan Chasanah. Di samping ada aturan pelaksananya sehingga itu. World Scientific C. Benefit Sharing sebagai mekanisme 2... Buku Pharmaceuticals”. Ahdiar. Artikel Jurnal Jurnal Squalen.35. 3. BPPP Tegal. B. The British Council. Nomor 3. Tanggal 6 Juni 2014. Internet Publishings. 2006. Jakarta. dungan terhadap sumber daya DAFTAR PUSTAKA A.php/ Bioprospeksi Terhadap Pertumbuhan artikel/100-artikel/artikel-manajemen/108- Ekonomi Indonesia”. “Potensi Pengelolaan & Perlindungan Aset Kekayaan Penemuan Obat Antimalaria dari Laut Intelektual. Riyadi. Khrisna R. Kementerian Lingkungan Hidup yang mampu melindungi sumber sebagai focal point nasional dari daya genetik dan mampu mencegah CBD tengah mengupayakan agar pencurian sumber daya genetik Rancangan Undang-Undang tentang Indonesia akan lebih dikuatkan. November 2015. A. eksistensi dari Prior penggunaan sumber daya genetik pun Informed Consent serta Access and belum sepenuhnya terlaksana. Emerging 2010.J.com/web/index. Helianti dan Romadoni. dapat dikatakan Daya Genetik (RUU PSDG) segera bahwa RUU PSDG ini merupakan disahkan menjadi undang-undang. generis terhadap perlindungan sumber Bahkan ratifikasi CBD melalui daya genetik melalui RUU PSDG Undang-Undang Nomor 5 Tahun ini agar perlindungannya dapat lebih 1994 tentang Pengesahan CBD belum komprehensif dan tidak terbentur secara maksimal berlaku karena belum oleh kepentingan lainnya.

Makalah. Sistem Paten Tidak Boleh Menjarah Sumberdaya Genetik dan Pengetahuan Tradisional. Implemetasi Prior Informed Consent (PIC) dan Access And Benefit Sharing System (ABS). 30 May 2008. Makalah Konphalindo.. Bonn. Convention on Biological Diversity 9. E. diakses 27 Juni 2014. Chairunnisa.. .. Peraturan Hukum diberi-selektif/6715.go.id/berita/single/ijin-peneliti-asing. Convention on Biological Diversity Protokol Nagoya D. 147 lipi.