You are on page 1of 9

Asuhan Keperawatan Anak dengan DHF

Posted by nurse87 on 28 Oktober 2011
Posted in: Uncategorized. Tagged: Keperawatan Anak. 4 Komentar

A. KONSEP DASAR MEDIS
1. Definisi
Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue,
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypty (betina). ( Effendy Christantie, 1995 ).
Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit yang terdapat pada anak dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah dua hari
pertama. Uji tourniquet akan positif disertai ruam, tanpa ruam dan beberapa atau semua
gejala perdarahan. (Hendarwanto, IPD, 1999 )
Dengue Haemorrhagic Fever ( DHF ) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina). Penyakit ini dapat
menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak , serta sering
menimbulkan kejadian luar biaa atau wabah. ( Suroso Thomas, FKUI, 2002 )

2. Anatomi dan fisiologi darah
Darah adalah medium transport tubuh. Darah terdiri dari komponen cair dan komponen
padat. Komponen cair darah disebut plasma, berwarna kekuning-kuningan yang terdiri dari:
a. Air : terdiri dari 91 – 92 %
b. Zat padat yang terdiri dari 7 – 9 %. Terdiri dari :
1) Protein ( albumin, globulin, fibrinogen )
2) Bahan anorganik ( natrium, kalsium, kalium, fosfor, besi dan iodium )
3) Bahan organic ( zat-zat nitrogen non protein, urea, asam urat, kreatinin, xantin, asam
amino, fosfolipid, kolesterol, gluksa dll )
Komponen padat darah terdiri dari :
a. Sel darah merah
Eritrosit adalah cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 8,6 µm. eritrosit tidak memiliki
nucleus. Eritrosit terdiri dari membrane luar, hemoglobin ( ptotein yang mengandung besi )
dan karbon anhidrase ( enzim yang terlibat dalam transport karbndioksida ). Pembentukan
eritrosit dirangsang oleh glikoprotein dan eritropoetin dari ginjal. Jumlah eritrosit nrmal yaitu
: laki-laki : 4,5 – 5,5 106 / mm3 dan perempuan : 4,1 – 5,1 106 / mm3. funsi eritrosit adalah
mengangkut dan melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida. Pada orang dewasa
umur eritrosit adalah 120 hari.

b. Sel darah putih
Pertahanan tubuh melawan infeksi adalah peranan utama sel darah putih. Jumlah normalnya
adalah 4.000 – 11.000 / mm3. 5 jenis sel darah putih yaitu :
1) Neutrofil 55 %
2) Eosinofil 2 %
3) Basofil 0,5 – 1 %
4) Monosit 6 %
5) Limfosit 36 %
c. Trombosit
Trombosit bukan merupakan sel melainkan pecahan granular sel, berbentuk piringan dan
tidak berinti, berdiameter 1 – 4 mm dan berumur kira-kira 10 hari. Sekitar 30 – 40 % berada

Derajat III Ditemukan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah. Berbadan kecil. Mempertahankan keseimbangan asam basa e. Wabah dengue juga telah dissertai Aedes albopictus. Aedess sscuttellariss tetapi vector tersebut kurang efektif dan kurang berperan karena nyamuk-nyamuk tersebut banyak terdapat didaerah perkebunan dan semak-semak. Badannya mendatar saat hinggap e. melena. infeksi oleh satu tipe virus dengue akan memberikan imunitas yang menetap terhadap infeksi virus yang bersangkutan pada masa yang akan datang. kulit membiru. yaitu rentang waktunya antara Pkl 08.00 pagi. Gemar hidup di tempat yang gelap dan lembab dan di baju-baju yang bergantungan d. DEN-2. Transport hormon Gibson. Aedess polinienssiss. Adapun ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah a. Derajat I Demam disertai gejala klinis lain tanpa perdarahan spontan. warna hitam dan belang-belang b. Ekskresi. transport sisa metablisme ke ginjal. DEN-2. Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah trombosit kurang dari 100. tekanan darah tidak dapat diukur. 3. DEN-4. John 2002 : Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat Edisi . c. Fungsi darah secara umum yaitu : a. Respirasi yaitu transport oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru b.000 / mm3. tubuh berkeringat. Mengatur suhu tubuh g. uji rumpeleede positf dan mudah memar. muntah darah (hematemesis). Etiologi Virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang terdiri dari 4 tipe yaitu DEN- 1. bak mandi. gelisah. dimana keempat jenis ini dapat menyebabkan manifestasi klinis . ban bekas dan sebagainya. 5. perdarahan gusi. Jakarta : EGC. epistaksis.dalam limpa sebagai cadangan dan sisanya berada dalam sirkulasi. Patofisiologi Virus dengue ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti yang mempunyai 4 tipe yaiyu DEN- 1. transport makanan yang diabsorpsi c. Menggigit pada siang hari. c. Trombosit sangat penting peranannya dalam hemostasis dan pembekuan. Gizi. b. Merupakan manifestasi syok dan seringkali berakhir dengan kematian. sedangkan Aedes aegypti banyak tinggal di sekitar pemukiman penduduk. 4.00 – 10. Derajat IV Syok berat dimana nadi tidak teraba. DEN-3. kulit lembab dan dingin. kulit dan usus untuk dibuang d. DEN-3. Klasifikasi a. Jarak terbangnya kurang dari 100 meter f. d. paru-paru. DEN-4 (baca : virus dengue tipe 1-4). Namun. hanya memberikan imunitas yang sementara dan parsial terhadap infeksi virus lainnya. Banyak bertelur di genangan air yang terdapat pada sisa-sisa kaleng bekas. tempat penampungan air. tekanan darah menurun. Derajat II Tanda pada derajat I disertai perdarahan spontan pada kulit berupa ptekiae dan ekimosis. Mengatur keseimbangan air f.

Kemudian meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah sehingga terjadinya perembesan plasma dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular . hemokonsentrasi. Nyeri sendi . Pemeriksaan radiology c. anoreksia. splenomegali e. ekimosis. b. Aktivasi system komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoxin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas dindingpembuluh darah dan terjadinya perembesan plasma dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular. muntah. nyeri ulu hati d. Pemeriksaan diagnostik a. mual. Perembesan plasma ini menyebabkan berkurangnya volume plasma. maka akan terjadi replikasi virus kemudian akan terjadi viremia yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh . perdarahan gusi. Terjadinya aktivasi faktor Hageman (faktor XII) dengan akibat akhir terjadipembekuan intravascular yang meluas. sedang Dengue Haemorrhagic Fever merupakan manifestasi klinis yang berat. Tanda dan gejala a. Manifestasi perdarahan : uji rumpeleede positif. ptekiae. 7. efusi pleura dan renjatan (syok). Labotatorium 1) Darah a) Trombosit b) Hemoglobin c) Hematokrit d) Elektrolit serum e) Pemeriksaan gas darah 2) Urine b. nyeri otot dan sendi. sakit kepala. Dengue fever merupakan manifestasi klinis yang ringan. USG . nyeri kepala. Demam tinggi dan mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari b. 6. melena c. Keluhan pada saluran pencernaan : mual. hepatomegali dan splenomegali. rasa sakit di daerah belakang bola mata (retro orbita). hiperemi tenggorokan dan pada keadaan yang lebih berat mungkin akan terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Keadaan ini dapat menyebabkan beberapa hal yaitu: a.yang bermaca-macam dari asimptomatis sampai fatal. Setelah virus masuk ke dalam tubuh. epistaksis. Trombosit yang mengalami metamorfosis akan dimusnahkan oleh system retikuloendotel dengan akibat trombositopenia hebat dan perdarahan c. terjadi hipotensi. hipoproteinemia. hematemesis. ruam atau bintik merah pada kulit. Kadang ditemui keluhan batuk pilek dan sakit menelan. diare atau konstipasi. Reaksi akan berat jika penderita mengalami infeksi berulang (ke-2) terutama jika oleh virus yang berbeda pada infeksi yang pertama sehingga terjadi reaksi antigen-antibody dan akan menimbulkan kompleks antigen-antibody (kompleks virus- antibody). Timbulnya agregasi trombosit yang melepakan ADP akan mengalami metamorfosis. nyeri otot. Dalam proses aktivasi ini plasminogen akan menjadi plasmin yang berperan dalam pembentukkan anafhilatoxin dan penghancuran fibrin menjadi fibrin degradation product. hepatomegali. Gigitan nyamuk yang pertama mungkin tidak menimbulkan gejala atau dapat juga terjadi dengue fever yaitu reaksi tubuh ringan yang merupakan reaksi yang biasa terlihat pada infeksi oleh virus. muntah.

Syok hipovolemik b. nyeri otot dan sendi – Tidak bisa beraktivitas.9 %. pembuangan barang-barang bekas dan kaleng-kaleng bekas sembarangan – Riwayat demam kembali dengan tanda-tanda perdarahan (tanda-tanda perdarahan yang khas dari demam berdarah dengue) b) Pola nutrisi metabolic – Intake menurun karena mual dan muntah – Adakah penurunan BB? – Adakah kesulitan menelan? – Demam tinggi yang tiba-tiba sampai kadang menggigil selama 2-7 hari c) Pola eliminasi – Konstipasi – Diare – Tinja berwarna hitam pada perdarahan hebat – Produksi urine menurun (kurang dari 1cc/KgBb/jam) pada syok d) Pola aktivitas dan latihan – Badan lemah. Jika asidosis metabolic beri natrium Bikarbonat 9. Kompres hangat d. gelisah f) Pola persepsi kognitif – Apakah yang diketahui klien dan keluarga tentang penyakitnya? – Apakah yang diharapkan klien/keluarga terhadap sakitnya g) Pola persepsi dan konsep diri – Apakah klien merasa puas terhadap keadaan dirinya? – Adakah perasaan malu terhadap penyakitnya? h) Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress . KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. Pengkajian a) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan – Riwayat demam dengue. Nacl 0. Dextrose 5 %) h. Pemberian minum 1. Pemberian tranfusi darah j.2 liter per hari. dengan minum penurun panas dan istirahat demam tidak dirasakan lagi – Lingkungan rumah yang berdempet. jika kejang g. banyak air tergenang. Asidosis metabolic B. Pemberian cairan intravena (Ringer Lactat. Penatalaksanaan medis a. pemberiaan oralit. albumin 5 %) i. Komplikasi a. nyeri kepala. Anoksia jaringan c. Diazepam. Antibiotic f. pegal-pegal seluruh badan e) Pola istirahat dan tidur – Istirahat dan tidur terganggu karena demam. Monitor TTV dan tanda-tanda perdarahan e. nyeri otot dan sendi. Antipiretik c. jus buah juga baik untuk mengatasi kekurangan volume cairan b. Bila hematokrit meningkat beri cairan plasma (Dekstran.8.

Risiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan d. Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : hipertermi dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Sasaran : 1) Suhu tubuh normal (36-370 C) 2) Pasien mengatakan tidak panas lagi Rencana tindakan : 1) Observasi TTV : suhu. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat e. pernapasan Rasional : TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien 2) Berikan penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh Rasional : keterlibatan keluarga sangat berarti dalam proses penyembuhan pasien di rumah sakit 3) Beri kompres hangat di daerah ketiak dan dahi Rasional : kompres hangat memberikan efek vasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan pengeluaran panas tubuh melalui pori-pori 4) Anjurkan klien banyak minum ± 1-2 liter / hari Rasional : peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak 5) Anjurkan klien untuk istirahat di tempat tidur / tirah baring Rasional : mencegah terjadinya peningkatan metabolisme tubuh dan membantu proses penyembuhan 6) Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat Rasional : pakaian yang tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh 7) Monitor dan catat intake dan output dan berikan cairan intravena sesuai program medik Rasional : karena IWL meningkat 10 %setiap peningkatan suhu tubuh 10C. tekanan darah. Diagnosa Keperawatan a. Rencana Keperawatan a. nadi. Risiko tinggi kekurangan volume cairan vascular yang berhubungan dengan pindahnya cairan dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular c. prognosis dan program pengobatan mengenai penyakit DHF yang berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi 3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik f. Hipertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue b. maka peningkatan intake cairan perlu untuk mencegah dehidrasi 8) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik Rasional : antipiretik berfungsi dalam menurunkan suhu tubuh . takut terhadap penyakitnya – Ingin ditemani orang tua atau orang terdekat saat sakit i) Pola reproduksi seksual – Pada anak perempuan apakah ada perdarahan pervagina (bukan menstruasi)? j) Pola sistem kepercayaan – Menyerahkan penyakitnya kepada Tuhan / pasrah – Menyalahkan Tuhan kaerna penyakitnya – Memanggil pemuka agama untuk mendoakan 2. Kebutuhan pembelajaran mengenai kondisi.– Adanya perasaan cemas.

pernapasan Rasional : TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien 2) Monitor tanda-tanda perdarahan Rasional : perdarahan yang tepat diketahui dapat segera diatasi sehingga pasien tidak sampai ke tahap hipovolemik akibat perdarahan hebat 3) Observasi perkembangan bintik-bintik merah di kulit. rasa haus dan produksi urine menurun) Rasional : deteksi dini kurang volume cairan 3) Monitor dan catat cairan yang masuk dan keluar Rasional : mengetahui keseimbangan cairan yang masuk dan keluar 4) Beri minum yang cukup dan sesuaikan dengan jumlah cairan infuse Rasional .5-16. nadi. kulit lembab dan dingin serta tanda-tanda sianosis Rasional : mengetahui tanda-tanda terjadinya syok sehingga dapat menentukan intervensi secepatnya 4) Bila terjadi syok hipovolemik. P : 35-47 % ) 3) Hemoglobin dalam batas normal ( L : 11. baringkan pasien dalam posisi datar Rasional : menghindari kondisi yang lebih buruk 5) Segera puasakan pasien bila terjadi perdarahan saluran pencernaan Rasional : mengistirahatkan saluran pencernaan untuk sementara selama perdarahan dari saluran cerna . tekanan darah. Risiko tinggi syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan Sasaran : 1) TTV stabil dalam batas normal 2) Hematokrit dalam batas normal ( L : 40-52 %. P : 13-17. tekanan darah.b. keringat dingin.000 /mm3 ) 5) Tidak terjadi tanda-tanda syok Rencana tindakan : 1) Observasi TTV : suhu.000-400. pernapasan Rasional : TTV merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien 2) Kaji tanda dan gejala kurang volume cairan (selaput mukosa kering.5 g/dL ) 4) Trombosit dalam batas normal (150.5 g/dL. hematokrit dan hemoglobin Rasional : mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah c. Risiko tinggi kekurangan volume cairan vascular yang berhubungan dengan pindahnya cairan dari ruang intravascular ke ruang ekstravaskular Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan Sasaran : 1) Klien tidak mengalami kekurangan volume cairan vaskuler yang ditandai dengan TTV stabil dalam batas normal 2) Produksi urine 1 cc/KgBb/jam 3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi Rencana tindakan : 1) Observasi TTV : suhu. minum cukup untuk menambah volume cairan dan sesuaikan dengan cairan infuse untuk mencegah kelebihan cairan 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan intravena Rasional : program cairan intravena sangat penting bagi pasien yang mengalami deficit volume cairan dengan keadaan umum yang jelek karena cairan yang masuk langsung ke pembuluh darah 6) Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam pemeriksaan trombosit. nadi.

makan.6) Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan Rasional : keterlibatan keluarga sangat membantu tim perawatan untuk segera melakukan tindakan yang tepat 7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tranfusi dan cairan parenteral Rasional : untuk menggantikan volume dan komponen darah yang hilang dan untuk memenuhi keseimbangan cairan tubuh 8) Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam pemeriksaan trombosit. vitamin untuk meningkatkan selera makan dan daya tahan tubuh pasien e. eliminasi dan berpakaian Rencana tindakan : 1) Kaji tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas Rasional : mengetahui kemampuan pasien dalam beraktivitas 2) Libatkan keluarga/orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien Rasional : memberikan dorongan kepada pasien dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari 3) Anjurkan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien Rasional : agar klien berpartisipasi dalam perawatan diri 4) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari jika pasien belum mampu sendiri Rasional : bantuan yang tepat perlu dilakukan agar pasien tidak memaksakan diri beraktivitas sementara dirinya belum mampu sehingga kelelahan pasien dapat dihindari . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan Sasaran : 1) Klien mengalami peningkatan selera makan dan mampu menghabiskan 1 porsi makanan yang disediakan 2) Mual. hematokrit dan hemoglobin Rasional : mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah d. ¬muntah hilang 3) Berat badan dalam batas normal Rencana tindakan : 1) Kaji keluhan mual. catat porsi makan yang dihabiskan setiap hari Rasional : mengetahui masukan nutrisi pasien 3) Timbang berat badan pasien setiap hari Rasional : mengetahui kecukupan nutrisi pasien 4) Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makan dalam porsi kecil tetapi sering Rasional : mencegah pengosongan lambung 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapy antiemetik dan vitamin Rasional : antiemetik untuk mengatasi mual dan muntah. muntah dan anoreksia yang dialami pasien Rasional : untuk menentukan intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien 2) Kaji pola makan pasien. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan : pasien mampu untuk beraktivitas setelah dilakukan tindakan keperawatan Sasaran : 1) Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya 2) Klien dapat mandiri untuk mandi.

Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi e. pengetahuan pasien / keluarga tentang kondisi.f. epistaksis dan ptekiae. melena. cara pencegahan dan pengobatan dan komplikasi DHF Rencana tindakan : 1) Kaji tingkat pengetahuann pasien dan keluarga tentang penyakit DHF Rasional : memberikan infrmasi kepada pasien / keluarga. tanda dan gejala. Suhu tubuh normal (36-370 C). Evaluasi a. penyebab. cara pencegahan dan pengobatan serta komplikasi dengan menggunakan gambar dan leaflet dan dengan kata-kata yang mudah dipahami Rasional : agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan dengan menggunakan leaflet dan gambar penjelasan yang diberikan dapat dibaca dan dilihat berulang-ulang 4) Berikan kesempatan kepada pasien / keluarga untuk bertanya sehubungan dengan penyakit yang dihadapinya dan jawab pertanyaannya Rasional : mengurangi kecemasan dan memotivasi pasien untuk kooperatif selama masa perawatan atau penyembuhan 4. perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang penyakit pasien serta kebenaran informasi yang telah didapatkan pasien / keluarga sebelumnya 2) Kaji latar belakang pendidikan pasien dan keluarga Rasional : agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan mereka sehingga penjelasan dapat dipahami dan tujuan yang direncanakan tercapai 3) Jelaskan tentang pengertian. b. c. prognosis dan program pengobatan penyakit DHF bertambah Patoflow Infeksi virus dengue I (tidak ada gejala . perdarahan gusi. Aktivitas dan latihan pasien dapat dilakukan secara mandiri f. d. Kekurangan volume cairan vascular tidak terjadi dan pasien tidak mengalami kekurangan volume cairan. prognosis dan program pengobatan mengenai penyakit DHF yang berhubungan dengan kurangnya pemajanan informasi Tujuan : pengetahuan pasien/ keluarga tentang penyakit DHF bertambah setelah dilakukan tindakan keperawatan Sasaran : 1) Pasien/keluarga dapat mengerti mengena pengertian. tanda dan gejala. prose terjadinya penyakit. Syok hipovolemik tidak terjadi. proses penyakit. sebab. dengue fever ringan membaik) Infeksi virus dengue berulang (oleh tipe virus dengue yang berbeda dengan infeksi I) Replikasi virus Kompleks antigen – antibody Viremia Aktivasi system agregasi Aktivasi faktor Hageman Komplemen trombosit (faktor XII)  Demam (Dp 1) . Kebutuhan pembelajaran mengenai kondisi. pasien tidak mengalami perdarahan yang berlebihan seperti hematemesis.

Tanda-tanda perdarahan ke ruang ektra sakit menelan.perdarahan vascular (Dp 2) batuk.pilek gusi. muntah (Dp 4) Dikeluarkannya zat ADP Plasminogen anafilatoxin dilepaskan menjadi plasmin  Anoreksia (Dp 4)  Lemah (Dp 5) Peningkatan permeabilitas metamorfosis Penghancuran fibrin Kapiler trombosit dan pembentukan  Nyeri otot anafilatoxin  Nyeri kepala Perembesan plasma dari trombosit di ruang intra ke ekstravaskular musnahkan oleh RES Peningkatan  Hepatomegali permeabilitas  Splenomegali kapiler Trombositopenia Perembesan plasma  Kadang diare dari ruang intra konstipasi. mimisan (Dp 3) Tidak teratasi Perdarahan hebat ( dapat terjadi di seluruh bagian tubuh) Saluran pencernaan : hematemesis. ringan : ptekiae. Mual. melena Saluran perkemihan : hematuri (Dp 3)  Hemokonsentrasi  Volume plasma berkurang  Efusi  Syok  Anoksia jaringan  Asidosis metabolic Kematian .