You are on page 1of 10

STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN IRIGASI RAWA DI DAERAH

RAWA PASANG SURUT BELAWANG-KALIMANTAN SELATAN

POLICY STRATEGY OF TIDAL LOWLAND IRRIGATION DEVELOPMENT
IN BELAWANG AREA, PROVINCE OF SOUTH KALIMANTAN

Oleh:
Elias Wijaya Panggabean1), Bangkit Aditya Wiryawan2)
1)Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi, Balitbang, Kementerian PUPR

Gedung Heritage Lt. 3 Kementerian PUPR Jl. Patimura No. 20, Jakarta Selatan, Indonesia
2)Balai Litbang Sosekling Bidang Sumber Daya Air

Gedung Balai Bendungan Lt.4 Jl. Sapta Taruna, Komplek PU Ps. Jumat, Jakarta Selatan, Indonesia
Komunikasi Penulis: email: elias.wijaya@gmail.com
Naskah ini diterima pada 8 Maret 2016; revisi pada 24 Mei 2016;
disetujui untuk dipublikasikan pada 2 November 2016

ABSTRACT

Swamp reclamation project that had been carried out by the Government of Indonesia in Sumatra and Kalimantan few
decades ago was primarily aimed at strengthening national food security and transmigration project. However now,
contribution of tidal swamp farming to national food security is still low. Instead, nowadays there are more irrigated
swamp land that had been converted into oil palm or rubber plantations. Irrigated swamp field of Belawang (Barito
Kuala Regent) is one of the area which had been widely converted to rubber plantations. Many factors lead to these
phenomena. This study examined the key factors that led to land conversion and followed by formulating strategies to
promote the role of irrigated swamp fields in supporting food security. The research was conducted in 2014 under
quantitative approach and using SWOT analysis method. Data were obtained through in-depth interview towards key
informants. This study suggested that the strategy for the development of irrigated tidal swamp in Belawang should be
carried out by remapping the appropriate swamp type for food crops and plantations. Furthermore, planned commodity
diversification is the answer for food security and local economic problems.
Keywords: tidal swamp, land conversion, strategies, crops, plantation

ABSTRAK
Reklamasi rawa yang dilakukan Pemerintah Indonesia di Pulau Sumatera dan Kalimantan beberapa dekade lalu pada
dasarnya ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan program transmigrasi. Namun sampai saat ini
ternyata kontribusi ketahanan pangan dari pertanian lahan rawa masih sangat rendah. Justru akhir-akhir ini marak
terjadi pengalihfungsian lahan rawa beririgasi untuk peruntukan lain, seperti perkebunan kelapa sawit dan karet.
Daerah rawa pasang surut Belawang (Barito Kuala) adalah salah satu wilayah yang mulai marak mengalami
perubahan pemanfaatan lahan beririgasi menjadi perkebunan karet. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.
Penelitian ini mengkaji faktor-faktor penting yang menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan dan menyusun strategi
upaya mendorong peranan lahan rawa beririgasi dalam mendukung ketahanan pangan. Penelitian yang dilakukan
tahun 2014 ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis SWOT. Pengumpulan data dilakukan
dengan teknik wawancara mendalam kepada informan-informan kunci. Hasil penelitian merekomendasikan strategi
pengembangan lahan beririgasi rawa di Belawang harus dilakukan dengan cara pemetaan kembali tipe lahan rawa
yang sesuai untuk tanaman pangan maupun untuk perkebunan. Selanjutnya teknik diversifikasi komoditas secara
terpola menjadi solusi menjawab ketahanan pangan dan kebutuhan ekonomis masyarakat lokal.
Kata kunci: irigasi pasang surut, alih fungsi lahan, strategi, tanaman pangan, perkebunan

Strategi Pengembangan Lahan Irigasi Rawa-Panggabean & Wiryawan 1

Hal. 2014). Kalimantan 40. Adapun tujuan penelitian Hal ini juga diperkuat data kontribusi lahan ini adalah untuk merumuskan strategi pertanian rawa untuk mendukung ketahanan pengembangan irigasi rawa pasang surut di Unit pangan yang baru mencapai 1-1. Noor (2012). ketahanan pangan serta ketergantungan kita pada tersebar di Sumatera 32. penyediaan air yang memadai. Dalam PP No. C dan D.5% dari total Rawa Pasang Surut Belawang dengan melihat dari produksi 62. (Kementerian Pekerjaan Umum. khususnya di Pulau Jawa.1.9%. yang dapat dioptimalkan menjadi lahan rawa juga akan sia-sia. Kalimantan Selatan secara terus menerus atau musiman dan terletak adalah salah satu wilayah yang mengalami laju di tepi pantai atau dekat pantai atau muara konversi lahan pertanian beririgasi menjadi sungai. Beberapa wilayah II. penyediaan dan Namun pengembangan (reklamasi) rawa yang peningkatan jaringan irigasi pasang surut dan sudah dilakukan pemerintah sejak tahun 1970-an produktivitas lahan pertanian harus tetap melalui Proyek Pengembangan Persawahan diperjuangkan. Namun apabila kondisi ini terus dibiarkan terjadi. Mei 2016. 11. menanam tanaman pangan.4 %. untuk pertanian. Kategori A paling cocok pemerintah daerah untuk pembukaan lahan ditanami padi. terganggunya juta ha (Direktorat Irigasi dan Rawa. Pulau Burung (Riau). sampai sekarang belum ditengah-tengah hambatan dan tantangan yang memberikan dampak yang signifikan khususnya dihadapi. TINJAUAN PUSTAKA rawa dengan tipologi A dan B yang sesuai untuk pertanian. juga semakin lebih menguntungkan dibanding apabila mengurangi hasil produksi panen pertanian. 2013).4 fungsi lahan yang semakin masif. maka akan terjadi alih Di sisi lain. Silaut Alih Fungsi Lahan Lunang (Sumbar). menurut Ifada (2010) dalam (Suprapto. PENDAHULUAN mensuplai dan mengeringkan lahan sawah. Pasang Surut (P4S) di Kalimantan dan Sumatera Untuk mendukung pengembangan irigasi rawa (Hidayat et al. tantangan dan ancaman eksternal. impor pangan dari negara lain. Ketidakcukupan air juga menyebabkan Keterbatasan lahan produktif menjadi salah satu masyarakat mengganti penggunaan lahan sawah kendala pemerintah dalam mencapai program menjadi perkebunan karet dan kelapa sawit. 2012). Skema luapan atau terjadi sejak tahun 1997 dan semakin intensif hidrotopografi rawa pasang surut terbagi dalam sejak tahun 2005 seiring dengan adanya ijin dari empat tipe: A. 2010). B. Namun pengembangan irigasi rawa pasang surut dan kendala ini sebenarnya dapat dikurangi dengan strategi yang dapat dilakukan mendorong usaha pengolahan dan penyuburan tanah serta pengembangan rawa pasang surut di Belawang. Oleh karena itu. dan kategori D paling cocok Alasan masyarakat mengalihfungsikan lahannya dengan tanaman kering dan perkebunan disebabkan beberapa faktor.56 juta ton gabah kering (Haryono. ketahanan pangan nasional.9 juta hektar dan meningkat pesat Pilihan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan menjadi 7. 1-10 . holtikultura. dibutuhkan strategi jitu. rawa Daerah rawa pasang surut unit Belawang di pasang surut merupakan lahan yang tergenang Kabupaten Barito Kuala.2 juta hektar atau mengalami kenaikan perekonomian mereka memang keputusan yang sebesar 248% pada tahun 2007. 2009). optimalnya fungsi jaringan irigasi rawa dalam 2 Jurnal Irigasi – Vol. seluas 33. misalnya padi Sebagai gambaran. sederhana dan realistis.. komprehensif dalam mendukung ketahanan pangan nasional. kategori C untuk palawija dan tanaman perkebunan. 2010). 2012). Pengembangan Rawa Pasang Surut dan Delta Upang dan Delta Telang (Sumsel). dan berkesinambungan. 2012). total luas lahan perkebunan tahun 1997 adalah 2. Kondisi ini sudah oleh pasang surutnya air laut. 73 tahun 2013 (Republik Indonesia Suryakanta dan Gambut Kertak Hanyar (Kalsel) (2013) dan Permen PU No.I. 1. Investasi Papua 21 %. mencapai ketahanan pangan. misalnya tidak (Imanudin et al.. dimana genangan air sangat dipengaruhi perkebunan karet dan sawit. No. aspek kekuatan dan kelemahan internal dan 2013 dalam Puslitbang Sosekling.. 2010). Penelitian ini Karakteristik lahan rawa yang kurang subur ditujukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor memang menjadi faktor utama rendahnya determinan pendorong dan penghambat produktivitas lahan (Useng. Maraknya alih fungsi Selain itu pilihan ekonomi dimana nilai jual karet lahan beririgasi teknis untuk peruntukan non setelah dikurangi biaya produksi dinilai masih pertanian. potensi rawa sangat besar.7% dan sisanya tersebar pemerintah yang sudah begitu besar dalam secara parsial pada areal yang kecil (Wahyunto et penyediaan sarana dan prasarana irigasi di lahan al. Sulawesi 5. kategori B untuk padi dan perkebunan. cukup berhasil dikembangkan seperti 2. 05 tahun 2010 (Noor.

. 05 tahun 2010 dikembangkan oleh Humphrey (2005) antara (Kementerian Pekerjaan Umum. diversifikasi strategi. (2013). manajemen strategis akan Surut (P4S) di Kalimantan dan Sumatera (Noor. perubahan pemanfaatan lahan irigasi pasang surut di Riau sangat dipengaruhi oleh tidak optimalnya dukungan jaringan irigasi rawa. Metode inipun lebih jaringan reklamasi. Menurut David (2009) dalam Ramadhan sejak Proyek Pengembangan Persawahan Pasang & Sofiyah (2013).. Growth-Share misalnya rendahnya kesuburan tanah akibat sifat matrix (Srtern & Stalk. konversi lahan sawah (Suprapto. strategi dapat SWOT yang terbagi dalam empat strategi diartikan sebagai sekumpulan pilihan kritis progresif. 2008). 2014). 4) penggelontoran Menurut Rangkuti (2004) dalam Nisak (2014).Reklamasi rawa pasang surut sebagai upaya keputusan efektif diambil dalam kondisi tidak pemenuhan kebutuhan pangan sudah dilakukan menentu. 2015. (Sumber: Arif. 2009). Lima Kekuatan (Porter. Fenomena serupa juga terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Adam et al. umum digunakan adalah analisis SWOT. yaitu upaya mendorong air keluar dari jaringan analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor reklamasi rawa yang membahayakan budidaya secara sistematis untuk merumuskan strategi tanaman. Rekomendasi strategi yang Strategi Pengembangan-Panggabean & Wiryawan 3 .. meminimalkan kelemahan (weakness) dan Tidak optimalnya saluran irigasi. Analisis ini didasarkan pada logika memaksimalkan kekuatan (strength) dan Kecepatan alih fungsi lahan irigasi pasang surut di peluang (opportunity). pengelolaan tata air pasang diantaranya: Dibandingkan metode-metode lain. 3) pencucian yaitu upaya dikenal secara luas. dan pirit. Sama halnya. positif) strategis berusaha mengorganisasikan informasi Merupakan kondisi yang kuat dan kuantitatif dengan cara yang memungkinkan dan berpeluang. Strategi akan berubah seiring waktu Keterangan: dengan kondisi lingkungan. Metode SWOT dalam Merumuskan Pendekatan secara kuantitatif pada analisis SWOT Strategi Kebijakan dikembangkan oleh Pearce dan Robinson (1998) dalam Arif (2015) menggunakan diagram strategi Menurut Ramadhan et al. fragmentasi lahan mengikuti jumlah anggota keluarga.2. 2014). membantu perusahaan dalam melihat ancaman 2012 dalam Panggabean. 2014). 2015) 2. sehingga 2010). Namun sampai saat ini Instrumen yang umum digunakan dalam pengembangan irigasi pasang surut masih seperti penyusunan strategi di antaranya adalah metode jalan ditempat karena banyaknya kendala. salinitas. dan yang lebih tanah yang masam dan berpirit (Arsyad. Hidayat et al. alokasi sumberdaya dalam mencapai tujuan dan sasaran. 2010). ubah strategi dan untuk perencanaan dan tindakan dengan strategi bertahan.. maraknya konversi lahan irigasi pasang surut disebabkan pendapatan dari kelapa sawit yang lebih menguntungkan. dan kendala teknis pada irigasi pasang surut (Rusastra et al. Sementara di Kabupaten Banyuasin. dan peluang di masa yang akan datang. memperbaiki kualitas lahan dari racun berupa keasaman. Reklamasi rawa juga didampingi program memungkinkan organisasi untuk dapat transmigrasi penduduk dari Pulau Jawa mengantisipasi kondisi yang selalu berubah. Gambar 1 Diagram Strategi 2011). dan ancaman (threats) dengan mengembangkan suatu jalan produksi pertanian mempercepat laju upaya penanganan (Morrison.. 2016). 1998). merumuskan strategi secara cepat dengan cara 2) suplesi yaitu upaya memasukkan air ke dalam yang cukup sederhana. Alih fungsi lahan sawah terjadi karena petani ingin memperoleh nilai tambah dari lahan yang dimilikinya (Suryani et al. 2013). namun secara bersamaan Indonesia tahun 2008 mencapai 5% per tahun. menurut Panggabean (2015). yang Dalam Permen PU No. pintu air. sebuah perusahaan. metode tahun 1960-1970. dalam Hamzah et al. Proses manajemen 1. SWOT lebih 1) drainase untuk mengeluarkan air yang sudah unggul dalam hal kemampuannya untuk tidak dipergunakan lagi pada jaringan reklamasi. (Septiyani. Kuadran I (positif.

yang berlaku. Kuadran IV (negatif. 2. Hal. kelemahan. artinya mengendalikan kinerja mengetahui variabel-variabel yang termasuk internal agar tidak semakin terperosok. artinya Pengumpulan data khususnya menggali variabel- disarankan mengubah strategi dari variabel determinan dilakukan dengan teknik sebelumnya sekaligus memperbaiki kinerja. Kuadran III (negatif. negatif) Kalimantan II – Kementerian Pekerjaan Umum. sangat berpeluang. Pemilihan metode Rekomendasi strategi yang diberikan adalah ini dimaksudkan agar kekuatan dan kelemahan Diversifikasi Strategi. di Kabupaten Barito Kuala. artinya diperlukan yang ada dalam pengembangan rawa pasang memperbanyak ragam strategi taktisnya tidak surut dapat digali secara cepat dan terukur hanya dengan strategi yang selama ini dengan memperhatikan peluang dan ancaman dilakukan. tokoh desa). Adapun tipe rawa dimungkinkan untuk terus melakukan pasang surut di wilayah ini adalah tipologi B (Rina ekspansi. dan memperbesar pertumbuhan & Haris (2013). negatif) Penelitian yang dilakukan tahun 2014 ini Merupakan kondisi internal kuat namun dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menghadapi tantangan yang besar. Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Ubah Strategi. No. Tahapan kegiatan penelitian dapat secara maksimal. Kuadran II (positif. 1. Melalui pertimbangan- pertimbangan tersebut. 1-10 . Merupakan kondisi organisasi yang lemah peneliti Balitra – Kementerian Pertanian. petugas dan menghadapi tantangan besar. penjaga pintu air. 11. III. diberikan adalah Progresif. peluang dan sambil terus berupaya membenahi diri. Adapun Rekomendasi strategi adalah Strategi hasil wawancara selanjutnya ditabulasi untuk Bertahan. maka dapat dirumuskan 3. positif) strategi yang paling optimal dalam pengembangan Merupakan kondisi yang lemah namun masih irigasi lahan pertanian pasang surut. ancaman. dalam kekuatan. Gambar 2 Kerangka Penelitian 4 Jurnal Irigasi – Vol. artinya sangat Provinsi Kalimantan Selatan. Mei 2016. menggunakan metode SWOT. wawancara mendalam beberapa informan- informan kunci (pejabat Balai Wilayah Sungai 4. petani. dilihat pada Gambar 2. METODOLOGI Penelitian ini dilakukan di daerah Rawa Pasang Surut Belawang.

rating. Kabupaten Barito Kuala. Menyusun strategi-strategi yang sesuai dengan diagram SWOT. Reklamasi rawa pasang surut Unit Belawang pada awalnya diperuntukkan untuk tanaman pangan khususnya padi. 2013 Demikian halnya sistem tata air yang diterapkan adalah sebagai berikut: dengan model garpu. Kondisi Lokasi Penelitian Daerah rawa Belawang berada di Kecamatan Wanaraya. peluang dan ancaman yang terjadi. Jumlah bobot faktor internal pindah ke kota karena kesulitan hidup di daerah (kekuatan dan kelemahan) adalah satu. Pada kurun waktu 1985-1994 nilai yang merupakan hasil kali dari bobot penduduk mulai migrasi balik ke daerah asal atau dan rating. Bahkan daerah ini dulunya sudah dikenal sebagai sentra padi di Kalimantan Selatan. IV. Kondisi ini produktif lagi. Proyek P4S juga diintegrasikan dengan program transmigrasi penduduk tahun 1982 dari Jawa Barat dan Jawa Timur berjumlah 500 kepala keluarga (KK) dengan lahan 2 hektar per KK. Tahun 2007 Seiring dengan pendalaman saluran (drainase pemerintah daerah setempat telah memberikan yang berlebihan). karena ketersediaan air masih memadai. Menyusun Matriks Faktor Internal (IFE) tidak berfungsi justru menjadi kolam tempat dan Matriks Faktor Ekternal (EFE) yang penumpukan sedimentasi dengan kandungan terdiri dari kolom bobot. dan total asam yang tinggi. menyebabkan penurunan muka izin yang sangat besar bagi perusahaan- air dan berdampak pada teroksidanya kadar pirit perusahaan swasta untuk membuka lahan sehingga tanah menjadi masam dan tidak perkebunan sawit dan karet. Sumber air berasal dari Sungai Barito. kelemahan. Kalimantan Selatan. kolam retensi air sudah a. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. konversi Strategi Pengembangan-Panggabean & Wiryawan 5 . Plotting dalam diagram SWOT. Artinya penilaian terhadap satu parameter adalah terkait dengan tingkat kepentingan parameter lainnya.1. Diagram ini menggambarkan posisi kekuatan dikurangi Gambar 3 Eksistensi Pertanian Padi Pasang Surut di Belawang (Dokumentasi Tahun 2014) kelemahan (internal) dan posisi peluang dikurangi ancaman (eksternal). menjadi tidak memungkinkan secara kuantitatif yang dikembangkan oleh Pearce lagi. Nilai bobot pada setiap parameter ditetapkan berdasarkan tingkat urgensinya terhadap setiap faktor kekuatan. b. Rentang penilaian (rate) adalah dari paling rendah 1 sampai yang paling tinggi 4. Unit Belawang pertama kali dibuka pada tahun 1978 melalui Proyek Pembukaan Gambar 4 Eksistensi Irigasi Pasang Surut Persawahan Pasang Surut (P4S) dengan sistem (Dokumentasi tahun 2014) irigasi garpu.Tahapan analisis menggunakan metode SWOT bisa ditanami padi. Saat ini eksistensi padi dan Gambar 5 Perkembangan Karet di Belawang (Dokumentasi Tahun 2014) jaringan irigasi rawa pasang surut yang masih berfungsi seperti terlihat pada Gambar 3 dan Kebijakan pemerintah daerah juga ikut Gambar 4 sudah tidak banyak lagi dapat dilihat. pertumbuhan padi sebenarnya cukup baik. dan Robinson dalam Ramadhan & Sofiyah. Pembukaan saluran yang tidak mempengaruhi minat petani lokal untuk ikut hati-hati ini membuat lahan yang dulunya masih bergabung dalam hal sharing lahan. c. Demikian juga jumlah bobot faktor eksternal (peluang dan ancaman) adalah satu. Pada waktu dibuka. mendorong pesatnya perkembangan alih fungsi lahan menjadi perkebunan. rawa yang direklamasi untuk transmigran.

15 4 0. sebesar -0.1 3 0.1 4 0. Keberadaan perusahaan perkebunan yang menekan penduduk lokal beralih ke 0.1 TOTAL (Kekuatan – Kelemahan) 1 . Tabel 1 Matriks Faktor Internal (IFE) Faktor Bobot Rate Skor (a) (d) = (b) (b) (c) x (c) 1. Adanya jasa penggilingan padi 0.2. 1.08 2 0. Pengolahan tanaman padi relatif lebih sulit dibanding karet 0.16 dan hasil panen petani 2.1 d.3 digalakkan saat ini 2.1 2 0.1 4 0. 11.2 c. khususnya yang masih dekat dengan sumber sungai b.23 dan nilai EFE sebesar +0.05 2 0. Terdapat koperasi desa yang sudah eksis mengakomodasi kebutuhan modal 0. kelemahan. ancaman yang terjadi. Kondisi sarana dan prasarana irigasi yang sudah tidak optimal 0. Harga karet saat ini masih lebih menguntungkan dibandingkan padi 0.07 3 0. sehingga kadar asam tanah sudah sedikit f. Nilai bobot pada setiap parameter ditetapkan 4. 1-10 .15 3 0.1 3 0. Pemetaan Faktor Internal dan Eksternal berdasarkan tingkat urgensinya terhadap setiap Dari hasil tabulasi Matriks Faktor Internal (IFE) faktor kekuatan. Produktivitas lahan pertanian cukup besar.57 a.10. Sistem tabur benih yang masih eksis untuk mengantisipasi kekurangan tenaga 0. berbeda dengan padi d.10 6 Jurnal Irigasi – Vol. Eksistensi sebagian petani yang masih bertahan dengan tanaman pangan 0.15 4 0. KELEMAHAN 0. Pengembangan varietas bibit unggul dan adaptif yang sudah banyak dilakukan 0.1 kerja c. Akses untuk pengembangan daerah rawa yang sulit dan terbatas 0. KEKUATAN 0. Rendahnya harga jual beras dan keterbatasan rantai pasok 0.1 4 0. No.4 pengembangan jalan usaha tani masih tetap dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) e.1 4 0. Hal. masa 0.05 2 0.67 a. peluang dan (Tabel 1) dan Matriks Faktor Ekternal (EFE). Program Operasi dan Pemeliharaan (OP).08 2 0. Adanya tengkulak yang memegang peranan dalam menentukan harga panen 0.5 1.15 d.6 e.0.05 3 0. Program pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan nasional yang sedang 0.4 b.6 perijinan pengembangan perkebunan b.08 2 0.65 a. Rendahnya tingkat kesuburan lahan karena kemasaman tanah dan kadar pirit 0.21 tanam dilakukan beberapa hari setelah musim hujan. PELUANG 0.16 d.07 3 0. Kebutuhan pemenuhan lumbung pangan pada setiap kepala keluarga.5 1.23 Tabel 2 Matriks Faktor Ekternal (EFE) Faktor Bobot Rate Skor (a) (d) = (b) (c) (b) x (c) 1. Komoditas perkebunan tidak subur pada lahan yang masih tersedia cukup 0.3 f.5 1.21 e. bisa panen 2-3 kali setahun 0. ANCAMAN 0.lahan atau minimal sebagai tenaga kerja pada (Tabel 2) diperoleh hasil perhitungan nilai IFE perkebunan karet. Penduduk memiliki kearifan lokal dalam mengurangi keasaman tanah.5 1.1 c. menjadi 0.45 (padi).6 peluang pengembangan padi c.21 banyak air. Kebijakan pemerintah daerah untuk menggenjot PAD dengan fasilitasi dan 0.07 3 0.15 4 0.05 2 0. Keterbasan modal usaha pertanian dan peran koperasi yang tidak optimal 0. rehabilitasi jaringan irigasi dan 0.42 a.4 perkebunan TOTAL (peluang – ancaman) 1 0. Mei 2016.16 Kementerian Pertanian b.05 2 0. Serangan hama yang cukup tinggi 0.4 e.

dengan kondisi kekuatan. seperti tergali pada wawancara perkebunan karet atau sawit. Kedua faktor ini sangat terkait satu surut sampai saat ini masih menganggap dengan lainnya. tidak berjalannya proses pemasukan air (suplesi). Dari hasil perhitungan Matriks Faktor Internal Ancaman yang memang nyata dihadapi (IFE). yang berarti lahan karena kemasaman tanah dan oksidasi pirit progam pengembangan irigasi rawa cukup (skor = 0. Kurang optimalnya dukungan pemanfaatan lahan hanya untuk tanaman pangan jaringan irigasi rawa. maka dapat dilihat bahwa kondisi surut di Belawang adalah kebutuhan untuk eksistensi pertanian irigasi pasang surut di pemenuhan lumbung pangan pada setiap kepala Belawang termasuk pada Kuadran III. khususnya yang Hal ini tentunya akan semakin mempermudah masih dekat dengan sungai (skor = 0. maka eksistensi 4. menghambat pengembangan irigasi rawa di Pendekatan pengembangan irigasi rawa pasang Belawang. Fakta ini merupakan jalan dan peluang pengembangan padi rawa dan menahan desakan alih fungsi lahan.4). dimana sumbu-x adalah rentang akan semakin menurun. Pastinya petani akan menanam padi minimal untuk subsisten (konsumsi sendiri). keluarga yang tidak mungkin untuk dicukupi dari membeli di tempat lain (skor = 0. namun juga berfungsinya pintu-pintu air adalah faktor utama kondisi ketersediaan air (siklus pasang-surut). Kalau proses ini tidak berjalan.2. bisa 2-3 kali setahun juga mempengaruhi motivasi Dari hasil plotting peta SWOT terlihat bahwa petani (skor = 0.6) menjadi dua faktor yang paling kuat mengubah strategi pendekatan.1.6). Tentunya ke depannya nanti dengan kebijakan nasional pemerintah dalam mendorong Gambar 6 Diagram Strategi ketahanan pangan melalui program peningkatan jaringan irigasi teknis dan rawa. kecukupan air akan memacu dan “memaksa” masyarakat untuk ikut menggeluti motivasi mereka tetap mempertahankan padi perkebunan. kelemahan. padahal kondisi eksisting sudah jauh berbeda saluran irigasi. kondisi jaringan irigasi rawa yang menurun dan proses pengeluaran air (drainase) dan proses dinamika sosial. pendangkalan dan pertumbuhan dibanding desain awal reklamasi rawa. Dari hasil analisis matriks kombinasi SWOT dapat otomatis kadar asam dan pirit pada tanah rawa dirumuskan strategi-strategi sebagai berikut ini: Strategi Pengembangan-Panggabean & Wiryawan 7 .4). antara Kekuatan (S) dengan Kelemahan (W) atau Dari hasil perhitungan Matriks Faktor Ekternal Faktor Internal dan sumbu-y adalah rentang (EFE) terlihat bahwa peluang terbesar dalam Peluang (O) dengan Ancaman (T) atau Faktor mendorong eksistensi pertanian rawa pasang Eksternal. Faktor selanjutnya adalah fakta bahwa program operasi dan pemeliharaan serta rehabilitasi pada jaringan irigasi yang sudah menurun kinerjanya ditambah dengan pembangunan dan peningkatan jalan usaha tani melalui Kementerian PUPR sampai saat ini masih terus dilakukan (skor = 0.6).6) dan faktor kondisi sarana dan “lemah” namun sangat berpeluang. dapat dilihat bahwa posisi (weakness) faktor rendahnya tingkat kesuburan strategi terletak pada kuadran III. terlihat bahwa kekuatan utama untuk masyarakat adalah adanya kebijakan pemerintah mendorong pengembangan irigasi rawa daerah dalam rangka menggenjot Pendapatan Asli mendukung pertanian terletak pada faktor Daerah (PAD) melalui pemberian fasilitasi dan eksistensi sebagian petani yang masih bertahan perijinan pengembangan perkebunan (skor = 0.4). Perumusan Strategi pertanian lahan rawa pasang surut akan terwujud.45). Adapun prasarana irigasi yang sudah tidak optimal (skor = pendekatan yang dapat dilakukan adalah 0. ekonomi masyarakat. peluang dan Sementara dilihat dari aspek kelemahan ancaman saat ini. berupa pendangkalan saja. Apalagi kalau sudah dengan unsur dibanding harus mengalihfungsikan menjadi pemaksanaan. Bagi perusahan-perusahaan perkebunan untuk masuk petani setempat.Apabila di-plotting ke dalam diagram strategi akan semakin tinggi dan tingkat kesuburan tanah (Gambar 6). Hasil panen yang dengan petani (skor = 0. dengan padi (tanaman pangan). Tidak vegetasi pada kolam retensi serta tidak hanya perubahan pemanfaatan lahan. pencucian lahan yang harus dilakukan pada lahan rawa pasang surut.

Untuk itu perlu dilakukan analisis meskipun bukan berarti daerah-derah kesesuaian lahan terlebih dahulu. Tabel 3 Matriks Kombinasi SWOT Kekuatan (S) Kelemahan (W) 1. DIY tahun 2011. Produktivitas lahan 2-3 ton/ha dibanding karet 5. Pengembangan pola kerjasama cukup kuat distribusi daerah rawa petani dengan perusahaan 4. Rendahnya tingkat kesuburan dekat dengan sumber air lahan karena kemasaman tanah (sungai) dan pirit 2. dan 2. Mei 2016. Perkuatan kearifan lokal petani jaringan irigasi serta kemudahan irigasi dan pengembangan jalan melalui sosialisasi dan pelatihan fasilitas kepada petani usaha tani semakin digalakkan yang berkelanjutan Kementerian PUPR Ancaman (T) ST WT 1. Hal. pemerintah adalah: Sejumlah daerah. Terdapat koperasi mendukung pertanian bantuan modal dan menampung hasil panen Peluang (O) SO WO 1. Provinsi Jawa Barat tahun dan menetapkan zona lahan pertanian abadi 2010 dan Kaltim tahun 2013. Mengintensifkan peran koperasi 1. Budidaya karet dan padi sulit memadai dengan perbaikan dan dan budidaya tanaman pangan diterapkan berdampingan peningkatan prasarana pintu. disatukan. Membuat aturan (Perda) yang mengatur langkah strategis yang dapat dilakukan pemanfaatan lahan termasuk sanksinya. 1-10 . tidak akan mengakomodasi tidak terjadi konflik antara optimal menghadapi pesatnya perkembangan komoditas tanaman pangan dan perkebunan. Pengembangan varietas bibit 1. Mendorong peningkatan 4. Membuat peta tipologi lahan rawa pasang maupun kabupaten. Umumnya dengan tipologi lahan. Jasa penggilingan padi untuk padi relatif lebih sulit 4. Untuk itu beberapa 3. Selanjutnya dibuat tata cara program-program OP irigasi dan pemberdayaan pengelolaan air dan tanah yang mampu petani yang seperti biasa dilakukan. Di tingkat oleh Pemerintah Daerah setempat. Penerapan pola pemisahan lahan yang sesuai Kutai Kartanegara tahun 2012. Mengintensifkan program unggul dan adaptif oleh Balitra varietas unggul khususnya pada pelatihan dan pendampingan 2. dan bangunan 2. telah memiliki perda surut faktual yang komprehensif dan terpadu maupun rencana tata ruang yang khusus antar setiap pemangku kepentingan. kabupaten terdapat Kabupaten Banyuasin tahun 2012. Budidaya dan pengelolaan air 3. Program prioritas pemerintah pelengkap lainnya anggaran OP dan rehabilitasi meliputi: OP. Pengalaman petani untuk 4. Meningkatkan program fungsi (pemisahan lahan) 3. Mojokerto tahun 2013. karet dan kelapa sawit. Tingkat serangan hama yang mengatasi keterbatasan tenaga cukup tinggi kerja 3. 1. 8 Jurnal Irigasi – Vol. Peran tengkulak yang masih peningkatan akses jalan dan 2. yang tersebut sama sekali tidak memiliki dibagi menjadi analisis lahan aktual (A) dan permasalahan alih fungsi lahan. Kebutuhan pangan setiap KK areal dengan ketersediaan air kepada petani pada OP irigasi 3. No. rehabilitasi jaringan 2. 11. Eksistensi petani padi yang 1. dan perkebunan khususnya dalam kebutuhan air pintu air. Kemudahan perijinan 1. Sistem tabur benih untuk 2. saluran. Eksistensi perusahaan perkebunan (tenaga kerja atau perkebunan sedikit banyak sharing lahan yang sesuai saja) mempengaruhi keputusan petani Strategi untuk mempertahankan eksistensi analisis lahan potensial (P) (Mega et al. mencegah terjadinya alih fungsi lahan seperti Selanjutnya disusun peta kesesuaian lahan. Mengintensifkan lahan dengan 1.. Pembuatan aturan dan pengembangan perkebunan untuk mendukung permodalan penerapannya untuk melindungi 2. jaringan irigasi rawa dan lahan pertanian melalui 2014). Keterbatasan modal usaha 6. mengingat komoditas daerah-daerah tersebut mampu mencatatkan pertanian dengan perkebunan sulit surplus beras pada beberapa tahun terakhir. baik di tingkat provinsi 1. Kondisi sarana dan prasarana mengurangi keasaman tanah irigasi kurang optimal dalam waktu tanam 5. Akses ke lokasi daerah rawa yang dan menekan tengkulak eksistensi lahan irigasi dari alih cukup sulit 2.

Menetapkan peta kesesuaian lahan yang rehabilitasi jaringan irigasi. dengan pola kerjasama dengan perusahaan 5. 169-176. bantuan budidaya baik dari Pemerintah sehingga masyarakat tetap memperoleh Pusat maupun Pemerintah Daerah.. (2013). DAFTAR PUSTAKA Faktor pendorong: masih eksisnya komoditas Arif. IPCBEE.id/5344/1/ pasang surut melalui hal-hal sebagai berikut: Maryanah_Hamzah_AGB. H. Peningkatan sarana dan prasarana jaringan perkebunan baik sebagai pegawai. Jurnal Pengembangan Inovasi alih fungsi menjadi tantangan besar dalam Pertanian. & Mulyana.pdf Strategi Pengembangan-Panggabean & Wiryawan 9 .ac.. kemudahan akses permodalan dan terbatas hanya pada lahan yang sesuai. Jambi Province. 993-1000. Membuat peta tipologi lahan rawa pasang mendorong motivasi petani pada komoditas surut faktual yang komprehensif dan terpadu tanaman pangan. R. pupuk. pemasukan tambahan selain dari pertanian 6. Dalam Prosiding Seminar Nasional BKS- PTN Wilayah Barat.. peningkatan pertanian pangan. Pengembangan kemitraan petani dengan yang digelutinya. tenaga irigasi rawa. sanksi dan reward dalam pengelolaannya. & tani dan jalan desa masih terus dilakukan oleh Yazid. E.4. E. (2015). Indonesia). Pengembangan inovasi pertanian Kuala mendorong pengembangan kelapa sawit di lahan rawa pasang surut mendukung dan karet dan belum adanya aturan pembatasan ketahanan pangan. M. Diversifikasi mata pencaharian untuk tanah dan air agar tidak terjadi konflik antara pengembangan perekonomian masyarakat tanaman pangan dengan karet dan sawit. sumber daya tanah dan air yang membutuhkan Direktorat Irigasi dan Rawa. optimal. Diperoleh Maret pola pendekatan pengembangan irigasi rawa 2016. mempermudah potensial dikembangkan baik untuk akses permodalan di bank. untuk memudahkan distribusi serta 3. (2014). Jurnal Ekonomi. Operasi dan Pemeliharaan (OP) serta 2. Identifikasi tantangan dan peluang tanaman pangan khususnya di lahan yang masih koperasi dosen dan karyawan UIR (koperasi terluapi air sungai. A. mengkonversi di tipologi lahan sawah irigasi Strategi yang harus dilakukan terkait dengan teknis dan sawah pasang surut di Sumatera perkembangan saat ini adalah dengan mengubah Selatan. rehabilitasi jaringan irigasi dan peningkatan akses jalan usaha Adam. M. 23(2). B. Mengacu kepada peta kesesuaian lahan. 67-72. Food Crop Farming (A Case Study of Trasmigration Area of Tanjung Jabung Timur Faktor penghambat: kesesuaian lahan rawa Regency. Purbiyanti. dan peningkatan akses kerja. penghambat pengembangan irigasi rawa untuk pertanian. kemudahan akses memperoleh bantuan bibit Pemerintah Daerah segera menetapkan zona unggul. tidak didukung kinerja jaringan irigasi rawa yang Kementerian Pekerjaan Umum. Saptawan. perusahaan perkebunan dengan pola V. mempertahankan eksistensi lahan pertanian Hamzah. Pohon Rawa. Manajemen dan Akuntansi. Pemberian kemudahan (fasilitasi) untuk 1. Disusun panduan atau tata cara pengelolaan 5. The Problems and Constraints Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan in Managing Tidal Swamp Land for Sustainable Rakyat. pelatihan budidaya dan lahan pertanian abadi yang didukung aturan sebagainya. Daerah reklamasi rawa unit Belawang yang pada awalnya dibuka untuk pertanian saat ini sudah UCAPAN TERIMA KASIH semakin terdesak oleh perkembangan karet dan Ucapan terimakasih disampaikan kepada segenap kepala sawit. Program OP. H. KESIMPULAN inti/plasma terbatas pada lahan yang sesuai untuk perkebunan. Susanto. 81-88. Kebijakan pemerintah daerah Barito Arsyad. 4. sendiri (subsisten). minimal untuk dikonsumsi Dokagu UIR) Tahun 2013-2014.. 57. Hal ini justru Jakarta: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Peningkatan anggaran antar setiap pemangku kepentingan.unsri. khususnya sawah dan jaringan irigasi rawa Keputusan petani untuk mengkonversi/tidak pasang surut.. atau pola sharing lahan (inti/plasma) distribusi. Dari hasil diskusi dan pengamatan di peneliti di Balai Litbang Sosekling Bidang Sumber lapangan diperoleh data bahwa faktor-faktor Daya Air yang telah ikut mendukung determinan yang menjadi pendorong dan terselenggaranya pelaksanaan penelitian ini. M.. D. (2014). Lakitan. dari http://eprints. perkebunan dan akses jalan usaha tani dan jalan poros desa konservasi. E. 7(4). (2012). biaya dan teknologi yang mahal. Dalam pasang surut sesuai dengan peruntukan International Conference on Sustainable komoditas harus diintervensi dengan pengolahan Environment and Agriculture.

I. The five competitive forces that shape strategy.Hidayat.. 17(2). Peraturan Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. Kajian Potensi Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Tanaman Hortikultura di Septiyani.. Templates. (2013). H. Susanto. Jurnal Tanah Tropika (Journal of Tropical Soils). T. Republik Indonesia. 277-282. Peraturan Pemerintah No. 4(1). Water Table Fluctuation in Tidal pemasaran (Studi Kasus Mc. S. 105-117. Prosiding Seminar Nasional. 1-10 . 4(1). Media Nisak. E. Z. & Dharmawan. (2012). N. (2014). Morrison. SWOT Analysis (TOWS Matrix) Made Simple – History. dari Penelitian dan Pengembangan.. Jurnal Ekbis. (2016). Menteri PU Nomor 05/PRT/M/2010 tentang Bogor. Kementerian Pertanian. 15(1). 9(2).pdf Ramadhan. Tahun 1971-1979. International. S. S. W. 2011. sebagai landasan dalam menentukan strategi M. Diperoleh Maret 2016. Definition. Jaya I Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat Journal on Agriculture Science. 29-37. Pandjaitan. Wahyunto.. I. D. M. Kementerian Pekerjaan Umum. Lowland for Developing Agricultural Water Jurnal Media Informasi Manajemen. (2009). 27-36. (2010). Diperoleh Maret 2016. Badan Consulting. 1. Bogor: Balai Penelitian Tanah. Pekerjaan Umum. A. Kementerian Pertanian. Armanto. 10(1). (2013). Zona kesesuaian lahan rawa pasang surut berbasis keunggulan kompetitif Mega. Sejarah reklamasi rawa. Indonesia. (2012).. (2011). Januari 2008. Jurnal Sosial Ekonomi Badan Penelitian dan Pengembangan. Suprapto. Donald’s Ring Road. (2014).S. N. Analisis SWOT Untuk Menentukan Komunikasi Teknik Sipil. komoditas. & Sofiyah. N. Laporan Akhir. Puja. & Sarwani. 110-120. K. Badan Penelitian dan Pengembangan Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Pertanian. Indonesia. 7(2). W. Kontestasi Sains Dengan Pengetahuan Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan. (2015). Penyusunan Model Pengelolaan Pasang Surut. Lowland Technology Berkelanjutan. Jakarta: Inventarisasi don Pemetaan Lahan Gambut di Sekretariat Negara Republik Indonesia. Reklamasi Rawa Pasang Surut. I. Hal. brochures/dec-05. Pengaruh persepsi petani Wahyunto. A.com/sites/default/files/ Pekerjaan Umum. H. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Humphrey. S. Pemilihan alternatif keputusan pada and Worksheet. Jurnal SEPA. E. Strategi Kompetitif. D. Management Strategies.. R.E. [Puslitbang Sosekling] Pusat Penelitian dan (2010). I. & Mulyani. R. Mei 2016. (2013). irigasi pasang surut. A.. Porter. & Bernas. Teknologi Rawa Berkelanjutan. 4 April 2012. Y.. dari masalah alih fungsi lahan pertanian hasil https://rapidbi. Analisis SWOT Imanudin. Nugroho. (2013). 3(1). Rina. (2008).. 15(3). & Nuarsa. M. Useng. Para transmigran di Desa Rasau Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem. Bogor. Journal of Indonesian History. Jurnal Sosiologi Pedesaan.. 11. No. SWOT Analysis for Management Sosial Ekonomi dan Lingkungan. (2014). & Haris. K. Panggabean.. Sebaran Lahan Gambut terhadap motivasi mengembangkan pertanian di Di Indonesia. R. A. 1(4). M. Lokal Petani dalam Pengelolaan Lahan Rawa (2014).. M.com/swotanalysis/ reklamasi rawa pasang surut di Indonesia dengan menggunakan metode AHP. Kementerian https://www. F. Accounting for risk of using shallow Noor. Harvard Business Review. Sunarta. (2005).sri. 73 tahun 2013 tentang Rawa. 79-93 10 Jurnal Irigasi – Vol. M. Naskah dalam ground water for secondary crops on lowland Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Gambut paddy fields in Indonesia.