You are on page 1of 2

Beban Ganda Masalah Gizi di Indonesia

06-09-2012

Seperti yang telah banyak diberitakan sebelumnya, Indonesia
sebagai negara berkembang secara perlahan mulai bergerak maju untuk
menyamakan diri dengan negara maju lainnya. Tetapi sayangnya hal
tersebut berlaku pula untuk pola penyakitnya. Bila dahulu penyakit infeksi
merupakan jenis penyakit yang paling banyak terjadi di Indonesia, maka
untuk saat ini pola tersebut secara perlahan mulai berubah. Saat ini
jumlah pasien penyakit tidak menular atau non communicable diseases
seperti stroke, hipertensi, diabetes semakin meningkat dari tahun ke
tahun. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, ternyata penyakit tersebut,
terutama diabetes tipe 2 juga mulai ditemukan pada anak-anak.
Penyebab dari penyakit tidak menular atau non communicable
diseases sebagian besar adalah karena perubahan pola hidup yang
sekarang terjadi di masyarakat. Yaitu orang semakin termanjakan dengan
tekonolgi yang ada sehingga menjadi malas bergerak & kurang melakukan
aktifitas fisik.Selain itu seiring dengan meningkatnya daya beli, membuat
orang menjadi gemar membeli makanan diluar, & yang menjadi banyak
pilihan adalah makanan cepat saji yang tinggi kalori & tinggi asupan
garamnya.
Salah satu tantangan lain yang dihadapi oleh banyak negara
berkembang seperti Indonesia adalah adanya masalah beban ganda
(double burden) mengenai gizi. Yaitu masih ditemukannya oarang yang
mengalami kekurangan nutrisi sedangkan di sisi lain, mulai banyak juga
orang yang mengalami kelebihan nutrisi atau bahkan obesitas.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan
oleh Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2010 menemukan
bahwa 17,9% status malnutrisi terjadi pada anak usia dibawah 5 tahun,
dan disebutkan juga bahwa 14% anak pada kelompok usia yang sama
mengalami kegemukan. Sementara itu, kasus malnutrisi dan kegemukan
pada anak kelompok usia 6-12 tahun terjadi sebesar 11,2% dan 9,2%.
Yang menjadi sorotan dalam hal ini adalah anak-anak yang mengalami
obesitas beresiko untuk terkena penyakit seperti stroke, diabetes atau

. vitamin A dan zinc pada anak. serta tercipta akses yang mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan makanan yang sehat & berkualitas.hipertensi di usia muda. profesor di bidang nutrisi dan kesehatan umum dari London School of Hygiene and Tropical Medicine. Kami menamakan kondisi ini sebagai double burden. perlu adanya komitmen bersama antara pemerintah. Institusi kesehatan dapat mendukung dengan menyediakan pelayanan & informasi kesehatan yang memadai sehingga masyarakat menjadi lebih paham mengenai gaya hidup yang lebih sehat. Dengan demikian akan dapat tercipta masyarakat yang sehat. Pada negara-negara yang mengalami transisi nutrisi. Hal tersebut mengemuka dalam acara konfrensi pers yang berlangsung tanggal 29 Mei 2012 kemarin mengenai masalah penyakit degeneratif & double burden di Indonesia. Adanya perubahan pada pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik masyarakat menjadi penyebab utama kasus-kasus ini. insituti kesehatan & masyarakat awam. kekurangan gizi dan nutrisi seperti zat besi. karena dapat menjadi agen perubahan sekaligus pelaku dari gaya hidup yang lebih sehat. Prof. Bila hal ini terjadi maka dampaknya akan sangat besar sekali. Sedangkan pelaku industri dapat mendukung dengan membuat produk yang bermutu & bernilai gizi tinggi serta juga membantu menyebarkan informasi yang tepat. Pemerintah perlu membuat kebijakan sehingga terjadi pemerataan dibidang pangan & kesehatan. karena generasi muda yang harusnya menjadi tulang punggung ternyata malah terbaring lemah karena penyakit yang dideritanya. Sedangkan masyarakat dapat berperan besar dalam hal ini.” Untuk mengatasi masalah ini. Ricardo. terjadi bersamaan dengan kasus obesitas dan penyakit nutrisi kronis lainnya. lingkungan & bangsa Indonesia. keluarga. Universitas London pada acara tersebut mengatakan “hasil penelitian kami menunjukkan adanya tantangan yang dihadapi negara-negara ini. pelaku industri. bahkan di usia produktifnya. MD PhD. yang dapat mensejahterakan baik dirinya sendiri.