You are on page 1of 14

TINJAUAN PUSTAKA

Peranan Penyuluh Pertanian

Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan

komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya

memberikan pendapat sehingga dapat membuat keputusan yang benar. Kegiatan

tersebut dilakukan oleh seseorang yang disebut penyuluh pertanian (Van Den Ban

dan Hawkins, 1999). Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartasapoetra (1994) yang

menyatakan penyuluh pertanian merupakan agen bagi perubahan perilaku petani,

yaitu mendorong petani mengubah perilakunya menjadi petani dengan

kemampuan yang lebih baik dan mampu mengambil keputusan sendiri, yang

selanjutnya akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Melalui peran

penyuluh, petani diharapkan menyadari akan kebutuhannya, melakukan

peningkatan kemampuan diri, dan dapat berperan di masyarakat dengan lebih

baik.

Penyuluhan pertanian merupakan sarana kebijaksanaan yang dapat

digunakan pemerintah untuk mendorong pembangunan pertanian. Di lain pihak,

petani mempunyai kebebasan untuk menerima atau menolak saran yang diberikan

agen penyuluhan pertanian. Dengan demikian penyuluhan hanya dapat mencapai

sasarannya jika perubahan yang diinginkan sesuai dengan kepentingan petani.

Tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian adalah meningkatkan

produksi pangan dalam jumlah yang sama dengan permintaan akan bahan pangan

yang semakin meningkat dengan harga bersaing di pasar dunia. Pembangunan

Universitas Sumatera Utara
seperti ini harus berkelanjutan dan seringkali harus dilakukan dengan cara yang

berbeda dari cara yang terdahulu. Oleh karena itu, organisasi penyuluhan

pertanian yang efektif sangat penting di dalam situasi tersebut terutama di negara

yang sedang berkembang (Ilham, 2010).

Van Den Ban dan Hawkins (1999) menyatakan bahwa konsep dasar

penyuluhan pertanian adalah suatu bentuk pengaruh sosial yang disadari.

Komunikasi yang disengaja melalui informasi adalah untuk membantu petani

membentuk pendapat yang sehat dan membuat keputusan yang benar serta

mengubah perilaku petani menjadi lebih baik.

Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status) seseorang

yang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukan

menunjukkan dia menjalankan perannya. Hak dan kewajiban harus saling

berkaitan yang dijalankan seseorang sesuai dengan ketentuan peranan yang

seharusnya dilakukan dan sesuai dengan harapan peranan yang dilakukan

(Departemen Pertanian, 2009).

Menurut Fashihullisan (2009) peranan penyuluhan dalam pemberdayaan

masyarakat, yaitu: menyadarkan masyarakat atas peluang yang ada untuk

merencanakan hingga menikmati hasil pembangunan, memberikan kemampuan

masyarakat untuk menentukan program pembangunan, memberi kemampuan

masyarakat dalam mengontrol masa depannya sendiri, dan memberi kemampuan

dalam menguasai lingkungan sosialnya. Peran seorang pekerja pengembangan

masyarakat dapat dikategorikan ke dalam empat peran, yaitu :

1. Peran fasilitator (Facilitative Roles),

2. Peran pendidik (Educational Roles),

Universitas Sumatera Utara
3. Peran utusan atau wakil (Representasional Roles), dan

4. Peran teknikal (Technical Roles)

Mosher (1997) menguraikan tentang peran penyuluh pertanian, yaitu:

sebagai guru, penganalisa, penasehat, sebagai organisator, sebagai pengembang

kebutuhan perubahan, penggerak perubahan, dan pemantap hubungan masyarakat

petani. Kartasapoetra (1994) juga menjelaskan tentang peran penyuluh yang

sangat penting bagi terwujudnya pembangunan pertanian moderen yaitu

pembangunan pertanian berbasis rakyat. Peran penyuluh tersebut adalah:

1. Sebagai peneliti; mencari masukan terkait dengan ilmu dan teknologi,

penyuluh menyampaikan, mendorong, mengarahkan dan membimbing petani

mengubah kegiatan usahataninya dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi.

2. Sebagai pendidik; meningkatkan pengetahuan untuk memberikan informasi

kepada petani, penyuluh harus menimbulkan semangat dan kegairahan kerja

para petani agar dapat mengelola usahataninya secara lebih efektif, efisien,

dan ekonomis.

3. Sebagai penyuluh; menimbulkan sikap keterbukaan bukan paksaan, penyuluh

berperan serta dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan hidup para petani

beserta keluarganya.

Dapat dilihat bahwa peran penyuluh sangat berat, mengharuskannya memiliki

kemampuan tinggi, Oleh karena itu, kualitas dari penyuluh harus terus

ditingkatkan sehingga mampu berperan dalam memberikan penyuluhan dan

mewujudkan pembangunan pertanian.

Peranan agen penyuluhan pertanian adalah membantu petani membentuk

pendapat yang sehat dan membuat keputusan yang baik dengan cara

Universitas Sumatera Utara
berkomunikasi dan memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan petani.

Peranan utama penyuluhan lebih dipandang sebagai proses membantu petani

untuk mengambil keputusan sendiri dengan cara menambah pilihan bagi mereka,

dan menolong petani mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari

masing masing pilihan tersebut.

Menurut Van Den Ban dan Hawkins (1999), agen penyuluhan dapat

membantu petani memahami besarnya pengaruh struktur sosial ekonomi dan

teknologi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, dan menemukan cara

mengubah struktur atau situasi yang menghalanginya untuk mencapai tujuan

tersebut. Mereka dapat membantu petani meramalkan peluang keberhasilan

dengan segala konsekuensinya, dengan memberikan wawasan luas yang dapat

dipengaruhi oleh berbagai aspek sosial dan aspek ekonomi.

Menurut Rasyid (2001) belum optimalnya peranan penyuluhan pertanian

dapat disebabkan oleh rendahnya tingkat partisipasi petani terhadap penyuluh

pertanian sebagai akibat rendahnya mutu pelayanan penyuluhan pertanian. Selain

itu lemah dan tidak sistematisnya sistem pendanaan sehingga menjadi salah satu

penyebab rendahnya kinerja penyuluh pertanian dalam menjalankan tugas dan

fungsinya. Penyuluh pertanian ke depan adalah penyuluh pertanian yang dapat

menciptakan dirinya sebagai mitra dan fasilitator petani dengan melakukan

peranan yang sesuai antara lain sebagai: penyedia jasa pendidikan (educator),

motivator, konsultan (pembimbing), dan pendamping petani.

Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan penyuluh, baik

secara internal maupun eksternal. Faktor internal tersebut meliputi; tingkat

pendidikan, motivasi, kepribadian dan harga diri serta keadaan sosial budaya

Universitas Sumatera Utara
penyuluh. Adapun faktor eksternal tersebut meliputi; manajemen organisasi

penyuluhan, insentif atau fasilitas yang diperoleh penyuluh dalam menjalankan

tugasnya serta tingkat partisipasi sasaran yang berada di bawah koordinasinya.

Faktor-faktor tersebut harus diperhatikan oleh pihak pimpinan organisasi sehingga

dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengupayakan peningkatan kompetensi

penyuluh (Departemen Pertanian, 2009).

Usahatani Padi Sawah

Sebagai negara agraris, Indonesia harus dapat memajukan sektor pertanian

untuk kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, pertanian menjadi sangat penting

disaat terjadi kekurangan pangan di beberapa daerah di Indonesia. Pertanian yang

dominan adalah penghasil pangan, haruslah dikelola dengan sebaik baiknya, maka

peran penyuluh pertanian sangat perlu untuk memajukan pertanian di Indonesia

(Ilham, 2010).

Pembangunan pertanian yang berkelanjutan merupakan keniscayaan dalam

pemenuhan kebutuhan pangan, memperluas lapangan kerja dan lapangan berusaha

serta mengentaskan kemiskinan. Sejarah telah membuktikan hasil gemilang atas

program dan motivasi yang tinggi para PPL dalam mendukung keberhasilan

pembangunan pertanian khususnya keberhasilan dalam pencapaian swasembada

beras sehingga dapat merubah citra semula sebagai negara pengimpor beras

menjadi negara pengekspor beras terbesar di dunia. Namun keberhasilan

pencapaian swasembada beras tersebut tidak dapat dipertahankan seiring dengan

penurunan kinerja dari para penyuluh pertanian (Departemen Pertanian, 2009).

Soeharsono (1989) menyatakan bahwa usahatani yang bagus sebagai

usahatani produktif dan efisien sering dibicarakan sehari-hari. Usahatani yang

Universitas Sumatera Utara
produktif berarti usahatani yang produktivitasnya tinggi. Produktivitas sebenarnya

merupakan penggabungan antara konsepsi efisiensi usaha (fisik) dengan kapasitas

tanah. Efisiensi fisik mengukur banyaknya hasil produksi (output) yang dapat

diperoleh dari kesatuan input. Sedangkan kapasitas dari sebidang tanah tertentu

menggambarkan kemampuan tanah itu untuk menyerap tenaga dan modal

sehingga memberikan hasil produksi bruto sebesar besarnya pada tingkatan

teknologi tertentu.

Padi sebagai komoditas pangan utama mempunyai nilai strategis yang

sangat tinggi, sehingga diperlukan adanya penanganan yang serius dalam upaya

peningkatan produktivitasnya. Besarnya peranan pemerintah dalam pengelolaan

komoditas pangan khususnya padi dapat dilihat mulai dari kegiatan pra produksi

seperti penyediaan bibit unggul, pupuk, obat obatan, sarana irigasi, kredit

produksi dan penguatan modal kelembagaan petani. Usaha peningkatan produksi

dan pendapatan usahatani padi tidak akan berhasil tanpa penggunaan teknologi

baru baik dibidang teknis budidaya, benih, obat-obatan dan pemupukan

(Ilham, 2010).

Dalam mencapai peningkatan produksi teknologi memang diperlukan dan

para petani perlu mengadopsi teknologi itu. Petani harus berubah dari penggunaan

teknologi lama ke penggunaan teknologi baru yang lebih maju. Teknologi yang

diterapkan dalam mendukung pembangunan pertanian Indonesia merupakan

teknologi untuk meningkatkan produktivitas, peningkatan mutu dan diversifikasi

produk olahan di sektor hilir, baik itu untuk skala kecil, menengah, maupun besar

(Van Den Ban dan Hawkins, 1999).

Universitas Sumatera Utara
Untuk sampai taraf yakin dan mau menerapkan teknologi biasanya petani

harus melalui tahap tahap dari proses adopsi, seperti berikut ini:

• Sadar dan tahu (awareness)

• Minat (interesting)

• Penilaian (evaluation)

• Percobaan (trial)

• Adopsi (adoption)

Untuk meningkatkan produktivitas usahatani padi sawah sekaligus

memberdayakan petani. Departemen Pertanian (2000) melalui Program

Peningkatan Ketahanan Pangan telah memberikan bantuan fasilitas penguatan

modal, pelatihan dan pembinaan agar petani mau dan mampu bekerjasama dan

mampu menerapkan teknologi sesuai rekomendasi dengan manajemen usahatani

yang profesional.

Menurut Soekartawi (1988), adopsi terhadap suatu teknologi baru

biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

1. Tingkat pendidikan petani

Pendidikan merupakan sarana belajar yang menanamkan pengertian sikap

yang menguntungkan menuju penggunaan praktek praktek pertanian yang lebih

modern. Mereka yang berpendidikan tinggi akan lebih cepat menerapkan

teknologi dan melaksanakan proses adopsi.

2. Luas lahan

Petani yang memiliki lahan yang luas akan lebih mudah menerapkan

inovasi daripada petani yang memiliki lahan sempit. Hal ini dikarenakan

keefesienan dalam menggunakan sarana produksi.

Universitas Sumatera Utara
3. Umur

Petani yang memiliki umur yang semakin tua (> 50 tahun), biasanya

makin lamban dalam mengadopsi inovasi dan cenderung hanya melakukan

kegiatan kegiatan yang sudah biasa diterapkan oleh masyarakat setempat.

4. Pengalaman bertani

Petani yang sudah lama bertani akan lebih mudah untuk menerapkan

inovasi daripada petani pemula, hal ini dikarenakan pengalaman yang lebih

banyak, sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil

keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi.

5. Jumlah tanggungan

Petani dengan jumlah tanggungan yang semakin tinggi akan makin lamban

dalam mengadopsi suatu inovasi, karena jumlah tanggungan yang besar akan

mengharuskan mereka untuk memikirkan bagaimana cara pemenuhan kebutuhan

hidup keluarganya sehari hari. Petani yang memiliki jumlah tanggungan yang

besar harus mampu dalam mengambil keputusan yang tepat, agar tidak

mengalami resiko yang fatal bila kelak inovasi yang diadopsi mengalami

kegagalan.

6. Pendapatan

Petani dengan tingkat pendapatan yang semakin tinggi biasanya akan

semakin cepat dalam mengadopsi inovasi karena memiliki ekonomi yang cukup

baik.

7. Status pemilikan lahan

Universitas Sumatera Utara
Pemilik pemilik tanah mempunyai pengawasan yang lebih lengkap atas

pelaksanaan usahataninya, bila dibandingkan dengan para penyewa. Para pemilik

dapat membuat keputusan untuk mengadopsi inovasi sesuai dengan keinginannya,

tetapi penyewa harus sering mendapatkan persetujuan dari pemilik tanah sebelum

mencoba atau mempergunakan teknologi baru yang akan di praktekkan.

Konsekuensi tingkat adopsi biasanya lebih tinggi untuk pemilik usahatani

daripada orang orang yang menyewa.

8. Tingkat kosmopolitan

Petani yang memiliki pandangan luas terhadap dunia luar dengan

kelompok sosial yang lain, umumnya akan lebih mudah dalam mengadopsi suatu

inovasi bila dibandingkan dengan golongan masyarakat yang hanya berorientasi

pada kondisi lokal, karena pengalaman mereka yang terbatas menyebabkan

mereka sulit dalam menerima perubahan atau mengadopsi suatu inovasi. Hal ini

karena mereka belum pernah mendengar atau bahkan belum mengenal informasi

dengan cukup tentang inovasi tersebut.

Berkaitan dengan teknologi usahatani, Kartasapoetra (1994)

mengemukakan bahwa teknologi yang diterapkan harus memenuhi 4 kriteria,

yaitu: secara ekonomis menguntungkan petani, secara teknis mudah diterapkan,

secara sosial dapat diterima secara luas oleh sebagian besar petani dan tidak

bertentangan dengan agama, budaya dan kepercayaan, serta ramah terhadap

lingkungan.

Suatu paket teknologi pertanian akan tidak ada manfaatnya bagi para

petani di pedesaan jika teknologi tersebut tidak dikomunikasikan ke dalam alam

masyarakat pedesaan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu

Universitas Sumatera Utara
pihak dan perkembangan masyarakat di lain pihak telah menciptakan struktur

komunikasi informasi di pedesaan menjadi sangat kompleks, sehingga dapat

dikatakan bahwa akan ada perubahan secara terus menerus dalam hal cara kerja

pada petani jika kepada mereka dilakukan komunikasi teknologi yang baik dan

tepat (Rogers dan Shoemaker, 1986).

Agar usahatani padi sawah dapat dilaksanakan dengan baik dan untuk

meningkatkan produksi padi sawah maka diperlukan beberapa faktor produksi,

seperti : ketersedian bibit, pupuk, pestisida, alat alat pertanian, mesin mesin

pertanian, saluran irigasi, tenaga kerja dan lain-lain. Departemen Pertanian (2010)

menyatakan bahwa bibit adalah tanaman yang digunakan untuk memperbanyak

dan mengembangbiakkan tanaman padi sawah. Pupuk adalah bahan yang

mengandung satu atau lebih unsur hara tanaman untuk mengubah sifat fisik, kimia

atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman padi

sawah. Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengatasi dan

membasmi hama penyakit tanaman padi sawah. Alat-alat pertanian adalah alat-

alat yang digunakan pada usahatani padi sawah untuk membantu petani mengelola

usahataninya. Oleh karena itu, tugas penyuluh pertanian dalam hal ini adalah

membantu petani menjelaskan tentang faktor-faktor produksi tersebut agar

usahatani padi sawah semakin meningkat.

Kemampuan pengelolaan suatu usahatani sangat tergantung kepada

produktivitas pengelolaannya dalam bekerja, sebab kemampuan bekerja seseorang

berbeda untuk setiap tingkatan umur. Umur anak, dewasa dan tua masing-masing

memiliki produktivitas bekerja yang berbeda-beda. Petani yang berumur relatif

muda biasanya lebih kuat, lebih agresif dan lebih tahan bekerja dibandingkan

Universitas Sumatera Utara
dengan petani yang berumur lebih tua. Rata-rata umur petani 40-43 tahun dengan

umur termuda 22 tahun dan tertua 70 tahun (Ilham, 2010).

Kerangka Pemikiran

Dalam upaya menggambarkan penyuluhan pertanian secara menyeluruh

dan terpadu diperlukan suatu perencanaan secara matang dan terarah. Perencanaan

penyuluhan pertanian di tingkat Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian dituangkan

dalam Rencana Kerja Penyuluh Pertanian yang bertujuan untuk mengantisipasi

perkembangan teknologi penyampaian informasi penyuluhan kepada petani.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) merupakan agen bagi perubahan

perilaku petani dan PPL membantu petani untuk meningkatkan usahatani.

Dalam peningkatan usahatani padi sawah diperlukan penerapan teknologi

paket D. Penerapan teknologi tersebut disampaikan oleh PPL kepada petani.

Dalam penerapan teknologi tersebut, petani tidak lepas dari masalah. Upaya yang

dilakukan PPL untuk mengatasi masalah yang dihadapi petani adalah dengan

meningkatkan kunjungan kelompok tani, melakukan kegiatan demontrasi seperti

demplot dan memberikan bantuan sarana produksi kepada petani.

Meningkatnya usahatani padi sawah dipengaruhi oleh ketersediaan input

produksi, tingkat adopsi petani terhadap teknologi paket D yang diterapkan oleh

PPL dan sikap petani terhadap pelaksanaan program yang dilakukan oleh PPL.

Yang termasuk dalam input produksi adalah bibit, pupuk, pestisida, alat

alat pertanian dan tenaga kerja. Sedangkan tingkat adopsi petani terhadap

teknologi paket D dikategorikan ke dalam tiga tingkatan yaitu tingkat adopsi

rendah, sedang dan tinggi. Dan untuk melihat respon petani terhadap pelaksanaan

Universitas Sumatera Utara
program yang dilakukan penyuluh dapat dilihat dari sikap petani yang

dikategorikan ke dalam sikap positif dan sikap negatif.

Apabila input produksi sudah efisien penggunaannya sesuai dengan yang

diterapkan oleh PPL dan terdapat tingkat adopsi petani yang tinggi terhadap

teknologi paket D serta ada sikap petani yang sangat positif terhadap pelaksanaan

program PPL, maka produksi petani padi sawah akan meningkat. Dengan

meningkatnya hasil produksi maka produktivitas petani juga meningkat.

Universitas Sumatera Utara
Penyuluh Pertanian
• Kurangnya Lapangan
ketersedian input
produksi
• Masih rendahnya • Meningkatkan
tingkat adopsi kunjungan
petani terhadap kelompok tani
teknologi paket D Teknologi • Melakukan
• Kurangnya respon paket D kegiatan.
petani terhadap demonstrasi,
program yang seperti: demplot.
dilakukan • Memberi bantuan
penyuluh sarana produksi
pertanian
Masalah Petani Upaya kepada petani.

Tingkat Adopsi Input Sikap
Petani v
Produksi Petani

Rendah Sedang Tinggi Positif Negatif

Bibit Pupuk Pestisida Alat alat Tenaga
pertanian Kerja

Produksi

Produktivitas

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Peranan Penyuluh Pertanian Dalam
Peningkatan Usahatani Padi Sawah

Universitas Sumatera Utara
Keterangan :

: Pengaruh

Universitas Sumatera Utara