KERANGKA ACUAN ANDAL PT.

WONO INDO NIAGA

DI SUSUN OLEH :

HERLINA TAHIR

0011.07.11.2015

KONSENTRASI LINGKUNGAN

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
PASCASARJANA UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2016

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Sumber daya hutan merupakan kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan
merupakan salah satu modal dasar bagi pembangunan nasional. Selama ini sektor kehutanan
telah berperan dan memberi kontribusi yang cukup besar dalam penerimaan devisa negara,
penyerapan tenaga kerja, memperluas peluang berusaha serta mendorong tumbuh dan
berkembangnnya sektor industri dan perdagangan, serta eksport non migas.

Pembangunan Hutan Tanaman Industri yang dilakukan oleh PT. WONO INDO
NIAGA di Kabupaten Sumba Barat NTT telah berlangsung sejak 17 tahun yang lalu. Luas
areal berdasarkan SK HPHTI adalah 13.375 ha. Berkaitan dengan kegiatan HTI tersebut
dibutuhkan tindakan yang bijaksana dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan
tersebut dengan tetap memperhatikan keseimbangan dinamik antara fungsi kelestarian
produksi, fungsi kelestarian ekologis dan kelestarian fungsi sosial bagi komunitas lokal serta
dapat mendorong dinamika pembangunan daerah.

Dalam rangka mewujudkan komitmen terhadap pengelolaan hutan tanaman yang
lestari dan sekaligus upaya pencegahan dan pengendalian kerusakan hutan maka pemrakarsa
dalam hal ini PT. WONO INDO NIAGA berkewajiban untuk melaksanakan studi AMDAL.

1.2. Tujuan dan kegunaan proyek

Adanya kebutuhan yang mendesak untuk penyediaan bahan baku bagi pembangunan
saat ini yang berjalan begitu pesat serta ketersediaan bahan baku yang sangat sedikit menjadi
alasan utama di aktifkannya kembali HTI PT WONO INDO NIAGA, setelah beberapa tahun
terakhir tidak dapat melakukan aktifitasnya sebagaimana mestinya. Dengan dilakukannya
studi AMDAL membuat langkah-langkah kebijakan lebih terarah dengan tujuan yang
spesifik dan sesuai dengan sasaran yang dikehendaki baik oleh pemrakarsa maupun oleh
lingkungan hidup dan masyarakat yang terkena dampak dari kegiatan ini. Untuk maksud di
atas maka tujuan dilaksanakan AMDAL HPHTI PT. WONO INDO NIAGA adalah sebagai
berikut :

Penyusunan Amdal IUPHHK-HT PT. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a. tapi sungguh suatu kebutuhan investasi pengusahaan hutan yang berkelanjutan untuk jangka panjang. c. Sungguhpun pembangunan hutan tanaman PT. WONO INDO NIAGA di Kabupaten Sumba Barat. Nusa Tenggara Timur. b. 49/Menhut –II/2009. a. P. c. dan sejauh ini tidak ada dampak negatif apapun yang muncul.4/Menhut-II/2009 tentang Penyelesaian Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri Sementara. Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan PT WONO INDO NIAGA yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. UU Nomor : 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hiduppada pasal 15 serta Peraturan Pemerintah Nomor : 27 Tahun 1999 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Hidup menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan dan/atau usaha yang potensial menimbulkan dampak penting dan besar terhadap komponen lingkungan hidup WAJIB dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. dan perubahannya No. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan. teknis dan ekonomis. Mengidentifikasikan rona linkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting. merupakan suatu keharusan. b. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. telah berlangsung selama lebih dari 17 tahun. tidak hanya sebagai formalitas untuk memenuhi kewajiban sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. tetapi penyusunan dokumen Amdal tetap perlu dilakukan. P. WONO INDO NIAGA. .

27 Tahun 1999 Analisis mengenai dampak lingkungan Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan 11. 32 Tahun 2004 Pemerintahan Daerah 7. 19 Tahun 2004 Kerusakan Lingkungan Hidup 14.3 Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. PP No. UU No. 23 Tahun 1997 Pengelolaan Lingkungan Hidup 4. 26 Tahun 2007 Penataan Ruang 8. UU No. UU No. 07 Tahun 2004 Sumberdaya Air 6. UU No. 5 Tahun 1994 Keanekaragaman Hayati 3. 04 Tahun 2001 Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan/atau Lahan 12. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok Penyusunan AMDAL IUPHHK-HTI PT WONO INDO NIAGA mengacu dan berpedoman kepada ketentuan dan peraturan perundang-undangan sebagai berikut : PERATURAN No. 5 Tahun 1990 Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai 2. UU No. 82 Tahun 2001 Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Pedoman Pengelolaan Pengaduan Kasus Pencemaran dan/atau 13. UU No. 41 Tahun 1999 Kehutanan 5.1. PP No. PP No. 45 Tahun 2004 Perlindungan Hutan . 40 Tahun 2007 Perseroan Terbatas Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan pada Hutan 9. PP No. UU No. UU No. PP No. 44 Tahun 2004 Perencanaan Kehutanan 15. PP No. PP No. TENTANG PERUNDANGAN 1. 6 Tahun 1999 Produksi 10.

6 Tahun 2007 17. serta Perubahan dalam PP Nomor : 03 Tahun 2008 tentang Perubahan PP No. 32 Tahun 1990 Pengelolaan Kawasan Lindung SK MENLH No. 11 Tahun Jenis Kegiatan/Usaha yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis 25. : 13 Tahun 2007 Dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup . P. 2006 Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Peraturan Daerah Provinsi NTT 26. P.11/Menhut-II/2009 Hutan Kayu pada Pada Hutan Produksi Peraturan MENLH No. 6 Tahun 2007 serta Pemanfaatan Hutan. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi NTT Nomor : 08 Tahun 2003 Peraturan Gubernur NTT Nomor Tata Cara Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi 27. Kep-124 Th 19. P. Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam AMDAL 1997 Keputusan Menteri Kehutanan 20 dan Perkebunan No 435/Kpts. Keppres No. Tata Hutan dan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan 16.11/ Menhut-II/2008 Dalam Hutan Tanaman pada Hutan Produksi.01/ Menhut-II/2004 dalam rangka Social Forestry Peraturan Menteri Kehutanan Tata Cara Permohonan Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu 22 No. Kep-17 Th 18. 08 Tahun Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan 24. Kajian Aspek Sosial dalam AMDAL 1997 SK MENLH No. PP No. Sistem Silvikultur Dalam Pengelolaan Hutan Tanaman Industri II/1997 Peraturan Menteri Kehutanan Pemberdayaan Masyarakat didalam dan atau di sekitar hutan 21 No. 2006 Hidup (AMDAL) Peraturan MENLH No. Peraturan Menteri Kehutanan Sistem Silvikultur Dalam Areal Izin Usaha Pemanfa atan Hasil 23 No.

Setelah itu dilakukan pra-investasi berupa persiapan lokasi dan persiapan lapangan dimana pada kegiatan ini terdiri dari dua kegiatan yaitu pembuatan dan penataan bedeng tabur serta pembuatan dan penataan bedeng sapih. WONO INDO NIAGA telah disahkan oleh Departemen Kehutanan Republik Indonesia pada tanggal 6 Desember 1994. Kedua hal ini yaitu pra-investasi dan investasi telah dilaksanakan oleh HTI PT.1 Lingkup rencana kegiatan yang akan ditelaah dan alternative komponen rencana usaha HTI PT. Perencanaan dalam Studi Kelayakan tersebut meliputi pra-investasi. pembuatan jalan hutan dan menara kebakaran rencana tersebut masuk dalam biaya tetap (investment cost).1 Status Studi AMDAL Studi Amdal HTI PT. BAB II RUANG LINGKUP STUDI 2. Berdasarkan hasil Studi Kelayakan tanaman yang cocok untuk ditanam pada areal HTI PT. WIN hingga tahun 1995. penataan hutan serta perijinan lainnya. Berdasarkan rencana kegiatan yang telah dibuat oleh HTI PT. WONO INDO NIAGA 2. bangunan. Kemudian terdapat pula rencana pemeliharaan dan operasional. investasi persemaian. Sarana transportasi. Adapun studi kelayakan HTI PT. dengan nomor pengesahan 04/IV- PPH/FSHTI/94. WIN adalah Sengon (Paraserianthes falcicataria) dan Gmelina (Gmelina arborea). RKT dan Tatabatas. .2. peralatan dan mesin. WIN adalah pra – investasi dan investasi. dimana pada tahap pra investasi sesuai dengan rencana yang dibuat adalah pembuatan FS (Studi Kelayakan) dan AMDAL kemudian penyusunan RKPHTI penyusunan RKL. WONO INDO NIAGA tidak dilaksanakan secara terintegrasi dan dilakukan setelah adanya studi kelayakan. Rencana usaha yang akan ditelaah ini adalah berdasarkan studi kelayakan yang telah disahkan oleh Departemen Kehutanan.

Adapun kegitan yang perlu ditelaah pada studi AMDAL ini adalah sosialisasi ke masyarakat bahwa HTI PT. penyiapan dan penataan kembali lahan yang dapat ditanami. WONO INDO NIAGA adalah organisasi dalam hal ini Unit Managemen dan tenaga kerja yang tersedia. Penataan Hutan . Untuk menunjang kegiatan di atas maka diperlukan sarana dan prasarana yang akan menunjang keberlangsungan HTI PT. Adalah untuk melanjutkan penanaman diseluruh areal yang telah diberikan oleh Departemen Kehutanan serta akan melakukan penebangan atau pemanenan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setelah kegiatan pengadaan bibit maka diikuti dengan kegiatan pemeliharaan. WIN akan beroperasi kembali. Berdasarkan uraian di atas dimana sebagian rencana telah dilaksanakan oleh HTI PT WIN maka perlu diuraikan disini kegiaran yang akan dilaksakan oleh HTI PT WIN. Penyusunan AMDAL 2. Sarana prasarana tersebut meliputi bangunan. Penyusunan RKT 5. Sedangkan pada kegiatan investasi terdapat kegiatan pembuatan naungan dan pagar yaitu pagar persemaian dan bahan naungan dimana kegiatan tersebut di atas termasuk dalam kegiatan pengadaan bibit. hal ini telah dilaksanakan kemudian kegiatan terhenti. WONO INDO NIAGA. Penyusunan RKU 4. Penyusunan Bagan Kerja 3. Kemudian yang tidak kalah penting dalam kegiatan HTI PT. adapun kegiatan pemeliharaan terdiri dari kegiatan penyulaman. perbaikan infra struktur penunjang serta kajian lainnya yang dibutuhkan guna menunjang terbangunnya pengelolaan hutan yang lestari. peralatan dan mesin serta sarana transportasi seperti jalan hutan dan menara kebakaran. Secara ringkas rencana kegiatan yang akan dilaksanakan saat ini ke depan adalah seperti yang tertera : 1. penyiapan dan pendangiran dan pemberantasan hama dan penyakit serta pemupukan. Tata Batas 6.

Lahan Bermasalah.880 ha. WIN secara geografis adalah 9o27' LS s/d 9o43' dan 119o04'BT s/d 199o44'BT. Berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Sumba Barat Daya.375 Ha yang terpencar (tidak kompak) berada dalam kelompok hutan tanaman yang terletak pada beberapa DAS/Sub DAS yang berbeda. 7. Keputusan Presiden RI no 32 tahun 1990. Aksesibilitas. WIN seluas 6. Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I NTT dan Rencana Umum Tata Ruang Daerah Kabupaten Sumba Barat. Sedangkan berdasarkan pembagian administrasi pemangkuan hutan termasuk Dinas Kehutanan Propinsi Nusa Tenggara Timur. . 163/Kpts-II/1993 tanggal 27 Februari 1993.2. Pengadaan Potret Udara 8. Hal ini sesuai dengan Surat Menteri Kehutana No. Sumba Barat dan Sumba Tengah. Pemeliharan 13.375 Ha dan telah melalui telaahan dari aspek TGHK. Pengadaan Alat 10. Pengadaan Tenaga Kerja 9. dan keperluan lahan untuk sarana/prasarana dihasilkan luas efektif Pembangunan HTI PT. Pemanenan 2. Pembuatan Persemaian 11. dimana areal yang diperuntukkan untuk HTI seluas 13. Propinsi Nusa Tenggara Timur. Penanaman 12. Berdasarkan hasil studi kelayakan maka areal pencadangan HPHTI seluas 13.2 Kesesuaian Lokasi Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan RencanaTtata Ruang setempat Lokasi pembangunan HTI PT.

Sedangkan untuk pembuatan persemaian. demikian pula dengan kegiatan pengadaan tenaga kerja akan berdampak kepada pendapatan masyarakat sekitar hutan sehingga perlu dikaji pengaruh keberadaan HTI PT. adanya pengadaan bangunan tentu akan menyerap tenaga kerja setempat untuk mengerjakan bangunan dan mengoperasikan peralatan yang ada. WIN terhadap pendapatan masyarakat sekitar. sehingga diduga akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Pengadaan bangunan dan peralatan dapat berdampak kepada masyarakat sekitar. 1. WONO INDO NIAGA No Rencana Kegiatan Dampak yang dihasilkan oleh Rencana Kegiatan 1. Pembuatan Persemaian tenaga kerja local Kesuburan tanah dan penutupan lahan dan penyerapan 5. Pemeliharan tenaga kerja local Kesuburan tanah dan penutupan lahan dan penyerapan 7. Penanaman tenaga kerja local Kesuburan tanah dan penutupan lahan dan penyerapan 6.2. oleh karena itu perlu ditelaah pengaruh keberadaan HTI pada penggunaan penyerapan tenaga kerja local.2. Berdasarkan rencana kegiatan diatas yang memiliki dampak adalah kegiatan : Tabel II. Penyerapan tenaga kerja local dan Alat Kesuburan tanah dan penutupan lahan dan penyerapan 4. Rencana Kegiatan Penyebab Dampak HTI PT. Pengadaan Tenaga Kerja Penyerapan tenaga kerja local Pengadaan Bangunan 3. Tata Batas Konflik dengan masyarakat sekitar 2. dapat berdampak kepada lingkungan hidup karena persemaian yang luas dapat menggantikan alang-alang yang telah ada .3 Rencana Kegiatan Penyebab Dampak sesuai dengan Jenis-jenis Rencana kegiatan yang akan dibangun Oleh HTI PT. WIN. Pemanenan tenaga kerja local Kegiatan tatabatas dapat berdampak konflik dengan masyarakat yang berada di sekitar areal HTI PT. WIN.

Kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi adalah kegiatan masyarakat berupa perladangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kegiatan penanaman pada HTI. karena dapat berdampak pada lingkungan sekitarnya. Alternatif-alternatif yang akan dikaji dalam ANDAL Alternatif-alternatif yang mungkin akan dilakukan dalam kajian ANDAL ini adalah jika pada saat tatabatas atau pada saat akan dimulainya kembali kegiatan HTI PT. . WIN dapat berdampak kepada masyarakat sekitarnya. WIN kembali aktif terhadap lingkungan hidup setempat dapat berupa perubahan terhadap lingkungan hidup seperti untuk adanya kegiatan persemaian dan penanaman serta penebangan hutan tanaman yang dapat berakibat kepada fauna yang telah selama 15 tahun berada pada areal tersebut. sehingga terjadi perubahan ekosistem dari padang alang-alang menjadi persemaian sengon dan gmelina. WIN dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi pengadaan tenaga kerja manusia yang akan terlibat dan dari pengaruh penanaman terhadap lahan yang selama ini mungkin merupakan padang alang-alang atau belukar. WIN. Sehingga dengan kembali beroperasinya HTI PT. Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya. sehingga kegiatan ini perlu mendapat perhatian yang cukup. PT.4 Kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. 2.2. a. Perlu dicermati mengenai hama dan penyakit yang dapat muncul dengan adanya persemaian. Dampak yang dapat terjadi apabila HTI PT. Sedangkan kegiatan pemeliharaan dan penanaman dapat ditinjau dampaknya terhapap penyerapan tenaga kerja dan terhadap perubahan lingkungan hidup baik hewan dan tumbuhan yang berada disekitar pembangunan HTI PT. karena bila ditelaah hasil survey yang dilaksanakan oleh LPI maka pada areal tersebut terdapat beberapa areal yang mana telah dirambah oleh masyarakat setempat sehingga perlu dicermati agar dihindari konflik dengan masyarakat dalam hal penggunaan lahan. Kedua pengaruh ini perlu dikaji pengaruhnya baik kepada manusia maupun terhadap perubahan ekosistem.

Letak dan luas areal PT WIN No Nama Kawasan Hutan No RTK Luas Areal Letak DAS / SUB DAS 1. Letak Areal Kerja UPHHK-HTI Tabel II. proses.WIN.2 Lingkup rona lingkungan hidup awal Sehubungan telah beroperasinya HTI PT. desain. 2. 1. Galukare 59 1200 Polapare 7. Sehingga pada studi AMDAL. Kombaka 64 377 Lambatama 5. tata letak bangunan atau sarana pendukung. Alternatif-alternatif yang dikaji dalam AMDAL dapat merupakan alternatif-alternatif yang telah direncanakan sejak semula atau yang dihasilkan nselama proses kajian AMDAL berlangsung. Katikutana 5 2300 Wonokaka 8. Kajian AMDAL merupakan studi kelayakan dari aspek lingkungan hidup. maka komponen rencana usaha dan/atau kegiatan harus memiliki beberapa alternatif. Kerangka Acuan ini perlu dilalukan sosialisasi yang benar agar pada saat kegiatan dilakukan tidak lagi medapat kendala dari masyarakat sekitar dan sesuai dengan perencanaan awal dari HTI PT. antara lain alternatif lokasi. Rokoraka 45 750 Bondokodi 2. WIN dan mengalami kevakuman beberapa saat sehingga rona awal yang digunakan adalah keadaan saat Kerangka Acuan ini dibuat. Praimahala 60 2700 Palamedo 13375 . Watumbolo 65 248 Polapare 3. Polapare Cako 27 3300 Polapare 6. WIN terjadi konflik dengan masyarakat setempat sehingga perlu dicarikan alternative lahan yang baru agar kegiatan-kegiatan HTI dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Matakapore 63 2500 Lambatama 4. 2.

0-8% Datar 1155 132 0 0 225 0 0 1035 2547 2.000. Letak areal kerja yang sesuai dengan kecamatannya akan dilengkapi pada saat berkunjung ke lapangan. Tabel II. agak curam (16-25%). Topografi Areal HTI PT. WONO INDO NIAGA terletak pada areal yang tersebar dan juga terdiri dari kelerengan-kelerengan areal yang berbeda-beda pula. Tanah Berdasarkan Peta Geologi Propinsi NTT skala 1 : 500. Kelerengan Bentuk Lahan Jumlah Pola Galu Mata Komp Rok Watu Prai Kati 1. sedangkan alluvium undak dan terumbu koral berupa endapan batu gamping terumbu dengan sisipan kerikil dan pasiryang tersingkap pada daerah datar sampai bergelombang. Kondisi Topografi dan Bentuk Lahan Areal HTI PT.000 dan Peta Land System skala 1 : 250. 3. Neogen adalah sedimen batuan vulkanik berupa tufa sebagai hasil erupsi gunung berapi dan basal. >45% Sangat Curam 990 0 1275 0 0 149 135 0 2549 3300 1200 2500 377 750 248 2700 2300 13375 3. WIN Luas (HA) No. 16-25% Agak Curam 495 495 475 282 525 0 0 0 2845 4. Beberapa terletak pada kelas lereng datar (0-8%). WIN terdiri dari alluvium undak dan terumbu koral terutama pada daerah datar dekat pantai dan neogen pada bagian sebelah dalam pulau daerah berbukit. curam (25-40%) dan sangat curam seperti yang tertera pada table berikut ini. 9-15% Landai 660 660 750 95 0 99 540 0 2144 3. . 26-40% Curam 0 0 0 0 0 0 2025 1265 3290 5. 2. landai (9-15%). serta tinjauan survey lapangan dapat diketahui bahwa geologi areal HTI PT.

Watumbolo 65 248 Neogen (89%) batu gamping +koral +marl (11%) Tuff+batu pasir+konglomerat 3. Kombaka 64 377 Neogen batu gamping 25% Neogen. Formasi geologi seperti yang tertera pada Tabel berikut ini : Tabel II.batu pasir. WIN adalah batu gamping. Matakapore 63 2500 Neogen (72%) batu gamping (28%) Batu gamping+koral+marl (75%) 4.4. alluvium 1. WIN seperti yang tertera pada Tabel II adalah sebagai berikut . WIN Nama No Luas No Kawasan Formasi Geologi Jenis Batuan RTK Areal Hutan Neogen. Rokoraka 45 750 Batu gamping 70% undak. Katikutana 5 2300 Neogen atau endapan bahan kipas (87 %) Alluvium sungai muda+alluvium 8. Praimahala 60 2700 endapan bahan kipas +alluvium lempung tua (13%) 4. terumbu koral Tuff + batu pasir + konglomerat 2. Formasi geologi dan Jenis Batuan pada Areal HTI PT. koral. marl. terumbu Koral 52% tuff+batu 5. Sistem Lahan Sistem lahan pada areal HTI PT. Sedangkan batuan yang terdapat pada areal HTI PT. . Galukare 59 1200 Neogen tuff+batu pasir+konglomerat (7%) Batu gamping+marl+alluvium 7. Polapare Cako 27 3300 koral pasir+konglomerat (7%) Batu gamping+koral (93%) 6. konglomerat dan alluvium.

. 1062 Harminding 5 Rada Toko RTK 660 . . . . . 1509 6 Wai Terang WTG 165 . . 1326 Dagosoli Gn 4 GHG 990 72 . 540 12 Lepenbusu LBU . . .5. . . . . . . 1162 9 Lambata LBM . . 540 . . 2025 11 Danundera DDA . . . . . . . . . 1035 1035 14 Sarwatu SWU . . 1589 2 Luanda LUA 990 132 . 1275 . . . . . 2025 . . . 95 . 120 8 Lengkiri LGK . . 135 . 99 . . . . . 225 . . . WONO INDO NIAGA Luas (Ha) No Sistem Lahan Jumlah Pola Galu Mata Komb Roko Watu Prai Kati 1 Tiringan TRN 165 . . . . . . 1265 1265 3300 1200 2500 377 750 248 2700 2300 13375 . 750 . . . . . . 120 . 120 . 165 7 Sansapor SSR . . . . 1347 Air 3 ADS 330 876 . . . 95 10 Lelang LLG . . 475 162 525 . . . . Sistem Lahan pada Areal HTI PT. . 135 13 Ayatu AYT . Tabel II. . 149 . . .

WONO INDO NIAGA adalah seperti yang tertera pada Tabel II. Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat pada lokasi HTI PT. . Kesuburan Tanah Kesuburan tanah di areal HTI PT. WIN dapat dilihat dari kandungan fisik kimia tanah sebagaimana tercantum pada Tabel II. WONO INDO NIAGA Nama Luas No Klasifikasi Jenis Tanah Kawasan Areal 1 Rokoraka 750 rendzinas latosol rendzinas 2 Watumbolo 248 brunizem trobosol podsolik rendzinas podsolik 3 Matakapore 2500 brunizem trobosol podsolik rendzinas rendzinas podsolik 4 Kombaka 337 rendzinas podsolik rendzinas rendzinas latosol Rendzinas latosol brunizem podsol rendzinas podsolik brunizem 5 Polapare 3300 Rendzinas podsolik alluvial brunizem podsolik lateritik brunizem 6 Galukare 1200 Rendzinas podsolik brunizem rendzinas latosol brunizem podsol 7 Kattikutana 2300 Rendzinas podsolik brunizem podsolik brunizem brunizem 8 Praimahala 2700 latosol brunizem rendzinas latosol brunizem 6. 5.6.7. Jenis Tanah di Areal HTI PT.6. Tabel II.

0. 0. 0. 0. 16. 7. 0. N.3 R duslts 60 16 81 5 14 02 18 22 27 3 18 TBH Dystro 5.5 0.4 0. 0. 4. 9. 1. 1. 4. 6. 1. 17. 18. 0. 18. . 12.56 .06 . 26. 2 16. 0.84 . 0. 3 0. 16. R hemist 61 0 76 16 04 49 95 50 TWH 24 Dystro 4. 21. 3.9 R duslts 30 51 59 13 29 21 71 51 6 8 Tropo 4.7 R 2-8% pet 70 21 81 7 21 69 18 26 39 1 0 16 Haplo 5.2 R pet 70 09 22 5 10 04 26 18 83 25% 2 18 Haplo 4.09 .06 . N. 0. 7. 1. 0. 0. 0.2 0.8 0. 49. 10. 1.7.8 1 2.3 . 18. 4. 0. 15. 33. 26 4 2. P p N M KT K Key orga tot rat terse K Ca R H a g K B al nik al io dia 17 LWW Dystro 5. 0. 0. 26.1 0. 0.5 0. 14.19 .3 R duslts 80 21 65 5 10 04 44 49 81 5 PDH Dystro 5. 0. 0. 0. 0. 2. 41. 9.01 R >60% pet 00 11 27 8 19 37 35 23 12 . 0. 4. 6. 13. 0.5 R >60% pet 00 23 87 5 24 68 42 43 12 7 12 Haplo 4. 3. WONO INDO NIAGA Komp No Land Status onen SIFAT TANAH SP form Kesuburan Tanah C.04 . 6. 6.9 0.81 3. 0.4 0. Tabel II. Sifat Kimia Tanah dari beberapa Titik Pengamatan di Areal HTI PT.

14.6 0. Di Areal HTI PT.7 R duslts 90 28 18 5 80 46 81 41 66 1 7. 1. Curah Hujan Faktor iklim paling dominan adalah curah hujan yaitu rata-rata hujan tahunan dan jumlah bulan kering serta jumlah bulan basah.daerah dekat pantai kelompok hutan Rokoraka. Curah hujan di Pulau Sumba dipengaruhi angin timur yang kering yang berhembus dari Australia.8. Tabel II. 0. Sedangkan curah hujan pada kelompok hutan Matakapore.Katikutana dan Praimahala sekitar 1500-2000 mm/tahun. WIN terutama daerah sekitar Waikabubak termasuk kelompok hutan Watumbolo kedalaman curah hujan rata-ratanya mencapai lebih dari 4000 mm/tahun.49 . 0. Iklim a. 8 18 Haplo 4. 1. 6. 12. Kombaka. Data Curah Hujan untuk Tiap Kecamatan di Sekitar HTI PT. WIN Kawasan No Rata-Rata Kisaran Tahunan Suhu Klasifikasi No Luas Hutan RTK Curah Hujam (oC) Iklim BB BK SF Kopem 1 Rokoraka 45 750 3-4 8-9 500-1000 22-21 F Aw 2 Watumbolo 65 248 7-8 3-4 4000-4500 20-27 C An 3 Matakapore 63 2500 4-5 6-7 1000-1500 21-31 E Aw 4 Kombaka 64 377 4-5 6-7 1000-1500 21-31 E Aw 5 Polapare 27 3300 4-5 6-7 1000-1500 21-31 E Aw .Polapare Cako dan Galukare hujannya kurang sekitar 500-1000 mm/tahun. 7.

tercantum pada Tabel II 9. Kelembaban udara Kelembaban udara memiliki pola yang hamper sama dengan suhu. tipe iklim di areal lokasi HTI PT WIN adalah sebagai berikut : 1. Kelembaban dan Arah/Kecepatan Angin di Kabupaten Sumba Barat. Tabel II. berikut ini.2 87 W/3 . Gambaran kondisi kelembaban udara.Matakapore 4.9 1006. Temperatur Tekanan Udara Kelembaban Arah/Kecepatan Angin No Bulan o ( C) (mb) (%) (knot) 1 Januari 26. di mana fluktuasi kelembaban bulanan minimum 67% (terjadi pada bulan Juli) dan maksimum 90% (terjadi di bulan Februari). Iklim tipe F (sangat kering) Q= 167-300% Rokoraka c.9. Iklim tipe E (kering) Q= 100-167% Polapare. 6 Galukare 59 1200 4-5 6-7 1000-1500 21-31 E Aw 7 Katikutana 50 2300 6-7 5-6 1500-2000 21-31 D Aw 8 Praimahala 60 2700 5-6 6-7 1000-1500 21-31 E Aw b. Iklim tipe D (semi kering) Q= 60-100% Katikutana dan sebagian Praimahala 3.2 90 N/3 3 Maret 26. Galukare. Tekanan Udara. Faktor iklim lainnya Berdasarkan klasifikasi Smidt dan Ferguson. Iklim tipe C (sedang) Q= 30-60% Watumbolo 2.7 88 N/4 2 Februari 26.8 1007. Kondisi Rata-rata Temperatur Udara.6 1006.

pelabuhan udara dan laut.4 April 27. Seluruh areal lokasi HTI dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dan roda dua sepanjang tahun.4 68 E/7 10 Oktober 28. Aksesibilitas Letak strategis sreal HTI terutama ditentukan oleh jarak dan prasarana pengangkutan areal tersebut terhadap pusat-pusat ekonomi yaitu pusat pemukiman. Sedangkan pusat ekonomi lainnya yang berkaitan dengan HTI PT.3 1007.5 80 E/6 6 Juni 26.0 1010. Untuk mencapai Waikabubak dapat ditempuh dari Bandar udara Tambolaka dari Denpasar.8 67 E/9 8 Agustus 26.7 73 E/9 7 Juli 26. Bima atau Kupang atau melalui Bandar udara Mau Hau (Waingapu) melalui Kupang dan Denpasar yang dilanjutkan dengan perjalanan darat + 4 jam dengan jarak 120 km.4 1008.5 78 W/5 8.7 1009. WIN adalah Bandar udara Mau Hau di Waingapu Sumba Timur. Seluruh areal dapat ditempuh dari Waikabubak melalui jalan darat. WIN adalah Tambolaka dengan pelabuhan laut Waikelo.4 1006. dan bandar udara yang paling dekat untuk aksesubilitas ke HTI PT.2 1010.7 1005. .7 1010.6 69 E/7 9 September 26.6 82 W/4 12 Desember 27. sehingga hal ini penting dalam pengusahaan dan pelaksanaan HTI.0 1010.2 78 W/6 11 November 28. Sungai-sungai besar seperti sungai Bondokodi dan Polapare dapat diseberangi melalui jembatan permanen.2 87 W/2 5 Mei 25. Kota Waikabubak yang merupakan pusat ekonomi.

. RTK 65 (Watumbolo Wewewa Timur dan Loli 28 5 2 RTK 45 (Roko Raka) Kodi 23 7 RTK 63 Wewewa Selatan dan Kodi 3. Kependudukan Jumlah Penduduk menurut kecamatan serta banyaknya rumah tangga dan kepadatan penduduk sekitar areal HTI PT. Walokaka dan Kodi 34 9 Cako) 6. 21 8 (Matakapore) Bangedo 4. WIN terletak pada 7 kecamatan seterti yang tertera pada Tabel berikut ini. WIN. Areal HTI PT. RTK 59 (Galukare) Walakaka 11 4 7. RTK 64 (Cambaka) Wewewa Selatan 8 4 RTK 27 (Polapare 5. RTK 5 (KAtikutana) Katikutana 23 7 171 49 b. Tabel II. Administrasi Wilayah Sehubungan dengan pemekaran wilayah Kabupaten Sumba Barat maka data terbaru akan di sajikan setelah TIM kembali dari lapangan. Berdararkan data tahun 2000. HTI PT. WIN Berdasarkan Kecamatan Jumlah Jumlah Desa Disekitar No Areal Konsesi Kecamatan Desa Areal 1. RTK 60 (Praimahala) Katikutana 23 5 8. Aspek Sosial Budaya a. Data yang digunakan saat ini adalah data yang diambil pada tahun 2000 dimana belum terjadi pemekaran wilayah. 9.10.

789 117 7 Katikutana 719. Tabel II.582 25.87 10.024 44.664 34.170 94 Data jumlah penduduk menurut golangan umur di kabupaten Sumba Barat menunjukan golongan umur 10-14 sebesar 49.14 7.Rincian data kependudukan tercantum pada tabel II.422 7.272 21.105 6 25-29 11.553 jiwa.424 10.190 153 6 Kodi Bangedo 219.424 3 10-14 26.636 14.658 207.845 8.WIN Laki- Luas Rumah Perempuan No Kecamatan laki Jumlah Kepadatan (Km2) Tangga (jiwa) (jiwa) 1 Kodi 354.22 5. Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur Dan Jenis Kelamin di Kabupaten Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur No Golongan Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah 1 0-4 23.11.029 10.678 4 15-19 18.075 168 2 Walakaka 266 5.833 5 20-24 15.297 23.877 22.667 40 JUMLAH 2216.967 8.487 48.55 7.122 25.381 49. Data Penduduk Menurut Kecamatan di Areal HTI PT.39 43.222 16.69 4.169 16.207 12.sedangkan golongan umur terkecilnya pada golongan umur 55-59 dengan jumlah 7.018 177 5 Loli 13.709 2 5-9 26. berikut ini: Tabel II-12.320 3.814 28.041 28.738 23.632 102.291 12.937 21.832 46.987 104.533 66 Wewewa 3 174.678 jiwa merupakan golongan umur terbesar.161 20.422 14.148 12.789 16.718 11.953 12.332 13.456 .564 8.994 22.12.786 96 Selatan 4 Wewewa Timur 249.

kuda.pinang dan kemiri.164 4.sistem pemeliharaan ternak besar oleh masyarakat di bagian barat .087 7.683 21.641 9 40-44 8.usaha tani tanaman keras dilaksanakan dan peternakan .703 14.381 10.kopi.kerbau.baik lahan sawah maupun lahan kering.251 12 55-59 3.677 168.Wono Inhutani Niaga sebagian besar masih mengandalkan pertanian sebagai sumber mata pencaharian utama.790 JUMLAH 182.Usaha tani tanaman keras dilaksanakan secara menetap dilahan pekarangan masyarakat dan di dalam kawasan hutan jenis-jenis ternak umumnya ternak besar(seperti sapi.163 17. dan babi)dan ternak kecil seperti kambing serta unggas-unggasan.Sedangkan tanaman keras yang dikembangkan adalah jambu mete.juga ubu-umbian seperti ubi kayu dan kacang- kacangan.004 10 45-49 6.Luas lahan yang dimiliki oleh masyarakat rata-rata 3-5 ha/kk.54%.389 7.420 11 50-54 6. Sistem usaha tani yang dilaksanakan dapat dibedakan menjadi usaha tani tanaman pangan semusim.619 4.yakni sebesar 84.coklat.729 4.baik untuk pertanian tanaman pangan semusim maupun untuk peternakan. kelapa.Jenis tanaman pangan yang diusahakan pada umumnya sama yaitu padi ladang dan jagung.528 23.958 10. Sistem pertanian yang diterapkan adalah system pertanian ekstensif.553 13 60-64 5. 7 30-34 11.037 12.539 c.110 14 >65+ 7.841 8.Sedangkan mata pencaharian tambahan antara lain sumber dari berburu hewan di hutan dan mencari ikan serta berdagang.862 351.565 8 35-39 10.953 7. Penduduk Menurut Mata Pencaharian Penduduk di sekitar areal PT.632 11.467 14.Lahan-lahan tersebut ada yang diluar kawasan hutan dan adapula yang berada dalam kawasan hutan Negara.

WIN akan ditelaah berdasarkan rona lingkungan saat ini kemudian diidentifikasi dampak apa yang . Proses Pelingkupan Proses pelingkupan data dilakukan dengan mencari informasi dari pemrakarsa. proses pelingkupan terdiri dari identifikasi dampak. evaluasi dampak dan klasifikasi dan prioritas yang harus diutamakan dalammenyusun KA ANDAL HTI PT WIN. Sesuai dengan bagan diatas bahwa deskripsi rencana kegiatan HTI PT. kemudian mengelompokkan dampak potensial tersebut ke dalam urutan dampak apakah dampak primer dampak sekunder dan dampak tersier dan seterusnya. sapi dan kerbau. maka perlu dikaji lebih mendalam dan mendetail dari segi rencana kegiatan dengan pemrakarsa serta melalukan survey kepada masyarakat agar dampak terhadap masyarakat dapat disosialisasikan sedini mungkin dan diperkirakan dan dikaji dengan lebih seksama. masyarakat sekitar areal dan instansi yang bersangkutan.Sedangkan untuk di bagian timur kabupaten. Karena proses pelinglupan diawali dengan harus teridentifikasikannya dengan jelas komponen rencana usaha dan diintegrasikannya komponen rencana usaha dengan komponen yang terkena dampak. kabupaten sumba Barat umumnya dilakukan melalui penggembalaan.dimana hewan- hewan tersebut di lepas di padang rumput tetapi dijaga atau diikat dengan tali.system pemeliharaan ternak dengan cara melepas (tanpa pengawasan)di padang rumput khususnya untuk ternak besar seperti kuda. 2. Proses pelingkupan tidak terlepas dari ketentuan yang berlaku dimana rencana kegiatan HTI disesuaikan dengan peraturan yang berlaku yaitu sesuai degan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan dan juga dengan mempertimbangkan Undang-undang RI no 41 tahun 1999 bahwa pada pasal 70 berbunyi masyarakat turut berperan serta dalam pembangunan di bidang Kehutanan dalam proses pelingkupan ini masyarakat turut serta dalam mengidentifikasi dampak yang akan terjadi.3 Pelingkupan a.

Penyusunan RKT . Pengadaan Alat Fisik kimia dan biologi berat untuk eksploitasi hutan Perubahan penutupan vegetasi. . Penyusunan RKU . 2. Perijinan untuk pemrakarsa 5. perubahan Pembuatan Fisik kimia dan biologi 10. Penataan Hutan Sosial ekonomi masyarakat Soaial. kimia. WONO INDO NIAGA dihubungkan dengan Rona Lingkungan. .13. - Udara Pengadaan Tenaga Konflik di masyarakat untuk memperoleh 8. Tata Batas Soaial Konflik dengan masyarakat sekitar hutan Fisik. penutupan lahan dan hama dan penyakit Persemaian Sosial Ekonomi Budaya tanaman . Berdasarkan bagan alir tersebut maka dapat identifikasikan seperti pada table berikut ini : Tabel II. Pengadaan Potret 7. AMDAL Mayarakat Sekitar HTI terhadap lingkungan di sekitarnya. Deskripsi No Rona Lingkungan Identifikasi Dampak Rencana Kegiatan Penyusunan Sosial Ekonomi terutama Terlibat dan mengetahui rencana perubahan 1. Sosial masyarakat Kerja kesempatan kerja Perubahan vegetasi dengan adanya alat-alat 9. Perijinan untuk pemrakarsa Kerja 4. Biologi 6. akan berpotendial terjadi bila rencana tersebut dilaksanakan. Bagan Identifikasi Dampak Rencana Kegiatan HTI PT. Perijinan untuk pemrakarsa Penyusunan Bagan 3.

akan dilaksanakan pada saat kunjungan kelapangan (Observasi) sehingga diperoleh identifikasi dampak yang lebih menyeluruh. perubahan Fisik kimia dan biologi. Pemeliharan penutupan lahan dan hama dan penyakit Sosial Ekonomi Budaya tanaman Perubahan penutupan vegetasi. Perubahan penutupan vegetasi. 12. Pemanenan penutupan lahan dan hama dan penyakit Sosial Ekonomi Budaya tanaman Identifikasi dampak ini berdasarkan telaah pustaka. Penanaman penutupan lahan dan hama dan penyakit Sosial Ekonomi Budaya tanaman Perubahan penutupan vegetasi. 13. sedangkan identifikasi dampak selengkapnya dengan mengikut sertakan diskusi masyarakat. perubahan Fisik kimia dan biologi 11. interaksi kelompok diskusi dengan para pakar dan instasi yang bertanggung jawab. perubahan Fisik kimia dan biologi. .