You are on page 1of 28

LAPORAN PENDAHULUAN

I. KONSEP MEDIS

A. PENGERTIAN
Tifus abdominalis merupakan penyakit infeksi yang terjadi
pada usus halus yang disebabkan oleh Salmonella thypii, yang
ditularkan melalui makanan, mulut atau minuman yang
terkontaminasi oleh kuman Salmonella thypii (Hidayat, 2006).
Menurut Nursalam et al. (2008), demam tipoid adalah
penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan
dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pada
pencernaan dan gangguan kesadaran.
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang
disebabkan oleh kuman Salmonella thypii ( Arief Mansjoer, 2000).
Febris typhoid adalah merupakan salah satu penyakit infeksi
akut usus halus yang menyerang saluran pencernaan disebabkan
oleh kuman salmonella typhi dari terkontaminasinya air / makanan
yang biasa menyebabkan enteritis akut disertai gangguan
kesadaran (Suriadi dan Yuliani, R., 2001).
Demam typhoid adalah penyakit sistemik akut akibat
infeksi salmonella typhi yang ditandai dengan malaise (Corwin,
2000).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan sebagai
berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang
disebabkan oleh Salmonella thypii dengan gejala demam yang
lebih dari 1 minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan
kesadaran yang ditularkan melalui makanan, mulut atau minuman
yang terkontaminasi oleh kuman Salmonella thypii.

B. ANATOMI FISIOLOGI

Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut),
faring (tekak), esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung),

intestinum minor (usus halus), intestinum mayor (usus besar ),
rektum dan anus. Pada kasus demam tifoid, salmonella typi
berkembang biak di usus halus (intestinum minor). Intestinum
minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang
berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya
 6 cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses
pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari :
lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan
otot melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus
longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).

Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum
dan ileum. Duodenum disebut juga usus dua belas jari,
panjangnya  25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri
pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dari bagian kanan
duodenum ini terdapat selapu t lendir yang membukit yang
disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran
empedu (duktus koledikus) dan saluran pankreas (duktus
wirsung/duktus pankreatikus). Dinding duodenum ini
mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar,
kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk
memproduksi getah intestinum.

Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar  6
meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum dengan
panjang  23 meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 m.
Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen
posterior dengan perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk
kipas dikenal sebagai mesenterium.

Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya
cabang-cabang arteri dan vena mesenterika superior, pembuluh

limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang membentuk mesenterium. Disana-sini terdapat beberapa nodula jaringan limfe. Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeyenum. Permukaan epitel yang sangata luas melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Mukosa usus halus. yang disebut kelenjar soliter. Absorbsi. Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yag menghasilkan bermacam-macam hormon jaringan dan enzim yang memegang peranan aktif dalam pencernaan. 2000). termasuk banyak leukosit. Absorbsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung dalam usus halus melalui dua saluran. . ( Evelyn C. Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat peradangan pada demam usus (tifoid). Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum. Sel-sel Peyer’s adalah sel-sel dari jaringan limfe dalam membran mukosa. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan dapat berisis 20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa sentimeter. Di dalam ilium terdapat kelompok-kelompok nodula itu. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas. Pearce.

a. Sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosakarida C. ETIOLOGI Penyebab typhoid adalah Salmonella thypii. Karbohidrat diserap dalam betuk monosakarida. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus . mengaktifkan enzim proteolitik. Laktase mengubah laktase menjadi monosakarida. yaitu pembuluh kapiler dalam darah dan saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus. Eripsin menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino. b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino. 2. Karena vili keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang di absorbsi ke dalam lakteal kemudian berjalan melalui pembuluh limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta dibawa ke hati untuk mengalami beberapa perubahan. B dan C. b. Fungsi usus halus a. Ada dua sumber penularan Salmonella thypii yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. 1. c. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran – saluran limfe. Enterokinase. Salmonella para typhi A. pembuluh darah epitelium dan jaringan otot yang diikat bersama jaringan limfoid seluruhnya diliputi membran dasar dan ditutupi oleh epitelium. Maltosa mengubah maltosa menjadi monosakarida 3. Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan. Sebuah vili berisis lakteal.

kuman selanjutnya masuk limpa. Sebagian besar pasien yang dirawat dibagian Ilmu Kesehatan Klien FKUI-RSCM Jakarta berumur diatas 5 tahun (Ngastiyah 2005). tidak berspora. Di dalam jaringan limfoid ini kuman berkembang biak. mengekresi Salmonella thypii dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun. Pasien klien yang ditemukan berumur di atas satu tahun. lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman Salmonella thypii kepada orang lain. Fomitus (muntah). PATOFISIOLOGI Penularan Salmonella thypii dapat ditularkan melalui berbagai cara. Salmonella thyposa masuk melaui saluran pencernaan kemudian masuk ke lambung. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat. usus halus dan kandung empedu ke organ terutama hati dan limpa serta berkembangbiak sehingga organ-organ tersebut membesar (Ngastiyah 2005). Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia. Salmonella Thyposa merupakan basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar. sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. dan melalui feses. Fingers (jari tangan/kuku). thypoid terdapat dalam keadaan endemik. Basil akan masuk ke dalam lambung. Di Indonesia. Fly (lalat). . D. dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman Salmonella thypii masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan).

Pada minggu pertama sakit. nafsu makan menurun. E.  Minggu III : dalam minggu III suhu badan berangsur- angsur dan normal kembali pada akhir minggu III. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plak pyeri (Suriadi 2006). lidah kotor. F. KOMPLIKASI 1. pusing. nyeri kepala.  Minggu IV : suhu kembali normal proses penyakit bisa sembuh atau tidak sembuh malah sampai terjadi perforasi. bradikardia relatif. Komplikasi ekstra intestinal a) Komplikasi kardiovaskuler Kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis). mual. trombosis dan tromboflebitis. ggn kesadaran). Semula klien merasa demam akibat endotoksin. hepatomegali. miokarditis. terjadi hyperplasia plaks payers. MANIFESTASI KLINIK  Minggu I : infeksi akut (demam. sedangkan gejala pada saluran pencernaan di sebabkan oleh kelainan pada usus halus. b) Komplikasi darah . Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. nyeri otot. Kompilikasi intestinal a) Perdarahan usus b) Perforasi usus c) Ileus paralitik 2. diare)  Minggu II : Gejala lebih jelas (demam.

trombositopenia. f) Komplikasi tulang Osteomielitis. 2) Pemeriksaan SGOT DAN SGPT . empiema. yang terdiri dari: 1) Pemeriksaan leukosit Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. pielonefretis dan perinefretis. G. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid. jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. e) Komplikasi ginjal Glomerulonefritis. sindrom Guillain Barre. Anemia hemolitik. psikosis dan sindrom katatonia. menengitis. Pada kebanyakan kasus demam typhoid. polineuritis perifer. meningismus. periostitis. d) Komplikasi hepar dan kandung empedu Hepatitis dan kolesistitis. dan pleuritis. disseminated intravascular coaguilation (DIC) dan sindrom uremia hemolitik. spondilitis dan artritis g) Komplikasi neuropsikiatrik Delirium. c) Komplikasi paru Pneumonia. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Menurut Suryadi (2006) pemeriksaan pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium.

Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit Biakan darah terhadap Salmonella thypii terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Teknik pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor: a. Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali. d. antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif. Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien. SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid. hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung. c. 3) Biakan darah Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid. Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella thypii terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Pengobatan dengan obat anti mikroba. b. 4) Uji Widal Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikan .

Aglutinin Vi. yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman) Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. dan hasil dapat diperoleh lebih cepat. H. Pemeriksaan ini lebih spesifik. Keunggulan lain hanya dibutuhkan sampel darah sedikit. yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman). lebih sensitif. PENATALAKSANAAN Pasien yang di rawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan di berikan perawatan sebagai berikut: . dan lebih praktis untuk deteksi dini infeksi akibat kuman Salmonella thypii. makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid. Aglutinin H. 5) Pemeriksaan Tubox Pemeriksaan yang dapat dijadikan alternatif untuk mendeteksi penyakit demam tifoid lebih dini adalah mendeteksi antigen spesifik dari kuman Salmonella (lipopolisakarida O9) melalui pemeriksaan IgM Anti Salmonella (Tubex TF). karena antibody IgM muncul pada hari ke 3 terjadinya demam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan ini mempunyai sensitivitas yang tinggi terhadap kuman Salmonella (lebih dari 95%). dan diolah di laboratorium. Keunggulan pemeriksaan Tubox TF antara lain bisa mendeteksi secara dini infeksi akut akibat Salmonella thypii. klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu : a. c. Akibat infeksi oleh Salmonella thypii. Aglutinin O. yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman). b.

Diberikan sebagai pilihan utama untuk mengobati demam thypoid di Indonesia. Dapat juga diberikan Tiampenikol. Diet o Makanan mengandung cukup cairan. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi tersebut mempersingkat waktu perawatan dan mencegah relaps. yaitu 100mg/kgBB/hari (maksimum) 2 gram/hari. kalori dan tinggi protein o Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat. Amoxilin dan ampicillin disesuaikan dengan keluhan klien. terapi disesuaikan dengan penyakitnya. 3. o Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari. Obat-obatan Obat-obat yang dapat di berikan pada klien dengan thypoid yaitu : o Klorampenikol dengan dosis tinggi. Kloramfenikol digunakan untuk memusnahkan dan menghentikan penyebaran kuman. Perawatan o Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam hilang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus. Kotrimoxazol. Bila terjadi dehidrasi dan asidosis diberikan cairan intravena. sesuai dengan pulihnya kondisi bila ada komplikasi perdarahan. o Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas. diberikan peroral atau intravena. o Bila terdapat komplikasi. 2. 1. . dapat diberikan susu 2 gelas sehari o Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring. Efek negatifnya adalah mungkin pembentulan zat anti berkurang karena basil terlalu cepat di musnahkan. tidak merangsang kerja usus dan tidak mengandung gas. o Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

hindari minum air mentah.Identifikasi dan eradikasi Salmonella thypii baik pada kasus demam thypoid maupun pada kasus carrier thypoid. . Pencegahan transmisi langsung dari pasien terinfeksi Salmonella thypii akut maupun carrier.I. rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas karena akan memperberat kerja usus dan pemberian vaksin. . Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan. PENCEGAHAN Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (2006). ada 3 strategi pokok untuk memutuskan transmisi thypoid yaitu: . hindari minum susu mentah (yang belum dipasteurisasi). . Proteksi pada orang yang beresiko terinfeksi.

status perkawinan. palaksanaan dan evaluasi. jenis kelamin. umur. tanggal masuk rumah sakit. Proses keperawatan ini merupakan suatu proses pemecahan masalah yang sistimatik dalam memberikan pelayanan keperawatan serta dapat menghasilkan rencana keperawatan yang menerangkan kebutuhan setiap klien seperti yang tersebut diatas yaitu melalui empat tahapan keperawatan. 4) Riwayat penyakit dahulu Apakah sebelumnya pernah sakit demam tifoid. diare serta penurunan kesadaran. alamat.II. pusing kepala. nomor register dan diagnosa medik. Pengumpulan data 1.. Pengkajian a. pekerjaan. mual. agama. . KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan asuhan keperawatan yang mempunyai empat tahapan yaitu pengkajian. 3) Riwayat penyakit sekarang Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke dalam tubuh. (Proses keperawatan : 9 & 12) 1.) Identitas klien Meliputi nama. muntah. anoreksia. perencanaan. 2) Keluhan utama Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak turun-turun. suku/bangsa. nyeri perut.

Klien dengan demam tifoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus. Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring lama.5) Riwayat penyakit keluarga Apakah keluarga pernah menderita hipertensi. c) Pola aktivitas dan latihan Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total. Gangguan dalam beribadat karena klien tirah baring total dan lemah. agar tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu. diabetes melitus. b) Pola eliminasi Eliminasi alvi. . hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. sehingga dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh. 6) Riwayat psikososial dan spiritual Biasanya klien cemas. 7) Pola-pola fungsi kesehatan a) Pola nutrisi dan metabolisme Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali. bagaimana koping mekanisme yang digunakan. d) Pola tidur dan istirahat Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan.

bradikardi relatif. anoreksia. nyeri perut. peristaltik usus meningkat. h) Sistem abdomen Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta nyeri tekan pada abdomen. c) Sistem respirasi Pernafasan rata-rata ada peningkatan. muka kemerahan. g) Sistem muskuloskeletal Klien lemah. e) Sistem integumen Kulit kering. muntah. turgor kullit menurun. terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan. lidah kotor (khas). dan konstipasi. hemoglobin rendah.8) Pemeriksaan fisik a) Keadaan umum Didapatkan klien tampak lemah. rambut agak kusam f) Sistem gastrointestinal Bibir kering pecah-pecah. mual. nafas cepat dan dalam dengan gambaran seperti bronchitis. d) Sistem kardiovaskuler Terjadi penurunan tekanan darah. b) Tingkat kesadaran Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis). muka tampak pucat. mukosa mulut kering. suhu tubuh meningkat 38 – 410 C. perut terasa tidak enak. Pada perkusi didapatkan perut .

diare. atau output yang berlebihan akibat diare. panas tubuh 3. Perubahan pola defeksi : konstipasi b/d proses peradangan pada dinding usus halus. Hipertemia b/d proses infeksi salmonella thyposa 2. a. muntah/pengeluaran yang berlebihan. Gangguan pola defeksi : diare b/d proses peradangan pada dinding usus halus 5. 1990). Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian data. kembung serta pada auskultasi peristaltik usus meningkat. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake kurang akibat mual. 4. 1. (Lismidar. . Demam menggambarkan tentang masalah kesehatan yang nyata atau potensial dan pemecahannya membutuhkan tindakan keperawatan sebagai masalah klien yang dapat ditanggulangi. anoreksia. muntah. Resiko defisit volume cairan b/d pemasukan yang kurang. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang jelas tentang masalah kesehatan klien yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan. mual. Dari analisa data yang diperoleh maka diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus demam tifoid dengan masalah peningkatan suhu tubuh adalah sebagai berikut.

Monitor intake dan output Faktor faktor yang 8. Nadi dan RR 3.ketidakmampuan/p 10. Monitor IWL diatas rentang normal 2.terpapar 12.dehidrasi dokter . Kolaborasi berhubungan : pemberian anti . nadi dan diatas rentang normal perubahan RR  serangan atau warna kulit dan 5. 6. Selimuti enurunan pasien kemampuan untuk 11. Monitor 1. Suhu suhu sesering tubuh dalam mungkin Definisi : suhu tubuh naik rentang normal 2. Monitor WBC. Monitor konvulsi (kejang) tidak ada penurunan  kulit kemerahan pusing.pakaian yang tidak mengenai . Monitor tekanan  kenaikan suhu tubuh 3. Kolaboraik dilingkungan panas an dengan .peningkatan 9.aktivitas yang untuk berlebih mengatasi .  saat disentuh tangan Hb. Berikan metabolisme pengobatan . delirium/psikosis RENCANA KEPERAWATAN NOC NIC N Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Intervensi o Hasil 1 Hipertemia b/d proses NOC : NIC : Thermoregulation Fever treatment infeksi salmonella thyposa Kriteria Hasil : 1. merasa tingkat  pertambahan RR nyaman kesadaran  takikardi 6.pengaruh penyebab medikasi/anastesi demam . Resiko trauma fisik b/d gangguan mental. Tidak ada darah. Monitor warna dalam rentang dan suhu kulit Batasan Karakteristik: normal 4. dan Hct terasa hangat 7. Lakukan berkeringat tapid sponge .penyakit/ trauma piretik .

Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas . dan RR 4. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh 8. Tingkatkan sirkulasi udara 15. Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu 3. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila 14. nadi.tepat pemberian cairan intravena sesuai program 13. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi 7. Monitor tanda- tanda hipertermi dan hipotermi 6. Monitor TD. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil Temperature regulation 1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam 2. Monitor warna dan suhu kulit 5.

RR. Monitor VS saat pasien berbaring. suhu. Monitor TD. duduk. 9. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan 5. sebelum. Monitor TD. dan RR 2. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukan 12. Beritahuka n tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan emergency yang diperlukan 11. nadi. dan . selama. atau berdiri 4. nadi. Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dari kedinginan 10. Catat adanya fluktuasi tekanan darah 3. Berikan anti piretik jika perlu Vital sign Monitoring 1.

setelah aktivitas 6. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar. dan/atau pertahankan 3. warna. 1. Monitor sianosis perifer 12. panas Status : Food t jika diperlukan tubuh and Fluid 2. Teka tekanan darah . kehilangan sesuai dengan ( kelembaban cairan dengan usia dan BB. Mem akurat interstisial. Monitor suhu. diare. BJ membran pengeluaran sodium urine normal. Monitor status intrasellular. Monitor kualitas dari nadi 7. Batasan Karakteristik : 2. dan kelembaban kulit 11. Monitor pola pernapasan abnormal 10. Monitor frekuensi dan irama pernapasan 8. Monitor suara paru 9. peningkatan sistolik) 13. Timbang muntah/pengeluaran yang  Nutritional popok/pembalu berlebihan. HT mukosa. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign 2 Resiko defisit volume NOC: cairan b/d pemasukan  Fluid balance Fluid management yang kurang. Pertahankan Intake catatan intake Definisi : Penurunan Kriteria Hasil : dan output yang cairan intravaskuler.  Hydration 1. bradikardi. mual. nadi normal adekuat. Ini mengarah urine output hidrasi ke dehidrasi.

Dorong . Atur kemungkinan tranfusi 16.Konsentrasi urine 9. . Monitor status . Berikan cairan meningkat IV pada suhu . hitung intake penurunan membran kalori harian volume/tekanan nadi mukosa lembab. Berikan cairan .Pengisian vena tidak ada rasa IV menurun haus yang 7. buah segar ) 14. 6. Tawarkan snack ( jus buah. penurunan Elastisitas turgor cairan dan tekanan darah.Kehilangan berat badan 11. ortostatik ). Monitor vital kulit/lidah normal sign .Hematokrit meninggi masukan oral . Tida 5. makanan / nadi.Kegagalan mekanisme pasien makan pengaturan 13. Kelemahan nan darah. Persiapan untuk tranfusi 3 Resiko NOC : Nutrition  Nutritional Management ketidakseimbangan nutrisi Status : food 1. Lakukan terapi .Kehilangan volume keluarga untuk cairan secara aktif membantu . Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk 15. nadi. Dorong . Haus suhu tubuh diperlukan .Temperatur tubuh ruangan meningkat 10. Kaji adanya and Fluid Intake alergi makanan . Monitor kering k ada tanda masukan . Penurunan turgor dalam batas 4. kulit baik. Berikan seketika (kecuali pada penggantian third spacing) nesogatrik Faktor-faktor yang sesuai output berhubungan: 12.Peningkatan denyut tanda dehidrasi. jika .Membran mukosa/kulit 3.Perubahan status berlebihan nutrisi mental 8.

Mudah merasa harian. Berat badan 20 % mengandung atau lebih di bawah tinggi serat ideal untuk . Ajarkan pasien yang digunakan untuk bagaimana menelan/mengunyah membuat . 3. Kolaborasi 1. inflamasi catatan pada rongga mulut makanan . atau output 2. Monitor jumlah setelah mengunyah nutrisi dan makanan kandungan . Dilaporkan adanya tentang perubahan sensasi rasa kebutuhan .kurang dari kebutuhan Kriteria Hasil : 2. Anjurkan pasien badan untuk diare. Luka. Berat badan dibutuhkan ideal sesuai pasien. Tidak terjadi vitamin C keperluan metabolisme penurunan 5. Berikan kekurangan makanan informasi . Anjurkan pasien nutrisi untuk 4. Berikan (Recomended Daily makanan yang Allowance) terpilih ( sudah . Mampu meningkatkan mengidentifikasi intake Fe kebutuhan 4. muntah. Dilaporkan atau kalori fakta adanya 10. Kelemahan otot 8. Membran mukosa dikonsultasikan dan konjungtiva pucat dengan ahli gizi) . sesuai dengan jumlah kalori tujuan dan nutrisi yang anoreksia. Tidak ada tanda meningkatkan Definisi : Intake nutrisi tanda malnutrisi protein dan tidak cukup untuk 5.Perasaan nutrisi . yang berlebihan akibat dengan tinggi 3. berat badan substansi gula yang berarti 6. Dilaporkan adanya mencegah intake makanan yang konstipasi kurang dari RDA 7. kenyang. sesaat 9. Yakinkan diet Batasan karakteristik : yang dimakan . Berikan tubuh. Adan dengan ahli gizi tubuh b/d intake kurang ya peningkatan untuk berat badan menentukan akibat mual.

Kehilangan BB dengan mendapatkan makanan cukup nutrisi yang . Monitor turgor faktor biologis. Monitor tipe dan steatorrhea jumlah aktivitas . Tonus otot jelek Nutrition . Monitor Faktor-faktor yang lingkungan berhubungan : selama makan Ketidakmampuan 6. Kehilangan rambut yang biasa yang cukup banyak dilakukan (rontok) 4. Diare dan atau 3. Kurang berminat normal terhadap makanan 2. Kram pada abdomen . ketidakmampuan untuk 11. Monitor kadar . Kurangnya informasi. Monitor atau ekonomi. Nyeri abdominal Monitoring dengan atau tanpa 1. kekeringan. Keengganan untuk dibutuhkan makan . dan mudah patah 10. Jadwalkan pengobatan pemasukan atau dan tindakan tidak selama mencerna makanan atau jam makan 7. Monitor . Kaji mengunyah makanan kemampuan . Pembuluh darah kapiler penurunan mulai rapuh berat badan . atau orangtua misinformasi selama makan 5. Suara usus hiperaktif interaksi anak . Monitor kulit mengabsorpsi zat-zat gizi kering dan perubahan berhubungan dengan pigmentasi 8. psikologis kulit 9. BB pasien patologi dalam batas . Monitor mual dan muntah 11. rambut kusam. Miskonsepsi pasien untuk . Monitor adanya .

17. dan kadar Ht 12. kemerahan. Monitor makanan kesukaan 13. Instruksikan 3. hiperemik. scarlet 4 Gangguan pola defeksi : NOC: NIC :  Bowel diare b/d proses elimination Diarhea  Fluid Balance peradangan pada dinding  Hydration Management  Electrolyte and usus halus Acid base 1.tiga hari untuk 2. Catat adanya edema. Evaluasi efek Balance samping Kriteria Hasil : pengobatan 1. Monitor kalori dan intake nuntrisi 16. Ajarkan pasien sekali. Hb. hipertonik papila lidah dan cavitas oral. Tidak . Monitor pucat. Monitor pertumbuhan dan perkembangan 14. albumin. Catat jika lidah berwarna magenta. gastrointestinal BAB sehari 2. Menjaga daerah menggunakan sekitar rectal obat antidiare dari iritasi 3. dan kekeringan jaringan konjungtiva 15. Fese terhadap s berbentuk. total protein.

Monitor tanda dan gejala diare 7.  Knowlwdge : . Hubungi dokter jika ada kenanikan bising usus 10. Menjelaskan untukmencatat penyebab diare warna. Mempertahanka feses n turgor kulit 4. Instruksikan pasien untukmakan rendah serat. Instruksikan untuk menghindari laksative 12. dan rasional frekuenai dan tendakan konsistensi dari 5. Observasi turgor kulit secara rutin 8. tinggi protein dan tinggi kalori jika memungkinkan 11. Ukur diare/keluaran BAB 9. Identifikasi factor penyebab dari diare 6. Ajarkan tehnik menurunkan stress 13. Monitor persiapan makanan yang aman 5 Resiko trauma fisik b/d NOC: NIC : gangguan mental. mengalami diare pasien/keluarga 4. jumlah. Evaluasi intake makanan yang masuk 5.

7. Memasang side rail tempat tidur 5. Sediakan Falls lingkungan Occurance yang aman  Safety untuk pasien behavior : 2. Identifikasi Physical injury kebutuhan keamanan pasien. Membatasi pengunjung 8. Menghindark an lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan) 4.delirium/psikosis personel Environmental safety  Safety Management behavior : falls Prevention safety  Safety Behavior : 1. sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit terdahulu pasien 3. Memberikan penerangan yang cukup . Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih 6. Menempatka n saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau pasien.

Monior bising 1. Mem usus pertahankan 3. Kriteria Hasil : konstipasi 2. 10. Memindahka n barang- barang yang dapat membahayaka n 12. Monitor elimination peradangan pada dinding tanda dan  Hydration gejala usus halus. Konsultasi ketidaknyama dengan dokter . Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan status kesehatan dan penyebab penyakit 6 Perubahan pola defeksi : NOC: NIC: Constipation/ Impaction konstipasi b/d proses Management  Bowel 1. Menganjurka n keluarga untuk menemani pasien. lunak setiap konsistensi dan 1-3 hari volume 2. Mengontrol lingkungan dari kebisingan 11. Bebas dari 4. Monitor feses: bentuk feses frekuensi. 9.

Mitor tanda dan mencegah gejala ruptur konstipasi usus/peritonitis 6. nan dan tentang konstipasi penurunan dan 3. Identifikasi faktor penyebab dan kontribusi konstipasi 8. Jelaskan etiologi dan rasionalisasi tindakan terhadap pasien 7. Mengidentifika peningkatan si indicator bising usus untuk 5. Kolaborasikan pemberian laksatif . Dukung intake cairan 9.

2007. Jakarta: EGC Nursalam. Sinopsis Kedokteran Tropis. Edisi III. 2005. Airlangga Universitas Press. Penyakit – Penyakit Tropis. Jakarta : EGC Ngastiyah . Artikel diakses dari www. 2007. Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Jakarta: Salemba Prosedur Keperawatan Nursing Standard Operating Procedure. DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. Robert. Y. 2008.com Soedarto. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Klien. Jakarta: Sagung Seto. Surabaya.who_peditric. Asuhan Keperawatan Pada Bayi dan Klien. et al. . R. 2006. Arif et al. Perawatan Klien Sakit. Kapita Selekta Kedokteran. Suriadi.