You are on page 1of 15

NEONATAL HYPERBILIRUBINEMIA

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Responsi Kepaniteraan
Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Disusun oleh:
Kelompok 4
Nathasya Beany Winde 4151121438
Vani Meliani 4151121489
Mona Tania Pahdariesa 4151121504
Dhani Akbar Nugraha 4151121487
Febby Aulia Arief 4151121514
Imas Masturoh 4151121507
Dhita Rahmawati 4151121521
Yulita Santika S. 4151121463
Siti Cholifah 4151121515
Leni Widiawati 4151121510

Preceptor:
Yoke Ayukarningsih Mustakim, dr., SpA., M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RS DUSTIRA/FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2013

45 cm Tanggal Masuk :17 September 2013 pukul 11. Fitri A Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat. A. ANAMNESIS Alloanamnesis dilakukan pada tanggal 27 September 2013. KETERANGAN UMUM Nama : Bayi Ny. Hilman Afandi Umur : 39 tahun Golongan darah :A Pendidikan : S1 Pekerjaan / Jabatan : TNI/mayor Alamat : KPAD Pusdik Bekang Cibereum Nama ibu : Ny. Fitri Umur : 37 tahun Golongan darah :O Pendidikan : S1 Pekerjaan : TNI Alamat : KPAD Pusdik Bekang Cibereum . STATUS RUANGAN I.25 WIB Nama Ayah : Tn. Tanggal Lahir : Cimahi. 17 September 2013 Umur : 10 hari Golongan darah :A Anak ke : 2 dari 3 bersaudara (G3P2A1) Partus Jenis : SC atas indikasi gemeli Letak bayi : Letak lintang Dengan Pertolongan : Dokter Spesialis Obstetrik Ginekologi BB dan PB Lahir : 2200 gram.

APGAR score 7-9. Buang air kecil tidak tampak seperti teh pekat. Rhesus ibu tidak diketahui. selama ibu hamil maupun dalam keluarga. panjang badan lahir 45 cm.B. RIWAYAT PERSALINAN Bayi lahir 10 hari yang lalu pukul 11. Riwayat kebiruan saat persalinan ataupun sesudahnya . Bayi letak lintang. Bayi langsung menangis kuat. ANAMNESIS UMUM RIWAYAT KEHAMILAN Kehamilan ini merupakan kehamilan ketiga bagi ibu dengan riwayat abortus sebanyak 1 kali pada kehamilan kedua. ibu mengaku tidak pernah minum obat selain vitamin. ibu pasien juga tidak mendapatkan vaksinasi tetanus toksoid baik sebelum maupun selama kehamilan. kehamilan gemeli. maupun riwayat kelainan darah. D. kejang. Keluhan kuning tidak disertai dengan panas. zinc. gerak aktif. ANAMNESIS KHUSUS Ibu bayi mengetahui bayi tampak kuning pada saat hari ke-3 perawatan. rhesus ayah positif. Ibu memeriksakan kehamilannya pada dokter SpOG dan kontrol secara teratur setiap bulan. HPHT 19 januari 2013. Selain itu. dan tali pusat langsung dipotong. asam folat. tidak tampak seperti dempul. Selama kehamilan. Selama kehamilan. Golongan darah ibu adalah O. kencing manis. Buang air besar berwarna kuning. KELUHAN UTAMA : Bayi tampak kuning C. lahir secara SC ditolong dokter SpOG atas indikasi gemeli. sedangkan golongan darah ayah A. Berat badan lahir 2200 g. Golongan darah bayi ini A. tidak ada. dan penurunan kesadaran. omega. dan suplemen lain yang diberikan dokter. Riwayat tekanan darah tinggi. Riwayat kuning pada anak pertama tidak ada. berat badan ibu naik sebanyak 38 kg (dari 60 kg menjadi 98 kg). sakit kuning.25 WIB dari seorang ibu G3P2A1.

Fitri 37 thn P Ibu Sehat 3 Kakak 7 thn P Kakak Sehat II. Hilman 39 thn L Ayah Sehat 2 Ny. Bayi mendapatkan ASI dan susu formula SGM untuk BBLR dikarenakan air susu ibu tidak mencukupi kebutuhan bayi. Bayi mendapatkan fototerapi (Blue Light Therapy) pada hari ke-3 perawatan. RIWAYAT IMUNISASI NAMA DASAR ULANGAN BCG POLIO 0 DPT CAMPAK HEPATITIS B 0 ANAMNESIS KEADAAN KELUARGA No Nama Umur L/P Status Keterangan 1 Tn. Berat badan saat masuk ruang perawatan adalah 2200 g. PENGUKURAN Umur : 9 hari . bayi diberikan susu formula SGM untuk BBLR karena ASI ibu tidak mencukupi. ANAMNESIS TAMBAHAN: RIWAYAT MAKANAN Pada 3 hari pertama. RIWAYAT PERAWATAN Bayi masuk ke ruang perinatologi segera setelah lahir. 1. Setelah itu. tidak ada. E. bayi diberikan ASI on Demand dan susu formula kurang lebih 90 cc/hari. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilaksanakan pada tanggal 26 September 2013.

menangis kuat. gerak aktif Kejang : Tidak ada Letak paksa (posisi) tubuh : Tidak ada kelainan 2. PEMERIKSAAN KHUSUS KEPALA Bentuk : normocephal. langit-langit intak.7o C Heart Rate : 120 x/menit KEADAAN UMUM (kesan umum dari pemeriksaan) Keadaan sakit : Tampak sakit ringan Kesadaran : Alert.5 cm LK : 33 cm LD : 30 cm TANDA VITAL Laju Napas : 40 x/menit Suhu : 35. cephal hematom (-) fontanel anterior belum menutup Muka : ikterik (+) Mata : sklera : ikterik -/- konjungtiva : anemis -/- Hidung : PCH -/- Telinga : sekret -/- Mulut : perioral sianosis (-). BB : 2200 g PB : 46. lidah basah bersih frenulum linguae ikterik (-) Leher : KGB tidak teraba THORAKS Thoraks depan .

ikterik (-).Inspeksi : bentuk dan gerak simetris. Kremer 1 . wheezing -/- Thoraks belakang Inspeksi : bentuk dan gerak simetris. ikterik (-) Jantung R L Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni reguler ABDOMEN Inspeksi : datar. ikterik (-) Auskultasi : VBS kanan=kiri. tali pusat terawat Auskultasi : bising usus (+) normal Palpasi : Hepar: tidak teraba Lien: tidak teraba GENITALIA Jenis kelamin : laki-laki EKSTREMITAS : akral hangat. rhonki -/-. CRT <2 detik KULIT : ikterik (+).

Pemeriksaan Darah Rutin (19 september 2013) Hb 13.7 x 106 Leukosit 5700 Ht 43.60 mg/dL Total Bilirubin 0.7 pq MCHC 30.2 g/dL Eritrosit 3.7% Hitung jenis Segmen 44. NEUROLOGI Refleks moro : (+) Refleks hisap : (+) Refleks rooting : (+) Refleks genggam : (+) kuat Ballard Score sudah dilakukan pada tanggal 18 september 2013.8 % Trombosit 187000 mm3 MCV 118.9 U/3 MCH 35.1% Monosit 9. normoblas - Leukosist: jumlah kurang.89 mg/dL 11. dengan score 29.5% Limfosit 41.44 mg/dL 0. Apus darah tepi (19 September 2013) Eritrosit: normokrom.37 mg/dL 6. morfologi dalam batas normal.22 mg/dL Direk 2. III.30 mg/dL 0. sebagian hipokrom anisositosis.1% Kimia 19 September 21 September 23 September 25 September Klinik 2013 2013 2013 2013 Bilirubin 8. Masa gestasi 34-36 minggu. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.32 mg/dL 12. .1% RDW 17.37 mg/dL 0.

Bayi mendapatkan fototerapi (Blue Light Therapy) pada hari ke-3 perawatan. Golongan darah ibu adalah O. Bayi mendapatkan ASI dan susu formula SGM untuk BBLR dikarenakan air susu ibu tidak mencukupi kebutuhan bayi. Trombosit : jumlah dan morfologi dalam batas normal Kesan : gambaran hipokrom (ringan). dan tali pusat langsung dipotong. gerak aktif Keadaan umum : Tampak sakit ringan Tanda Vital R : 40x/menit N : 120x/menit S : 35. PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Kesadaran : Alert. Kepala: Muka: ikterik (+) . Bayi lahir 10 hari yang lalu pukul 11. kehamilan gemeli. B. Keluhan kuning tidak disertai dengan panas. RESUME A. Buang air besar berwarna kuning. Berat badan lahir 2200 g. lahir secara SC ditolong dokter SpOG atas indikasi gemeli. tidak tampak seperti dempul. menangis kuat. APGAR score 7-9.7oC BB : 2200 g PB : 46. dengan score 29. Golongan darah bayi ini A.5 cm LK/LD: 33/30 cm Ballard Score sudah dilakukan pada tanggal 18 september 2013.25 WIB dari seorang ibu G3P2A1. panjang badan lahir 45 cm. kejang. Bayi langsung menangis kuat. Rhesus ibu tidak diketahui. Bayi letak lintang. rhesus ayah positif. anisositosis dan leukopenia IV. dan penurunan kesadaran. Buang air kecil tidak tampak seperti teh pekat. sedangkan golongan darah ayah A. Masa gestasi 34-36 minggu. ANAMNESIS Ibu bayi mengetahui bayi tampak kuning pada saat hari ke-3 perawatan. gerak aktif.

DIAGNOSIS Differential Diagnosis: 1. Enzim G6PD VII. ASI on Demand 2. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Kimia 19 September 21 September 23 September 25 September Klinik 2013 2013 2013 2013 Bilirubin 8. Bayi laki-laki. TATA LAKSANA 1. Bayi laki-laki + BBLR + BKB + SMK + SC atas indikasi gemeli + Neonatus Hiperbilirubinemia Fisiologis 2.5- 37. BBLR + BKB + SMK + SC atas indikasi gemeli + Neonatus Hiperbilirubinemia Patologis ec Defisiensi G6PD Diagnosis Kerja: Bayi laki-laki + BBLR + BKB + SMK + SC atas indikasi gemeli+ Neonatus Hiperbilirubinemia Fisiologis VI. Kulit: Ikterik (+). Bilirubin total. BBLR + BKB + SMK + SC atas indikasi gemeli + Neonatus Hiperbilirubinemia Patologis ec Inkompatibilitas ABO 3. Kremer 1 C. Mencegah hipotermi  lampu sorot (pertahankan suhu bayi 36.22 mg/dL Direk V. USULAN PEMERIKSAAN 1.5◦C) 3. indirek 4.30 mg/dL 0. Bayi laki-laki.89 mg/dL 11. Darah Rutin 2.32 mg/dL 12. Blue Light Therapy dihentikan .37 mg/dL 0. Rh Ibu 3.37 mg/dL 6.44 mg/dL 0.60 mg/dL Total Bilirubin 0. direk.

ikterik mulai tampak bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dL. PENCEGAHAN 1. Keadaan ikterik pada bayi baru lahir ini bisa disebabkan oleh penyebab secara fisiologis maupun patologis. Kriteria ikterus fisiologis diantaranya adalah kadar bilirubin indirek pada minggu pertama >2mg/dL. Secara klinis. Sekunder .VIII. Ikterik disebabkan karena adanya akumulasi bilirubin indirek yang berlebih. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI paling sedikit 8-12 x/hari untuk beberapa hari pertama . PROGNOSIS Quo Ad Vitam : Ad bonam Quo Ad Functionam : Ad bonam IX. Primer .Pemeriksaan golongan darah ABO dan rhesus DISKUSI Bayi laki-laki diketahui tampak ikterik pada hari ke-3 perawatan. Tidak memeberikan cairan tambahan rutin seperti dextrose atau air pada bayi yang mendapat ASI dan tidak mengalami dehidrasi 2. Pada bayi kurang bulan yang mendapat susu . sedangkan pada penyebab patologis timbul sebelum 24 jam pertama. Ikterik pada bayi baru lahir secara fisiologis terjadi pada waktu >24 jam pertama dalam kehidupan.

penurunan uptake dalam hati. Berikut adalah penilaian derajat ikterik menurur Kramer (1969) Derajat Gambaran Rata-rata Serum Rata-rata Serum Bilirubin Indirek Bilirubin Indirek (mg%) (mmol/L) Kuning tampak pada daerah I 5. dan peningkatan sirkulasi bilirubin enterohepatik.85 100 kepala sampai leher Kuning meluas sampai II 8.5 mg/dL/jam. Selain itu. apnea. menurunnya ekskresi bilirubin diakibatkan oleh buruknya konjugasi bilirubin dengan asam glukoronat oleh hati neonatus. Etiologi terjadinya Neonatorum Hiperbilirubinemia yaitu meningkatnya produksi bilirubin yang disebabkan oleh masa hidup eritrosit bayi yang lebih pendek (70-90 hari). atau suhu yang tidak stabil. formula. Kadar bilirubin serum masih dalam kisaran normal jika peningkatan mencapai 15 mg/dL tanpa disertai kelainan metabolisme bilirubin. Ikterik pada saat bayi usia 3 hari ditemukan dari kepala hingga lutut (Kremer III). adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari. akan mengalami peningkatan kadar bilirubin dengan puncak yang lebih tinggi dan lebih lama daripada bayi cukup bulan. seperti muntah.62 250 pergelangan tangan dan kaki Kuning meluas sampai V >15 >250 telapak tangan dan kaki . malas menetek. letargi. seperti pada kasus ini. penurunan berat badan yang cepat.7 200 Kuning meluas sampai IV 14.77 150 perut (umbilikus) III Kuning meluas sampai lutut 11. takipnea. begitu juga dengan penurunannya jika tidak diberikan fototerapi pencegahan. Kriteria ikterus patologis diantaranya jika peningkatan kadar bilirubin total serum >0. Pada kasus ini tidak ditemukan tanda-tanda seperti itu.

Kehamilan ini merupakan yang ketiga bagi ibu. gangguan pendengaran. Fase 3 (bayi > 1 minggu) Hipertonik . pons. hipotonik. dan serebelum. Fase 4 Gejala sisa lanjut: bayi yang bertahan hidup akan berkembang menjadi bentuk athetoid cerebral palsy yang berat. Ibu memeriksakan kehamilannya pada dokter SpOG dan kontrol secara teratur setiap bulan. . sakit kuning. atau keduanya. Keluhan tidak disertai dengan panas. kejang dan penurunan kesadaran. sehingga memperkecil risiko terjadinya infeksi yang menyebabkan kelainan metabolisme bilirubin pada bayi. Dimana kernikterus adalah perubahan neuropatologi yang ditandai oleh deposisi pigmen bilirubin pada beberapa daerah di otak terutama di ganglia basalis. displasia dental-enamel. Riwayat ibu sakit tekanan darah tinggi selama kehamilan tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada komplikasi neurologis yaitu kernikterus. Gejala-gejala klinis kernikterus antara lain sebagai berikut: . Selain itu ibu pasien juga tidak mendapatkan vaksinasi tetanus toksoid sebelum maupun selama kehamilan. . biasanya secara klinis ditemukan retrocolis (leher melengkung ke belakang). penurunan nafsu makan . tidak ada riwayat kencing manis. paralisis upward gaze. Fase 2 (onset dan durasi bervariasi) Hipertonik dari muskulus ekstensor. Fase 1 (hari-hari pertama kehidupan) Alertness. Bayi yang telah sampai ke fase ini akan terdapat gangguan neurologis jangka panjang. Anamnesis prenatal care ini dilakukan untuk mengetahui keadaan kesehatan ibu dan bayi selama masa kehamilan. opistotonus (melengkungnya punggung ke belakang). Selama kehamilan ibu mengaku tidak pernah minum obat selain vitamin dari dokter.

karena intake ASI yang kurang dapat menyebabkan peningkatan siklus enterohepatik sehingga akan terjadi akumulasi bilirubin. Hal ini ditanyakan untuk melihat apakah terdapat faktor predisposisi kejadian perinatal. Bayi mendapatkan ASI dan susu formula. Pada bayi ini tidak ada kejadian asfiksia. Anamnesis ini ditanyakan untuk mencari faktor predisposisi dari asfiksia. Selain itu. dikarenakan air susu ibu tidak mencukupi kebutuhan bayi. Bayi letak lintang. Pada pemeriksaan fisik saat bayi berusia 9 hari hanya ditemukan ikterik pada muka dan leher (Kremer 1). kehamilan gemeli. sedangkan golongan darah bayi adalah A. panjang badan lahir 45 cm. apakah sesuai dengan kebutuhannya atau tidak. Pada bayi ini tidak didapatkan faktor risiko tersebut. Usia kehamilan 35-36 minggu merupakan faktor risiko Neonatorum Hiperbilirubinemia. Karena itu terjadilah hemolisis. Hal ini dikarenakan bayi sudah mendapatkan BLT. Inkompatibilitas ABO terjadi karena adanya IgG anti A atau anti B pada ibu tipe O. pada Ballard score didapatkan score 29 (masa gestasi 34-36 minggu). Golongan darah ibu adalah O. kemudian masuk ke sirkulasi fetus. misalnya trauma saat lahir seperti adanya cephal hematom yang dapat menyebabkan perdarahan melalui mekanisme hemolisis yang akan menyebabkan akumulasi billirubin darah. Anamnesis ini ditanyakan untuk mengetahui intake yang didapat oleh bayi.25 WIB dari seorang ibu G3P2A1. Berat badan lahir bayi yang rendah ( < 2500 gram) merupakan salah satu faktor terjadinya ikterus neonatorum dengan mekanisme campuran yaitu produksi bilirubin yang berlebih dan sekresi yang menurun. Pada bayi dengan riwayat asfiksia saat lahir terjadi penurunan kapasitas ikat bilirubin yang dapat meningkatkan kadar bilirubin darah. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan adanya inkompatibilitas ABO yang merupakan faktor risiko Neonatorum Hiperbilirubinemia. Berat badan lahir 2200 gram. setelah itu bereaksi dengan antigen A atau B pada permukaan eritrosit fetus. Bayi langsung menangis kuat dan gerak aktif dengan APGAR score 7-9. Bayi lahir 10 hari yang lalu pukul 11. .

dan indirek. Prognosis pada pasien ini baik dilihat dari perbaikan selama perawatan yakni penurunan kadar bilirubin total maupun direk setelah pemberian terapi BLT. serta enzim G6PD. Berdasarkan hasil anamnesis. Terapi yang diberikan pada pasien saat ini diantaranya adalah terapi umum berupa pencegahan hipotermia (pertahankan suhu 36. mencegah dehidrasi. direk. Penatalaksanaan ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan komplikasi karena hipotermi.60 mg/dL. DAFTAR PUSTAKA .89 mg/dL. sehingga kadar bilirubin dalam darah akan turun. didapatkan peningkatan bilirubin total yang cukup tinggi yakni pada hari ketiga perawatan kadar bilirubin total mencapai kadar 12. serta pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa diagnosis pada pasien ini adalah Bayi Laki-laki + BBLR + BKB + SMK + SC atas indikasi gemeli + Neonatus Hiperbilirubinemia Fisiologis. BLT yang sudah diberikan selama 6 hari dihentikan karena kadar bilirubin total menurun menjadi 6. Dilakukan untuk mengetahui etiologi ikterus dan untuk follow up terapi. Bilirubin total yang menurun terjadi karena BLT merubah bilirubin yang tak terkonjugasi menjadi bilirubin yang larut air. kadar bilirubin total. Pada pemeriksaan penunjang darah rutin. Usulan pemeriksaan yang diusulkan pada pasien ini adalah pemeriksaan darah rutin. rhesus ibu. sehingga dapat dikeluarkan melalui duktus biliaris yang nantinya diekskresikan melalui urine. Selain itu.60 mg/dL. Kemudian berkurang pada pemberian BLT hari kedua dengan kadar bilirubin total sebesar 11.5◦ C) dan ASI on demand.37 mg/dL. pemeriksaan fisik. Pemberian ASI yang sesering mungkin dimaksudkan agar bilirubin banyak keluar bersama urin.5 – 37. Pada hari kelima pemberian BLT terjadi penurunan bilirubin total kembali mencapai kadar 6.

2. Hal:147-68. Unconjugated Hyperbilirubinemia. Buku Ajar Neonatologi: edisi pertama. Kernicterus. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan anak: edisi 4. Bandung.1. Jakarta. Garna herry. . Nazer H. 2012. Springer SC.emedicine. 3. medscape.com pada tanggal 27 September 2013. Diunduh dari http://www.com pada tanggal 27 September 2013.emedicine. 2008. 4. dkk.M dkk. Bagian Ilmu kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UNPAD/RSHS.medscape. Diunduh dari http://www. Sholeh kosim. Ikatan Dokter Anak Indonesia.