An-Nabhani: Hadits Ahad Tidak Diingkari Meski Tidak Menjadi Dalil Dalam Akidah

December 23, 2012 - Afkar - Tagged: an-nabhani, hadits ahad, i'tiqad, taqiyuddin,
taqiyuddin an-nabhani- 3 comments

Jika ditanya tentang kesesatan hizbut tahrir, para mufti Madzhab Wahhabi selalu
menyebut pandangan Hizbut Tahrir tentang keabsahan hadits ahad dalam akidah. Ya,
Hizbut Tahrir sesat menurut mereka, alasannya karena tidak menjadikan hadits ahad
sebagai hujjah dalam akidah. Perkataan mereka bahwa HT tidak menjadikan hadits
ahad sebagai hujjah dalam akidah Islam memang benar. Namun, ketika isu ini sampai
di tangan orang-orang awam di kalangan mereka, tuduhan atas kesesatan Hizbut
Tahrir menjadi bergeser. Sebagian dari mereka kemudian ada yang mengatakan,
“kesesatan hizbut tahrir adalah karena mengingkari hadits ahad yang mengandung
khabar gaib“ , ada pula yang menyatakan, “hizbut Tahrir sesat karena menolak hadits
ahad secara mutlak”. Padahal, Hizbut Tahrir tidak pernah mengajak untuk
mengingkari apa yang terkandung dalam hadits ahad yang maqbul.

Bahkan, tuduhan bahwa HT menolak hadits ahad tidak lagi dilontarkan oleh orang
awam. Beberapa tahun lalu, seorang rekan saya yang menuntut ilmu di sebuah
Ma’had di Jogja mendengar ustadznya yang bergelar Lc., lulusan Timur Tengah, juga
memberi info yang salah di kelasnya, bahwa HT menolak hadits ahad secara mutlak
tanpa memberi batasan apapun.

Tuduhan bahwa HT menolak hadits ahad tidak akan dilontarkan oleh mereka yang
mengenal HT, meski hanya sekedar membuka beberapa bukunya saja. Sebab, dalam
kitab-kitab resminya, HT jelas-jelas menggunakan hadits ahad sebagai hujjah dalam
berbagai hukum syara’ yang ia adopsi. Tak heran, jika kita membuka berbagai kitab
HT, niscaya kita akan menemukan sekian banyak hadits ahad digunakan oleh HT
sebagai hujah dalam membedakan antara yang halal dengan yang haram, yang sunah
dengan yang wajib, yang mubah dengan yang makruh. Silahkan buka Nidzamul
Islam, Mafahim Hizbit Tahrir, ad Daulah al Islamiyyah, Min Muqawwimatin
Nafsiyyah, Ajhizah Daulatil Khiilafah, asy Syakhshiyyah, Muqaddimatud Dustur dan
seluruh kitab pembinaan HT yang lain, niscaya anda akan tahu bahwa HT
menggunakan hadits ahad sebagai hujjah dalam masalah hukum syara’. Maka,
tuduhan bahwa HT menolak hadits ahad secara mutlak adalah keliru.

Adapun mengenai penolakan Hizbut Tahrir untuk berhujjah dengan hadits ahad dalam
akidah, maka itu memang benar. Namun, jika dikatakan bahwa HT mengingkari
hadits ahad yang membawa masalah gaib, maka itu tidak benar. Sebab, meski hadits
itu tidak dijadikan sebagai dalil akidah, namun kandungannya tetap dipercayai dan
dibenarkan selama ia adalah hadits shahih atau hasan. Sebagai contoh, seperti hadits-
hadits tentang kembalinya khilafah di masa depan. Hadits-hadits tentang masalah ini
tidak mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, HT tidak menganggap masalah
kembalinya khilafah ini sebagai masalah akidah. Namun, ini bukan berarti bahwa
hadits tersebut harus diingkari. Meski tidak mutawatir, meski tidak qath’i dan meski
tidak layak dijadikan sebagai hujjah dalam akidah, namun kandungan hadits ini tidak
boleh diingkari, tetap dibenarkan dan dipercayai secara dzonni sesuai kualitas
haditsnya. Jadi kandungan hadits ahad selama ia shahih tidaklah boleh diingkari.

bukan tergolong masalah hukum syara’. dialah yang haram karena merupakan pembenaran pasti yang dibangun diatas dzonn. namun pengertiannya tiada lain hanyalah tidak adanya kepastian saja. Kepercayaan jenis ini tidak menerima toleransi. bukan berarti beliau mengharamkan kepercayaan kepada apa yang terkandung di dalam hadits ahad berupa hal-hal yang terkait dengan masalah gaib atau yang serupa dengan masalah aqidah. Tindakkan ini adalah memperlakukan hadits ahad sesuai dengan kapasitasnya sebagai sesuatu yang dzonny. atau pembenaran yang rajih (kuat). Tindakkan tersebut berarti meletakkan apa yang ada dalam hadits ahad sebagai masalah yang pasti (qath’i) dalam agama. bukan sekedar kepercayaan. Alias menjadikannya sebagai perkara yang meyakinkan. seseorang akan jauh lebih percaya terhadap kebenaran dalil itu daripada . sebab terdapat hadits-hadits shahih dzonniyah dalam perkara-perkara yang tergolong masalah aqidah. pasti benar dari Rasulullah saw. mayoritas ulama telah menyatakan bahwa hadits ahad dengan sendirinya hanyalah menghasilkan dzonn. Aspek yang rumit ini harus diperhatikan dengan sempurna. Percaya itu tidak masalah. memastikan kesalahan orang yang mengingkari atau meragukannya disebabkan karena dalil/bukti yang ada memang bersifat pasti benarnya (qath’i). Sehingga tidak mengi’tiqadkan sesuatu bukan berarti mengingkarinya. maka itu tidaklah haram. sanadMemang benar bahwa menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani meng-i’tiqad- kan hal yg datang dari hadits ahad itu haram. padahal Allah telah mencela orang yang membangun aqidahnya di atas dzonn. boleh. hal 7) Sikap seperti Ini diambil karena kepercayaan (tashdiq) itu faktanya jelas-jelas memiliki tingkatan. yang diharamkan hanyalah meng-i’tiqad-kannya. tidak adanya i’tiqad bukan berarti ingkar. Syaikh Taqiyuddin menyatakan: “Namun. Hanya saja.) Adapun jika kita mempercayai masalah-masalah tersebut dengan kepercayaan yang kuat (dzonny) bahwa apa yang ada di dalam hadits ahad itu adalah haq. yakni menganggapnya sebagai suatu perkara yang harus diyakini secara penuh dengan puncak keyakinan tanpa toleransi terhadap adanya penyangkalan barang sedikit pun. Sebab. Ini juga berarti memperlakukan suatu perkara yang dzonniy di atas kapasitasnya sebagai suatu perkara yang dzonniy. tetapi yang diharamkan adalah i’tiqad. Hasilnya. tidak sampai derajat al yaqin (meyakinkan.Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani sendiri. sebagai pendiri Hizbut Tahrir. perlu diketahui bahwa yang diharamkan adalah i’tiqad. Kepercayaan yang bulat inilah yang disebut i’tiqad atau iman. sehingga pengharaman i’tiqad terhadap dzonn bukan berarti menolak hadits-hadits tersebut dan bukan pula tidak mempercayai apa yang terkandung di dalamnya” (Izalatul Atribah wal Ghubar ‘an Judzuri Syajaratil Islam. tidak pernah mengharamkan kepercayaan kepada masalah gaib yang dibawa oleh Hadits Ahad. akan tetapi maknanya hanyalah tidak memastikannya. yaitu pembenaran yang pasti. Namun ada kalanya. Sebab. Namun. ini terjadi ketika dalil yang menopangnya dianggap dapat dipercaya meski pun tidak sampai pada level pasti benar atau tidak mungkin salah. Perkara ‘ilmiyyah (non-’amaliyyah) yang didukung oleh bukti yang pasti akan menjadi bagian dari Aqidah Islam dan mereka yang mengingkari atau meragukan perkara qath’i itu dianggap kafir terhadap aqidah. tak mengandung keraguan sebutirdebu pun. Adakalanya kepercayaan itu bersifat penuh tanpa ada peluang salah sedikit pun. kepercayaan terhadap suatu perkara itu berupa pembenaran yang dianggap rajih (kuat).

Hanya saja. meski pun kita mempercayainya dan tidak menyepakati pengingkaran atau keraguan mereka. kita tidak boleh mengkafirkan orang- orang yang mengingkari atau meragukan perkara-perkara yang tidak didukung oleh dalil yang tidak qath’i.com/pemikiran-islam/syaikh-taqiyuddin-an- nabhani-tidak-pernah-mengharamkan-kepercayaan-kepada-hadits- ahad. sehingga dia mengambil sikap untuk percaya atau membenarkan.titokpriastomo.W6TGYpQm. berbeda dengan perkara yang didukung oleh dalil qath’i. Wallahu a’lam (titok 22/12/12) .menyangkalnya. Ini karena seseorang tidak boleh dianggap murtad alias meninggalkan aqidah kecuali jika ia mengingkari perkara yang qath’i dalam Islam.dpuf .html#sthash.See more at: http://www. Inilah yang disebut tashdiq (pembenaran atau kepercayaan).