You are on page 1of 14

INTERFERENSI DAN INTEGRASI

Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan
perubahan itu terjadi karena adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.
Perkembangan bahasa yang cukup pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya
dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa yang lain. Proses saling
memengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak dapat
dihindarkan. Bahasa sebagai bagian integral kebudayaan tidak dapat lepas dari
masalah di atas. Saling memengaruhi antarbahasa pasti terjadi, misalnya kosakata
bahasa yang bersangkutan, mengingat kosakata itu memiliki sifat terbuka.
Menurut Weinrich (dalam Chaer dan Agustina 1995:159) kontak bahasa merupakan
peristiwa pemakaian dua bahasa oleh penutur yang sama secara bergantian. Dari
kontak bahasa itu terjadi transfer atau pemindahan unsur bahasa yang satu ke dalam
bahasa yang lain yang mencakup semua tataran. Sebagai konsekuensinya, proses
pinjam meminjam dan saling mempengaruhi terhadap unsur bahasa yang lain tidak
dapat dihindari. Suwito (1985:39-40) mengatakan bahwa apabila dua bahasa atau
lebih digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama, dapat dikatakan bahwa
bahasa tesebut dalam keadaan saling kontak. Dalam setiap kontak bahasa terjadi
proses saling mempengaruhi antara bahasa satu dengan bahasa yang lain. Sebagai
akibatnya, interferensi akan muncul, baik secara lisan maupun tertulis.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengajukan beberapa rumusan
masalah, yaitu: (1) apakah yang dimaksud dengan interferensi dalam kajian bahasa?,
(2) apakah yang dimaksud dengan integrasi dalam kajian bahasa?, dan (3)
bagaimana kaitan antara interferensi dan integrasi dalam pembelajaran bahasa?
PEMBAHASAN

Interferensi
Istilah interferensi kali pertama digunakan oleh Weinreich (1953) untuk menyebut
adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan
bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur
bilingual. Weinreich menganggap bahwa interferensi sebagai gejala penyimpangan
dari norma-norma kebahasaan yang terjadi pada penggunaan bahasa seorang
penutur sebagai akibat pengenalannya terhadap lebih dari satu bahasa, yakni akibat
kontak bahasa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan ditegaskan pula dalam
handout Sosiolinguistik, Jurnal Universitas Pendidikan Indonesia, interferensi ialah
masuknya unsur suatu bahasa ke dalam bahasa lain yang mengakibatkan
pelanggaran kaidah bahasa yang dimasukinya baik pelanggaran kaidah fonologis,
gramatikal, leksikal maupun semantis. Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya
interferensi yang pertama ialah faktor kontak bahasa disini bahasa-bahasa yang
digunakan dalam masyarakat itu saling berhubungan sehingga perlu digunakan alat
pengungkap gagasan. Faktor tersebut menyebabkan terdapat interferensi
performansi atau interferensi sistemis. Yang kedua ialah faktor kemampuan
berbahasa yang akan mengakibatkan interferensi belajar muncul. Jika kita melihat
dari segi unsur bahasa yang dikuasai terdapat interferensi progesif (interferensi
terjadi dalam bentuk masuknya unsur bahasa yang sudah dikuasai ke bahasa yang
dikuasai sebelumnya) dan interferensi regresif (masuknya unsur bahasa yang
dikuasai kemudian ke bahasa yang sudah dikuasai).

Interferensi Tatabahasa/Morfologi Terjadi apabila seorang penutur mengidentifikasi morfem atau tata bahasa pertama dan kemudian menggunakannya dalam bahasa kedua. dan /j/. kejebak seharusnya terjebak. Faktor utama yang dapat menyebabkan interferensi itu antara lain adalah adanya perbedaan di antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Dalam bahasa Arab ada sufiks -wi dan -ni untuk membentuk adjektif seperti dalam kata-kata manusiawi. inderawi. Penutur dari jawa selalu menambahkan bunyi nasal yang homorgan di muka kata-kata yang dimulai dengan konsonan /b/. Interferensi tata bentuk kata atau morfologi terjadi bila dalam pembentukan kata-kata bahasa pertama penutur menggunakan atau menyerap awalan atau akhiran bahasa kedua. misalnya pada kata:/mBandung/. tahun 2012). /g/. /ngGombong/. kekecilan seharusnya terlalu kecil. /nDaging/. Perbedaan yang tidak saja dalam struktur bahasa melainkan juga keragaman kosakatanya. /mBali/. Jenis Interferensi Interferensi bunyi/Fonetik Interferensi terjadi bila penutur itu mengidentifikasi fonem sistem bahasa pertama (bahasa sumber atau bahasa yang sangat kuat memengaruhi seorang penutur) dan kemudian memakainya dalam sistem bahasa kedua (bahasa sasaran). dia menyesuaikan pengucapannya dengan aturan fonetik bahasa pertama. melainkan kekeliruan yang terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa kedua (Jurnal Humaniora karya Ratrika Dewi. /d/. seharusnya tertabrak. yaitu digunakannya akhiran ne dalam bahasa Bali yang berubah menjadi nya dalam bahasa Indonesia.Dari contoh di atas terjadi interferensi bahasa Bali ke dalam bahasa Indonesia. dan gerejani. kemudian memakainya dalam bahasa sasaran. Tipe . /nDepok/.dalam kata ketabrak. Dalam mengucapkan kembali bunyi itu. Misalnya awalan ke. Hartman dan Stork (1972:15) tidak menyebut interferensi sebagai pengacauan atau kekacauan. Gejala itu sendiri terjadi sebagai akibat pengenalan atau pengidentifikasian penutur terhadap unsur-unsur tertentu dari bahasa sumber. /nyJambi/ dalam pengucapan kata-kata tersebut telah terjadi interferensi tata bunyi bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia.

Interferensi penggantian makna atau replasive interference. Misalnya kata Father dalam bahasa Inggris atau Vater dalam bahasa Jerman menjadi Vati. yakni interferensi yang terjadi karena penggantian kosakata yang disebabkan adanya perubahan makna seperti kata saya yang berasal dari bahasa melayu sahaya. Bisa juga terjadi perluasan pemakaian kata bahasa pertama. Bentuk tersebut merupakan bentuk interferensi karena sebenarnya ada padanan bentuk tersebut yang dianggap lebih gramatikal yaitu: Rumah ayah Ali yang besar di kampung ini. Interferensi Kosakata/Sintaksis Interferensi ini terjadi karena pemindahan morfem atau kata bahasa pertama ke dalam pemakaian bahasa kedua. atau Hal itu saya telah katakan kepadamu kemarin.lain interferensi ini adalah interferensi struktur. Rumahnya ayahnya Ali yang besar sendiri di kampung itu. Interferensi perluasan makna atau expansive interference. atau Makanan itu telah dimakan oleh saya. Padahal terjemahan yang baik tersebut sebenarnya adalah My friend and i tell that story to my father. Bahasa yang mempunyai latar belakang sosial budaya. I and my friend tell that story to my father sebagai hasil terjemahan dari saya dan teman saya menceritakan cerita itu kepada ayah saya. Pada usaha-usaha ‘menghaluskan’ makna juga terjadi interferensi. Misalnya konsep kata Distanz yang berasal dari kosakata bahasa Inggris distance menjadi kosakata bahasa Jerman. Misalnya. Dalam kalimat bahasa Inggris tersebut tampak penggunaan struktur bahasa dalam bahasa Indonesia. yakni penambahan kosakata baru dengan makna yang agak khusus meskipun kosakata lama masih tetap dipergunakan dan masih mempunyai makna lengkap. akan banyak memberi kontribusi kosakata . yakni peristiwa penyerapan unsur-unsur kosakata ke dalam bahasa lainnya. Interferensi Tatamakna/Semantik Interferensi dalam tata makna dapat dibagi menjadi tiga bagian. Interferensi penambahan makna atau additive interference. dan Hal itu telah saya katakan kepadamu kemarin. Makanan itu telah saya makan. Yaitu pemakaian struktur bahasa pertama dalam bahasa kedua. pemakaian yang luas dan mempunyai kosakata yang sangat banyak. yakni memperluas makna kata yang sudah ada sehingga kata dasar tersebut memperoleh kata baru atau bahkan gabungan dari kedua kemungkinan di atas. misalnya: penghalusan kata gelandangan menjadi tunawisma dan tahanan menjadi narapidana. Atau kata democration menjadi Demokration dan demokrasi. Misalnya kalimat dalam bahasa Inggris.

Kata pinjaman atau integrasi telah menyatu dengan bahasa kedua. Tetapi dengan bahasa asing. (2) Interferensi semantik adalah interferensi yang terjadi dalam penggunaan kata yang mempunyai variabel dalam suatu bahasa. sedangkan interferensi belum dapat diterima sebagai bagian bahasa kedua. Bahasa sasaran atau bahasa penyerap (recipient). Dalam tuturan dwibahasawan tersebut muncul unsur-unsur asing sebagai akibat usaha penutur untuk menyatakan fenomena atau pengalaman baru. Ardiana (dalam Interferensi dan Integrasi Bahasa.kurangnya ada tiga unsur penting yang mengambil peranan dalam terjadinya proses interferensi yaitu: Bahasa sumber (source language) atau biasa dikenal dengan sebutan bahasa donor. artinya. harus dibedakan dengan kata pinjaman. yaitu (1) Interferensi kultural dapat tercermin melalui bahasa yang digunakan oleh dwibahasawan. fraseologis dan sintaksis. Bahasa donor adalah bahasa yang dominan dalam suatu masyarakat bahasa sehingga unsur-unsur bahasa itu kerapkali dipinjam untuk kepentingan komunikasi antar warga masyarakat. Dalam proses ini bahasa yang memberi atau memengaruhi disebut bahasa sumber atau bahasa donor. irama penjedaan dan artikulasi. . bahasa indonesia hanya menjadi penerima dan tidak pernah menjadi pemberi. Masuknya unsur leksikal bahasa pertama atau bahasa asing ke dalam bahasa kedua itu bersifat mengganggu. (5) Interferensi gramatikal meliputi interferensi morfologis. unsur bahasa daerah bisa memasuki bahasa indonesia dan bahasa indonesia banyak memasuki bahasa daerah.unsur asing itu dan kemudian menyelaraskan kaidah.kepada bahsa-bahasa yang berkembang dan mempunyai kontak dengan bahasa tersebut.kaidah pelafalan dan penulisannya ke dalam bahsa penerima tersebut.unsur dari bahasa asing menjadi bahasa penerima. Menurut Soewito (1983:59) interferensi dalam bahasa indonesia dan bahasa-bahasa nusantara berlaku bolak balik. 1940:14) membagi interferensi menjadi lima macam. Secara umum. Hal yang dimaksud di sini adalah beralihnya unsur. sedangkan unsur yang diberikan disebut unsur serapan atau inportasi. (4) Interferensi fonologis mencakup intonasi. dan bahasa yang menerima disebut bahasa penyerap atau bahas resepien. (3) Interferensi leksikal.Sekurang. Bahasa penyerap adalah bahasa yang menerima unsur. Unsur serapannya atau importasi (importation).

Interferensi dapat terjadi pada berbagai aspek kebahasaan antara lain. Interferensi produktif atau reseptif pada pelaku bahasa perorangan disebut interferensi perlakuan atau performance interference. Interferensi antarbahasa sekeluarga disebut dengan penyusupan sekeluarga (internal interference) misalnya interferensi bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Interferensi yang seperti ini disebut interferensi reseptif. Setiap bahasa akan sangat mungkin untuk menjadi bahasa sumber maupun bahasa penerima. bahasa penyerap. tata kalimat (sintaksis). Interferensi perlakuan pada awal orang belajar bahasa asing disebut interferensi perkembangan atau interferensi belajar. (2) Interferensi ditinjau dari arah unsur serapan Komponen interferensi terdiri atas tiga unsur yaitu bahasa sumber. Di samping itu. ada pula bahasa yang hanya berkedudukan sebagai bahasa sumber terhadap bahasa lain atau interferensi sepihak. Sedangkan interferensi antarbahasa yang tidak sekeluarga disebut penyusupan bukan sekeluarga (external interference) misalnya bahasa interferensi bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. dan bisa pula menyusup pada bidang tata makna (semantik). Interferensi yang timbal balik seperti itu kita sebut dengan interferensi produktif. yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut. kosakata (leksikon). . Bila interferensi itu sampai menimbulkan perubahan dalan sistem bahasa penerima disebut interferensi sistemik.Interferensi menurut Jendra (1991:106-114) dapat dilihat dari berbagai sudut sehingga akan menimbulkan berbagai macam interferensi antara lain: (1) Interferensi ditinjau dari asal unsur serapan Kontak bahasa bisa terjadi antara bahasa yang masih dalam satu kerabat maupun bahasa yang tidak satu kerabat. Dennes dkk. tata bentukan kata (morfologi). pada sistem tata bunyi (fonologi). (1994:17) yang mengacu pada pendapat Weinrich mengidentifikasi interferensi atas empat. (3) Interferensi ditinjau dari segi pelaku Interferensi ditinjau dari segi pelakunya bersifat perorangan dan dianggap sebagai gejala penyimpangan dalam kehidupan bahasa karena unsur serapan itu sesungguhnya telah ada dalam bahasa penerima. dan bahasa penerima. Pengaruh interferensi terhadap bahasa penarima bisa merasuk ke dalam secara intensif dan bisa pula hanya di permukaan yang tidak menyebabkan sistem bahasa penerima terpengaruh. (4) Interferensi ditinjau dari segi bidang.

Hal itu menyebabkan pengabaian kaidah bahasa penerima yang digunakan dan pengambilan unsur-unsur bahasa sumber yang dikuasai penutur secara tidak terkontrol. Hal itu disebabkan terjadinya kontak bahasa dalam diri penutur yang dwibahasawan. baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Dalam penggantian itu ada aspek dari suatu bahasa disalin ke dalam bahasa lain yang disebut substitusi.(1)Peminjaman unsur suatu bahasa ke dalam tuturan bahasa lain dan dalam peminjaman itu ada aspek tertentu yang ditransfer. atau pengingkaran hubungan ketatabahasaan bahasa B yang tidak ada modelnya dalam bahasa A. baik secara lisan maupun tertulis. serta segi kehidupan lain yang dikenalnya. jika masyarakat itu bergaul dengan segi kehidupan baru dari luar. Oleh karena itu. (3)Penerapan hubungan ketatabahasaan bahasa A ke dalam morfem bahasa B juga dalam kaitan tuturan bahasa B. 2)Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima Tipisnya kesetiaan dwibahasawan terhadap bahasa penerima cenderung akan menimbulkan sikap kurang positif.. Hubungan antar bahasa yang unsur-unsurnya dipinjam disebut bahasa sumber. (4)Perubahan fungsi morfem melalui jati diri antara suatu morfem bahasa B tertentu dengan morfem bahasa A tertentu. antara lain: (1)Kedwibahasaan peserta tutur Kedwibahasaan peserta tutur merupakan pangkal terjadinya interferensi dan berbagai pengaruh lain dari bahasa sumber. 3)Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima Perbendaharaan kata suatu bahasa pada umumnya hanya terbatas pada pengungkapan berbagai segi kehidupan yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan. akan bertemu dan mengenal konsep baru yang dipandang perlu. Sebagai akibatnya akan muncul bentuk interferensi dalam bahasa penerima yang sedang digunakan oleh penutur. sedangkan bahasa penerima disebut bahasa peminjam. yang pada akhirnya dapat menimbulkan interferensi. yang menimbulkan perubahan fungsi morfem bahasa B berdasarkan satu model tata bahasa A Faktor Penyebab Terjadinya Interferensi Selain kontak bahasa. (2)Penggantian unsur suatu bahasa dengan padanannya ke dalam suatu tuturan bahasa yang lain. Karena mereka belum mempunyai . menurut Weinrich (1970:64-65) ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi.

6)Prestise bahasa sumber dan gaya bahasa Prestise bahasa sumber dapat mendorong timbulnya interferensi. Dengan adanya kata yang bersinonim. Kosakata baru yang diperoleh dari interferensi ini cenderung akan lebih cepat terintegrasi karena unsur tersebut memang sangat diperlukan untuk memperkaya perbendaharaan kata bahasa penerima. berarti kosakata bahasa yang bersangkutan akan menjadi kian menipis. Dengan demikian. Faktor ketidak cukupan atau terbatasnya kosakata bahasa penerima untuk mengungkapkan suatu konsep baru dalam bahasa sumber. cenderung dilakukan secara sengaja oleh pemakai bahasa. di satu pihak akan memanfaatkan kembali kosakata yang sudah menghilang dan di lain pihak akan menyebabkan terjadinya interferensi. Jika hal ini terjadi. secara sengaja pemakai bahasa akan menyerap atau meminjam kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkan konsep baru tersebut. yaitu penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber.kosakata untuk mengungkapkan konsep baru tersebut. karena pemakai bahasa ingin menunjukkan bahwa dirinya dapat menguasai bahasa yang dianggap . Apabila bahasa tersebut dihadapkan pada konsep baru dari luar. 4) Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan Kosakata dalam suatu bahasa yang jarang dipergunakan cenderung akan menghilang. kebutuhan kosakata yang bersinonim dapat mendorong timbulnya interferensi. lalu mereka menggunakan kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkannya. yakni sebagai variasi dalam pemilihan kata untuk menghindari pemakaian kata yang sama secara berulang-ulang yang bisa mengakibatkan kejenuhan. yaitu unsur serapan atau unsur pinjaman itu akan lebih cepat diintegrasikan karena unsur tersebut dibutuhkan dalam bahasa penerima. 5) Kebutuhan akan sinonim Sinonim dalam pemakaian bahasa mempunyai fungsi yang cukup penting. Interferensi yang disebabkan oleh menghilangnya kosakata yang jarang dipergunakan tersebut akan berakibat seperti interferensi yang disebabkan tidak cukupnya kosakata bahasa penerima. pemakai bahasa sering melakukan interferensi dalam bentuk penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber untuk memberikan sinonim pada bahasa penerima.Interferensi yang timbul karena kebutuhan kosakata baru. cenderung akan menimbulkan terjadinya interferensi. Karena adanya sinonim ini cukup penting. pemakai bahasa dapat mempunyai variasi kosakata yang dipergunakan untuk menghindari pemakaian kata secara berulang-ulang.

Salah satu proses integrasi adalah peminjaman kata dari satu bahasa ke dalam bahasa lain.berprestise tersebut. baik bahasa nasional maupun bahasa asing. Integrasi Integrasi adalah penggunaan unsur bahasa lain secara sistematis seolah-olah merupakan bagian dari suatu bahasa tanpa disadari oleh pemakainya (Kridalaksana: 1993:84). jika unsur tersebut belum tercantum dalam kamus bahasa penerima unsur itu belum terintegrasi. ukuran yang digunakan untuk menentukan keintegrasian suatu unsur serapan adalah kamus. sedangkan integrasi sudah menetap dan diakui sebagai bagian dari bahasa penerima. masalah integrasi merupakan masalah yang sulit dibedakan dari interferensi. maka terjadilah integrasi. Hal ini dapat terjadi pada dwibahasawan yang sedang belajar bahasa kedua. pada umumnya terjadi karena kurangnya kontrol bahasa dan kurangnya penguasaan terhadap bahasa penerima. Prestise bahasa sumber dapat juga berkaitan dengan keinginan pemakai bahasa untuk bergaya dalam berbahasa. jika suatu unsur serapan atau interferensi sudah dicantumkan dalam kamus bahasa penerima. Chair dan Agustina (1995:168) mengacu pada pendapat Mackey. Berkaitan dengan hal tersebut. Dalam proses integrasi unsur serapan itu telah disesuaikan dengan sistem atau . Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa interferensi masih dalam proses. Interferensi yang timbul karena faktor itu biasanya berupa pamakaian unsur-unsur bahasa sumber pada bahasa penerima yang dipergunakan 7)Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu pada bahasa penerima yang sedang digunakan. pemakai bahasa kadang-kadang kurang kontrol. Dalam penggunaan bahasa kedua. Tidak dianggap lagi sebagai unsur pinjaman atau pungutan. menyatakan bahwa integrasi adalah unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi bagian dari bahasa tersebut. Dalam hal ini. Oleh sebagian sosiolinguis.Weinrich (1970:11) mengemukakan bahwa jika suatu unsur interferensi terjadi secara berulang-ulang dalam tuturan seseorang atau sekelompok orang sehingga semakin lama unsur itu semakin diterima sebagai bagian dari sistem bahasa mereka. dapat dikatakan unsur itu sudah terintegrasi. Karena kedwibahasaan mereka itulah kadang-kadang pada saat berbicara atau menulis dengan menggunakan bahasa kedua yang muncul adalah kosakata bahasa ibu yang sudah lebih dulu dikenal dan dikuasainya. Sebaliknya.

apakah hanya bahasa “kaya” yang bisa menjadi donor. 1995:167). ia membuat bagan sebagai berikut: Sehubungan dengan adanya bahasa yang “kaya” dengan kosakata. dan bahasa yang masih bekembang yang kosakatanya belum banyak.3 Nop. Penelitian sederhana ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa menggunakan interfensi dan campur kode dalam penggunaan bahasa dalam keseharian mereka. oleh Soepomo Poedjosoedarmo). dengan lebih dulu memberi keterangan bahwa interferensi mengandung pengertian penyusunan kembali pola-pola bahasa donor menurut system bahasa penyerap. . Kaitan interferensi dan integrasi dalam pembelajaran bahasa Roman Jakobson (1972: 491) memberikan keterangan bahwa interferensi dan juga integrasi hanya akan berpengaruh terhadap sistem bahasa sepanjang ada kemungkinan pembaharuan dalam system bahasa penerima itu. 28 Okt. Penyesuaian bentuk unsur integrasi itu tidak selamanya terjadi begitu cepat. Menurut logika.kaidah bahasa penyerapnya. sehingga tidak terasa lagi keasingannya. Jangka waktu penyesuaian unsur integrasi tergantung pada tiga faktor antara lain (1) perbedaan dan persamaan sistem bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya. timbul pertanyaan. dan (3) sikap bahasa pada penutur bahasa penyerapnya (dalam jurnal ilmiah dengan judul Interferensi dan integrasi dalam situasi keanekabahasaan. ataukah sebaliknya : bahasa “miskin” juga bisa menjadi donor pada bahasa “kaya”. memang hanya bahasa kayalah yang memunyai peluang . Sikap penutur bahasa penyerap merupakan faktor kunci dalam kaitan penyesuaian bentuk serapan itu. memberikan penegasan bahwa bagaimanapun juga sedikit atau banyak peristiwa interferensi itu akan mempunyai pengaruh bagi system bahasa penyerapnya. dan bahasa “miskin” hanya menjadi resipien. sedangkan Weinreich (1968: 1-2). Pemakaian bahasa dalam dunia pembelajaran tidak bisa lepas sepenuhnya dari interferensi dan campur kode dari bahasa lain. kongres bahasa Indonesia ke-3 pada tg. Proses penyesuaian unsur integrasi akan lebih cepat apabila bahasa sumber dengan bahasa penyerapnya memiliki banyak persamaan dibandingkan unsur serapan yang berasal dari bahasa sumber yang sangat berbeda sistem dan kaidah-kaidahnya. Menurut Soewito (dalam Chaer dan Agustina. Cepat lambatnya unsur serapan itu menyesuaikan diri terikat pula pada segi kadar kebutuhan bahasa penyerapnya. bisa saja berlangsung agak lama. apakah sangat dibutuhkan atau hanya sekedarnya sebagai pelengkap. (2) unsur serapan itu sendiri. 1978 di Jakarta.

madura. bahwa kenyataanya bahasa yang dianggap miskin juga dapat menjadi donor kosakata pada bahasa kaya. bahasa indonesia hanya menjadi penerima dan tidak pernah menjadi pemberi. maka dapat dikatakan tidak sejalan dengan pendapat tersebut. . Karena dari contoh data yang diambil juga. para mahasiswa yang terlibat komunikasi. dan tak berpeluang menjadi bahasa donor. (5) “Saiki ditulis!” (saiki: Jawa = sekarang: Indonesia) Termasuk interferensi dalam bidang leksikal dalam bentuk kata dasar. dan sebagainya. (mantenan: Jawa=pernikahan: Indonesia) (2) “Yang lain ada ndak?” (Ndak: Jawa= tidak: Indonesia) Interferensi ini termasuk interferensi di bidang tata bahasa. (7) “Entar…” (entar: dialek Betawi= nanti: Indonesia) (8) “Karena selesai pulang langsung seger Contoh : “Saya belum dapat baca bukunya!” (ketika siswa menjawab pertanyaan guru mengenai kesediaan siswa menjelaskan isi sebuah buku) Temuan menarik terkait interferensi dan integrasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia Tetapi dengan bahasa asing. untuk menjadi donor. bisa disimpulkan bahwa interfensi leksikal bukanlah ditentukan oleh kaya dan miskinnya suatu bahasa.” Interferensi ini termasuk interferensi di bidang leksikal. baik itu usia anak maupun usia deawa dalam bahasa tuturan. (6) “Alat apa yang digunakan?” “Garisan. masing-masing berlatar belakang budaya yang berbeda. (1) “Ada undangan mantenan atau ada undangan apa sehingga lupa belajarnya. melainkan oleh pengaruh budaya masyarakat bahasa yang melekat pada bahasa itu.. pulpen” (garisan: Jawa = penggaris atau mistar: Indonesia) Interferensi ini termasuk interferensi dalam bidang tata bahasa yaitu pada penggunaan kata dasar. ada jawa. (4) Masa ndak ada Mantovani yang lain?” (Ndak: Jawa= tidak: Indonesia) Termasuk interferensi di bidang tata bahasa. sedangkan bahasa miskin hanya sebagai resipien. dalam kenyataannya. Namun. Bentuk-bentuk interferensi dalam proses pengajaran di SMP Banyak ditemukan interferensi pada dwibahasawan yang sangat kuat dengan bahasa ibunya. karena bahasa itu erat kaitannya dengan budaya masyarakat penuturnya. (3) “Ndak mau?” (Ndak: Jawa= tidak: Indonesia) Termasuk interferensi di bidang tata bahasa. Jadi. Begitu juga dapat dilihat dari bahasa lisan yang digunakan oleh guru pada waktu mengajar.

Saya ambil contoh kata ‘padi’ yang dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan secara langsung menjadi ‘paddy. padahal sudah jarang dipergunakan di Indonesia. diadopsi dari bahasa Indonesia untuk istilah lebaran. Hal itu misalnya antara lain bisa ditemukan di komplek pekuburan Spaanchemat River Muslim Cemetry di daerah Constantia yang sudah agak pinggiran Cape Town. Walau asal bahasa itu aslinya dari bahasa Arab. Bahasa Indonesia banyak mengadopsi perbendaharaan kata dari beberapa bahasa asing. barokah. Dikemudian hari. masih disebut barakat atau istilah Indonesia yang disebut berkat. Bahasa ini kemudian dibakukan sebagai bahasa persatuan didalam Sumpah Pemuda tertanggal 28 Oktober 1928. dapat mengubungi ‘tuwang koeber’ atau tuan kubur. misalnya bahasa Belanda dan bahasa Inggris.com).Sejumlah kosakata bahasa Indonesia masih dipergunakan di Afrika Selatan. Demikian juga ‘maniengal’ yang artinya meninggal. UUD 45. marilah kita sedikit bermain-main dari kekayaan kosakata bahasa kita. dan UUDS 1950 adalah ketetapan negara yang pernah disahkan dalam era Orde Lama. Kalimat itu menjadi bahasa lokal yang kerap terdengar. messang. Ada beberapa kata yang demikian sering dipakai. UUD RIS. Istilah seperti labarang. Di papan pengumuman yang terpampang di pintu masuk disebutkan. Demi mengulas kebhinnekaan dalam perbendaharaan kita. Kompas. terutama di Cape Town. Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah sejak lama menduduki fungsi dasar sebagai urat nadi pemersatu dari bangsa Indonesia yang terdiri lebih dari tiga belas ribu pulau tersebut. (Sumber: Artikel “Bahasa Indonesia Mendunia. jika berkepentingan dengan pemakaman. nisan dan kubur. puasa atau terkadang ditulis pwasa. dan boeka puasa atau boeka pwasa yang artinya juga buka puasa. Sementara makanan yang dibawa dari rumah yang melakukan kegiatan. dan koeber. Kedudukan Bahasa Indonesia tetap tak tergoyahkan sebagai bahasa nasional kita didalam perundang-undangan negara Indonesia walaupun kita mengalami tiga macam perubahan dalam sistem perundang-undangan negara kita.’ Namun bagaimana halnya dengan kata ‘gabah’ untuk padi yang sudah digiling? Bagaimana dengan kata ‘kerak’ untuk melambangkan nasi yang sudah menjadi . misalnya ‘minta maaf’ dan ‘tarima kasih’. Bahasa Yang Malu-malu Namun Tidak Memalukan Seperti yang tersebut diatas bahwa Bahasa Indonesia yang kita agung-agungkan tersebut berasal dari Bahasa Melayu Tinggi (begitu orang Belanda menyebutnya) yang berakar dari bahasa Sansekerta. yakni jamang yang sama maknanya dengan kata jamban. Bahkan ada kosakata yang masih dipakai di Cape Town.

Kata deng menurut penutur berarti dengan. misalnya adanya interferensi bahasa Bali ke dalam bahasa Indonesia Garamnya sudah habis.’ yang jelas-jelas telah disadap dari bahasa kita sendiri? Bagaimana mungkin mereka akan mensubstitusikan ‘orang utan’ dengan ‘jungle man. uyahe sube telah.kering? Adakah kata yang tepat didalam American Webster Dictionary untuk melukiskan kata-kata tersebut? Jika kita sendiri malu akan bahasa nasional kita. Sementara bahasa lisan tidak dipengaruhi oleh bahasa pertama anak-anak. untuk makna dengan itu digunakan kata dengang. Namun. Tetapi dalam penelitian yang dilakukan Sifa Masnaif. Perbedaan dalam hal usia juga tidak menentukan kemampuan anak dalam BI tulis dan lisan. binatang? 78 % hasil penelitian mengngkapkan bahwa dalam pembelajaran bahasa. oh maaf. Contoh dia pigi deng ana lai lari. penutur beranggapan bahwa deng itu merupakan bentuk ringkas dari dengan dalam bahasa Indonesia. tidak bisa ditelusuri dalam penelitian ini apakah sikap bahasa anak berpengaruh terhadap kemampuan BI lisan dan tulis mereka (PENGARUH BAHASA PERTAMA TERHADAP KEMAMPUAN BAHASA INDONESIA LISAN DAN TULIS ANAK-ANAK MINANGKABAU. Perilaku berbahasa anak yang berbeda berdasarkan gender tidak memengaruhi kemampuan Bahasa Indonesia lisan dan tulis anak-anak. Bahasa Indonesia yang dipelajari sebagai bahasa kedua di Ambon. padahal dalam bahasa asli Ambon. tahun 2010 yang berjudul Interferensi sintaksis bahasa Indonesia dalam bahasa Melayu Ambon pada tulisan nonilmiah dapat saya ungkap simpulannya adalah interferensi antara BI dan BMA sebenarnya merupakan interferensi yang bertolak belakang dengan interferensi yang lazim terjadi. RINA MARNITA .’ sementara si Tarzan akan berteriak-teriak minta keadilan ketika mengetahui gelar ningratnya diambil orang. menjadi bahasa yang memberikan pengaruh pada BMA. melainkan bisa juga muncul pada tataran bahasa tulis. apakah kita juga malu jika kita bertemu orang asing yang mengekspresikan betapa nikmatnya ‘durian’ atau betapa uniknya ‘orang utan. Dari hasil uji statistik terhadap data-data yang dikumpulkan di lapangan tampak bahwa bahasa pertama memengaruhi bahasa tulisan anak-anak Minang dalam hal gaya bahasa (style) dan susunan kalimat (syntax). berasal dari kaidah bahasa Bali. interferensi itu muncul bukan hanya pada tataran bahasa lisan saja. khususnya yang berkaitan dengan interferensi dinyatakan bahwa bahasa pertama yang dikuasai cenderung menghadirkan interferensi pada pemakaian bahasa yang merusak kaidah bahasa yang digunakan.

Penyadaran ini dapat dilakukan oleh para orang tua di rumah kepada anak-anak mereka. Tetapi serpihan-serpihan berupa klausa dari bahasa lain dalam suatu kalimat bahasa lain masih bisa dianggap sebagai peristiwa campur kode dan juga interferensi. Kontribusi utama interferensi yaitu bidang kosakata. Cara menanamkannya dapat dilakukan di rumah. pihak pemerintah dapat bertindak secara bijak dalam menyadarkan masyarakat untuk mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia di negara kita. Kedua. Dengan contoh-contoh di atas maka dapat dibedakan antara campur kode dengan inteferensi. maka ada hal-hal yang perlu dilakukan. interferensi dapat merusak bahasa. . Bahkan Hocket (1958) mengatakan bahwa interferensi merupakan suatu gejala terbesar. Dapat pula dilakukan oleh para guru kepada para siswa mereka. dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Hal-Hal yang Perlu Dilakukan Sehubungan dengan semakin meningkatnya tingkat interfensi bahasa yang terjadi di Indonesia.DAN LUCY SURAIYA) Banyak yang berpendapat bahwa interferensi dan campur kode adalah sesuatu yang sama. tetapi penyebutannya berbeda. Sebagai contoh. Selain itu. maka perlu adanya tindakan nyata dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional. Berkaitan dengan interferesi ke dalam bahasa Indonesia tersebut di atas. pemerintah menerbitkan Undang-Undang Kebahasaan. Dari segi kemurnian bahasa. Campur kode mengacu pada penggunaan serpihan bahasa lain dalam suatu bahasa. Dari segi pengembangan bahasa. interferensi merupakan suatu mekanisme yang sangat penting untuk memperkaya dan mengembangkan suatu bahasa untuk mencapai taraf kesempurnaan bahasa sehingga dapat digunakan dalam segala bidang kegiatan. terpenting dan paling dominan dalam bahasa. bahasa persatuan. menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para generasi penerus bangsa ini bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional harus kita utamakan penggunaannya. sedangkan interferensi mengacu pada penyimpangan dalam penggunaan suatu bahasa dengan memasukkan sistem bahasa lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang dapat kita gunakan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan penggunaan bahasa Indonesia. Pertama.

baik film. Ketiga. dan juga dalam bentuk penulisan sastra seperti cerita pendek dan puisi. penulisan artikel dan makalah. dalam bentuk diskusi kelompok.maupun karangan yang berbentuk tulisan lainnya. Dengan praktik-praktik berbahasa Indonesia tersebut. pemerintah Indonesia harus menekankan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam cerita fiksi. Keempat. meningkatkan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan di perguruan tinggi. masyarakat luas juga akan mengunakan bahasa Indonesia seperti para idola mereka tersebut. dan di masyarakat. Para siswa dan mahasiswa dapat diberikan tugas praktik berbahasa Indonesia dalam bentuk dialog dan monolog pada kegiatan bermain drama. Dengan penggunaan bahasa Indonesia secara benar oleh misalnya para pelaku dalam film nasional yang diperankan aktor dan aktris idola masyarakat. dapat mengembangkan kreativitas berbahasa Indonesia mereka dan juga dapat membiasakan mereka berbahasa Indonesia secar baik dan benar. .sekolah.