You are on page 1of 28

BAGIAN ILMU BEDAH REFLEKSI KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN FEBRUARI 2017
UNIVERSITAS TADULAKO

“TUMOR KOLON”

Disusun Oleh :
Nama : William Bunga Datu
NIM : N 111 14 022
Pembimbing Klinik : dr. Roberthy David Maelissa, Sp.B, FINACS

BAGIAN ILMU BEDAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU

0

PENDAHULUAN

Tumor adalah setiap benjolan abnormal pada tubuh tanpa melihat
penyebabnya. Dalam arti sempit, tumor disebut juga neoplasma dapat bersifat
ganas atau jinak. Kanker kolorektal merupakan masalah kesehatan utama di
negara maju dan semakin banyak upaya yang dilakukan untuk mengidentifikasi
keadaan ini lebih dini pada individu yang diduga berisiko. Kanker kolorektal
merupakan terminologi untuk kanker yang dimulai dari kolon atau rektum.
Kanker kolon dan kanker rektal memiliki beberapa bentuk. Hal ini disebabkan
oleh pertumbuhan abnormal sel-sel yang memiliki kemampuan untuk menyerang
atau menyebar ke bagian lain dari tubuh.1,2,3
Insiden karsinoma kolon dan rektum di Indonesia cukup tinggi, demikian
juga angka kematiannya. Insiden pada pria sebanding dengan wanita, dan lebih
banyak pada orang muda. Sekitar 75% ditemukan di rektosigmoid. Di negara
barat, perbandingan insiden lelaki : perempuan = 3:1, kurang dari 50% ditemukan
di rektosigmoid, dan merupakan penyakit orang usia lanjut. Pemeriksaan colok
dubur merupakan penentu karsinoma rektum2.
Kanker kolorektal merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas
di dunia. Dinilai bahwa terjadi lebih dari 9% dari seluruh insiden kanker.
Merupakan kanker dengan urutan ketiga yang paling banyak terjadi di dunia dan
urutan keempat penyebab kematian. Terjadi pada laki-laki dan perempuan dengan
jumlah yang hampir sama, dengan lebih dari 1 juta kasus tercatat pada tahun
2002. Negara dengan insidensi tertinggi adalah Asutralia, New Zealand, Kanada,
United States dan bagian-bagian Eropa. Negara dengan insidensi terendah
meliputi Cina, India dan bagian Afrika dan Amerika Selatan.4
Kanker kolorektal tidak memiliki gejala yang khas. Pasien dapat
mengeluhkan adanya gejala anemia, buang air besar dengan darah segar, nyeri
abdomen, perubahan pola buang air besar, anoreksia, kehilangan berat badan,
mual, muntah atau kekelahan. Gejala ini dapat terjadi pada tumor jinak ataupun
ganas.5

1

Kolon transversum dan kolon sigmoideum terletak intraperitoneal dan dilengkapi dengan mesenterium. sedangkan kolon kiri sampai dengan rektum berasal dari usus belakang. 3. TINJAUAN PUSTAKA I. Usus tengah membentuk lengkung usus primer. pankreas dan perangkat saluran empedu dari pertumbuhan epitel endoderm bagian atas duodenum. 2. kolon kanan berasal dari usus tengah. appendix. trakea dan tunas paru. Pecahnya membrana kloakalis yang menutupi bagian ini menghasilkan komunikasi ke bagian eksterior bagi anus dan sinus urogenitalis. kolon sigmoideum dan 2 . kolon transversum. usus depan. jaringan ikat. terbentuk hati. komponen otot. menghasilkan duodenum distal dari muara duktur biliaris dan berlanjut hingga ke taut antara dua pertiga proksimal kolon transversum dengan sepertiga distalnya. yang lebih pendek dari kolon itu sendiri sehingga kolon berlipat-lipat dan berbentuk seperti sakulus yang disebut haustra. Diferensiasi usus dan turunannya bergantung pada interaksi timbal- balik antara endoderm usus (epitel) dan mesoderm sekitarnya. Sistem usus berjalan dari membrana bukofaringealis hingga membrana kloakalis dan dibagi menjadi usus faring. kolon descendens. Intestinum crassum atau usus besar terdiri dari caecum. Usus depan membentuk esofagus. Embriologi dan Anatomi Kolon Secara embriologik. Usus belakang membentuk bagian dari sepertiga distal kolon transversum hingga ke bagian atas kanalis analis berasal dari ektoderm. Selain itu. kolon ascendens. dan komponen peritoneum berasal dari endoderm. Lapisan otot longitudinal kolon membentuk tiga buah pita. Usus faring membentuk faring dan kelenjar-kelenjar terkait. Usus belakangh masuk ke bagian posterior kloaka (bakal kanalis anorekatlis) dan alantois masuk ke bagian anteriornya (bakal sinus urogenitalis).1 Epitel sistem pencernaan dan parenkim turunan-turunannya berasal dari endoderm. lambung dan duodenum proksimal dari muara duktus biliaris. usus tengah dan usus belakang. yang disebut tinea.6 1.

Jadi letak colon ascendens ini retroperitoneal. sedangkan bagian kiri lebih bebas. kira-kira 15 cm 3 . Fungsi utamnya adalah mengabsorbsi air dan elektrolit dan menyimpan bahan yang tidak dicerna sampai dapat dikeluarkan dari tubuh sebagai feces. juga lebih tajam sudutnya dan kurang mobile. berjalan dari flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. kadang kadang dinding dorsalnya langsung melekat pada dinding dorsal abdomen yang ditempati muskulus quadratus lumborum dan ren dextra. dimulai dari caecum pada fossa iliaca dextra sampai flexura coli dextra pada dinding dorsal abdomen sebelah kanan.7 Batas antara kolon dan rektum tampak jelas karena pada rektum ketiga tinea tidak tampak lagi. hanya bagian ventral ditutup peritoneum visceral. Colon sigmoid melanjutkan diri kedalam rectum pada dinding mediodorsal pada aditus pelvis di sebelah depan os sacrum.7 Colon ascendens panjangnya sekitar 13 cm. Flexura coli sinistra letaknya lebih tinggi daripada yang kanan yaitu pada polus cranialis ren sinistra. dan terletak didalam fossa iliaca sinistra. bila kosong lebih pendek dan lipatannya ke arah ventral dan ke kanan dan akhirnya ke dorsal lagi. Terletak retroperitoneal karena hanya dinding ventral saja yang diliputi peritoneum. bila terisi penuh dapat memanjang dan masuk ke dalam cavum pelvis melalui aditus pelvis. Flexura coli dextra erat hubunganya dengan facies visceralis hepar (lobus dextra bagian caudal) yang terletak di sebelah ventralnya.7 Colon descendens panjangnya sekitar 25 cm. dimulai dari flexura coli sinistra sampai fossa iliaca sinistra dimana dimulai colon sigmoideum. terletak pada muskulus quadratus lumborum dan erat hubungannya dengan ren sinistra.7 Colon sigmoideum mempunyai mesosigmoideum sehingga letaknya intraperi toneal. Colon sigmoid membentuk lipatan-lipatan yang tergantung isinya didalam lumen. terletak di sebelah ventral ren dextra. Batas ini terletak dibawah ketinggian promontorium.7 Colon transversum panjangnya sekitar 38 cm. rektum serta anus. Bagian kanan mempunyai hubungan dengan duodenum dan pankreas di sebelah dorsal. Radix mesosigmoid mempunyai perlekatan yang variabel pada fossa iliaca sinistra.

metastase yang berasal dari keganasan rektum dan anus dapat ditemukan di paru sedangkan yang berasal dari kolon ditemukan di hati.hemoroidalis superior. Aliran darah vena disalurkan melalui v. kemungkinan besar belum ada metastasis. mengikuti arteria regional ke nodi limfatisi preaorta pada pangkal arteri mesenterika superior dan inferior.kolika media. Lesi pada kolon bagian kanan yang berasal dari usus tengah terasa mula-mula pada epigastrium atau di atas pusat. Nyeri dari lesi pada kolon desendens atau sigmoid yang berasal dari usus belakang terasa mula-mula di hipogastrium atau di bawah pusat. Keduanya bermuara kedalam v.kolika sinistra.2 Aliran limfe kolon sejalan dengan aliran darahnya. hal ini penting diketahui sehubungan dengan penyebaran keganasan dan kepentingannya dalam reseksi keganasan kolon.ileokolika.2 Pembuluh vena kolon berjalan paralel dengan arterinya.mesenterica inferior melalui v. nyeri alih pada kedua bagian kolon kiri dan kanan berbeda. dan sebagian besar rektum didarahi oleh a.mesenterika superior untuk kolon ascenden dan kolon transversum. Pertemuan ketiga tinea di daerah sekum menunjukkan panggkal appendiks bila appendiks tidak jelas karena perlengketan. kolon sigmoid. yaitu a. aliran vena dari kanalis analis menuju ke v. dan a.mesenterika inferior untuk kolon descenden. jika suatu keganasan belum mencapai muskularis mukosa. dan bagian kanan kolon transversum diperdarahi oleh cabang arteri mesenterica superior.lienalis.2 Kolon dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut parasimpatis yang berasal dari nervus vagus. kolon asendens. Karena distribusi persarafan usus tengah dan usus belakang.kava inferior. Oleh karena itu. Kolon transversum bagian kiri. a. a.mesenterika inferior melalui a.2 Sekum. sumber aliran limfe terdapat pada muskularis mukosa.dari anus.2 4 . jadi. Pada batas rektum dan anus terdapat banyak kolorektal arteri dan vena melalui peredaran hemoroidal antara sistem pembuluh saluran cerna dan sistem arteri dan vena iliaka.porta.kolika dekstra. tetapi v.sigmoid. dan melalui v. sigmoid dan rektum. kolon descenden. dan a.

Vaskularisasi Kolon1 II.kolika dextra. Tumor karsinoid kecil umumnya tidak bertanda. (6) a. sedangkan karsinoid yang lebih besar di kolon kanan atau rektum menyebabkan tanda lokal dan bermetastasis ke hati. b. Polip Polip berasal dari epitel mukosa dan merupakan neoplasma jinak terbanyak dikolon dan rektum. yang juga diketahui sebagai usus besar. (9) a. Terdapat polip yang bertangkai dan tidak bertangkai.ileokolika. Lipoma Secara radiografikl. mukosa terlihat utuh. Kolika sinistra. (7) a. tetapi secara endoskopik. biasanya di rektum. lipoma biasanya sukar dibedakan dari tumor ganas. (11) batas antara usus tengah dan usus belakang.mesenterika inferior. (2) a. Kanker berkembang lebih jarang pada usus halus dibandingkan dengan di kolon atau rektum. Gambar 1.8 1. Adapun pembagian neoplasma sebagai berikut :2. Neoplasma Jinak a. (10) a. (3) a. (5) duodenum bagian horisontal.mesenterika superior. (8) bifukartio aorta. Kolon dan rektum merupakan bagian dari sistem digesti yang juga disebut dengan sistem gastrointestinal. (1) a.kolika media. (4) a. dan jika ada. Sigmoidea.rektalis superior. c. Tumor karsinoid Tumor karsinoid jarang ditemukan. Diantara polip kolon ada yang berpotensi ganas. Lipoma 5 . Definisi Kanker kolorektal berkembang di kolon atau di rektum.

Derajat histologi dibuat bedasarkan morfologi intisel. Radang kronik kolon. Eksisi dilakukan bila bergejala. Secara makroskopis terdapat tiga tipe karsinoma kolon dan rektum. ada tidaknya pola tubuler dari sel tumor. Neoplasma Ganas Berbagai polip kolon dapat berdegenerasi menjadi maligna sehingga setiap polip kolon harus dicurigai. 2. umumnya asimtomatik tetapi dapat menyebabkan obstruksi. seperti kolitis ulserosa atau kolitis amuba kronik. Tipe polipoid atau vegetatif tumbuh menonjol ke dalam lumen usus. Limfoma Non-Hodgkin agak sering disertai defisiensi imun. sigmoid dan rektum. Limfoma Merupakan tumor ganas selain karsinoma yang agak jarang ditemukan di kolon. juga berisiko tinggi menjadi maligna. Klasifikasii Dukes dibagi berdasarkan dalamnya infiltrasi karsinoma ke dinding usus. d. Klasifikasi Derajat tumor dikatakan dapat memprediksi prognosis dari kankerkolorektal. Tipe skirus mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi stenosis dan gejala obstruksi. 6 . Derajat keganasan karinoma kolorektal sesuai dengan gambaran histologiknya. Bentuk ulseratif terjadi karena nekrosis di bagian sentral terdapat di rektum. Stadium pertumbuhan karsinoma dibagi menurut klasifikasi Dukes. bentuk komponen glandular.1 III. Tumor kaposi umumnya didapat pada penyakit AIDS. terutama di kolon desendens. berbentuk bunga asendens.

dan ginjal. Struktur yang berdekatan. Tabel 1.Patogenesis Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang berkembang dari polyp adenoma. Pertumbuhan tumor secara tipikal tidak terdeteksi. submukosa. Awalnya sebagai nodul. otak. Metastasis ke kelenjar getah bening regional sering berasal dari penyebaran tumor. dan dinding luar usus. seperti hepar. Pada saat timbul gejala. meskipun umumnya masih terjadi di rektum dan kolon sigmoid. penyakit mungkin sudah menyebar kedalam lapisan lebih dalam dari jaringan usus dan oragan-organ yang berdekatan. Klasifikasi Dukes1 IV. bisa saja kelenjar yang jauh sudah dikenai namun kelenjar regional masih normal. limpa. menimbulkan beberapa gejala. “Penyemaian” dari tumor ke area lain dari rongga peritoneal dapat terjadi bila tumor meluas melalui serosa atau selama pemotongan pembedahan. paru-paru. usus halus. dan dinding abdominal juga dapat dikenai oleh perluasan. kurvatura mayor lambung. pankreas. Sel-sel kaner dari tumor primer dapat juga menyebar melalui sistem limpatik atau sistem sirkulasi ke area sekunder seperti hepar. saluran genitourinary. duodenum. 7 . Insidensi tumor dari kolon kanan meningkat. tulang. Tanda ini tidak selalu terjadi. Kanker kolorektal menyebar dengan perluasan langsung ke sekeliling permukaan usus.

2 Kanker kolon dan rectum terutama (95%) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus) dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. obstruksi. Perdarahan akut jarang di alami. perdarahan atau akibat penyebaran. terlebih karena feses sudah menjadi padat. demikian juga nyeri di daerah panggul berupa tanda penyakit lanjut. feses makin menipis.2 V. Gejala dan tanda dini karsinoma kolorektal tidak ada. yaitu dari usus tengah dan usus belakang. sedangkan dari kolon kanan di epigastrium. Karsinoma kolon kiri sering bersifat skirotik sehingga lebih banyak menimbulkan stenosis dan obstruksi. gejala pertama timbul karena penyulit. Makin ke distal letak tumor.2 Karsinoma kolon kiri dan rektum menyebabkan perubahan pola defekasi. yaitu gangguan faal usus. Tenesmi merupakan gejala yang biasa didapatkan pada karsinoma rektum. seperti konstipasi atau defekasi dengan tensmi. Umumnya.2 8 . Nyeri pada kolon kiri lebih nyata daripada kolon kanan. Gambaran Klinis Gejala klinis karsinoma pada kolom kiri berbeda dengan kanan. Karena pola pertumbuhan lamban. atau lebih cair disertai darah atau lendir. jarang terjadi stenosis dan feses masih cair sehingga tidak ada faktor obstruksi. 5 sampai 15 tahun sebelum muncul gejala. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke dalam tubuh yang lain (paling sering ke hati). atau seperti kotoran kambing. Nyeri dari kolon kiri bermula di bawah umbilikus. Tempat yang dirasa nyeri berbeda karena asal embriogenik yang berlainan. kanker usus sering tanpa gejala hingga tahap lanjut. Pada karsinoma kolon kanan.

Flexible sigmoidoscopi tidak dianjurkan digunakan untuk indikasi terapeutik polipektomi. Gambar 2. kecuali pada keadaan khusus. Kolonoskopi Kolonoskopi dapat digunakan untuk menunjukan gambaran seluruh mukosa kolon dan rectum. seperti pada ileorektal anastomosis. Flexible Sigmoidoskopi Flexible sigmoidoscopi dapat menjangkau 60 cm kedalam lumen kolon dan dapat mencapai bagian proksimal dari kolon kiri. Beberapa pilihan yang direkomendasikan untuk skrining kanker kolorektal pada laki-laki dan perempuan usia 50 tahun dan lebih tua dengan risiko adalah sebagai berikut : 1. Pemeriksaan Penunjang Pada tahun 2008. 2. Sebuah standar kolonoskopi panjangnya dapat 9 . Lima puluh persen dari kanker kolon dapat terdeteksi dengan menggunakan alat ini. kauterisasi dan semacamnya. American Cancer Society berkolaborasi dengan American College of Radiology dan US Multi-Society Task Force on Colorectal Cancer mempublikasi acuan untuk skrining kanker kolorektal. Nyeri Viseral Kolon2 VI.

Kanker mungkin hanya akan 10 . sedangkan perforasi merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi diagnostik. Kolonoskopi merupakan cara yang sangat berguna untuk mendiagnosis dan manajemen dari inflammatory bowel disease. striktur kolon dan neoplasma. komplikasi anestesi dan perforasi) hanya muncul kurang dari 0. Fecal Occult Bleeding test (FOBT) Tes ini akan mendeteksi 20 mg hb/gr feses. yang akan mendeteksi 5-10 mg hb/gr feses. yang sensitifitasnya mencapai 90% dalam mendeteksi polip yang berukuran >1 cm. Tes imunofluorosensi dari occult blood mengubah hb menjadi porphirin berfluorosensi.2% pada pasien. sigmoid volvulus. karena semua sumber perdarahan akan menghasilkan hasil positif. Barium Enema Tehnik yang sering digunakan adalah dengan memakai double kontras barium enema. 3. atau digunakan sebagai pemantauan jangka panjang pada pasien yang mempunyai riwayat polip atau kanker yang telah di eksisi. non akut divertikulitis. Terdapat berbagai masalah yang perlu dicermati dalam menggunakan tes occult blood untuk screening. lebih baik daripada barium enema yang keakuratannya hanya sebesar 67%. mencapai 160 cm. Komplikasi lebih sering terjadi pada kolonoskopi terapi daripada diagnostik kolonoskopi. mengontrol perdarahan dan dilatasi dari striktur. perdarahan merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi terapeutik. polipektomi. Kolonoskopi merupakan prosedur yang sangat aman dimana komplikasi utama (perdarahan. Hasil false negatif dari tes ini sangat tinggi. 4. Kolonoskopi merupakan cara yang paling akurat untuk dapat menunjukkan polip dengan ukuran kurang dari 1 cm dan keakuratan dari pemeriksaan kolonoskopi sebesar 94%. megakolon non toksik. gastrointestinal bleeding. Tehnik ini jika digunakan bersama-sama fleksibel sigmoidoskopi merupakan cara yang hemat biaya sebagai alternatif pengganti kolonoskopi untuk pasien yang tidak dapat mentoleransi kolonoskopi. Sebuah kolonoskopi juga dapat digunakan untuk biopsi.

Tumor yang teraba pada pemeriksaan colok dubur umumnya dianggap terlalu rendah untuk tindakan preservasi sfingter anus. Bila sudah terjadi metastasis jauh. Eksisi lokal dengan mempertahankan anus hanya dapat dipertangggung jawabkan pada tumor tahap dini. dan pada tumor rektum sepertiga proksimal dilakukan reseksi anterior. dilakukan reseksi dengan memperthankan sfingter anus. dilanjutkan dengan anastomosis ujung-ke-ujung. perdarahan. tumor primer akan direseksi juga dengan maksud mencegah obstruksi. dilakukan hemikolektomi kanan. berdarah secara intermitten atau tidak berdarah sama sekali. Pada pembedahan abdominoperineal menurut Quenu-Miles. inkontinensia. VII. Pada tumor sekum atau kolon ascenden. Pada tumor rektum sepertiga tengah. dilakukan hemikolektomi kiri. Pada operasi ini. termasuk kelenjar limf pararektum dan retroperitoneal sampai kelenjar limf retroperitoneal. Kemoterapi dan radiasi bersifat paliatif dan tidak memberi manfaat kuratif. Pada tumor di fleksura hepatika dilakukan juga hemikolektomi. anemia. Pada tumor kolon tranversum. Tindakan bedah terdiri atas reseksi luas karsinoma primer dan kelenjar limf regional. 11 . anus dieksisi melalui insisi perineal dan dikeluarkan seluruhnya bersama rektum melalui abdomen. Pada tumor sigmoid. dan nyeri. dilakukan reseksi kolon transversum yang dilanjutkan dengan anastomosis ujung-ke-ujung sedangkan pada tumor kolon descenden. PENATALAKSANAAN12 Satu-satunya jalan kemungkinan terapi kuratif ialah tindakan bedah. dan akan menghasilkan tes yang false negatif. fistel. sedangkan pada tumor sepertiga distal dilakukan amputasi rektum melalui reseksi abdominoperineal Quenu-Miles. Tujuan utama tindakan bedah ialah memperlancar saluran cerna. anus turut dikeluarkan. baik bersifat kuratif maupun nonkuratif. Kemudian. rektum dan sigmoid dengan mesosigmoid dilepaskan. dilakukan reseksi sigmoid. Bedah kuratif dilakukan bila tidak ditemukan gejala penyebaran lokal maupun jauh.

F4. selanjutnya alat Gambar 7. gangguan ereksi. tidak dapat dilakukan perneriksaan histopatologik. sedangkan radioterapi. maupun parasimpatik. alat terbuka. Alat stapler untuk membuat anastomosis di dalam panggul antara ujung rektum yang pendek dan kolon dengan mempertahankan anus untuk menghindari anus prenaturalis. F2. gangguan lubrikasi vagina. dan imunoterapi digunakan sebagar terapi adjuvan. Koagulasi dengan laser digunakan sebagai terapi. Cara ini kadang digunakan pada penderita yang berisiko tinggi menjalani pembedahan. Tindak bedah yang didahului dan disusul radioterapi disebut terapi sandwich. bagian kanan dimasukkan di dalam ujung rektum. Tindak dicabut dan luka bedah di mesenterium kuratif dengan stapler dijahit. Semuanya kadang berefek positif untuk waktu terbatas. kemudian kedua stapler ditutup sehingga stapler menyambung kedua ujung usus. Alat terdiri dari dua bagian yang dapat disambung. Penyulit yang sering terjadi pada reseksi rektum abdominoperineal radikal maupun reseksi rektum anterior rendah ialah gangguan fungsi seks. Seleksi penderita harus dilakukan dengan teliti. Cara lain yang dapat digunakan atas indikasi dan seleksi khusus ialah fulgerasi (koagulasi listrik). orgasme. Reseksi anterior rendah pada rektum dilakukan melalui laparotomi menggunakan alat stapler untukmembuat anastomosis kolorektal atau koloanal rendah. F3. Rektum diikat pada bagian kanan. Pada cara ini. Pada diseksi kelenjar limf pararektal dan daerah retroperitoneal sekitar promonterium dan di daerah (pre)aortal. keadaan tertutup. antara lain dengari menggunakan endoskopi ultrasonografik untuk menentukan tingkat penyebaran di dalam dinding rektum dan adanya kelenjar ganas perarektal. Eksisi lokal melalui rektoskop dapat dilakukan pada karsinoma terbatas. bagian kiri masuk melalui luka oral pada kolon yang diikat sekitar batang bagian kiri. simpatik. F1. Gangguan seks mungkin berupa libido kurang atau hilang. kemoterapi. atau ejakulasi. Gangguan yang terjadi mungkin berupa salah satu atau 12 . dilakukan juga eksisi saraf otonom.

. Terapi paliatif . Jika tumor tidak dapat diangkat. Extended right Henicolectomy C. dapat dilakukan bedah pintas atau anus preternaturalis. Caecum dipertahankan  cecosigmoid anastomosis  absorpsi air G. Identitas Pasien Nama : Tn. Extended hemicolectomy sinistra E. Pada metastasis hati yaug tielak lebih dari dua atau tiga nodul. Colectomy diperluas sampai ciolon kanan F. A B C D E F G H Gambar 8. kombinasi dari beberapa gangguan yang disebut di atas. Pemberian sitostatik melalui arteri hepatika. yaitu perfusi secara selektif. yang kadang ditambah lagi dengan terapi embolisasi dapat berhasil menghambat pertumbuhan sel ganas. dapat dipertimbangkan eksisi metastasis. Left hemicolectomy H. Sigmoid colectomy LAPORAN KASUS I. Teknik pembedahan kolon A.Transvers colectomy D. KJ 13 . Dengan teknik pembedahan khusus yang halus dan teliti angka kejadian penyulit ini dapat diturunkan. Teknik Hemikolektomi kanan/dextra (kanker Sekum) B. Reseksi tumor secara paliatif dilakukan untuk menecegah atau mellgatasi obstruksi atau menghentikan perdarahan supaya kualitas hidup penderita lebih baik.

Pemeriksaan Fisik  Pemeriksaan Umum 1. Keluhan Utama Nyeri Perut III. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien telah mengalami nyeri perut berulang sejak satu tahun terakhir dan sering berobat ke dokter yang berbeda dan dinyatakan sakit maag. Keluhan demam naik turun dalam satu minggu terakhir. Status gizi : Gizi baik 4. Kesadaran : Compos mentis 3. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluhan yang sama dengan pasien dalam keluarga. Keadaan Umum : Sakit sedang 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien masuk RSUD Undata dengan keluhan nyeri perut pada bagian kanan yang muncul sejak 1 minggu yang lalu. Vital Sign : a. BAK biasa. Nadi : 88 x/menit c. Nyeri perut disertai dengan mual dan muntah yang dalam satu hari dapat mencapai 3 kali sehari. Keluhan juga disertai dengan BAB encer. IV. VI. V. Usia : 64 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Tanggal MRS : 25 November 2016 Tanggal Pemeriksaan : 02 Desember 2016 II. Respirasi : 20x/menit 14 . Tekanan Darah: 140/100 mmHg b.

massa (-). 15 . Suhu : 36. massa (-) Auskultasi : Peristaltik usus meningkat Perkusi : Hipertimpani pada kuadran kiri abdomen dan pekak pada kuadran kanan abdomen. Rhonki (-/-). Cekung (-) Hidung : Rhinorrhea (-) Mulut: : Sianosis (-) Telinga : Otorrhea (-) Kelenjar : Pembesaran kelenjar getah bening (-) Kelenjar tiroid : Pembesaran (-) Dada Paru-paru Inspeksi : Simtris bilateral Palpasi : Vokal fremitus kanan=kiri.7oC  Pemeriksaan Khusus Kepala Bentuk : Normocephal Mata : Anemis (-/-). d. nyeri tekan (-) Perkusi : Sonor Auskultasi : Vesikuler (+/+). Ikterus (-/-). Wheezing (-/-) Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Palpasi : Ictus cordis tidak teraba Perkusi : Batas jantung normal Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni reguler Abdomen Inspeksi : Kesan datar.

Nyeri perut disertai dengan mual dan muntah yang dalam satu hari dapat mencapai 3 kali sehari. Keluhan juga disertai dengan BAB encer. pada palpasi teraba massa konsistensi padat kenyal pada regio umbilikasi hingga 16 . Hepatomegali (-). S 36. mobile. usia 64 tahun masuk RSUD Undata dengan keluhan nyeri perut pada bagian kanan yang muncul sejak 1 minggu yang lalu. bentuk memanjang ukuran 10 cm x 5 cm. VII.7oC Pemeriksaan fisik : Pada auskultasi peristaltik usus meningkat. Keluhan demam naik turun dalam satu minggu terakhir. edema (-) Status Lokalis Regio hipokondrium dextra Inspeksi : massa (-) Palpasi : Teraba massa konsistensi padat kenyal pada regio umbilikasi hingga perikondrium. bentuk memanjang ukuran 10 cm x 5 cm. N 88 x/menit. berbatas tegas. hipertimpani pada kuadran kiri abdomen dan pekak pada kuadran kanan abdomen. Tanda vital : TD 140/100 mmHg. Resume Pasien laki-laki. splenomegali (-) Punggung : Deformitas (-) Genitalia : Dalam batas normal Anggota gerak : Ekstremitas atas : Akral hangat (+). R 20x/menit. berbatas tegas. Palpasi : Nyeri tekan (-). Pasien telah mengalami nyeri perut berulang sejak satu tahun terakhir dan sering berobat ke dokter yang berbeda dan dinyatakan sakit maag. teraba massa konsistensi padat kenyal pada regio umbilikasi hingga perikondrium. mobile. edema (-) Ekstremitas bawah : Akral hangat (+).

1 mmol/L Clorida 100 mmol/L CT-Scan 17 . VIII.3% Kalium PLT 352 x 103/uL 4.5U/L Kreatinin 0. Pemeriksaan Penunjang Darah rutin : Faal Hati Faal Ginjal Elektrolit WBC 6.2 U/L Urea 24.8 g/dL HCT 36. perikondrium.18 x 106/uL SGPT 17.5 mg/dl 140 mmol/L HGB 11.75 mg/dl Natrium RBC 4.28 x 103/uL SGOT 58. berbatas tegas. bentuk memanjang ukuran 10 cm x 5 cm. Diagnosis : Susp. Tumor kolon IX. mobile.

Laporan Operasi (5 Desember 2016) 1. Memasang doek steril 4. Diagnosis : Tumor colon XI. Melakukan disinfeksi pada lapangan operasi dengan kasa betadine 3. Melakukan insisi midline lapis demi lapis. 3 jari di atas simphisis pubis sampai 5 jari di bawah procesus xyhpoideus pada sisi kiri umbilikus 18 .X. Baringkan pasien di meja operasi dengan posisi supinasi di bawah pengaruh anestasi umum 2.

sedikit berbenjol dan warna lebih gelap 11. Menutup luka lapis demi lapis. Lakukan anastomosis end to end 9. Menjahit anastomosis dengan metode lamberg 10. 19 . Dilakukan reseksi sepanjang 80 cm dari valvula bauhini dan 10 cm dari arah distal colon ascendens. permukaan tidak rata. 8. 6. Diputuskan untuk dilakukan reseksi anastomosis sesuai dengan lokasi tumor tersebut dan dilakukan pembebasan mesocolon ascenden dan ligasi a. Nampak usus sedikit dilatasi di daerah ileus terminal dengan tanda-tanda edema. Evaluasi pada daerah mesenterium terdapat beberapa kelenjar dari yang kecil hingga yang besar 7. jahit kulit secara interuptus.mesenterium.9% sebanyak 3 kali dan pemasangan drain pada cavum douglas 12.5. Evaluasi hepar. Bersihkan rongga abdomen dengan NaCl 0. Evaluasi lanjut di daerah caecum terdapat tumor disertai tumor- tumor kecil pada tiga tempat ke arah proksimal sampai sepanjang 80 cm dan ke arah distal sekitar 10 dari arah colon ascendens.

1.5 cm penampang cokelat padat Mikroskopik : I. penampang putih padat II. putih padat B. Tampak 20 . 0.2 cm. 1 buah jaringan ukuran 2. Hasil pemeriksaan Patologi Anatomi : Makroskopik : Diterima 2 buah botol berlabel : I. Disekitarnya tampak sebukan sel radang eosinofil. limfosit. Sediaan jaringan menunjukkan permukaan dilapisi mukosa usus dengan epitel kelenjar tanpa kelainan tertentu. Dilakukan laparotomi reseksi anastomosis 3. 2 buah jaringan ukuran masing-masing A.5 x 2. Dikirim jaringan tumor 2 x 3 (Botol 1) dan kelenjar mesenterium dengan diameter 1 x 1 cm (Botol 2) 4. Tampak massa pada abdomen regio paralumbal dekstra disertai nyeri. Hasil pemeriksaan sebelumnya : CT-Scan (granuloma ileocecal atau tumor caecum).5 x 1 cm.3x0. Pemeriksaan Patologi Anatomi Keterangan klinik : 1. BAB terganggu 2.6x0.5x1. Pada lapisan submukosa tampak banyak telur/ova Schistosoma yang umumnya berkalsifikasi.0x0.

5oC Peristaltik (+) Laboratorium : RBC 4. Metronidazole 0.05 x 106/mm3 HGB 11. Cek Albumin . R 28 x/menit. banyak pembentukan granuloma sampai ke lapisan serosa dengan sel histiosit bervakuole dan mengalami fibrosis/hialinisasi dan sebaran multinucleated giant cell. Cek elektrolit Follow Up Pasien 6 Desember 2016 S = Nyeri luka operasi O = TD 120/70 mmHg. II.5 gr/12 jam/drips . Kesan : Jaringan caecum dan kelenjar limfe mesenterium menunjukkan gambaran radangn granulomatosa reaksi terhadap schistosoma (schistosomiasis). Instruksi Post operasi : . S 36. Ranitidin 50 mg/8 jam/ IV . IVFD RL : Futrolit = 2:1 28 tpm . Sediaan jaringan menunjukkan kelenjar limfe dengan sel-sel limfoid yang diantaranya tampak pembentukan granuloma dengan fibrosis/hialinisasi dan sebaran sel multinucleated giant cell. Puasakan 5 hari . Kontrol Hb 3 jam post operasi . N 80 x/menit. Cefobactam 1 gr/12 jam/IV . Ketorolac 30 mg/8 jam/IV . Inj. Rawat ICU . Inj. Tidak ada telur Schistosoma pada sediaan kelenjar limfe ini.6 g/dl 21 . Inj.

R 20 x/menit.0% PLT 270 x 103/mm3 WBC 13.4 g/dl A = Post operasi laparotomi H-5 P = terapi lanjut 22 .5 gr/12 jam/IV Ranitidin 50 mg/8 jam/IV Ketorolac 30 mg/8 jam/IV 7 Desember 2016 S = Nyeri luka operasi O = TD 100/85 mmHg.HCT 35. R 20 x/menit. S 36.5 gr/12 jam/IV Ranitidin 50 mg/8 jam/IV Ketorolac 30 mg/8 jam/IV Albumin 100 cc 3 hari 10 Desember 2016 S=- O = TD 120/70 mmHg. S 36oC Drain 250 cc/24 jam Urin 1350 cc/24 jam Albumin 2.7oC A = Post operasi laparatomi H-2 P= IVFD Futrolit 28 tpm Cefobactam 1 gr/12 jam/IV Metronidazole 0.2 x 103/mm3 A = Post operasi laparatomi H-1 P= IVFD Futrolit 28 tpm Cefobactam 1 gr/12 jam/IV Metronidazole 0. N 87 x/menit. N 60 x/menit.

R 20 x/menit. N 87 x/menit.5 g/dl HCT 34.7oC Albumin 2.13 Desember 2016 S=- O = TD 130/80 mmHg. S = 36oC A = Post operasi laparotomi H-8 P = Terapi lanjut Minum 3 cc/jam Miring kanan dan miring kiri Mulai Duduk 14 Desember 2016 S=- O = TD 120/80 mmHg. N 82 x/menit. S 36.1% PLT 290 x 103/mm3 WBC 15.7oC Drain 70cc A = Post operasi laparotomi H-10 P = terapi lanjut Pemberian albumin untuk meningkatkan nilai albumin Minum ditingkatkan setiap hari 23 .07 x 106/mm3 HGB 11. S 36. R 20 x/menit.8 x 103/mm3 Drain 80cc A = Post operasi laparotomi H-9 terapi lanjut Minum 5 cc/jam 15 Desember 2016 S=- O = TD 120/70 mmHg. N 60 x/menit.6 g/dl RBC 4. R 20 x/menit.

24 . R 20 x/menit. S 36. N 80 x/menit.5oC Drain 70cc Albumin 2.19 Desember 2016 S=- O = TD 130/70 mmHg.9 g/dl A = Post operasi laparotomi H-14 Terapi lanjut Pemberian albumin untuk meningkatkan nilai albumin Minum ditingkatkan setiap hari Pasien dipulangkan setelah menjalani hari perawatan ke 28 dan post operasi hari ke 17.

Keluhan pasien karena kanker kolorektal tergantung pada besar dan lokasi dari tumor. 25 . dan malaise. penurunan berat badan. Nyeri perut juga disertai dengan mual dan muntah yang dalam satu hari dapat mencapai 3 kali sehari setiap kali nyeri perut dirasakan. Kanker kolorektal adalah pengembangan kanker di kolon atau rektum. Pada anastomosis end to end ini dilakukan sambungan antara colon ascenden dan ileum. konstipasi sampai obstruksi. hal ini disebabkan oleh pertumbuhan abnormal sel-sel yang memiliki kemampuan untuk menyerang atau menyebar ke bagian lain dari tubuh. perubahan pola defekasi. sedangkan keluhan yang berasal dari lesi pada kolon kiri dapat berupa perubahan pada pola defekasi. mobile. yang terjadi secara berulang-ulang dan menyebabkan pasien mendatangi banyak dokter dalam kurun waktu tersebut. massa konsistensi padat kenyal pada regio umbilikasi hingga perikondrium. Keluhan demam naik turun dalam satu minggu terakhir. Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya massa pada palpasi abdomen. Yang mana didapatkan usus sedikit dilatasi di daerah ileus terminal dengan tanda-tanda edema. bentuk memanjang ukuran 10 cm x 5 cm. Penatalaksanaan pada kasus ini berupa laparotomi dengan reseksi anastomosis end to end dengan metode Lamberg. berbatas tegas. Keluhan dari lesi yang berada pada kolon kanan dapat berupa perasaan penuh di abdominal. Dari anamnesis di dapatkan keluhan yang tidak spesifik. berupa nyeri perut pada bagian kanan yang muncul sejak 1 tahun terakhir. Tanda dan gejala mungkin termasuk darah dalam tinja . Keluhan juga disertai dengan BAB encer. PEMBAHASAN Pasien ini didiagnosis dengan tumor kolon berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan. perdarahan. pada caecum terdapat tumor disertai tumor-tumor kecil pada tiga tempat ke arah proksimal sampai sepanjang 80 cm dan ke arah distal sekitar 10 dari arah colon ascendens dan pada daerah mesenterium terdapat beberapa kelenjar dari yang kecil hingga yang besar. symptomatic anemia dan perdarahan.

Beberapa orang dapat terinfeksi ketika melakukan pekerjaan di lingkungan tertentu. Dan didapatkan bahwa jaringan caecum dan kelenjar limfe mesenterium menunjukkan gambaran radang granulomatosa reaksi terhadap schistosoma (schistosomiasis). Juga dapat ditemukan perbesaran lien. Pada kasus ini. 26 . Schistosomiasis adalah penyakit aku dan kronik yang disebabkan cacing parasit (cacing trematoda) di sebut schistosoma. dilakukan pemeriksaan patologi anatomi pada jaringan dan kelenjar yang terdapat pada mesenterium. Didalam tubuh larva parasit berkembang menjadi schistosoma dewasa. Schistosomiasis intestinal menghasilkan gejala nyeri perut. diare dan darah pada feses. Sehingga diagnosis post operatif pada kasus ini adalah massa granulomatosa reaksi terhadap schistosoma. Hepar dapat membesar dan berhubungan dengan akumulasi cairan di rongga peritoneum dan hipertensi pembuluh darah.

2006. Number 4. G Bruce. Erlangga Medical Series : Jakarta. 2015. Jong WD. DAFTAR PUSTAKA 1. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran edisi 6. Lippincott Williams & Wilkins. Rasjad C. Mortality.W. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG. Snell RS. Buku Ajar Ilmu Bedah. Springer : USA. Langman’s Medical Embriology Ed 9. Colorectal Cancer 4. Wolf. USA 7. 5. Sadler. 3. P Robin. Yang. dkk. Dalam : Sjamsuhidajat R. 2011. 2. Edisi ke-3. editor. 2006. A Fatima dan Boushey. T. Colorectal Cancer Epidemiology : Incidence. Patrick Davey. Early Diagnosis and Treatment of Cancer (Colorectal Cancer). Haggar. 2007. C Stephen. Survival and Risk Factors. 6. American Cancer Society. 27 . Clinics in Colon and Rectal Surgery/volume 22. The ASCRS Textbook of Colon and Rectal Surgery. At a glance Medicine. 2009. Hernia. Saunders Elsiever : Philadelphia. Jakarta: EGC 8.