You are on page 1of 15

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM FISIKA

DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN

Disusun oleh:

1. Karina tohirah (0613404115)

2. Firdaus (0613404115)

3. Reda ayu lestari (061340411519)

4. Galuh (0613404115)

5. Lusiana (0613404115)

6. Vidia wati (061340411522)

7. Beben (0613404115)

8. Satria (0613404115)

Kelas : 1EGA

JURUSAN TEKNIK ENERGI

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

PALEMBANG

2013

Air biasa 16. Busur derajat 6. ALAT DAN BAHAN 1. Dalam fisika pengukuran merupakan sesuatu yang sangat vital. Balok besi 10. Jangka sorong 3. Stopwatch 5. Amperemeter 8. DASAR TEORI Pengukuran adalah membandingkan suatu besaran dengan satuan yang dijadikan sebagai patokan. Termometer 7. Batu es 15. Neraca teknis 12. Gelas kimia 14. Voltmeter 9. Air es III. Suatu pengamatan terhadap besaran fisis harus melalui pengukuran. Bola bola kecil 11. Pengukuran-pengukuran yang sangat teliti . Penggaris plastik 2. DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN I. Mikrometer sekrup 4. Batu timbangan 13. TUJUAN  Mampu menggunakan alat-alatukur dasar  Mampu menentukan ketidakpastian padapengukuran tunggal dan berulang  Mengerti arti angka berarti II.

melainkan selalu terdapat ketidakpastian. hasil pembacaan tanpa nonius adalah 17 satuan dan dengan nonius adalah 16. busur derajat.Skala utama suatu alat ukur dengan NST = 0. tidaklah mungkin akan mendapatkan nilai benar X0. inilah yang disebut dengan Nilai Skala Terkecil (NST). Gambar 3 . stopwatch. dan beberapa alat ukur besaran listrik. Namun bagaimanapun juga ketika kita mengukur suatu besaran fisis dengan menggunakan instrumen. barometer.1 = 17. penggaris. Pada Gambar 3 dibawah ini tampak bahwa NST = 0. kedekatan alat ukur membaca pada nilai yang sebenarnya dari variable yang diukur. mikrometer skrup. karena skala nonius yang berimpit dengan skala utama adalah skala ke-4 atau N1=4 PARAMETER ALAT UKUT Ada beberapa istilah dan definisi dalam pengukuran yang harus dipahami. diantaranya: 1.diperlukan dalam fisika.25 satuan Nonius Pada gambar dibawah ii.4 satuan. Nilai Skala Terkecil Pada setiap alat ukur terdapat suatu nilai skala yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. agar gejala-gejala peristiwa yang akan terjadi dapat diprediksi dengan kuat. Ketelitian alat ukur bergantung pada NST ini. Beberapa alat ukur dasar yang sering digunakan dalam praktikum adalah jangka sorong. Masing masing alat ukur memiliki cara untuk mengoperasikannya dan juga cara untuk membaca hasil yang terukur. Akurasi. neraca teknis.5 + 4 x 0. .25 satuan.

x2. perubahan terkecil dari nilai pengukuran yang mampu ditanggapi oleh alat ukur. Cara untuk melakukannya adalah sebagai berikut:  Kumpulkan sejumlah hasil pengukuran variable x. ketidakpastian dituliskan idak lagi seperti pada pengukuran tunggal. atau derajat untuk membedakan satu pengukuran dengan lainnya. 5. Pada pengukuran tunggal. Untuk suatu besaran X maka ketidakpastian mutlaknya dalam pengukuran tunggal adalah: Δx = ½NST dengan hasil pengukuran dituliskan sebagai X = x ± Δx Melaporkan hasil pengukuran berulang dapat dilakukan dengan berbagai cara. ratio dari sinyal output atau tanggapan alat ukur perubahan input atau variable yang diukur. Ketidakpastian Mutlak Suatu nilai ketidakpastia yang disebabkan karena keterbatasan alat ukur itu sendiri. Resolusi. dan karena hal-hal seperti ini pengukuran mengalami gangguan. x3. yaitu x1. kesalahan pegas.yaitu ketidakpastian mutlak dan relatif. Misalnya n buah. Kesalahan. Masing masing ketidakpastian dapat digunakan dalam pengukuran tunggal dan berualang. Beberapa penyebab ketidakpastian tersebut antara lain adanya Nilai Skala Terkecil (NST). dan lingkungan yang mempengaruhi hasil pengukuran. 3. Dengan demikian sangat sulit untuk mendapatkan nilai sebenarnya suatu besaran melalui pengukuran. ketidakpastian yang umumnya digunakan bernilai setengah dari NST. KETIDAKPASTIAN Suatu pengukuran selalu disertai oleh ketidakpastian. kesalahan titik nol. setiap pengukuran harus dilaporkan dengan ketidakpastiannya. … xn  Cari nilai rata-ratanya yaitu x-bar x-bar = (x1 + x 2 + … + xn)/n . Ketidakpastian dibedakan menjadi dua. Presisi. fluktuasi parameter pengukuran. angka penyimpangan dari nilai sebenarnya variabel yang diukur. Kesalahan ½ – Rentang Pada pengukuran berulang. kesalahan kalibrasi. 4. Kepekaan. dantaranya adalah menggunakan kesalahan ½ – rentang atau bisa juga menggunakan standar deviasi. Kesalahan ½ – Rentang merupakan salah satu cara untuk menyatakan ketidakpastian pada pengukuran berulang. 2. hasil pengukuran yang dihasilkan dari proses pengukuran. kesalahan paralaks. Oleh sebab itu.

Standar deviasi diberikan oleh persamaan diatas. Untuk jelasnya.  Tentukan x-mak dan x-min dari kumpulan data x tersebut dan ketidakpastiannya dapat dituliskan Δx = (xmax – xmin)/2  Penulisan hasilnya sebagai: x = x-bar ± Δx Standar Deviasi Bila dalam pengamatan dilakukan n kali pengukuran dari besaran x dan terkumpul data x1. . Dan untuk penulisan hasil pengukurannya adalah x = x ± σ Ketidakpastian Relatif Ketidakpastian Relatif adalah ketidakpastian yang dibandingkan dengan hasil pengukuran. x3. ketidakpastian variable yang merupakan hasil operasi variabel-variabel lain yang disertai oleh ketidakpastian akan disajikan dalam tabel berikut ini. … xn. sehingga kita hanya dapat menyatakan bahwa nilai benar dari besaran x terletak dalam selang (x – σ) sampai (x + σ). Hubungan hasil pengukurun terhadap KTP (ketidakpastian) yaitu: KTP relatif = Δx/x Apabila menggunakan KTP relatif maka hasil pengukuran dilaporkan sebagai X = x ± (KTP relatif x 100%) Ketidakpastian pada Fungsi Variabel (Perambatan Ketidakpastian) Jika suatu variable merupakan fungsi dari variable lain yng disertai oleh ketidakpastin. maka rata-rata dari besaran ini adalah: Kesalahn dari nilai rata-rata ini terhadap nilai sebenarnya besaran x (yang tidak mungkin kita ketahui nilai benarnya x0) dinyatakan oleh standar deviasi. maka variable ini akan diserti pula oleh ketidakpastian. x2. Hal ini disebut sebagai permbatan ketidakpastian.

diameter dalam. Jadi. dan pada setiap penunjukan tidak selalu terdapat skala utama yang berimpit dengan skala putar. Alat-alat yang digunakan dalam pengukuran: 1.5 mm pada skala utama terbagi atas 50 skala putar. . Sedangkan skala nonius pada jangka sorong memiliki panjang 9 mm dan dibagi dalam 10 skala.1 mm atau 0. Kepada kedua hasil pengukuran tersebut akan dilakukan operasi matematik dasar untuk memperoleh besaran baru. Jangka sorong Jangka sorong mempunyai dua rahan dan satu penduga.50 cm. Jangka sorong tepat digunakan untuk mengukur diameter luar. benda yang akan diukur panjangnya dijepit diantara bagian A dan B. kedalaman tabung. Rahang luar untuk mengukur diameter luar atau sisi luar suatu benda.01 cm.1 mm atau 0. Rahang dalam digunakan untuk mengukur diameter dalam atau sisi dalam suatu benda. Mikrometer sekrup Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur panjang benda yang memiliki ukuran maksimum sekitar 2. Skala utama pada jangka sorong memiliki skala dalam centimeter dan milimeter.Misalkan dari suatu pengukuran diperoleh (a ± Δa) dan (b ± Δb). Untuk menggerakkan bagian B anda harus memutar sekrup bagian C.01 cm. Sedangkan penduga digunakan untuk mengukur kedalaman. skala terkecil pada jangka sorong adalah 0. dan panjang benda sampai nilai 10 cm 2. sehingga beda satu skala nonius dengan satu skala pada skala utama adalah 0. Pada mikrometer sekrup dalam 0.

Mengukur lempengan 1 dan lempengan 2 dengan menggunakan jangka sorong 3. selanjutnya memasukkan termometer ke dalam gelas kimia 1 dan gelas kimia 2 10. langkahnya sama seperti langkah awal 6. Setelah dilakukan penetralan. isi gelas kimia 1 dengan air es. Mengukur suhu pada termometer 11. Selanjutnya lakukan pengukuran pada bola-bola kecil menggunakan jangka sorong. Melakukan penetralan terhadap termometer dengan menggunakan batu es 9. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Untuk melakukan pengukuran suhumenggunakan termometer 7.IV. Kemudian catat kedudukan skala tersebut 5. Mempersiapkan alat dan bahan-bahan yang diperlukan 2. Siapkan gelas kimia. serta gelas kimia 2 denganair biasa 8. Melakukan percobaan tersebut minimal 4 kali V. DATA HASIL PENGAMATAN . Perhatikan skala utama dan skala nonius pada jangka sorong 4.

495 + (0.27 atau x2 = (0.495 + 45% X1 = x1 . VI.495 .495 .(0.45 × 100% )’ = 0.45 KTP relatif x2 = = 0.045 mm KTP relatif = KTP relatif = = 0.27 X1 = (0.5 X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) X1 = x1 +( KTP relatif × 100%) = 0.495mm = 0.( KTP relatif × 100%) = 0.27 mm X = ± = (0.45 × 100% )’ = 0. PERHITUNGAN Lempengan 1 = = = = 0.500% .27 = 0.

15 X1 = (0.045 .225 = 0.(5 × 100% ) = 0.142 .045 .500% Ketidakpastian Mutlak = 2 × 0.045 + 500% X2 = 0.045 + (5 × 100% ) = 0.175 mm = 0.15 atau x2 = (0.15 = 0.15 mm X = ± = (0.X2 = x2 ± (KTP relatif × 100%) X2 = x2 + ( KTP relatif × 100%) = 0.125 mm KTP relatif = KTP relatif = = 0.45  Lempeng 2 = = = = 0.

22 = 2.2% X2 = x2 ± (KTP relatif × 100%) X2 = x2 ± ( KTP relatif × 100%) = 0.175 ± (0.2 × 100% ) = 0.2 X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) = 0.125 + 20% NST = = 2 × 0.22 mm X = ± = (0.22 X1 = (0.22mm KTP relatif = .05  Bola Besi 1 = = = = 2.125 ± (0.025 = 0.22 mm = 2.22 atau x2 = (2.142 × 100% )’ = 0.KTP relatif x2 = = 0.175 ± 14.

33 X1 = (1.KTP relatif = =0 KTP relatif x2 = =0 X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) = 2.33 mm .22 NST = = 2 × 0= 0  Bola Besi 2 = = = = 1.22 ± (0 × 100% )’ = 2.22 ± (0 × 100% ) = 2.33 atau x2 = x1 = 1.22 X2 = x2 ± (KTP relatif × 100%) X2 = x2 ± ( KTP relatif × 100%) = 2.33 mm X = ± = (1.

KTP relatif = KTP relatif = =0 KTP relatif x2 = =0 X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) = 1.33 X2 = x2 ± (KTP relatif × 100%) X2 = x2 ± ( KTP relatif × 100%) = 1.33 NST = =2×0 =0  Air Biasa (A1) = = = = 29.37 atau x2 = (29.37 .37 X1 = (29.37 X = ± = (29.33 ± ( 0 × 100% )’ = 1.33 ± ( 0 × 100% ) = 1.

016 KTP relatif x2 = = 0.6% NST = = 2 × 0.87 ± (0.87 KTP relatif = KTP relatif x1 = = 0.87 ± 1.97 ± (0.5 = 1 .87 + 1.016 × 100% ) = 28.87 = 28.6% X2 = x2 ± (KTP relatif × 100%) X2 = x2 ± ( KTP relatif × 100%) = 28.017 X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) X1 = x1 ± ( KTP relatif × 100%) = 29.016 × 100% )’ = 29. = 29.

makin tinggi ketelitian pengukuran tersebut. yang mengikuti antara lain kualitas alat ukur.com ifd.VII.ac. Ketelitian juga berkaitan dengan seberapa besar penyimpangan hasil ukur suatu besaran ketika pengukuran dilakukan secara berulang-ulang. antara lain karena adanya nilai skala terkecil(NST). DAFTAR PUSAKA Buku penuntun praktikum fisika terapan politeknik negeri sriwijaya ervinaseptiani. Jika hasil pengukuran saling berdekatan maka dikatakan mempunyai tingkat ketelitian yang tinggi dan sebaliknya jika hasil pengukuran menyebar maka dikatakan mempunyai tingkat ketelitian yang rendah. Banyak sekali penyebab ketidakpastian pengukuran tersebut. IX. Selain itu ketelitian juga berhubungan dengan jumlah angka desimal yang dicantumkan dalam suatu hasil pengukuran. kesalahan titik nol.45 cm lebih teliti dibandingkan dengan 3.kesalahan komponen alat.com . adanya gesekan. ANALISIS PERCOBAAN Pada percobaan dilakukan pengukuran lempengan dan bola kecil besi menggunakan alat ukur jangka sorong kemudian melakukan pengukuran suhu menggunakan termometer. kesalahan kalibrasi.fmipa. dan lain-lain. KESIMPULAN Setelah melakukan percobaan tentang ketidakpastian dalam pengukuran dapat ditarik kesimpulan bahwa disaat kita melakukan pengukuran menggunakan alat ukur tertentu sering kali terjadi ketidakpastian pengukuran yang disebabkan oleh banyak hal misalnya kesalahan titik nol. Dengan demikian amat sulit untuk mendapatkan nilai sebenarnya. Sebagai contoh. kesalahan baca dan lain-lainnya. kesalahan pegas.blogspot. Ketelitian berkaitan dengan perlakuan dalam proses pengukuran. sikap teliti si pengukur. VIII.5cm. hasil ukur 3.wordpress. Percobaan itu dilakukan sebanyak empat kali.blogspot. Setelah dilakukan pengukuran ternyata hasil pengukuran yang terbaca pada alat ukur jangka sorong dan termometer tidak mempunyai nilai yang sama pada setiap kali percobaan.com alvinburhani.itb. kestabilan tempat dimana dilakukan pengukuran.id sesaat-fajarzg.

LAMPIRAN Bola bola kecil besi thermometer lempengan Jangka sorong .