You are on page 1of 4

Pengertian dementia

Demensia adalah penyakit degeneratif dan progresif pada otak yang
menyebabkan cacat spesifik pada neuron serta mengakibatkan gangguan
memori berpikir dan tingkah laku (Sylvia A Price, 2006).
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh ganguan fungsi
kognitif tanpa gangguan kesadaran (Arif Manjoer, 2000)
Demensia adalah suatu sindrom yang dikarakteristikkan dengan
adanya kehilangan kapasitas intelektual, melibatkan tidak hanya ingatan,
namun juga kognitif, bahasa, kemampuan visual dan kepribadian. Kelima
komponen tersebut tidak harus terganggu seluruhnya, namun pada
sebagian besar kasus, kelima komponen ini memang terganggu dalam
derajat yang bervariasi (Gallo, Joseph J : 1998).
Demensia adalah suatu kondisi konvusi kronik dan kehilangan
kemmapuan kognitif secara global dan progresif yang dihubungkan
dengan masalah fisik (Watson, Roger : 2003).
Demensia adalah suatu sindroma klinik yang meliputi hilangnya
fungsi intelektual dan ingatan/ memori sedemikian berat sehingga
menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari (Brockle Hurst & Allen, 1987
dalam Darmojo : 2004).
2. Penyebab dementia
Keadaan yang secara potensial reversible atau bisa dihentikan, untuk
mengingat berbagai keadaan tersebut telah dibuat suatu “jembatan
keledai” sebagai berikut :
· D : Drugs ( obat-obatan )
· E : Emotional ( gangguan emosi, misal : depresi, dll )
· M : Metabolik/ endokrin
· E : Eye & Ear ( disfungsi mata dan telinga )
· N : Nutrisional
· T : Tumor & trauma
· I : Infeksi
· A : Arteriosklerotik ( komplikasi penyakit aterosklerosis, misal : infark
miokard, gagal jantung, dll ) dan alcohol
Keadaan yang secara potensial teversible atau bisa dihentikan :
· Intoksikasi ( obat, termasuk alkohol, dll )
· Infeksi susunan syaraf pusat tumor otak, stroke
· Gangguan metabolik
· Gangguan nutrisi
· gangguan vaskuler ( dementia multi infark )
· Lesi desak ruang
· Hidrocephalus bertekanan normal
· Depresi (Pseudo - dementia depresif )
( Mangoen Prasodjo: 2004 )

3. Gejala- gejala dementia
Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu tipe
Alzheimer dan Vaskuler.
a. Demensia Alzheimer : Tidak mampu menyebut kata yang benar, mudah lupa,berlanjut
dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-
barang sekalipun yang termudah.
Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu :
· Stadium I : gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan
menurun
· Stadium II : Disorientasi,gangguan bahasa (afasia),penderita mudah
bingung,penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita
tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal
anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan
sehingga mengulanginya lagi, ada gangguan visuospasial,
menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi
berat
· Stadium III :Penderita menjadi vegetative, tidak bergerak dan
membisu, daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak
mengenal keluarganya sendiri, tidak bisa mengendalikan buang air
besar/ kecil, kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain,
kematian terjadi akibat infeksi atau trauma.
2. Demensia Vaskuler
Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler daripada
Alzheimer
4. Penatalaksanaan dementia
a. Farmakologis
Pada dementia reversible ditekankan pada pengobatan kausal
misalnya pada hipo/hipertiroiditi,defisiensi vitamin
B12,intoksifikasi,ensefalopati metabolic.
Pada alzeimer pengobatan bertujuan untuk menghentikan
progresivitas penyakit.
b. Non farmakologis
Penatalaksanaan nonfarmakologis ditujukan untuk keluarga yang
dapat dilakukan dengan :
1. Merancang program harian penderita
- Latihan fisik untuk mengacu aktivitas fisik dan otak
- Asupan gizi seimbang
- Mencegah factor resiko penyebab pemberat penyakit
(hipertensi,DM,merokok dan gangguan vaskuler)
- Laksanakan hobi dan aktivitas sesuai kemampuan
- Melaksanakan “LUPA” (Latih, Ulang,Perhatikan,dan Asosiasi)
- Tingkatkan aktivitas saat siang hari, tempatkan pada ruang yang
cukup pencahayaannya.
2. Orientasi realitas
- Penderita diingatkan waktu dan tempat
- Beri tanda khusus untuk tempat tertentu seperti kamar mandi
- Pemberian stimulasi melalui latihan / permainan misalya
permainan monopoli, kartu, mengisi TTS menciptakan
lingkungan yang familiar, aman, dan tenang. Hindari keadaan
yang membingungkan dan menimbulkan sters dan berikan
kelaluasaan bergerak.
3. Modifikasi perilaku
- Observasi perilaku penderita dan mencari factor prncetusnya
- Memberikan informasi yang benar kepada pengasuh
- Membuat rencana kerja dengan melibatkan keluarga.
5. Pencegahan
Dementia perlu dikenali dan dipahami cara pencegahannya melalui
pola hidup sehat seperti makan dengan gizi seimbang, cukup istirahat
dan olah raga, tidak merokok dan lain-lain agar pada saatnya nanti para
usia lanjut tidak segera mengalami kepikunan dan masih dapat mandiri
bahkan produktif. Selain itu, kemungkinan dementia dapat dicegah
dengan menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan
fungsi otak (Dwi Nurviyandari, 2007)