INTRAVENOUS CATHETER

Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke
dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk
menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.

Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:

1. Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)

2. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)

3. Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan
tubuh dan komponen darah)

4. “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi)

5. Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi)

6. Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh)

7. Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen
darah)

Indikasi pemberian obat melalui jalur intravena antara lain:

1. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung
masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam
peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan
memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena
hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini
tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada
kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan
antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS,
biaya perawatan, dan lamanya perawatan.

2. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika
dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan
intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang
susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui
jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus
dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.

3. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat
(ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan
pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan
(di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).

4. Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan),
sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.

5. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi
bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat
dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan
mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan
untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak
antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat
dalam darah untuk membunuh bakteri.

Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena (Peripheral Venous
Cannulation)

1. Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).

2. Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas.

3. Pemberian kantong darah dan produk darah.

4. Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu).

5. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar
dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi
syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)

6. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi
(kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps
(tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.

Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur Pembuluh Darah Vena

1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.

2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk
pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).

4. atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah. sehingga larut dalam serum. yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena.5%. Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus: 1. terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. sampai akhirnya mengisi sel- sel yang dituju. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2. juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi). B. terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel. Cairan Isotonik: . Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus: • Rasa perih/sakit • Reaksi alergi Jenis Cairan Infus: A. menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. 2. Tromboflebitis. misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik. dan menurunkan osmolaritas serum. atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. Hematoma. 3. Infiltrasi. 3. atau kapiler. terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki). yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah). Cairan hipotonik: Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum). Emboli udara.

9%). sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Koloid: Ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler. ASERING . Kristaloid: Bersifat isotonik. khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan). meningkatkan produksi urin. dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. produk darah (darah). dan albumin. sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid. dan tetap berada dalam pembuluh darah. Cairan hipertonik: Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum.9%. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis. Osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah). 2. JENIS-JENIS CAIRAN INFUS 1. Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya: 1. Dextrose 5%+NaCl 0. sehingga tekanan darah terus menurun). dan mengurangi edema (bengkak). Misalnya Dextrose 5%. dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL). Mampu menstabilkan tekanan darah. dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat. NaCl 45% hipertonik. C. maka sifatnya hipertonik. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh. Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Dextrose 5%+Ringer-Lactate.

dehidrasi berat. Pada pemberian sebelum operasi sesar. Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui. Pada kasus stroke akut. Pada kasus bedah. dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral KA-EN 1B Indikasi: 1. Komposisi: Setiap liter asering mengandung:  Na 130 mEq  K 4 mEq  Cl 109 mEq  Ca 3 mEq  Asetat (garam) 28 mEq Keunggulan:  1. penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA. luka bakar. Mempunyai efek vasodilator 5. demam berdarah dengue (DHF). dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati 2. Indikasi: Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut. RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus 3. asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran 4. syok hemoragik. Asetat dimetabolisme di otot. misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai. trauma. demam) .

Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik . Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak 2. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) 3. Tanpa kandungan kalium. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi: 1. < 24 jam pasca operasi 3. Mensuplai kalium 20 mEq/L 4. sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal 3. pada keadaan asupan oral terbatas 2. pada keadaan asupan oral terbatas 2. 2. Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B KA-EN MG3 Indikasi : 1. Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L KA-EN 4A Indikasi : 1. Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) 3. Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A 4. Bayi prematur atau bayi baru lahir. Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. Kecepatan sebaiknya 300- 500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak 4.

Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun 2. Kehilangan Na > Cl.5 gr/L Otsu-Normal Salin Indikasi: 1. misal diare . Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia 3.Komposisi (per 1000 ml):  Na 30 mEq/L  K 0 mEq/L  Cl 20 mEq/L  Laktat 10 mEq/L  Glukosa 40 gr/L KA-EN 4B Indikasi: 1. Untuk resusitasi 2. Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi: 1. o Na 30 mEq/L o K 8 mEq/L o Cl 28 mEq/L o Laktat 10 mEq/L o Glukosa 37.

3 gr/kg BB/jam 4. Stres metabolik berat 2. Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit AMINOVEL-600 . Dosis: 0. Mengandung 400 kcal/L AMIPAREN Indikasi: 1. Suplai ion bikarbonat 3. Total Parenteral Nutrition 7. Resusitasi 2. Pasca operasi 6. 3. Asidosis metabolik MARTOS-10 Indikasi: 1. insufisiensi adrenokortikal. Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor. Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum. luka bakar) Otsu-RL Indikasi: 1. infeksi berat. Infeksi berat 4. Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik 2. Luka bakar 3. Kwasiokor 5. stres berat dan defisiensi protein 3.

Stres metabolik sedang 5. 250. Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI 2. Diare Kondisi diare menyebabkan kehilangan cairan dalam jumlah banyak. diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke intertisial karena gradien osmosis. Penderita GI yang dipuasakan 3. Indikasi : a. Cl = 154. Nitrisi dini pasca operasi 3. Kemasan : 100. Tifoid Cairan Infus (Komposisi. Indikasi) Posted on 18 February 2012 by mangsholeh Cairan Kristaloid 1. Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan 2. Plasma expander berguna untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang pada intravaskuler. Normal Saline Komposisi (mmol/l) : Na = 154.Indikasi: 1. Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm) PAN-AMIN G Indikasi: 1. 1000 ml. trauma dan pasca operasi) 4. Luka Bakar . Resusitasi Pada kondisi kritis. b. Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar. diikuti oleh keluarnya molekul protein besar ke kompartemen interstisial. cairan NaCl digunakan untuk mengganti cairan yang hilang tersebut. sel-sel endotelium pembuluh darah bocor. 500. c.

Ca = 2-3. Kontraindikasi : hipernatremia. atau dekstrosa. biasanya paru-paru. Cl = 109-110. Keadaan ini juga meningkatkan metabolit nitrogen yaitu ureum dan kreatinin serta gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. sementara asetat . Cara Kerja Obat : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang dikandung cairan ekstraseluler. edema perifer dan edema paru. K = 4-5.Manifestasi luka bakar adalah syok hipovolemik. karena akan menyebabkan penumpukan asam laktat yang tinggi akibat metabolisme anaerob. Natrium merupakan kation utama dari plasma darah dan menentukan tekanan osmotik. Gagal Ginjal Akut Penurunan fungsi ginjal akut mengakibatkan kegagalan ginjal menjaga homeostasis tubuh. Untuk mempertahankan cairan dan elektrolit dapat digunakan cairan NaCl. Klorida merupakan anion utama di plasma darah. 200 gr/l (20%). d. 1000 ml. Dekstrosa Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%). hiponatremia. dimana terjadi kehilangan protein plasma atau cairan ekstraseluler dalam jumlah besar dari permukaan tubuh yang terbakar. asidosis laktat. Kemasan : 100. Elektrolit-elektrolit ini dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada dehidrasi dan syok hipovolemik termasuk syok perdarahan. Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi. heart failure/impaired renal function & pre- eklamsia. Kontraindikasi : Hiperglikemia. Kemasan : 500. kerusakan sel hati. 3. ringer laktat. Hati-hati pemberian pada penderita edema perifer pulmoner. retensi cairan. Larutan RA berbeda dari RL (Ringer Laktat) dimana laktat terutama dimetabolisme di hati. hipertensi. 500 ml. insufisiensi renal. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar. Peringatan dan Perhatian : ”Not for use in the treatment of lactic acidosis”. Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. 2. Ringer Asetat (RA) Larutan ini merupakan salah satu cairan kristaloid yang cukup banyak diteliti. Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF. 100 gr/l (10%). Ringer Laktat (RL) Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140. Basa = 28-30 mEq/l. Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah dan tromboflebitis. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paru-paru). penggunaan dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium. 4. Pemberian normal saline dan glukosa menjaga cairan ekstra seluler dan elektrolit. Kalium merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi untuk konduksi saraf dan otot. 250. kelainan ginjal. Ringer laktat menjadi kurang disukai karena menyebabkan hiperkloremia dan asidosis metabolik. Kontraindikasi : hipertonik uterus. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml).

misalnya pada diare. Studi ini memperlihatkan pemberian RA dapat mencegah hipotensi arteri yang disebabkan hipovolemia sentral. Dehidrasi dan gangguan hemodinamik dapat terjadi pada stroke iskemik/hemoragik akut. Hal ini dikarenakan adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.4 (isotonus) . Untuk kasus obstetrik. Sebagai cairan kristaloid isotonik yang memiliki komposisi elektrolit mirip dengan plasma. misalnya ditunjukkan oleh studi Ewaldsson dan Hahn (2001) yang menganalisis efek pemberian 350 ml RA secara cepat (dalam waktu 2 menit) setelah induksi anestesi umum dan spinal terhadap parameter-parameter volume kinetik. terlebih pada kondisi yang disertai asidosis.dimetabolisme terutama di otot. loading cairan saat induksi anestesi regional. Metabolisme asetat juga didapatkan lebih cepat 3-4 kali dibanding laktat. Tabel I. Hahn dan Drobin (2003) memperlihatkan pemberian RA tidak mendorong terjadinya pembengkakan sel. Studi ini memperlihatkan pemberian RA lebih baik dibanding RL untuk ke-3 parameter di atas. dan juga diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi. 55. pengganti cairan selama prosedur operasi. Komposisi Beberapa Cairan Kristaloid Cairan Tonusitas NaCl 0. RA memiliki manfaat- manfaat tambahan pada dehidrasi dengan kehilangan bikarbonat masif yang terjadi pada diare. DBD. Dengan profil seperti ini. karena itu dapat diberikan pada stroke akut. RA dan RL efektif sebagai terapi resusitasi pasien dengan dehidrasi berat dan syok. tanpa menimbulkan perbedaan yang signifikan pada parameter-parameter hemodinamik (denyut jantung dan tekanan darah sistolik-diastolik). Ringer Asetat telah tersedia luas di berbagai negara. Hasil studi juga memperlihatkan RA dapat mempertahankan suhu tubuh lebih baik dibanding RL secara signifikan pada menit ke 5. karena dapat memperbaiki asidosis laktat neonatus (kondisi yang umum terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami eklampsia atau pre-eklampsia). Indikasi : Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah seharusnya diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal. luka bakar/syok hemoragik.9 % 308 (isotonus) ½ Saline 154 (hipotonus) Dextrose 5 % 253 (hipotonus) D5NS 561 (hipertonus D5 ¼NS 330 (isotonus) 2/3 D & 1/3 S Hipertonus Ringer Laktat 273 (isotonus) D5 RL 273 (isotonus) Ringer Asetat 273. Onizuka dkk (1999) mencoba membandingkan efek pemberian infus cepat RL dengan RA terhadap metabolisme maternal dan fetal. serta keseimbangan asam basa pada 20 pasien yang menjalani kombinasi anestesi spinal dan epidural sebelum seksio sesarea. 50. yang umum terjadi setelah anestesi umum/spinal. Manfaat pemberian loading cairan pada saat induksi anastesi. sehingga umumnya para dokter spesialis saraf menghindari penggunaan cairan hipotonik karena kekhawatiran terhadap edema otak. terutama bila ada dugaan terjadinya edema otak. Cairan ini terutama diindikasikan sebagai pengganti kehilangan cairan akut (resusitasi). dan 65. Namun.

Produk : Plasbumin 20. atau hipoproteinemia. Kontraindikasi : gagal jantung. · Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan malnutrisi. · Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). HES (Hydroxyetyl Starches) Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa. dan ekskresi renal berlebih. Indikasi : · Pengganti volume plasma atau protein pada keadaan syok hipovolemia. Penggunaan HES pada sepsis masih terdapat perdebatan. 2. Plasbumin 25. gagal ginjal akut.Cairan Koloid Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit menembus membran kapiler. dan lebih mahal. yaitu sindroma kerusakan organ-organ tubuh yang timbul akibat infeksi langsung dari bakteri. sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler. onsetnya lambat. 1. efek samping lebih banyak. Terapi antibiotik adalah pilihan utama. hipoalbuminemia. Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis. sedangkan penggunaan albumin pada terapi tersebut dapat mengurangi resiko renal impairment dan kematian. Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah. mediasinitis. anemia berat. cardiopulmonary bypass. Albumin Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein 69-kDa yang dimurnikan dari plasma manusia (cotoh: albumin 5%). operasi besar. Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga cenderung tidak keluar dari membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah. resiko akumulasi di dalam jaringan pada penggunaan jangka lama yang lebih kecil dibandingkan starches dan resiko terjadinya anafilaksis lebih kecil. digunakan untuk mengganti cairan intravaskuler. Digunakan untuk menjaga dan meningkatkan tekanan osmose plasma. hal ini terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg). kebakaran. efek koagulopati lebih rendah. berbagai macam kondisi inflamasi. pancretitis. · Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang merupakan komplikasi dari sirosis. selulitis luas dan luka bakar. karena dapat meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). trauma. bersifat hipertonik dan dapat menarik cairan dari pembuluh darah. durasinya lebih panjang. Adanya bakteri dalam darah dapat menyebabkan terjadinya multi organ dysfunction syndrome (MODS). operasi. yaitu amilosa dan amilopektin. dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi. Umumnya pemberian lebih kecil. Sirosis memacu terjadinya asites/penumpukan cairan yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Pasien dengan hipoproteinemia dan ARDS diterapi dengan albumin dan furosemid yang dapat memberikan efek diuresis yang signifikan serta penurunan berat badan secara bersamaan. hiperbilirubinemia. infeksi (sepsis syok). Sepsis. Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan volume yang sama dengan jumlah volume plasma yang hilang. Albumin merupakan koloid alami dan lebih menguntungkan karena : volume yang dibutuhkan lebih kecil. Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass. dimana suatu penelitian menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena : .

namun lebih kecil dibandingkan HES. sehingga harus dihindari pada keadaan hiperkalsemia. tears naturale II. · HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang sangat menguntungkan pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi molekuler. Hal ini terutama terjadi pada pasien dengan kondisi iskemik reperfusi (contoh: transplantasi ginjal). hipofibrinogenemia). pruritus. yang ditumbuhkan pada media sukrosa. Expafusin. disimpulkan HES tidak boleh digunakan pada sepsis karena : · Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan kristaloid maupun koloid (HES). iskemia miokard. isotic tearin. 3. plasmafusin. Indikasi : · Penambah volume plasma pada kondisi trauma. mekanismenya adalah dengan menurunkan viskositas darah. Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis. Dextran Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc mesenteroides. ARF. dan penyakit vaskuler perifer. dan menghambat agregasi platelet. dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan. tanda-tanda gagal jantung. dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti asidosis refraktori. yang manifestasinya menyebabkan kerusakan alveoli. · Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan gelatin pada pasien dengan sepsis. disamping itu HES tetap bisa digunakan untuk menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan permeabilitas. . Pada suatu penelitian dikemukakan bahwa dextran-40 mempunyai efek anti trombus paling poten jika dibandingkan dengan gelatin dan HES. Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium. Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. syok sepsis. dextran juga sering dilaporkan dapat menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada tubulus renal. Pada dosis tinggi. 4. · Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan kristaloid. · HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic dibandingkan dengan gelatin pada pasien sepsis dengan hipovolemia. Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin memiliki efek antikoagulan. Contoh : HAES steril. Kontraidikasi : pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia. · Mempunyai efek anti trombus. · HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan gangguan koagulasi. · Dengan menjaga COP. Gelatin Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine. Contoh : hibiron. Sementara itu pada penelitian yang lain. iskemia cerebral. gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria yang parah. Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan.· Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid. sehingga dapat menimbulkan pruritus. dan liver failure.

syok hemoragik. dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan dengan starches. gelofusine. dehidrasi berat. dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral KA-EN 1B Indikasi: · Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui.000 pasien. meningkatkan ekskresi uriner senyawa toksik. trauma. menurunkan tekanan intraokular. luka bakar. demam) · <> · Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA. demam berdarah dengue (DHF). Contoh : haemacel. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak · Bayi prematur atau bayi baru lahir. C6H14O6 Indikasi Menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi karena edema serebral. sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam Komposisi : . dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati · Pada pemberian sebelum operasi sesar. meningkatkan diuresis pada pencegahan dan/atau pengobatan oliguria yang disebabkan gagal ginjal. ASERING Indikasi: Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut. RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus · Pada kasus bedah. sebagai larutan irigasi genitouriner pada operasi prostat atau operasi transuretral. Pada penelitian dengan 20. Cairan Khusus MANNITOL D-Manitol.Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran · Mempunyai efek vasodilator · Pada kasus stroke akut. misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai. Komposisi: Setiap liter asering mengandung: · Na 130 mEq · K 4 mEq · Cl 109 mEq · Ca 3 mEq · Asetat (garam) 28 mEq Keunggulan: · Asetat dimetabolisme di otot.

kcal/L. Cl. sodium klorida 2.24g. glukosa 27 g/L. laktat. d. anhydrous dekstros 27 g. kcal/L : 108 KA-EN 3B Tiap liter isi mengandung .50 d. f.38. potassium klorida 0. d. sodium klorida 1.5 c.5g. Elektrolit (mEq/L) : a. Na+ 60 b.5 b. K+ 10 c.5 g. b. . ptasium klorida 1. . . .Tiap 1000 ml isi mengandung .75g. Elektrolit (meq/L) : a. kcal/L : 150 KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi: · Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. 108 KA-EN MG3 .50. sodium laktat 2. Elektrolit (mEq/L) a.5 g/L. e. f.25 g . Cl. anhydrous dekstros 27g. Na+ 38. .34 g .20 e. .24 g . Na+ 50. Glukosa 37. sodium laktat 2.20. Cl. glukosa : 27 g/L. anhidrosa dekstros 37.75 g. c. pada keadaan asupan oral terbatas · Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) · Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A · Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B Kompisisi : KA-EN 3A Tiap liter isi mengandung . sodium klorida 2. K+ 20. laktat.

D. Cl. K+ 20. F. anhydrous dekstros 100g.5 gr/L Otsu-NS . B. sodium laktat 2. Na+ 50.5g.Indikasi : · Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian. sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal · Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi (per 1000 ml): · Na 30 mEq/L · K 0 mEq/L · Cl 20 mEq/L · Laktat 10 mEq/L · Glukosa 40 gr/L KA-EN 4B Indikasi: · Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun · Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia · Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi: · Na 30 mEq/L · K 8 mEq/L · Cl 28 mEq/L · Laktat 10 mEq/L · Glukosa 37. E. pada keadaan asupan oral terbatas · Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) · Mensuplai kalium 20 mEq/L · Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L Komposisi : Tiap liter isi mengandung bahan : . .75g. potassium klorida 1.50.20. glukosa 100 g/L. Elektrolit (mEq/L) : A. kcal/L: 400 KA-EN 4A Indikasi : · Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak · Tanpa kandungan kalium. sodium klorida 1. C. laktat. .24g. . .

.= 108.Indikasi: · Untuk resusitasi · Kehilangan Na > Cl. . luka bakar) Mengandung elektrolit mEq/L · Na+ = 154 · Cl. L-valine 8g. .7 · Laktat = 28 MARTOS-10 Indikasi: · Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik · Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor. L-leucine 14g.8g (L-lysine equivalent 10. . stres berat dan defisiensi protein · Dosis: 0. .7 · K+ = 4 · Ca++ = 2.3 gr/kg BB/jam · Mengandung 400 kcal/L AMIPAREN Indikasi: · Stres metabolik berat · Luka bakar · Infeksi berat · Kwasiokor · Pasca operasi · Total Parenteral Nutrition · Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit Komposisi Setiap liter Amiparen isi mengandung . misal diare · Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum. infeksi berat. .7g. .= 154 Otsu-RL Indikasi: · Resusitasi · Suplai ion bikarbonat · Asidosis metabolik Mengandung elektrolit mEq/L · Na+ = 130 · Cl.9g. lysine acetate 14. L-methionine 3. L-isoleucine 8g.5g). insufisiensi adrenokortikal. L-threonine 5. L-tryptophan 2g. . L-phenylalanine 7g.

.5g. d. . Elektrolit : a.5mg. . maleate 22 mEq. pyridoxine HCl 40mg. . inositol 500mg. sodium kurang lebih 2 mEq.9g. AMINOVEL-600 Indikasi: · Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI · Penderita GI yang dipuasakan · Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar. riboflavin sodium phosphate 2. .2g. trauma dan pasca operasi) · Stres metabolik sedang · Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm) Komposisi : Tiap liter Aminovel 600 berisi . L-tyrosine 0. . Setiap 50g asam amino berisi : a.2gram. L-lysine (calculated as base) 2g. c. L-proline 5g. b. . c. L-aspartic acid 30 w/w%. aminoacetic acid 5. D-sorbitol 100g. . chloride 38 mEq. L-phenylalanine 4g. L-histidine 5g. L-serine 3g. e. nicotinamide 60mg.5g. . g. ascorbic acid 400mg. . acetate kira-kira 1220 mEq. e. acetate 35 mEq. f. . L-arginine 10. f. . L-cysteine 1g. . L-tryptophan 1g. Sodium 35 mEq. b. .4g. L-valine 3. L-methionine 3g. h. . . L-isoleucine 3. L-alanine 8g. Sodium bisulfit ditambahkan sebagai stabilisator. L-leucine 2. .7g. amino acid (L-form) 50g. L-threonine 2g. magnesium 5 mEq. . .. total nitrogen 15. . potassium 25 mEq. d. .

. Indikasi : o Air & elektrolit yang dibutuhkan pada fase sebelum.1g.2g. Natrium 100 mEq. . Kalium 18 mEq. L-tryptophane 0. . L-phenyilalanine 2. L-isoleucine 1. . . L-alanine 6g. . .9g. Asetat 38 mEq. air. selama.i.4g. . . . Klorida 90 mEq. O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit selama masa pra operasi. D-sorbitol 50g . . . glycine 14g. Kalsium 4 mEq. Magnesium 6 mEg. intra operasi dan pasca operasi O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit pada keadaan dehidrasi isotonik dan kehilangan cairan intraselular o Memenuhi kebutuhan karbohidrat secara parsial Kontraindikasi : O Insufisiensi ginjal O intoleransi Fruktosa & Sorbitol O kekurangan Fruktosa-1-6-difosfate O keracunan Metil alkohol.6g. . . k. L-proline 2g PAN-AMIN G Indikasi: · Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan · Nutrisi dini pasca operasi · Tifoid Komposisi Tiap liter infuse mengandung . L-arginine HCl 2. TUTOFUSIN OPS Per liter : . L-arginine (calculated as base) 6. L-lysine HCl 6. . l. L-threonine 1. . L-leucine 4.4g. L-valine 2g. & sesudah operasi. L-histidine (calculated as base) 1g. L-histidine HCl H2O 1. j. .8g.7g. Sorbitol 50 gram.3g.8g. glycine 3.2g. . L-methionine 2. m.

.Hati-hati pada : O Penyakit ginjal atau jantung O retensi cairan O hipernatremia.