BAB II

KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS

2.1 Kualitas Audit

Terdapat beberapa pengertian audit yang diberikan oleh beberapa

ahli di bidang akuntansi, antara lain: Arens dan Loebbeeke (2006:15) :

Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information

to determine and report on the dagree of correspondance between the

information and established criteria. Auditing should be done by a

competent independent person. Kemundian menurut Mulyadi (2002:43):

Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti

secara obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan

kejadian ekonomis, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian

antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah

ditetapkan serta penyampaian hasil-hasil kepada pemakai yang

berkepentingan.

Berdasarkan pengertian mengenai audit tersebut dapat kita

simpulkan bahwasanya audit merupakan proses sistematik yang dilakukan

oleh seorang yang independen dan kompeten dalam melakukan

pemeriksaan dan memberikan opini terhadap kewajaran dari laporan audit

tersebut. Hasil pemeriksaan tersebut haruslah memiliki kualitas yang baik

sehingga menunjukan bahwa pelaksanaan pemeriksaan tersebut sudah

mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

Tidak mudah untuk menggambarkan untuk menggambarkan dan

mengukur suatu kualitas audit yang dihasilkan secara objektif hal ini

dikarenakan kualitas audit ini merupakan suatu konsep yang komplek dan

sulit untuk dipahami, hal ini yang menyebabkan sering sekali terdapat

kesalahan dalam menentukan sifat dan kualitasnya. Suatu kualitas audit

dijelaskan sebagai probabilitas atau kemungkinan dimana seorang auditor

akan menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran

dalam sistem akuntansi kliennya dengan pengetahuan dan keahlian

auditor (De Angelo, 1981 dalam Efendy,2010).

Deis dan Giroux (1992) dalam Efendy (2010) melakukan penelitian

tentang empat hal yang dianggap mempunyai hubungan dengan kualitas

audit yaitu (1) lama waktu (tenure) auditor telah melakukan pemeriksaan

terhadap suatu perusahaan, semakin lama seorang auditor telah

melakukan audit pada klien yang sama maka kualitas audit yang

dihasilkan akan semakin rendah; (2) jumlah klien, semakin banya jumlah

klien maka kualitas audit akan semakin baik karena auditor dengan jumlah

klien yang banyak akan berusaha menjaga reputasinya; (3) kesehatan

keuangan klien, semakin sehat kondisi keuangan klien maka akan ada

kecenderungan klien tersebut untuk menekan auditor agar tidak mengikuti

standar; dan (4) review oleh pihak ketiga, kualitas audit akan meningkat

jika auditor tersebut mengetahui bahwa hasil pekerjaannya akan direview

oleh pihak ketiga.

Menurut marxen (1990) dalam Efendy (2010), buruknya kualitas

audit disebabkan oleh beberapa perilaku disfungsional, yaitu:

Underreporting of time, premature sign off, alternatif/repalcement of audit

procedure. Underreporting of time menyebabkan keputusan personel yang

kurang baik, menutupi kebutuhan revisi anggaran, dan menghasilkan time

pressure untuk audit dimasa datang yang tidak diketahui. Sama halnya

Sosuktisno (2003) dalam haslinda (2010) yang menjelaskan Premature

sign-off (PMSO) merupakan suatu keadaan menunjukan auditor

menghentikan satu atau beberapa langkah audit yang diperlukan dalam

prosedur audit tampa menggantikan dengan langkah yang lain.

Sedangkan altering/replacing of audit procedure adalah penggantian

prosedur audit yang seharusnya telah ditetapkan dalam standar auditing.

Kualitas audit adalah kemungkinan auditor menentukan dan

melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien,

begitu juga halnya kualitas audit yang ada didalam sektor swasta

dijelaskan bahwa kualitas audit yang baik jika pelaksanaan audit yang

dilakukan oleh auditor sesuai dengan ketentuan ataupun standar auditing

yang telah berlaku, sehingga dapat disimpulkan kualitas audit atau hasil

pemeriksaan disini adalah kualitas dari kerja seorang auditor yang

ditunjukan dengan laporan hasil pemeriksaan yang dapat diandalkan dan

sesuai dengan peraturan yang ada dimana dalam sektor publik sesuai

dengan SKPN ataupun peraturan lainnya mengenai audit pemerintahan

itu sendiri. Kualitas audit ini juga berhubungan dengan seberapa baik

1170 menjelaskan. kualitas audit diartikan sebagai probabilitas seorang auditor atau pemeriksa dapat menemukan dan melaporkan suatu penyelewengan yang terjadi pada suatu instansi pemerintahan (baik pusat maupun daerah). bahwa aparat pengawasan Internal Pemerintahan (APIP) harus mengembangkan program dan mengendalikan kualitas audit. dalam meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan itu maka diperlukannya banyak pelatihan- pelatihan bagi aparat pemeriksa itu sendiri (Djamil. Probabilitas dari temuan dan penyelewengan tergantung pada kemampuan teknikal pemeriksa dan probabilitas pelaporan kesalahan tergantung pada independensi pemeriksa dan kompetensi pemeriksa tersebut untuk mengungkapkan penyelewengan. 2007). Program tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan audit APIP. kualitas kerja dilihat dari kualitas audit yang dihasilkan yang dinilai dari seberapa banyak auditor memberikan respon yang benar dari setiap pekerjaan audit yang diselesaikan (Tan dan Alison dalam Mardisari. 2008). memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi serta memberikan jaminan bahwa kegiatan audit dilingkungan APIP sejalan dengan standar audit dan kode etik. pernyataan ini mensyaratkan program pengembangan kualitas mencakup seluruh aspek kegiatan audit APIP. untuk auditor. Prinsip-prinsip dasar dalam pernyataan standar audit (PSA) No.sebuah pekerjaan diselesaikan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan. . Pada sektor publik khususnya instansi pemerintahan.

usia. lingkungan. 2011). pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. yakni indera penglihatan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.2 Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Menurut Ishak (2011: 8) pengetahuan adalah suatu fakta atau kondisi mengetahui sesuatu dengan baik yang didapat lewat pengalaman dan pelatihan. Definisi pengetahuan dalam ruang lingkup audit menurut Sucipto (2007:7) adalah kemampuan penguasaan auditor atau akuntan pemeriksa terhadap medan audit (penganalisaan terhadap laporan keuangan perusahaan). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dalam diri seseorang. Dalam wikipedia dijelaskan pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. sosial budaya dan ekonomi.2. pengalaman. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. Sedangkan menurut Raharjo (1998) dalam Sucipto (2007: 7) pengetahuan auditor yang berkaitan dengan pemeriksaan atau audit adalah: . Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum dilihat atau dirasakan sebelumnya. (Anonimous. Dalam pengertian lain. rasa dan raba. diantaranya pendidikan. penciuman. informasi/media massa. pendengaran.

Pengetahuan atas berbagai indikasi terjadinya kekeliruan dan kecurangan dan kemampuan auditor untuk menguasai sisi psikologis. Agar tercipta kinerja audit yang baik maka aparat pengawas intern pemerintah harus mempunyai kriteria tertentu dari pemeriksa (auditor) yang diperlukan untuk merencanakan pemeriksaan (audit).Per/05/M. Pengetahuan jenis-jenis dokumen dalam operasi perusahaan dan alur dokumen dalam operasi perusahaan. Aparat pengawas intern pemerintah harus mempunyai tingkat pendidikan formal minimal Strata Satu (S-1) atau yang setara.1. Pengetahuan tentang penguasaan teknis dan seluk-beluk kewajiban audit. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 3. Oleh karena itu.Pan/03/2008 tanggal 31 Maret 2008 menyatakan auditor harus mempunyai pengetahuan. keterampilan dan kompetensi lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Pimpinan aparat pengawas intern pemerintah harus yakin bahwa latar belakang pendidikan dan kompetensi teknis dari aparat pengawas intern pemerintah harus memadai untuk pekerjaan pemeriksaan yang akan dilaksanakan. 2. pimpinan aparat pengawas intern pemerintah wajib menciptakan kriteria yang memadai tentang pendidikan dan pengalaman dalam mengisi posisi di lingkungan aparat pengawas intern pemerintah. mengidentifikasi kebutuhan profesional pemeriksa (auditor) dan untuk mengembangkan teknik dan .

Sebagaimana peraturan yang dikeluarkan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara tentang Standar Audit Aparat Pengawas Intern Pemerintah Nomor: PER/05/M. Dengan latar belakang pendidikan sarjana. sehingga pemeriksa harus memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan. dalam hal pemeriksa melakukan audit terhadap sistem keuangan. catatan akuntansi dan laporan keuangan. maka pemeriksa wajib mempunyai keahlian atau mendapatkan pelatihan di bidang akuntansi sektor publik dan ilmu-ilmu lainnya yang terkait dengan akuntabilitas audit. Pengetahuan teknis harus dimiliki oleh pemeriksa menurut Lubis (2009) dalam Giu (2011: 14) adalah auditing. . akuntansi. prosedur dan praktik-praktik audit. Aparat pengawas intern pemerintah pada dasarnya berfungsi melakukan audit di bidang pemerintahan. Disamping wajib memiliki pengetahuan tentang standar audit. metodologi. administrasi pemerintahan dan komunikasi. pemeriksa harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang lingkungan pemerintahan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi unit yang dilayani oleh aparat pengawas intern pemerintah. diharapkan memiliki daya nalar dan logika berfikir yang lebih baik. kebijakan.PAN/03/2008 yang menyatakan bahwa latar belakang pendidikan pemeriksa bagi Aparat Pengawas Intern Pemerintah harus mempunyai pendidikan formal minimal adalah strata satu atau yang setara.metodologi pemeriksaan (audit) agar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi unit yang dilayani oleh aparat pengawas intern pemerintah.

Pengetahuan pengauditan umum seperti risiko audit. sehingga mereka dapat dengan jelas dan efektif menyampaikan hal-hal seperti tujuan kegiatan. Mereka wajib memiliki kemampuan dalam berkomunikasi secara lisan dan tulisan. rekomendasi dan lain sebagainya. Secara umum ada 5 (lima) pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang auditor menurut Kusharyanti (2003) dalam Giu (2011: 13) yaitu: (1) Pengetahuan pengauditan umum. Pengetahuan mengenai industri . prosedur audit dan lain-lain kebanyakan diperoleh diperguruan tinggi. Pimpinan aparat pengawas intern pemerintah dan auditor (pemeriksa) wajib memiliki keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain dan mampu berkomunikasi secara efektif. (3) Pengetahuan mengenai isu-isu akuntansi yang paling baru. terutama dengan objek pemeriksaan (audit). kesimpulan. Untuk area fungsional seperti perpajakan dan pengauditan dengan komputer sebagian didapatkan dari pendidikan formal perguruan tinggi. sebagian dari pelatihan dan pengalaman. Selanjutnya menurut Batubara (2009: 16) auditor (pemeriksa) juga harus memiliki pengetahuan yang memadai di bidang hukum dan pengetahuan lain yang diperlukan untuk mengidentifikasi indikasi adanya kecurangan (fraud). (4) Pengetahuan mengenai industri khusus. (5) Pengetahuan mengenai bisnis umum serta penyelesaian masalah. (2) Pengetahuan area fungsional. auditor biasa mendapatkannya dari pelatihan profesional yang diselenggarakan secara berkelanjutan. Demikian juga dengan isu akuntansi. sebagian besar dari pelatihan dan pengalaman.

4. Di samping faktor-faktor tersebut. Pengalaman audit. dan 6. 3. Tindak lanjut perencanaan audit. Dalam penelitian tersebut ternyata Continuing Professional Education (CPE) atau pendidikan profesi berkelanjutan (PPL) ternyata terbukti dapat meningkatkan pengetahuan seorang auditor yang kemudian berdampak pada keahlian dan performance audit tersebut. Pengawasan dan review pekerjaan oleh akuntan pemeriksa pengawas. 2.khusus dan hal-hal umum kebanyakan diperoleh dari pelatihan dan pengalaman. Program pelatihan. Dalam penelitian ini pengetahuan diukur melalui beberapa indikator yaitu pengetahuan . Adapun faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi perkembangan pengetahuan akuntan pemeriksa menurut Sularso dan Na’im (1999) dalam Sucipto (2007: 8) antara lain: 1. menurut Libby dan Luft (1993) yang dikutip oleh Thomas. Penggunaan pedoman audit. Davis dan Seaman (1998) dalam Sucipto (2007: 8). partisipasi dalam Continuing Professional Education (CPE) atau pendidikan profesi berkelanjutan (PPL) juga dapat meningkatkan tingkat pengetahuan seorang auditor dalam menjalankan tugas pengauditannya. Diskusi mengenai audit dengan rekan sekerja. 5.

Herawati dan Susanto (2009) menyatakan bahwa seseorang yang melakukan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya akan memberikan hasil yang lebih baik daripada mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup memadai akan tugasnya. Selanjutnya. Pengetahuan juga bisa diperoleh dari frekuensi seorang akuntan publik melakukan pekerjaan dalam proses audit laporan keuangan. lokakarya serta pengarahan dari auditor senior kepada auditor yuniornya. Bonner dan Lewis (1990) dalam Herawaty dan Susanto (2009) mengungkapkan bahwa pengetahuan akuntan publik bisa diperoleh dari berbagai pelatihan formal maupun dari pengalaman khusus. pengetahuan standar pemeriksaan. berupa kegiatan seminar. Dalam penelitian ini pengetahuan diproksikan pada tiga dimensi yaitu pengetahuan akuntansi dan auditing. dan pengetahuan yang diperoleh dari jenjang pendidikan. Pengetahuan akuntansi dan auditing ini . pengetahuan standar pemeriksaan dan pengetahuan yang diperoleh dari jenjang pendidikan. Mereka juga menambahkan bahwa seorang akuntan publik yang memiliki banyak pengetahuan tentang kekeliruan akan lebih ahli dalam melaksanakan tugasnya terutama yang berhubungan dengan pengungkapan kekeliruan.akuntansi dan auditing. 1) Pengetahuan Akuntansi dan Auditing Pengetahuan sangat penting untuk dimiliki oleh semua aparat pengawas intern pemerintah terlebih diantaranya pengetahuan di bidang akuntansi dan auditing.

merupakan dasar penting yang mutlak dimiliki oleh aparat pengawas intern pemerintah sebagai pemeriksa dalam melakukan pemeriksaan. terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen. oleh pihak yang independen. Menurut Arens dan Loebbecke (1997: 3) akuntansi adalah proses pencatatan. Selanjutnya Agoes (2004: 3) mendefinisikan auditing sebagai suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis. Fungsi akuntansi bagi badan usaha dan masyarakat adalah menyajikan informasi kuantitatif tertentu yang dapat digunakan oleh pimpinan entitas ekonomi maupun pihak lainnya untuk mengambil keputusan. Sedangkan auditing menurut Arens dan Loebbecke (1997: 1). pengelompokan dan pengikhtisaran kejadian-kejadian ekonomi dalam bentuk yang teratur dan logis dengan tujuan menyajikan informasi keuangan yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten. beserta catatan- catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya. Agar penyajian tepat. seorang akuntan harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai prinsip-prinsip dan aturan-aturan dalam penyusunan informasi akuntansi. dengan tujuan untuk . adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

Dalam penelitian ini pengetahuan akuntansi dan auditing diukur dengan menggunakan indikator yang digunakan Ishak (2011) yaitu pemahaman tentang akuntansi dan auditing. pemahaman dalam bidang auditing. data akuntansi yang menjadi pokok adalah menentukan apakah informasi yang tercatat telah mencerminkan dengan benar kejadian ekonomi pada periode akuntansi. Di samping pemahaman mengenai akuntansi. Dalam audit laporan keuangan. auditor juga harus memiliki keahlian dalam mengumpulkan dan menafsirkan bahan bukti audit.dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. pemahaman di bidang auditing. maka seorang auditor harus memahami aturan-aturan dimaksud dengan baik. . pengetahuan dan pengalaman praktik akuntansi. dan pengetahuan dan pengalaman praktik auditing. Oleh karena kriterianya adalah aturan-aturan akuntansi. Pengetahuan akuntansi dan auditing yang dimiliki seorang aparat pengawas intern pemerintah minimal harus mengetahui pemahaman akuntansi dan auditing yang baik. pengetahuan praktik akuntansi serta pengetahuan praktik auditing. aturan-aturan yang dimaksud adalah prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam auditing.

2) Pengetahuan Standar Pemeriksaan Menurut PSA No. 01 (SA Seksi 150) dalam Agoes (2004: 30) standar auditing berbeda dengan prosedur auditing. Standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) terdiri dari sepuluh standar yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar. auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan. Standar Umum 1. 2. . sedangkan standar berkenaan dengan kriteria atau ukuran mutu kinerja tindakan tersebut dan berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai melalui penggunaan prosedur tersebut. independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. 3. Jadi. standar auditing mencakup mutu professional (professional qualities) auditor independen dan pertimbangan (judgement) yang digunakan dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporan audit. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor. Prosedur berkaitan dengan tindakan yang harus dilaksanakan. yaitu: a. berlainan dengan prosedur auditing. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya.

. dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi. c. 3. permintaan keterangan. kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. pengamatan. saat. 2. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai. Standar Pekerjaan Lapangan 1. jika ada. Standar Pelaporan 1. 2. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Laporan auditor harus menunjukkan. 3. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat. 4.b.

independensi dalam sikap mental. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan berkualitas jika memenuhi standar auditing dan standar pengendalian mutu. pernyataan mengenai ketidakkonsistenan penerapan prinsip yang berlaku umum. dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor. Dalam melakukan pemeriksaan auditor harus mengetahui dan memahami standar pemeriksaan agar dapat menghasilkan audit yang berkualitas. maka alasannya harus dinyatakan. jika ada.1 dan 150. . pernyataan tentang kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. pengumpulan bukti kompeten yang cukup.2 dalam Agoes 2004: 30- 31). telaah terhadap sistem pengendalian intern. penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama. 2001: 150. maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan. (IAI. rencana pemeriksaan. Dalam penelitian ini pengetahuan standar pemeriksaan yang diperlukan diukur dengan menggunakan beberapa indikator yaitu keahlian dan pelatihan teknis yang memadai. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan.

3) Pengetahuan Yang Diperoleh Dari Jenjang Pendidikan Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret tentang standar audit Aparat Pengawas Intern Pemerintah latar belakang pendidikan pemeriksa adalah auditor APIP harus mempunyai pendidikan formal minimal adalah Strata Satu (S-1) atau yang setara. Untuk itu diperlukan teknik dan metodologi pemeriksaan melalui pelatihan dan pelatihan yang diperlukan harus dievaluasi secara periodik. Karena untuk menjadi seorang Partner KAP. Di bawah jenjang partner. yaitu fakultas ekonomi jurusan akuntansi negeri (PTN) atau swasta (PTS) ditambah ujian UNA Dasar dan UNA Profesi. supervisor. ia tidak dapat memenuhi persyaratan yang dimaksudkan dalam standar umum pertama. Dalam standar umum pertama menegaskan bahwa betapapun tingginya kemampuan seseorang dalam bidang-bidang lain. yang berhak menandatangani audit report seseorang harus mempunyai nomor register negara akuntan (registered accountant) dan mulai tahun 1998 harus mempunyai predikat Bersertifikat Akuntan Publik (BAP). Pendidikan formal auditor independen dan pengalaman profesionalnya saling melengkapi satu sama lain. jika tidak memiliki pendidikan serta pengalaman memadai dalam bidang auditing. Pendidikan formal diperoleh melalui perguruan tinggi. asisten yang tidak harus seorang akuntan beregister (registered . termasuk dalam bidang bisnis dan keuangan. senior. ada audit manager.

2004: 32). independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. perpajakan dan auditing. Atau dengan kata lain. Akuntan publik selalu dianggap orang yang harus independen. 2. Tanpa adanya independensi. Dalam setahun seorang Partner KAP harus mengumpulkan antara 30-40 SKP. Masyarakat tidak percaya akan hasil auditan akuntan public sehingga masyarakat tidak akan meminta jasa pengauditan dari akuntan publik. Keberadaan akuntan publik sebagai suatu profesi tidak dapat dipisahkan dari karakteristik independensinya.accountant) namun harus pernah mempelajari akuntansi.3 Indepedensi Independensi merupakan standar umum nomor dua dari tiga standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang menyatakan bahwa dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan. Keeratan hubungan akuntan publik dengan independensi ini dapat ditinjau dari . oleh IAI atau di seminar dan lokakarya. keberadaan akuntan publik ditentukan oleh independensinya. akuntan public tidak berarti apa-apa. Seorang auditor harus selalu mengikuti perkembangan-perkembangan yang berkaitan dengan profesinya dan peraturan-peraturan pemerintah termasuk perpajakan. Masyarakat akan meminta pihak lain yang dianggap independen untuk menggantikan fungsi akuntan publik. Selain itu seorang auditor harus mengikuti pendidikan berprofesi berkelanjutan (continuing professional education) baik yang diadakan di KAP sendiri. (Agoes.

yaitu: 1. sehingga .2100) menyatakan bahwa dalam semua hal yang berkaitan dengan audit APIP harus independensi dan para auditornya harus obyektif dalam pelaksanaan tugasnya. Pernyataan standar umum kedua ini menyatakan. dan 2. dalam standar ini menyatakan bahwa independensi APIP serta objektivitas auditor diperlukan agar kredibilitas hasil pekerjaan APIP meningkat. organisasi pemeriksa dan pemeriksa. menyatakan dalam semua hal yang berkaintan dengan pekerjaan pemeriksaan. Dalam beberapa definisi pengauditan yang dikemukakan oleh pakar pengauditan terkandung makna independensi.posisi penting kata independensi dalam berbagai literatur pengauditan. bahwa standar umum kedua dari Standar Pemeriksa Keuangan Negara. Kebijakan untuk menjaga objektivitas auditor terhadap objek audit. Penilaian independensi dan objektivitas mencakup dua komponen berikut. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dengan Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah pada Standar Umum Kedua (PSA APIP No. Sedangkan menurut Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2007. Status APIP dalam organisasi. organisasi pemeriksa dan para pemeriksanya bertanggungjawab utuk dapat mempertahankan independensinya sedemikian rupa. baik secara tersurat maupun tersirat. harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi. ekstern dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya.

jika akuntan tersebut tidak independen terhadap kliennya. Kata independensi merupakan terjemahan dari kata “independence” yang berasal dari bahasa inggris. yang bertentangan dengan prisnsip integritas dan objektifitas.B Wilcox yang dijelaskan dalam Mayangsari (2003) adalah suatu standar auditing yang penting karena opini akuntan independen bertujuan untuk menambah kredibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. pertimbangan atau rekomendasi dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tidak memihak dan dipandang tidak memihak kepada pihak manapun. Kode Etik Akuntan tahun 1994 menyebutkan bahwa independensi adalah sikap yang diharapkan dari seorang akuntan publik untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam pelaksanaan tugasnya. dalam kamus Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Corrent English terdapat dari kata “independence” yang artinya “dalam keadaan independen”. Penelitian yang dialakukan oleh Lavin (1976) dijelaskan dalam Renaldo (2010). simpulan. Definisi independensi dalam the CPA Handbook menurut E. selain itu penggunaan komputer klien untuk hubungan bisnis dianggap juga tidak merusak independensi auditor. dalam Elvira (28: 2012) menunjukan bahwa pembuatan pembukuan perusahaan atau pelaksanaan fungsi pengolahan data oleh auditor tidak akan berpengaruh terhadap teknik-teknik yang digunakan auditor untuk mengaudit.pendapat. maka opininya tidak akan memberikan tambahan apapun. Adapun entri kata “independence” bermakna “tidak tergantung atau dikendalikan oleh .

Arens. Makna independensi dalam pengertian umum ini tidak jauh berbeda dengna makna independensi yang dipergunakan secara khusus dalam literatur pengauditan (Hutami. independensi merupakan suatu istilah yang sering digunakan oleh profesi auditor. Sedangkan Mulyadi (1992) dalam Elvira (29:2012) menjelaskan independensi sebagai “keadaan bebas dari pengaruh. (2000) mendefinisikan independensi dalam pengauditan sebagai penggunaan cara pandang yang tidak biasa dalam pelaksanaan pengujian audit. tidak tergantung pada orang lain” dan akuntan publik yang independen haruslah akuntan publik yang tidak terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang barasal dari luar dari akuntan dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan (Hutami. 2010) dalam Elvira (28: 2012). BPKP (1998) mengertikan objektifitas sebagai bebasnya seseorang dari pengaruh pandangan subyektif pihak-pihak lain yang berkepentingan sehingga dapat mengemukakan pendapat apa adanya. . et al. dan pelaporan hasil temuan audit. Menurut Messier. bebas dari pengendalian orang lain”. et al. tidak mendasarkan diri pada orang lain. tidak dikendalikan oleh pihak. Independensi menghindarkan hubungan yang mungkin mengganggu objektifitas auditor.2010). evaluasi hasil pengujian tersebut.orang lain atau benda. bertindak atau berfikir sesuai dengan kehendak hati. (2005) dalam Efendy (2010).

04 alinea 2. dan penyusunan laporan hasil pemeriksaan. Selain independensi sikap mental dan independensi penampilan. Independensi Penampilan. 2. sebab bilamana tidak demikian halnya. ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun. karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum(dibedakan dalam hal berpraktik sebagai auditor intern). Mautz (1961) dalam Trisnaningsih (2007) mengemukakan bahwa independensi akuntan publik juga meliputi independensi praktisi (practitioner independence) dan independensi profesi (profession independence). Independensi sikap mental ditentukan oleh pikiran akuntan publik untuk bertindak dan bersikap independen. Independensi ini . Independensi praktisi berhubungan dengan kemampuan praktisi secara individual untuk mempertahankan sikap yang wajar atau tidak memihak dalam perencanaan program. pelaksanaan pekerjaan verifikasi. yaitu: 1. bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki. Independensi penampilan ditentukan oleh kesan masyarakat terhadap independensi akuntan publik. ia akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru paling penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya.Dalam buku Standar Profesi Akuntan Publik 1999 seksi 220 PSA No. dalam Susiana (2007) ada dua aspek independensi. Dengan demikian. Independensi sikap mental.” Menurut Taylor (1997). dijelaskan bahwa: “Independensi itu berarti tidak mudah dipengaruhi.

1. Pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa setiap anggota harus mempertahankan integritas. independensi investigatif. akan bertindak adil tanpa dipengaruhi tekanan dan permintaan pihak tertentu atau kepentingan pribadinya. akan bertindak jujur dan tegas dalam mempertimbangkan fakta. tidak akan terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri auditor dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan. masyarakat akan dapat menilai sejauh mana seorang auditor telah bekerja sesuai dengan standar-standar etika yang telah ditetapkan oleh profesinya. Auditor yang mempertahankan objektivitas. Di samping itu dengan adanya kode etik. dan independensi pelaporan.mencakup tiga dimensi. Dalam Kode Etik Akuntan Indonesia. Seorang auditor yang mempertahankan integritas. Auditor yang menegakkan independensinya. Standar ini meluputi standar-standar yang terkait dengan karakteristik organisasi dan para individu yang melakukan pengawasan . yaitu independensi penyusunan program. objektivitas dan independensi dalam melaksanakan tugasnya. terlepas dari kepentingan pribadi.4 Standar Umum Profesional Internal Auditor Standar Audit Aparat Pengawasa Internal Pemerintah (SA-APIP) merupakan Standar Audit Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah yang disusun oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Independensi profesi berhubungan dengan kesan masyarakat terhadap profesi akuntan publik.

efisien. Tujuan penyusunan Kebijakan Pengawasan Nasional APIP tahun 2006 adalah: a. dan taat terhadap peraturan perundang-undangan serta terlindungnya kekayaan negara dari setiap upaya penyimpangan (Ulum . dan tujuan pemerintah serta instansi induknya.2009). Misi Pengawasan Intern Pemerintah adalah melaksanakan pengawasan intern berdasarkan kode etik dan standar pengawasan yang diakui bersama dalam rangka memberikan jaminan bagi terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang efektif. Sistematika standar umum dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: a) Visi.audit kinerja dan audit investigatif. misi. misi dan tujuan yang searah dengan visi. Menetapkan arah Kebijakan Pengawasan Intern Pemerintah dalam Tahun 2006 . Misi Tujuan. Visi pengawasan intern pemerintah adalah terwujudnya Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang profesional dan mampu mendorong penerapan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik. kewenangan dan Tanggung Jawab APIP Setiap APIP terntunya harus memiliki visi. Kemudian kewenangan dan tanggung jawab APIP harus diberdayakan secara optimal agar APIP dapat melaksanakan tugasnya secara independen dan objektif.

Keindependensian dan obyektivitas tersebut dapat dicapai melalui status APIP dalam organisasi dan penciptaan kebijakan untuk menjaga obyektivitas auditor terhadap auditee. Independensi pada dasarnya merupakan state of mind atau sesuatu yang dirasakan oleh masing-masing menurut apa yang diyakini sedang berlangsung. mengidentifikasi kebutuhan profesional auditor dan untuk mengembangkan teknik dan metodologi audit. Agar tercipta kinerja audit yang baik. d) Kecermatan Profesional Auditor harus menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama (due professional care) dan secara hati-hati . maka APIP harus memiliki kriteria tertentu dari setiap auditor yang diperlukan untuk merancanakan audit. c) Keahlian Auditor harus mempunyai pengetahuan. c. Menjadi dasar penyusunan Kebijakan Pengawasan Tahunan dan Program Kerja Pengawasan Tahunan masing-masing APIP. b. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengawasan intern pemerintah melalui sinergi pengawasan fungsional yang dilakukkan melalui APIP. APIP harus independen dan para auditornya harus objektif dalam pelaksanaan tugasnya. b) Independensi dan Objektifitas Dalam semua hal yang berkaitan dengan audit. keterampilan dan kompetensi lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan tanggungjawabnya.

Penggunaan keahlian secara cermat dan seksama (due profesional care) mewajibkan auditor untuk melaksanakan tugasnya secara serius. teliti.5 Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) atau Pejabat Fungsional Auditor (PFA) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas. 2. (prudent) dalam setiap penugasan. wewenang. tanggung jawab. dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan pada instansi pemerintah. Auditor tidak saja harus menggunakan seluruh kemampuan dan kecermatannya tetapi juga dituntut untuk mematuhi kode etik yang ditetapkan. Jabatan Fungsional Auditor (JFA) dibentuk dengan tujuan untuk menjamin pembinaan profesi dan karier. dengan demikian kompetensi dan etika harus dipenuhi secara kebersamaan untuk memperoleh hasil audit yang bisa dipertanggungjawabkan. dan menggunakan seluruh kemampuan dengan pertimbangan profesionalnya dalam melaksanakan tugas audit. Jabatan Fungsional Auditor (JFA) merupakan jabatan fungsional yang menunjukkan tugas. wewenang dan hak seseorang PNS dalam suatu satuan organisasi pengawasan instansi pemerintah/Aparat Pengawasan Instansi Pemerintah (APIP) yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. . e) Kepatuhan terhadap kode etik Auditor harus mematuhi kode etik yang ditetapkan. tanggung jawab.

Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara. kolusi dan nepotisme. 2. 2009).Per/04/M. unit pengawasan LPND.Per/05/M.kepangkatan dan jabatan bagi PNS yang melaksanakan pengawasan pada instansi pemerintah dalam rangka mendukung peningkatan kinerja instansi pemerintah. Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negara.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008 dilandasi oleh ketentuan hukum sebagai berikut: 1. . Kode etik aparat pengawas intern pemerintah ditetapkan oleh peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/04/M. 3. (Inspektorat Jenderal Kementrian Pertanian RI.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008 oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Undang-undang RI Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi. inspektorat jenderal departemen. dan inspektorat provinsi. kabupaten. Aparat pengawas intern pemerintah yang terdapat dalam lingkungan BPKP. dan kota dalam menjalankan tugas auditnya wajib menaati kode etik yang berkaitan dengan statusnya sebagai pegawai negeri dan standar audit sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.PAN/03/2008 dan No.

tugas. Peraturan Presiden RI Nomor 9 Tahun 2005 tentang kedudukan. 7. dan tata kerja Kementerian Negara RI sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006.PAN/03/2008 yang menyatakan bahwa latar belakang pemeriksa bagi aparat pengawas intern pemerintah harus mempunyai pendidikan formal minimal adalah strata . harus mempunyai kriteria tertentu yang diperlukan untuk pengembangan teknik dan metodologi pemeriksaan. fungsi. 5. Agar tercipta kinerja audit yang baik maka aparat pengawas intern pemerintah harus mempunyai tingkat pendidikan formal minimal strata satu (S-1) atau yang setara. Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang percepatan pemberantasan korupsi.PAN/03/2007 tentang kebijakan pengawasan nasional aparat pengawasan intern pemerintah tahun 2007-2009. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/03.1/M.4. Selain itu. 6. 8. sebagaimana peraturan yang telah dikeluarkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara tentang standar audit aparat pengawas intern pemerintah nomor: PER/05/M. susunan organisasi. Undang-undang RI Nomor 15 Tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Peraturan Presiden RI Nomor 7 Tahun 2005 tentang rencana pembangunan jangka menengah.

maka akan senantiasa diadakan kegiatan pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah. sesuai dengan pasal 222 UU tentang pemerintah daerah maka telah diatur bahwa: 1. Dengan latar belakang pendidikan sarjana diharapkan memiliki daya nalar dan logika berpikir yang lebih baik. Inspektorat Kabupaten. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah secara nasional dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri.satu atau yang setara. 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah dijelaskan pada pasal 2 ayat 11 bahwa unsur pengawasan daerah adalah badan pengawasan daerah yang selajutnya disebut Inspektorat Provinsi.6 Pengertian Inspektorat Daerah Sejalan dengan UU No. Pengawasan sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh aparat pengawas intern pemerintah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. maka dalam Pasal 184 ayat (1) disebutkan bahwa Kepala Daerah menyampaikan rancangan perda tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Namun demikian. pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah. 2. dan Inspektorat Kota. Hal ini sejalan dengan UU No.32 tentang pemerintah daerah paragraf 9 mengenai pertanggung jawaban pelaksanaan APBD. dalam rangka pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah. .

Atas dasar ketentuan diataslah maka aparat pengawasan intern pemerintah disuatu daerah (Provinsi. Kabupaten/Kota yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di daerah masing-masing. . 3. Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Sebagaimana dimaksud untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh gubernur. Bupati dan walikota dalam pembinaan dan pengawasan seibagaimana dimaksud dapat melimpahkannya kepada camat. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintah desa dikoordinasikan oleh bupati/walikota. 4.2. Kabupaten/Kota) dilakukan oleh badan pengawasan daerah (BAWASDA) dulunya tapi dengan adanya peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 sehingga nama BAWASDA berganti dengan Inspektorat Provinsi.

X2) dan satu variabel dependen (Y) dimana variabel independen adalah X1. Ketiga variabel tersebut mempunyai hubungan causal atau sebab akibat.7 Kerangka Pemikiran Pengetahuan Kualitas Audit Independensi Gambar 1: Kerangka Berpikir Sumber: Data Olahan 2013 Mengamati kerangka pemikiran di atas maka dapat diambil gambaran bahwa terdapat dua variabel independen (X1. .2. Variabel independen secara bersama-sama atau serempak mempengaruhi variabel dependen. sedangkan secara parsial variabel X1 mempengaruhi Y dan variabel X2 mempengaruhi Y. variabel X2 menunjukkan pengalaman. sedangkan Y menunjukkan kualitas audit. menunjukkan pengetahuan.

Tingkat pengetahuan dan independensi auditor secara bersama-sama berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan. . Terdapat pengaruh dari tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh auditor terhadap kualitas audit yang dihasilkan 2.2. Independensi auditor dalam melakukan audit berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan 3.8 Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.